Pidato Presiden

Dialog dengan Pelaku Usaha Pertanian

 

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN PELAKU USAHA BIDANG PERTANIAN
PADA ACARA
SANTAP SIANG BERSAMA
DENGAN PELAKU USAHA BIDANG PERTANIAN
ISTANA MERDEKA, 11 APRIL 2008


Menteri Pertanian
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang saya hormati Bapak Presiden Republik Indonesia,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para Petani, dan Masyarakat Pertanian serta para hadirin yang berbahagia,

Alhamdulillah pada hari ini, kita bersyukur ke hadirat Allah SWT karena atas perkenan-Nya kita dan khususnya para petani dapat bertatap muka langsung dengan Bapak Presiden Republik Indonesia di Istana Kepresidenan dalam keadaan sehat walafiat. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, agar kita mampu membangun sektor pertanian untuk terus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Bapak Presiden dan para hadirin yang saya hormati,
Kita bertekad untuk mencapai kedaulatan pangan dimana makanan pokok sedapat mungkin kita produksi di dalam negeri. Untuk memenuhi hal tersebut, Pemerintah bersama-sama seluruh pemangku kepentingan, Pemerintah Provinsi, Kabupaten, Kota serta para petani, penangkah benih, usaha jasa, pengolahan tanah pasca panen juga sebagai para pelaku-pelaku utama lainnya di lapangan telah bersepakat untuk bersinergi dalam meningkatkan produksi pertanian.

Alhamdulillah dapat kami laporkan Bapak Presiden, pada tahun 2007, pada saat dimana negara-negara lain ada yang mengalami penurunan produksi berasnya seperti India dan Bangladesh, kemudian Cina, Vietnam, Thailand produksinya di bawah 2%, kita sudah bisa mencapai produksi beras peningkatannya sebanyak 4,77%. Jagung juga naik luar biasa Alhamdulillah 14,44%. Hal ini tentunya atas usaha para petani kita dan juga dibantuk oleh seluruh pemangku kepentingan.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan, tahun lalu disamping karena ridho Allah telah memberikan iklim yang baik, juga beberapa program yang tentu kita mintakan agar dilanjutkan oleh para petani yaitu yang pertama adalah program penggantian varietas dari varietas produksi sedang ke varietas produksi tinggi dan bermutu. Kami telah memberikan benih-benih padi, jagung dan kedelai senilai lebih dari 1 trilyun tahun lalu, kemudian juga penggunaan pupuk berimbang dan pupuk organik, pengendalian hama terpadu, serta perbaikan irigasi, pendampingan oleh penyuluh, pengendali organisme penganggu tanaman, peneliti dan lain-lain. Pemerintah dalam hal ini memberikan bantuan benih unggul bermutu, subsidi pupuk, alat pembuat pupuk organik, peralatan pra dan pasca panen, menyediakan kredit ketahanan pangan dan energi serta Kredit Usaha Rakyat.

Perluasan areal tanaman dilakukan dengan meningkatkan indeks pertanaman, pencetakan sawah baru dan kerjasama melalui pola pemberitaan antara pengusaha, perbankan, petani yang fasilitasi oleh Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kota. Untuk bisa memudahkan petani agar petani dapat mengambil keputusan sendiri dalam menerapkan teknologi berusaha tani, maka pembimbingan oleh penyuluhan pertanian bersama-sama pengawas benih tanaman, pengendali organisme penganggu tumbuhan serta peneliti dilakukan melalui sekolah LAPAN.

Untuk tahun ini, SLPTP, Sekolah LAPAN Pengendalian Tanaman Padi Terpadu akan dilaksanakan oleh 66.500 kelompok pada areal 1,5 juta hektar. Beberapa sudah kami tinjau bersama Wapres pada waktu keliling Jawa kemarin, kemudian jagung di 13.500 kelompok pada areal 200 ribu hektar dan kedelai 20.000 kelompok dengan areal 200 ribu hektar. Disamping itu khusus untuk kedelai akan dilaksanakan upaya khusus, percepatan luas tanam kedelai di beberapa Provinsi sentra produksi kedelai.

Selanjutnya untuk lebih mempercepat pembangunan di perdesaan dalam rangka penanggulangan kemiskinan, Pemerintah melaksanakan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan atau PAUP di 10.000 desa tertinggal atau miskin, sekarang Alhamdulillah dengan APBNP ditambah lagi 1.000 desa sehingga totalnya 11.000 desa.

Bapak Presiden yang kami hormati,
Pada kesempatan ini kami laporkan bahwa peserta tatap muka dari kalangan pertanian berjumlah 55 orang dari 12 Provinsi, yaitu NAD, Sumut, Sumbar, Sumsel, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, NTB dan Sulsel. Terdiri dari KTNA tingkat nasional, Ketua Kelompok Tani, Ketua Kelompok Petani Padi 18 orang, jagung 9 orang, kedelai 7 orang, Ikatan Produsen dan Penangkar benih 4 orang, Persatuan Penyuluhan Padi 3 orang, Petani SLTHT, Sekolah LAPAN Pengendalian Hama Terpadu 4, Kelompok UPJA Usaha Perlayanan Jasa Alsintan 3 orang. Asosiasi Pupuk 2 orang, masyarakat organik, Himpunan Masyarakat Pestida, Pestisida, Ikatan Pengendalian Hama Terpadu dan Asosiasi Pupuk Organik masing-masing 1 orang. Disamping itu hadir juga hadir dari HKTI dan koperasi dalam hal ini Dekopin.

Petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian, khususnya tanaman pangan beserta seluruh institusi pengaturan, pelayanan dan penyuluhan terkait telah siap secara terpadu untuk meningkatkan produksi dan produktivitas usaha tani, sehingga peningkatan produksi menuju kesejahteraan dapat ditingkatkan.

Selanjutnya perkenankanlah para petani untuk bisa berdialog dengan Bapak Presiden dan untuk itu kami ucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT selalu me-ridhoi usaha kita semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.

MC
Baiklah untuk perwakilan pertama, perwakilan petani padi, Bapak Edi Suryanto dari Kelompok Tani Margirahayu Desa Dukuh Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kami persilakan.

Bapak Edi Suryanto, Kelompok Tani Margirahayu Jember Jawa Timur
Terima kasih.
Yang terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono,
Yang terhormat para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan yang terhormat teman-teman petani di seluruh Indonesia,

Pada siang hari ini, kami mewakili petani padi mengucapkan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa mana kita semuanya di sini tanpa disangka-sangka petani yang biasanya di sawah bisa bertemu langsung dengan Bapak Presiden, yang saya juga tidak menyangka ini seumur hidup saya ini di sini, sekali ini, Pak.

Yang pertama, kami, nama saya Edi Suryanto Pak, Ketua kelompok Tani Margirahayu, Kecamatan Wuluhan, Desanya Dukuh Dempok, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Prestasi kami juara pertama intensifikasi padi Kabupaten Jember tahun 2004 dan juara kedua se-Provinsi Jawa Timur tahun 2005.

Bapak Presiden yang terhormat,
Untuk petani tanaman padi, kami sudah memperkenalkan program yang namanya SRI (System Rice Intensification), yang mana biasanya kami dengan tanam padi yang biasa hanya 6 sampai 7 ton, tetapi dengan SRI, dengan pupuk organik yang dimasukkan ke dalam tanah, sehingga kami ada peningkatan 10 sampai 14 ton riil per hektar.

Dan kesemuanya ini kami mohon untuk teman-teman petani juga dari aparat Dinas Pertanian, kami mohon untuk memberikan sosialisasi tentang SRI ini, sehingga tanaman kita makin meningkat dan kita tidak perlu lagi yang namanya impor beras. Dan kesemuanya ini, adanya perlu faktor-faktor pendukung, yaitu yang pertama adalah permodalan kelompok pupuk organik juga infrastruktur, irigasi juga yang lebih penting adalah stabilitas harga gabah, juga kalau bisa kami mohon untuk kelompok tani-kelompok tani ini membuat lumbung pangan-lumbung pangan pedesaan untuk kemandirian pangan yang akan datang supaya kita petani di Indonesia akan sejahtera, mandiri tentang pangan.

Kiranya itu untuk Bapak Presiden dari petani Jember khususnya, dari petani Indonesia pada umumnya. Dan mudah-mudahan, apabila tutur kami yang tidak berkenan kepada Bapak, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kami akhiri, Wassalamu’alaikum warahamatullahi wabarakatuh.

MC
Selanjutnya kesempatan kedua, perwakilan petani kedelai, Bapak Sugito dari Kelompok Tani Amrih Makmur Desa Pojok Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Bapak Sugito, Kelompok Tani Amrih Makmur
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia dan yang terhormat Bapak Menteri Pertanian dan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang terhormat kepada para petani se-Indonesia,

Kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberi kenikmatan dan kesehatan kepada kita semua, khususnya kepada kami sehingga dari Purwodadi sampai ke sini dengan selamat saya dapat bertemu langsung dengan Bapak Presiden Republik Indonesia.

Yang kedua, shalawat dan salam kita tujukan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang kita tulus-tulus safaat besok pada hari yaumul qiyamah, amin Allahuma amin.

Sebelumnya kami memperkenalkan diri. Nama saya Sugito dari Kelompok Tani Amrih Makmur, Desa Pojok Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah. Kami dari petani kedelai. Perlu saya sampaikan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia bahwa untuk kedelai di Kabupaten Grobogan pada tahun 2000 atau 2007 adalah mendapat juara nasional tingkat intensifikasi kedelai. Dan akhirnya untuk kedelai di Grobogan telah disahkan oleh Menteri Pertanian menjadi varietas kedelai Grobogan.

Dan kami selaku petani di Grobokan dengan adanya keberhasilan pada tahun 2007, pada tahun 2008 ini, kami sampaikan kepada Bapak Presiden bahwa petani di Kabupaten Grobogan telah berhasil memetik hasilnya dari kedelai yang kemarin dari petani Grobogan, khususnya di Tawangharjo bahwa kedelai di Tawangharjo penghasilannya sangat bagus. Kami laporkan juga Bapak Presiden, satu hektar bisa mencapai 2,5 ton atau sampai 3 ton. Dan itu juga keuntungan dengan adanya perhatian Pemerintah kepada para petani yang dulu luar harga jualnya rendah Rp 5.000 atau Rp 4.000 sekarang menjadi Rp 7.000, itu juga ditangani oleh kelompok tani. Alhamdulillah, untuk petani di Grobogan sangat senang sekali. Dengan pupuk subsidi yang juga harganya murah, ini petani mengucapkan terima kasih, Pak Presiden. Dengan pupuk yang sangat murah, semoga nantinya untuk tahun 2008 sampai 2009 dan seterusnya untuk pupuk harganya bertahan. Itu mintanya petani.

Yang kedua, permintaan dari petani di Jawa Tengah umumnya di seluruh Indonesia untuk harga jual kedelai dipertahankan. Kalau harga jual kedelai dipertahankan, saya kira petani di Indonesia khususnya di Grobogan akan senang menanam kedelai. Itu Pak dari kami, apabila ada kata-kata kami kurang berhati di hati, semua yang kami sengaja maupun tidak, kami minta maaf yang sebesar-besarnya. Akhirulkalam wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

MC
Petani jagung, Bapak Sukardi Sutiman dari Kelompok Tani Dosroha, Desa Basiadua, Serba Jadi, Serdang Bedagai.

Bapak Sukardi Sutiman, Kelompok Tani Dosroha
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh,
Yang saya hormati Bapak Presiden Republik Indonesia,
Yang saya hormati Bapak para Menteri Republik Indonesia dan yang saya muliakan para Kelompok Tani seluruh Indonesia,

Di sini saya mewakili daripada Sumatera Utara, dimana kami Kelompok Tani Dosroha, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Kelompok tani kami didirikan pada tahun 1982, dimana di sini pada tahun 2007 telah dibebani untuk menanam jagung dimana hasil rata-rata per hektarnya mendapat 7 ton, 500 kilogram dengan harga jual 2.000 rupiah per kilogram. Maka dibandingkan menganalisa usaha tani tanam jagung tersebut, biaya sarana produksi serta biaya modal kerja rinciannya antara lain benih jagung, pupuk urea, SP36, KCL, pestisida, pupuk kandang, serta pengolahan tanah dimana pola tanam memupuk pertama dan kedua serta ketiga, pendangiran, penyemprotan insektisida dan panen. Maka di kelompok kami, Kelompok Dosroha dimana pendapatannya meningkat untuk rasio rata-rata output dan inputnya sebanyak 2,3, dimana di sini kami mendapat predikat kelompok petani terbaik di Serdang Bedagai dan untuk mewakili di Sumatera Utara.

Dan kendala kami selama ini kesemuanya pekerjaan yang kami kerjakan seyogyanya melalui manual, maka melalui pertemuan siang hari ini, kami sebagai Kelompok Tani Dosroha memohon kepada Bapak Presiden supaya mendapat perhatian untuk kelompok tani kami yang berada di Desa Basiadua Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara semoga dapat perhatianlah kiranya. Akhirulkalam, kami sudahi, wabillahitaufiq walhidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

MC
Berikutnya adalah perwakilan koperasi, Bapak Suryo Bawono, Ketua Induk Koperasi Tani dan Nelayan.

Bapak Suryo Bawono, Ketua Induk Koperasi Tani dan Nelayan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang terhormat Bapak presiden Republik Indonesia,
Yang terhormat para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang terhormat Ketua Umum Dewan Koperasi Nasional, Bapak Adi Sasono,
Yang terhormat Ketua Umum KTNA, Bapak H. Ir. Minarno Thohir,

Kami manyampaikan laporan perkembangan koperasi yaitu desa, bahwa kami bersama-sama Dewan Koperasi Dekopin, Perum Bulog, KTNA telah mencanangkan menanam kemitraan 200 ribu hektar padi di Pulau Jawa yang saat ini sudah terealisasi kurang lebih 100 ribu hanya untuk kreditnya, KKP baru terealisasi kurang lebih 3.000 hektar, Pak, karena persyaratan yang masih agak sulit, terutama administrasi, karena kelompok tani-kelompok tani itu agak sulit, Pak untuk mengurus persyaratan-persyaratan yang ditetapkan oleh perbankan.

Kemudian yang kedua, kami mohon ijin, agar dalam penandatanganan kredit ketahanan pangan itu dikurangi, Pak dari 3 orang menjadi 2 orang, Pak. Karena petani kalau nyewa motor, kalau harus tanda tangan 3 orang, nyewa motornya 2, Pak. Kalau 1 motor, bisa 2 orang, sehingga mempermudah kelompok tani untuk mendatangkan kredit.

Kemudian kami bersama Dekopin telah menanam 300 ribu hektar padi organik yang menghasilkan rata-rata 9 sampai 11 ton yang sudah sangat diminati oleh masyarakat internasional, yang saat ini yang terbesar pembeli adalah dari Filipina dan Malaysia, Pak. Kemudian yang ketiga, kami dari Dekopin telah berhasil membawa untuk pengeringan nor energi, Pak, di Nusa Tenggara Barat dengan menggunakan kaca. Karena masalah bahan bakar yang sangat tinggi di daerah dan sulit yang kami mohonkan nanti pada suatu kesempatan Bapak Presiden bisa meninjau pengeringan tersebut.

Kemudian Pak, kami bersama juga dengan Perum Bulog telah bersama-sama turun ke lapangan membeli gabah kering panen dari petani yang saat ini penyerapannya cukup baik. Hanya mohon, Pak, kebijakan karena pada saat sekarang musim hujan, pengeringan Perum Bulog itu harus membeli solar industri, Pak, sehingga biayanya tidak cocok, Pak, untuk sesuai dengan HPP, Pak. Jadi kemudian yang singkong, Pak, di Lampung, kami telah menanam 30 ribu hektar singkong yang sudah menghasilkan 80 ton per hektar, Pak, yang kami mohon dukungan agar kemitraan untuk jaminan pasarnya dapat bisa terlaksana.

Kami dari Dekopin bersama Koperasi seluruh Indonesia, bersama KTNA, Perum Bulog sudah bersama-sama untuk menanam padi secara bersama-sama. Yang kami mohon dukungannya, Pak, bahwa pupuk bersubsidi yang selama ini masih menjadi momok bagi teman-teman masalah distribusinya, yang kami harapkan di masa mendatang, distribusi pupuk dapat dilaksanakan oleh koperasi-koperasi di seluruh Indonesia, Pak.

Kemudian yang terakhir, kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dengan adanya KUR, Pak, Kredit Usaha Rakyat ini yang sangat-sangat cukup mengena bagi teman-teman di petani dan nelayan di Indonesia. Hanya masalahnya apresiasinya, Pak, kembali perlu dukungan. Tapi kami, Pak, dari Dekopin telah bekerja sama dengan Bukopin bersama Perum Bulog untuk melakukan kemitraan, dimana kami dengan beberapa kelompok tani, pemuda tani membantu menyelesaikan administrasi petani-petani, sehingga pada saat ini satu cabang Bukopin setiap harinya telah 20 proposal masuk untuk KUR, yang kami harapkan bisa dibantu oleh Pemerintah dalam pelaksanaan kelengkapan administrasinya.

Dan Dekopin telah membentuk sistem online, Pak, dalam rangka untuk saling berkomunikasi terhadap pasar. Yang syukur Alhamdulillah telah banyak kelompok tani-kelompok tani yang berhasil, dimana kelompok tani kami sendiri telah berhasil menanam dan menjual rosella, Pak, yang pada saat ini di pasaran dunia kami telah mengekspor dengan harga 8 dolar per kilogram, Pak, sehingga kelompok tani kami yang dari Kediri cukup makmur saat ini, Pak. Dulu kami menanam padi, sekarang kami nanam padi dan rosella yang saat ini kami ekspor ke luar negeri. Jadi kalau Bapak Presiden ada lihat teh rosella dari Mesir itu sebetulnya dari Kediri, Pak. Demikian, Pak, kami sampaikan. Kami mohonkan maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan dari kami.
Wabillahitaufiq walhidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih Saudara-saudara, khususnya kepada Pak Edi Suryanto, Bapak Sugito, Pak Sukardi Sutiman dan Bapak Suryo Bawono. Sebagaimana saya sampaikan tadi, hari ini kita ingin menyamakan pengetahuan, berbagi pengalaman khusus untuk meningkatkan produksi pangan, meningkatkan produktivitas dari pertanian pangan itu, yang lain-lain tidak kalah pentingnya, yang selama ini juga terus kita bahas masalah perniagaan, masalah pasar, masalah harga pokok pembelian, dan lain-lain itu semua penting.

Namun hari ini saya lebih ingin menyoroti bagaimana produksi pangan kita bisa meningkat dan juga produktivitasnya. Oleh karena itu, Menteri Riset dan Teknologi pun saya ajak, supaya ada kontribusi dari riset kita, pengembangan kita bersama dengan para petani. Kabulog juga saya ajak, Menteri PU sedang di luar kota kalau tidak salah, mestinya juga hadir untuk memastikan irigasi bisa berjalan dengan baik. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah juga bersama kita. Menteri Perdagangan bersama kita. Siapa lagi menterinya yang? Tentu Menko Perekonomian, Menko Kesra jelas, Menko Polkam. Tujuan kita meningkatkan produksi, meningkatkan produktivitas.

Saudara-saudara,
Tadi dari Jawa Timur, dari Jember, Pak Edi Suryanto mengatakan bahwa SRI (System of Rice Intensification) ternyata tumbuh dengan baik. Saya pernah meninjau langsung dan ikut panen di Cianjur, Jawa Barat bersama Pak Solihin Gautama dulu.

Saya ingin tanya langsung kepada Pak Edi Suryanto. Itu berapa luas sudah ditanam SRI di Jember itu? Tendensinya gimana? Trennya, apakah terus bertahan dan meningkat? Dan kemudian bagaimana supaya bisa terus meningkat dan apa saran, misalnya perlu dikenalkan di Provinsi-provinsi lain atau ada yang khas, yang betul-betul lebih cepat lagi menyebar kalau memang terbukti SRI ini dikatakan oleh Pak Edi Suryanto per hektarnya bisa mencapai 10 sampai 12 ton? Monggo, silakan coba.

Bapak Edi Suryanto, Kelompok Tani Margirahayu Jember Jawa Timur
Terima kasih untuk Bapak Presiden. Memang di Jember itu awalnya kami tahun 2004, kami sudah melaksanakan SRI di kelompok tani saya, saya percobaan itu dam plot itu 1 hektar. Awalnya itu saja, kami sudah bisa meningkatkan dari 6 ton menjadi 9,7 ton riil, itu awal 2004. Itu kami menanam benih SRI padi itu, saya tanam pindah tanam umur 6 hari. Jadi saya tanam, saya menggunakan media pembenihan itu saya ndak di sawah, Pak, tapi di rumah. Itu saya menggunakan tampah kecil-kecil itu tinggal saya bawa ke sawah langsung kita tanam. dalam 6 hari kita sudah bisa pindah tanam.

Memang yang pertama kali yang perlu ditekankan di teknik ini adalah pemberian bokasi atau pupuk organik. Tanpa itu, pernah saya juga membuat istilahnya pindah tanam muda, tapi tanpa menggunakan organik, hasilnya juga tidak signifikan, tidak bagus. Jadi dengan teknik SRI, maka wajib kita menggunakan pupuk organik, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Jadi dari aspek lingkungan bagus, karena pupuk organik yang digunakan. Terus?

Bapak Edi Suryanto, Kelompok Tani Margirahayu Jember Jawa Timur
Terus sampai sekarang kami memberikan informasi ini kepada kelompok tani-kelompok tani, bahkan di daerah kami ini sudah banyak sekali melihat kami yang pertama-tama memang di, anu, Pak apa namanya ini mau buat apa gitu? Ternyata setalah hasilnya bagus, teman-teman petani di lingkungan kami, di kelompok tani kami sudah melaksanakan SRI ini. Inipun melihat kondisi dan situasi lahan di masing-masing daerah gitu. Kalau kondisinya memang banyak air, itu kita hanya menggunakan lebih tinggi apa umurnya dari biasanya 6 sampai 10 hari bisa memindahtanamkan itu umur 15 hari. Itu sangat potensi sekali.

Presiden Republik Indonesia
Ya, baik. Jadi Pak Edi Suryanto yakin bahwa teknologi ini dengan cara-cara penanaman SRI, dengan SRI itu sendiri akan berlanjut, akan berkembang dan menyumbang produktivitas yang tinggi?

Bapak Edi Suryanto, Kelompok Tani Margirahayu Jember Jawa Timur
Pasti, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih. Ok, sekarang Menteri Pertanian, Pak Anton. Itu tahun lalu kan bagus, kita punya jadi yang disampaikan Pak Anton itu betul, 10 tahun terakhir, sejak krisis, macam-macam, ini baru tahun lalu kembali keempat nilai pertumbuhannya itu di atas 2%, 3% sekarang menjadi 4,7%. 2006 berapa?

Menteri Pertanian
Jadi hanya 2006 yang kecil sekali dibandingkan 2005, karena kemarau panjang juga, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Ya. Jadi luar biasa tahun 2007. Tetapi kita harus bertahan, harus mempertahankan dan lebih tinggi lagi prosentase kenaikan. Kalau kemarin 4,7, kalau Insya Allah tahun ini bisa 5, begitu? Berapa target kita?

Menteri Pertanian
5%, Pak.

Presiden Republik Indonesia
5%, pas. Bagus sekali. Tolong Pak Anton dipetakan di seluruh Indonesia model seperti, SRI dan mana lagi, mana lagi supaya bisa kita kalkulasikan. Kita yakini bahwa 2008 Insya Allah, meskipun tentu ada cuaca, ada ini, ada itu, kita bisa mencapai 5%. Kira-kira bisa para Bapak, Ibu yang menangani pertanian padi? 5% bisa kita capai tidak ini? Bisa ya, Insya Allah bisa.

Policy kita, kebijakan yang kita kembangkan andaikata dengan ridho Allah, dengan kerja keras kita, kita mencapai 5% dan cukup, lebih sedikit pun kita belum masuk pada kebijakan ekspor. Setelah melewati batas aman nantinya, tidak ada salahnya kita mengekspor dengan harga beras di luar negeri yang cukup tinggi sekarang ini. Jadi saya minta komitemen semuanya. Tolong beritahu yang lain-lain, bahwa misalkan SRI tadi bisa menyumbang peningkatan produksi yang cukup besar.

Lumbung pangan ini juga menjadi policy kita, Kabulog juga di sini. Jadi soal distribusi ini penting, kadang-kadang kalau tidak tersedia di daerah, ombak, gelombangnya besar, cuaca buruk, kadang-kadang terlambat untuk mendistribusi. Oleh karena itu, lumbung itu saya kira betul. Kalau hibrida gimana, Pak Anton, prospeknya yang selama ini juga dikenalkan?

Menteri Pertanian
Ya, Alhamdulillah, hibrida juga percobaan di berbagai daerah cukup menjanjikan, produktivitasnya bisa 10 sampai 12 ton, Pak, per hektar. Hanya hibrida ini padi yang rewel, artinya kalau tidak dikawal dengan baik, produktivitasnya tidak bagus. Oleh karena itu, kami sangat berhati-hati sekali dengan hibrida ini, kami perkenalkan perlahan-lahan sambil terus melakukan pembimbingan.

Jadi kalau ada keluhan yang kegagalan, saya sudah dapat tadi bertanya juga karena ada yang mengeluhkan di Yogyakarta, kenapa kok kurang berhasil, karena memang ini, Pak, apa namanya pemeliharaannya yang kurang intensif. Tapi itu juga satu potensi yang bisa kita tingkatkan, apalagi kalau digabungkan antara hibrida dengan pupuk organik bisa lebih bagus lagi, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Baik. Baiklah nanti kalau akhir tahun ini ternyata pertumbuhan kita 5%, sesuai sasaran atau lebih dan kita betul-betul bisa berswasembada, kita patut nanti melaksanakan syukuran, kita undang semua dari seluruh Indonesia, Pak Adi Sasono, Pak Minarno, semua kita undang nanti, bersyukur sambil meningkatkan sasaran tahun depannya lagi. Jadi tidak boleh sama. Terima kasih, Pak Edi Suryanto.

Pak Gito sekarang, kedelai. Kedelai ini begini, Bapak. Saya ingin betul, meskipun negara kita ini negara tropis, kedelai itu lebih subur pada iklim subtropis, betul ya? Oleh karena itu, ya bisa dimaklumi kalau yang tumbuh subur itu negara-negara lain atau yang subtropis. Tetapi ada daerah-daerah konon yang bisa untuk kedelai ini. Persoalannya adalah kembali bagaimana jangan lama-lamalah setahun, 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, betul-betul produksi ini kita tingkatkan dengan produktivitas yang bagus, pemilihan daerah yang bagus dan cara-cara bercocok tanam yang bagus.

Tadi Pak Gito mengatakan per hektarnya sudah mencapai 2,5 sampai 3 ton ya. Harga jual 7000 rupiah, dengan harapan pupuk jangan naik. Mana Pak Gito tadi? Pak Gito, itu sudah berapa luas yang ditanam di Grobogan itu?

Bapak Sugito, Kelompok Tani Amrih Makmur
Terima kasih. Untuk kedelai yang di Kabupaten Grobogan itu sekitar 10 ribu hektar, Pak.

Presiden Republik Indonesia
10 ribu hektar. Menurut Pak Gito, ini bisa bertahan ya? Itu sudah pol belum 3 ton itu, bisa meningkat lagi enggak kira-kira? Kalau dunia berapa produktivitasnya itu?

Menteri Pertanian
Kalau Brasil saja 3 ton per hektar, kalau Amerika bisa 4 ton hektar.

Bapak Sugito, Kelompok Tani Amrih Makmur
Ini untuk produksi yang berikutnya bisa meningkat. Tadi kami sudah sampaikan, kami mohon terutama untuk petani, pupuknya pas waktu mupuk itu ada pupuk itu senang mintanya seperti ini, Pak, minta saya Pak. Jadinya nanti sistemnya pengolahannya juga akan kami minta penyuluhan pada dinas nanti biar lebih meningkat lagi hasilnya.

Presiden Republik Indonesia
Baik. Pak Gito silakan duduk. Ini kalau kita melihat ke depan, lurus itu ketemu Monas, Tugu Monas, di sebelah kanan ada perempatan, perempatan atau perlimaan itu ya? Satu, dua, tiga, empat, sebelah sana. Itu bulan lalu ada unjuk rasa pengrajin kedelai, apa namanya tahu tempe. Unjuk rasa di sini, minta supaya harga kedelai diturunkan. Padahal petani ini bersyukur, Pak ya.

Beginilah nasib Presiden itu begini. Harga naik, yang bukan petani marah, petani kedelai. Harga turun, yang marah petani kedelainya. Oleh karena itu, jangan sering dimarahi SBY. Kita kembangkan kebijakan, petani harus kita proteksi, harus kita lindungi, HPP harus pas. Kalau sedang harganya jatuh, Bulog aksi. Kalau harganya baik, Alhamdulillah, satu.

Namun pemerintah, negara, saya juga memikirkan konsumen yang lain, sehingga harganya pas betul, yang penting petani mendapatkan keuntungan yang layak, harga itu terjangkau oleh saudara-saudara kita yang lain. Itu yang kita kembangkan. Kadang-kadang tidak mudah. Mudah yang unjuk rasa, mudah yang talkshow, mudah yang mengeluarkan statement, tapi terus kita cari yang pas betul rumusannya itu.

Kedelai, kita ingin kedelai ini, saya tidak tahu, 4 tahun bisa Pak Anton kalau apa namanya programnya betul bisa mendekati berapa persen dari kebutuhan dalam negeri itu?

Menteri Pertanian
Target kami 2011, itu sudah bisa mencukupi 90%, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Pas ya kalau 4 tahun pas ya. Ini bukan hanya Pak Gito yang lain juga, ayolah kita tingkatkan kedelai ini, pertanian atau mungkin lab skill farming atau yang lebih luas gitu, supaya lebih meningkat.

Pak Kardi Sutiman, beliau dari Kabupaten Serdang Bedagai. Betul, Pak ya? Mana tadi, Pak? Baik Bapak ya. Jagung sudah 7,5 ton per hektar. Betul, Pak ya? Harganya Rp 2.000 per kilogram. Berapa luas yang Bapak tanam, yang kelompok tani Bapak?

Bapak Sukardi Sutiman, Kelompok Tani Dosroha
Kelompok Tani Dosroha 75 hektar, Pak.

Presiden Republik Indonesia
75 hektar. Kemudian bisa bertahan berapa lama panen 7,5 ton per hektar itu, terus-menerus atau mungkin ada kecenderungan menaik lagi?

Bapak Sukardi Sutiman, Kelompok Tani Dosroha
Kita usahakan, Pak. Kita usahakan untuk tahun depan ini. Cuma masa ini kalau di Sumatera Utara iklimnya iklim apa, Pak, yang hujannya nggak turun apa itu, Pak? Gerimis saja itu. Hujan rewel itulah, Pak. Jadi enggak bisa stabil kalau masa ini.

Presiden Republik Indonesia
Dijual dimana jagungnya itu, Pak?

Bapak Sukardi Sutiman, Kelompok Tani Dosroha
Kalau dijualnya kepada melalui distributornya.

Presiden Republik Indonesia
Pasarnya ada ya?

Bapak Sukardi Sutiman, Kelompok Tani Dosroha
Ada pasarnya yang tukang membeli.

Presiden Republik Indonesia
Ok. Kalau bantuan peralatan, mesin pertanian, traktor, saya kira silakan Pak Menteri Pertanian dibantu. Nanti langsung dengan beliau, dilihat seperti apa dan sesuai dengan kemampuan kita untuk lebih meningkatkan produktivitas.

Bapak Sukardi Sutiman, Kelompok Tani Dosroha
Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Baik. Yang keempat tadi Pak Suryo Bawono, mana beliau tadi? Baik, terima kasih dari Kediri. Ini kebetulan sekali, kemarin saya berkunjung ke Indramayu, bertemu dengan nelayan untuk sebetulnya menggalakkan, memastikan bahwa program namanya Pemberdayaan Masyarakat Mandiri itu berjalan, memastikan, menggerakkan agar Kredit Usaha Rakyat, kredit mikro, kredit usaha kecil itu juga berjalan. Saya ajak kemarin, antara lain disamping Menko Kesra dengan jajarannya, 3 Direktur Utama Bank kita, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI. Saya akan mengajak Pimpinan Bank Negara yang lain, karena Pemerintah itu sudah memberikan jaminan Rp 1,4 triliun dari APBN kita alokasikan untuk jaminan, itu perputarannya atau nilainya bisa 20 kali lipat. Ini yang menjamin. Jadi usaha kecil, usaha mikro, koperasi yang meminjam itu dengan scheme yang mudah, tidak lagi diperlukan agunan.

Baik. Jadi jangan skeptis, jangan pesimis. Itu program baru kita luncurkan November tahun lalu, saya meluncurkan di BRI. Efektif betul, Januari. Sekarang ini sudah keluar Rp 3,25 triliun untuk kategori usaha menengah, yang Rp 3,25 triliun itu kurang lebih 200 ribu nasabah. Yang kami kejar sekarang ini, pinjaman yang Rp 1 juta sampai Rp 5 juta usaha mikro dan di atasnya.

Kemarin pada posisi kemarin sudah disalurkan ke sekitar 170 ribu nasabah dengan total pengeluaran sekitar Rp 700 milar. Saya ingin terus lagi, lebih banyak lagi yang dijangkau, terutama yang kredit mikro dan kecil di seluruh Indonesia. Hitungannya bisa, karena kalau Rp 1,4 triliun dari jaminan sudah berapa itu?

Dan betul saya sudah menyampaikan kepada Gubernur, Bupati dan Walikota, Koperasi tolong juga ikut mempermudah, memperlancar setiap urusan. Karena yang suka sulit kan jaminannya, agunannya. Pemerintah, kami yang menjamin. Oleh karena itu, saya ingin disukseskan dan jangan sia-siakan itu, karena banyak sekali yang bisa dilakukan dengan Kredit Usaha Rakyat ini.

Solar, tadi, kemarin di Indramayu, saya juga ke Pekalongan juga kemarin. Sebelumnya ke Bogor untuk memastikan program itu berjalan. Alhamdulillah berjalan, meskipun perlu dorongan dari para Kepala Daerah. Saya mendengar katanya kok ada Kepala Daerah yang tidak begitu serius menjalankan program PNPM, wah ini dosanya luar biasa. Wong Ini untuk rakyat kok, bukan untuk siapa-siapa. Jadi entah ada, nanti terus, ya dikaitkan dengan politik, salah besar. Ini program negara, program Pemerintah, uangnya uang negara, uangnya uang rakyat, untuk rakyat. Kok masih pikir-pikir. Untuk rakyat, untuk mengurangi kemiskinan, untuk memberdayakan, membantu usaha kecil, usaha mikro, kok masih pikir-pikir? Perusahaannya besar, tidak sesuai dengan sumpahnya berbuat untuk kepentingan negara, untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan politik, keliru, keliru.

Jadi saya justru ingin semua seperti yang diutarakan kalau urusan modal, dengan Kredit Usaha Rakyat itu bisa dibantu. Kalau belum berdaya dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, bisa dibantu. Tiap Kecamatan tahun depan, semua itu Rp 3 miliar rata-rata, cukup besar. Kalau itu tidak dijalankan seolah-olah masih pikir sana, pikir sini, walah kaya apa itu menyesalnya, apa namanya, marahnya rakyat yang ada di tempat itu. Jadi mari kita yakinkan, sama-sama kita kontrol, kontrol saya, kontrol Menteri-menteri, kontrol Gubernur, kontrol Bupati, Walikota, semua, apakah program yang sudah ditetapkan ini dijalankan atau tidak.

Kembali ke solar, ke minyak tanah. Begini, Suryo Bawono, Saudara, Bapak, Ibu, begini, untuk diketahui bahwa dengan harga minyak yang tinggi sekali, saya lihat tadi di televisi mencapai 109 dolar per barel, Nimax, Brent. Kalau minyak Indonesia 5 dolar lebih murah, tapi tetap tinggi, 105 dolar per barel. Minyak tanah 1 liter, kalau tidak kami berikan subsidi, ditanggung oleh Pemerintah, itu harganya sekarang sudah sembilan setengah ribu per liter. Pemerintah menjualnya, harga ecerannya itu Rp 2.000, Rp 7.000 lebih kita tanggung. Pengeluaran setahun 9 juta kilo liter, 9 kali Rp 7, 63 triliun. Berat, tapi kita tetap berikan subsidi itu. Kasihan rakyat yang belum siap untuk menerima perubahan.

Solar pun belum kita naikkan, premium belum kita naikkan. Tapi subsidinya luar biasa tingginya. Sekarang APBN harus selamat, nggak mungkin kegiatan di negeri ini berhenti, karena nggak ada uang, habis untuk subsidi. Tetapi pilihan kami supaya APBN selamat, negara ini dapat dibiayai kegiatannya, yang dilakukan pertama-tama, penghematan, pengeluaran Departemen, Kementerian, Provinsi, Kabupaten, Kota yang tidak perlu, tidak perlu, artinya bisa ditunda, nanti saja, dihemat dulu.

Yang kedua, penghematan penggunaan BBM, listrik, dan lain-lain, karena menurut saya juga masih boros. Dengan menghemat penggunaan BBM, listrik tentu menyelamatkan juga subsidi. Kemudian listrik bagi yang kaya itu, saya kira tidak perlu kita subsidi, wong mampu kok, kaya kok. Kemudian BBM yang berlebih-lebihan bagi yang mampu, ya kita batasi dengan cara tertentu. Hanya dengan begitu subsidi ini pas, meskipun naik tapi tidak meruntuhkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, ini namanya adil. Yang miskin, yang belum mampu masih kita lindungi, yang kaya, yang mampu, ya jangan memberatkan negara.

Inilah yang sedang kita olah dan kita atur. Oleh karena itu, percayalah bahwa kita memikirkan nelayan, petani, termasuk solar, minyak tanah tadi. Cuma saya minta kerja-samanya supaya semuanya tepat, tidak belok kesana, kesini namanya minyak tanah, karena ada juga yang nakal-nakal, harusnya untuk rakyat, belok ke pabrik, belok ke tempat-tempat yang lain. Kita jaga bareng-bareng.

Bapak, Ibu, hadirin sekalian yang saya hormati,
Sekarang sudah jam 14.20, setelah kita sholat bersama tadi, setelah kita bertukar pikiran, kita akan masuk pada acara santap siang bersama. Harapan saya, mari setelah pertemuan ini kita lakukan apa saja yang bisa kita lakukan, meningkatkan produksi beras, kedelai, jagung.

Cerita sukses jangan disimpan sendiri, beritahu yang lain. Mohon maaf seperti kalau kita pergi ke restoran Padang, sudah tahu? Biasanya kalau ke restoran Padang itu begitu selesai makan, begini kalau makanan ini kurang lezat beritahu kami, pemasaknya, yang punya warung, tapi kalau lezat beritahu yang lain. Jadi kalau, tolong beritahu yang lain supaya produksinya naik semua dan makmur kita punya negeri. Kita bertemu lagi nanti, setelah kita mencapai 5% atau lebih.

Selamat berjuang.
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan