Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Pameran Adi Wastra Nusantara

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUKAAN PAMERAN ADI WASTRA NUSANTARA
J C C, 16 APRIL 2008



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera buat kita sekalian,

Yang saya hormati dan saya cintai Ibu Ida Jusuf Kalla yang juga Ketua Dewan Kerajinan Nasional,
Yang saya hormati Bapak Menteri UKM, Bapak Suryadharma Ali,
Yang saya hormati para Istri Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Gubernur DKI Jakarta beserta Ibu Fauzi Bowo,
Yang saya hormati para Maestro, para Kolektor dan para Pecinta Kain Adati, para Perwakilan Negara Sahabat,

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Marilah pada kesempatan yang amat membahagiakan ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan ridho-Nyalah, maka pada pagi hari ini kita dapat hadir di ruangan yang indah ini dalam keadaan sehat walafiat untuk mengikuti acara yang cukup penting.

Saya merasa amat berbahagia pagi ini bertemu dengan Undangan dan Hadirin dalam acara Pembukaan Pameran Kain Tradisional Unggulan Nusantara, yang sudah disebutkan tadi oleh Ibu Adiati “Menelusuri Tradisi Merajut Tali Persaudaraan Serumpun Membangun Kekuatan Ekonomi Berbasis Produk Budaya”.

Saya yakin kita semua berada di sini karena kecintaan kita yang mendalam kepada kain adati yang memang merupakan warisan budaya leluhur kita. Ibu Adiati tadi sudah menyampaikan sedikit tentang sejarah, bagaimana kain tradisional itu ada dan menjadi warisan dari budaya Indonesia. Ijinkan saya juga untuk menyampaikan dan menyapa tamu-tamu yang berasal dari luar negeri, termasuk juga tamu-tamu atau teman-teman yang berasal dari embassy kita.

Good Morning My Distinguished Guests, Mr. Ambasadors, Mrs. Ambasadors and Spouse, Head of Mission and Spouses, Ladies and Gentlemen,
I am very humble to stand before you today in the Opening of Traditional Textile Exhibition organized by Wastraprema. I believe that you presence here is an appreciation of the world of textile as an art and also to show your interest of traditional textile with the history of each country. And the most interesting of this exhibition, they have also show that traditional textile from Japan, China, Thailand, Philipines, Peru, Cambodia, Laos and etc. I wish you will have time to enjoy seeing all the exhibition stands and the Fashion show.


Hadirin yang berbahagia,
Saya menyambut gembira kegiatan pameran yang diadakan bertepatan dengan Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, sekaligus dalam rangka ikut menyemarakan dan menyukseskan Visit Indonesia Year 2008. Yang ditujukan selain untuk melestarikan warisan budaya bangsa juga untuk meningkatkan kecintaan dan kebanggaan masyarakat Indonesia dalam mengenakan kain tradisional sebagai jati diri bangsa.

Adalah merupakan anugerah yang tiada taranya bagi bangsa Indonesia yang memilki budaya begitu beragamnya dan telah diakui oleh masyarakat dunia. Mulai dari peninggalan situs bersejarah, seperti Candi Borobudur, Prambanan, Mendut, Pawon, bermacam-macam tarian dan kuliner sampai dengan ribuan jenis kain adati bahkan mungkin jutaan. Merupakan tanggungjawab kita bersama untuk melestarikannya. Dan kita bersyukur karena dapat dijadikan sebagai sumber ekonomi baru yang sering disebut ekonomi kreatif berbasis budaya. Guna meningkatkan kesejahteraan perajin khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Ketua Umum Himpunan Pecinta Kain Adati Wastraprema, Ibu Adiati Arifin Siregar tadi telah menyampaikan bahwa dalam pameran ini akan ditampilkan kekayaan wastra nusantara, bahkan juga dari negara-negara sahabat. Mulai dari koleksi wastra adati kuno hingga wastra adati hasil pengembangan para perancang maupun perajin Indonesia secara profesional yang pada saatnya nanti akan sama-sama kita saksikan bersama.

Saya berharap dengan melihat serta menyaksikan keindahan kain tradisional yang mengandung nilai sejarah dan seni yang tinggi dalam kain-kain tradisional yang dipamerkan, maka masyarakat dapat meningkatkan apresiasinya terhadap kekayaan seni budaya kita, khususnya tentu saja wastra adati. Lebih mengenal serta mencintai dan bahkan menggunakannya sebagai busana modern maupun sebagai barang dekoratif atau koleksi. Hadirnya peserta luar negeri merupakan suatu kesempatan bagi kita untuk dapat berinteraksi, bertukar pikiran dan pengalaman, serta menimba ilmu guna meningkatkan kualitas dan kreativitas kita dalam berproduksi, sehingga kelak mampu bersaing secara sehat dalam kompetisi global.

Hadirin sekalian,
Sesungguhnya kepandaian membatik dan bertenun merupakan aktivitas budaya manusia yang berasal dari jaman prasejarah, sekali lagi Ibu Adiati tadi sudah menceritakan sedikit mengenai perjalanan dari kain adati itu. Kekayaan dan keragaman tradisi, serta keluhuran budaya masyarakat nusantara memberikan ciri, serta keunikan kain adati yang khas yang menjadi warisan budaya yang turun temurun dan dikembangkan oleh generasi penerus hingga kini. Karena keindahan dan keberagaman, serta nilai budaya yang tinggi, maka kain adati tersebut sering diburu oleh para kolektor, baik dalam negeri dan luar negeri.

Kita tadi juga sudah menyaksikan Ibu Adiati menyerahkan penghargaan kepada para kolektor kita. Seperti kita ketahui Ibu Siti Bambang Utoyo yang saya kenal secara kenal secara pribadi, beliau memang benar-benar mencintai terutama kain adati yang berasal dari Palembang maupun Sumatera Selatan. Kita patut memberikan apresiasi kepada beliau sekali lagi. Saya pun melihat sampai sekarang, beliau tetap commit dengan awal dari beliau sendiri mengumpulkan kain-kain adat dari Palembang.

Selain itu juga kita mengenal di sini ada Ibu Dian Jumena yang juga mempunyai banyak sekali jasanya terhadap kain-kain adati kita. Ibu Yoe Frans Seda. Kemudian siapa yang tidak tahu Bapak Iwan Tirta yang merupakan Maestro dari batik kita dan juga Ibu Pia Alisyahbana, beliau juga mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan dari kain- kain adati kita.

Hadirin sekalian,
Kain-kain adati kita bukan saja saya tadi katakan sebagai dimiliki atau dikoleksi oleh masyarakat dari dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Saya pernah menyaksikan sendiri ketika berkunjung ke museum, baik itu di Singapura, New Zealand, Australia, di Eropa maupun di Amerika Serikat. Di sana saya melihat sendiri bahwa kain-kain adati kita terpasang, tersimpan dengan sangat baik di museum-museum mereka.

Hadirin sekalian,
Di Indonesia batik dan tenun tradisional merupakan produk unggulan bangsa Indonesia sejak jaman dulu yang kaya akan motif, warna, serta mempunyai nilai historis dengan ciri khas masing-masing daerah. Itulah yang membedakan kain adati kita dengan kain adati mungkin dari negara-negara tetangga kita. Karena kita mempunyai filosofi tersendiri pada kain-kain adati kita. Kalau kita tanya, pasti mereka atau pembuatnya bisa menceritakan apa yang dimaksud dengan kain adati yang ada tersebut. Kita kenal ada Parang Rusak dari Yogyakarta dan Solo atau batik yang dikenal dari Pulau Jawa itu banyak sekali jenisnya. Kemudian Songket dari Sumatera dan Bali. Tapis dari Lampung. Ulos dari Tanah Batak. Tenun Ikat dari NTT dan masih banyak lagi. Tadi Ibu Adiatipun sudah menyinggungnya.

Kita tidak bisa mengabaikan jasa para perajin, para pecinta wastra. Dari sini saya melihat yang berpakaian warna atau berkebaya berwarna orange itu adalah para pecinta adati, termasuk saya saya juga mencintai kain-kain adati. Pencinta wastra, serta perancang busana yang telah turut mengembangkan dan mempromosikan penggunaan kain itu dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Kain adati akan merupakan bagian dari gaya hidup dan menjadi tren, baik dalam pengembangan busana modern maupun untuk kegunaan lainnya.

Kita saksikan bahwa wastra adati semakin hari semakin meningkat penggunaannya di dalam negeri. Kaum tua dan muda, pria dan wanita bahkan sampai anak-anak kecil menggunakan dengan lebih bebas lagi, lebih leluasa lagi, tanpa harus merasa terbelenggu dengan tata cara lama yang terkesan kuno. Dengan prinsip, barang boleh lama, tetapi gaya harus baru, harus trendy sehingga lebih menarik hati. Itulah yang sekarang menjadi mode atau tren kita pada saat ini.

Selain itu kecenderungan masyarakat global untuk kembali kepada etnik dan tradisi merupakan peluang besar untuk pemasaran produk wastra adati kita. Mari kita gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, mari kita jemput ekonomi kreatif berbasis budaya guna meningkatkan kesejahteraan para perajin, UKM serta penghasilan devisa negara.

Sesungguhnya Indonesia dengan kekayaan tradisi dan budayanya merupakan gudang inspirasi yang tak habis-habisnya bagi pengembangan kegiatan ekonomi kreatif. Seiring dengan Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional dan Visit Indonesia Year 2008 diharapkan momentum pameran ini menjadi salah satu kegiatan yang mampu mengundang wisatawan domestik maupun mancanegara, sehingga pada gilirannya akan menggerakan ekonomi kreatif. Saya percaya bangsa yang kreatif adalah bangsa yang akan menang di abad milenium ini.

Pada kesempatan ini, saya ingin memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Ibu Adiati beserta Himpunan Wastraprema yang telah berhasil mewujudkan Pameran Adi Wastra yang pertama ini. Pameran ini telah berhasil menampilkan kekayaan wastra nusantara, mulai dari koleksi wastra yang kuno, maupun wastra adati hasil pengembangan para perancang maupun para perajin kita.

Ibu tadi mengatakan koleksi dari para kolektor sampai ada tadi dikatakan apa namanya sabuk atau ikat pinggang yang terbuat dari rambut orang, saya rasanya baru dengar dan ingin sekali melihatnya, bagaimana rambut bisa dijadikan sebagai sabuk. Apakah itu rambut memang betul-betul panjang atau rambut yang memang dikelola, mari kita, atau pendek-pendek yang disusun dengan demikian rupa sehingga menjadi sebuah sabuk. Mari kita saksikan bersama nanti. Keinginan tahu saya pasti juga menghinggapi keinginan tahu dari Hadirin sekalian.

Saya berdoa semoga pameran semacam ini dapat pula diselenggarakan di kota-kota besar lainnya di Indonesia, sehingga masyarakat dapat menikmati, dapat mengagumi wastra adati kita, yang akhirnya mereka pun akan mencintainya bahkan berkeinginan untuk memilikinya, bahkan juga menggunakannya.

Hadirin sekalian,
Tadi malam saya dengan Ibu Ida Jusuf kalla menyaksikan dan juga Ibu Jero Wacik menyaksikan sebuah pertunjukan yang cukup menarik, gabungan antara seni tari, budaya dan fashion. Mereka mengatakan fashion performing art. Mayoritas artis pendukung menggunakan wastra adati Minangkabau atau sering kita sebut Songket Padang. Tampilnya wastra adati dengan warna dan motif yang beraneka ragam membuat penonton berdecak kagum.

Dulu orang selalu mengaitkan kain Songket dengan upacara adapt, pasti upacara adat. Kemudian juga kainnya berat, karena benangnya terbuat dari emas katanya begitu. Suntingnya apalagi, suntingnya juga terbuat dari emas, pasti berat. Jadi kain songket kita kaitkan selalu dengan adat. Tetapi tadi malam tampilannya sangat baru dan sangat lain. Ternyata kain Songket dengan bahan yang lebih ringan itu menjadi enak sekali untuk dipakai dan kemudian juga bisa digunakan sebagai busana sehari-hari.

Insya Allah kalau semua kain adati kita mengalami semacam transformasi, mulai dari yang dulu berat-berat kemudian menjadi yang ringan-ringan dengan cara-cara yang lebih modern dan juga mungkin kita gali yang lama, kita ciptakan motif-motif yang baru, pasti akan menimbulkan lebih banyak lagi peminat baik, itu di dalam maupun di luar negeri.

Pada kesempatan yang baik ini, saya selaku Ibu Negara mengajak Himpunan Pencinta Kain Adati Wastraprema dan perkumpulan serupa karena saya tahu di sini ada juga Yayasan Batik, Yayasan Tenun, Yayasan Sulam dan Yayasan-yayasan yang lainnya yang terus, serta masyarakat luas untuk terus mencintai dan melestarikan kain adati Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan perduli. Kalau kita tidak perduli, saya yakin, kalau kita perduli saya yakin kain adati Indonesia akan lestari.

Saya berikan contoh. Ketika saya berangkat ke Bali mungkin saya juga sudah cerita kepada Ibu Adiati. Di Bali kita menyaksikan betapa masyarakat Bali, anak-anak menggunakan kain adati dengan sangat enaknya, bebas sekali bahkan jalan pun juga tidak merasa terganggu. Saya bertanya kepada Gubernur Bali pada waktu itu. “Saya senang sekali melihat anak-anak menggunakan kain Bali, yang laki maupun perempuan menggunakan sunting apa namanya tusuk konde khas Bali, kemudian yang laki-laki menggunakan topi Bali.” Beliau menyampaikan bahwa di Bali setiap tanggal 15 purnama, 15 purnama hitungannya mungkin tersendiri, bukan 15 kalender yang biasanya, tetapi 15 kalender Bali. Apakah betul itu? Jadi hitungan kalau Jawa selalu mengatakan, oh ini bulan purnama berarti tanggal 15. Di Bali anak-anak dianjurkan bahkan setengah diwajibkan dalam tanda kutip untuk menggunakan pakaian adat mereka. Oleh karena itu, kalau kita melihat pada saat purnama berangkat ke Bali sana, maka kita akan melihat masyarakat Bali dengan menggunakan pakaian adatnya berwarna-warni. Ini merupakan suatu cara agar supaya masyarakat lebih mencintai kain-kain adati kita. Anak-anak kitapun akhirnya juga mencintai kain adati kita.

Tetapi sebetulnya yang lebih luas lagi adalah mempunyai jadi para perancang mode kita maupun kita semua bisa ikut memikirkan bagaimana ikut menciptakan suatu kreasi baru untuk anak-anak kita, untuk masyarakat kita, sehingga inilah yang dikatakan sebagai ekonomi kreatif. Saya kira ini bisa dicontoh. Bapak barangkali kalau di DKI Jakarta bisa diterapkan seperti itu, alangkah indahnya barangkali bisa juga akan menarik para turis dari luar negeri.

Saya juga mempunyai pengalaman yang bagus Bapak, ketika berangkat ke Laos, ketika APEC di, APEC di, maaf bukan, tapi KTT ASEAN di Laos. Hari-hari waktu itu diliburkan anak sekolah, tetapi ada keinginan ataupun anjuran dari pemerintah setempat untuk penduduknya menggunakan kain-kain adati dari Laos, sehingga pada waktu itu kita melihat sepanjang hari ketika 2 hari kita mengikuti KTT ASEAN, mereka menggunakan kain-kain adati kita, sehingga mau tidak mau kita pun tertarik sebagai tamu di sana dan akhirnya kami ingin mengunjungi pasarnya, ingin mengunjungi toko yang menjual kain-kain adati.

Oleh karena itu, ini barangkali bisa menginspirasi kita semua di sini kira-kira bagaimana caranya kita bisa mengajak kaum mudanya untuk mencintai kain adati kita, bahkan juga untuk menarik wisatawan dari luar negeri, agar mau datang ke Indonesia karena mempunyai ciri-ciri khas tertentu.

Kalau Jakarta dianjurkan menggunakan kain-kain Jakarta. Saya kira Jakarta akan bisa meningkatkan produksi kain-kain Jakarta. Saya tidak tahu apa namanya ya Pak ya kalau di Jakarta? Kainnya itu? Kain sarung biasa. Tapi barangkali bisa Pak dikasih nama yang lebih indah.

Artinya begini lebih menarik. Seperti contohnya ketika orang belum mengenal tanaman Gelombang Cinta, kita tahunya hanya daun biasa saja. Tapi begitu diberi nama tanaman Anthurium Gelombang Cinta, semua orang pengen tahu seperti apa sih, kemudian ingin mengoleksinya. Saya kira kalau dari Jakarta nanti ada juga kain sarung Jakarta diberi nama Betawi, maka Insya Allah kita pun akan mencintai kain betawi.

Distinguieshed Guests,
Before I close my speech I would like you take this opportunity to thank you all the Distinguished Guests for your great effort of being here to witness the beauty of Indonesian textile. So please feel free to collect and start using Indonesia textile as your comfortable dress and home decorations. I wish that together we can keep the world heritage to show our appreciation to our ancestors. Thank you very much.


Pada kesempatan yang baik ini pula saya mengucapkan sekali lagi kepada Pengurus dan Anggota Wastraprema, Perajin, Kolektor, Perancang Mode dan Pengusaha, serta seluruh Peserta Pameran yang mampu menampilkan hasil karyanya secara profesional dalam Pameran Adi Wastra Nusantara 2008. Mudah-mudahan sesuai juga dengan keinginan dari Ibu Adiati saat ini adalah saat yang tepat untuk kebangkitan kembali kain tradisional Indonesia, teruslah berkarya.

Akhirnya dengan mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”, Pameran Adi Wastra Indonesia 2008 secara resmi saya nyatakan dibuka.

Wabillahitaufik walhidayah wassalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan