Pidato Presiden
Sambutan Peringatan HUT ke-15 Center for Information and Development Studies (CIDES)
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN HARI ULANG TAHUN KE-15
CENTER FOR INFORMATION AND DEVELOPMENT STUDIES (CIDES)
HOTEL SHANGRI-LA, 25 JANUARI 2008
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Pimpinan dan Anggota Lembaga-lembaga Negara, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat, Saudara Gubernur DKI Jakarta, para Pimpinan dan Pengurus ICMI Pusat,
Yang saya hormati Pendiri, Dewan, Direktur, Dewan Penasihat dan Direktur Eksekutif CIDES, serta segenap Pengurus dan Keluarga Besar CIDES, para Tamu Undangan,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak Hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan dan insya Allah kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur karena malam hari ini dapat bersama-sama menghadiri Hari Ulang Tahun ke-15 CIDES. Dalam kesempatan yang baik ini pula, saya mengucapkan selamat berulang tahun, semoga ke depan CIDES dapat lebih meningkatkan kontribusinya kepada pembangunan bangsa menuju masa depan kita yang lebih baik.
Hadirin yang saya hormati,
Tema yang diangkat dalam ulang tahun CIDES ke-15 ini adalah “Menuju bangsa Indonesia mandiri dan bermartabat di tengah tuntutan globalisasi”. Saya menganggap tema ini sungguh relevan, sungguh tepat, dan patut untuk kita posisikan, seraya mencari jalan bagaimana kita dapat lebih meningkatkan martabat dan kemandirian bangsa kita.
Sehubungan dengan ulang tahun dan tema yang dikedepankan tadi oleh panitia, saya diminta untuk menyampaikan pidato kebudayaan. Saya bertanya, apa bedanya pidato politik dengan pidato kebudayaan? Barangkali politik itu hard, yang serba keras, mungkin kebudayaan itu yang soft, yang lebih teduh. Kita juga mengenal pidato ilmiah, pidato kunci dan sejumlah sebutan yang sesungguhnya kalau kita melihat substansinya sulit dibedakan satu sama lain.
Barangkali yang diinginkan CIDES adalah saya melihat permasalahan kemandirian dan martabat itu dari satu perspektif, dari cara pandang yang lebih utuh, yang mau tidak mau harus mengangkat segi-segi falsafah, wawasan, dan paradigma yang lebih luas. Dan tidak masuk kepada praksis ataupun telaahan-telaahan sempit yang keluar dari konteks pendekatan budaya atau kebudayaan.
Kita mengenal kebudayaan atau culture, itu dalam berbagai working definition adalah nilai, values, ada juga yang mengatakan belief system, sistem kepercayaan, ideas atau gagasan. Ada juga yang mengatakan perilaku, teknologi dan lain-lain. Tentu saya tidak hendak mendefinisikan budaya atau kebudayaan, tetapi kita semua paham itulah spektrum, itulah lingkup, itulah hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan ataupun budaya. Oleh karena itu, pidato yang ingin saya kedepankan ini, akan berangkat dari sebuah sudut penglihatan atau mindset yang, insya Allah, lebih mendasar, lebih fundamental untuk melihat isu kemandirian dan martabat bangsa yang sama-sama ingin kita tingkatkan derajatnya dari waktu ke waktu.
Hadirin yang saya muliakan,
Kalau kita definisikan tentu dalam perspektif yang saya angkat, maka kita perlu mengawali telaah terhadap upaya meningkatkan kemandirian dan martabat bangsa ini dari ukuran. Apa ukurannya sebuah bangsa dikatakan bermartabat dan apa pula yang bisa kita ukurkan sebuah bangsa bisa dikatakan mandiri atau lebih mandiri?
Saya punya list yang saya tulis dari pengalaman empirik saya, 10 tahun berada di pemerintahan ini, sejak menjadi menteri sampai sekarang mengemban amanah memimpin negara dan pemerintahan ini, dari proses interaksi saya di dalam negeri dengan banyak kalangan termasuk rakyat, dan juga komunikasi saya dengan para pemimpin dunia tentang apa yang menjadi kepedulian bersama, utamanya bangsa kita, benar-benar ke depan dalam era globalisasi ini, bisa tampil lebih bermartabat dan lebih bermandiri.
Bangsa yang terhormat menurut pendapat saya, pertama, dia diukur dari taraf hidup yang layak, bebas dari kemiskinan yang ekstrim. Kita tahu dari 6,3 milyar penduduk di bumi ini, tiap malam 800 juta kurang bisa tidur nyenyak, karena menahan lapar, 200 juta di antaranya adalah anak-anak tersebar di seluruh dunia. Tentu kalau bangsa kita masih terlalu banyak yang berada dalam kemiskinan yang absolut, yang ekstrim, kita belum bisa tampil secara terhormat, belum bermartabat.
Yang kedua, juga dilihat dari kehidupan yang aman dan tertib, jauh dari kejahatan dan gangguan keamanan. Kalau potret negeri kita yang tiap malam diangkat oleh misalnya Al Jazeera, CNN, BBC, CNBC penuh dengan kekerasan dan kerusuhan dimana-mana, bom ataupun insurgency, gerakan-gerakan bersenjata yang melawan pusat kekuasaan negara, dalam hal ini tentu kita belum bisa menjadi bangsa yang terhormat atau bermartabat.
Yang ketiga, apabila demokrasi dan kebebasan belum ada, terpasung, tidak bisa mengekspresikan pikiran-pikiran kita, tentu kita belum bisa menjadi bangsa yang terhormat.
Yang keempat, ekonomi yang sustainable dan tidak terjerat oleh hutang yang tinggi, yang di luar kemampuan bangsa itu, termasuk generasi berikutnya untuk melunasinya. Ini juga menjadi ukuran makin sustainable, makin kuat fundamental kita dan tidak terjerat oleh hutang, saya katakan tadi, makin terhormat kita.
Yang kelima, bisa juga diukur martabat dan kehormatan ini adalah pemerintahan yang baik, good governance, clean government, terbebas dari korupsi yang kronis. Tidak pernah ada jalan yang mudah untuk memberantas korupsi. Negara-negara lain, saya juga belajar, butuh waktu 15 tahun, 20 tahun sampai sistemnya betul-betul bersih. Tetapi kalau kita tidak mampu keluar dari sesuatu yang sangat kronis, korupsi ini tentu kita tidak bisa menjadi bangsa yang terhormat dan bermartabat.
Yang keenam, pemeliharaan lingkungan yang baik untuk kepentingan bangsa di masa depan, untuk planet kita, bumi kita, juga menjadi ukuran kehormatan sebuah bangsa. Kita perlu mawas diri untuk ini semua.
Yang ketujuh, pendidikan yang maju, termasuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Makin cerdas bangsa itu, makin maju teknologinya, makin terhormat di mata bangsa-bangsa yang lain.
Yang kedelapan, kesehatan yang layak. Dan dalam ukuran Millennium Development Goals, kita berjuang keras Saudara-saudara, agar 2015 betul-betul kita lulus ujian dari ukuran global tentang Millennium Development Goals ukuran kesehatan, ukuran kemajuan dari sebuah bangsa.
Yang kesembilan, ini saya kira Saudara boleh setuju atau tidak, tapi saya ingin negara kita juga maju di bidang olahraga memiliki citra, image yang baik secara internasional. Bayangkan kalau SEA GAMES saja kita peringkatnya di bawah, kita tidak bisa tampil terhormat. Alhamdulilah, SEA GAMES beberapa saat yang lalu peringkat kita naik, menjadi keempat. Kita ingin yang akan datang naik lagi, suatu saat Indonesia harus menjadi juara di Asia Tenggara. Dan ini menjadi tekad kita, insya Allah bisa, kita punya potensi, kita punya sejarah, keolahragaan di negeri kita ini unggul.
Yang kesepuluh adalah, atau yang terakhir menurut ukuran yang saya tulis, kita mesti memiliki peran internasional yang baik, yang aktif, yang diakui yang konstruktif, baik di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun ketika kita berperan di banyak persoalan di seluruh dunia.
Sepuluh kriteria itulah, sepuluh ukuran itulah yang menurut pendapat saya apabila bisa kita tingkatkan, kita perbaiki, insya Allah makin ke depan, bangsa kita akan makin terhormat, akan makin bermartabat.
Saudara-saudara,
Lantas kemudian apa kriterianya sebuah bangsa dikatakan mandiri atau lebih mandiri? Pertama, kita tidak tergantung secara absolut, tidak memiliki ketergantungan yang tinggi kepada bangsa lain, kepada negara lain, kepada pihak lain, kepada dunia. Tentu ada interconnectedness, ada interdependensi dalam hubungan antar bangsa. Tapi kita tidak boleh tergantung secara mutlak, secara absolut.
Yang kedua, kita dapat menyediakan sendiri, sebagian besar basic human need, pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, rasa aman, lingkungan dan lain-lain. Oleh karena itulah, kita akan terus berusaha untuk mengurangi kandungan impor menyangkut komoditas pangan. Kita sudah mencanangkan, meskipun trennya membaik, tapi belum cukup untuk mengatakan bahwa kita memiliki ketahanan pangan yang cukup, utamanya adalah komoditas yang sangat diperlukan oleh rakyat kita, yaitu beras, jagung, kedelai, gula. Kemudian yang lain-lain, sebagaimana yang kita ketahui sekarang ini, kita harus bekerja keras, Pemerintah sedang mencari solusi terbaik, akibat pengaruh global, akibat inflasi pangan dunia, terutama beras, kedelai, minyak goreng dan minyak tanah. Kita akan terus meningkatkan produksi dalam negeri, dan mengurangi komponen impor menyangkut pangan itu. Memang ekpor dan impor itu wajar, terjadi dimana-mana, tetapi kita akan lebih senang dan kita akan merasa mandiri kalau yang kebutuhan dasar itu, pangan itu bisa kita sediakan sendiri, kecuali ada ganguan iklim, baru kita impor. Tapi structure-nya, kita mampu untuk mencukupi kebutuhan itu dari dalam negeri.
Yang ketiga, bangsa yang saya katakan lebih mandiri, tidak terjerat dalam hutang yang tidak rasional, yang unacceptable. Pada puncak krisis, rasio hutang terhadap GDP itu 150%. Kalau kita punya pendapatan domestik bruto untuk bayar hutang tidak cukup, karena hutang kita hampir 50%, debt to GDP.
Ketika saya mengemban amanah dengan perbaikan, Presiden-presiden sebelum saya, rasio hutang terhadap GDP kita sudah turun menjadi sekitar 54%. Alhamdulilah, dalam waktu 3 tahun dari 54% sekarang sekitar 35% dan ini perlu kita pertahankan, sebab sekarang ini angkanya lebih baik dibandingkan beberapa negara ASEAN dalam kaitan debt to GDP ratio. Kita kurangi nominalnya, kita kurangi prosentasenya.
Yang keempat, kita tidak didikte, baik secara politik, secara ekonomi, secara militer oleh negara manapun. Ini ukuran kita mandiri. Kita mengembangkan politik bebas aktif, all directions foreign policy. Saya memelihara komunikasi saya dengan semua pemimpin dunia untuk sebesar-besar kepentingan nasional kita. Membuktikan bahwa kita memilih dalam menjalin persahabatan dengan negara lain tidak ditentukan, didikte. Saya mempercepat pelunasan hutang terhadap IMF, karena bagaimanapun kalau masih ada ikatan hutang, tentu kemandirian kita untuk merancang pembangunan ekonomi terganggu. Itulah sebabnya kita hentikan kerangka perencanaan dan pengelolaan ekonomi dari CGI. Karena saya yakin, kita sudah mampu untuk merancang sendiri, mendisain sendiri, menata ekonomi kita. Tentu masih banyak yang harus kita lakukan untuk betul-betul menjadi lebih mandiri.
Yang kelima, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang kita lakukan secara keras harus terus berlanjut sampai suatu ketika dengan penguasaan teknologi ini, kita menjadi bangsa yang self generating, self developing. Kalau sudah sampai pada tataran itu, insya Allah kita akan mandiri, karena kita akan bisa memproduksi berbagai keperluan untuk kehidupan negara kita, termasuk katakanlah sistem-sistem persenjataan, apa namanya machinery dan semua yang bisa untuk menggerakkan industri, pertanian, jasa atau perekonomian kita secara menyeluruh.
Yang keenam, saya katakan juga kita akan lebih mandiri, apabila sumber daya alam yang kita miliki, ini adalah anugerah Allah SWT, itu benar-benar dapat dikelola, terutama oleh kita sendiri, oleh bangsa sendiri ke depan. Dan andaikata, andaikata masih ada kerjasama dengan negara sahabat, kita pastikan kontraknya, kerangkanya, adil, sehat dan menguntungkan kita, dibanding dengan menguntungkan orang lain. Saya tidak menyalahkan masa lalu, begitu banyak kerjasama kita dengan negara lain, dengan multinational corporation, karena barangkali waktu itu kita belum bisa mengelola sendiri. Tapi sekarang ke depan, saya yakin sudah banyak national flag kita yang bisa mengelola sumber daya alam kita itu, sehingga kerjasama dengan negara sahabat menjadi complement bukan yang pokok, manakala hal itu masih dimungkinkan, sekali lagi dengan kerangka kerjasama yang lebih baik.
Hadirin sekalian,
List itu masih bisa diperpanjang oleh Hadirin sekalian. Ukuran bangsa yang bermartabat, bangsa yang terhormat, ukuran bangsa yang mandiri atau lebih mandiri.
Hadirin yang saya hormati,
Kalau kita melihat masalah itu dari telaah, dari perspektif budaya, dari eksplorasi akal pikiran kita, mindset kita, termasuk landasan-landasan falsafah, maka mari kita sedikit melaksanakan kontemplasi. Sebelum kita masuk pada detail, apa yang mesti kita lakukan, arah seperti apa, policy seperti apa, upaya seperti apa untuk meningkatkan martabat dan kemandirian itu. Pertama, mari kita pahami hakekat perubahan. Saya senang CIDES sudah mengagendakan seminar tentang demokrasi, tentang ekonomi kesejahteraan yang di dalamnya mau tidak mau membahas transformasi besar yang kita lakukan.
Saudara-saudara,
Ada contoh agung di dunia ini, ketika Rasulullah Nabi Muhammad SAW melaksanakan perubahan maha besar, transformasi pada jamannya. 23 tahun sesuai dengan firman Allah, Beliau lakukan untuk mengubah kehidupan masyarakat dan bangsa itu sampai dengan tuntasnya Al Qur’an. Ketika Beliau melaksanakan nation building, state building dalam proses yang tidak mudah, akhirnya berhasil. Sehingga Rasullullah dinyatakan sebagai pemimpin agung, sebagai the great reformist, perubah yang mengubah peradaban. Kuncinya yang dapat kita pelajari dalam melaksanakan perubahan, Beliau menjalankannya dengan penuh keseimbangan, dengan tahapan-tahapan yang baik, dengan pikiran yang moderat mengajak semuanya dalam perubahan itu, siap berkorban, siap melakukan apa saja untuk mencapai tujuan itu. Sejarah membuktikan reformasi maha besar itu berhasil.
Pengalaman yang dapat kita petik dari apa yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW ternyata dalam era modern sekarang ini, negara-negara yang berhasil melaksanakan transformasi, China sejak mendiang Deng Xioping misalnya, Eropa Timur, dan berapa negara-negara, ternyata prinsip balance, perubahan yang bertahap, gradual, mengajak semuanya on board untuk perubahan itu, leadership yang moderat, tapi terus dengan gigih membawa perubahan itu sampai kepada semua itu.
Oleh karena itu, jangan cemas, jangan kecil hati, jangan putus harapan, kalau 10 tahun kita reformasi ini belum sampai yang kita harapkan. Ini proses yang berlanjut, negara-negara lain butuh satu, dua, tiga dasawarsa. Mari kita teruskan transformasi yang kita jalankan ini dengan penuh keyakinan. Itu yang pertama, yang mesti kita lihat dari perspektif budaya, memaknai perubahan, memaknai transformasi.
Yang kedua, kita juga harus paham bahwa dalam gerak perubahan selalu ada tantangan, permasalahan, resistensi, baca perlawanan. Kadang-kadang kita menghadapi kurva J set back. Itulah memang keniscayaan perubahan yang besar. Kita harus siap, harus mulai mengelolanya, we have to go through perubahan itu. Tekanan pada pemimpin, dicaci maki dan sebagainya, kita harus tahan, memang begini kita mengelola perubahan, bersama-sama akan kita hadapi. Tapi insya Allah, sebagaimana pengalaman agung Rasullullah dulu dengan para sahabat di dalam melaksanakan perubahan, ketahanan, kesabaran, ketegaran Beliau-beliau semua bisa berhasil dalam perubahan yang besar itu. Ini juga nilai atau perspektif budaya yang lain.
Yang ketiga, agar perubahan berhasil diperlukan keyakinan, optimisme dan positive thinking dari seluruh bangsa, bukan hanya CIDES, bukan hanya ICMI, bukan hanya SBY. Semua. Ini adalah nation on the move, the work of nations, bangsa. Setelah Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, saya, setelah saya nanti, pengganti-pengganti saya sama-sama untuk mengelola dan menjalankan perubahan ini. Nation, semua, tidak orang-seorang. Satu orang seberapapun jeniusnya, briliannya, tidak mampu untuk melakukan perubahan ini.
Keberhasilan dalam sebuah perubahan itu adalah alam pikiran, state of mind. Kalau kita gentar, gamang, disorientasi, putus harapan, ya itu yang akan diberikan oleh Allah SWT. Tapi kalau kita sekarang bangsa Indonesia yakin, insya Allah mencapai tujuan, memang berat, memang ada rintangannya, tapi mari kita terus maju ke depan, maka anugerah yang akan datang adalah capaian demi capaian sepanjang perjalanan kita.
Kalau negara lain, Malaysia mengatakan Malaysia boleh, maksudnya Malaysia bisa. Ada juga yang mengatakan together we can, ketika negara-negara Barat mengalami the great depression sebelum Perang Dunia II, bisa kita kalau bersama-sama menjalankan. Kita pun bangsa Indonesia mesti bisa dengan keyakinan. Keyakinan menuntun pikiran, pikiran menuntun tindakan. Jangan kita menjadi bangsa yang hurting ourself, merendahkan diri sendiri, mengolok-olok diri sendiri, wah bangsa lain hebat, bangsa lain berhasil. Mereka juga punya kekurangan, kelemahan. Kita banyak punya kelebihan. Mengapa kita harus tidak percaya pada diri sendiri? Malah seolah-olah kita ini bangsa yang tidak berhasil, kerdil dan sebagainya. Mari kita berhenti dari menghakimi diri kita secara tidak adil, karena kita punya peluang, punya potensi untuk itu.
Saudara-saudara,
Dengan cerita saya tadi, maka menjadi bangsa yang bermartabat, bangsa yang mandiri dengan ukuran-ukuran tadi, dengan perspektif budaya melalui cara berpikir kita, cara memahami reformasi, dan bagaimana kita membangun kebersamaan, persatuan, kerja keras. Saya yakin jalan yang sudah benar ini dengan langkah kita yang makin pasti akan mencapai hasil yang kita harapkan bersama.
Hadirin yang saya muliakan,
CIDES menulis surat kepada Mensesneg, tentu tembusannya kepada saya, yang intinya diharapkan pidato Presiden nanti memuat atau menjawab persoalan, banyak sekali 1, 2, 3, 4, 5, seperti ujian essay. Tapi bagus karena yang diangkat oleh CIDES memang isu-isu yang fundamental, yang aktual dan mesti kita carikan solusinya, kita kelola secara bersama.
Pertanyaan pertama yang tadi, sudah saya jawab itu. Pertanyaan kedua, model pemimpin seperti apa yang cocok untuk memimpin Indonesia yang majemuk. Saya katakan dengan ya meletakkan kemajemukan sebagai kebesaran, karena pikiran banyak orang pasti lebih baik dibandingkan pikiran satu, dua orang, demikian juga komponen yang ada di negeri kita ini. Mari kita jadikan ini sebagai rahmat, sebagai kekayaan dan kita pastikan sistem yang kita anut memang mengajak semua, mengayomi semua, memberdayakan semua. Kultur memimpin itu, pemimpin juga harus adil mengajak, mengayomi, tidak boleh partisan, karena kekuatan maha besar itu disatukan menjadi energi untuk mengatasi banyak hal. Mutlak, pemimpin di negeri ini harus betul-betul menyadari keragaman sebagai kekayaan, sebagai potensi yang bisa disatukan dengan baik.
Pertanyaan ketiga kepada saya, bagaimana kita bisa mempercepat penguatan konsolidasi demokrasi? Sudah dibahas dalam seminar. Demokratisasi adalah proses perubahan sadar untuk memekarkan kebebasan, menghormati hak-hak asasi manusia. Pesan saya, demokrasi yang kita tuju adalah demokrasi yang mapan, consolidated democracy, adalah demokrasi yang di satu sisi menghadirkan kebebasan, penghormatan pada hak-hak asasi manusia, tapi di sisi lain juga menjunjung tinggi rule of law dan harmoni di antara kita semua. Demokrasi seperti itu akan teduh, penuh kebebasan, tapi juga penuh harmoni. Proses sedang berlangsung, marilah kita isi, kita berikan nafas dalam satu koridor bersama-sama, hingga akhirnya tahun demi tahun, dasawarsa demi dasawarsa kita lewati, insya Allah Indonesia akan tumbuh menjadi negara yang demokratis, negara yang mapan demokrasinya, yang bercirikan tadi itu, freedom, rule of law and harmony.
Saya percaya bahwa di negeri kita ini, demokrasi, Islam dan modernity bisa hidup berdampingan secara damai. Tidak ada dikotomi apapun, kita bisa mewujudkan kepada dunia, this is a model of democracy. Nilai-nilai itu dapat kita satukan secara harmonis untuk mencapai tujuan yang baik. Demokrasi akan mapan apabila perilaku rakyat kita demokratis, mengedepankan, mengekspresikan kebebasan, tetapi dengan aturan main dan etika yang sama-sama kita junjung tinggi.
Yang keempat pertanyaan CIDES, bagaimana dengan good governance? Kita lakukan terus, reformasi birokrasi adalah reformasi yang tidak mudah, tapi harus terus berlanjut, pemberantasan korupsi harus berlanjut. Masa depan kita gelap kalau kita permisif, kalau kita lunak, kalau kita moratorium. Memang pemberantasan korupsi haruslah lebih melihat ke depan, yang penting pencegahan dilaksanakan secara sangat serius. Mereka-mereka yang belum memenuhi kewajibannya, yang masih bergentayangan di luar negeri, yang mengambil aset negara mesti dikembalikan. Tapi selebihnya kita harus melihat ke depan, tidak ada desain politik tebang pilih, karena yang memproses hukum adalah Kepolisian, Kejaksaan. Politik tidak boleh masuk, saya tidak boleh touch penegakkan hukum. Saya mengharapkan supremasi hukum yang baik, yang adil, jangan salah tangkap, jangan salah sasaran. Jalankan semua, supaya sistem kita clean. Memang tidak mudah, tantangannya berat, tekanan kepada saya pun tidak ringan, tapi harus kita lanjutkan, membangun good governance dan pemberantasan korupsi.
Yang kelima, ditanya oleh Cides, bagaimana jalan meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama rakyat kecil, terutama ekonomi perdesaan?
Saudara-saudara,
Di Manado beberapa saat yang lalu, saya mengatakan Indonesia pasca krisis, pembangunan ekonominya harus menggunakan track yang benar. Track yang pertama, ya memang meningkatkan pertumbuhan. Kalau pertumbuhan meningkat, teori mengatakan pengangguran berkurang, kemiskinan berkurang dengan fundamental yang lebih kuat. Tapi saya katakan is not enough. Karena akibat krisis, ada korban, ada victim. Saudara-saudara kita yang tiba-tiba melarat, tiba-tiba menganggur, tiba-tiba tidak punya hope, tidak punya harapan masa depan.
Maka track yang kedua, kita harus menyelamatkan, we have to rescue mereka-mereka itu. Caranya? Dengan kemampuan fiskal kita, Saudara tahu kenaikan anggaran pengurangan kemiskinan seperti ini, Rp 14 triliun, Rp 24 triliun, naiknya Rp 41,50 triliun, sekarang Rp 60 triliun, hanya untuk poverty reduction program. Itupun belum cukup, kita ringankan pendidikannya, kesehatannya. Itupun belum cukup, usaha mikro, usaha kecil, koperasi harus tumbuh. Kredit mikro harus mengalir.
Setuju dengan Pak Adi Sasono, solusinya pada tingkat mikro. Macro policy sudah benar, stabilitas makro sudah ada. Tapi tidak akan cepat pengurangan kemiskinan dan pengangguran, jika usaha-usaha mikro, solusi-solusi mikro tidak kita lakukan. Dan di sini panglimanya adalah para Bupati, Walikota, para Gubernur, baru Pemerintah Pusat mem-back up secara penuh dalam era desentralisasi, otonomi daerah, yang di depan bukan saya, meskipun saya tentu akan mengayomi, memayungi, memastikan policy-nya benar, tapi pertempuran-pertempuran dalam tanda kutip diawaki oleh para Bupati dan Walikota. Mereka yang tahu dimana kantong-kantong kemiskinan, pendidikan yang belum bagus, kesehatan yang belum bagus, UMKM yang belum tumbuh. Tapi ini memerlukan kerjasama, memerlukan sinergi kita semua. Kita akan terus lakukan itu sampai suatu saat terjadi pertemuan antara new deal tadi dengan pembangunan kembali ekonomi yang konvensional. Pada saat kita sampai pada titik itu, maka kita akan melanjutkan langkah-langkah pohon ekonomi yang baik. Memerlukan kesabaran, sebagaimana bangsa lain yang mengalami krisis seberat Indonesia.
Yang keenam, ada pertanyaan bagaimana hutang luar negeri? Sudah saya jelaskan tadi. Alhamdulillah, sekarang banyak yang menggunakan sumber rupiah. Sebagai contoh, punyanya Pak Yustam, ada enggak Pak Yustam ini? Enggak ada tadi belum mengucapkan selamat ulang tahun. Menteri Perhubungan, anggarannya naik tinggi sekali, hampir 50%. Tetapi yang menggembirakan, kalau dulu, sebelum tahun 2007 misalkan sekian trilyun itu kebanyakan dari luar negeri, sekarang luar negeri minim sekali, semua kita keluarkan dari rupiah murni. Struktur dari alokasi anggaran itupun sudah berubah, yang tadinya dominan pinjaman luar negeri, sekarang sumber kita sendiri rupiah murni, akan kita teruskan sampai pada satu titik, kita bisa menggunakan sumber daya kita.
Saudara-saudara,
Bukannya Indonesia itu kurang capital, kurang modal, modal itu ada, cuma ada aturan-aturan, ada mekanisme yang barangkali dari dulu seperti itu. Ini yang sedang kita revisi, kita ubah agar itu bisa mengalir lebih cepat. Di waktu krisis, konglomerasi berguguran, usaha mikro, usaha kecil survive, bertahan. Mengapa kita ragu-ragu? Andaikata, andaikata dalam memberikan kredit mikro pada rakyat kita, ada yang belum kembali. Rp 1 triliun misalkan belum kembali, yang Rp 1 triliun itu ternyata dipinjam oleh 1 juta atau dipinjam oleh sekian banyak usaha kecil yang kalau dilihat barangkali tiap rumah tangga belum mengembalikan Rp 100 ribu. Morally justified, Rp 100 ribu bagi keluarga yang memang belum bisa. Sama dengan negara memberikan bantuan langsung tunai yang Rp 17 triliun dulu, sama. Meskipun kita bina, kita bimbing, kita ajari untuk tidak merugi, untuk uang itu ada, dan bisa bergulir seterusnya. Dibandingkan kerugian ratusan trilyun oleh hanya sekian pelaku ekonomi besar, usaha besar yang merusak rasa keadilan.
Kami sedang bekerja dengan semua pihak, termasuk perbankan apa itu step loan atau BRI unit desa ataupun unit-unit kecil yang harapan kita tahun ini, tahun depan kredit mikro lebih mengalir. Kalau kredit mikro lebih mengalir, ada ekonomi rumah tangga, bisa membeli sesuatu, ada pekerjaan, di situ otomatis pengangguran dan kemiskinan akan susut.
Dan yang terakhir yang ditanyakan, supaya kita tidak tergantung hutang luar negeri, pinjaman yang sifatnya G to G meski harus kita jauhkan. Kalau ada kerjasama FDI silakan, tidak ada kaitannya dengan Pemerintah. Dan kemudian kebijakan fiskal kita harus tepat, APBN, APBD.
Yang terakhir, masalah korupsi dan pelanggaran HAM, pertanyaan CIDES sudah saya jawab. Alhamdulillah, kita bersyukur bahwa tahun-tahun terakhir ini tidak terjadi pelanggaran HAM berat di negeri kita ini. Mari kita pertahankan, mari kita hormati dignity orang-seorang. Kita harus menghormati perbedaan, to protect the disagreement dari pihak yang lain. Itulah nafas demokrasi. Tidak boleh kita bungkam pikiran-pikiran, tentu pikiran diekspresikan dengan tata krama, dengan aturan main karena kebebasan juga harus disertai akhlak. Kalau kebebasan disertai akhlak, insya Allah demokratis, maju tapi tenteram.
Itulah pesan-pesan dan harapan saya, pandangan sederhana saya, bagaimana kita, Indonesia ini bersama-sama bergerak ke depan menuju bangsa yang lebih mandiri, lebih bermartabat dan insya Allah akhirnya nanti menjadi maju. Kalau negara lain bisa, Indonesia dengan ridho Allah SWT pasti bisa.
Sekian. Selamat berjuang CIDES. Dirgahayu, teruslah melanjutkan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



