Pidato Presiden
Materi Kuliah Perdana Program Doktor Manajemen Bisnis IPB tentang Peningkatan Daya Saing Bisnis dan Iklim Investasi pada Era Transisi Demokrasi
TRANSKRIPSI
MATERI KULIAH PERDANA PROGRAM DOKTOR MANAJEMEN BISNIS
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
OLEH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
TENTANG
PENINGKATAN DAYA SAING BISNIS DAN IKLIM INVESTASI
PADA ERA TRANSISI DEMOKRASI
GRAND HYATT, 1 APRIL 2006
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati,
Saudara Menteri Pendidikan Nasional, Saudara Menteri Pertanian, Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, dan juga Para Menteri Keluarga Besar Pertanian,
Saya lihat tadi ada Bapak Soleh Solahudin, Bapak Bungaran Saragih, Bapak Rohmin Dahuri, Perikanan Kelautan, Bapak Muslimin Nasution, mana tadi beliau? Mantan Menteri Kehutanan,
Saudara Gubernur Bank Indonesia, Ini hadir Pimpinan TNI dan Polri dengan jajarannya karena kalau kita bicara competitiveness dan investment climate banyak sekali faktor non ekonomi yang harus kita kelola secara bersama,
Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, tuan rumah yang kita muliakan Saudara Rektor IPB, Prof. DR. Ir. Ahmad Anshori Mattjik dengan segenap civitas akademika dan keluarga besar IPB,
Yang saya cintai, para mahasiswa Program Doktor Manajemen Bisnis IPB, Para Wisudawan, Magister Manajemen Agribisnis,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Patut kita mengawali acara yang bersejarah dan Insya Allah penuh berkah ini dengan terlebih dahulu memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kita dapat berada di ruangan ini untuk bersama-sama memikirkan dan kemudian melakukan aksi nyata untuk meningkatkan pembangunan kita, memajukan ekonomi kita serta yang menjadi topik pada hari ini, bagaimana kita meningkatkan daya saing bisnis dan memperbaiki iklim investasi di negeri kita dalam transisi menuju demokrasi.
Merupakan kebanggaan dan kebahagiaan bagi saya selaku alumni Institut Pertanian Bogor yang bertemu dengan keluarga besar untuk menyampaikan pandangan-pandangan saya, barangkali cukup sederhana, tetapi mudah-mudahan bisa mengisi ruang yang lebar sesungguhnya bagaimana kita bersama-sama melangkah ke depan membangun masa depan yang lebih baik. Meskipun ini forum akademik dan wajib bagi saya untuk mengaitkan substansi dari topik stadium general yang saya sampaikan hari ini dengan economic concepts dan theoretical framework terutama dalam bidang ekonomi makro, saya mesti mengaitkannya dengan the real condition, the real situation, baik pada tingkat nasional, tingkat regional dan global yang berkaitan dengan bidang ekonomi, tentu daya saing dan investasi. Tentu pula sebagai seorang praktisi yang sedang mengemban amanah rakyat bersama-sama dengan jajaran pemerintahan yang saya pimpin, saya akan mengedepankan pula strategi, kebijakan dan aksi yang sedang kita lakukan yang tentu saja tidak mungkin berhasil tanpa kebersamaan kita semua, tanpa kontribusi dari semua pihak termasuk salah satu pusat keunggulan yang kita cintai yaitu Institut Pertanian Bogor.
Dalam konteks itulah, saya ingin menyampaikan kuliah saya. Saya ingin seringkas mungkin, tetapi barangkali saya harus mengelaborasi satu, dua isu agar kita benar-benar paham memiliki paradigma dan mindset yang kurang lebih sama dan yang penting bagaimana kita bersinergi membangun Indonesia incorporated untuk menjadi bangsa yang maju, bangsa yang menang dan bangsa yang tampil terhormat dalam dunia yang terus berubah ini dengan persaingan yang makin keras dan kadang-kadang juga kejam.
Hadirin sekalian,
Saya akan menggunakan tayangan dan Insya Allah setelah saya sampaikan pada hari ini dan nanti ada tanya jawab atau dialog dengan mahasiswa program pasca sarjana, ulangi, Doktor Manajemen Bisnis, saya akan edit dan Insya Allah akan saya bukukan, akan saya sumbangkan nanti kepada Institut Pertanian Bogor. Saya juga senang hari ini ada Pak Gubernur Gorontalo, Bung Fadel, yang saya tahu sangat semangat untuk memajukan agroindustri dan agribisnis di wilayah beliau. Ada Pak Bupati Siak, Pak Arwin. Ada Direktur PTPN V mestinya, ada di sini beliau? Pak Marjan. Dan saya kira banyak stakeholders yang hadir pada hari ini.
Hadirin sekalian,
Saya akan mulai dengan ceramah saya, rileks saja, dengan judul yang sederhana, tetapi barangkali kita setuju bahwa ini masalah yang sangat penting, yaitu peningkatan daya saing bisnis, business competitiveness dan investment climate, ini perbaikan pada era transisi demokrasi. Saya ingin memulai dengan mengajukan sebuah pertanyaan kritis. Apakah Indonesia bisa maju? Orang yang pesimis, orang yang skeptis kadang-kadang bertanya seperti ini. Jawabannya bisa dan harus bisa. Bahkan kita ingin bersama-sama membangun Negara kita menjadi Indonesia yang makin damai, peaceful, adil, just, democratic, demokratis dan tentunya makin prosperous atau sejahtera.
Mengapa saya yakin, mengapa saudara yakin bahwa kita mampu membangun Indonesia seperti itu? We have many things. Pertama, tidakkah sejarah menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki semangat, kegigihan dan keberanian yang luar biasa untuk tetap bertahan sebagai bangsa dan tumbuh menuju ke depan. Kita memiliki sumber daya alam yang tidak kecil, natural resources, kita memiliki sumber daya manusia yang besar, yang Insya Allah makin kompetitif, makin produktif, human resources, human capital. Kemudian jangan dilupakan hasil pembangunan selama ini, sejak mendiang Bung Karno, Pak Harto, Pak Habbibie, Gus Dur, Ibu Mega sampai sekarang. Itu juga merupakan capital, physical capital yang tidak boleh kita sia-siakan.
Teknologi yang makin meningkat, saya banyak ketemu dengan putra-putri Indonesia, the best and the brightest man and woman di banyak Negara, saya bertemu di Microsoft Headquarters di Seattle, putra-putri Indonesia. Saya bertemu di banyak negara, so competitive. Saya kira ini juga merupakan capital kita dan remember, posisi geografis kita baik kalau melihat belahan dunia, baik dari segi geo-ekonomi maupun dari segi geo-politik. Oleh karena itu, begini besar kita punya resources, negara ini tidak boleh bangkrut. Kita bersama-sama berusaha, berjuang, bekerja keras untuk tidak membikin negara kita bangkrut dan kemudian segera menyusul kemajuan negara-negara lain yang lebih dahulu maju dibandingkan kita.
Kita hidup dalam era globalisasi dalam dunia yang telah, terus dan akan terus berubah that is our choice. Kita tahu bahwa dalam kehidupan era globalisasi ini, hadir tantangan dan peluang, threat and opportunity. Persaingan dan kerjasama mesti ada, competition and partnership ataupun cooperation dan semua berebut sumber-sumber kemakmuran, capital, technology, market, information dan lain lagi. Ingat ekonomi selalu berkaitan dengan scarcity bagaimana dengan kelangkaan itu kita bisa melakukan sesuatu yang efisien, yang berguna, yang akhirnya memiliki added value yang tinggi. Dari semuanya itu maka kita harus menang tidak boleh kalah, kita harus beruntung tidak boleh merugi, kita harus pandai bersiasat dan tidak boleh hanya disiasati. Nasionalisme masa kini, kecintaan pada bangsanya sendiri yang tinggi masa kini dan masa depan adalah yang membikin bangsa kita bermartabat, tampil terhormat, makin sejahtera. Itulah nasionalism yang sesungguhnya mengalir sejak para founding fathers kita, foundings mothers kita dengan bijaksana dan cerdasnya meletakkan landasan-landasan kita. Landasan-landasan negara Indonesia, negara nasional Indonesia. Kita tinggal melanjutkannya.
Kemudian berikutnya lagi, kita harus menjadi bangsa, saya kira cocok dengan topik hari ini yang berdaya saing tinggi, mampu mengalirkan sumber-sumber kemakmuran dari kemajuan dunia, bukan yang pandai, Vietnam, India, China, Thailand dan lain-lain dan kita hanya berkutat di dalam negeri, tidak memiliki suatu pikiran yang cerdas dan menjangkau dan kita gagal. Untuk mengalirkan sumber-sumber kemakmuran itu dipadukan dengan capital kita, dengan resources kita sendiri.
Kemudian yang ketiga ini juga penting, bagaimana kita mampu mengelola potensi dan sumber daya yang kita miliki secara efektif dan efisien menuju ke keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Inilah yang perlu saya sampaikan. Dari situ saudara-saudara, mengapa kita harus bicara daya saing, iklim investasi dan kita letakkan dalam konteks bahwa negara kita dalam proses transisi menuju demokrasi, toward consolidated democracy, begitu istilah dalam ilmu politik.
Kita petik pelajaran dari negara-negara sahabat kita, China sejak Deng Xiao Ping melancarkan reformasi kurang lebih 28 tahun yang lalu China tumbuh dengan pesat, mengapa? Karena ada investment yang masuk, FDI itu luar biasa masuk ke China, ada technology yang makin bagus dan ada political stability, national stability di China. Kita lihat lagi misalkan Korea, maju juga ada capital in flow yang luar biasa ditambah dengan teknologi yang juga maju dengan pesat dan perkembangan industri yang juga banyak menjadi contoh di negara lain. Vietnam memiliki daya saing meskipun new comer setelah mengalami dua perang besar, perang Indo Cina dan perang Vietnam, sekarang mulai mengejar ketertinggalannya karena competitiveness, karena iklim ekonomi yang juga makin baik. India, kita kenal sekarang, penguasaan IT yang luar biasa, resources-nya ada dan kemudian dipadukan dengan mulai mengalirnya media ke India merupakan India melalui competitiveness dan harapan yang tinggi untuk menjadi bangsa yang maju. Malaysia, contoh ekonomi yang efisien, kemudian juga pandai menggunakan capital dari luar negeri. Singapura, si kecil dalam geografi, tapi besar dalam ekonomi, besar dalam capital-nya yang juga menjadi one of the best trade center, economic center in the world. Kita belajar dari mereka. Oleh karena itu, jawabannya kembali yang tiga itu, daya saing, investment dan juga bagaimana kita mengelola semuanya itu dalam lingkungan politik yang stable harapan kita dan tentunya tetap demokratis.
Dari itu semua, saya masuk kepada inti ceramah saya sesuai dengan topik yang dipersiapkan oleh lembaga, bagaimana kita meningkatkan daya saing bisnis dan memperbaiki iklim investasi pada era transisi demokrasi. Saya ingin mengedepankan 5 agenda secara singkat. Nanti yang pertama adalah ekonomi Indonesia. Katakanlah 10 tahun terakhir atau katakanlah sesaat sebelum dan ketika krisis terjadi dan hari-hari mendatang sampai hari ini. Yang kedua, saya harus mengatakan, mengapa kita sekali lagi perlu bicara daya saing dan peluang investasi, kita letakkan nanti dalam konteks global. Kemudian yang ketiga, mengapa Indonesia harus meningkatkan daya saing bisnis dan iklim investasinya? Saya ingin bicara, ingin mengedepankan data, fakta, angka and comparison dengan negara-negara lain. Dari situ kita sudah mengambil kesimpulan besar, we have to improve our competitiveness and bussiness investment climate.
Kemudian baru yang keempat ini, apa yang harus kita lakukan? Saya akan sampaikan nanti policy, strategy dan juga action. Dan kemudian, less but not least karena kita melakukan semua ini dalam transisi demokrasi, our democracy is in making, tentu menunjukkan banyak hal yang bisa berpengaruh langsung, bisa mendorong, bisa menghambat, whatever, tetapi itulah negeri kita. Kita jalani semuanya itu dengan determinasi, dengan firmness bahwa kita akan menuju ke arah yang benar, menuju Indonesia masa depan yang kita dambakan bersama.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Saya akan masuk bagian pertama, ekonomi dan triple tracks strategy. Tentu secara ringkas, highlight karena kita semua mengalami bagaimana perjalanan ekonomi Indonesia sebelum dan setelah krisis, masih ingat semua kita. Mengapa krisis terjadi? Lantas setelah terjadi krisis, arah dan upaya bangsa ini mengatasi krisis. Kemudian dinamika dan perkembangan ekonomi industri pada masa dan pasca krisis seperti apa? Saya ingin memotret suatu snapshot untuk tahun 2005-2006 seperti apa kondisi ekonomi kita. Dan dari itu semuanya saya mengedepankan yang saya sebut dengan triple track strategy, bagaimana kita mengembangkan strategi ke depan. Kawan-kawan lain, Thaksin misalkan mengembangkan double track strategy. Demikian juga negara-negara lain, tapi saya melihat kondisi riil Indonesia, kita perlu 3 pilar, 3 track, 3 jalur dalam strategi ekonomi kita.
Mari kita baca ada yang ditulis oleh World Bank pada tahun 1997. Silakan dibaca. Sebelum krisis, 7,8% kita punya growth, inflasi 6,47%, cadangan 4 milyar, jatuh kita dari situ. Bahkan tidak pernah punya bayang-bayang bahwa kita akan jatuh dalam krisis yang dalam dan dasyat melihat performance ekonomi kita tahun 1997.
Saya telepon Pak Gubernur BI minggu lalu dan kemarin sore berkomunikasi, meskipun good news-nya adalah bahwa cadangan devisa ini, kita sudah mencapai sekarang 40, 3 triliun, jadi sudah diatas tahun 1996-1997, tetapi growth kita belum. Nanti akan kelihatan, inflasi kita harus masih bekerja keras, to bring inflation down to one single digit this year, kita akan sama-sama nanti. Krisis, orang mengatakan, credit patern semacam credit present pada tahun 1929, inilah growth kita dari pertama kali tumbuh, berapa tadi? 7,8% tiba-tiba kita mengalami kontraksi seperti itu minus 13%, kurs pernah menyentuh 17.000. Hutang kita, pencari kerja kita, kaum miskin dan kalau tidak salah inflasi itu mencapai 78%, waktu itu. Jadi, ini betul-betul terjadi stakflasi yang dashyat.
Mengapa ekonomi Indonesia ambruk, tiba-tiba baik, baik, baik, dipuji, dipuji, new tiger of Asia, tiba-tiba, plek, jatuh seperti itu. Silakan dan mari kita lihat satu-persatu. Secara regional Indonesia mendapatkan effort … the contigent of effect, pertama kali kan bath, kemudian Won, Korea akhirnya masuk ke negeri kita. Terjadi spekulasi dan perilaku panik diikuti dengan capital flight, policy errors, ada juga policy errors-nya. Orang mengatakan Indonesia juga ikut, IMF juga ikut. Lantas hubungan politik dengan bisnis yang tidak sehat, yang rapuh, yang kolutif yang disebut dengan crony capitalism. Kemudian hubungan tidak sehat antar penguasa dan pengusaha yang memangsa sumber daya dan output ekonomi, memangsa, kalau pemangsa yang rakus namanya predator. Absennya good governance, kalau good governance tidak ada, adanya bad governance makin cepat itu keambrukan, ambruknya bangsa dan negara kita.
Ekonominya, tapi mengapa dunia usaha juga ikut ambruk bahkan lebih cepat ambruknya. Ya, memang karena ambruknya perekonomian yang pertama, daya beli masyarakat jatuh, investasi turun drastis, belanja pemerintah terbatas, darimana uangnya, skala ekspor kecil, modal usaha susah, swasta jatuh dalam hutang, gangguan sosial dan keamanan. Saya kira para pimpinan TNI Polri masih ingat 1998, 1999, 2000 kayak apa negara kita ini, konflik komunal terjadi dimana-mana Sampit, Ambon, Poso, NTT, di kota-kota besar, Aceh sendiri dan lain sebagainya.
Cost of crisis mencapai 650 triliun, kembali ke negara sekitar tidak lebih dari 30%, jadi hanya sekitar 200 triliun lebih yang tentunya bangsa ini berhutang untuk mengembalikan uang rakyat yang hilang karena krisis meskipun bukan sepenuhnya kesalahan pemerintah, kesalahan pengusaha tapi karena kondisi, kurs jatuh luar biasa, tapi we have morale responsibility in two decades to come. Pemimpin-pemimpin nantinya, saya dan pengganti-pengganti saya untuk bagaimana cost of crisis ini bisa kita kembalikan.
Dari situ mari kita lihat sekarang pertumbuhan ekonomi Indonesia 1998-2005. Sekarang terus naik kemudian 2004 itu 5,1%, 2005 5,6% mudah-mudahan ini bisa terus naik, ekspektasi kita 5,5 sampai 6%, Insya Allah, mudah-mudahan kita bisa tercapai seperti itu. Nah, ini karena forum akademik, terpaksa saya harus, supaya bisa direnungkan dulu, saya minum dulu.
Pertumbuhan itu, ini menurut dosen-dosen saya dulu, bisa didorong melalui yang disebut sisi penawaran, supply side economy. Tapi juga bisa didorong, ditarik oleh demand side economy, sisi permintaan. In the long run bangsa yang maju, negara Amerika, negara Eropa, Jepang itu karena supply side economy-nya itu bagus technology, productivity, competitiveness dan sebagainya. Tapi dalam jangka pendek, kadang-kadang sentuhan kita, policy kita dalam sisi demand itu juga bisa meningkatkan pertumbuhan.
Ini gambarnya salah ini, mestinya. Ini adalah dari sisi permintaan, ini graph permintaan, ini supply , agregat demand, agregat supply, equilibrium-nya di sini. Pada Y1, output1 kemudian harga pada P1. Kalau yang meningkat hanya demand-nya saja, plek di sini, memang meningkat Y1 ke Y2, tetapi akan terjadi inflasi. Tetapi kalau kita imbangi dengan supply side economy-nya, supply juga bergerak ke kanan maka new equilibrium adalah berpotongan dari AS2 dengan AD2 jadi ada garis di sini, cek, cek di sini P3 sehingga output tetap naik, satu naik, makin besar, makin besar, tetapi P-nya tidak naik terus akan turun bisa kembali ke ini atau lebih kecil terpulang bagaimana supply itu bertumbuh.
Berikutnya lagi masih rumus-rumus, tetapi ingat bahwa kita harus tidak melupakan economic concept, ada economic problems, memerlukan economic solutions. We have to understand the fundamental theory, the fundamental of economic concept dalam memecahkan ini. Permintaan agregat tadi orang mengatakan ada consumtion, investment, government expenditure, kemudian ekspor, impor dikurangi ekspor. Konsumsi masyarakat, ya kalau ini konsumsi adalah tentu selisih pendapatan dikurangi pajak. Kalau pajaknya makin naik, disposable income kurang, susah hidup kita. Mana Dirjen Pajak ada enggak? Ada Menteri Keuangan itu ya? Dalam hal tertentu pajak turun itu bagus dalam arti luas. Kemudian investasi, saya kira kita tahu bahwa investasi itu akhirnya fungsi dari suku bunga. Kalau suku bunga naik, investasi naik apa turun? Sebetulnya akan turun jadi maka ada Pak Burhanuddin di sini. Insya Allah nanti begitu makin baik kita punya moneter, situasinya bisa diturunkan sedikit suku bunganya sehingga investasi bisa mengalir kembali. Kita percayakan kepada beliau.
Kemudian ekspor bersih, ini juga dipengaruhi oleh nilai tukar. Waktu nilai tukar menyentuh 8.990, it was lastweek, saya deg-degan ini. Wah ini, gimana, memang dari segi bayar hutang enak kita, tapi daya saing ekspor kita bagaimana kira-kira begitu. Jadi menurut saya, perlu dipikirkan bagaimana kita, tapi tidak harus ya, ekspor jangan hanya berlindung pada nilai tukar, mesti ada yang … produktivitasnya, efisiennya dan lain-lain. Itu hanya satu faktor saja terutama invest of run. Kemudian, kalau dari segi penawaran, supply, ini yang penting, yang sering tidak dibicarakan orang bahwa pertumbuhan itu akhirnya fungsi dari capital dan labour. Masa kini, labour itu kalau memiliki knowledge-nya bagus, skills yang bagus, daya inovasi yang bagus, productivity yang bagus maka akan naik semuanya output ini karena capital yang diawaki oleh labour yang seperti itu akan memiliki daya saing dan pertumbuhan yang tinggi.
Ini yang perlu saya sampaikan dan ingatkan kepada saudara-saudara
Kita menggarisbawahi pentingnya teknologi, technology, technology, technology. Jangan disia-siakan bahwa kita mampu mempercepat penguasaan teknologi. Ini sebetulnya mudah sekali dijelaskan kalau ini output, ini capital. Dengan capital yang sama kalau di sini, tentu ini tidak efisien, tapi kalau di sini pada fungsi capital yang di sini maka ini akan efisien karena kita mendapatkan output pertumbuhan output year Y1. tetapi dengan technology, kalau bisa kita angkat di sini dari Y menjadi Y’ di sini maka akan terjadi peningkatan output seperti ini. Jadi dengan capital yang sama kalau kita meningkatkan technology, meningkatkan productivity, efisiensi maka akan mengontrak dan meningkatkan kita punya output. Inilah perlunya kita punya long term strategy, long term policy to continue, to increase our human capital, our technology, our productivity. Dengan demikian, dengan capital yang sama kita bisa tingkatkan secara signifikan.
Unemployment, nah ini, ini juga ada misteri di negara kita ini. Ternyata employment kita dari tahun ke tahun kok begini ini. Ini 2005. Berikutnya lagi, padahal menurut Hukum Okun, masih ingat semua ya. Ini mau diwisuda jangan sampai lupa ini. Pengangguran itu akan makin berkurang, Mana BPS ? Pengangguran itu akan makin berkurang, kalau pertumbuhan ekonomi jauh melebihi tingkat pertumbuhan normal. Pentingnya pertumbuhan. Ah pertumbuhan enggak penting, yang penting rakyat sejahtera. Ya rakyat sejahtera itu perlu pertumbuhan, ekonomi tumbuh kita alokasikan, distribusikan untuk kesehatan, untuk pendidikan, untuk mengurangi kemiskinan artinya menuju ke situ. Ini Hukum Okun, mestinya kalau dari 5,1% 2004, 5,6% 2005, Insya Allah misalkan bisa 6, misalnya. Bisa enggak Pak Boediono 6% nanti? Kalau bisa 6% mestinya pengangguran turun, tapi apa yang terjadi, kita melihat suatu paradoks di sini ya, tolong dicarikan ini para banyak ekonom, banyak policy makers, banyak akademisi, banyak para mantan menteri, Pak Bungaran, Pak Rokhmin semua, Pak Soleh, Pak Muslimin, pengabdian belum berakhir kepada negara dan bangsanya. Seperti ini sekarang ya, ini yang saya sebut dengan, mestinya makin tinggi begini, employement makin begini mestinya, ya kan. Makin tinggi, makin susut. What happens? What happens with labour market? Coba dilihat nanti. Apa ada distorsi, apa ada sesuatu yang tidak bisa connect, yang mestinya makin tinggi pertumbuhan, makin berkurang itu pengangguran karena we could create jobs.
Inflasi, ini inflasi kita pernah 78%, tapi turun dan ini relatively stable. 2005 memang naik karena Pak Burhanuddin perlu tahu, karena kenaikan BBM kemarin itu sehingga perjuangan kita this year, we have to bring it down, mudah-mudah kembali kepada single digit dan kembali kepada grafik ini.
Kemudian Kurva Philips, ini inflasi dan pengangguran. Memang kalau BI kan come inflation targeting, beliau sangat worry kalau inflasi tinggi. Oleh karena itu, suatu saat dengan inflation targeting policy dari BI, itu inflasinya akan ingin diturunkan dari sini, mana tadi, dari sini, turun ke sini, gitu. Tapi ingat pengangguran bisa berkembang. Di sinilah perlunya monetary and fiscal policy mix. Saya ingin Pak Gubernur BI, Pak Boediono, Ibu Sri Mulyani dan lain-lain teruslah berkomunikasi, berintergrasi untuk mengembangkan suatu policy terpadu yang pas, pas untuk moneter, pas untuk fiskal dan overall pas untuk ekonomi dan pas untuk rakyat kita.
Masih penyegaran tentang economic concepts. Interest rate dengan investment itu kan juga bertolak belakang, tadi sudah kita singgung. Ini contohnya, ketika interest rate-nya tinggi sekali, di sini kita punya investment. Tapi begitu interest rate going down, investment juga naik. Harapan kita nanti begini. Investmentnnya begitu. Mudah-mudahan kita segara ketemu lagi ada approxing line yang bisa memacu investasi kita.
Kemudian exchange rate, ya ini kita lihat sekilas saja. Sebetulnya tahun 1998 dulu pernah di atas Rp. 10.000,- dan pernah menyentuh Rp. 17.000,- sebenarnya sudah relatif seperti ini. Ini 2005 masih tinggi, tetapi sekarang, 2000, Januari, Februari, Maret saya kira sudah Rp.9.200,- Rp.9.100,- Mestinya gambarnya akan turun nanti 2006. Tantangan bagi kita semua, termasuk bagaimana kuliah yang teman-teman di BI, Pak Burhanuddin cs untuk ikut menyumbang masalah ini.
Dikaitkan dengan ekspor exchange rate, ya ini kalau ada ekspor, di sini para pengusaha. Sekali lagi saya pesan, jangan hanya menggantungkan segi nilai tukar sebab kalau saudara ingin nilai itu setinggi-tinggi bagi dollar, serendah-rendahnya bagi rupiah bisa kompetitif di luar negeri barang ekspor saudara memukul yang lain. Oleh karena itu, saya tetap mengharapkan supaya ada tekanan atau pengembangan di segi yang lain, seperti efisiensi, produktivitas, daya saing produk dan lain-lain. Sebab, ya memang betul kalau exchange rate-nya ini dari sini turun ke sini, akan turun ekspor itu. Tetapi ini bukan satu-satunya faktor, saya pesankan sekali lagi.
Cadangan devisa, ini juga menjadi ukuran. Orang melihat partner kita, luar negeri melihat market, melihat seperti apa. Ini tahun 2000, 2004, 2005, ini Maret 2006 karena sudah mencapai 40,3 triliun. Ini kalau kita dollar Amerika Serikat kan berapa itu sekitar 40,3 milyar dollar. Kemudian Indeks Harga Saham Gabungan dan kurs, ya ini yang, ini adalah Indeks Harga Saham Gabungan mencapai muncul 13.000 sekian. Kemudian ini adalah yang berkaitan dengan kurs kita.
Pajak, seperti apa pajak kita. Mengapa saya bicara pajak? Kita akan lihat penerimaan negara kita. Saudara-saudara gimana kita mengurangi hutang? Punya enggak strategi dan kebijakan mengurangi hutang? Punya dong, masa gak punya. Caranya gimana? Bukan ngemplang. Caranya ya bagaimana dari tahun ke tahun, debt to GDP review susut, It’s number 1. Nomor 2 tentunya, agar tidak terjadi deficit, ya kita tingkatkan penerimaan negara kita, pajak dan non pajak, that’s number 2. Ada memang diskusi di dunia, debt to environment swap, debt to ambigi swap, tapi itu tidak semudah itu, yang sudah dibebaskan itu. Yang sudah dibebaskan itu, highly indebted countries, Indonesia tidak termasuk itu dan lebih baik bangga tidak termasuk itu. Oleh karena itu, ya satu-satunya harus kita tingkatkan penerimaan sendiri, kita perbaiki, sekali lagi debt to GDP review . Jangan dilihat nominalnya, jangan dilihat APBN tahun per tahunnya. Tapi kira-kira ini yang disuguhkan ini 2001, 2002, naik, naik, 2003 naik tinggi, 2004, 2005 naik dan sekarang cukup tinggi karena naik 30% dari 3 bulan pertama dan 3 bulan 2005, 3 bulan 2006.
Mengapa naik? Ini ada komponen-komponen silakan dibaca sendiri di situ. Dari gambar yang lain masalah pajak masih kelihatan di sini. Ini 2006, total 362 triliun, 2005 303 triliun, 2004 239 triliun, tapi mengapa tax ratio-nya seperti tetap saja 14, 13, 13. Karena pajak tahun 2004 misalkan atau tahun 2001, oh 2003 ini ya, 211 triliun, tapi GDP-nya seperti ini ketemunya ini. Nah meskipun ini naik, 239, naikkan, tapi karena GDP juga naik ketemu 4%. Demikian juga meskipun naik luar biasa menjadi 303, tapi GDP juga naik, ketemu sekian 2006 sekarang ini, meskipun baru 3 bulan. Harapan kita GDP seperti proyeksinya seperti ini. Jadi lihatlah dengan faktor pembandingnya atau ratio-nya.
Pertumbuhan tahun 2001, 2005 ini saudara bisa melihat tahun per tahun, ini dari komponen apa saja. Ini C atau consumtion seperti ini, ini government expenditure seperti ini, investment seperti ini, ekspor, import, net-eksport-nya seperti ini. Jadi 5,6 ini bisa di-breakdown siapa yang memberikan sumbangan terbesar. Meskipun ekonomi sulit, consumtion sulit 2005 yang lalu, tetapi karena ada BLT. BLT itu untuk tenggang waktu tertentu, it’s very effective. Bisa kita tinjau nanti, apakah masih perlu selamanya kita gunakan Bantuan Langsung Tunai atau kita padat karya yang bisa, ulangi. Ada proyek-proyek padat karya yang bisa mengajak tenaga kerja. Banyak opsi, kita bicarakan nanti, tapi yang jelas 2005 dengan BLT, consumtion itu flat. Dengan demikian, mudah-mudahan kita bisa terus melihat sambil mengembangkan policy kita.
Growth by Sector, ini bisa dilihat. Memang pertanian 2005 di sini berapa? Mana pertanian? 2, 5, tetapi bulan Januari, Februari, Maret ini up. Jadi perlu tepuk tangan dulu, pertanian up ini. Kalau sudah mananjak jangan manurung lagi, terus mananjak begitu. Ini yang tadi, sudah saya jelaskan tadi hanya khusus 3 bulan saja.
Sekarang APBN-nya. Saudara-saudara APBN 2005-2006. 2005 kita besarannya 540 triliun. Tahun 2006 harapan 625 triliun. Ini pajaknya, ini pengeluaran negara naik, naik karena lebih besar dibandingkan penerimaan diantara defisit. Inilah yang mungkin terjadi 0,9% 2005, kemudian, maksud saya yang terjadi adalah 0,7%. Tetapi ini dinamis masih ada APBN P mudah-mudahan ini gap, ada keperluan tertentu TDL tidak kita naikkan, kemudian ada yang lain-lain. Mudah-mudahan kalau toh naik, defisitnya tidak terlalu tinggi … tricky begitu kata ekonom, itu meniscayakan boleh naik sampai 3 %, betul? Tetapi negara-negara yang sudah mapan ekonominya, fundamentalnya kuat. Kalau kita tidak berani, saya tidak berani untuk mengambil keputusan more than 2%, more than 1.5%. Lebih bagus kita dibawah itu, syukur-syukur menuju di bawah 1% sehingga makin kuat fundamental kita.
Sektor riil yang meningkat. Ini juga meningkat, ini tajam sekali peningkatan. Kalau semen meningkat, konstruksi meningkat, it means bahwa pembangunan infrastruktur berjalan. Ini juga signal yang baik untuk pertumbuhan ekonomi pada tahun 2006 ini. Sektor ekonomi yang menurun sekarang. Ini tekstil harus kita selamatkan, kita pacu lagi. Yang kedua adalah kendaraan bermotor, motor dan mobil, ya karena bunga karena segala macam. Kemudian di sini elektronika, ini yang menurun. Jadi setelah kita bedah satu per satu, kita potret ada sektor yang naik, naik, naik, tapi juga ada sektor yang menurun seperti ini. Inilah pergulatan kita dalam economic policy, investment policy, industrial policy, services policy, agriculture policy dan lain-lain.
Dari itu semua hadirin sekalian, maka ke depan akan terus kita lakukan pembangunan ekonomi yang mengacu, yang sering saya sebagai triple track strategy. Sangat clear, pertama meningkatkan pertumbuhan atau growth. Harapan kita investasi dan ekspor. Government expenditure ternyata juga ada masalah-masalah meskipun dinaikkan, tapi realisasinya, kecepatannya, itu tidak seperti yang kita harapkan. Consumtion tentu tidak sustainable kalau kita hanya banyak menggantungkan consumtion. Oleh karena itu, investasi dan ekspor ini. Lantas yang kedua sektor riil untuk sebuah job creation. Yang ketiga, ini yang khas Indonesia dan saya senang sekali IPB tadi melakukan banyak hal untuk kita lakukan revitalisasi pertanian dalam arti luas, pertanian, kehutanan dan perikanan, kelautan, termasuk pembangunan pedesaan. Ini adalah untuk poverty reduction….(kaset dibalik)
Saya ingin memberikan pengetahuan tentang bagaimana kita mengukur daya saing sebuah negara tinggi, bagaimana kita mengukur iklim investasi baik. Tentu dibandingkan dengan negara lain, tentu dilakukan penelitian survey dan penilaian. Nah, dari situ saya ingin tunjukkan berapa hal. Ada namanya World Economic Forum yang tiap tahun berkumpul di Davos. Saya pernah datang dulu tahun 2000, Insya Allah karena tahun depan ini topiknya tentang ASEAN kalau saya memiliki waktu dan tidak tabrakan dengan agenda di dalam negeri mungkin saya akan datang ke sana di dalam forum World Economic Forum. Ini menghasilkan disebut The Global Competitiveness Report 2005-2006. Konon negara-negara yang maju, yang competitive ini punya kekuatan di sini, institutions, infrastructure, macro-economy, health and primary education, higher education and training, ini banyak sekali skills yang diharapkan di sini, marker efficiency, technological readiness, business sophistication and innovation. Jadi kalau swastanya juga tidak canggih, tidak sophisticated meskipun government-nya luar biasa, tetap pincang. Semua the government, the private sectors, the state of enterprises, Pak Giharto ada di sini, BUMN dan juga masyarakat luas dan juga politik, parlemen dan eksekutif sendiri.
Ada juga ini sumber dari IMD kita, ten golden rules of competitiveness, silakan dibaca di situ. Menciptakan lingkungan legislatif yang stabil dan terprediksi. Mengusahakan ekonomi struktur yang flexible dan berdaya tahan tinggi. Investasi di infrastruktur, juga teknologi. Mempromosikan investasi lokal. Menciptakan daya tarik tinggi bagi investor asing dan aktif mengundang mereka. Jangan pasif, jangan cicing. Cicing itu apa Pak Bianto? Kukur-kukur, ngerokok, bagaimana mau datang investor asing itu. Fokus pada kualitas kecepatan transparansi penting. Relasi seimbang antara upah, produktifitas.
Ah ini penting ini, saudara-saudara kita harus terus mempertahankan upah yang baik. Petani, buruh, bagaimanapun tidak boleh kita ekploitasi dan tidak boleh kita meletakkan tenaga kerja hanya untuk investasi. Kita harus benchmarking dengan negara tetangga, dengan Vietnam, dengan China, dengan India dan lain-lain. Tetapi saya juga ingin tenaga kerja kita ini yang upahnya baik juga produktif. Akhirnya yang bikin ekonomi sehat kalau upah riil itu sama, equal dengan productivity. Kalau ketinggian upah, produktifitasnya itu rendah gak bagus, termasuk birokrasi, termasuk pemerintahan. Saya kalau sudah halal bihalal salaman sama karyawan itu, sampai 1000, sampai capek, wah ini kalau gaji dapat semua, tapi kerjaan dapat gak, dapat gak kira-kira ini? Jadi harus seimbang apa yang dikerjakan mulai pagi sampai sore itu dengan upahnya. Insya Allah, kita meningkatkan gaji terus-menerus sesuai dengan kemampuan kita, we have to increase the productivity and the competitiveness of our labour. Yang lainnya saya kira sama dengan yang dijelaskan oleh World Economic Report tadi.
Orang mengatakan bagaimana hubungan competitiveness dan productivity. Competitiveness is a country’s share of world market for its products. Kalau kita hanya punya barang dan jasa yang se-limited di pasar dunia, di China kecil, di Jepang kecil, di ASEAN kecil, di Eropa kecil, di Amerika kecil, ya kita dianggap tidak competitive. Makin besar market share kita, dianggap competitive. Yang kedua the competitiveness, then is measured by productivity. It’s clear. Dan yang ketiga, productivity depends on the ability of an economy to mobilize the available human resources. Akhirnya human capital. Jelaskan tadi, why fungsi dari K, capital, L, labour tapi tambah A. Jadi kembali ke situ. Orang lain mengatakan bagaimana hubungan bisnis dan micro, bukan macro, yang micro saja, micro, economic foundation of productivity. Ini harus didengar oleh semua pihak di negeri ini, semua penyelenggara negara bukan hanya bisnis dan government.
Stable political, legal and social institutions and sound macroeconomic policies create the productivity and national prosperity. It’s very important. Yang kedua, the productivity of a country is ultimately set by the productivity of its companies. Meskipun kita enggak tidur, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, ingin dibikin baik environment, tetapi kalau perusahaan-perusahaan kita daya saingnya rendah, agregat, kumulasi dari itu semuanya ya rendah. Indonesia daya saingnya rendah karena perusahaan-perusahaannya dimana-mana juga rendah, hulu hilir, industri, jasa, pertanian, kalau semuanya rendah itu jelas secara nasional juga rendah. Nah di sini dinasehatkan, kalau ada para pengusaha di sini, dinasehatkan companies must upgrade their ways of competing. Broadly, companies must shift from competing in inherited endowments, misalkan hanya mengandalkan low cost labour or natural resources kita ketinggalan. Harus diubah menjadi the created competitive advantages arising from efficient and distinctive product and processes. It’s that clear, ini sudah teruji dimana-mana.
Nah dari itu semua saudara-saudara, saya akan bunyikan kepada kepentingan kita, kepentingan Indonesia. Lantas mengapa kita hari libur kumpul di sini? Mengapa kita harus bersama-sama meningkatkan daya saing bisnis dan iklim investasi? Saya ingin tunjukkan grafik nanti, gambar, table, bagaimana arus penanaman modal asing 1998-2004, yang ke Indonesia berapa? Ke luar negeri, ke negara lain berapa? Efisiensi dan good governance dimata dunia, efisien gak kita ini? Pemerintahan kita baik tidak, kita lihat nanti. Pencapaian ekonomi, kayak apa kita? Efisien gak pemerintahan kita? Efisien gak pemerintahannya Pak Gubernur Gorontalo? Efisien gak pemerintahan Pak Bupati Siak? Kita lihat semua nanti. Total factor productivity, kayak apa? Hebat gak produktifitas kita?
Kemudian saya ingin melihat perbandingan satu contoh saja dari segi mikro ini, produktivitas dan profitabilitas indutri sepatu. Bandingkan Indonesia, Vietnam dan China dan kemudian hambatan investasi. Lebih baik saya buka pahitnya, lebih sahih kah negara kita yang kita cintai, yang kita banggakan, yang kita siap berkorban. Tapi kondisinya begini, sebagian kondisi 2004, sebagian 2005, yang kita punya komitmen, kita punya responsibility, kita punya tekad untuk memperbaiki semuanya. Saya tidak ingin memberikan angin surga semuanya serba baik seperti kita dulu lihat komet blue band, demand pasti berhasil, masih ingat ya? Itukan mesti akhirnya happy ending terus itu, mesti berhasil itu.
Kita mulai dari arus penanaman modal asing. Ya kita lihat di sini. Ini dunia, ini tahun per tahun. Tahun 2004, modal, investasi itu Rp. 648 milyar, 648 million, itu dunia. Dapat berapa Asia? Asia dapat 147, enggak banyak ternyata diambil oleh negara yang maju segala macam. Nah Asia, RRC dapat berapa? Sudah diambil RRC 60 million, Singapura meskipun kecil secara geografis, tapi sudah 16,1 million, dapat dia. India 5,3. Malaysia, Alhamdulillah 4,6. Vietnam 1,6. Indonesia, Alhamdulillah 1 million. 2004 ya, meskipun dari 0,6, minus, minus dapat ini. 2005 better. 2006 Insya Allah better, but this’s not enough, belum cukup kalau kita hanya begini-begini saja, ada gap antara kebutuhan capital untuk infrastructure building, untuk poverty reduction. Dengan yang bisa kita kumpulkan, baik dalam negeri ataupun luar negeri. We have to increase it dengan sekali lagi, membangun daya saing dan membangun investasi yang bagus. Masa hanya begini. Kita berharaplah, kita bisa pelan-pelan naik, tapinya larinya juga dia, kita kejar, dia juga lari kita. Dan mudah-mudahanlah kita bisa makin baik itu. Ini posisi sampai 2004.
Sekarang efisiensi dan good governance. Ini ada orang bertanya, susah gak atau mahal tidak memulai bisnis di Indonesia? Indonesia itu 12 prosedurnya, durasi 151 hari, biaya 1.163, it’s going down now, ini sudah menjadi 70 dan kita ingin menuju ke 30 nantinya. Tolong dicek, tanya setiap saat tanya ke Pak Boediono, tanya ke Bu Ani, tanya ke Fahmi Idris, sudah turun berapa, Pak? Tanyakan terus. Malaysian, 9 prosedurnya, 30 hari, ongkosnya sekian. China, negara sebesar itu sama dengan kita, tetapi hanya 41 hari, ongkosnya sekian. India segitu. Ini betul-betul kalau masih seperti ini, itu sama dengan pepatah yang di Tapanuli jaman dulu, 1 abad yang lalu. Di tapanuli ada katakan kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah, katanya. Tapi kalau Pak Bungaran sekarang enggak, kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit, katanya gitu. Itu sekarang. Jadi sama-sama kita share, Bapak.
Ya ini tadi, meja sana, meja sini, orang ini, orang itu, masuk sini, masuk sini, gimana gak membengkak sampai 151 hari. Saya sampaikan kalau pengusaha dipersulit, banyak diminta-minta, just kirimkan SMS, just kirimkan surat ke PO BOX 9949 Jakarta 10.000. Sama-sama kita, kebangeten kita sudah begini masih ada … unsual, masih kipas-kipas, ah silakan saja SBY lari-lari yang penting gue rileks, enak saja gitu, enggak bisa.
Coba dibaca, we know Indonesia is having a very big market and very potential to invest in, but we have to face uncertainty and need to go through so many tables and agencies. Ya ini betul, gimana gak banyak kalau 151 hari dulunya meskipun mudah-mudahan makin turun, makin turun dah target kita 30 hari, target kita.
Rekomendasi World Bank tahun 2003 di Denpasar, “Pemerintah harus mengurangi birokrasi dan urusan formal yang bertele-tele, mulai dari persetujuan investasi sampai ke administrasi perpajakan dan bea cukai. Peraturan-peraturan dan yang membebani tanpa alasan yang kuat dan membuka peluang untuk keleluasaan pejabat dan korupsi semuanya harus dihentikan”. Siapa yang tidak setuju? Siapa yang tidak setuju? Wah ini kalau enggak ada yang setuju ya bisa. Oh ada Pak, saya lupa menyebut tadi, bukan-bukan, ada Pak Menteri Tenaga Kerja kita, Pak Bomer Pasaribu, lupa saya sebut tadi, beliau enggak kelihatan tadi. Beliau setuju kalau tenaga kerja tetap bagus upahnya, kesejahteraannya, hak-haknya, tapi produktif, harus begitu, ini harapan kita.
Pencapaian ekonomi, kita lihat sekarang di sini Indonesia pertumbuhan 5,6, tingkat suku bunga, Pak Burhanuddin 13, kemudian, apa lagi yang kita, trade balance di sini juga ada. Jadi, dengan membanding-bandingkan kita tahu akhirnya, seberapa kompetitifkah kita, seberapa baik iklim investasi kita.
Efisiensi pemerintah. Ini pertama, dukungan pemerintah daerah dalam melakukan bisnis. Pak Fadel, Pak Ishak, tolong dilihat situ. Kemudian efisiensi pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan, dipersulit atau dipermudah? Kita lihat nanti. Akomodasi pemerintah terhadap masukan pengusaha, cuek atau ditanggapi. Kemudian korupsi sebagai hambatan dalam operasi dan pengembangan bisnis kita, lihat kayak apa posisi kita. Frekuensi tambahan biaya yang tidak wajib untuk menyelesaikan masalah, punglilah ini. Kita lihat sekarang hasilnya, ini di sini ada China, ada Malaysia, Indonesia, Singapura, Filipina, Thailand, Kamboja. Ini angka kita 3, 3.8, 4.6, 2.5, 2.8, 7 dari 7. Jadi pemerintah daerah tidak, kurang mendukung, ya tidak mendukung 7 dari 7 kok paling hambat. Efisiensi pemerintahan daerah 6 dari 6. Akomodasi masukan pengusaha 7 dari 7. Korupsi, ah lumayan sekarang 4 dari 6, tapi belum bangga. Kalau korupsi kita sudah 2 dari 6, 1 dari 6, Insya Allah bagus itu. Kemudian tambahan punglinya, 5 dari 6, masih ada, Pak pungli-pungli, masih ada.
Kita lihat lagi TFP, Total Factor Productivity, bandingkan Indonesia, Malaysia, Thailand, South Korea, Taiwan, 0,9. Tapi dengan pembukaan Program Doktor Manajemen Bisnis IPB mudah-mudahan, di sini sudah ok di sini kita, ok lagi, ok lagi nanti begitu.
Nah ini menarik ya, ini pabrik sepatu. Indonesia, Vietnam, China, tolong dibaca baik-baik. Kan tujuan saya ingin mengembang, meskipun naik 40% kita punya ekspor dari sepatu. Tapi kalau fundamentalnya enggak kuat itu bisa tidak sustainable. Kita lihat sekarang Indonesia, Vietnam, China rataan jam kerja per minggu di Indonesia 40 jam seminggu, Vietnam 48 jam per minggu, China 40. Kita sama dengan China, buruh kita bekerja satu minggu berapa? Produksi per karyawan per hari, karyawan kita 3 sepatu, Vietnam 4 sepatu, China 4 sepatu. Di sini sudah kalah produksi kita. Kemudian kita lihat upah karyawan perbulan, 90 untuk Indonesia, 70 untuk Vietnam lebih rendah dia, tapi lebih produktif, China 90. Saya tidak bermaksud menurunkan, jangan diturunkan kalau perlu naik dikit, tidak apa-apa naik, naik gitu, tapi ini harus naik. Suku bunga pinjaman, nah ini Pak Burhanuddin, urusan kita berdua ini. Ini 8%, 4, 4. Ini Bu Ani, periode restitusi pajak tertahan dari raw material 12 bulan kita, mereka kosong-kosong, hitung-hitung semuanya profit atau keuntungan sebelum pajak di Indonesia 1,7 juta, di Vietnam 3,9 juta hampir 4 juta, di China 3,7 juta. Marjinnya si perusahaan itu, industri itu di Indonesia 17%, di Vietnam 40%, di China 37%. If you are investor, punya uang, berapa modalnya tadi? Di atas ada ini, modalnya itu 10 juta. Modalnya itu 10 juta. Punya uang 10 juta atau 90 milyar, mau pabrik di Indonesia atau Vietnam atau China? Oleh karena itu, simple sekali, karyawan jangan digenjot, tetap upahnya baik. Yang kita genjot efisiensi, produktivitas, disiplin, manejemen dan termasuk bagaimana bunga tadi, bagaimana juga masalah restitusi pajaknya tadi. Three … commands, labour, tax administration dan satu lagi adalah masalah interest rate. Less but not least, oh belum ini.
Apakah di Indonesia birokrasi tidak menghambat aktifitas bisnis? Enam itu paling tinggi, kalau enggak salah 6 itu. Singapura lihat, ini ndak, karena dari 6 nilainya 6. Malaysia, Indonesia, yes katanya. Karena yang bicara tidak menghambat hanya 1,5 ini yang lain menghambat gitu. Indonesia peringkat 56 dari 60 negara yang di-survey. Kita pulang enggak bisa makan ini, enggak enak makan. Hambatan investasi, penyuapan dan korupsi tidak ada dalam perekonomian? Ah di Indonesia enggak ada itu, korupsi dan enggak penyuapan itu. Kita lihat, Singapura mengatakan betul, enggak ada karena dari 10, 8.5. Malaysia, ini, ini, Indonesia yang membenarkan hanya satu orang utuh enggak ada, hanya leher ke bawah itu. I am not shame, saya tidak malu ini karena kita, mari dari sini kita bangkit, kok begini terus, tertinggal terus, kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa karena para pemimpin sebelumnya berjuang keras juga. Sekarang ketika saya mendapatkan mandat dan amanah, mari bersama-sama kita bikin lebih baik, lebih baik lagi dibandingkan apa yang sudah dilakukan sebelum-sebelumnya.
Nah yang keempat, dua terakhir dari presentasi saya adalah ini tolong dibaca cepat, bagaimana akhirnya kita meningkatkan. Pemerintah sering keliru yang dianggap pemerintah ini masalahnya, padahal menurut swasta bukan, menurut asosiasi bukan. Kita lihat sekarang, kita dengar suara dan harapan rakyat 2004 ini, suara dunia usaha, pengusaha bersuara, asosiasi bersuara, kewajiban pemerintah, kewajiban swasta. Swasta jangan juga hanya mengharapkan pemerintah semata. Kemudian bagaimana strategi, kebijakan dan aksi kita.
Suara harapan rakyat, simple sekali kan, kalau kita turun ke kampung-kampung, ke pertanian, ke tempat nelayan, ke pinggir laut, ke pegunungan, di lembah-lembah, jawabannya ini, “Pak yang penting kami dapat pekerjaan, Pak, bisa menyekolahkan anak, bisa berobat apabila sakit, bisa membeli kebutuhan sehari-hari, bisa berpergian dengan angkutan umum tidak berjebak-jebakan atau tidak berdesak-desakan, memilik tempat tinggal meskipun gubuk, Pak. Bisa menabung meskipun 10.000 perbulan”. Saudara bisa ngasih uang parkir, bisa ngasih tip di rumah makan, berapa itu? Berapa sekarang tip rumah makan kalau parkir itu? Karena enggak bayar parkir sekarang saya. Di Paspampres, yang bayar Paspampres bukan saya. Bayangkan parkir segitu kemudian ngasih tip, pelayanan di rumah makan itu untuk rakyat, tabungan sebulan. Saya ke Wonosobo, ke Dieng kemarin, petani kentang kerja terus, saya suruh berhenti, saya panggil ada yang pas yang lewat 3, 4 orang. Berapa dapatnya? Ya satu hari 5000 kalau engggak salah, berarti sebulan berapa? 150.000, Pak. Hanya itu. Iya. Terus kalau sakit? Ya enggak dapat. Ok saya kasih 100.000 ya. Kalau saya kasih banyak kasihan yang lain, ndak adil nanti saya, tetapi saya bantu koperasinya, ada 11 koperasi, yang kentang, yang cabai masing-masing 25 juta. Betul waktu itu yah? Saya bantu, koperasi saya bantu, tapi kalau ngasih ini jangan terlalu banyak kasihan yang enggak dapat nanti. 150.000 for him, their life masa depannya, hidupnya, keluarganya, anaknya. Hundred and fiftythousand rupiahs. Ini kalo ke daerah hanya nahan airmata, hanya sedih saja. Bagaimana kita bisa bikin baik meskipun pekerjaan besar. Lanjut.
Dunia usaha apa katanya? Wah ini kalau usaha kan suka keras itu. Pemerintah kurang adil dan peduli. Pengusaha tidak diajak dalam perumusan kebijakan. Perpajakan yang menyulitkan, sekarang mudah. Saya kemarin mengisi mudah sekali, yang tadinya berapa halaman itu, berapa lembar, negara lain juga berlembar-lembar juga ternyata, kita hanya 1 lembar. Dan itu jelas sekali identitas kita siapa, nama, jabatan, tanggal lahir, keluarga, berapa penghasilan kita, harta kita berapa, penghasilan berapa, netto berapa, setelah dipajaki sebelumnya. Kemudian yang terhutang berapa, bayar di situ, simple. Jadi jangan alasan lagi, begini, begini, mudah sekarang kalau tidak mau pakai, ya enggak mau bayar pajak aja berarti. Jangan cari alasan bahwa ini sulit, sana, sulit sini.
Banyak peraturan yang tumpang tindih, termasuk peraturan daerah. Sudah kita cancel 150 peraturan Pak Fadel, Pak Ishak, tapi mungkin bukan di provinsi saudara. Kalau ada ya berarti anda yang tidak benar juga. Ndak boleh nabrak atasnya, Undang-Undang tidak boleh menabrak Undang-Undang Dasar. PP tidak boleh menabrak Undang-Undang. Perda enggak bisa nabrak PP kan begitu. Itulah aturan main, itulah sistem, itulah etika pemerintahan. Pengelolaan perburuhan kurang konstruktif, sulit berpartisipasi dalam proyek pemerintah. Ya sulit itu bagaimana, memang enggak boleh KKN. Sekarang tidak saya izinkan, entar gubernur, bupati, entah menteri, Presiden, Wakil Presiden bisnis menggunakan APBN, APBD tidak boleh. Itu banyak sekali insider trading, banyak sekali, ah ini sudah tahu gini, bebas, harus bukan keluarga, ada kan pejabat yang keluarganya berbisnis jangan menggunakan APBN, jangan menggunakan APBD. Kalau saudaranya, kakaknya, adiknya boleh, tapi disclosure betul. Kakak saya namanya ini, punya perusahaan ini, ikut tender jalan tol, tapi bukan saya, tapi ikut dia aturan, silakan, kalah, kalah, menang, menang, disclosure. Ini yang harapan kita supaya makin transparan. Ya ini yang kita bahas tadi yang terakhir.
Pengusaha bersuara, sama tadi ya? Ya, banyak lanjut, isinya sama itu. Asosiasi berbicara, asosiasi bukan pengusahanya. Ini UKM sangat penting. Kemana pun saya pergi, ke provinsi, kabupaten, saya selalu melihat bagaimana UKM kita.
Kewajiban pemerintah, terutama untuk para menteri, gubernur, bupati, walikota itu kewajiban kita. Kewajiban swasta, ini penting jangan ngajak-ngajak, jangan menggoda-goda pejabat untuk KKN. Biasanya itu saling menguntungkan itu. Pengusaha deketi penguasa, sana dapat, sini dapat. Tolong untuk diawasi jangan sampai ada.
Nah ini, ini kalau perusahaan kita produktif, better, quicker, cheaper mesti menang dimana-mana. Ok. Nah ini yang kita lakukan saudara-saudara ini, ini puncaknya sebetulnya meskipun enggak usah panjang-panjang saya jelaskan. Kita melaksanakan upaya berkesinambungan, mempebaiki negara ini, membikin baik iklim kita, politiknya, hukumnya, keamanannya, ekonominya, sosialnya dan kerjasama internasionalnya. Inpres Nomor 5/2004, percepatan pemberantasan korupsi harus jalan terus. Banyak kritik, banyak komentar, banyak comment harus jalan terus. The show must go on. Tetapi memang jangan penegak hukum keliru, janganlah abuse of power, jangan over acting, jangan itu, jangan ini malah menimbulkan masalah-masalah yang lebih besar gitu.
Inpres Nomor 3/2006, perbaikan iklim investasi sudah saya keluarkan. Kita aktifkan PEPI, Peningkatkan Ekspor dan Peningkatan Investasi. Komunikasi pemerintah dan swasta. 4 bulan sekali saya berkomunikasi business circles, apakah foreign maupun domestik. Komunikasi pemerintah dengan BUMN, berkali-kali kita lakukan. Jangan bangga jadi PT Rugi Abadi, jangan bangga jadi PT Sukar Maju, 158 BUMN punya Pak Giharto, yang sehat berapa Pak Giharto? Yang beruntung berapa? Yang benar? Mudah-mudahan makin naik, makin naik, makin naik, ya. Hati-hati, saya enggak ingin ngomong perbandingan gaji saya dengan gaji seorang Dirut BUMN nanti malah pingsan semua nanti, karena 10 kali lipat gaji saya. Enggak apa-apa, asalkan produktif, asalkan beruntung, asalkan devidennya dapat, asalkan pajaknya besar, enggak apa-apa gajinya begitu.
Kepada pimpinan daerah, sangat sering saya bertemu gubernur, bupati semua, ayo kita bareng-bareng. Marketing di arena global. Saya ini kalau keluar negeri, bapak-ibu menjadi sales person, ya sudah, ya namanya sedang menjual negara kita, tapi enggak boleh bohong. Bohong mereka, “Ah nih Presiden bohong. Indonesia enggak begitu, ah masa ini”. Wong ada yang tadi itu, perbandingan-perbandingan masa saya bohong. Yang jelas Indonesia seperti ini, kita habis krisis. Kami sedang memperbaiki ini, ini sedang berhasil, ini belum, ini jalan terus, silakan ngambil keputusan nanti whether you want to go or pass want to go, tapi dengan cara saya terbuka seperti itu, tidak angin surga, mulai satu per satu datang. Mudah-mudah ini berlanjut ke depan dan saya menjelaskan, menjalankan tugas saya sebagai, sales person.
Yang terakhir, kita melaksanakan itu semua dalam lingkungan nasional yang sedang dalam masa transisi. Our democracy is not well-established, our system, our culture, our ethics belum semuanya terbangun dengan baik dan mapan. Tetapi jangan mengurangi semangat kita untuk terus maju, semua kita kelola, semua harus kita jalani. Abis begini, abis begitu, tidak boleh, kita tidak boleh cengeng. Saya tahu tidak mudah sekarang ini karena politik, karena ini, karena itu, tapi you have to move on, harus sambil kita atasi masalah-masalah itu. Sekarang ini kita melanjutkan reformasi, demokratisasi dan pembangunan kembali ekonomi masa krisis. Tentu banyak sekali masalah, isu, tantangan dan hambatan. Kita menjalankan sistem desentralisasi dan otonomi daerah. Ada masalah-masalah domestik, tapi enggak usah cemas Pak Fadel, mari kita atasi. Ini negara kita, pemerintah kita kok, daerah kita kok, enggak usah kita keras-kerasan, musuh-musuhan, kita pecahkan bersama. Karena kalau daerahnya maju negara juga maju. Pemerintahnya yang baik, daerahnya juga baik sistem timbal balik.
Kultur bisnis, hubungan pengusaha-penguasa belum sepenuhhnya berubah, masih ada. Masih ada yang nyampai ke sana, ya intinya seolah-olah, kami diberikan begini, begitu, seolah-olah ada kerjasama yang baik, Pertamina dengan ini ataupun PLN dengan ini segala macam masih ada yang berpikiran seperti dulu. Dengan bisnis yang baik, adil semua dapat peluang, memenuhi standard ya standard, tidak ya tidak ini tekad kita, tolong kita sukseskan bersama-sama.
Clash of ideology and ideas terjadi, nasionalisme, kapitalisme, imprealisme dan segala macam. Saya kira kalau saudara membaca pidato Bung Karno 1 Juni 1945, tidak ada benturan antara nasionalisme dan internasionalisme. Bung Karno mengatakan, “Nasionalisme tidak akan hidup subur apabila tidak bersemi dalam taman sarinya internasionalisme, sebaliknya internasionalisme tidak akan hidup subur apabila tidak berakar dalam dunia nasionalisme”. One, jangan dia dihadapkan kalau dibenturkan terus, rugi yang beruntung negara-negara lain. Ada kemajuan dunia, yang dengan cerdas harus kita gunakan untuk kepentingan kita. Dengan terms of conditions yang menguntungkan kita, jauh menguntungkan kita, begitu secara melihat kita. Oleh karena itu, meskipun tentu tidak senang yang kapitalisme yang melupakan keadilan sosial, pasar terbuka yang tidak memperhatikan rakyat kita dan segala macam, yang ekstrim tentu kita tolak. Tapi afterall kita harus bekerja sama dengan masyarakat global untuk kepentingan negara kita.
Wacana publik, ini kan sudah kebijakan, unjuk rasa, enggak apa-apa unjuk rasa itu, dengarkan saja, ada unjuk rasa yang baik, saya dengar betul, saya baca spanduknya dan itu berguna untuk pengambilan keputusan saya. Ada unjuk rasa yang menjadikan bunganya demokrasi, that’s fine asalkan tidak merusak, asalkan tidak destruktif karena susah-susah kita membangun infrastruktur, gedung, jalan dirusak, dibakar, sedih kita. As far as itu tertib, speak out, silakan. Karena terus terus saya datang ke Bandung, yang unjuk rasa saya terima, BEM-nya kumpul semua, pikirannya 60% bagus, 40% enggak tetap karena bukan begitu. Saya jelaskan. Anda keliru melihatnya, ini yang betul. Jadi, akan kita hadapi, tetapi bupati ajak, serukan, jangan merusak. Just speak out, kita juga dengar apa yang dianukan oleh mereka.
Hadirin sekalian,
Akhirnya yang harus kita lakukan adalah, meskipun dalam era transisi demokrasi banyak tantangan dan permasalahan yang berpengaruh langsung terhadap upaya pembangunan ekonomi, termasuk peningkatan daya saing bisnis dan perbaikan investasi, kita harus mampu mengelolanya dan terus melangkah maju. Dengan ridho Allah SWT, kita pasti bisa.
Sekian.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
******
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



