Pidato Presiden

Sambutan Peringatan Hari Bumi Internasional

 

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN HARI BUMI INTERNASIONAL
(INDONESIA MENANAM)
KOTA BARU-BANDAR KEMAYORAN, 22 APRIL 2006


Bismillahhirahmannirahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Kehutanan, Saudara Menteri Lingkungan Hidup dan Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Saudara Gubernur DKI Jakarta,
Yang mulia Para Duta Besar Negara-Negara Sahabat,
Yang saya cintai Para Pemuka Agama, Para Tokoh Masyarakat, Para Seniman, Budayawan, Para Cendikiawan, Para Pecinta, Pejuang dan Sukarelawan Lingkungan. Banyak yang hadir, yang saya kenal, ada Saudari Ully Sigar Rusady, ada Iwan Fals dan lain-lain.
Yang saya cintai dan saya banggakan para mahasiswa, para pelajar, para siswa, pramuka dan unsur-unsur lain.
Yang saya cintai mitra pemerintah, para pimpinan lembaga swadaya masyarakat yang banyak sekali jasanya, insan pers,

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Marilah sekali lagi, kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena hari ini kita dapat berkumpul dalam kegiatan kampanye “Indonesia Menanam”, yang bertepatan dengan peringatan Hari Bumi Internasional.

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengingatkan kita semua, bahwa kampanye “Indonesia Menanam” merupakan bentuk kecintaan dan kepedulian kita terhadap bumi, dimana kita hidup sekarang ini. Kita ingin hidup nyaman di muka bumi ini. Kampanye “Indonesia Menanam” saya anggap sangat penting. Kita dihadapkan pada kenyataan akan pencemaran udara yang kurang terkendali. Lihat langit di atas kita, kurang cerah, selalu penuh dengan asap polusi. Tanah sering kita lihat gersang, hutan banyak yang rusak. Pada musim hujan, kita mengalami bencana bajir. Sebaliknya pada musim kemarau, kita mengalami kekeringan, banyak sekali provinsi-provinsi di Indonesia yang kering kerontang pada saat musim kemarau.

Hal ini merupakan pertanda bahwa kondisi hutan dan lingkungan kita mulai rusak, sebagian telah rusak, sehingga tidak dapat berfungsi secara optimal. Hutan yang telah rusak, tidak dapat lagi berfungsi sebagai pengatur tata air bagi kehidupan kita. Ini berbahaya, ini harus kita hentikan, untuk masa depan Indonesia, untuk masa depan generasi muda. Karena yang kita miliki ini, tidak boleh dianggap sebagai warisan nenek moyang, tetapi adalah sesuatu yang kita pinjam, milik generasi yang akan datang.

Dua hari yang lalu, kita kembali mendapat pelajaran berharga, dari rusaknya hutan di sekitar kita. Banjir bandang dan longsor melanda Kabupaten Trenggalek dan merenggut korban jiwa. Bencana yang sama juga terjadi di Bandung Selatan dan Kalimantan Timur. Oleh karena itu, kita harus segera merehabilitasi kawasan hutan dan lahan yang rusak, dan kemudian meng-konversi hutan yang masih baik. Penebangan hutan alam harus dikurangi, penebangan liar harus dihentikan, illegal loging harus ditindak dan diberi hukuman pelaku-pelakunya. Sesuai dengan prinsip pelestarian, laju kerusakan hutan harus kita cegah sampai ambang batas minimal.

Kita prihatin saudara-saudara, bahwa hutan kita mengalami kerusakan lebih dari dua juta hektar per tahun. Ini buruk dan tidak boleh kita biarkan dan harus kita hentikan mulai sekarang, kita kurangi, terus-menerus sehingga akhirnya hutan itu menjadi lestari. Apabila dibiarkan, kemungkinan bencana alam dapat terjadi kembali, dapat terjadi setiap saat untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu, saya meminta semua pihak untuk secara sungguh-sungguh menghentikan penyebab kerusakan hutan akibat penebangan liar dan kebakaran hutan. Kita juga harus berusaha untuk segera memperbaiki hutan dan lingkungan kita yang telah rusak dan kritis itu.

Hadirin sekalian,
Sumber daya hutan dan lingkungan hidup merupakan bagian tidak terpisahkan dari pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan pembangunan budaya bangsa kita. Rusaknya sumber daya hutan dan lingkungan akan sangat berpengaruh, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap keberlanjutan atau sustainability kehidupan kita semua. Diabaikannya sumber daya hutan, lingkungan hidup, serta ruang terbuka hijau akan mengakibatkan rusaknya ekosistem. Rusaknya ekosistem akan berdampak pula pada punahnya rantai kehidupan, serta berdampak pula pada perubahan iklim mikro.

Saat ini, aktivitas untuk menghutankan kembali dan memperbanyak ruang terbuka hijau di kota-kota, belum menjadi kebiasaan bagi masyarakat. Pemerintah berupaya mengambil kebijakan untuk mempercepat pembuatan hutan tanaman, baik dalam skala besar maupun skala kecil dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Saya senang melihat representasi yang siap untuk menanam dan melaksanakan pembuatan hutan tanaman tersebut. Pemerintah juga terus berupaya mendorong dibangunnya hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan, melalui perbaikan hutan dan lingkungan serta reklamasi areal bekas pertambangan.

Demikian pula, berbagai gerakan untuk memperbaiki kerusakan hutan itu, telah kita canangkan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan, telah kita canangkan pada tahun 2003. Gerakan “Kecil Menanam Dewasa Memanen” mulai di canangkan tahun 2005, kita pun telah mencanangkan Gerakan Bhakti Penghijauan Pemuda Kota Hijau, sudah cukup banyak. Yang penting adalah bagaimana itu kita laksanakan dengan baik, dengan sungguh-sungguh, serta penuh tanggung jawab. Gerakan-gerakan yang kita canangkan itu, mulai hari ini kita perluas menjadi Gerakan Indonesia Menanam.

Hadirin yang saya cintai,
Gerakan “Indonesia Menanam” sengaja kita mulai hari ini, di ruang terbuka daerah Kota Baru Bandar Kemayoran. Gerakan ini kita mulai bertepatan dengan Peringatan Hari Bumi Internasional, yang tentu diperingati di seluruh dunia. Hari Bumi Internasional itu kita jadikan menjadi “Hari Indonesia Menanam”. Saya perlu mengingatkan, bahwa “Gerakan Indonesia Menanam” tidak berakhir pada kegiatan penanaman saja, itu baru awal. Namun, upaya yang lebih lanjut adalah pemeliharaan terhadap pohon-pohon yang sudah ditanam itu. Hal ini menjadi tanggung jawab kita semua. Saya minta kepada seluruh jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, agar ikut mengkampanyekan “Indonesia Menanam” pada setiap kesempatan. Kepada para gubernur, bupati dan walikota di seluruh tanah air, saya meminta agar juga menindak lanjuti gerakan ini di daerah masing-masing.

Selain itu, gerakan ini saya minta untuk ditindak lanjuti oleh para gubernur, bupati, dan walikota untuk membangun dan mengembangkan hutan kota. Hutan kota selain berfungsi sebagai paru-paru kota, juga dapat difungsikan sebagai sarana penelitian, pendidikan, rekreasi dan pelestarian flora dan fauna. Utamakan menanam jenis-jenis pohon unggulan dari daerah setempat. Keberhasilan Gerakan “Indonesia Menanam” di masing-masing provinsi, kabupaten dan kota, akan menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan para pejabat di daerah dalam melaksanakan tugasnya.



Saudara-saudara,
Saya senang, saya berterima kasih dan saya memberikan penghargaan kepada Gubernur DKI Jakarta, karena Jakarta makin hijau dan makin indah. Saya ingin kota-kota di Indonesia juga makin hijau dan makin indah. Jakarta tidak boleh kalah dan jangan kalah indah dan kalah hijau dibandingkan Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Hanoi, Laos, Phnom-Phen, Manila, dan kota-kota lain. Kita, insya Allah dengan kerja keras bersama harus menjadi kota yang lebih hijau, lebih indah, lebih bersih tentunya, sebagai kebanggaan kita bersama. Kalau kita mulai hari ini, bisa kita wujudkan semuanya itu.

Dalam kaitan itu semua, sekali lagi saya minta agar gerakan “Indonesia Menanam” dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Seluruh komponen masyarakat, agar berpartisipasi secara aktif, dalam mewujudkan hutan dan lingkungan alam yang baik dan lestari. Kepada para tokoh agama, pemuda dan tokoh masyarakat, saya minta untuk membantu menyadarkan masyarakat akan pentingnya memelihara lingkungan, hutan dan alam di sekitar kita. Membangun kebiasaan menanam seharusnya, menjadi kebutuhan secara berkelanjutan dalam mewujudkan nusantara bersemi dan masyarakat sejahtera.

Sebelum saya mengakhiri sambutan ini, saya akan menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, kepada Lembaga Swadaya Masyarakat, khususnya LSM lingkungan dan kepada pers. Saya undang, saya ajak, saya minta untuk berkontribusi secara lebih aktif menyukseskan program atau Gerakan “Indonesia Menanam” ini. Saya minta pers, baik di Jakarta maupun di seluruh tanah air, wartakan, liput, ceritakan daerah kota mana yang baik, yang bersih, yang hijau dan sungguh-sungguh menjalankan Gerakan Indonesia Menanam. Yang kurang peduli, yang jelek, yang tidak bertanggung jawab, tidak ada salahnya diangkat, supaya kita sadar bahwa tidak boleh ada yang lalai di dalam memelihara lingkungan kita, di dalam meningkatkan hijaunya, indahnya dan bersihnya daerah dan kota-kota di seluruh Indonesia. Kepada warga masyarakat, dalam menyukseskan “Gerakan Indonesia Menanam” mulailah dari rumah, dari pekarangan sendiri, lanjutkan di Instansi, dimana saudara-saudara kita bekerja, akhirnya di lingkungan masyarakat dan akhirnya seluruh kota dan daerah.

Saya pernah menelepon Gubernur DKI Jakarta, karena saya melihat tiga pohon roboh pada saat ada angin puting beliung, angin kencang. “Pak Sutiyoso ada tiga pohon roboh.” Rupanya beliau juga sudah tahu. Saya pernah menelpon Panglima TNI dan Kapolri, saya lihat asrama-asrama Tentara dan Polisi, meskipun perlu lapangan apel dan lapangan untuk latihan, tapi bisa ditambah lagi tanaman yang besar-besar supaya lebih hijau. Demikian juga yang lain-lain.

Oleh karena itu, saya ingin semuanya menjadi bagian, kantor-kantor, bank-bank, perusahaan-perusahaan, saya lihat masih bisa dihijaukan kembali, saya ingin seperti itu. Dan saya minta kepada perusahaan-perusahaan yang ada di kota-kota besar, keluarkanlah dana sebagai bagian dari tanggung jawab sosial, sebagai bagian dari Community Development Program, khususnya membantu daerah, membantu pimpinan kota, pemerintah kota untuk menghijaukan kota dan daerahnya masing-masing.

Kepada Gubernur Batam, saya pernah mengatakan, Batam maju sebagai economic zone, tetapi saya lihat ada pohon-pohon yang semestinya tidak ditebang dalam mengembangkan Batam. Oleh karena itu, kepada semua walikota, semua bupati dan pimpinan daerah, apabila mengembangkan daerah, untuk pembangunan, jangan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Lebih baik mempertahankan pohon dan hutan yang masih ada daripada harus menanam kembali yang memerlukan belasan tahun, agar itu bisa menjadi besar.

Yang ketiga, mari kita nyatakan perang terhadap asap. Kita malu, tiap tahun kita mengirin asap ke Malaysia, ke Singapura, ke daerah-daerah lain. Saya meminta Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur di Sumatra, utamanya Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Gubernur di Kalimantan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur utamanya. Mulai sekarang, kalau perlu mulai bulan ini, lakukan langkah-langkah agar asap kita tidak kita ekspor ke negara-negara lain. Malu, lebih baik kita mengekspor kerajinan tangan rakyat kita yang luar biasa hebatnya, daripada mengekspor asap. Kita hentikan, mulai sekarang. Saya ingin melihat bulan Juli, Agustus, September asap dari negeri kita tidak perlu kita ekspor lagi dan mudah-mudahan kalaupun masih ada jumlahnya sangat-sangat kecil.

Yang keempat, pada saat Hari Air se dunia yang lalu, minggu lalu, saya mencanangkan gerakan penghematan. Ada empat hemat yang saya minta kita jalankan pertama, bersama. Pertama, hemat air.

Saudara-saudara,
Banyak saudara kita yang sulit mendapatkan air, jangankan untuk mandi dan mencuci, untuk minum dan makan pun sulit. Dimana itu? Di Trenggalek, di Pacitan, di Wonogiri, di Gunung Kidul, di Lombok Tengah, di Nusa Tenggara Timur, di Kupang, bahkan di Kepulauan Seribu sulit mencari air bersih. Saya lihat banyak yang menghambur-hamburkan air, keran-keran tidak dimatikan mengalir air sepanjang hari, di banyak-banyak kantor, boros. Air tanah bisa habis dan itu pemborosan.

Yang kedua, hemat listrik. Siang hari banyak yang masih menyala, malam hari orangnya tidur, listrik masih menyala berlebihan. Listrik dibutuhkan oleh seluruh bangsa kita. Banyak yang masih gelap, jangan kita buang-buang dan kita hamburkan listrik.

Yang ketiga, hemat telepon. Terutama telepon pemerintah yang membayar negara, bicara secukupnya, tiga menit cukup, ada bicara setengah jam. Kalau bicara lebih setengah jam panggil orangnya, bicara langsung, jangan lewat telepon, itu yang membayar negara. Jutaan, miliaran pertahun, terbuang kalau kita tidak hemat dalam bertelepon.

Yang keempat, hemat BBM. Harga minyak di dunia naik terus, sekarang per barel 72 $ AS, mahal. Padahal minyak kita ini pun, juga kita hemat untuk generasi yang akan datang, untuk kalian para mahasiswa, para pemuda dan pelajar. Mari kita hemat BBM, tidak perlu putar-putar Jakarta enam kali tanpa tujuan, kalau hanya menghabiskan bahan bakar. Kalau kita hemat air, hemat listrik, hemat telepon, hemat BBM, maka satu, sumber daya alam kita awet, bisa digunakan oleh anak cucu kita ke depan, kalau kita hemat yang tadi itu, kita tidak boros, APBN kita bisa hemat. Hasil penghematan, bisa meningkatkan pendidikan, bisa meningkatkan kesehatan, bisa mengurangi kemiskinan dan lain-lain daripada dibuang percuma karena boros. Kemudian kalau kita hidup hemat, masyarakat hemat kita bisa menabung. Tabungan itulah yang bisa nantinya secara nasional untuk investasi. Daripada kita keliling dunia minta investor datang, kalau kita punya sendiri mengapa tidak, dengan cara menabung dan penghematan tadi.

Dan akhirnya yang terakhir, Hari Bumi Internasional tahun depan 2007, Insya Allah, Hari Air se Dunia tahun 2007, saya ingin pers memberikan pilihan siapa yang patut mendapatkan penghargaan, baik perorangan, kabupaten atau kota atau provinsi. Saya akan memberikan penghargaannya, saudara Menteri Kehutanan dan Menteri Lingkungan Hidup bisa mengaturnya nanti.

Kita akan dengar lagu nanti, kalau nggak salah judulnya “Tanam-tanam, Siram-siram”. Kita dengar sama-sama, kita ingin banyak lagu, apalagi saudara Iwan Fals yang bagus sekali. Kita kumandangkan, supaya semua ingat, tanam, siram, pelihara, tumbuh. Kemudian tolong dilombakan logo, poster, pamflet yang baik untuk disebarkan seluruh tanah air tentang Gerakan Indonesia Menanam ini. Saya akan kasih penghargaan sepuluh besar.

Itulah saudara-saudara sekalian,
Dan akhirnya dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan mengucapkan Bismillahhirahmannirahim, marilah kita kampanyekan Gerakan Indonesia Menanam, dengan menyebarluaskan slogan “Ayo Menanam”. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan bimbingan, petunjuk dan lindungan-Nya kepada kita semua, untuk meperbaiki sumber daya hutan dan kualitas lingkungan hidup di Bumi tempat kita berpijak ini.

Sekian
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh




******



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan