Pidato Presiden

Sambutan pada Silaturahmi dan Halal Bihalal 2004

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DAN HALAL BIHALAL
ISTANA CIPANAS, 4 DESEMBER 2004



Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Bapak Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu,
Yang saya hormati, Saudara-sauadara yang mengemban amanah menjadi menteri dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya mulyakan, para Ulama, para sesepuh dan para tokoh masyarakat
Yang saya hormati Bapak Gubernur Jawa Barat, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Jawa Barat dan segenap unsur Musyawarah Pimpinan Daerah termasuk Saudara Bupati Cianjur dan Walikota Bogor,
Bapak Kapolda juga ada, Kajati ada? Baik,
Para Handai Taulan, Ssaudara-saudara yang saya cintai dan saya muliakan,

Pada hari yang sungguh indah dan insya Allah penuh berkah, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita dapat berkumpul di tempat ini dan semoga kita semua senantiasa berada dalam keadaan sehat wal’afiat.

Forum kita hari ini adalah forum silaturahim, forum persaudaraan dan forum kekeluargaan. Kita harus mencari waktu, keluar dari hingar-bingar politik, dari derunya aktifitas ekonomi dan hal-hal yang serba material. Kita perlu sekali-kali melakukan refleksi, kontemplasi, bersatu, untuk sekali lagi ber-silaturahim, membangun komitmen bersama, untuk melangkah ke hari esok yang lebih baik.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Saudara Alwi Hamu tadi, bahwa seungguhnya acara halal bihalal ini bisa berlangsung di waktu yang lalu. Perlu saya sampaikan kepada Bapak Ibu hadirin sekalian, pada hari H, 14 November, 1 Syawal 1425 H, ketika saya buka acara halal bihalal di Istana Negara, sampai menjelang maghrib waktu itu masih banyak yang ada di luar, sehingga akhirnya, saya tahu karena setelah itu mengirim SMS ke istri, ke ajudan, tidak bisa masuk ke kompleks untuk berhalal-bihalal dan harus kembali, ada yang menggunakan bus dan lain-lain, dan akhirnya mereka meminta, “Bisa enggak Pak SBY meluangkan waktu untuk, ya, kita berhalal bihalal”. Saya katakan, sampaikan kepada beliau-beliau, insya Allah bisa, karena sesungguhnya kami juga ingin waktu itu, untuk bisa saling bermaaf-maafan. Tetapi karena tempat dan waktu yang tidak memungkinkan, sehingga tidak semua bisa berhalal bihalal waktu itu.

Ternyata empat hari setelah 14 November saya harus menngemban tugas negara untuk mengkuti Konferensi APEC yang dilaksanakan di Santiago, Chili. Kembali dari Chili, saya ada kegiatan yang sangat penting, antara lain berkunjung ke Aceh untuk mengevaluasi keadaan dan juga kegiatan-kegiatan yang sangat mendesak waktu itu, sehingga belum dapat pula kita lakukan acara seperti ini. Tanggal 28 November saya harus berangkat lagi untuk mengikuti Koferensi Tingkat Tinggi ASEAN plus beberapa negara yang lain di Vientiane, Laos. Dan baru kembali tiga hari yang lalu.

Oleh karena itulah, alhamdulillah hari ini kita dapat berhalal bi halal dan ber-silaturahim, tentunya dengan semangat dengan tekad yang baik untuk bersama-sama melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara. Oleh karena itu, ijinkan saya bersama keluarga mengucapkan selamat Idul Fitri 1425 H, minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin ke hadapan Bapak, Ibu dan Handai taulan semuanya. Saya mohon maaf atas semua, baik, sikap saya, tutur kata saya, perilaku saya, yang tidak berkenan di hati Bapak Ibu dan hadirin sekalian. Saya adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, kekhilafan, kekurangan dan kelemahan. Meskipun yang saya lakukan ini sepenuhnya untuk mengemban tugas negara, meskipun tidak ada dalam hati dan pikiran saya untuk melakukan sesuatu yang tidak baik, apalagi menyakitkan hati Bapak Ibu dan handai taulan, namun sekali lagi kalau itu ada, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Bapak Ibu, hadirin sekalian yang saya muliakan,
Saya ingin hari ini kita betul-betul bisa lebih rileks, meskipun kita harus terus- menerus memohon ridho Allah SWT, berdoa ke hadirat-Nya agar negara kita ini dibebaskan dari segala macam bencana, ujian dan cobaan. Kita masih harus berprihatin, kita sungguh berbelasungkawa atas beberapa musibah yang terjadi akhir-akhir ini, misalnya bencana alam di Alor dan bencana alam di Nabire. Meskipun pemerintah telah dan terus melaksanakan tindakan tanggap cepat, rehabilitasi dan rekonstruksi dari daerah-daerah yang terkena bencana alam itu, yang meskipun juga ini namanya bencana alam, memang di Asia Tenggara ini sedang ada pergerakan dalam struktur bumi kita, itu bisa dijelaskan secara science perfect, Philipina juga ada bencana yang sama dengan korban yang jauh lebih besar, tetapi bagaimanapun mari kita tidak pernah lepas dari dzikir dan doa memohon kepada Allah SWT, agar dibebaskanlah negara kita dari bencana-bencana seperti itu.

Ada juga kecelakaan yang menimpa saudara-sauadra kita di Solo kemarin, kecelakaan terjadi pada pesawat Lion Air. Pemerintah juga telah melaksanakan langkah-langkah cepat dan bahkan saya sudah memberikan instruksi kepada Menteri Perhubungan agar memeriksa seluruh fasilitas bandara di tanah air kita ini, meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan dan lain-lain. Investigasi dilakukan untuk menemukan sebab-sebab yang sesungguhnya, agar kita dapat mengambil tindakan yang tepat setelah itu, namun kiranya atas musibah ini, atas kecelakaan ini, kita harus melakukan banyak hal agar kecelakaan-kecelakaan seperti itu tidak terjadi lagi di waktu yang akan datang.

Saya menyampaikan seperti itu bahwa kita harus terus ingat apa yang menimpa saudara-saudara kita dan bukan hanya memberikan simpati, bukan hanya pemerintah memberikan sesuatu untuk menolong mereka, tapi di atas segalanya, ini kesempatan yang baik dalam acara ibadah dan silaturahim kita ini untuk tidak pernah putus, sekali lagi kita memohon ridho Allah, berdoa ke hadirat-Nya agar bangsa kita diberikan keselamatan dalam menjalani hidup dan kehidupannya menuju masa depan yang lebih baik.

Bapak Ibu hadirin sekalian,
Kita berada di wilayah Istana Cipanas. Saya ingin berbagi cerita supaya ada kenangan indah kita. Sebenarnya kita harus bangga bahwa di negara kita ini banyak sekali fasilitas-fasilitas yang membanggakan dan bersejarah yang juga indah. Komplek Istana Cipanas ini membentang ke belakang ke arah Gunung Gede di belakang sana, seluas 26 Ha. Tolong dibayangkan seluas 26 lapangan sepak bola. Pagi-pagi saya jalan kaki, mutar-mutar ke sana, indah.

Kalau di Istana Negara, Istana Merdeka itu bersejarah, megah dan berhadapan dengan Monumen Nasional, ciri-ciri kota Jakarta. Kalau di Istana Bogor terkenal dengan Kebun Raya Bogor, dengan rusa yang jumlahnya sekarang mencapai 750 lebih, sama dengan jumlah batalyon infanteri teritorial. Di sini, di Istana Cipanas ini, indah sekali, kapan-kapan saya mohon Bapak, Ibu hadirin bisa jalan-jalan ke belakang. Di sana ada air mengalir, di belakang, sekali lagi ada Gunung Gede, dan lain-lain. Di Yogyakarta ada Gedung Agung, Gedung Negara. Di Pelabuahan Ratu ada Pasanggrahan, di Bali ada Tampak Siring. Saya ingin semua itu menjadi kebanggaan bangsa dan juga bisa dibuka untuk rakyat.

Di negara manapun juga, ibukota negara, termasuk di Amerika, di White House itu juga terbuka untuk publik. Oleh karena itulah saya ingin dipelihara keindahannya, kerapihannya, kebersihannya, sehingga pada saat-saat tertentu, dengan aturan tertentu rakyat kita bisa melihat keindahan, ikut merasa bangga, ikut bersyukur terhadap apa yang dimiliki. Kita harus memelihara, karena banyak sekali kenangan yang manis. Presiden pertama kita, Bung Karno, itu memang banyak meninggalkan kenangan yang bersejarah, harus kita lestarikan, demikian juga presiden-presiden setelah itu. Ada Pak Harto, ada Pak Habibie, ada Gus Dur, ada Ibu Megawati.

Tadi waktu saya jalan di belakang, ada satu wilayah yang oleh Ibu Megawati ditambah dengan tanaman cemara yang cantik sekali. Saya berpesan kepada siapa tadi yang mengawal saya, tolong itu dipelihara betul, karena apa yang dilakukan oleh Presiden Megawati itu menambah keindahan dari wilayah Istana Cipanas ini. Saya ingin juga nanti di Istana Merdeka, di Istana Negara ada lukisan-lukisan yang bagus, mulai dari Bung Karno terus menerus, sekarang sedang dikerjakan. Saya ingin kualitasnya yang bagus, besarnya cukup hingga siapapun yang datang, generasi muda, anak cucu kita, tamu-tamu dari luar negeri melihat sosok dari pemimpin-pemimpin Indonesia yang bisa dilihat dengan gamblang, satu persatu, termasuk koleksi-koleksi buku, peninggalan-peninggalan, lukisan yang disenangi, dan lain-lain. Dengan demikian akan makin kaya peninggalan sejarah, peninggalan para pemimpin di negara ini. Dan tentunya saya mengajak pula, Wakil Presiden tentunya, para menteri, para gubernur semua melakukan hal yang sama agar generasi muda mengenal dan mengenang pemimpin-pemimpinnya.

Saya meninjau Kebun Raya Bogor itu ada rusa, saya tanyakan satu tahun berapa tambahnya, 20% tambahnya, setelah ditingkatkan gizinya. Dulu gross-nya masih tidak seperti itu, masih rendah. Setelah gizi ditingkatkan grossnya mencapai 20%. Bayangkan kalau pertumbuhan penduduk Indonesia 20% begitu. Kita ingin mendekati 1% Bapak, Ibu. 215 juta ini sudah cukup besar. Kita harus turunkan terus population growth-nya supaya tepat, jangan sampai zero growth, tidak bagus, tetapi yang rasional sehingga ekonomi kita bisa kita dukungkan untuk mensejahterakan rakyat kita.

Nah, kembali pada rusa tadi, saya berpikir daripada over population, memang sudah berlebihan di Bogor, itu bisa nanti dengan kerjasama yang baik, kalau memang di Monas itu survive, cocok, kasihan kepada rusa-rusa itu karena kita juga harus memiliki perikebinatangan yang tinggi, mengapa tidak? Semula akan kita bawa sebagian ke sini, tetapi setelah saya mendengar pandangan dari para ahli itu bisa mengganggu ekosistem dan bisa mengganggu jenis pohon-pohonan dan tumbuh-tumbuhan di belakang. Oleh karena itu jangan dipaksakan, kita dengar ahlinya. Artinya banyak sekali yang bisa kita lakukan ditempat-tempat seperti ini, tentu kalau rakyat kita, publik kita dengan acara-acara yang baik, acara studi, acara studi wisata bisa dilakukan tentu akan baik bagi kita semua.

Bapak Ibu Hadirin sekalian,
Saya mengenalkan tadi yang kita miliki yang kita banggakan, karena meskipun ini namanya Istana Presiden, Wakil Presiden, tapi ini tetap milik rakyat, milik bangsa dan negara. Oleh karena itulah dengan tujuan yang baik, tentunya tidak boleh ini dieksklusifkan, seolah-olah tidak terbuka bagi rakyat kita untuk melihat. Tadi di sana ada satu tempat kecil, saya diberitahu, dulu Pak, Bung Karno kalo menulis artikel itu di situ. Saya ini sudah mengunjungi beberapa tempat yang Bung Karno memang studi, menulis, membuat pidato, menulis puisi, segala macam, termasuk yang ada di Bengkulu itu juga ada rumah kecil, ada meja kerjanya, ada mesin ketiknya, ada kursinya, ada sepeda, ada buku-buku yang masih bagus. Ternyata inspirasi muncul, begitu saya datang ke sana, saya masuk ke dalam, memang bagus. Itu mengarah ke Gunung Gede dan cantik sekali. Saya pesan tadi, tolong dipelihara ini, siapa tahu nanti Pak Jusuf Kalla banyak pikiran, datang ke situ bisa menulis sesuatu Pak Jusuf untuk kebaikan kita semua. Jadi, marilah kita gunakan sebaik-baiknya apa yang ditinggalkan oleh para pendahulu, oleh pemimpin-pemimpin kita, senior-senior kita yang telah meletakkan banyak hal untuk kemajuan bangsa kita.

Bapak Ibu, hadirin sekalian,
Saya mohon agar silaturahim, persaudaraan dan kebersamaan ini tetap kita pelihara dengan siapa saja. Saya kira bangsa ini ingin membangun lebih baik ke depan, sehingga amanah para pendiri republik, cita-cita kita ini betul-betul dapat diwujudkan. Saya berkali-kali mengatakan, tidak pernah ada jalan yang lunak untuk mencapai tujuan yang mulia. Keliru kalau seolah-olah persoalan di negeri ini bisa kita selesaikan secara instan. Kita berterima kasih kepada para pendahulu, yang telah pada masanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya juga melakukan sesuatu untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Adalah menjadi tugas pemimpin-pemimpin berikutnya, generasi berikutnya, pemerintahan berikutnya, untuk meneruskan dan melanjutkannya.

Saya kemarin datang di Santiago, di Chili dalam Konferensi Negara APEC, APEC itu singkatan dari Asia Pasific Economic Comunity, 21 negara yang ada di situ. Kita mulai dari Indonesia, yang kedua Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Republik Rakyat Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Taiwan, kemudian Amerika Serikat, Meksiko, Peru, Chilii, Papua Nugini, Australia, Selandia Baru, Kanada, sudah berapa itu? Sembilan belas, Rusia masuk, Putin datang. Ini saya ingin cerita sedikit, supaya kita sebagai bangsa jangan kecil hati, tapi juga harus tahu, kita juga harus bekerja sangat keras.

Kemudian kemarin di Laos itu ada namanya ASEAN Summit. ASEAN itu sekarang berapa Bapak, Ibu sekarang jumlahnya? Sepuluh, dulu enam, jadi 10 itu. Saya ulangi, Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei, Philipina, tambah Myanmar, tambah Laos, tambah Kamboja, tambah Vietnam plus three. Three itu kemarin, Jepang, China, Korea, plus one India, plus two Selandia Baru dan Australia. Jadi ruwet akhirnya. Karena ASEAN plus three plus one plus two, panjang benar. Yang ingin saya ceritakan adalah, sebenarnya kita tidak perlu berkecil hati, melihat perkembangan negara-negara lain. Laos kemarin sama dengan Kamboja, Myanmar. Saya kira kita lebih bersyukur, kita jauh lebih maju. Seperti di negara seperti Chili, Peru itu pun kita tidak kalah. Tetapi kita jangan hanya melihat, membandingkan negara yang lebih lemah, lebih kurang maju dibandingkan negara kita. Kita harus melihat yang justru lebih maju dibandingkan kita. Oleh karena itu mau tidak mau kita harus melangkah dan bekerja sekeras-kerasnya.

Ada pandangan kita begini, sudahlah melihat ke dalam negeri saja, tidak usah bekerja sama dengan negara lain. Saya kira pandangan itu tidak tepat, karena bagaimanapun kita hidup ini sudah interdependent dan interconected. Yang penting semuanya itu untuk kepentingan dalam negeri, yang penting semua itu untuk kepentingan bangsa dan negara kita, yang penting harga diri, kehormatan dan kedaulatan kita tidak boleh dikorbankan. Justru secara cerdas, kita harus mengalirkan sumber-sumber kemakmuran ke dalam negeri kita. Secara cerdas kita bisa memanfaatkan momentum, peluang dari era seperti ini, yang disebut dengan globalisasi, sekali lagi untuk kepentingan kita.

Nah, menyangkut tugas dan tantangan ini, tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh pemerintah sendiri, tidak mungkin. Semua harus bersatu padu, pemerintahnya, legislatifnya, yudikatifnya, dunia usahanya, universitasnya, civil society-nya, komunitas ulama, tokoh masyarakat, semua, pendek kata harus bersatu, bersama-sama memperjuangkan kepentingan kita, bersama-sama membangun negeri ini, dengan secara cerdas memanfaatkan peluang, memanfaatkan momentum dan mendayagunakan apa yang kita miliki. Jangan sampai kita punya resources, punya sumber daya, jangan sampai kita punya capital atau modal itu tidak dikelola dengan baik, tidak didayagunakan dengan baik, tidak dikembangkan dengan baik, sehingga mestinya banga kita bisa mencapai tahapan seperti ini, tapi kita gagal mencapainya karena kesalahan kita sendiri. Oleh karena itu kita memerlukan visi, kita memerlukan kebijakan dan strategi dan selebihnya kita memerlukan aksi. Aksi ini adalah aksi bersama. Aksi yang saling memperkuat dan bukan aksi yang saling memperlemah.

Nah, kalau kita paham seperti itu, tidak ada satupun elemen di negeri ini yang tidak penting. Semua simpul itu penting, semua simpul itu berperan. Oleh karena itulah, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, dengan saya buka secara, meskipun singkat tapi utuh bagaimana tantangan kita ke depan, membangun Indonesia yang lebih aman, lebih adil, lebih demokratis dan lebih sejahtera. Dengan era globalisasi seperti itu, tetapi kita punya nilai, punya jati diri, punya konsensus-konsensus dasar dan punya resources dan juga punya modalitas atau capital yang kita miliki. Mari, kita bersatu padu, ajak semua komponen bangsa ini juga untuk bersatu padu, melangkah bersama, menyelesaikan tugas-tugas yang berat namun mulia untuk masa depan bangsa dan negara kita.

Itulah Bapak Ibu Hadirin sekalian yang ingin saya sampaikan dan ada pesan kecil saya supaya tidak ada salah pengertian diantara kita, karena banyak sekali SMS yang masuk. SMS saya buka, karena saya ingin mendengar terus apa yang dirasakan, yang dipikirkan oleh saudara-saudara kita di seluruh tanah air, terutama SMS isteri. Ini kalau sudah tiga hari nggak dibuka, begitu dibuka 800 messages. Demi Allah ini, jadi betul, 800, 700, 500, kita buka satu persatu. Ada yang memberikan semangat kepada saya, ada yang memberikan bantuan pemikiran, ada yang mengkritik, ada yang sangat marah, ada yang mengecam, ada yang luar biasa. Saya harus terima semuanya itu. Sebagian kritiknya bagus, tapi sebagian karena keliru di dalam melihat, di dalam memahami, di dalam mempersepsikan. Sebagai contoh, ini yang kecil saja. Ada SMS, “Pak saya tunggu malam ini dan ada ulang tahun saudara ini, itu jam 6 sore. Ulang tahun jam 7”. Saya kan repot menjawabnya. Kalau saya katakan, “Dik ya mestinya nggak boleh begitu, tolong diajukan sebelumnya, nanti ada proses, ada Sekretaris Presiden, dilihat aspek security-nya dan lain-lain, supaya tidak susah nanti”. Presiden itu tidak harus dilayani, tidak, tapi harus diamankan, itu standar internasional. Ketika kita sampaikan tidak bisa, jawabannya tidak bagus. Mengapa berubah? Mengapa harus protokol-protokolan? Saya sulit lagi menjelaskan, karena bisa salah paham lagi. Jadi sebetulnya, nanti kalau suatu saat saya mengakhiri tugas saya insya Allah lima tahun lagi, saya meninggalkan tugas sebagai pemimpin yang mendapat amanah dan mandat rakyat, saya bisa menulis buku, itu akan banyak sekali suara hati saya, pikiran saya, menerima seperti-seperti itu.

Oleh karena itu, saya dalam kesempatan yang baik ini, tidak mungkin saya memutus silaturahim dengan Bapak, Ibu dan Saudara-Saudara, tidak mungkin dan tidak ada niatan untuk melupakan atau tidak ingin, ya sekali lagi, bersahabat, bersaudara ke depan. Tetapi mohon, sekali lagi mohon pengertian agar supaya semua enak, petugas saya, juga mengemban tugasnya dengan baik dan tidak disalahkan kalau ada apa-apa dengan yang diamankan, atau diatur kegiatannya, kiranya tetaplah entah dengan surat, entah dengan apa dan kemudian semua akan diproses sesuai dengan aturan yang ada. Ini penting sekali.

Seperti kemarin ini kejadian. Saya Shalat Jumat di Baiturahim, ya ibadah, Shalat Jumat. Nah, di dalam sudah ada, ya saudara-saudara kita, bergerombol-gerombol itu, langsung mendatangi saya, sambil berjabat tangan dari Tanah Abang. Jadi, yang ada pembangunan pasar, saya bilang begini. Ini di masjid, saya akan pelajari dulu, ini tingkat mana, Pak Gubernur atau Pak Walikota. Pak Gubernur Pak. Ok lah, saya tidak boleh mengatakan bahwa Bapak-bapak benar, tapi saya cek dulu seperti apa policy gubernur dan mengapa. Kan tidak mungkin seorang gubernur, seorang walikota ada kebijakan yang tidak dipikirkan masak-masak.

Lepas dari situ, dari Aceh, AAF. Pak Presiden, kami nggak setuju Pak, begini-begini, ya setelah agak sore unjuk rasa AAF itu. Jadi yang ketemu di masjid mungkin perwakilannya, terus sorenya di depan istana unjuk rasa. Terus yang ke-3 Semen Gresik, Pak kami tidak setuju, begini-begini, ya gimana-gimana, kita di masjid ini, baru saya Sholat Jumat ini.

Nah, terus saya jalan lagi, nah ini diluar ini, supaya untuk tidak menjadi salah pengertian, ketika saya sedang jalan, dipotong oleh, biasalah, saya jalan gitu, ajudan di belakang saya, satu orang security di depan saya, dipotong begitu, security-nya kan kaget, karena yang bersangkutan langsung merangkul saya gitu, ya sahabat, kan ditahan begitu oleh si security, marah. Dimarahi security di depan saya, saya bilang, tunggu, tunggu, tunggu, dia menjalankan tugas, jangan dimarahi, ayo kita bicara apa gitu. Jadi, malamnya istri dapat lagi SMS, mengapa pengamanan seperti itu? Mengapa SBY berubah? Muncul lagi, ya ini saksi hidup. Allah mendengar ucapan saya, saya tidak boleh berbohong, pemimpin tidak boleh berbohong.

Jadi yang begini-begini saya ingin buka sekarang saja, supaya dimengerti. Apa dikira saya tidak kehilangan kebebasan? Saya itu Pak, karena saya itu dulu Paban dulu, perwira di Bandung. Jadi kalau naik mobil itu, Jakarta-Bandung, mondar- mandir sampai hafal, itu saya pasti mampir di Simpang Raya, di situ, kalau enggak di Rindu Alam di sana. Sekarang tidak semudah itu. Ingin saya, tapi kan Paspampres, mohon nanti chek security, makanannya harus steril, macam-macam itu. Saya suka jalan Pak, sering minum kopi di “Oh la la” ini, nggak bisa lagi. Masakan Padang, nggak bisa lagi. Jadi saya pun terkekang, hidup terkekang (logat batak) sebetulnya. Kalau Pandjaitan bersaudara itu hidup terkekang itu. Ada, tapi saya harus menghormati, sebab kalau ada apa-apa, dia mendapatkan hukuman yang sangat keras, si pengamanan Paspampres ini. Meskipun, “Tolong dik, jangan keras-keras ini rakyat kita”. “Siap, kami harus mengamankan”. “Iya, tapi jangan keras-keras.

Oleh karena itu, mohon sekali lagi, supaya ini halal-bihalal yang bagus, komunikasi saja yang baik. Karena kami juga ada Sekretaris Kabinet, ada Pak Sudi Silalahi, akan disaring semua, ketemu kok. Bapak, Ibu sekalian, kalau Bapak, Ibu lihat jadwal saya, jadwalnya Pak Yusuf Kalla, itu sedikit sekali untuk betul-betul istirahat panjang. Oleh karena itu kalau ada sesuatu yang sangat penting, untuk bertemu, itu akan ditata. Tidak mungkin tidak didengar sama sekali, tapi mohon sabar, karena juga antreannya panjang. Saya harus buka seperti itu jangan sampai ada ganjalan-ganjalan diantara kita. Dan saya paling sedih kalau ada ucapan, SBY tidak ingat kita, SBY berubah, SBY dan lain-lain, insya Allah tidak, insya Allah tidak, saya manusia biasa.

Baiklah, dari itu semua, saya bersama Pak Jusuf Kalla, saya wakili Pak Jusuf, mohon doa restu, untuk mengemban tugas yang mulia ini. Kalau ada hal-hal yang secara fundamental menyimpang, beritahu saya. Saya memerlukan kritik, memerlukan koreksi, memerlukan rekomendasi. Berikan, kalau itu benar, sepenuhnya akan saya terima. Kalau itu salah pengertian akan saya jelaskan, bahwa sebenarnya tidak begitu. Kawan sejati, sahabat sejati, tentu bersama dalam suka, bersama dalam duka dan terus memberikan hal-hal yang baik ke depan. Dan pesan yang terakhir, setelah perhelatan demokrasi ini usai, kita harus bersatu sebagai keluarga besar bangsa Indonesia. Sayapun mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Ibu Megawati atas apa yang dicapai, diraih pada masa pemerintahan Beliau, makro ekonomi yang bagus, keadaan sosial politik yang makin terkelola dan lain-lain capaian.

Saya berterima kasih karena saya bisa melanjutkan capaian itu untuk menyelesaiakan masalah-masalah yang belum diselesaikan pada masa beliau. Jadi begitu cara berpikir kita, oleh karena itu tantangan yang kita hadapi sekarang tidak boleh menyalahkan yang dulu-dulu, karena selalu ada yang tidak selesai di masa yang lalu, ya tugas pemimpin berikutnya. Suatu saat, 5 tahun lagi saya selesai menjalankan tugas, ya pemimpin berikutnya lagi yang melanjutkan apa yang belum dicapai oleh periode sebelumnya. Dengan semangat ini, saya mohon ajaklah semua keluarga besar bangsa Indonesia untuk melangkah bersama menuju masa depan yang lebih baik.

Sudah cukup lama saya berbicara, karena saya kangen dengan Bapak, Ibu sekalian dan ini ada Mbak Tutik Tri Sedia, ada Mbak Sundari Sukoco, Johan Untung. Baiklah, kita sejenak melepaskan penat, saya minta hilangkan dulu hingar-bingar politik apapun, kita ber-silaturahim yang baik, rileks di tempat ini, memperkuat ukhuwah kita, persaudaraan dan tekad kita. Kalau ada tutur kata saya yang tidak berkenan saya mohon maaf, bilahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakhatuh.

* * * * *


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan