Pidato Presiden

Sambutan Acara Indonesia Thanks The World `Apreciating a Global Partnership in Rebuilding Aceh-Nias and Sharing The Lessons`

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
INDONESIA THANKS THE WORLD “APPRECIATING A GLOBAL PARTNERSHIP IN REBUILDING ACEH-NIAS AND SHARING THE LESSONS”
PANTI PRAJURIT-BALAI SUDIRMAN, JAKARTA
24 JANUARI 2008



Bismillahirrahminirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menko Kesra dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Panglima TNI dan para Kepala Staf Angkatan,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat, para Pimpinan Organisasi Internasional, termasuk Wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, para Pimpinan Organisasi Non Pemerintah, LSM atau NGO, baik dari dalam maupun luar negeri, para Pimpinan Dunia Usaha yang juga ikut berkontribusi dalam rekonstruksi Aceh, Saudara Gubernur Aceh dan para Pimpinan Pemerintahan yang bertugas di Aceh, Saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta, para Ulama, para Tokoh Masyarakat yang berasal dari Aceh dan Nias,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik ini, saya mengajak Saudara semua untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara, bahkan untuk tugas-tugas kemanusiaan sedunia.
Malam ini adalah malam untuk berterima kasih, malam untuk menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dan telah berbuat sesuatu yang baik, baik di Aceh maupun di Nias setelah kedua daerah itu mengalami bencana tsunami yang sangat dahsyat 3 tahun yang lalu.

Acara seperti ini sudah lama kita rancang. Pertengahan tahun lalu, Pimpinan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, Bapak Kuntoro Mangkusubroto dengan staf, dan saya di Kantor Kepresidenan memikirkan cara untuk berterima kasih dan memberikan penghargaan kepada semua pihak. Semula saya dan Pak Kuntoro berpendapat barangkali tepat kita acarakan di Perserikatan Bangsa-Bangsa New York pada bulan September tahun lalu bertepatan dengan Konferensi PBB tentang Climate Change. Tetapi hal tersebut tidak bisa kita laksanakan, dan tambahan pula tentu tidak bisa dihadiri oleh Saudara-saudara kita yang ada di tanah air.

Yang kedua, bulan lalu, bulan Desember ketika Sekjen PBB Ban Ki-moon berkunjung ke Indonesia, kita ingin melaksanakan sebuah kegiatan, termasuk saya dapat memberikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak. Tetapi acara tersebut tidak dapat dilaksanakan karena baik Sekjen PBB Ban Ki-Moon dan saya sendiri harus berada di Bali, agar UN Conference on Climate Change bisa berhasil dengan baik. Dan alhamdulillah malam ini, malam yang bersejarah ini, kita dapat mengacarakan, acara yang penting ini, Indonesia Thanks The World dengan judul atau tema “Appreciating a Global Partnership in Rebuilding Aceh-Nias and Sharing the Lessons”.

Saya akan menggunakan kesempatan yang amat baik ini, disamping untuk menyampaikan secara langsung ucapan terima kasih dan penghargaan saya, juga untuk mengajak Saudara semua melakukan refleksi untuk memetik pelajaran berharga dari kebersamaan kita mengatasi musibah tsunami, baik di Aceh maupun di Nias sejak akhir tahun 2004 yang lalu hingga sekarang. Malam ini juga penting untuk menyatukan komitmen kita, untuk membangun masa depan Aceh dan Nias yang lebih baik.

Hadirin yang saya muliakan,
Sesuai dengan tema besar malam hari ini, atas nama negara, atas nama Pemerintah, dan selaku pribadi, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak, baik yang hadir di ruangan ini maupun yang tidak hadir, baik di seluruh tanah air maupun di seluruh dunia yang telah membantu dan berbuat kebajikan di Aceh dan di Nias untuk membantu saudara-saudara kami yang mengalami bencana tsunami di wilayah itu.

Bantuan Saudara semua dicatat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dicatat oleh sejarah, serta dicatat dan dikenang di hati sanubari Rakyat Indonesia, terutama mereka yang ada di Aceh dan di Nias. Saya ingin mengucapkan dalam beberapa bahasa ucapan terima kasih saya yang sungguh tulus ini, mudah-mudahan tidak salah membacanya pertama tentu thank you, dank u wel, danke, gracias, merci, arigato gozaimasu, xie xie, kamsahamnida, spasiva, shukran, te§ekkűr ederim dan banyak lagi yang harus saya ucapkan sebagai ekspresi terima kasih.

Hadirin yang saya muliakan,
Saudara Mangkusubroto yang mewakili NGO, baik dalam maupun luar negeri, tayangan yang ada di layar sebelah kiri saya ini telah menyegarkan kembali, to refresh our memory tentang tragedi maha besar yang terjadi di Indonesia, khususnya di Aceh dan di Nias akhir 2004 yang lalu. Kita juga melihat jejak atau langkah membangun kembali Aceh yang dimulai dari sejak upaya tanggap darurat, yang dilanjutkan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi. Oleh karena itu, saya tidak akan mengulang kembali lintasan peristiwa itu, termasuk apa saja yang kita lakukan, karena semua sudah menjadi bagian dari sejarah, dokumen bangsa dan negara ini, bahkan dokumen kita sejagad.

Yang ingin saya kedepankan adalah, pelajaran besar yang dapat kita petik, lessons learnt dari peristiwa yang besar itu. Yang pertama, pelajaran yang kita dapatkan adalah dalam keadaan sulit, kita perlu bersatu dan bertindak bersama, in critical think unity.

Pelajaran kedua, dalam keadaan krisis, dalam keadaan darurat, kita harus bertindak cepat dan tepat, dan menjalankan manajemen krisis, crisis action management. Kita harus melakukan emergency relief operation langsung di lapangan.

Yang ketiga, pelajaran besar yang dapat kita petik dari apa yang kita lakukan bersama di Aceh dan di Nias adalah kita harus menyambut baik, terbuka, welcome terhadap semua bantuan darimana pun, baik dari dalam maupun dari luar negeri untuk sebuah aksi kemanusiaan, humanitarian nation, to save more lives untuk menyelamatkan lebih banyak saudara-saudara kita di daerah bencana waktu itu, tanpa diskriminasi, baik yang diselamatkan maupun yang menyelamatkan.

Alhamdulillah, ketika 26 Desember tsunami menerjang Aceh dan Nias, pada tanggal 6 Januari, kita telah melaksanakan Tsunami Summit yang saya pimpin langsung, yang dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PBB Kofie Annan dan para pemimpin dunia waktu itu. Dan Tsunami Summit itu juga berangkat dari percakapan saya dengan Perdana Menteri Lee Hsien Loong, dengan Perdana Menteri Abdullah Badawi dari Malaysia dan para Pemimpin ASEAN lainnya. Dan hanya kurang dari satu minggu, kita persiapkan summit itu dan ternyata sejarah mencatat Tsunami Summit berhasil dengan baik, terbangun satu solidaritas global, kesetiakawanan sejagad, yang maha besar untuk membantu Aceh dan Nias mengatasi tragedi yang luar biasa waktu itu.

Pelajaran keempat Saudara-saudara, setelah tanggap darurat kita laksanakan dengan prioritas menyelamatkan lebih banyak lagi nyawa, jiwa saudara-saudara kita, memberikan pembekalan ulang, logistic re-supply, melakukan medical treatment dan medical evacuation, aksi medis dan aksi-aksi tanggap darurat lainnya, maka harus segera kita lakukan program rehabilitasi dan rekonstruksi yang seksama. Berangkat dari blueprint, dari roadmap, dari tahapan yang kita persiapkan.

Dalam kaitan itulah, maka pada kesempatan yang baik ini, kita semua harus memberikan penghargaan yang sungguh tinggi kepada Saudara Kuntoro Mangkusubroto dan semua yang bertugas dalam, yang bertugas dalam Badan Rahabilitasi dan Rekonstruksi atas profesionalitasnya, atas semangat dan dedikasinya, dan atas capaian serta prestasi yang diraih.

Banyak pihak di luar negeri dan tentunya di dalam negeri, termasuk saya yang dengan objektif dan terbuka melihat capaian yang dilaksanakan oleh BRR, tentu dalam kerjasamanya dengan pihak-pihak yang lain, yang dinilai telah dapat melaksanakan satu rekonstruksi pasca bencana yang berhasil. Oleh karena itu, tepat kalau disamping I have to thank the world, saya juga harus berterima kasih kepada Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk Aceh dan Nias.

Dalam kaitan rehabilitasi dan rekonstruksi, saya juga mesti mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada negara-negara sahabat yang para Duta Besar hadir pada malam hari ini dan Organisasi Internasional yang para pimpinannya sebagian hadir pada malam hari ini, termasuk NGO dalam negeri, termasuk semua pihak, pimpinan dunia usaha di dalam negeri atas kontribusinya yang juga sangat besar dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias.

Sedangkan pelajaran kelima atau yang terakhir yang mesti saya garis bawahi pada kesempatan yang baik ini, atas apa yang kita lakukan di Aceh dan Nias adalah faktor kepemimpinan, leadership dan peran para pemimpin untuk terjun langsung ke lapangan. Diperlukan benar-benar crisis action leadership, personal involvement, pelibatan pribadi. Karena dengan itu, maka keputusan atau decisions, arahan atau directions, dan tindakan-tindakan, actions taken, akan tepat karena sesuai dengan permasalahan yang di lapangan kondisi dan situasi objektif yang ada di daerah bencana itu. Lima pelajaran inilah yang dapat kita petik bersama, dari apa yang kita lakukan bersama di Aceh dan di Nias pasca tsunami 26 Desember 2004.

Hadirin yang saya muliakan,
Kita mengenal satu ajaran agama yang sangat dalam, yaitu di balik musibah ada berkah. Kita meyakini kebenaran dari di balik musibah, ada berkah itu sepanjang kita sebagai umat manusia itu sabar, tabah, dan tawakal manakala bencana datang. Setelah itu kita pun terus berikhtiar, berupaya, dan bekerja keras untuk menanggulangi dan mengatasi bencana itu, membangun hari esok yang lebih baik, membangun kembali daerah dan masyarakat yang mengalami kerusakan atau kehancuran akibat bencana itu. Lagi-lagi kita dapat membuktikan atas ketabahan, semangat yang masih tinggi, kebersamaan untuk membangun kembali Aceh, bantuan dari berbagai pihak, kepeminpinan, peran BRR, peran Pemerintah Daerah dan lain-lain yang akhirnya benar-benar di balik musibah, ada berkah, habis gelap, terbitlah terang.

Satu bulan sebelum tsunami, bulan Nopember 2004, kunjungan saya pertama sebagai Presiden ke Banda Aceh. Waktu itu saya menyerukan kepada saudara-saudara kita yang masih berbeda tempat waktu itu untuk mengakhiri konflik dan kemudian kita menyelesaikan secara damai, membangun Aceh ke arah yang lebih baik. Terus terang waktu saya belum mendapatkan respon yang cukup meyakinkan.

Tetapi pada saat saya mendarat di Lhoksumawe, hari kedua, yaitu tanggal 27 Desember karena 26 Desember ketika tsunami datang, saya berada dalam penerbangan dari Nabire ke Jayapura, di Nabire saya juga mengunjungi saudara kita yang mengalami gempa. Malam hari itulah di Jayapura, ketika saya terus mendapatkan laporan perkembangan di Aceh, kami melakukan langkah-langkah yang semestinya, termasuk langkah-langkah di Jakarta, Wapres yang mengkoordinasikan. Saya memimpin langkah-langkah, baik dari Jayapura sepanjang perjalanan sampai di Aceh waktu itu, dan kemudian mendarat di Loksumawe.

Hari berikutnya lagi mendarat di Banda Aceh. Saya serukan kembali kepada saudara-saudara kita yang berseberangan waktu itu, Aceh mengalami tragedi mengapa kita harus terus berada dalam konflik? Mengapa kita tidak akhiri konflik ini? Kemudian melihat masa depan, melangkah ke depan, membangun Aceh. Alhamdulillah, beberapa saat setelah itu, saya mendapatkan laporan bahwa ada respon yang positif.

Singkat kata untuk mempercepat jalannya sejarah, kurang dari 1 tahun, tepatnya pada bulan Agustus 2005 dapat kita tanda tangani Helsinki Agreement. Di situlah titik balik atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, Allah SWT dapat kita rajut perdamaian di tanah Aceh. Kita bisa mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir selama 30 tahun dengan korban jiwa, harta benda di antara anak bangsa. Dan sekarang kita melangkah dengan rahmat, dengan hidayah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sambil membangun kembali Aceh karena tsunami, kita memperkokoh reintegrasi, kita memperkokoh bersatunya kembali anak bangsa untuk Aceh, Aceh yang insya Allah lebih aman dan damai, lebih adil dan demokratis, lebih sejahtera dalam kebersamaan dengan keluarga besar bangsa Indonesia, dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah berkah yang amat besar dari musibah yang kita alami ketika Aceh mengalami dan Nias tsunami pada waktu itu.

Hadirin sekalian,
Itulah yang harus saya sampaikan satu refleksi, satu kontemplasi, memetik pelajaran yang amat berharga dari bagaimana kita mengelola keadaan pasca bencana alam di kedua tempat itu, termasuk bagaimana dunia bersatu dengan kesetiakawanan dan solidaritas yang tinggi untuk mengatasi masalah itu. Kita mendambakan dari tempat yang mulia ini, saya menyeru kepada bangsa-bangsa di seluruh dunia, marilah kita lebih bersatu, marilah kita bangun solidaritas yang tinggi, marilah kita bersama-sama memecahkan berbagai gema masalah di dunia ini, marilah lebih banyak kita gunakan soft power, marilah kita saling membantu. Betapa indahnya, betapa bersyukurnya bangsa Indonesia, ketika kami mengalami tsunami, saudara-saudara kami dari 34 negara yang berjumlah 16.000, baik dari tentara, maupun dari non tentara datang di Aceh dan di Nias bersama-sama membantu kami the biggest military deployment dalam menjalankan military operation other than war yang tercatat dalam sejarah.

Betapa indahnya, kami pun juga, bukan hanya mengucapkan terima kasih dan penghargaan, kami juga berduka atas gugurnya atau meninggalnya beberapa pejuang-pejuang kemanusiaan yang ada di Aceh dan di Nias waktu itu, termasuk 9 prajurit dari Australia yang gugur dalam tugas di Nias dan juga pengorbanan dari lembaga-lembaga internasional, sukarelawan internasional, sukarelawan kita dalam negeri, dalam menolong Aceh dan Nias, menolong bangsa Indonesia demi sekali lagi, kesetiakawanan dan solidaritas global itu.

Inilah pelajaran yang paling berharga dan inilah seruan moral yang paling tinggi mengambil hikmah dan pelajaran ini, dunia harus lebih bersatu ke depan. Menyelamatkan bumi dari perubahan iklim, mengatasi konflik di berbagai negara, membantu negara-negara yang mengalami kesulitan, seperti kemiskinan yang tinggi, dan berbagai masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa-bangsa.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Tidakkah kita ingin bersama-sama hidup sejahtera di muka bumi ini, bersama-sama dengan semangat kemanusiaan sejagat. Itulah pesan dan harapan saya pada malam yang membahagiakan ini di depan Saudara-saudara kami, para Pimpinan Negara-negara Sahabat dan para Pimpinan Organisasi Internasional.

Dan akhirnya kepada bangsa Indonesia, kepada BRR, kepada Pimpinan Pemerintah Aceh, kepada masyarakat Aceh dan kita semua, mari kita terus melangkah ke depan, tugas kita belum selesai. Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi, meskipun telah banyak mencapai prestasi, tuntaskan tugas Saudara sampai April 2009 mendatang.

Setelah itu dan mulai sekarang pun, Saudara Gubernur, Bupati Walikota dan semua pihak di Aceh harus segera melanjutkan tugas-tugas yang dilaksanakan BRR dengan pembangunan daerah yang lebih terpadu, yang lebih memenuhi kepentingan dan harapan dari saudara-saudara kita di Aceh dan di Nias.

Dengan harapan dan pesan itu, maka marilah kita satukan niat dan tekad kita untuk membangun kembali Aceh dan Nias. Marilah kita satukan niat dan tekad kita untuk bersama-sama bekerja sama di dunia ini, untuk kepentingan manusia sejagat. Demikian Saudara-saudara.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan