Pidato Presiden
Sambutan Acara Dharma Santi nasional Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1930
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
DHARMA SANTI NASIONAL HARI RAYA NYEPI
TAHUN BARU SAKA 1930
MABES TNI-CILANGKAP, 29 MARET 2008
Yang saya hormati Saudara Menteri Agama Republik Indonesia, Saudara Panglima TNI, para Menteri dan Pimpinan Lembaga Pemerintah,
Yang saya hormati Saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta,
Yang saya muliakan para Pinandite, Saudara Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia dan para Pimpinan Parisada, baik Pusat maupun Daerah,
Hadirin yang berbahagia,
Saudara-saudara Umat Hindu di seluruh tanah air yang saya cintai,
Om Swastiastu,
Pada kesempatan yang baik ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. Kita juga bersyukur hari ini dapat bersama-sama menghadiri Dharma Santi Nasional dalam rangka Perayaan Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1930.
Bapak Gde Prama karena saya mengajak Hadirin sekalian untuk bersyukur, mudah-mudahan kita semua mulai melakukan evolusi jiwa dari yang gelap ke yang terang. Saya mendengarkan dengan seksama yang disampaikan Bapak Gde Prama tadi. Dengan tulus saya belajar banyak, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan.
Dalam Perayaan Nyepi dan Tahun Baru Saka ini, saya mendoakan semoga Saudara-saudara, umat Hindu di seluruh tanah air dimana pun saudara berada mendapatkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan serta dapat meningkatkan semangat untuk berbuat yang lebih baik lagi di waktu yang akan datang.
Tema yang dipilih dalam Dharma Santi Nasional ini, sebagaimana tadi hikmah Nyepi yang disampaikan oleh Bapak Gde Prama, saya kira sangat tepat, relevan, dan sesuai dengan apa yang kita hadapi di negeri ini, bahkan yang dihadapi oleh umat manusia di seluruh jagat. Kita ingin memperkokoh kebersamaan menuju kerahayuan jagat, dengan memelihara keseimbangan alam dan lingkungan sebagai Saudara Ketua Panitia tadi sudah menjelaskan hubungan antara manusia dengan alam.
Dalam rangka Hari Raya Nyepi bersamaan dengan Tahun Baru Saka 1930, kita mengetahui bahwa saudara-saudara kita, umat Hindu melakukan serangkaian kegiatan yang bersifat reflektif, melaksanakan tapabratha, melaksanakan upawase dan lain-lain, yang tiada lain adalah sebuah kontemplasi, sebuah perenungan, sebuah refleksi diri. Apa yang disampaikan dalam hikmah Nyepi tadi adalah sesuatu yang menurut saya bukan hanya patut dilakukan oleh umat Hindu, tapi juga patut dilakukan oleh siapa saja.
Jika kita ingin melakukan perubahan dalam diri sendiri, satu evolusi dari yang gelap menuju ke yang terang, dari yang tidak baik menuju yang baik. Saya berharap kepada semua umat Hindu dan juga sesungguhnya kepada seluruh rakyat Indonesia, manakala kita selesai melakukan refleksi, introspeksi, memetik hikmah dan pelajaran, melakukan semacam upawase, ataupun bagi umat Islam melaksanakan ibadah puasa, maka apa yang dapat kita lakukan menahan haus dan lapar, menahan tutur kata yang tidak baik, menahan diri dari perbuatan yang tercela, hendaknya bukan hanya dilakukan pada saat ibadah itu saja, tapi marilah kita lakukan sepanjang masa dalam hidup dan kehidupan kita. Dengan demikian, benar-benar kehidupan akan menjadi damai, harmonis, penuh dengan kasih sayang dan saling cinta-mencintai, karena kita berangkat dari hati yang bersih, dari tutur kata yang baik, perilaku yang bijak dan menghormati sesama, sakit di antara kita semua.
Hadirin yang saya muliakan,
Dalam era demokrasi yang makin mekar sekarang ini, kebebasan hadir dimana-mana, hak asasi manusia makin kita hormati, memang itu salah satu tujuan kita dalam perubahan besar yang dilaksanakan di negeri ini yang sering kita sebut dengan reformasi. Namun saya berharap, hendaknya kebebasan itu kita gunakan dengan penuh akhlak, dengan penuh etika dan tanggung jawab.
Kebebasan tidak boleh menghancurkan kebebasan pihak yang lain, kebebasan tidak boleh tidak disertai dengan ketenggangrasaan yang tinggi, kebebasan tidak boleh dijalankan tanpa membawa manfaat bagi kehidupan kita bersama. Dan diatas segalanya, kebebasan mestilah hidup berdampingan secara damai dengan kepatuhan kepada pranata dan harmoni yang akan kita bangun secara bersama.
Itu adalah pelajaran besar yang saya dengarkan tadi. Ada dalam ajaran Hindu, dan saya punya keyakinan, nilai dan ajaran seperti itu juga menjadi ajaran dari semua agama yang sama-sama harus kita hormati. Dalam ajaran Hindu kita kenal dengan ada istilah Tri Hita Karana, satu konsep keseimbangan, satu konsep kedamaian, dan konsep keharmonisan, hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan antar manusia, dan hubungan manusia dengan alam semesta.
Saya mengajak, marilah dengan memperbaiki hubungan kita dengan alam semesta, maka tanah air yang kita cintai, bumi dimana kita hidup ini dapat kita lestarikan. Pada bulan Desember tahun yang lalu, dunia mencatat sebuah sejarah untuk pertama kali Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berkaitan dengan perubahan iklim atau climate change meletakkan landasan yang kokoh, satu keberhasilan yang patut kita syukuri dan jadi tonggak bagi kebersamaan global untuk bersama-sama menyelamatkan bumi kita. Saya berharap dan mengajak, marilah dari bumi Indonesia ini kita mengambil prakarsa dan langkah-langkah yang lebih nyata.
Setiap jengkal wilayah kita harus membawa manfaat, baik untuk mencukupi kebutuhan pangan maupun untuk kegiatan ekonomi yang lain akhirnya mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Salah satu wujud kecintaan kita, hubungan kita yang baik dengan alam semesta, setiap jengkal tanah, air dan udaranya, mestilah kita pelihara dengan baik pula, agar dengan demikian, tidak akan terjadi bencana yang akhirnya memporak-porandakan kehidupan kita semua. Kecintaan pada tanah air, hubungan antara manusia dengan alam semesta harus kita lihat dari 2 dimensi itu, dengan kebaikan yang kita berikan pada alam, alam memberikan keselamatan pada kita, dan kemudian pula memberikan kesejahteraan bagi kita semua.
Hubungan antar sesama manusia juga menjadi nafas dari peradaban yang kita bangun. Manusia dengan manusia, kasih sayang dengan kasih sayang, hati nurani dengan hati nurani, kedamaian dengan kedamaian, itulah pilar-pilar peradaban yang kita bangun. Oleh karena itu, kalau di dunia sekarang sedang diisukan benturan antar peradaban, clash of civilization, sesungguhnya apabila kita mulai dari hati dan pikiran kita, kita pun bisa membangun harmony among civilization, keharmonisan antar peradaban. Syaratnya adalah sama-sama kita berbagi, caring and sharing, sama-sama kita mencintai, menyayangi, bersaudara apapun agama kita, apapun etnis kita, apapun suku bangsa kita, apapun daerah kita, bahkan dalam kehidupan demokrasi apapun posisi politik kita. Marilah kita tetap saling sayang-menyayangi sebagai sebuah bangsa, bersatu membangun negeri meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.
Dan akhirnya puncak dari segalanya adalah hubungan kita dengan Sang Pencipta. Para ulama, para pemimpin agama banyak memberikan nasehat tausiah kepada umat, kepada kita semua, dan diatas segalanya adalah keberserahan diri kita kepada Sang Pencipta, yang akhirnya sebagaimana digambarkan oleh Bapak Gde Prama tadi, kita insya Allah akan menjadi pribadi-pribadi yang dari hari ke hari belajar, dari hari ke hari makin baik.
Nasihat beliau kepada saya tadi, saya terima dengan tulus. Karena saya juga ingin dari hari ke hari belajar dan menyempurnakan kepribadian yang saya miliki. Saya manusia biasa, banyak kekurangan dan kelemahan saya. Amanah tentu sekuat tenaga saya jalankan, menghadapi tantangan yang tidak begini mudah. Tetapi sekali lagi dengan keterbatasan, kekurangan, saya akan terus belajar dan terima kasih Pak Gde Prama apa yang dinasehatkan saya, insya Allah akan saya jalankan.
Yang terakhir adalah meskipun ini acara keagamaan, tetapi melalui forum yang baik ini, saya mengajak, ketika negara kita menghadapi persoalan yang fundamental, sebagai contoh keadaan dunia sedang kurang bersahabat, harga minyak meroket, semua bangsa terpukul akibat mahalnya harga minyak, harga pangan juga meningkat dengan tajam, semua bangsa juga mengalami hal yang sama. Gejolak keuangan global belum berhenti, masih terus berlangsung. Menghadapi itu semua dengan penuh keyakinan diri, dengan semangat untuk bersatu, saya mengajak marilah kita hadapi semua ini dengan tegar, tidak perlu saling salah-menyalahkan, Pemerintah akan mengambil tanggung jawab penuh untuk mengatasi masalah ini, melakukan apa yang bisa dilakukan oleh Pemerintah, agar masalah-masalah itu akhirnya dapat kita kelola dengan baik.
Saya tidak ingin menjanjikan apa-apa, kecuali dengan doa restu Hadirin sekalian, doa restu seluruh rakyat Indonesia, Pemerintah yang saya pimpin, termasuk Pemerintah-pemerintah Daerah dengan jajarannya akan terus bekerja dan bekerja mengatasi masalah-masalah yang sedang kita hadapi ini.
Yang kedua, tahun ini sering disebut tahun persiapan Pemilu, tahun depan tahun pemilihan umum, biasanya suhu politik sudah makin memanas dan itu wajar dalam kehidupan demokrasi. Tetapi saya mengajak kepada seluruh Pimpinan dan Pejabat Pemerintah Pusat dan Daerah untuk tetap dan justru lebih beorientasi untuk melaksanakan tugas, tugas yang akhirnya untuk memenuhi kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
Tentu saja dalam proses Pemilu dalam promotor demokrasi akan ada yang dilakukan oleh kita semua, tapi betapapun kerasnya sebuah kompetisi, sekali lagi hendaknya kita tidak kehilangan keinginan untuk memelihara tali silaturahim, persaudaraan dan kebersamaan kita. Sangat bisa dua-duanya kita wujudkan, tetap bersatu, memelihara persaudaraan, sambil proses demokrasi kita jalankan, kita wujudkan.
Tidak harus kalau kompetisi itu di antara kita saling berjarak, saling bermusuhan, saling membenci satu sama lain, tidak harus begitu. Kompetisi sebagai keniscayaan demokrasi bisa dilaksanakan dengan penuh etika, dengan ketertiban, dengan langkah-langkah yang sama-sama kita inginkan, yaitu langkah-langkah yang baik. Dalam kaitan itu sekali lagi, marilah terus kita berikhtiar untuk bersama-sama mengatasi masalah yang kita hadapi, membangun hari esok yang lebih baik dan marilah terus kita memelihara tali persaudaraan di antara kita semua.
Hadirin sekalian,
Umat Hindu yang berbahagia, demikianlah yang dapat saya sampaikan. Sekali lagi, semoga hari besar ini membawa kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi Saudara dan semoga pula, bangsa kita senantiasa mendapatkan bimbingan, petunjuk dan lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membangun diri menuju masa depan yang lebih baik.
Sekian.
Terima kasih atas perhatiannya.
Om Santi, Santi, Santi om.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



