Pidato Presiden

Sambutan Peresmian Pemanfaatan BBG

 

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMASYARAKATAN PEMANFAATAN BBG PADA KENDARAAN BERMOTOR
JL. PERINTIS KEMERDEKAAN, JAKARTA TIMUR, 20 MEI 2006


Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat Sore
Salam Sejahtera untuk kita semua


Yang saya hormati saudara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral,
serta para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Saudara Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia,
Saudara Gubernur DKI Jakarta, dan para pimpinan serta pejabat di Jakarta,
Baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Para pimpinan Badan-Badan Usaha Milik Negara, para sesepuh,

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Hari ini kita bersyukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul bersama-sama pada Peresmian Gerakatan Pemasyarakatan Pemanfaatan Bahan Bakar Gas atau BBG pada Kendaraan Bermotor. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya, khususnya kepada Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, yang telah memelopori pemanfaatan BBG bagi kendaraan bermotor.

Kita menyadari, bahwa dengan semakin berkurangnya cadangan minyak bumi dunia, kita perlu segera beralih kepada sumber energi lain. Disamping itu, BBM juga dikenal sebagai pemicu polusi udara. Salah satu alternatif pengganti BBM adalah BBG dari bahan bakar minyak, menjadi bahan bakar gas. Pemanfaatan BBG dapat memberikan beberapa keuntungan, sebagaimana disampaikan saudara Menteri ESDM dan Gubernur DKI Jakarta tadi. Dibandingkan tentunya dengan BBM antara lain lebih akrab lingkungan, lebih murah dan lebih irit atau lebih efisien.

Sesungguhnya, BBG telah mulai ditetapkan pemerintah sebagai bahan bakar kendaraan sejak bulan Juni 1986. Ketetapan itu diberlakukan dalam rangka program diversifikasi, konversi energi dan langit biru. BBG baru dapat dipasarkan secara komersial pada tahun 1989. Namun, kita masih mengalami kendala dalam hal pengadaan stasiun pengisi BBG atau SPBG yang belum sebanyak SPBU untuk BBM. Karena itu pengguna BBG sampai saat ini masih terbatas.

Dengan semangat menerapkan kebijakan energi nasional 2006-2025, kita terus berupaya dengan sungguh-sungguh memanfaatkan BBG sebagai energi alternatif. BBG sudah waktunya di masyarakatkan penggunaanya, terutama di kota-kota besar. Dengan tingkat pencemaran udara yang cukup tinggi, seperti di Jakarta yang kita cintai ini, BBG dapat menekan tingkat pencemaran udara itu pada tingkat yang lebih rendah.

Sebagaimana kita ketahui saat ini, tadi, pak Menteri sudah menjelaskan, kita nomor 3 dari segi pencemaran udara, dari segi polusi setelah Meksiko City dan Bangkok, kalau dari segi jumlah penduduk, saya cek tadi kita nomor 4. Jadi dari segi polusi nomor 3, dari segi populasi nomor 4, dekat-dekatan. Mestinya diatas kita kalau dari segi jumlah penduduk, Beijing barangkali, Shanghai barangkali, Delhi barangkali, ataupun New York. Dikatakan tadi, hampir 80% pencemaran udara di Jakarta disebabkan oleh emisi bahan bakar minyak dan solar dari kendaraan bermotor.

Pengembangan BBG untuk transportasi merupakan salah satu perwujudan dari program langit biru. Untuk memasyarakatkan dan meningkatkan penggunaan BBG, pemerintah akan melakukan revitalisasi terhadap stasiun pengisian bahan bakar gas atau SPBG, lebih cepat, lebih bagus. Disini ada Menteri ESDM, ada Menteri Negara BUMN, ada Dirut Pertamina, Dirut PGN ada juga.

Saya kira, mari untuk bersama Pak Gubernur, kita lakukan percepatan pembangunan SPBG ini. Hal ini diperlukan untuk menghemat waktu pengisian BBG menjadi lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Selain itu, pemerintah merencanakan pula untuk penambahan SPBG dan infrastruktur lainnya.

Saudara sekalian, kita patut bersyukur dan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pemda DKI Jakarta, yang memelopori pemanfaatan BBG bagi kendaraan bermotor, khususnya di jalur bus way. Dalam waktu dekat kendaraan umum, taksi, bajaj dan bus serta kendaraan pribadi dapat beralih dari BBM ke BBG. Karena itu, sosialisasi penggunaan BBG dan pembangunan infrastrukturnya harus terus menerus dilakukan. Dan didukung oleh semua pihak. Kita harus menghargai langkah Pemda DKI Jakarta yang mengharuskan Trans Batavia, betul namanya begitu, Pak? dan bajaj versi peremajaan untuk menggunakan BBG.

Saya berharap agar Pemda DKI Jakarta melakukan langkah-langkah penyempurnaan dan pelayanan dalam penggunaan BBG ini. Berikanlah kemudahan akses bagi masyarakat ketempat-tempat pengisian BBG. Perbanyaklah jumlah kendaraan yang menggunakan bahan bakar gas beserta ketersediaan bengkel dan suku cadangnya. Harus integrated, harus total.

Dengan demikian, kalau ada satu masalah bisa segera dicarikan solusinya. Berikan pula jaminan rasa aman kepada pengguna BBG agar lebih banyak lagi anggota masyarakat yang beralih menggunakannya. Jangan sampai karena kurang komunikasi, karena kurang sosialisasi terdapat kekhawatiran atau ketakutan menggunakan BBG. Kita yakinkan kepada masyarakat bahwa ini aman.

Dengan semakin banyaknya pengguna BBG, berarti kita telah berupaya bersama-sama menekan tingkat pencemaran udara di Jakarta. Kita menyadari bahwa warga masyarakat belum dapat menerima sepenuhnya penggunaan BBG untuk transportasi. Hal itu dikarenakan masih ada kekhawatiran dari sisi keamanan. Untuk itu saya mengingatkan, perlunya upaya untuk melakukan standarisasi tabung gas. Itu yang pertama. Yang kedua, akreditasi bengkel, dan yang ketiga, sertifikasi teknisi. Kalau tiga-tiganya aman, tabung gasnya, bengkelnya sahih, teknisinya bisa diyakini ketrampilannya. Insya Allah semuanya akan berjalan dengan baik. Untuk itu, pemerintah berupaya mendorong pengembangan BBG melalui pemberian berbagai kemudahan.

Kemudahan-kemudahan itu, antara lain penurunan harga jual gas bumi Pertamina, pemberian bantuan convertion aid, pengurangan biaya listrik PLN melalui perubahan golongan tarif pelanggan untuk SPBG. Selain itu diupayakan pula pengurangan bea masuk, penurunan pajak bahan bakar kendaraan bermotor dan pengurangan tariff tol Vpipa untuk gas bumi oleh Perusahaan Gas Negara.

Saya menghargai inisiatif dan keberanian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memulai memasyakatkan BBG di sektor transportasi umum. Khususnya Trans Batavia dan taksi.

Saya mengharapkan agar dapat dikembangkan untuk modal angkutan lainnya. Upaya yang baik ini, mudah-mudahan dapat segera diikuti oleh daerah-daerah lain. Saya juga menyambut baik inisiatif Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral untuk pemanfaatan BBG, baik untuk keperluan transportasi maupun keperluan rumah tangga.

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Sebelum saya mengakhiri sambutan saya ini, saya ingin menyampaikan bahwa masalah energi dan masalah lingkungan adalah dua faktor yang sangat-sangat penting bagi keberlanjutan kehidupan sustainability bagi kehidupan kita semua.

Tadi malam, saya dengan berjalan darat melalui jalan tol Cipularang masuk Bandung, dalam keadaan hujan. Kemudian, begitu keluar tol Pasteur, mulai menyengat bau sampah. Dalam perjalanan saya mendapatkan penjelasan dari Sekretaris Kabinet, Pak Menteri Lingkungan Hidup pun Pak Rahmat Witoelar sudah ikut turun tangan. Menyengat, begitu masuk sampai di Ciampelas baunya kurang sedikit, tapi masih terbau. Kemudian mulai masuk jalan Dago, Dago mulai bebas. Begitu sampai di penginapan disambut oleh pak Gubernur, pertanyaan saya pertama, bagaimana sampahnya? sudah bisa diatasi belum? Nah, sepanjang jalan rakyat yang ada di kiri kanan jalan, sambil melambai-lambaikan tangan, sambil juga teriak Pak SBY sampah, pak SBY sampah. Jadi rupanya penduduk Bandung juga seperti itu.

Ketika tadi, selesai kita melakukan lari 10 kilo meter yang diikuti lebih dari 50 ribu. Jadi Bandung lautan merah putih karena kostum yang digunakan pelari dalam naungan Gema Nusa, Gerakan Membangun Nurani Bangsa oleh Aa Gym untuk Merah Putih, masih ada sedikit di kantong-kantong tertentu yang ada bau-bau sampah. Di depan saya tadi, diatas panggung, Walikota mengatakan Insya Allah Selasa sudah beres, karena ada tempat penampungan di Garut. Kalau tidak beres mau saya ambil alih. Bayangkan, Presiden harus mengambil alih persoalan sampah di kota Bandung.

Sampah ini perlu sosialisasi, penjelasan yang gamblang pada masyarakat. Malu kita dilihat oleh bangsa-bangsa lain di dunia, ngurus sampah saja ndak bisa. Mengenai sampah saja masyarakat tidak paham. Tiap hari sampah diproduksi, berarti tiap hari sampah dibuang.

Dengan system dan teknologi teknologi dan sistem yang baik, mari kita jelaskan. Kalau nggak dibuang, penyakit berkembang. Biayanya sangat besar, bukan hanya material tapi juga jiwa. Pilihannya adalah, kalau yang biasa dibuang di tempat pembuangan sampah, TPA perlu areal. Ada metodologi yang lain yang tidak memerlukan tempat yang lebih luas. Dengan teknologi dan mesinisasi sehingga lebih sip, sehingga dampak lingkungannya lebih baik. Nah, kalau dua-duanya tidak terjadi, seperti Bandung. Alhamdulilah sudah ada komitmen dengan Kabupaten Garut, akhirnya dibuang di Garut.

Saya meminta Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Dalam Negeri, para Gubernur untuk segera merumuskan, terutama di kota-kota besar, ajak bicara masyarakat yang gamblang, yang jelas. Jangan ada provokasi-provokasi yang tidak relevan dengan usaha lingkungan hidup, dengan kesehatan dan bagaimana kita membuang sampah itu. Bayangkan kalau Bandung lautan api tadi, disebut Bandung lautan sampah. Mudah-mudahan Selasa, betul-betul bersih. Tolong Pak Rahmat, chek nanti, Pak Seskab semua, mudah-mudahan betul seperti itu.

Mengapa saya bicara lingkungan Saudara-saudara? sekarang ini pembangunan secara untuk yang dulu itu dilihat dari tiga aspek kriteria keberhasilannya. Pertama, adalah bagaimana pendidikannya melek hurufnya. Yang kedua, dari kesehatannya seperti apa, berapa harapan hidup. Dan yang ketiga, pendapatan sehari-hari. Itulah yang disebut human development index, dibikin peringkat sedunia ini. Indonesia peringkatnya belum baik benar. Kita harus berjuang keras. Nah, sekarang yang tadinya tiga, sekarang menjadi diamond, development diamond. Pertama tetap kesehatan, pendidikan dan pendapatan sehari-hari yang satu lagi ini lingkungan. Tidak ada artinya kita membangun semuanya itu. tetapi kita careless, kita mengabaikan, kita ceroboh terhadap lingkungan.

Pemimpin sekarang ini, termasuk di Indonesia, kita semua, yang dalam melakukan pembangunan tetap mengabaikan lingkungan, saya ulangi lagi mengabaikan aspek lingkungan pemimpin yang tidak bertanggungjawab. Marilah kita mulai. Tadi saya pulang lewat Cipularang lagi, berhenti di tempat rest area, saya masuk disitu lalu masuk kamar mandi, kamar kecil saya puji airnya mengalir, bersih, tidak bau, tapi ada sawang yang diatas saya suruh bersihkan. Kalau tempat seperti itu, orang dari Bandung-Jakarta, Jakarta-Bandung, wisatawan datang, airnya bersih, tidak bau, kemudian airnya mengalir, senang, itu bagian dari lingkungan. Sampah tidak berserakan di tong-tongnya, itu bagian dari lingkungan. Hijau, semua hijau, bagian dari lingkungan.

Saatnya menanam, bukan menggunduli, banjir dimana-mana. Itu careless, apa namanya kecerobohan kita bertahun-tahun barangkali, belasan tahun, mungkin puluhan tahun, akibatnya sekarang. Tidak usah kita menoleh kebelakang, mari kita sekarang melihat kedepan, kita lakukan sesuatu. Oleh karena itu di Tegal Lega tadi, saya bicara diatas panggung, di depan limapuluh ribu lebih saudara-saudara kita, saya katakana, setelah merdeka negeri kita ini. setelah mengalami krisis negeri yang luar biasa dulu, saatnya kita membangun, bukan merusak. Membangun bukan merusak. Kita mengumpulkan uang, segala macam membangun ini, mendirikan itu, tiba-tiba dirusak sekejap, menangis, menyesal kita. Sekarang saatnya menanam bukan memotong dan menggunduli secara tidak bertanggungjawab. Untuk anak cucu kita, untuk masa depan kita. Dan saatnya kita bersatu sekarang ini, melangkah bersama, bukan bercerai berai dan bermusuhan.

Saya mengajak seluruh bangsa Indonesia, mari kalau kita ingin selamat dan maju menjadi bangsa yang kita idam-idamkan. Mari kita gelorakan, membangun dan bukan merusak, menanam dan bukan menebang, menggunduli, bersatu dan bukan kita bermusuhan atau berjarak.

Lingkungan, saya minta perhatian kita semua. Saya sudah mulai senang Jakarta makin hijau, tapi per hijau lagi, Pak Sutiyoso. Saya juga lihat tadi, sepanjang jalan menuju ke Padalarang ada median, itu ditanam Bougenville, ditengahnya bagus sekali, bikin hijau, bikin indah. Dulu Bandung Paris van Java 35 tahun yang lalu barangkali. Sekarang, bikin lagi lah Paris van Java lagi, Mari bikin semuanya menjadi tentram hidup di negeri sendiri. Lingkungan.

Yang kedua, energi, Saudara-saudara saya kira yang mengikuti berita media massa dalam dan luar negeri, harga minyak dunia masih 70 dollar per barrel, masih fluktuatif sedikit. Tapi sekitar-sekitar itu, artinya apa, kalau tren ini berlanjut, apalagi makin mahal, dunia menghadapi krisis global. Krisis energi global. Kecuali ada solusi yang kita garap bersama-sama, bukan hanya Indonesia, tetapi juga global solution, global action, global commitmen. Mengapa? Kebutuhan energi naik terus. Apalagi India, China, raksasa yang sedang bangkit itu mengkonsumsi luar biasa energi. negara-negara barat seperti Amerika, Indonesia pun ternyata mengkonsumsi energi dalam jumlah yang besar. Padahal deposit energi kita, apalagi fosil itu susut terus, dari masa ke masa.

Indonesia berkali-kali saya katakan, cadangan minyak bumi kita, kalau tidak ada tambahan itu tinggal sekitar dua puluh tahun lagi. Gas kita tinggal 60 tahun lagi, kalau tidak ada tambahan, batu bara kita 150 tahun lagi. Artinya apa? kalau bangsa kita penduduk 220 juta jiwa yang akan naik menjadi 250 juta nantinya dan mungkin lebih lagi tanpa ada solusi besar, kita sudah menjemput datangnya krisis. Salah kita sebagai generasi yang bertanggungjawab sekarang ini, kalau anak cucu kita ini menghadapi krisis. Oleh karena itulah mari kita lakukan langkah-langkah besar.

Tahun lalu sudah saya sampaikan kebijakan energi nasional. Januari 2006 sudah saya keluarkan Inpres lagi. Lima tetapi intinya adalah yang tiga, mari kita lakukan penghematan atau efisiensi, besar-besaran. Menjadi bangsa yang hemat, termasuk hemat energi, BBM, listrik. Semua yang kira-kira menggunakan bahan bakar, minyak ataupun sumber energi yang lain. yang kedua, diversifikasi, sekarang ini contohnya alternatif, jangan tergantung pada fosil. Disamping mahal, tidak ramah lingkungan, tidak mungkin memenuhi kebutuhan kita, demand kita. kita butuh supply yang beragam lagi. Diversifikasi. Dan yang ketiga, sudah beragam, tapi jumlahnya harus cukup, peningkatan produksi, semua. Tiga hal inilah yang harus kita lakukan dan saya memaknai apa yang dilakukan sekarang ini sudah tepat.

saya memonitor juga, saya bicara dengan para pemimpin dunia D8 di Denpasar, sama yang diinformasikan masalah waduh gimana nih energi? APBN terpukul, ekonomi terpukul, Industri terpukul, bisa resesi, ekonomi negara-negara tertentu. Bahkan bisa resesi global kalau harganya begitu terus. Mari kita tidak terlambat menyadari bahwa Indonesia juga mengalami masalah energi, kalau kita tidak melakukan langkah yang tepat mulai sekarang ini.

Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, mari kita sukseskan kebijakan energi yang baru ini, demi kita sendiri, demi anak cucu kita dan demi masa depan Indonesia yang kita cintai. Ini yang ingin saya tekankan dua hal, lingkungan hidup atau environment dengan energi yang sama-sama penting untuk menjamin keberlangsungan hidup kita, sustainability dari kehidupan bangsa dan negara kita.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Akhirnya pada hari ini Sabtu tanggal 20 Mei 2006, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya resmikan ‘Gerakan Pemasyarakatan Pemanfaatan Bahan Bakar Gas pada Kendaraan Bermotor’. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa selalu melimpahkan bimbingan, petunjuk dan lindungan-Nya kepada kita sekalian,
sekian
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh





DOORSTOP PRESIDEN RI PADA SAAT TURUN DARI TRANS BATAVIA KE KENDARAAN RANGKAIAN MENUJU ISTANA MERDEKA:
Kenyamanan seperti itu, dengan rute yang pas itu menolong banyak. Harapan saya rakyat kita lebih mendapatkan pelayanan publik, pelayanan angkutan, dengan demikian bisa mengurangi jumlah kendaraan pribadi. Ditambah dengan bahan bakar gas, maka terpenuhi efisiensi dan ramah lingkungan, bayangkan Jakarta seperti ini kalau masih tinggi polusinya. Kita punya tanggung jawab bersama-sama mengurangi polusi, hemat bahan bakar, mengurangi konsumsi BBM menjadi BBG.



******
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan