Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Inacraft 2006

 

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN PAMERAN KERAJINAN
TANGAN INTERNASIONAL KE - 8 (INACRAFT 2006)
J C C, 19 APRIL 2006



Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Ibu Negara selaku pelindung Dekranas dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Dekranas,
Yang saya hormati Menteri Perdagangan dan Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia Para Duta Besar dan Kepala Perwakilan Negara-negara Sahabat, Saudara Wakil Gubernur Jakarta dan Para Pimpinan dan Pembina Kerajinan Tangan dari seluruh tanah air,
Saya lihat ada Ibu Mardianto, Istri Gubernur Jawa Tengah dan Ibu ratu, Istri Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta,
Yang saya hormati Pimpinan ASEPHI dan para pejuang, para pecinta kerajinan tangan.
Yang saya cintai para pengusaha dan para pengrajin handicraft,




Hadirin sekalian yang saya hormati,
Sebelum saya menyampaikan sambutan pada acara yang sangat penting ini, saya ingin menyampaikan pengantar sebagai respon saya terhadap apa yang dikemukakan oleh Saudara Rudi Lengkong tadi, bahwa saya memang selalu berusaha memenuhi dan menyambut dengan baik undangan untuk menghadiri kegiatan seperti ini, yang berkaitan dengan kerajinan tangan, berkaitan dengan Usaha Kecil dan Menengah, Koperasi, berkaitan dengan kreasi dan inovasi dari saudara-saudara kita di seluruh tanah air. Sebab itu semua, menjadi satu soko guru, menjadi satu landasan dan sekaligus potensi bagi berkembangnya, bagi perkembangan ekonomi kerakyatan di waktu yang akan datang.

Setiap saya memiliki kesempatan berkunjung ke daerah di seluruh tanah air, sekian banyak provinsi, kabupaten, kota, kecamatan dan desa, selalu saya carikan waktu sebisa mungkin untuk melihat langsung kerajinan tangan atau handicraft yang dengan cantik, indah dan menawan dibuat oleh para pengrajin kita. Saya kira sebagian dari saudara masih ingat, ketika saya melihat pusat kerajinan tangan di Banda Aceh, di Medan, di Samosir, di Bukittinggi, di Palembang, di Jakarta sendiri sudah tidak terhitung, di Bandung, di Semarang, Yogyakarta, Sukoharjo, Pacitan, Malang, Surabaya, Makasar, Manado, Bali, Lombok, Ambon, dan yang terakhir kemarin di Merauke.

Saya selalu bangga, selalu memberikan pujian sekaligus harapan, agar semua itu bisa berkembang lebih pesat lagi di waktu yang akan datang. Di sini ada Pak Latief, dulu saya sering melihat Pasaraya, Sarinah, tempat-tempat yang banyak sekali dipamerkan, dijual handicraft kita. Ketika berkunjung ke beberapa Negara, setiap waktu yang ada saya sempatkan entah setengah jam, satu jam untuk melihat produk-produk setempat, produk-produk lokal, produk-produk yang dihasilkan oleh bangsa yang bersangkutan. Belum lama ini di Kuala Lumpur sebelumnya saya melihat di Busan Korea. Sebelumnya saya datang ke Tokyo dan Nagoya, dan sebelumnya saya datang ke Selandia Baru, khusus melihat handicraft atau souvenir dan hal-hal yang memang banyak sekali yang dapat kita timba dan dapat kita bandingkan dan mengilhami kita untuk mengembangkan produk-produk yang lebih marketable, lebih diterima oleh pasar. Pasar sejagad bukan saja pasar dalam negeri, tapi juga pasar di negara-negara lain.

Saya sendiri melihat bahwa dikaitkan dengan potensi yang kita miliki. Tingginya seni budaya kita, keragaman atau keunikan kita dari bermacam-macam daerah dan identitas masyarakat kita, rasanya semua itu belum kita wujudkan dalam tampilannya yang optimal masih ada kesenjangan, ada gap antara potensi dengan apa yang kita kembangkan. Masih ada potensi dengan nilainya, seni budaya yang dihasilkan dengan value atau harga yang sepantasnya diterima, masih ada kesenjangan, apa yang bisa kita pasarkan dengan potensi pasar yang tersedia, baik di dalam maupun di luar negeri. Oleh karena itu, saya menghimbau ASEPHI, DEKRANAS, para pimpinan di seluruh tanah air, para pengusaha, asosiasi pengrajin, jangan sia-siakan potensi yang besar itu, jangan sia-siakan momentum yang ada ini. Marilah kita bangkit dan bangkit dan bangkit untuk mengembangkan dunia handicraft di negeri kita, untuk meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi bangsa kita.

Saya juga mendukung ide untuk memikirkan dimana kita pamerkan. Saya terkesan dengan apa yang ada di Nagoya misalnya. Saya sering datang ke Kemayoran, tentu sering datang ke convention center ini, barangkali dipikirkan tempat yang lebih bagus atau kombinasi antara tempat ini dengan Kemayoran dengan tempat-tempat yang lain, semacam Nagoya mini begitu barangkali. Karena sekarang ini, Business MICE itu berkembang luar biasa. Saya kira kita kenal MICE, M-nya itu Meeting, I-nya Insentif, C-nya Convention, E-nya Exhibition. Kalau itu dikembangkan negara kita punya potensi yang besar, jangan menunggu, tapi ciptakan, bangun peluang yang ada.

Itulah saudara-saudara, yang saya sampaikan sebagai pengantar karena saya melihat, sekali lagi betapa besar potensi yang kita miliki, yang belum sepenuhnya kita dayagunakan secara optimal.

Hadirin sekalian,
Marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya, kita dapat menghadiri Pembukaan Pameran Kerajinan Tangan Internasional, Inacraft ke-8 Tahun 2006. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk menyampaikan ucapan selamat kepada para peserta pameran dari seluruh tanah air. Ucapan yang sama, saya sampaikan pula kepada Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia, ASEPHI yang telah menyelenggarakan kegiatan ini secara berkesinambungan.

Kepada para tamu, undangan dan pengunjung dari luar negeri, saya ucapkan selamat datang di negeri kami. Kehadiran saudara-saudara semua sangat besar artinya dalam memberikan apresiasi terhadap produk kerajinan dan perkembangan bisnis kerajinan tangan di negara kami.

To all guests, partners from friendly countries, I welcome you to Indonesia. Please enjoy your stay here, you could see the richness of our handicraft. And I do hope by seeing then we could have a better, wider and deeper partnership and cooperation and the development of handicraft not only Indonesia but in others countries as well. And through you, and to all ambasadors here, I really hope that we could cooperate better, not only in having direct cooperation but in opening market worldwide for Indonesian handicraft, for the Indonesian product. And I do hope that ASEPHI and other organization can also talk to our partners, our guests who are present here and who are with us in this speak event.



Hadirin yang kami muliakan,
Pada bulan maret yang lalu, saya membuka Gelar Produk Kerajinan Indonesia Tahun 2006 yang diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional atau Dekranas. Pada hari ini, saya pun menghadiri penyelenggaraan pemeran Inacraft yang ke-8 kalinya. Pameran kerajinan ini, saya anggap penting dalam upaya mendorong peningkatan ekspor produk kerajinan. Berbagai produk kerajinan yang dipamerkan, baik itu karya seni, perhiasan, perlengkapan rumah tangga, maupun hiasan interior dan eksterior, sangat bermanfaat sebagai sarana promosi yang efektif dalam menyebarluaskan hasil-hasil karya seni bangsa kita.

Kita dapat mempertunjukkan, memperagakan dan memasarkan hasil kerajinan para perajin kita, agar lebih dikenal lagi di mancanegara. Dalam pameran ini, produsen dan konsumen dapat langsung berinteraksi dan berkompetisi untuk memperoleh nilai jual yang layak. Demikian pula, para perajin dapat memperoleh ide-ide baru untuk memenuhi permintaan pasar. Bangsa kita yang terdiri dari berbagai identitas, suku misalnya, dari Sabang sampai Merauke memiliki kreatifitas dan keragaman seni budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang kita miliki, seperti bambu, kayu, tanah liat, logam dan batu mulia telah memberikan inspirasi kepada para pengrajin untuk menciptakan berbagai karya seni. Karya seni yang diciptakan itu memiliki kegunaan, model dan keunikannya sendiri-sendiri.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memproduksi kerajinan terbesar di Asia tenggara. Produk itu tercipta dari tangan para seniman dan para perajin handal yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Ukiran kayu dari Bali, ukiran mebel dari Jepara, anyaman daun dan bambu dari Jawa dan manik-manik dari Kalimantan, misalnya tentu masih banyak lagi, merupakan kerajinan yang memiliki potensi ekspor, sangat menjanjikan. Kita dapat menawarkan berbagai hasil dari kerajinan itu kepada para pengguna dan pengagum karya seni, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Apalagi di tengah-tengah kecenderungan gaya hidup modern yang kembali melirik kreasi seni tradisional, back to nature, kerajinan yang berdirikan etnis dan budaya lokal sangat diminati. Hal itu menunjukan bahwa peluang pemasaran hasil kerajinan kita terbuka lebar.

Hadirin yang saya muliakan,
Dewasa ini peningkatan ekspor non-migas masih menjadi prioritas utama dalam mendukung pembangunan perekonomian bangsa kita. Hal ini mengharuskan kita bersama untuk mengembangkan dan meningkatkan ekspor non-migas itu. Salah satu produk non-migas yang memiliki potensi besar, sebagaimana saya katakan tadi adalah produk kerajinan. Kita patut bersyukur kepada ke hadirat Tuhan Yang Maha kuasa, karena nilai ekspor kerajinan telah mengalami peningkatan yang cukup berarti.

Pada tahun 2005, nilai ekspor produk kerajinan kita telah mengalami peningkatan sebesar 4,06% dari 447 juta US dollar pada tahun 2004, setara dengan sekitar hampir 5 triliun, ulangi hampir 4,5 triliun rupiah menjadi 465,1 juta dolar Amerika Serikat pada tahun 2005. Nilai ekspor sebesar itu belum termasuk yang dibawa langsung oleh wisatawan asing yang berkunjung ke tanah air.

Saudara-Saudara,
Mengapa saya sering menggarisbawahi perlunya kita meningkatkan ekspor, perlunya kita meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita, karena kita membangun ini tujuannya tiada lain adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat, pendidikannya, kesehatannya, daya belinya dan lain-lain. Kita bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat, kalau ekonomi kita terus tumbuh. Pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh konsumsi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan investasi. Oleh karena itu, ekspor tetap menjadikan salah satu pilar dalam pertumbuhan ekonomi kita.

Tahun 2004 ekonomi kita tumbuh 5,1%, saya ulangi tahun 2005 meskipun kondisi ekonomi kita berat, ada tsunami, ulangi ada harga minyak yang sangat tinggi di dunia dan lain-lain. Alhamdulillah, ekonomi kita tumbuh 5,6%. Harapan saya, pertumbuhan ekspor kerajinan, Pak Rudi Lengkong, Ibu Menteri Perdagangan yang meningkat 4,6%, kiranya bisa ditingkatkan lagi. Kalau kita ingin menuju pertumbuhan ekonomi 6%, tahun-tahun yang akan dating, maka harapan kita semua komponen bisa meningkatkan setinggi-tingginya. Kalau dari 4,06% dapat meningkat 5, 6% maka ekspor dari khusus produksi kerajinan tangan akan memberikan sumbangan yang sangat berarti.

Saya melihat kemampuan itu ada, berpulang kepada saudara-saudara semua, para pengusaha, perajinan, ASEPHI, Dekranas dan para perajin sendiri. Oleh karena itu, saudara-saudara agar para perajin selalu meningkatkan inovasi dan kualitas karya seninya. Tingkatkan kualitas karya seni yang dihasilkan, perkaya kreatifitas, motif, gaya serta warna, agar dapat bersaing di pasar internasional. Dalam era globalisasi yang kian terbuka, tidak dapat dipungkiri berbagai produk seni dan kerajinan dari negara lain akan menjadi saingan produk kerajinan kita.

Banyak karya seni dari negara lain, sebagaimana yang sering saya lihat, sebagaimana sering bapak-ibu lihat mengharuskan kita untuk bekerja lebih baik, lebih keras, lebih kreatif, lebih inovatif, serta selalu mengikuti perkembangan dan permintaan para konsumen. Produksi penting, tetapi pasar dimana produksi itu bisa diterima juga sangat penting. Kita pun juga harus senantiasa mengikuti dan mempertimbangkan isu-isu perdagangan internasional, seperti produk yang ramah lingkungan, dan produk yang perduli akan kesehatan. Di samping hal-hal yang saya sebutkan tadi, tidak kalah pentingnya memunculkan dan mendaftarkan brand atau merk untuk produk yang kita hasilkan.

Saya menghimbau kepada para perajin agar menyadari akan pentingnya penggunaan merk. Penggunaan merk itu, saya anggap penting untuk meningkatkan daya saing produk ekspor kerajinan tangan kita di pasar global. Kebiasaan hanya menunggu pesanan kerajinan dari pembeli atau pemesan dari negara lain secara perlahan harus kita ubah ke arah pengembangan merk yang kita miliki.

Saya sering berbicara dengan pengusaha-pengusaha banyak tempat di negeri ini. Hal ini sering terjadi, sekedar hanya memenuhi pesanan sampai di negara X diberikan merk tertentu, branding tertentu yang nilai tambahnya jauh lebih tinggi. Mari kita ubah cara berpikir kita, seelok-eloknya kita mengembangkan merk atau brand itu sendiri. Merk adalah kunci strategis dalam persaingan bisnis ini. Kita akui memang tidak mudah untuk membangun merk yang dapat dikenal luas. Membangun merk memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Tetapi untuk investasi masa depan jauh lebih baik, saya kira kita harus lebih berani memulai memiliki komitmen untuk mengembangkan merk dagang yang kita pasarkan.

Suadara-saudara,
Ada yang menyampaikan kepada saya, di Eropa ada produk-produk yang sesungguhnya dihasilkan di Indonesia, tetapi merknya, brand-nya tidak menunjukan, mencerminkan produk Indonesia. Mari kita sadari ini, wake up call, demi kerjasama yang adil. Secara global, mari kita bangun dan tumbuhkan merk atau branding itu.

Tadi Pak Rudi Lengkong mengatakan, kita memerangi illegal loging, penting. Mengapa? Kita harus melestarikan hutan kita, tidak merusak lingkungan kita. Kalau ada hasil hutan yang kita gunakan kita gunakan secara benar, jangan sampai hasil hutan itu, kayu-kayu itu apalagi diperoleh secara melawan hukum, pergi ke negara lain dibikin kerajinan, furniture, handicraft dan lain-lain, dijual dengan harga yang tinggi, bahkan dari kita membeli di negara-negara lain yang seharusnya tidak terjadi seperti itu. Kerjasama, kemitraan dengan negara lain sangat penting. Itulah hakekat perdagangan internasional, tetapi tentunya harus berjalan secara fair sehingga semua mendapatkan keuntungan yang fair pula, yang adil, yang layak.

Seni budaya bangsa Indonesia makin dikenal oleh dunia lain karena abad informasi, karena tayangan televisi dan media yang lain. Mari kita gunakan, mulai terkenalnya seni budaya ini dalam wujud merk atau branding atau brand yang selalu mengaitkan bahwa we are rich dalam culture, dalam olah handicraft seperti yang dipamerkan hari ini.

Hadirin sekalian,
Kegiatan produksi kerajinan, yang pada umumnya dikerjakan oleh kelompok-kelompok Usaha Kecil dan Menengah, UKM serta perseorangan, sesungguhnya merupakan pilar penting dalam menumbuh kembangkan ekonomi kerakyatan. Kita tidak boleh sepenuhnya menggantungkan kegiatan ekonomi kita kepada usaha besar atau konglomerasi semata, meskipun usaha besarpun juga penting untuk menyerap tenaga kerja, mengurangi pengangguran. Pengalaman krisis ekonomi di masa lalu, telah cukup menjadi pengalaman kita bersama. Ketika industri-industri besar tertimpa krisis ternyata usaha informal dan kelompok Usaha Kecil dan Menengah mampu bertahan menghadapinya.

Kiprah para pengusaha kecil dan menengah yang secara tekun mengembangkan usahanya perlu terus dibina dan ditingkatkan. Saya minta Menteri Perindustrian, Menteri Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Menteri Perdagangan untuk terus-menerus memberikan perhatian, pembinaan dan kemudahan kepada para perajin. Binalah dan bimbinglah para perajin itu, sehingga dapat terus berkreasi dan berinovasi dalam berkarya seni. Berikanlah tata cara manajemen usaha dan promosi yang baik kepada para pengusaha pengrajinan, agar mereka dapat terus mengembangkan usahanya.

Kepada pihak perbankan berikanlah bantuan dan kemudahan akses keuangan bagi para pengrajin dan Usaha Kecil dan Menengah. Saya yakin apabila usahanya dapat berkembang dengan baik, Insya Allah para perajin dapat hidup layak dan sejahtera.

Saudara-saudara,
Kita berjuang keras, berjuang dengan gigih agar ekonomi kita makin tumbuh, terus tumbuh dan menjadi makin besar. Tetapi ingat, pertumbuhan ekonomi itu harus dapat didistribusikan secara adil dan merata di seluruh wilayah tanah air, kepada saudara-saudara kita dimana pun berada. Tumbuh, tumbuh bersama, sejahtera, sejahtera bersama, itulah yang menjadi harapan kita. Dengan memberikan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan kepada Usaha Kecil Menengah, Koperasi para pengrajin itu berarti kita mempercepat distribusi pertumbuhan ekonomi kita, sekali lagi secara adil dan merata.

Kita ingin meningkatkan human development index, pendidikan, kesehatan, income atau penghasilan saudara kita, terutama kaum miskin dan golongan ekonomi lemah. Itulah yang harus kita gencarkan ke depan ini, sekali lagi agar ekonomi di negeri kita ini makin adil, makin merata, makin seimbang di seluruh tanah air.

Kepada Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia, ASEPHI, Saya sangat berharap untuk bekerja keras bersama-sama para perajin kita dalam memajukan kegiatan kerajinan tangan di tanah air. Demikian juga untuk Dekranas, saya kira Ibu Mufidah Jusuf Kalla dengan jajarannya memiliki peran yang sentral pula untuk mengembangkan handicraft melalui Dekranas yang dikelolanya.

Berikanlah kesempatan ekspor seluas-luasnya kepada para perajin, bantulah pemasaran dan kesempatan mengekspor hasil kerajinannya. Kegiatan produksi dan ekspor kita ke depan harus lebih banyak memberikan ruang dan kesempatan kepada pengusaha kecil dan menengah. Saat ini, baru sedikit perajin yang dapat menembus pasar ekspor itupun dengan perjuangan sendiri-sendiri sebagian besar. Sebagian besar perajin masuk ke pasar global masih melalui pihak lain. Mari kita ubah suasana seperti ini. Saya bersyukur pada pameran ini, kita dapat menyaksikan produk kerajinan tangan terbaik dari para perajin kita. Hasil karya para perajin yang dipamerkan pada pameran yang berstandar internasional seperti ini, diharapkan dapat meningkatkan volume ekspor kerajinan kita. Dengan meningkatnya volume, ekspor semangat para perajin dan pengusaha kerajinan dalam berkreasi dan berinovasi akan meningkat lagi di masa yang akan datang.

Hadirin sekalian,
Ini kesempatan yang baik, untuk saya menyampaikan sesuatu kepada seluruh masyarakat Indonesia melalui insan pers yang hari ini hadir di tempat ini. Tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh negara kita, oleh bangsa kita, oleh pemerintahan yang saya pimpin adalah bagaimana kita dapat terus mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Meskipun ekonomi kita Alhamdulillah makin baik dibandingkan dari tahun ke tahun, setelah kita mengalami krisis, ditinjau misalnya dari pertumbuhan yang tadinya minus merangkak pelan-pelan 2004 5,1%, 2005 5,6 % mudah-mudahan kita bertahan dan meningkat lagi. Kita lihat hari-hari sekarang ini, indeks harga saham gabungan mencapai rekor tertinggi 1400 sekian, kemudian kita lihat kurs yang sempat terguncang tahun lalu menunjukan perbaikan, penguatan yang sangat besar. Cadangan devisa kita mencapai angka 41,8 milyar dollar Amerika Serikat tertinggi dalam sejarah ekonomi kita. Tapi semuanya itu, belum mencapai sasaran yang sesungguhnya apabila belum kita transformasikan langsung untuk mengurangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran.

Pemerintah sangat mengetahui yang kita tuju adalah itu. Pengalaman banyak Negara, pengalaman kita memang tidak semudah membalik telapak tangan mengurangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran, tetapi harus kita perjuangkan secara gigih. Peningkatan anggaran pendidikan, kesehatan, sebagai contoh membebaskan berobat gratis, membebaskan biaya pengobatan di Puskesmas, di Rumah sakit kelas tiga, gratis pendidikan dasar dan lain-lain tiada lain adalah mengurangi kemiskinan.

Kemudian kita menggerakkan dunia usaha, sektor riil sekarang ini, iklim investasi kita perbaiki, kerjasama dengan investor kita lakukan, baik dalam maupun luar negeri tujuannya adalah perusahaan bangkit, usaha bangkit. Kalau dunia usaha bangkit maka tenaga kerja kita, buruh-buruh kita akan mendapatkan kesejahteraannnya lebih bagus. Dan jangan lupa yang masih menganggur, saudara-saudara kita di seluruh tanah air diharapkan juga mendapatkan pekerjaan. Kita melindungi buruh, tapi kita juga memberikan lapangan pekerjaan kepada yang menganggur dengan cara mari kita tumbuhkan sektor riil, dunia usaha, ekonomi di negeri ini. Penglihatan yang utuh itulah, pemahaman yang utuh itulah perlu diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia, saudara-saudaraku di seluruh tanah air. Tidak boleh melihat secara sepotong-sepotong utuh, karena itu berjuang semua untuk buat semua.

Hadirin sekalian,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada ASEPHI yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh dengan berkesinambungan dan kembali dapat menyelenggarakan pameran Inacraft pada tahun 2006 ini.

Kepada pemerintah daerah, para gubernur sekarang masih mengikuti musyawarah rencana pembangunan nasional, kepada yang bisa menyampaikan kepada beliau para gubernur, bupati, walikota kepada Badan Usaha Milik Negara dan badan-badan usaha lainnya yang telah menjadi pembina dan bapak asuh, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan. Kepada peserta pameran, saya ucapkan selamat berpameran dan semoga sukses. Mudah-mudahan pameran Inacraft 2006 dapat menjadi pintu gerbang memasuki pasar global melalui produk kerajinan rakyat yang sama-sama kita banggakan. Akhirnya dengan mengucapakan bismillahirrahmanirrahim, Pameran Inacraft 2006 dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.



*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan