Pidato Presiden
Dialog dengan Petani Desa Ciranggon
TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN PARA PETANI
DESA CIRANGGON, KARAWANG-JAWA BARAT
1 FEBRUARI 2008
Presiden Republik Indonesia
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bapak, Ibu, para Petani yang saya cintai,
Alhamdulillahirabbialamin, hari ini kita bisa bersilaturrahim di tepi sawah yang hijau ini dan insya Allah nanti panen dengan baik. Saya datang bersama Bapak Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Menteri Komunikasi dan Informatika, Sekretaris Kabinet, Kepala Bulog, Pak Bupati, Pak Camat, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Direktur Utama Pertamina, Direktur Utama Pupuk Kujang. Semua datang ke Karawang hari ini untuk melihat langsung di lapangan tentang harga-harga pangan.
Pemerintah ingin harga pangan itu pas. Pas dalam arti, para petani mendapatkan keuntungan yang layak dari menanam pangan itu, kemudian rakyat kita yang lain juga bisa membeli, ini namanya adil. Kita tahu bahwa penduduk Indonesia ini makin bertambah atau makin berkurang? Makin bertambah. Dulu jaman Presidennya Bung Karno, penduduknya kurang dari 150 juta, jaman Presidennya Pak Harto dulu sekitar 180 juta. Sekarang ini penduduknya 230 juta, semua tentu memerlukan pangan. Orang tidak berpakaian selama seminggu tidak apa-apa toh, paling-paling masuk angin. Orang tidak berteduh, ndak ada rumah, bisa di Masjid, bisa di Musholah, bisa di Langgar. Tapi kalau tidak makan 5 hari, artinya jumlah penduduk itu memerlukan pangan.
Penduduk bertambah, kita ingin dari tahun ke tahun, bukan hanya 3 tahun terakhir meningkatkan produksi dalam negeri, misalnya beras ya, kemudian tebu atau gula, kemudian jagung, lantas kedelai, lantas ya daging sapi, telur, semua, agar lebih cukup, tidak perlu terlalu banyak impor. Namun demikian memang dengan kenaikan penduduk dan ya keterbatasan dari pertanian ini, memang akhirnya masih ada impor kita dari luar negeri. Ini juga dialami oleh negara-negara yang lain.
Kalau harga di dunia itu baik-baik saja, kalau harga di dunia tidak naik, tidak apa-apa, meskipun sesungguhnya tidak boleh kita menggantungkan impor, harus makin kecil impornya, suatu saat swasembada. Yang terjadi adalah Bapak, Ibu sekalian, di dunia harga minyak mahal sekali, harga pangan pun naik, seperti minyak goreng, kedelai, tepung terigu, beras, gula dan lain-lain. Ditambah dengan ongkos perjalanan pangan itu, karena minyaknya naik juga naik, akibatnya harga ini naik.
Pemerintah sekarang dan sebentar lagi, insya Allah hari ini akan memutuskan kebijakan yang tepat. Kebijakan yang tepat itu adil, ya misalnya harga beras itu adil, petani jangan sampai tidak mendapatkan keuntungan yang layak. Tetapi harganya jangan mahal sekali, rakyat kita nanti tidak bisa beli, betul toh? Harus adil. Demikian juga yang lain, kedelai, kedelai dulu harganya Rp 3.000 sekian, akhirnya ya tidak cucuk. Tahu tidak cucuk? Kalau menanam kok harga cuma sekian, karena luar negeri murah benar. Sekarang begitu harganya naik, naiknya luar biasa, mungkin petani bisa mulai nanam kedelai, ya tetapi harganya tentu kita kontrol supaya bisa dibeli oleh yang lain oleh para pengrajin tahu dan tempe.
Bapak, Ibu makan tempe tidak? Saya tiap hari juga makan tahu dan tempe gitu, sama makanan Bapak dengan makanan Pak Presiden. Oleh karena itu, kita ingin harganya terjangkau, pas petaninya bisa tumbuh, petani kedelai, harganya terjangkau, sehingga harga tahu dan tempe tidak menjadi mahal.
Tujuannya itu, kami dengan Menteri Pertanian, semua keliling Indonesia seperti ini, melihat tempat-tempat pertanian, bertemu dengan petani, peternakan, perikanan supaya pangan kita makin cukup. Tetapi bukan hanya pangan makin cukup, petaninya juga makin sejahtera kan begitu. Disamping sejahtera, harganya harus pas. Kalau harganya terlalu mahal, ya rakyat kita menderita. Jadi adil semua.
Itulah tujuan kami, inilah kebijakan Pemerintah. Dan hari ini, saya tadi ke pasar, di Karawang melihat langsung harga kedelai, harga tepung terigu, harga minyak goreng, harga beras, harga gula, disamping harga yang lain-lain tadi yang menurut saya harus saya lihat.
Kalau dari segi beras dan gula, tidak ada lonjakan yang sangat berarti. Yang melonjak tinggi itukan kedelai, minyak goreng dan terigu. Sebentar lagi Pemerintah akan mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan, menstabilkan harga itu secara pantas. Ya saya juga meninjau tadi pengrajin tahu dan pengrajin tempe, ya memang tadinya satu potong Rp 150 menjadi Rp 200. Saya bilang tadi kepada Pak Mulyadi, “Pak Mul, ini kalau kedelainya turun lagi, 1 potong tahu turun nggak?” Ya turun, Pak. Alhamdulillah, jangan sampai kedelainya kita turunkan, harganya kagak turun, itu tidak boleh kasihan rakyat, jadi turun langsung tadi. Saya langsung tempe, “Pak, ini tempe harganya naik atau tidak?” Tidak, Pak. “Terus?” Saya kurangi besarnya. “Nanti kalau harga kedelai kita turunkan, besarnya sama nggak?” Insya Allah sama, Pak. Harus begitu. Jadi tidak boleh, Pemerintah ini akan mengeluarkan uang trilyunan rupiah untuk menstabilkan harga kedelai, harga minyak goreng, harga apa tadi tepung terigu dan lain-lain. Mari kita kerjasama.
Minyak tanah Bapak, Ibu, minyak tanah ini mestinya 1 liter harganya Rp 8.000 harusnya. Negara lain itu yang tidak disubsidi itu 1 liter Rp 8.000 karena memang harga minyak di dunia sedang gila, gila begini, tinggi sekali. Kalau kita harga Rp 8.000 kan tidak mungkin, mboten saget, tidak, apa bahasa sundanya? Tetiasa, ya tetiasa. Oleh karena itu, kita jual Rp 2.000 Pemerintah membantu nomboki Rp 6.000 itu kalau sekian juta kilo liter, sekian puluh trilyun untuk membantu rakyat. Rp 2.000 itu dengan ongkos angkut mestinya harganya Rp 2.500 sampai Rp 2.800. Mengapa sekarang ada ngantri di sana-sini, kelangkaan di beberapa tempat harganya Rp 3.000 atau lebih? Ada yang nakal. Itu minyak tanah harus untuk rakyat karena dibantu Rp 6.000 oleh Pemerintah, bukan untuk pabrik-pabrik, bukan untuk yang tidak memerlukan. Inilah yang harus kita lakukan kerjasama. Pemerintah sudah mengeluarkan uang banyak sekali, padahal uang itu bisa kita gunakan membikin berobat yang betul-betul gratis seluruhnya misalnya, paling tidak murah sekali, kemudian pendidikan, yang lain-lain, tapi kita mengeluarkan untuk nomboki minyak tanah tadi. Kalau ini diselewngkan, lari ke sana ke mari kan tidak baik, leres toh. Ok. Oleh karena itulah, saya minta kerjasama yang baik.
Saya ingin mendengar sekarang dari para petani, masalah harga ini bagaimana, masalah produksi dalam negeri bagaimana, termasuk petani kedelai, petani beras dan lain-lain? Apa yang bisa kita lakukan secara bersama? Ini negeri kita, negeri kita sendiri, rakyat ini rakyat kita sendiri, kalau kita bekerja keras, insya Allah ada jalan yang baik. Baik kalau begitu saya persilakan. Siapa Pak Anton yang ingin berbicara. Bapak mewakili apa? Petani apa? Petani padi. Ini berkaitan dengan produksi, berkaitan dengan harga ya. Silakan.
H. Ade, Kelompok Petani Kecamatan Majalaya
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat datang Bapak Presiden. Presiden pertama pilihan rakyat di Kabupaten Karawang beserta rombongan. Nama saya Haji Ade, Kelompok Tani Kecamatan Majalaya. Kedatangan Bapak pas di Kabupaten Karawang, karena saya juga punya Bupati, Bupati pertama pilihan rakyat, sama-sama pilihan rakyat, Pak. Saya tidak banyak, Pak. Saya tidak banyak, karena kesemutan ini Pak, kelamaan jongkok.
Presiden Republik Indonesia
Itu barokah ... kesemutan barokahlah.
H. Ade, Kelompok Petani Kecamatan Majalaya
Barokah, Pak. Besar gunung, lebih besar hati petani, Pak, kedatangan Bapak. Makanya saya tidak banyak usul, impor beras supaya dikendalikan, jangan sampai panen banyak di Karawang, impor beras juga banyak, nanti harganya anjlok. Saya tidak banyak, yang penting bapak sering-sering ke Karawang, Pak. Sekian, terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ini ada Pak Mustofa Abubakar, Kepala Bulog. Coba jelaskan Bapak, kalau harganya, kalau panen banyak bagaimana, supaya harga tidak anjlok, tidak jatuh?
Presiden Republik Indonesia
Hatur nuhun, Pak Ade.
Bapak Mustofa Abubakar, Kepala Bulog
Baik. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Mengenai impor beras, alhamdulillah tahun 2007 dari yang diberikan jatah impor oleh Pemerintah tidak terpakai semua. Ada 1,5 juta ton terpaksa Pemerintah impor, karena tahun 2006 akhir impor kita kurang dari dalam negeri, tapi yang di pakai hanya 1,2 juta ton, yang masuk. Karena apa? Karena pengadaan dalam negeri kita, produksi bapak-bapak, ibu-ibu petani ini begitu bagus tahun 2007. Jadi kita rem benar impor, sehingga kesempatan dalam negeri ini terus membaik dan harga juga stabil, malah di atas harga HPP, Harga Pembelian Pemerintankan rata-rata?
Hari ini Kecamatan yang panen di Cilebar harga Rp 2.930. Coba padahal HPP-nya hanya Rp 2.000. Jadi berarti kan jauh lebih bagus. Tapi syukurnya ke Bulog kerjasama dengan Bapak-bapak semua untuk ada stok kita, walau harga di atas HPP masih Bapak-bapak lancar juga menyerahkan ke bulog, itu dibeli Bulog. Jadi kesimpulannya, tidak usah khawatir. Dan 2008 ini sampai sekarang, Pemerintah belum memutuskan untuk impor, mudah-mudahan tidak perlu impor 2008. Itu saya kira penjelasan Bapak Presiden. Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Pak, hati Bapak dengan hati saya sama, lebih bangga, lebih mulia, lebih bersyukur, kalau kita mencukupi dari dalam negeri, betul toh? Mari kita bergiat, ini saya senang sekali hijau. Begitu ada banjir, saya sedih. Ya Alhamdulillah ini kan seperti ini, makanya ini nggak pernah tidur. Pak Kepala Bulog, Menteri Pertanian mikirin seperti ini, Pak Presiden juga pikir terus kalau sudah keliling-keliling ini ada sedikit hujan lebat, ya Allah mudah-mudahan tidak banjir untuk petani. Kalau misalkan ada jalan rusak, mudah-mudahan perbaiki supaya pupuknya lancar, yang nakal-nakal, yang bawa keluar negeri pupuknya diselundupkan, masukkan penjara. Jadi supaya adil semua gitu. Tapi anu ini, ini Pak Kabulog sendiri-sendiri, begitu ada surplus, ada panen lebih tentu harus dibeli dengan harga yang baik, ya. Ok. Siapa lagi yang tadi? Kedelai-kedelai, siapa kedelai ya? Iya beliau dulu ya.
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat datang kepada rombongan Bapak Presiden yang telah tiba di Karawang. Nama saya Wawan, Pak, petani dari Kecamatan Pangkalan Gabungan Kelompok Tani Taman Mukti, Pak.
Presiden Republik Indonesia
Pangkalan itu yang ke arah atas ke Loji. Bukannya ke arah Sangga Buana itu?
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Betul-betul, Pak.
Presiden Republik Indonesia
Saya pernah naik ke Sangga Buana itu.
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Ini saya beserta teman-teman petani sudah menanam kedelai, alhamdulillah untuk harga sekarang bisa mencapai Rp 6.000 Pak di tingkat petani. Awalnya petani-petani itu agak susah untuk menanam kedelai, karena harganya relatif murah gitu, Pak, dibandingkan bila kita bandingkan dengan untuk nanam padi gitu, karena petani sekarang itu ya tetap keuntungan yang dikejar, Pak untuk kesejahteraannya. Masalah yang dihadapi.
Presiden Republik Indonesia
Sebentar Bapak sebentar ya ini bagus ini ya. Saya kalau ketemu pengrajin tahu dan tempe, “Tolong Pak harga kedelainya jangan mahal-mahal”. Saya ketemu petani kedelai, “Tolong Pak biarkan harga seperti ini, petani bernapas”. Saya harus adil, saya harus mendengar semuanya, mendengar importir kedelai, mendengar pengrajin tahu dan tempe, mendengar usaha kecil dan menengah, mendengar petani supaya pas gitu. Yang penting saya senang sekali kalau produksinya naik terus di dalam negeri. Silakan lanjutkan Pak Wawan.
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Untuk saat ini, produksi bisa mencapai 2,1 sampai 2,3 ton Pak, tapi rata-ratanya per hektar 2 ton-an, karena kemarin di kelompok kami sudah menghasilkan 40 ton, Pak per musim.
Presiden Republik Indonesia
Ok stop dulu Pak. Pak Menteri Pertanian, Pak Tarto juga ada, Pak Anton, bisa nggak ditingkatkan produktivitasnya 1 hektar bukan hanya, berapa tadi 2 ton bisa kira-kira?
Menteri Pertanian
Di Grobogan, Pak, alhamdulillah sudah bisa mencapai 3 ton bahkan lebih. Jadi memang ada teknologi tertentu, termasuk penggunaan pupuk hayati, kemudian benih yang tepat, itu masih memungkinkan untuk ditingkatkan.
Presiden Republik Indonesia
Saya instruksikan kepada Pak Anton dengan jajarannya ajak para Gubernur, Bupati, Walikota untuk betul-betul meningkatkan produksi dengan teknologi dan dengan cara tanam yang bagus, supaya Bapak berkibar lagi benderanya nanti ya. Jadi bukan hanya 2 ton, tapi 3 ton, insya Allah.
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Terus ada beberapa hambatan, masalah pemasaran kemarin Pak, karena ya petani itu tetap kalau dijual kurang menguntungkan ditahan dulu. Ini diharapkan ada kemitraan dengan pihak ketiga ya, pihak swasta terutama dengan harga, ada kebijakan dari Pemerintah, masalah harga juga kayak padi Pak, ada HPP-nya gitu. Jadi kalau petani misalkan harganya terlalu murah, dia bisa nahan, dan bisa oleh Bulog mungkin Pak, ya nanti diserap gitu.
Presiden Republik Indonesia
Sebentar, biar langsung Bapak. Saya akan pikirkan nanti, saya akan pertimbangkan dengan Kabulog, Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan untuk yang pas, apakah kita perlukan HPP seperti beras itu, gabah, seperti apa. Tapi tujuannya yang jelas membantu petani, meningkatkan produksi. Kemitraan gimana Bu Mari kira-kira dengan swasta tadi?
Menteri Perdagangan
Mungkin kita bisa pelajari kemitraan, baik dengan Bulog ataupun dengan swasta dengan suatu mekanisme yang akan kita dalami nanti, Pak ya.
Presiden Republik Indonesia
Terima kasih. Lanjut Pak Wawan
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Yang selanjutnya, Pak, masalah ya petani yang rata-rata kalau di saya itu kurang permodalan itu, Pak. Untuk akses permodalan ini, mohon bantuan terutama ya untuk dikelola oleh kelompok gitu ya, untuk kelompok tani.
Presiden Republik Indonesia
Berhenti dulu. Ini biar langsung dijawab. Karena Presiden itu tidak boleh main janji. Tidak boleh, tidak mudah mengumbar janji. Tapi kalau ada masalah harus ada solusinya, ada jawabannya. Saya serahkan Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia. Bagaimana membantu permodalan petani?
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia
Terima kasih, Bapak. Saya Dirut Bank BRI. Dan hari ini sejak bulan November tahun lalu, sudah dicanangkan ada Kredit Usaha Rakyat. Usaha rakyat itu maksimun dengan nilai Rp 500 juta. Tapi ada lagi Kredit Usaha Rakyat yang sangat kecil, yaitu di bawah Rp 5 juta untuk petani, itu juga bisa disalurkan melalui unit BRI, unit desa di daerah Karawang sini. Dan ini produknya baru memang dikeluarkan. Jadi untuk menunjang para petani dalam rangka memenuhi permodalan. Terima kasih, Pak.
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Maaf Pak, bisa saya bertanya langsung?
Presiden Republik Indonesia
Silakan.
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Waktu itu saya mengajukan, Pak untuk SP 3, karena di daerah saya itu kebanyakan tidak punya sertifikat begitu, Pak. Saya waktu mentok di masalah sertifikat, jaminan.
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia
Kredit Usaha Rakyat ini sudah dicanangkan juga oleh Pemerintah tidak perlu jaminan, jaminannya itu dari asuransi kredit. Jadi nanti Bapak datang saja ke Kantor BRI, minta Kredit KUR, Kredit Usaha Rakyat, KUR yang sudah dicanangkan oleh Pemerintah, nanti baik ke cabang ataupun kredit yang di bawah Rp 5 juta ke Unit Desa BRI. Ya, bilang saja sudah ketemu dengan Pak Dirut-nya di sini begitu ya.
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Terima kasih banyak, Pak.
Presiden Republik Indonesia
Pak Dirutnya punya teman, namanya Pak SBY bilang gitu. Terima kasih, Pak.
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia
Mungkin perlu saya jelaskan, SP 3 itu sekarang tahun 2008 berubah namanya menjadi itu semua terintegrasi secara nasional namanya KUR. Jadi yang dulu namanya SP 3, kita sudah berusaha memberikan jaminan dimana uang Pemerintah disimpan di Bank ya, tapi ternyata Bank masih punya kendala. Oleh karena itu, secara nasional programnya semua diintegrasikan, uang jaminan kita juga disimpan di Askrindo ya, itu menjadi KUR, Kredit Usaha Rakyat. Sekarang BRI sudah menyalurkan itu, jadi Bapak silakan nanti berhubungan dengan BRI Unit Desa.
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Terima kasih, Pak.
Presiden Republik Indonesia
Penjaminan itu Pemerintah mengeluarkan uang Rp 1,4 triliun, kalau dibelikan kerupuk, uh suer-suer. Untuk itu supaya meringankan, enggak perlu jamin-menjamin karena sudah Kredit Usaha Rakyat, jangan salah sebut namanya Pak Sofyan Basir ya, Dirut BRI. Lanjut Pak Wawan.
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Ini seandainya memungkinkan juga Pak untuk komoditas kedelai, terus jagung juga, sekarang kelompok kami baru mulai akan menanam, nanti Pak rencananya setelah panen morehat ya, panen kedua. Masalah subsisi untuk kedelai sama jagung gitu, Pak ada nggak gitu dari Pemerintah program itu, dari budi dayanya, Pak?
Presiden Republik Indonesia
Subsidi untuk petani itu ada. Ini Menteri Pertanian tolong untuk kedelai, jagung, subsidi jenis apa yang bisa kita berikan, benih atau pupuk, atau apa atau silakan apa?
Menteri Pertanian
Untuk sementara subsidi yang ada sampai saat ini, ya untuk kedelai maupun juga jagung itu adalah benih. Kita bisa memberikan benih gratis ya. Kemudian pupuk kan sekarang masih disubsidi, jangan lupa, pupuk itu, urea harga normalnya itu di atas Rp 3.000, kita menerapkan HE itu Rp 1.200 walaupun di lapangan kadang-kadang ada kenaikan-kenaikan karena masalah apa namanya pedagangnya, masalah ini ya, jual beli gitu ya, tetapi itukan sudah masih, sudah jauh lebih murah. Tetapi tentu kami akan memikirkan apa yang lebih bisa meningkatkan lagi untuk juga bisa sebagai insentif untuk bisa meningkatkan produksi, terutama kedelai, itu nanti kita pikirkan di tingkat Pemerintah.
Presiden Republik Indonesia
Jelas Pak Wawan ya.
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Jelas, Pak. Terimakasih, mungkin dari saya cukup sekian. Ini produksinya Pak bisa dilihat.
Presiden Republik Indonesia
Sama dengan buatan Amerika?
Bapak Wawan, Kelompok Tani Taman Mukti
Ya beda dikit, Pak. Varitas Anjasmoro, Pak. Maaf pak sekalian untuk pihak-pihak terkait, baik dinas ataupun langsung Pak Menteri Pertanian, seandainya dengan kualitas seperti ini, nanti produk-produk dari petani tersebut bisa dijadikan benih atau hanya untuk ke industri? Arahnya mohon dibawa kemana kemungkinan nanti gitu.
Presiden Republik Indonesia
Pertanyaannya bagus, silakan saja.
Menteri Pertanian
Jadi begini, kami sudah merencanakan, terutama Anjasmoro inikan, sebetulnya dari hasil Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Deptan. Betul produksinya bisa mencapai 2,3 ton per hektar. Jadi kalau sudah bisa 2,1 itu bagus di tingkat petani ya. Memang rencananya nanti kami akan semacam kalau lihat padi ada jabal ya, model begitu dimana nanti para ada petani-petani penangkar. Ini sudah siap, leadership-nya sudah siap, benih induknya sudah siap, nanti disebarkan kepada petani, menjadi petani-petani penangkar, terutama yang ada di sekitar daerah itu, sehingga nanti yang membutuhkan benih, itu bisa dari penangkar. Ini kita bisa berikan gratis nanti benihnya, insya Allah.
Presiden Republik Indonesia
Baik. Apa sekarang, mewakili apa, Pak? Hibrida mangga silakan.
H. Acep, Petani Hibrida
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Nama saya Haji Akip, Pak. Panggilan sehari-harinya Haji Keling.
Presiden Republik Indonesia
Naon?
H. Akip, Petani Hibrida
Haji Keling, Pak. Dan di kami, Pak, itu sudah 3, 4 kali Pak tanam hibrida. Pertama, saya tanam hibrida Aris, Arise yang dari bayer itu Pak, kebetulan secara lisan ke Pak Bupati juga lapor, besok punya program 200 hektar di kecamatan Cibuaya Pak Bupati. Dan kebetulan gagal Pak, per hektar cuma dapat 1 ton ya Pak ya. Kalau di titik kami tidak serta merta sawah pribadi itu dapat 9 ton, hibrida, varitasnya hibrida arise.
Dan ke Bapak Presiden, mohon maaf, kami siap Pak tanam hibrida dan siap mengangkat atas nama Karawang, bagaimana Karawang bisa swasembada pangan ke depan. Dan kami sekian harinya bergelut dengan padi Pak, tanpa ada yang memerintah, hanya dalam rangka kepedulian, silakan banyak saksi, Pak Haji Sulaiman juga petani-petani kemarin kita juga studi banding ke Kendal, Pak. Alhamdulillah tanpa ada cost dari orang lain, Pak. Cuma hanya kepedulian. Bagaimana Karawang dan kebetulan kami sudah melakukan, karena memang bermacam-macam kendala petani, Pak dari mulai awal tanam ya kan susahnya sarana, karena memang tidak apa, tidak sesuai dengan apa yang ada di lapangan, ada yang tandur mati, tanamannya mati. Terus ada yang lambat tanam, karena memang air kurang, kayak di Kecamatan Cibuaya nah itu, Pak.
Jadi kami sangat prihatin dan kami mencoba, dan mencoba membuat satu produk, Pak di rumah. Dan alhamdulillah dari 2001, saya di sana bergerak di petani cuma 2 ton sekarang, sudah 7 ton Pak bersih per hektar di desa kami. Kebetulan istri kami jadi Kepala Desa.
Presiden Republik Indonesia
Alhamdulillah, barokah semua.
H. Akip, Petani Hibrida
Itu Pak dalam rangka kepedulian kami sebagai suami, karena takut tidak masuk Pak, takut bangkrut kami jadi Kepala Desa, maka saya bergerak untuk membantu Pak Bupati juga. Itu pak dan kebetulan sekarang saya lagi tanam pioneer, Pak. Hibrida pioneer. Kemarin waktu kedua saya tanam hibrida intani 2, dan kebetulan ke Pak Kepala Dinas juga datang ke sana, kita buktikan, bukan cuma omong, ternyata alhamdulillah Pak ya sampai 9 ton bersih, Pak.
Dan sekarang kita lagi tanam Hibrida Pionir. Dan yang keempat, kemarin gagal Pak, ada subsidi malah itu yang gagal. Hibrida dari Sanghiang Sri ya Pak ya, SL 8. Bantuan bibit itu tidak tumbuh, Pak. Mungkin kesalahannya masih di bawah Pak, bukan di benih.
Presiden Republik Indonesia
Jangan-jangan tumbuhnya ke bawah nggak ya?
H. Akip, Petani Hibrida
Karena petani tidak profesional, Pak. Terus saya mau cerita sedikit Pak, 2003, saya pernah berbuat sesuatu Pak untuk petani banyak, saya tanam di luas kisaran 20.000 meter persegi, 2 hektar. Orang tidak tanam, saya tanam Pak dengan sistem pompanisasi, saya bikin sumur, bukan untuk bisnis Pak, Pak Presiden mohon maaf, dalam rangka kepedulian, karena tikus, serangan tikus itu di desa kami, itu sangat sangat berat, Pak. Maka kami berbuat, tidak ada yang mendanai atau tetangga, apalagi Pemerintah, Pak, belum kami belum nyampai ke sana Pak, di sekitarnya kami tidak kompromi karena memang SDM mereka bisa terhitung Pak, sampai rugi Rp 12 juta. Tapi alhamdulillah, Pak dapat tikus 26 ribu, cuma 2 orang. 26 ribu itu yang ter-manage sama kami, yang terhitung sama kami. Cuma ada kejadian aneh, Pak, sebulan, demi Allah, saya tidak diterima oleh istri di dalam kamar, Pak, badan saya bau tikus dan ada dokumentasinya kebetulan di pegang sama, ada foto tikus yang per sekian kami foto, Pak. Itu tikus yang mati Pak Menteri.
Presiden Republik Indonesia
Sarannya apa?
H. Akip, Petani Hibrida
Sarannya mohonlah Pak ya, kami minta kepada Bapak Pemerintah, terutama kepada Bapak Presiden untuk diuji coba Pak, karena tikus adalah salah satu kendala yang utama, bagusnya pupuk, stok pupuk banyak, pestisidanya bagus, tanam bagus, tapi kalau tikus sudah nyerang, kiamat pak, dan itu langka obatnya ya Pak Haji.
Presiden Republik Indonesia
Ok. Jadi yang Bapak lakukan itu ternyata efektif, untuk, kalau gitu tindak lanjuti ini mumpung ada semuanya. Saya tertarik sekali dan terima kasih Pak Akip, Pak Haji Keling atas apa yang dilakukan itu. Tolong apa namanya pengalaman empirik nanti dengan Pak Menteri Pertanian, Pak Bupati, tolong fasilitasi yang begini-begini penting. Saya ingin Karawang tetap sebagai gudang beras, sanggup? Setahun lebih ada tugas di Karawang. Jadi saya bangga, kalau Karawang tetap menjadi lumbung padi.
Tahun lalu 2 juta tambahan produksi kita, ton beras, hampir terpenuhi. Tahun ini kita pastikan lagi, produksinya juga terus meningkat, terutama dari Karawang. Pak Dadang tahun lalu berapa Bapak?
Bapak Dadang, Bupati Karawang
Tahun lalu produksi Karawang 1.231.370 ton GKP, Pak kalau diberaskan 689.567 ton beras.
Menteri Pertanian
Berapa naiknya dibanding 2006?
Bapak Dadang, Bupati Karawang
Kenaikan ini sekitar 100 ribu ton beras, Pak.
Presiden Republik Indonesia
Alhamdulillah. Tahun ini berapa target kenaikannya?
Bapak Dadang, Bupati Karawang
Tahun ini targetnya minimal 5 %, Pak.
Presiden Republik Indonesia
5 % ya.
H. Akip, Petani Hibrida
Kalau 10 %, akan terjadi, saya yakin dengan tangan kami.
Presiden Republik Indonesia
Kita berusaha 10%, mohon kepada Allah, sama-sama kita mencapai itu, Pemerintah membantu, Menteri Pertanian membantu, kemudian nanti saya minta Pak Gubernur, Pak Bupati membantu, kita usahakan antara 5 sampai 10% ya.
Bapak Dadang, Bupati Karawang
Ya Pak, amin, amin.
Presiden Republik Indonesia
Baik. Ini cuaca yang bagus seperti ini. Kalau nggak ada hujan petani susah, asalkan tidak banjir gitu. Baik ya ini kebetulan hari Jumat, saya harus kembali, shalat. Tapi saya senang sekali, Bapak, Ibu sudah tahu tujuan kami, ingin menstabilkan harga, tapi petani juga dilindungi ya, rakyat kita juga bisa beli harga itu. Saya senang sekali dengan kedelai, Pak Wawan, majukan terus. Saya senang sekali Pak Ade, Pak Akip tadi masalah padi dan beras, masalah tikus ya, itu memang ada yang bilang harus doa pada Allah kalau membunuh tikus itu.
H. Akip, Petani Hibrida
Alhamdulillah, Pak Kades juga tahu pak kalau itu berdoa mungkin itu juga menjadi kewajiban kami. Dan kemarin juga kami melakukan petani relijius, Pak untuk merekrut zakat, apa kurban, kurban dan zakat, Pak.
Presiden Republik Indonesia
Sampaikan salam saya untuk keluarga semuanya ya. Sampai ketemu lagi. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



