Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Kongres XVI Perbanas dan Konferensi APCONEX

 

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUKAAN KONGRES XVI PERBANAS
SERTA
PAMERAN DAN KONFERENSI ASIA-PASIFIK TENTANG TEKNOLOGI PERBANKAN (APCONEX) 2006
J C C, 9 MEI 2006

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat Pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Gubernur Bank Indonesia, Saudara Gubernur DKI Jakarta. Ini dua gubernur yang sangat powerfull, satu panglima perbankan, satu panglima metropolitan.

Yang saya hormati Saudara Ketua Perbanas,

Yang mulia para Duta Besar yang hadir pada acara yang baik ini, para Pimpinan Dunia Usaha dan Pimpinan BUMN, para Pimpinan Perbankan dan Keluarga Besar Perbanas,


Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Sebelum saya menyampaikan sambutan pada acara yang sangat penting ini, saya menyampaikan bahwa pertama-tama akan saya sampaikan sambutan yang telah saya persiapkan ini. Dan kemudian kedua, saya akan menyampaikan harapan dan ajakan kepada saudara semua, para Pimpinan Perbankan dan Keluarga Besar Perbanas untuk bersama-sama melangkah ke depan membangun dunia perbankan dan membangun perekonomian nasional kita untuk rakyat, bangsa dan negara tercinta.

Saudara-saudara sekalian,

Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul, menghadiri Pembukaan Kongres ke-16 Perbanas. Kongres ini dilaksanakan bertepatan dengan penyelenggaraan Asia Pacific Conference & Exhibition on Banking Technology yang ke-2 Tahun 2006. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini, untuk mengucapkan selamat datang kepada para peserta, dan selamat berkongres. Mudah-mudahan Kongres Perbanas kali ini, dapat berlangsung dengan lancar dan sukses, dan membawa manfaat yang besar bagi kemajuan pembangunan ekonomi nasional.

Hadirin yang saya hormati,

Tema Kongres Perbanas kali ini, adalah “Meningkatkan Efektifitas dan Tata Kelola, Guna Meraih Stabilitas Perbankan”. Tema ini saya anggap penting, karena efektivitas dan tata kelola perbankan, merupakan kunci keberhasilan pengelolaan perbankan yang baik dan sehat. Jika pengelolaan perbankan berjalan dengan baik, maka tidak hanya keuntungan bisnis yang akan diperoleh, tetapi juga stabilitas perbankan yang terjaga. Stabilitas perbankan yang terjaga, akan berdampak kepada kestabilan ekonomi nasional, salah satu pilar ekonomi nasional yang akan tumbuh dan berkembang.

Kestabilan ekonomi saat ini, terus-menerus kita upayakan ke arah yang lebih baik. Kita tengah memasuki masa yang penting dalam momentum perbaikan kondisi makro ekonomi. Kondisi makro ekonomi, telah menunjukkan pertumbuhan yang cukup berarti, dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Hal itu, terlihat dari beberapa indikator ekonomi yang makin menggembirakan. Meskipun sebagaimana disampaikan oleh Saudara Gubernur Bank Indonesia dan Saudara Ketua Perbanas, masih ada indikator ekonomi yang belum sesuai dengan harapan kita. Tingkat inflasi, secara bertahap, telah menunjukkan indikator menurun. Insya Allah, tahun 2006 ini kembali kepada one single digit inflation. Nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang dolar Amerika terus menguat berkisar Rp. 8.800-an per 1 dollar Amerika Serikat, terpulang, apakah good news atau bad news bagi importir ataupun eksportir? Tetapi yang jelas, rupiah yang menguat pada tingkat yang tepat akan membawa kebaikan bagi keseluruhan perekonomian nasional kita. Demikian pula, cadangan devisa meningkat cukup berarti, bahkan telah mencapai lebih dari 42 milyar dollar Amerika Serikat, kalau tidak salah statistik terkini 42,8 billion US Dollars. Indeks saham gabungan mencapai angka sekitar 1500-an point, saya lihat CNBC baru saja 1522, yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan pebisnis asing di negeri kita. Kita pun patut bersyukur, pertumbuhan ekonomi kita pada tahun 2005 yang lalu, telah mencapai 5.6%, meskipun ada pukulan yang sangat berat karena krisis harga minyak di dunia. Suatu angka yang perlu terus kita tumbuh kembangkan di masa yang akan datang.

Dengan momentum perbaikan ekonomi saat ini, Pemerintah optimis, saya optimis bahwa perekonomian Indonesia dalam lima tahun ke depan, akan dapat kita tingkatkan, Insya Allah rata-rata 6% lebih. Untuk menunjang target pertumbuhan ekonomi itu, diperlukan pertumbuhan investasi yang lebih besar setiap tahunnya. Pertumbuhan investasi itu, memerlukan dukungan pendanaan, terutama dari sektor perbankan. Sektor perbankan memainkan peranan penting dan menjadi harapan, sebagai sumber penunjang utama pertumbuhan investasi, penyedia dana, dan keberlangsungan usaha di berbagai sektor. Untuk menumbuhkan iklim investasi, sistem perbankan nasional, tentunya perlu terus-menerus melakukan inovasi, jangan statis, jangan mandek serta perbaikan sistem dan management. Inovasi dan perbaikan sistem itu, tentu saja harus pula diimbangi dengan peningkatan fungsi perbankan.

Saya berharap, perbankan dapat terus berperan aktif untuk meningkatkan pertumbuhan di sektor riil. Dalam tujuh tahun setelah krisis ekonomi, perbankan nasional terus-menerus melakukan konsolidasi dan restrukturisasi. Kondisi ini dapat lebih ditingkatkan lagi, terutama pada peningkatan peran yang lebih besar kepada sektor-sektor perekonomian yang lain. Porsi kredit investasi yang disalurkan perbankan, diharapkan dapat ditingkatkan.

Hadirin yang saya muliakan,

Untuk mendukung peningkatan peran perbankan yang saya katakan tadi, tentunya dibutuhkan sistem perbankan yang kuat dan sehat. Saya ulangi kuat dan sehat. Sistem perbankan yang kuat dan sehat, tidak rentan terhadap gejolak macro economy. Orang mengatakan keberhasilan reformasi yang kita lakukan ini adalah apabila someday, meskipun kita berharap tidak terjadi dan kita cegah, ada new external shocks, kita tidak rentan, kita tidak tahan dan kita tidak terjatuh lagi akibat goncangan eksternal itu. Itu ukuran, bahwa reformasi, restrukturisasi telah berhasil dengan baik. Oleh sebab itu, perbankan sebagai lembaga kepercayaan, dituntut untuk senantiasa menerapkan beberapa prinsip yang memungkinkan pengelolaan perbankan nasional berjalan dengan baik. Salah satunya adalah prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit, salah satu bukan satu-satunya. Prinsip kehati-hatian itu, saya anggap penting, karena pengalaman beberapa waktu lalu, seringkali perbankan dihadapkan pada persoalan ketidakcermatan dalam memahami prinsip itu. Kehati-hatian dalam pemberian kredit, bukan berarti mempersulit pencairan kredit, mari kita camkan jangan keliru kita memandang. Saya tidak ingin terjadi kemacetan dalam penyaluran kredit ini, karena keliru kita memahami prinsip kehati-hatian di kalangan perbankan sendiri atau di kalangan non perbankan, tetapi memperkecil risiko yang akan ditanggung oleh pihak perbankan. Penyaluran pinjaman, tentunya perlu dilakukan dengan perhitungan risiko yang baik. Hanya dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, kita semua dapat menghindari terulangnya krisis perbankan yang pernah menimpa perbankan nasional beberapa waktu yang lalu. Meskipun secara jujur, krisis itu kompleks, bukan itu satu-satu sebab mengapa terjadi krisis perbankan, krisis moneter dan krisis ekonomi beberapa tahun yang lalu itu.

Tentunya, hal itu memberikan pembelajaran berharga bagi perbankan nasional untuk lebih profesional dalam menjalankan kegiatannya. Pengelolaan perbankan yang profesional, akan menumbuhkan perbankan nasional yang sehat. Saya mengajak seluruh elemen masyarakat, praktisi ekonomi, para pelaku usaha, dan tentunya para bankir, untuk bersama-sama, mendukung setiap upaya penyehatan perbankan nasional. Usaha untuk terus menyehatkan dan memperkuat perbankan nasional, tentunya membutuhkan pengembangan sistem, manajemen, dan inovasi teknologi. Sistem, manajemen, dan inovasi teknologi itu, perlu dibarengi dengan upaya pengembangan sumber daya manusia, yang menjadi para pelaku di belakang sistem, manajemen, dan inovasi itu. Kesemuanya itu diarahkan pada peningkatan pelayanan dan pemanfaatan perbankan oleh dunia usaha dan masyarakat luas.

Manfaat perbankan, tentu saja bukan hanya untuk kalangan pebisnis besar, tetapi justru harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk perputaran roda ekonomi seluruh lapisan masyarakat. Untuk itu, saya ingin mengingatkan kembali kepada saudara, bahwa selain kredit investasi yang perlu ditingkatkan, porsi dari penyaluran pembiayaan kepada sektor Usaha Kecil dan Menengah, serta usaha mikro harus terus ditingkatkan. Saya gembira mendengar penjelasan Gubernur BI dan saudara-saudara pengelola bank, tahun lalu bahkan, bahwa sekitar 60% porsi perkreditan itu akan disalurkan kepada usaha kecil dan menengah. Potensi yang dimiliki oleh sektor ini sangat besar. Dengan penyaluran kredit di sektor UKM dan usaha mikro, selain dapat memperkuat basis perekonomian rakyat, juga dapat meningkatkan stabilitas sosial. Dengan stabilitas ekonomi dan sosial, harapan pertumbuhan ekonomi yang kita cita-citakan bersama, Insya Allah, dapat kita dicapai.

Hadirin yang saya muliakan,

Dalam era globalisasi ekonomi saat ini, potensi pasar perbankan di Indonesia, telah mengundang bank-bank asing untuk beroperasi dan membuka cabangnya di tanah air. Kondisi ini, menuntut perbankan nasional untuk bekerja lebih profesional sehingga dapat bersaing dengan bank-bank asing. Jangan gentar, daya saing dapat kita bangun kalau niat dan kerja keras kita untuk melakukan penyehatan dan penguatan, itu bisa berlanjut dan dengan hasil yang baik. Bank-bank asing yang datang ke negeri kita, tentu memiliki sistem dan teknologi yang lebih maju. Dengan sistem dan teknologi yang lebih maju, memungkinkan mereka beroperasi lebih efisien. Karena itu, apabila kita lengah dan tertinggal dalam perbaikan sistem dan inovasi teknologi, kita dapat tergeser dalam percaturan perbankan di negeri sendiri.

Untuk itulah, saya menyambut baik penyelenggaraan Pameran dan Konferensi Asia Pacifik tentang Teknologi Perbankan, APCONEX 2006. Penyelenggaran APCONEX merupakan salah satu sarana, yang dapat digunakan oleh perbankan nasional untuk saling bertukar informasi, saling bekerjasama, dan menambah wawasan di bidang teknologi perbankan. Dengan bertemunya perbankan nasional dengan perusahaan penyedia produk dan jasa teknologi kelas dunia, perbankan nasional dapat mencari solusi terhadap berbagai permasalahan teknologi. Permasalahan teknologi, termasuk permasalahan yang dihadapi saat ini oleh perbankan di tanah air. Permasalahan itu, lebih dirasakan terutama oleh bank-bank kecil, yang memiliki kemampuan modal dan sumber daya yang terbatas dalam pengembangan teknologi.

Hadirin sekalian,

Saya pun menyambut gembira atas langkah-langkah Perbanas dalam meningkatkan kemampuan perbankan nasional. Terutama dalam upaya membangun “Arsitektur Perbankan Indonesia”, sebagai kelanjutan dari prakarsa Bank Indonesia. Salah satu pilar dalam Arsitektur Perbankan Indonesia itu adalah mewujudkan infrastruktur yang lengkap untuk mendukung terciptanya industri perbankan yang sehat. Untuk itu, inisiatif penyusunan Arsitektur Teknologi Perbankan Indonesia, yang saya ketahui konsepnya akan dibahas dan dimatangkan dalam APCONEX, perlu mendapat apresiasi. Marilah kita berikan apresiasi saudara-saudara, atas inisiatif Perbanas untuk menyusun Arsitektur Teknologi Perbankan Indonesia itu.

Beberapa waktu lalu, dalam kunjungan kenegaraan saya ke Timur Tengah, saya menilai minat pengusaha Timur Tengah untuk menanamkan modalnya di Indonesia sangat besar. Minat itu terutama di bidang keuangan, perbankan, bursa saham, infrastruktur, perdagangan dan pembangunan kilang minyak. Kecenderungan ini merupakan salah satu peluang bagi perbankan nasional untuk membangun kerjasama dengan perbankan di Timur Tengah. Peluang itu, kita manfaatkan untuk mengembangkan sistem perekonomian dan perbankan. Karena itu, kita harus berupaya melakukan pembenahan di berbagai sisi. Pembenahan itu, dapat berupa infrastruktur peraturan perundangan yang dapat lebih mengakomodasi dan memfasilitasi arus investasi dari Timur Tengah ke Indonesia.

Kita perlu membenahi tatanan di bidang investasi, perbankan, perpajakan, dan ketenagakerjaan. Karena, setiap investor, akan tetap memperhitungkan keamanan modal mereka. Jika dana mereka diinvestasikan, mereka juga akan menuntut kejelasan dan kepastian sistem dan perundangan yang mengaturnya. Upaya menarik investasi dari negara-negara Timur Tengah, harus tetap memenuhi berbagai persyaratan yang standar dan memberikan keamanan investasi dengan baik. Mudah-mudahan, Arsitektur Perbankan Indonesia yang akan kita kembangkan, dapat memenuhi harapan-harapan tadi.

Hadirin sekalian,

Bagian kedua dari sambutan saya ini, saya ingin memberikan satu overview secara sangat singkat tantangan besar yang kita hadapi, termasuk peluang yang ada di depan kita dan bagaimana dunia perbankan memainkan peran, berkontribusi untuk menghadapi tantangan dan merebut peluang itu.

Saudara-saudara,

Ingin saya jelaskan kembali, dalam rangka mendefinisikan kembali makna dan hakekat pembangunan yang akhir-akhir ini dikembangkan oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia, bahkan oleh lembaga-lembaga internasional, the real meaning of development. Sekali lagi, yang kita tuju adalah peningkatan quality of our life of our people, human being, human development, itu semua, pangan mereka, sandang mereka, papan mereka, pendidikan mereka, kesehatan mereka, lingkungan mereka dan lain-lain. Ekonomi, bukan tujuan akhir. Ekonomi yang kita bangun adalah sebuah kondisi yang kita bangun, a means, alat dan a brigde, jembatan untuk meningkatkan kesejahteraan kita. Tetapi without pertumbuhan ekonomi, tidak bisa kita tingkatkan kesejahteraan rakyat kita. Oleh karena itu, kalau kita terus-menerus meningkatkan ekonomi kita, sekali lagi, pertumbuhan itu, achievement itu harus bisa kita alirkan, kita transformasikan untuk meningkatkan taraf hidup, living standard of our people across the region. Mari kita pegang itu.

Dalam upaya kita, tahun-tahun sekarang ini dan tahun-tahun berikutnya untuk meningkatkan kembali ekonomi kita, there are two great challenges. Number one, situasi tahun 2004-2005 yang lalu ditambahkan dengan meroketnya harga minyak mentah dunia tahun lalu itu, ada sejumlah kebijakan yang kita tempuh untuk menyelamatkan ekonomi nasional kita sekarang dan ke depan, antara lain kenaikan harga BBM, yang tentu konsekuensinya menimbulkan inflasi, yang tentu dampaknya masih kita rasakan, belum pulihnya daya beli rakyat kita, yang tentunya mengganggu kehidupan mereka sehari-hari. Apapun yang kita lakukan tahun ini dan ke depan, policy apapun yang akan pemerintah ambil, pilihan-pilihan apapun yang akan kita pilih harus mengarah kepada pemulihan daya beli rakyat, penguatan basis ekonomi rakyat kita untuk kembali menjadi pelaku pembangunan yang bersama-sama kita semua dapat meningkatkan hasil pembangunan yang lebih baik lagi. This is our first challenge. Jangan keluar dari itu. Oleh karena itu, ketika saya sebagai top decision maker di negeri ini, have to make decision, saya harus ingat, inilah kondisi obyektif rakyat kita, masyarakat kita saat ini, tahun ini yang tidak bisa saya abaikan. Oleh karena itulah, pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan non ekonomi menjadi sangat penting. Pertimbangan sosial menjadi sangat penting, agar sekali lagi challenge yang pertama ini dapat kita jawab dan kita atasi.

The second challenge is perkembangan harga minyak dunia masih mencemaskan. Banyak yang meramalkan, jika harga minyak mentah yang sekarang 70 sampai 75 dolar per barel itu tidak turun dan bahkan naik, maka pengaruhnya terhadap ekonomi global, ekonomi nasional di seluruh dunia akan sangat besar. Diramalkan kalau sampai mencapai 100 dolar per barel, Asian Development Bank, saya kira sudah dengar ramalannya akan terjadi penurunan pertumbuhan di negara-negara Asia 0,6%, bahkan bagi negara yang sangat tergantung, negara konsumen besar itu bisa mengalami resesi, dan bisa bahkan bisa kolaps ekonomi nasionalnya. Dan ini dasyat, bukan hanya konsumen yang akan terpukul, produsen pun dalam mata rantai berikutnya lagi juga akan mengalami persoalan. Oleh karena itu, kita perlu mengembangkan energi policy yang tepat.

Tahun lalu, kalau saudara masih ingat bulan Agustus, saya sudah mengeluarkan energi policy. Sekarang saya pantau para pemimpin dunia, negara-negara maju pun mengeluarkan new energy policy yang mirip dengan energi policy kita, penghematan secara struktural dan berlanjut misalnya, diversifikasi, kemudian menambah volume productions dalam negeri yang tidak mengancam kepentingan jangka panjang, law enforcement, dan lain-lain. Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah kita harus bersiap, berjaga-jaga dengan segala yang kita persiapkan, jika harga itu tidak susut dan bahkan naik. Persoalan yang pertama ekonomi, yang kedua non ekonomi, supply dan demand. Demand luar biasa, negara maju, China, India, Amerika bahkan Indonesia sendiri adalah big consumers di dalam negeri ini. Nah kalau supply tetap, kalau OPEC dan non OPEC tidak memelihara kecukupan supply ini, terjadi off balance, imbalances dalam supply dan demand, dan harga secara ekonomi, pasti tidak akan turun. Belum faktor yang lain, psychological, politis dan sebagainya. Keadaan di Irak misalnya, Insya Allah besok Presiden Iran akan berkunjung ke Indonesia. Saya akan bicara dengan beliau, tentunya heart to heart tentang banyak masalah dan juga ada pertemuan D8, 8 negara Islam di Denpasar, saya menjadi host tentu juga akan membahas masalah-masalah ekonomi sekarang ini. Maknanya kalau kita tidak mengantisipasi sejak dini, pertumbuhan harga minyak ini, apalagi ditambah dengan peristiwa besar di Timur Tengah, di Iran, di Nigeria, dan lain-lain maka kita siap-siap menghadapi sesuatu yang besar, artinya policy baru, langkah baru, jurus baru, yang penting perhatikan bahwa daya beli masyarakat kita belum pulih betul. Mereka harus kita protect, harus kita lindungi. Dengan demikian, mari kita berpikir, mengolah akal, mencari solusi, agar apapun yang terjadi dengan gejolak harga minyak ini tidak menggoncangkan ekonomi kita yang sedang kita pulihkan dan bangun kembali.

Dari itu semua, maka tibalah saatnya saya mengajak, saya harap saudara-saudara semua, Perbanas, pimpinan perbankan, para bankir, Keluarga Besar Perbankan Nasional, yang saya mulai dari pertama, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan terlebih dahulu atas semua jerih payah, kerja keras, semangat yang saudara tunjukkan untuk terus berkontribusi dalam dunia perbankan dan dalam perekonomian nasional. Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan atas kegigihan itu.

Yang kedua, saya mengajak marilah kita tetap optimis dan percaya diri. Saya tidak ingin melihat satu pun diantara kita yang pesimis dan tidak percaya diri. Tetap optimis dan percaya diri, dunia perbankan kita Insya Allah dengan tegak, kerja keras akan makin sehat, makin kuat dan makin maju. Saya katakan berkali-kali, orang yang pesimis itu setiap melihat sesuatu yang dilihat masalahnya, ini masalah, ini lagi masalah. Tapi orang yang optimis, setiap masalah pasti ada solusinya, ada jalan keluarnya. Saya mengajak saudara-saudara tetap optimis dan percaya diri, bahwa semua masalah itu akan dapat kita atasi.

Yang ketiga, perbankan kita akan makin sehat dan kuat, jika ada kondisionalitasnya, ada persyaratannya. Langkah-langkah yang kita lakukan sekarang ini, penyehatan, penguatan, pengembangan, konsolidasi, restrukturisasi, ekspansi terus kita lakukan. Upaya ini akan berhasil, kalau sekali lagi, saudara, kita semua membangun good governance dan good corporate governance dan best practices. Jadikan bagian dari keseharian kita, nilai kita, behaviour kita, risk management yang makin baik, infrastructure building, termasuk IT yang makin bagus.

Saudara-saudara,

Dalam era globalisasi, termasuk kompetisi dunia perbankan yang survive, yang menang adalah mereka yang dapat memproduksi barang dan jasa yang better, cheaper and faster, bring technology, bring IT to that industry yang betul-betul saudara bisa memproduksi barang dan jasa itu, sekali lagi better, cheaper, faster, kalau tidak, kalah dalam persaingan.

Kemudian yang keempat, professional ethics. Kalau upaya penyehatan, penguatan, ekspansi itu dilakukan berpilarkan empat tadi. Saya yakin bahwa kemungkinan keberhasilannya akan tinggi. Yang keempat, dalam pengambilan keputusan, saya memantau banyak wacana, their orders courses tentang ini, pengambilan keputusan, misalnya penyaluran kredit. Ini sekarang menjadi bahan debat, menjadi penglihatan banyak pihak. Oleh karena itu, saya mengajak, menyeru saudara-saudara bahwa dalam pengambilan keputusan itu gunakan common sense dan business logic, common sense dan business logic. Non intervention, jangan dengarkan pihak-pihak yang ingin mencampuri yang out of business logic dan common sense. Tidak ada di negeri ini yang memaksa, yang mendikte, yang menekan saudara-saudara, para pengambil keputusan untuk akhirnya terjebak dalam sesuatu yang tidak kita harapkan. Dan tentunya pengambilan keputusan itu clean, corruption free. Kalau tidak itu dijalankan, ya saya percaya tidak akan ada masalah apapun.

Dan masuk pada masalah yang kelima, business judgment, saudara mempertimbangkan, ada faktor-faktor and then based on your judgment, you have to make decision. Pengambilan keputusan dalam bisnis itu yang diawali dengan business judgment itu bagian dari kewajiban profesional saudara sebagai bankr. Apabila meleset, tidak serta-merta, kita anggap sebagai kejahatan atau tindak pidana korupsi yang harus diadili. Ini sangat penting. Ini saya sampaikan pada jajaran penegak hukum tanpa mengurangi intensitas kita untuk membangun good governance dan memberantas korupsi, Kepolisian, Kejaksaan, Tipikor, KPK, segala macam bahwa business judgment part of the decision making. Kalau itu dijalankan dengan benar dan meleset, it is not crime by itself. Tidak bisa, wah ini korupsi, lihat dulu konteksnya, ini penting. Dan mari kita berada dalam mindset ini bersama-sama, tidak boleh ada penglihatan yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, yang keenam, teruslah berkontribusi untuk pengembangan ekonomi nasional. Saya mengatakan berkali-kali saudara, pada Triple Track Strategy, ekonomi akan tumbuh dan pertumbuhan ekonomi akan dapat kita alirkan, meningkatkan kesejahteraan rakyat apabila growth kita terus-menerus naik, through investment and eksport. Memang kalau investasi dan ekspor agak lesu, kita mengandalkan konsumsi. Konsumsi lesu, goverment spending yang kita tingkatkan. Sekarang ini kita sentuh empat komponen itu, tapi agar sustainable in the long run, kita perlu meningkatkan pilar investasi dan ekspor sebagai komponen utama dalam pertumbuhan iklim kita, dalam economy growth kita.

Track yang kedua adalah menggerakkan sektor riil, industri, pertanian, jasa. Kalau sektor riil bergerak di negara kita ini, seluruh Indonesia, bukan hanya di Jakarta, hampir pasti terjadi job creation, employment creation, pengangguran akan dapat kita kurangi. Job creation merupakan prioritas yang sangat tinggi ke depan.

Track yang ketiga adalah revitalisasi sektor pertanian dan pedesaan. Sangat penting, apalagi daya beli masyarakat belum pulih sekarang ini, for what? To reduce poverty. Kalau kemiskinan berkurang, menjadi adil pembangunan kita itu.


Saudara,

Dunia perbankan bisa masuk ditiga-tiganya, bisa berperan ditiga-tiganya, investment, export, real sector, agriculture and rural development, semua bisa masuk dan memang harus masuk. Ada peluang bisnis di situ, tapi ada misi nasional yang perlu dijalankan oleh saudara-saudara supaya semuanya bisa bergerak. Tidak mungkin tiga track itu berjalan dengan baik tanpa bantuan saudara, tanpa fungsi intermediasi saudara.

Dan yang terakhir yang ketujuh, meskipun secara teknis barangkali Saudara Gubernur Bank Indonesia yang lebih dekat dengan saudara mungkin di bidang BUMN, perbankan, Menteri BUMN mungkin, Menteri Keuangan, membahas sedikit masalah Perbankan BUMN memang perlu dibikin suatu conseptual design, gimana sebetulnya. Bank, bergerak di dunia usaha swasta, tapi own by the state, by the government, gimana ini? Kalau gak klop, kasihan. Kalau gak klop bermasalah, gimana kita meletakan dalam suatu a framework, a conceptual design, tunduk pada aturan mana itu sebetulnya, ini juga persoalan. Oleh karena itu, saya memang bekerja sama dengan Gubernur BI, mari kita tata, meletakkan letak yang bagus supaya juga punya level buying field, opportunity, punya ruang gerak yang kurang-lebih sama dengan bank-bank yang lain.

Saudara-saudara,

Ini negara, negara kita sendiri, bangsa ini, bangsa kita sendiri, yang bikin Undang-Undang kita sendiri, yang membikin rancang bangun kita sendiri. Kalau kenyataannya BUMN kita ini, kadang-kadang kok sulit ya, hidup segan, mati tak hendak, beberapa, tidak semuanya, semuanya bagus. Mungkin ada kesalahan struktural, mungkin ada framework yang tidak benar, tolong ini banyak sekali orang-orang cerdas di depan saya ini, bantu saya, bantu Gubernur BI, bantu kita semua bagaimana kita membangun conseptual design, membangun framework yang pas untuk yang namanya BUMN ini. BUMN tidak boleh menjadi PT. Susah Maju, tidak boleh menjadi PT. Rugi Abadi, segera meningkatkan laba bersihnya, segera meningkatkan pajaknya kepada negara.

Nah, yang ketujuh tadi, meskipun Pak Burhannudin Abdullah, Pak Giharto, mungkin Ibu Sri Mulyani Indrawati lebih dekat sama saudara, saya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan siap bersama-sama saudara. Saya siap menjadi bagian dari solusi. Kalau ada masalah yang sangat pelik di luar kemampuan saudara, apalagi masalah yang aneh, bersama Gubernur BI, saya bersedia mencarikan solusinya. Saya bukan orang lain, saya ingin bersama-sama saudara-saudara.

Demikianlah saudara-saudara sekalian,

Yang dapat saya sampaikan dan akhirnya dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Kongres Perbanas ke-16 dan Konferensi dan Eksebisi APCONEX 2006 dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Selamat berjuang, Tuhan beserta kita.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

******

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan