Pidato Presiden
Sambutan dalam Pertemuan dengan Masyarakat Indonesia di Abu Dhabi
SAMBUTAN
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
DALAM PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA
WISMA DUTA, ABU DHABI
SELASA, 2 MEI 2006
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Saya persilakan mengambil tempat duduk masing-masing. Kemudian tenang, karena memang tempatnya relatif sempit. Kita modifikasi seperti ini supaya lebih adil. Keadilan itu mahal, mudah-mudahan, supaya lebih bagus.
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Unsur Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Dan segenap delegasi dari Jakarta,
Yang saya hormati Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Persatuan Emirat Arab beserta para Diplomat, staf dan keluarga besar KBRI,
Saudara-saudara yang bekerja di berbagai profesi di negeri ini yang saya cintai dan saya banggakan,
Marilah kita awali silaturahim kita pada pagi hari ini dengan memanjatkan puji dan syukur ke Hadirat Allah SWT. Atas rahmat dan ridha-Nya kita semua dapat bertemu di tempat ini, atas kekuasaan-Nya kita semua masih diberikan kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara.
Saya mengucapkan terima kasih kepada saudara semua yang berkenan hadir, pada pagi hari ini. Saya tahu ada yang dua jam perjalanan, satu jam perjalanan, ada kegiatan yang lain, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan. Dan mudah-mudahan pertemuan kita hari ini membawa berkah, mudah-mudahan dapat meningkatkan kinerja saudara-saudara di negeri ini sebagai duta bangsa dan juga baik untuk kepentingan bangsa dan negara kita.
Kami berkunjung ke Timur Tengah, mulai dari Saudi Arabia, Kuwait, Qatar, Persatuan Emirat Arab dan Insya Allah, sore ini dan besok kami berkunjung ke Yordania. Lima negara. Tujuannya adalah meningkatkan persaudaraan, persahabatan dan kerja sama antara Indonesia dengan negara-negara sahabat tersebut. Bukan hanya kerja sama antar pemerintah, tapi juga antar parlemen, antar dunia usaha, antar rakyat. Pendek kata, keseluruhannya menjadi bagian dari peningkatan persahabatan dan kerja sama ini.
Alhamdulillah sampai hari ini, yang menjadi tujuan kunjungan kami, agenda kami dapat kita capai dengan baik. Semua pemimpin negara-negara yang saya kunjungi bersepakat bahwa kita ingin meningkatkan secara lebih konkret persahabatan dan kerja sama itu, di banyak bidang, antara lain di bidang investasi, perdagangan, energi, pendidikan, ketenagakerjaan dan lain-lain. Alhamdulillah, mudah-mudahan ini bisa kita terus wujudkan dan tingkatkan untuk kebaikan kedua bangsa, bangsa Indonesia dengan negara-negara sahabat kita di kawasan ini.
Di samping itu saya dengan para pemimpin di sini juga membahas kepentingan kerja sama kita di kawasan ini, di Timur Tengah, yang kita ketahui sekarang banyak sekali ketegangan-ketegangan: di Irak, di Iran, di Palestina dan lain-lain. Kita juga bersepakat bagaimana dunia Islam kita ini tumbuh dan berkembang, berperan secara tepat di pentas internasional dengan sebuah kerja sama dan persahabatan yang baik. Kita membicarakannya dengan terbuka, dengan penuh persahabatan, untuk tujuan yang lebih besar lagi, tujuan kemanusiaan sejagad.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Khusus di Persatuan Emirat Arab ini, sama dengan beberapa negara yang lain, kita memfokuskan pembicaraan kita untuk kerja sama lanjutan di bidang investasi, perdagangan, energi, ketenagakerjaan, pariwisata dan pendidikan. Kita sudah membicarakan, saya sendiri sudah berbicara dengan Yang Mulia Presiden, dan hari ini masih saya lanjutkan pembicaraan dengan pejabat-pejabat penting lainnya, kita sepakat untuk lebih konkret lagi apa yang akan kita lakukan di waktu yang akan datang.
Setelah kunjungan ini, di Jakarta akan kami rumuskan apa berbuat apa, apa saja yang akan kita tindaklanjuti, timeline-nya seperti apa, kemudian akan kita komunikasikan kembali ke negeri ini, dan kemudiian Insya Allah dapat kita wujudkan sesuai dengan rencana dan kesepakatan yang telah kita tetapkan.
Yang perlu saya sampaikan adalah bahwa potensi negeri ini besar, untuk sebuah kerja sama ekonomi. Karena kemampuan finansial yang dimiliki, kemudian kemampuan dunia usaha yang juga ada di negeri ini, peluang-peluang pasar di negeri ini, sekaligus kemungkinan mereka untuk berusaha, berinvestasi di Indonesia. Sedangkan Negara kita adalah negara yang besar, penduduknya 220 juta jiwa. Pendapatan domestik bruto sekarang ini mencapai US$320 miliar, termasuk 25 besar dunia. Artinya apa? Semakin ke depan, ukuran ekonomi kita makin besar. Oleh karena peluang kerja sama makin besar. Oleh karena itulah kita lakukan satu penjajakan agar apa yang ada di negeri kita dapat kita gunakan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat, sebesar-besar untuk kesejahteraan rakyat.
Kita mendayagunakan yang kita miliki: kemampuan dalam negeri, sumber finansial dalam negeri, usaha dalam negeri, teknologi kita, pendidikan kita, tetapi dalam era globalisasi ini, tidak ada satu negara pun yang tidak bekerja sama dengan negara lain. Tidak keliru, setelah kita menjadikan yang di dalam negeri menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, kita bekerja sama. Misalkan dengan Persatuan Emirat Arab ini, kerja sama yang baik, yang jujur, yang mendatangkan kebaikan, tentunya sebesar-besar untuk kepentingan rakyat kita. Itu yang kita lakukan sekarang ini, dengan harapan kerja sama itu bagian dari pembangunan ekonomi nasional kita, pembangunan dalam negeri kita.
Hadirin sekalian,
Yang perlu saya sampaikan juga adalah apa yang kami lihat paling tidak di Saudi Arabia, di Kuwait, di Qatar dan di Emirat Arab ini, peluang untuk tenaga kerja Indonesia cukup besar. Saya berterima kasih, pembicaraan saya dengan para pemimpin, pembicaraan isteri saya dengan mitranya di sini, mereka memberikan pujian terhadap tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sini. Baik itu yang professional, yang skill workers, maupun yang semi skill workers, maupun saudara kita yang bekerja pada tingkat yang lebih rendah. Atas nama negara, pemerintah dan rakyat, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada saudara semua. Saudara ikut mengharumkan nama bangsa kita. Mahal harga diri dan kehormatan sebuah bangsa. Dengan tampilan saudara, perilaku saudara, kinerja saudara, prestasi saudara, kami bangga. Pertahankan itu dan teruskan untuk lebih mengharumkan lagi nama bangsa dan negara kita.
Saya tahu beberapa tenaga kerja ada masalah-masalah. Masalah-masalah itu sebagian kesalahan kita, sebagian kesalahan yang ada di negara tuan rumah. Kita harus mengatasi masalah itu sebaik-baiknya. Dengan kerja sama sebaik-baiknya pula. Ketenagakerjaan saya sudah menyimpulkan, setelah saya berkunjung ke semua negara, yang memiliki tenaga kerja yang besar dari Indonesia, di Timur Tengah sendiri misalnya, di Malaysia, di Singapura, di Korea Selatan, di Thailand, di Jepang. Dan saya juga sempat berbicara dengan mereka, berdialog, kesimpulannya adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan tenaga kerja sebagian atau bahkan sebagian besar berasal dari kita sendiri. Sebagian memang muncul di negara tempat kita bekerja.
Oleh karena itu, dalam waktu dekat, Pemerintah Republik Indonesia, saya pimpin nanti, untuk menata kembali, melakukan reformasi total di dalam kebijakan, peraturan dan pelaksanaan ketenagakerjaan, terutama saudara-saudara kita yang bekerja di luar negeri. Mulai dari organisasinya, Depnaker, apa tugas dan kewajibannya, kemudian PJTKI, apa tanggung jawab dan kewajibannya, Pemerintah Daerah, katakanlah, Gubernur, Bupati, Walikota, apa peran dan tugasnya. Kemudian jajaran yang lain, imigrasi, Angkasa Pura dan lain-lain, apa pula kewajibannya. Saya ingin semua menjalankan tugas dengan benar, tidak ada penyimpangan, tidak ada hal-hal yang menyulitkan, yang memeras, yang justru menghambat tenaga kerja kita yang akan bekerja di luar negeri. Itu baru organisasinya.
Yang kedua peraturan-peraturan. Peraturan-peraturan yang dipersulit, yang menghambat, yang lebih banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya, harus kita hapuskan. Tetapi kita memang memerlukan peraturan, yang justru melindungi saudara-saudara di luar negeri. Kontrak karya, kontrak kerja, misalkan, harus dipahami, baik yang akan bekerja, ataupun negara yang menerima tenaga kerja, Depnaker sendiri, Deplu sendiri, para Duta Besar sendiri dan lain-lain. Dengan demikian semua harus patuh, sesuai dengan kontraknya.
Yang ketiga, kita juga harus mendapatkan informasi yang lengkap. Tempat pekerjaannya dimana, persyaratannya apa, hak-haknya seperti apa, kewajibannya juga seperti apa. Kalau sudah tahu misalkan bekerja di Emirat Arab, di Kuwait, di Qatar, di Korea Selatan, di Malaysia, ada sejumlah persyaratan, kita persiapkan dengan baik di Indonesia. Pemerintah, PJTKI dan agen-agen, bertanggung jawab untuk mempersiapkan segalanya: keterampilannya barangkali, bahasanya barangkali dan lain-lain. Dengan demikian, tenaga kerja kita yang datang ke luar negeri, akan berdaya saing, tidak kalah kualitasnya, tidak kalah kesiapannya dengan tenaga kerja dari negara-negara lain.
Berikutnya lagi, kalau ada masalah, harus tahu kepada siapa menyampaikan masalah itu, dan masalah itu tidak boleh didiamkan, harus terus menerus kita carikan solusinya. Kadang-kadang bisa segera diselesaikan, kadang-kadang memerlukan waktu. Tetapi semua harus ikut bertanggung jawab untuk mengatasi masalah itu. Dan sejumlah langkah-langkah akan kita lakukan, termasuk satu hal, ternyata di luar negeri itu peluang tenaga kerja itu besar, yang ingin bekerja banyak: Bangladesh, Pakistan, India, Filipina dan negara-negara lain. Kita tentu memiliki potensi. Harus kita siapkan, kita bangun, agar kita bisa bekerja. Oleh karena itulah, saya nanti akan meminta kepada seluruh Duta Besar di negara-negara yang tenaga kerja Indonesianya banyak. Berikan laporan ke Jakarta, peluangnya apa saja, persyaratannya apa saja, hak dan kewajibannya apa saja dan lain-lain. Dengan demikian kita bisa mempersiapkan lebih baik lagi dan tidak ada masalah.
Nah yang terakhir adalah, apabila ada penyimpangan, saudara dipungli, dipersulit, dimintai ini itu, dan lain-lain. Tolong jangan dibiarkan, laporkan segera kepada pihak yang berwajib.
Sangat sering saya sendiri atau Ibu Negara mendapatkan SMS. Kadang-kadang juga surat PO Box 9949 tentang itu. Dan biasanya, laporan-laporan yang benar, laporan-laporan yang akurat dengan data yang lengkap, itu dengan cepat bisa kita respon, dan kita atasi. Tetapi SMS yang kurang jelas, hanya katanya, katanya, kata teman saya, dalam prakteknya itu tidak mudah kita lacak karena tidak jelas. Siapa, dimana, kejadiannya apa, yang memungli siapa dan lain-lain.
Ini sebagai contoh, ibu-ibu. Waktu kami berkunjung ke Malaysia, baru saja datang. Malam hari dikatakan, Pak Presiden, pada Ibu Negara, bukan pada saya, pertama-tama, Ibu, ini ada penyelundupan wanita dari Medan. Katanya dijanjikan bekerja baik-baik di Kuala Lumpur, ternyata dijadikan PSK. Dan harus mengemban tugas PSK selama tiga bulan, baru impas ongkosnya dari Medan ke Kuala Lumpur. Malam itu juga, Ibu Negara menyampaikan kepada saya, malam itu juga saya telepon Kapolri. Dengan tepat, hari berikutnya lagi, dua orang yang menyelundupkan wanita kita itu kita tangkap. Hari berikutnya lagi ada tukang tadah di Kuala Lumpur, yang juga bisa kita tangkap. Dan berikutnya lagi ada warga Malaysia yang terlibat, juga kita tangkap dan cepat kita selesaikan. Itu contoh yang buruk, tetapi contoh yang baik, contoh yang harum, contoh yang membanggakan banyak sekali. Oleh karena itu, selalu ada masalah-masalah seperti itu di banyak negara, tetapi selama ini yang saya terima, banyak pujian dari para pemimpin negara-negara sahabat pada tenaga kerja Indonesia yang disiplin, yang pandai menyesuaikan diri, yang jujur, bahkan tadi malam mengatakan, waktu itu juga mengajari membaca Al Quran dan lain-lain.
Jadi, lihatlah gambar itu secara utuh, ada masalah-masalah yang harus kita selesaikan, tapi ternyata juga banyak masalah yang patut kita syukuri dan kita banggakan.
Saudara-saudara sekalian,
Sebenarnya bangsa-bangsa lain, karena melihat Indonesia mulai pulih dari krisis dan kemudian sekarang bangkit dan tumbuh, menuju masa depannya yang Insya Allah lebih bagus. Mereka juga ingin bekerja sama, mereka juga ingin berinvestasi, mereka juga ingin menanamkan modalnya di Indonesia dengan kerja sama yang baik. Tetapi kadang-kadang, mereka masih bertanya, apakah Indonesia betul-betul sudah aman? Apakah betul-betul iklim usahanya baik? Apakah hukumnya betul-betul tegas? Apakah tidak tiba-tiba nanti ada kerusuhan, terus dibakar pabriknya? Dan lain-lain. Nampaknya bayang-bayang yang dulu pernah terjadi di masa krisis, sebagian masih tercetak di pikiran saudara-saudara kita di luar negeri.
Belum lagi sekali-sekali CNN, BBC dan televisi internasional mengangkat sesuatu yang lebih. Itu terjadi di banyak negara, tetapi karena di Indonesia, mungkin ada sedikit kerusuhan, mungkin ada sedikit unjuk rasa yang brutal, merusak, mungkin ada, dan lain-lain. Itu diangkat sekali-kali, yang melihat, jangan-jangan Indonesia belum aman, jangan-jangan Indonesia negaranya seperti itu, jangan-jangan tidak stabil, jangan-jangan kalau berusaha rugi, jangan-jangan dan sebagainya.
Oleh karena itu, kita, kami, saya, berkewajiban untuk terus menerus memperbaiki keadaan dalam negeri. Sayang sekali, saudara di luar negeri menjadi duta bangsa yang baik, pekerja yang baik. Sayang sekali banyak negara-negara sahabat ingin bekerja sama dengan Indonesia, di Indonesia. Dan kalau kerja sama itu ada, lapangan kerja terbuka, ekonomi kita tumbuh, pajak kita dapat untuk meningkatkan pendidikan, meningkatkan kesehatan, mengurangi kemiskinan. Itu semua batal, karena mereka masih belum yakin apakah Indonesia cocok, aman, sebagaimana negara-negara lain untuk investasi.
Dalam kaitan itu, sekali lagi, kita harus memperbaiki kondisi dalam negeri kita. Sadarlah, peluang kita besar, kesempatan kita besar. Jangan ada yang tidak sadar sehingga urung saudara-saudara, negara-negara sahabat yang akan bekerja sama di Indonesia.
Politik kita harapkan tetap terbuka, tetap demokratis, tapi tertib dan stabil. Keamanan di seluruh Indonesia kita harapkan makin baik. Alhamdulillah Aceh, keamanan telah pulih, di tempat yang lain juga makin baik. Kita berharap hukum tegak, koruspi diberantas, pemerintahannya efisien. Kemudian hubungan pusat dan daerah baik. Kebijakan ekonominya baik, dan lain-lain. Kalau ini terus kita lanjutkan, kita mantapkan, Insya Allah dan saya percaya maka kerja sama akan terbuka lebar di negeri kita. Di dalam negeri pun orang berusaha akan enak dan kalau enak semuanya rakyat kita yang masih banyak yang menganggur, sekitar 10 juta, rakyat kita masih ada yang miskin, sekitar 40 juta, Insya Allah setahap demi setahap dapat kita tingkatkan.
Itulah pentingnya kita memahami dinamika global, itulah pentingnya kita semua, terutama di Indonesia, di dalam negeri harus menciptakan iklim yang benar-benar baik. Ini nyata sekali dan saya rasakan, ini merupakan persaingan. Kalau Vietnam, kalau Laos, kalau Thailand, kalau India, kalau China, bisa menciptakan keadaan dalam negerinya lebih baik lagi, baik seperti ini, dan mengalirlah kerja sama itu, mengapa negara kita tidak bisa? Harus bisa, dengan ridha Allah SWT, dengan kesadaran kita semua, seluruh warga bangsa Indonesia.
Itulah yang saya sampaikan, dan negara kita terus meningkatkan kinerjanya, pembangunannya, negara kita terus melakukan pembaharuan semuanya, menuju masa depan yang lebih baik.
Saya minta doa semuanya yang di luar negeri, agar tanah air kita makin baik, makin tenang. Dan kalau tenang, baik, alhamdulilah rakyat kita akan juga dapat meningkat kesejahteraannya. Semuanya itu untuk rakyat.
Saudara-saudara yang bekerja di Emirat Arab ini, yang sudah bekerja dengan baik, saya senang, saya berterima kasih. Kalau ada masalah-masalah, tolong saling bantu. Terutama saudara-saudara kita yang bekerja di, apa namanya, di sektor informal. Bantu mereka. Ulurkan pikiran, tangan, jasa kepada mereka. Dengan demikian, kita kompak di dalam negeri, kita kompak di luar negeri, menjadi bangsa yang peduli satu sama lain.
Itulah harapan saya, saudara-saudara. Saya mohon ijin, sore ini melanjutkan kunjungan ke Yordania, dan lusanya kembali ke Indonesia.
Sekian.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Pertanyaan:
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Yang Mulia Bapak Presiden Republik Indonesia, Ibu Ani Yudhoyono dan rombongan dari Jakarta. Nama saya Asnul Bahar. Saya bekerja di sini sebagai konsultan dari perminyakan, Pak. Mewakili teman-teman dari Abu Dhabi semua, organisasi kami bernama Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia.
Seperti harapan Bapak tadi, menginginkan supaya adanya kerja sama diantara kami untuk saling membantu sesama warga Indonesia. Organisasi ini, kegiatan ini telah kami lakukan, dan itu merupakan bagian dari kegiatan sosial masyarakat yang ada.
Akhir-akhir ini kami memang merasa resah dengan masalah ketenagakerjaan, Pak. Dan uraian Bapak pada pagi hari ini dan juga yang kami dengar dari berita di Qatar sangat melegakan. Terima kasih atas instruksi untuk mencabut masalah surat rekomendasi.
Ada beberapa hal lain, Pak. Tapi mungkin juga perlu saya sampaikan bahwa hal rekomendasi itu terjadi di sini dan ini telah kami rangkum di dalam satu dokumen yang akan kami serahkan.
Selanjutnya, beberapa masalah lain yang berhubungan dengan tenaga kerja, tidak terjadi, dan kami ingin memberikan beberapa saksi, Pak. Diantaranya yang pertama adalah: dihapuskannya kewajiban untuk pemakaian paspor tenaga kerja. Apalagi sekarang dikeluarkan hanya untuk Timur Tengah, seperti masalah diskriminasi rasanya. Apalagi itu terjadi juga untuk kaum profesional, yang seperti Bapak sendiri, kami ingin meninggikan daya saing, dan ini terus terang telah terjadi korban di Abu Dhabi. Salah satu professional, anggota kami, mendapat tawaran dari pekerjaan di Saudi Arabia, di perusahaan Saudi Aramco yang besar, mempunyai kualitas internasional, tetapi harus batal karena birokrasi harus membuat, mengganti paspor yang tidak mungkin untuk dilakukan.
Presiden RI:
Yang harus membuat paspor birokrasi dimana itu?
Pertanyaan:
Sekarang dengan paspor tenaga kerja khusus, bahwa paspor harus diganti, harus pulang ke Jakarta, paspor lama harus dirubah dan diurus oleh PJTKI. Jadi sekarang, kaum profesional pun, harus diurus oleh PJTKI. Padahal seluruh proses perekrutannya pada umumnya adalah menurut aturan internasional, Pak.
Selanjutnya masalah Terminal 3, Pak. Banyak kami mendengar masalah-masalah yang berhubungan pemerasan dan sebagainya. Apakah memang masih ada manfaatnya? Kalau memang ada, mungkin dicari solusi yang lebih baik.
Dan yang terakhir, karena kami cuma diberi kesempatan satu kali, satu pertanyaan untuk mewakili semua, kami diberitahu memberi tahu seorang rekan yang bekerja sebagai translator, penterjemah di Kantor Polisi. Setiap hari beliau menyaksikan apa yang terjadi di Pengadilan, kasus-kasus seperti apa, penyiksaan dan sebagainya. Nah, yang menjadi, yang kami sesali adalah tidak adanya bantuan hukum terhadap tenaga kerja Indonesia, terutama wanita. Dalam arti belum ada lawyer, Pak. Jadi kami butuh dipercepat, Undang-Undang nomor 39, tujuannya adalah untuk perlindungan. Perlindungan ini di samping bantuan hukum sangat kami harapkan.
Saya rasa sekian pertanyaan, ungkapan yang ingin saya sampaikan karena masalah waktu. Dan ingin saya sampaikan kesimpulan yang merupakan buah pikiran kami semua kepada Bapak. Di samping itu, juga ada surat titipan dari masyarakat Indonesia di Oman yang kebetulan tidak dapat dikunjungi. Mereka menginginkan adanya pembukaan Perwakilan Republik Indonesia di Oman, karena sekarang ini sudah mencapai 16 ribu Warga Negara Indonesia.
Demikian Pak. Terima kasih. Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Presiden RI:
Terima kasih ya. Baik, itu cukup lengkap saya lihat yang disarankan, ada ekonomi, ada perdagangan, tenaga kerja, pendidikan. Terima kasih, ya. Termasuk sampaikan kepada saudara-saudara kita yang ada di Oman, tentu kunjungan lima negara ini sudah memakan waktu kurang lebih sembilan hari. Tentunya saya tidak bisa meninggalkan tanah air dalam waktu yang lama. Insya Allah lain kali akan saya kunjungi, yang belum sempat saya kunjungi. Sampaikan salam saya, dan apa yang disampaikan akan kita olah untuk kemungkinan pembukaan atau peningkatan status perwakilan kita di negara Oman tersebut.
Yang disampaikan saya kira, sebagian besar sejalan dengan apa yang sedang dan akan kita lakukan untuk reformasi kebijakan dan penataan ketenagakerjaan. Masalah rekomendasi, saya dilapori oleh Menakertrans, bahwa dulu ada argumentasi mengapa harus dikeluarkan rekomendasi Depnaker atau rekom itu. Tapi dalam perkembangannya, situasi sudah berubah dan ternyata banyak sekali penyimpangan, banyak ekses yang menyulitkan. Oleh karena itu, untuk seperti itu harus kita akhiri dan tidak lagi menjadi beban bagi tenaga kerja.
Masalah paspor, ini bagian dari yang akan kita olah nanti. Memang ada tujuan-tujuan, dalam banyak kasus itu sering terjadi penyalahgunaan paspor, penyalahgunaan visa. Di Malaysia, kemarin saya laksanakan pemutihan, atas jasa baik negara setempat, sekian belas ribu, karena penyalahgunaan paspor dan visa di waktu yang lalu dan lain-lain. Tapi, saya juga paham, tentu memerlukan biaya yang besar, waktu yang tidak sedikit untuk mengurus kembali ke Jakarta dan lain-lain. Kita akan carikan solusinya yang baik. Satu pemalsuan, penyalahgunaan paspor dan visa kita, cegah dan kita hilangkan. Tetapi untuk pemegang paspor dan visa tidak mengalami kesulitan ataupun hambatan yang berarti. Kita akan carikan solusinya di situ. Dengan demikian, yang penting tujuannya jelas, paspornya jelas, visanya, sehingga hak-haknya bisa dilindungi, kemudian kita bisa berikan sesuatu kalau ada masalah dengan tenaga kerja kita. Banyak sekali, terutama di Malaysia, tidak ada paspor, tidak ada visa, ada masalah sulit kita untuk menyelesaikan, meskipun akhirnya dengan pendekatan tertentu, itupun bisa kita carikan solusinya. Kita akan bahas khusus nanti masalah apa namanya, paspor tersebut.
Yang kedua, bantuan hukum, ini juga menjadi perhatian utama kita. Kemarin di Saudi Arabia itu sudah ada lawyer setempat. Lawyer dari Saudi Arabia, yang mengerti betul sistem hukum, masalah-masalah dari Saudi Arabia. Saya kira bantuan hukum ini kita perlukan, nanti di masing-masing Kedutaan Besar, Pak Menlu ada di sini, saya kira Pak Hassan. Di luar nanti, di Kedutaan Besar, semacam entah lawyer atau apa. Dengan demikian, kalau ada masalah dari sisi kita bisa cepat menyelesaikan masalah, bekerja sama dengan lawyer setempat yang kita ajak kerja sama nanti. Jadi ini sudah menjadi pemikiran kita, mudah-mudahan segera bisa kita wujudkan nanti.
Dan saya kira masih banyak lagi masalah ketenagakerjaan. Oleh karena itu kita harus menertibkannya dengan baik, tetapi jangan mengurangi semangat bekerja. Teruslah berprofesi dengan baik. Dan saya tahu, di Qatar misalnya kemarin, putera puteri bangsa Indonesia memiliki prestasi yang luar biasa di sana, di bidang minyak dan gas. Ini mari kita tunjukkan sehingga kalau ada kesalahan satu dua, tertutuplah oleh apa yang kita lakukan dengan prestasi yang baik itu.
Demikianlah saudara-saudara, masih ada kegiatan dengan pihak tuan rumah yang masih harus saya ikuti. Sampaikan salam saya kepada semua yang tidak bisa hadir di sini, saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan, sampai ketemu di waktu yang akan datang. Selamat berjuang, selamat bekerja, Tuhan beserta kita.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



