Pidato Presiden
Sambutan pada HUT Ke-26 Perpusnas dan Pencanangan Gerakan Pemberdayaan Perpustakaan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
HARI ULANG TAHUN KE-26 PERPUSTAKAAN NASIONAL RI
DAN PENCANANGAN GERAKAN PEMBERDAYAAN
PERPUSTAKAAN DI MASYARAKAT TAHUN 2006
GEDUNG PERPUSTAKAAN NASIONAL-JAKARTA, 17 MEI 2006
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat Sore,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Pendidikan Nasional dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Ibu Negara dan Ibu Muhammad Jusuf Kalla,
Yang saya hormati Saudara Gubernur DKI Jakarta dan para Bupati, Walikota,
Yang saya hormati para sesepuh,
Yang saya hormati Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia,
Saudara Duta Baca Kita Bung Tantowi Yahya, juga Ambassador Of Country Music saya kira,
Hadirin Keluarga Besar Perpustakaan Nasional yang saya muliakan,
Sebelum saya menyampaikan sambutan pada acara yang penting ini, ingin saya sampaikan bahwa semula acara ini dilaksanakan pagi hari pukul 10.00 WIB kemudian ditunda menjadi pukul 14.00 WIB bukan kekhilafan atau kesalahan Kepala Perpustakaan Nasional, itu karena saya. Jadi kalau ada yang merasa repot dengan pergantian atau perubahan waktu, saya yang mengakibatkan perubahan waktu itu karena kemarin saya harus berangkat ke Jawa Tengah meninjau saudara-saudara kita, baik yang ada di pengungsian maupun di tempat-tempat untuk penanganan bencana baik itu di Provinsi Jawa Tengah baik maupun di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan tadi malam saya bermalam di posko penanggulangan bencana dengan para Menteri, para pejabat daerah, para petugas untuk dua hal.
Yang pertama, mari kita merasakan saudara-saudara kita yang juga ada di daerah pengungsian di satu kecamatan di lereng gunung Merapi, tetapi cukup aman dengan demikian kita pilih sebagai salah satu tempat penampungan sementara. Yang kedua, kita merasakan kalau tidur di tenda persoalan yang dihadapi masalah air, mandi, buang air besar, buang air kecil, tempat sampah, pemeriksaan kesehatan dan lain-lain. Kalau para pemimpin, para pejabat ikut merasakan kesulitan, kesukaran dan penderitaan seperti itu untung hanya satu malam, mereka berminggu-minggu. Harapan saya, pastikan betul bahwa fasilitas itu ada. Dengan demikian, meskipun di daerah pengungsian yang Insya Allah bisa kita selamatkan dari bencana, tetapi mereka harus mendapatkan bantuan agar bisa menjalani kehidupan sehari-harinya. Kami kembali tadi siang, oleh karena itulah, akhirnya acara yang harusnya dilaksanakan tadi pagi berubah menjadi sekarang ini. Jadi supaya nanti tidak ada yang ngerasani Beliau, Pak Dady Rachmananta, kalau ngerasani, ngerasani Pak SBY.
Hadirin sekalian yang saya cintai dan saya banggakan,
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional RI ke-26, serta pencanangan “Gerakan Pemberdayaan Perpustakaan di Masyarakat”. Pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya ingin menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Perpustakaan Nasional, atas pengabdian saudara-saudara selama ini. Semoga peran dan pengabdian saudara-saudara, dapat lebih ditingkatkan lagi di masa yang akan datang.
Sebagaimana kita ketahui bersama, Perpustakaan Nasional merupakan salah satu perpustakaan terbaik, kebanggaan kita semua. Kita patut bersyukur, perpustakaan ini memiliki beragam jenis dan ribuan koleksi kepustakaan, mulai dari kepustakaan yang paling tua, hingga paling mutakhir. Saya tahu, selain menyediakan buku-buku terbitan terbaru dan bahan-bahan audiovisual, perpustakaan ini, juga menyimpan koleksi naskah-naskah kuno, manuscript. Sebagian dari kita, mungkin sudah lupa bahwa kita memiliki naskah Hikayat Hang Tuah dari Melayu, naskah Carita Parahyangan dari Sunda, Babad Tanah Jawi dari Jawa, dan naskah La Galigo dari Makassar. Naskah-naskah itu ditulis berabad-abad yang lalu sebagai hasil kreativitas nenek moyang bangsa kita, dari berbagai suku bangsa di tanah air. Naskah-naskah itu, ada yang ditulis di atas daun lontar, kulit kayu, dan daluang, dengan huruf Arab Melayu, Sunda, Jawa, dan Bugis dan lain-lain. Isinya, memberikan informasi tentang hikayat, babad, silsilah, dan berbagai informasi mengenai kehidupan masa silam, mengenai peradaban kita di masa lalu. Hal ini menunjukkan, bahwa nenek moyang kita dulu, telah memberikan teladan dalam budaya menulis dan budaya membaca.
Kemampuan menulis dan membaca nenek moyang kita itu, penting untuk kita teladani bersama. Sebab dewasa ini, budaya menulis dan membaca di kalangan bangsa kita, seolah-olah mengalami penurunan. Sampai saat ini, sebagian besar bangsa kita, masih terbiasa dengan budaya lisan dan budaya tutur. Bahasa lisan dan budaya tutur Itu mengalami kerawanan manakala dari narasumber ke narasumber yang lain seiring dengan pergantian jaman terjadi perbedaan versi penyimpangan, distorsi sehingga yang diceritakan seratus tahun yang lalu bisa berubah dua puluh lima tahun kemudian, berubah lagi dua puluh lima tahunnya lagi dan seterusnya yang disebut subversi. Versi yang berbeda-beda dari versi aslinya. Oleh karena itu, bangsa yang maju lebih berorientasi pada budaya tulis dibandingkan budaya tutur dan budaya lisan.
Membaca, masih belum dirasakan sebagai kebutuhan untuk memperluas pengetahuan dan wawasan. Padahal, bukankah Allah SWT mewajibkan umatnya untuk membaca? Membaca, merupakan kegiatan dan kemampuan yang perlu terus-menerus ditingkatkan. Kemampuan membaca tidak terjadi secara tiba-tiba. Kemampuan itu, harus didahului oleh aktivitas dan kebiasaan. Saya kira ibu-ibu semua punya pengalaman empirik bagaimana pertama kali mengajari putra-putrinya membaca. Ini suatu perjuangan yang luar biasa, karena saya sebagai seorang suami harus memberikan rasa hormat kepada istri yang menuntun, membuka pikirannya, mengajak, mendorong dan memberi contoh untuk membaca kepada putra-putrinya itu.
Kebiasaan membaca ini merupakan wujud dari adanya minat baca. Karena itulah, salah satu peran penting dari perpustakaan adalah ikut serta menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya minat baca. Upaya itu, dapat dilakukan dengan menyiapkan bahan bacaan yang memikat dan menarik. Dengan bahan bacaan yang memikat, masyarakat akan tertarik untuk datang dan memanfaatkan koleksi perpustakaan. Dengan memanfaatkan koleksi perpustakaan yang tersedia, masyarakat kita diharapkan menjadi lebih cerdas, lebih beradab, dan lebih berakhlak mulia.
Hadirin sekalian,
Upaya menumbuhkan minat baca, akan lebih mudah dan efektif jika dimulai sejak dini. Ibarat kata pepatah: “Akan lebih mudah meluruskan batang pohon ketika ia masih kecil, daripada meluruskannya, setelah tumbuh menjadi besar”, mari kita renungkan. Kita punya pengalaman masing-masing di dalam mendisain pohon-pohon di rumah kita, bonsai kita, tumbuh-tumbuhan yang ada di rumah kita. Saya mengajak seluruh keluarga di tanah air, marilah kita tumbuhkan minat baca kepada anak-anak kita. Berikanlah arahan, bimbingan, dan contoh, agar anak-anak kita terbiasa membaca. Mulailah membiasakan memberikan hadiah berupa buku. Ini juga kepada para Menteri, para Gubernur, Bupati, Walikota, kalau bepergian dan harus memberikan oleh-oleh, berilah buku, satu, dua, tiga buku sebagai buah tangan, kasihkan ke perpustakaan masing-masing. Termasuk tokoh-tokoh masyarakat, termasuk mereka-mereka yang memiliki harta lebih, saya kira pahalanya akan tinggi kalau membeli buku disumbangkan kepada perpustakaan, apakah perpustakaan statis, apakah perpustakaan keliling nantinya. Biasakanlah mengajak putra-putri kita ke toko-toko buku, dan berkunjung ke perpustakaan.
Saudara-saudara,
Sebagian dari saudara-saudara mungkin sering acara kunjungan saya ke daerah-daerah di seluruh tanah air, di kabupaten, kecamatan, desa. Saya selalu berkunjung ke sekolah-sekolah apakah SD, SMP, SMA, Universitas, termasuk sekolah pendidikan agama. Yang saya lihat pertama-tama adalah fasilitas MCK. Kamar mandinya, WCnya, tempat buang air kecilnya. Kalau baik, bersih tidak bau, airnya mengalir sudah saya kasih tambah satu plus poin satu untuk sekolah itu. Yang kedua, saya lihat tempat pembungan sampah, tong-tong sampahnya dimana, tempat sampahnya dimana. Kalau ada dan bersih, sekolah itu, ruangannya, di luarnya, halamannya tambah plus poin satu, dua. Nah yang terakhir ada nggak perpustakaan sekolah? Jangan dikira SD yang nun jauh di sana, dipelosok-pelosok perpustakaannya lebih miskin, lebih kecil, lebih kurang terawat dibandingkan di kota-kota besar, belum tentu. Ada SD di ujung desa perpustakaannya baik, terawat, yang pinjam banyak, yang baca banyak, tambah satu plus, poin 3. Mengapa?
Saudara-saudara,
Pepatah tadi semasa batang itu masih muda, masih lunak, bisa kita bentuk daripada sudah keras umurnya 30 tahun. Sama dengan anak-anak kita, TK, SD, SMP utamanya, itu sekitar 10 tahun. 10 tahun itulah yang disebut formative year. Artinya apa? 10 tahun itu putra-putri kita bisa dibentuk wataknya, nilainya, perilakunya, kebiasaannya. 10 tahun TK, SD, SMP mereka buang sampah di tempatnya, tidak pernah sampah berserakan satu kertas pun, satu kulit jeruk pun. 10 tahun dia membiasakan itu, dia akan menjadi manusia yang cinta kebersihan. Kalau luarnya bersih Insya Allah dalamnya bersih. Yang kedua dia membuang air di tempatnya, bersih, tidak bau, airnya ada. Rumah tangga nanti merawat satu gedung, instansi Insya Allah akan kebawa demikian juga perpustakaan SD, SMP, sepuluh tahun dibiasakan membaca, gemar ke perpustakaan akan menjadi tabiat, akan menjadi karakter, menjadi orang yang memiliki yang disebut intelectual curiosity yang tinggi.
Oleh karena itu, sejalan dengan apa yang kita canangkan ini, mari kita lakukan bersama para pimpinan, beserta ibu-ibu teruslah berkunjung ke sekolah-sekolah, lihatlah hal-hal seperti itu sepertinya biasa-biasa saja, tetapi luar biasa hasil yang kita capai tadi. Pendidikan itu bukan sekedar mentransfer ilmu, tetapi juga membangun watak, prilaku dan nilai.
Hadirin yang saya muliakan,
Di tengah-tengah kesibukan saya sebagai kepala negara, saya pun berupaya meluangkan waktu untuk membaca buku dan menyempatkan mengunjungi perpustakaan. Beberapa waktu lalu, saya mengundang Kepala Perpustakaan Nasional kita, Pak Dady Rachmananta ke Cikeas ke rumah saya. Saya minta beliau dengan staf, untuk membenahi perpustakaan yang ada di rumah saya di Cikeas dan saya mohon pada beliau dan teman-teman di perpustakaan ini setelah rapi saya mulai dari rumah sendiri. Saya ingin menata perpustakaan Istana-Istana Negara, baik di Jakarta, di Bogor, di Yogyakarta dan di tempat-tempat yang lain. Alangkah tidak eloknya bila Istana Presiden tidak ada perpustakaannya, tidak ada library-nya. Padahal buku-buku peninggalan Bung Karno cukup banyak, demikian juga beberapa Presiden yang lain, ada beberapa buku-buku harus kita abadikan, kita rawat, dan kita kembangkan terus.
Pembenahan perpustakaan itu saya anggap penting, karena perpustakaan memiliki peran yang sangat berarti dalam menyediakan bahan pustaka dan sumber informasi yang saya perlukan. Sumber-sumber informasi itu, dapat menjadi sumber inspirasi dalam meningkatkan wawasan, ilmu pengetahuan, dan bahkan ketika mengambil keputusan. Kalau di perpustakaan ini kalau saya dengar dari jumlahnya hampir 1,3 juta buku. Perpustakaan di rumah saya saya kumpulkan selama 35 tahun jumlahnya 13.000 lebih. Jadi 1 % dari jumlah buku yang ada di Perpustakaan Nasional ini.
Kita menyadari bahwa ketersediaan sumber informasi di perpustakaan saat ini kurang diimbangi oleh kesadaran masyarakat akan pentingnya perpustakaan sebagai bagian dari kehidupan keseharian bangsa kita. Perpustakaan sebagai bagian dari sarana belajar sepanjang hayat, nampaknya belum menjadi kebutuhan pokok. Saya mengajak seluruh elemen masyarakat, untuk bersama-sama mendukung setiap upaya pengembangan dan pemberdayaan perpustakaan. Saya berharap, Perpustakaan Nasional dapat menjadi pelopor dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sadar perpustakaan.
Saudara-saudara
Bulan lalu, saya melaksanakan kunjungan ke negara-negara sahabat di Timur Tengah, di samping yang lain-lain saya juga mengamati, mempelajari, melihat bagaimana pendidikan dikembangkan di negara-negara itu, termasuk library, termasuk apakah reading society telah tumbuh berlaku di negara-negara itu luar biasa. Qatar misalnya, Persatuan Emirat Arab misalnya maju. Belum Singapura luar biasa. Malaysia dan apalagi negara Eropa, Jepang, dan Amerika. Ada jarak, marilah kita kejar jarak ini supaya semakin pendek. Kita bisa, Insya Allah bisa, untuk mengejar ketertinggalan ini. Dan gap ini bukan hanya Indonesia dengan negara lain yang lebih dahulu, tetapi diantara kita sendiri. Intelectual gap ini harus kita perkecil, antara kita yang mengenyam pendidikan yang relatif lebih baik, dibandingkan saudara-saudara kita di seluruh tanah air. Mari kita perkecil gap ini, sebab intelektual gap merupakan salah satu sumber permasalahan di negara kita ini.
Saudara saudara,
Yang kita tuju, Insya Allah 30 tahun ke depan adalah Indonesia sebagai bangsa yang maju, masyarakat yang maju, advanced society. Masyarakat seperti itu, pastilah masyarakat yang menguasai ilmu pengetahuan, informasi, termasuk teknologi, knowledge based and information society. Menuju ke situ tidak tiba-tiba, harus didahului, berangkat dari masyarakat belajar, learning society. Untuk menjadi masyarakat belajar, masyarakat yang belajar menjadi bagian dalam kehidupannya harus diawali dengan masyarakat yang gemar membaca, reading society. From reading society to learning society to knowledge based and profesional society, and then menjadi advanced society. Meskipun relatif panjang, mari kita lalui itu semua dengan percepatan-percepatan yang kita lakukan.
Hadirin yang saya muliakan,
Di era globalisasi dewasa ini, perkembangan teknologi dalam memberdayakan peran perpustakaan, sudah merupakan kebutuhan. Era perpustakaan digital dan keberadaan e-mobile library, perpustakaan keliling digital perlu disikapi secara positif. Demikian pula kemudahan akses masyarakat ke perpustakaan melalui internet, perlu direspon dan terus dikembangkan. Melalui pelayanan dan kemudahan akses, masyarakat akan lebih tertarik mengunjungi perpustakaan. Minat berkunjung ke perpustakaan, akan mempercepat proses menuju bangsa yang cerdas dan berbudaya ilmiah.
Mengingat pentingnya perpustakaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pada masa kini dan masa yang akan datang, saya mengajak seluruh komponen masyarakat untuk menyukseskan “Gerakan Pemberdayaan Perpustakaan di Masyarakat” yang akan kita canangkan bersama-sama pada hari ini. Wujud dari gerakan ini, adalah dengan mengembangkan semua jenis perpustakaan pada setiap kantor pemerintah dan swasta, hendaknya dibangun dan dikembangkan perpustakaan, khusus untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas para karyawannya. Seluruh lembaga pendidikan, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, hendaknya berupaya dengan sungguh-sungguh melengkapi koleksinya dengan bahan bacaan yang memadai. Demikian pula, taman bacaan dan sejenisnya, seyogyanya dapat diperluas keberadaannya, tidak hanya di sekitar kantor pemerintahan saja, tetapi juga di tempat-tempat pelayanan publik, misalnya, stasiun kereta api, bandar udara, mall, hingga rumah-rumah ibadah.
Perpustakaan umum yang telah tersedia di seluruh provinsi, kabupaten, kota hingga kecamatan, perlu terus-menerus ditingkatkan peran dan fungsinya. Perpustakaan keliling yang berada di setiap kabupaten, kota, perlu ditingkatkan pelayanannya dan diperluas jangkauannya, hingga ke pelosok-pelosok desa. Ketersediaan bahan bacaan yang dapat menjangkau kepentingan lapisan masyarakat luas, sampai ke pelosok, daerah terpencil dan perbatasan, perlu mendapatkan perhatian semua pihak.
Tadi kita menyaksikan kerjasama antara SIKIB, Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu dengan Perpustakaan Nasional, saya berikan penghargaan. Dan selama ini, tadi juga ditandai dengan pemberian motor pintar, saya kira di luar kelihatan tadi. Kepada pimpinan daerah, pimpinan Instansi kepada Pak Menteri sendiri yang sering mengunjungi saudara-saudara kita yang berada di daerah daerah tertinggal untuk menggalakkan, mengkampanyekan, menyebarluaskan minat baca ini. Saya hargai organisasi itu, saya kira juga bekerja sama dengan Universitas Negeri Jakarta, juga dengan PPSN, ada motor pintar, ada mobil pintar, ada rumah pintar. Mudah-mudahan di seluruh Indonesia mulai dikembangkan mungkin nanti ada perahu pintar. Karena diantara pulau-pulau kecil, yang belum pernah ke pelosok-pelosok, apa perlu Pak? Perlu. Antar desa hanya lewat sarana laut, mungkin ada kapal kecil, perahu pintar apapun yang penting, tolong diberikan kesempatan saudara-saudara kita untuk menambah pengetahuan dan mendapatkan informasi.
Tidak kalah pentingnya, dalam upaya menumbuhkan pemberdayaan perpustakaan di masyarakat, adalah kehadiran perpustakaan di lingkungan keluarga, mulai dari keluarga kita sendiri. Setiap keluarga, sebaiknya menyediakan buku-buku bacaan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi keluarganya. Kehadiran perpustakaan keluarga, selain dapat menumbuhkan minat baca, juga akan memberikan kehangatan dan keakraban di antara sesama anggota keluarga. Keluarga cerdas, dapat dimulai dari tersedianya bacaan di keluarga itu.
Untuk mewujudkan hal-hal yang saya kemukakan tadi, tentunya memerlukan partisipasi seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, belum dapat memenuhi fasilitas perpustakaan, terutama di tempat-tempat publik. Karena itu, saya mengharapkan adanya partisipasi dan kontribusi dari sektor swasta untuk dapat mewujudkannya. Saya yakin dan percaya, dengan kerjasama yang baik di antara seluruh elemen masyarakat, cita-cita luhur yang kita canangkan bersama, dapat terwujud sesuai dengan harapan kita semua.
Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya ingin sekali lagi menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pustakawan di seluruh tanah air. Peran dan pengabdian Saudara-saudara dalam melayani kebutuhan bahan bacaan bagi masyarakat, sangat penting artinya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Khusus kepada para petugas Perpustakaan Keliling di seluruh pelosok tanah air, saya ingin menyampaikan salam dan penghargaan atas pengabdian Saudara-saudara.
Akhirnya, dengan memohon ridho Allah SWT dan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, ”Gerakan Pemberdayaan Perpustakaan di Masyarakat”, saya canangkan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan bimbingan, petunjuk dan lindungan-Nya kepada kita sekalian.
Sekian.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



