Pidato Presiden
Sambutan Acara Pengajian dalam Rangka Pindah Kediaman ke Istana Negara
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PENGAJIAN DALAM RANGKA PINDAH KEDIAMAN
DARI ISTANA MERDEKA KE ISTANA NEGARA
ISTANA NEGARA, 8 JUNI 2006
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillahi rabil‘alamin wasalatu wassalamu‘ala asfrofil amzai wamursalim, syaidina wa maulana muhammadin wa’ala alihi wasabhihi azma’in ama ba’du,
Yang saya hormati Saudara Sekretaris Kabinet,
Al Muqaram, Haji Abdul Rahman al Habsyi,
Pimpinan Majelis Dzikir Nurrussalam dan para Pengurus,
Yang saya cintai dan saya muliakan, para Ulama,
Hadirin, Hadirot yang dimuliakan Allah SWT,
Pada malam yang membahagiakan dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak sekali lagi ke hadapan saudara-saudara, Hadirin dan Hadirot, untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih terus diberikan semangat, kekuatan dan kesehatan, lahir dan batin, untuk terus beribadah sebagai umat, hamba Allah, dan terus menjalankan tugas dan kewajiban kita pada bangsa dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur, karena pada malam hari ini kita kembali berkumpul disamping untuk ber-silaturahim, juga untuk ber-dzikir dan berdoa, mempertemukan hati dengan hati kita, wajah dengan wajah kita, dan lebih-lebih khusyuk berdoa ke hadirat Allah, seraya memohon ridho, memohon ampun, mohon bimbingan dan petunjuk-Nya, serta melantunkan doa-doa untuk kemaslahatan bangsa dan negara kita, menuju masa depan yang lebih baik. Tidak lupa, marilah sama-sama kita haturkan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW beserta para keluarga, para sahabat dan pengikut-pengikut Rasul sampai akhir jaman.
Hadirin, Hadirot yang saya muliakan,
Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, karena pada malam hari ini dapat memenuhi undangan pribadi saya, di tempat ini, di Istana Negara ini. Meskipun hajat saya adalah mengundang Hadirin sekalian untuk berdoa dan ber-dzikir bersama, dalam rangka kepindahan saya dari Istana Merdeka ke Istana Negara, karena Istana Merdeka yang sudah saya tempati kurang lebih satu setengah tahun, kondisinya dalam keadaan tidak aman. Di atasnya, karena sudah puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, mulai ada bagian-bagian yang rusak, yang retak, yang bergeser, sehingga pernah terjadi, sekali, dua kali, ada yang rontok di beberapa tempat.
Setelah dicek oleh Departemen Pekerjaan Umum, oleh para ahli, oleh mereka yang mengetahui konstruksi bangunan, disampaikan kepada saya, “Pak Presiden, itu tidak aman. Kalau ada sesuatu, apalagi misalkan 17 Agustus-an, ada dentum meriam, ada acara-acara menghadirkan banyak hadirin dan hadirot, barangkali sungguh tidak aman”. Itu disampaikan kepada saya tahun lalu. Tetapi karena kesibukan pekerjaan, saya belum segera pindah. Sampai yang kedua kalinya, dicek kembali dan Menteri Pekerjaan Umum dengan staf dan tenaga ahlinya mengatakan pada saya untuk yang kedua kalinya, “Pak Presiden, mohon segera pindah dulu ke Istana Negara ini”. Akan diperbaiki, insya Allah dalam waktu dekat, mungkin minggu-minggu depan. Dengan demikian, kembali aman, kokoh dan apabila digunakan untuk acara-acara kenegaraan, tamu-tamu negara, 17 Agustus-an dan lain-lain insya Allah tidak membahayakan. Waktunya diperkirakan delapan bulan sampai satu tahun. Mudah-mudahan tidak lebih dari itu.
Meskipun demikian, acara 17-an, insya Allah yang akan kita laksanakan tiga bulan lagi, masih bisa kita tempati untuk upacara penaikan bendera dan acara-acara penting lainnya. Sehingga saya harus pindah ke tempat ini. Tempat ini sendiri sebetulnya bukan hanya tempat tinggal keluarga kami, tetapi juga masih digunakan untuk acara-acara pemerintahan dan kenegaraan yang lain. Jadi sepertinya besar Bapak, Ibu, Hadirin, Hadirot, tapi saya hanya menempati sisi di sini, sisi di sebelah sana. Saya seperti indekos di sini. Tetapi ndak apa-apa, meskipun kamarnya sempit, hati kita insya Allah tidak sempit, luas sebagaimana luasnya, cerahnya keimanan kita, kesyukuran kita, kesabaran kita, ketawakalan kita untuk terus menjalankan tugas dan kewajiban kita bersama, menjalankan ibadah kita sebagai umat hamba Allah, membangun negeri tercinta ini, menuju masa depannya yang insya Allah lebih baik.
Namun demikian, meskipun hajatnya pindahan rumah, saya memohon doa untuk keselamatan agar rumah ini membawa berkah, bukan hanya bagi saya tapi bagi semua. Saya titip sekaligus dan mohon para Kiai, para Ulama yang sangat saya hormati, untuk kita bisa mendoakan, memohonkan kepada Allah SWT, lima hal. Yang pertama, marilah terus kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, agar bangsa dan negara ini terus diselamatkan, menuju masa depannya, sesuai dengan kerangka kehidupan negara yang kita cita-citakan bersama.
Meskipun ada goncangan-goncangan dari dalam maupun luar negeri, apakah goncangan itu berupa bencana alam, ataupun goncangan yang lainnya, dari luar negeri, apakah berupa krisis minyak atau keamanan dunia yang makin rawan dan lain-lain, semoga kiranya bangsa dan negara kita diberikan keselamatan oleh Yang Maha Kuasa, mengatasi semua permasalahan yang dihadapi, bersatu, rukun dan damai, dekat dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa Allah SWT, tapi terus rajin ber-ikhtiar, bertawakal untuk mengatasi masalah ini dan membangun masa depan kita. Mari kita berdoa nanti, untuk bangsa dan negara kita, seluruh tanah air.
Yang kedua, saya mohon doa, kita berdoa bersama-sama ke hadirat Allah SWT agar pemerintahan ini, yang oleh rakyat dimandatkan dan diamanatkan kepada saya sampai batas waktu penugasan saya selesai, yang pemerintahan ini terdiri dari pemerintah yang ada di pusat, pemerintahan provinsi, pemerintahan kabupaten, pemerintahan kota, seluruh Indonesia, mari kita mohonkan semoga para pejabat pemerintahan di seluruh negeri ini, dilindungi keselamatannya, diberikan semangat, bekerja dengan tulus, dengan ikhlas, tanpa pamrih, semata-mata karena Allah semata dan juga untuk meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Semoga kami diingatkan, disegarkan, dicerahkan hati dan pikiran kami. Kami mengemban tugas untuk itu. Bukan untuk kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, apalagi kepentingan-kepentingan yang jauh dari yang diinginkan rakyat kita. Semoga kami semua diingatkan, di seluruh Indonesia.
Yang ketiga, saya mengajak, memohonkan para Yayi membimbing kita semua dalam doa nanti, semoga Saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah bencana alam, misalnya di Yogyakarta, di Jawa Tengah dan di tempat-tempat lain, kepada mereka diberikan ketegaran, kesabaran, tawakal, sambil pemerintah membantu sekuat tenaga, mereka-mereka untuk bisa keluar dari musibah ini dan mengarungi masa depannya secara layak, sambil pula kita mendoakan agar para syuhada kita, saudara-saudara yang meninggal karena bencana alam itu, diterima di sisi Allah SWT, diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, cita-citanya dapat diwujudkan oleh pengganti-pengganti dan penerusnya.
Kami mohon khusus untuk mendoakan mereka, seraya kita memohon, meskipun sebagai seorang yang berilmu dan beriman, bencana alam itu bisa dijelaskan secara ilmiah. Bencana alam yang terjadi di Aceh, yaitu tsunami, di Nias, kemudian beberapa saat lalu, di beberapa tempat, yang cukup besar, di Yogya dan di Klaten, kemarin, kecil di Wamena, semua itu karena pergerakan lempeng bumi, dan juga terjadi di negara manapun, selalu ada pergerakan-pergerakan, di Pakistan, di India, di China, di Amerika sendiri, di tempat-tempat yang lain dan itu memang secara ilmiah, secara scientific dapat dijelaskan. Tetapi bagaimanapun alam semesta ini, adalah ada yang menggerakkan. Oleh karena itulah mari, di atas segalanya, di atas logika, akal pikiran kita, marilah kita memohon kepada Allah SWT, Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Besar, agar negara kita, benar-benar, menghadapi masa depan ini, diselamatkan. Dan kalau bencana alam itu memang gerakan kebumian, gerakan geografi, agar diselamatkan sebanyak mungkin saudara-saudara kita. Itu harapan kita menyangkut gempa bumi ataupun bencana alam ini.
Kemudian yang keempat, tentunya kita semua, yang hadir di tempat ini, bukan hanya malam ini, di hari-hari mendatang, kita ingin mengarungi samudera kehidupan kita bersama, bersama keluarga, bersama handai taulan, bersama sanak-saudara kita. Semoga kita semua juga diberikan bimbingan, petunjuk dan lindungan oleh Allah SWT, dijauhkan dari malapetaka, dari bencana, kemudian kepada kita dituntun untuk membuat kebajikan, menaburkan sesuatu yang teduh bagi rakyat kita, menjauhi kekerasan-kekerasan, bersatu, menghormati perbedaan, bersatu secara utuh, sambil kita membangun kehidupan yang islami, kehidupan yang penuh dengan akhlakul kharimah, kehidupan yang mengibarkan amar ma’ruf nahi munkar, yang penuh dengan ukhuwah, yang berpihak kepada kaum dhuafa, sebagaimana yang kita inginkan bersama. Tapi tetaplah kita hidup bersaudara, hidup rukun, bersatu dengan semua saudara-saudara kita di tanah air ini. Itulah yang kita harapkan, doa yang keempat saya mohonkan para Kyai, para Yayi nanti.
Nah, yang terakhir, doa yang kelima, semoga saya sekeluarga yang insya Allah pada malam hari ini akan menempati rumah yang baru ini, dilindungi oleh Allah, diberikan kesehatan lahir dan batin, mendapatkan barokah dan bisa mengemban tugas, baik selaku keluarga maupun selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Masih termasuk doa kelima ini, saya mohonkan, ibunda saya yang sakit, yang biasanya tinggal di Blitar, Jawa Timur, kemarin datang ke Jakarta karena mengidap sakit yang tidak ringan dan tadi baru saja diberikan terapi dan sekarang sedang opname di Rumah Sakit Gatot Soebroto, mudah-mudahan diberikan pertolongan oleh Allah SWT untuk kesembuhan beliau dan semoga semuanya berjalan dengan baik, terapi ini.
Itulah lima doa yang saya mohonkan. Mulai dari doa untuk bangsa dan negara, doa untuk pemerintah yang saya pimpin, doa untuk saudara kita yang mengalami musibah bencana, doa untuk kita semua yang gigih berjuang untuk masa depan ini dan yang kelima, yang terakhir, mohon doa untuk kami sekeluarga yang mengemban tugas dan pada saat pindahan, termasuk orangtua saya.
Itulah yang saya sampaikan. Dan apabila dalam acara ini ada kekurangan, ada hal tidak berkenan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semua atas kesalahan saya, karena semua staf sudah menyediakan yang terbaik. Dengan demikian, kalau ada kesalahan saya mohon sebesar-besarnya.
Demikian, semoga ini, malam ini, membawa berkah, dan semoga kita dipetermukan lagi di waktu-waktu yang akan datang. Karena sebagai umarah, saya mesti mendapatkan nasehat, bimbingan dan doa dari para ulama dan umat, yang tentunya memiliki niat dan cita-cita yang baik.
Demikianlah para Yayi, Bapak, Ibu, Hadirin, Hadirot yang saya muliakan. Semoga Allah SWT selalu mendengarkan niat baik kita, meridhoi cita-cita kita, memberikan jalan yang baik menuju masa depan bangsa kita yang kita cita-citakan.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



