Pidato Presiden

Sambutan Jamuan Makan Siang dengan Tokoh Perempuan

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
JAMUAN MAKAN SIANG DENGAN TOKOH PEREMPUAN
ISTANA MERDEKA, 18 APRIL 2008



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Yang saya hormati Menteri Koordinator, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Ibu Negara dan para Anggota Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, Ibu Rahmawati Soekarnoputri sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Ibu Gubernur Banten,
Yang saya muliakan para Tokoh Wanita, Tokoh Perempuan pada tingkat nasional yang juga datang dari berbagai daerah di seluruh tanah air,

Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak Ibu-ibu sekalian untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, atas rahmat dan ridho-Nya kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta.

Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Ibu-ibu sekalian yang berkenan hadir memenuhi undangan saya untuk dapat bertemu, bertatap muka dan insya Allah nanti bersantap siang bersama di Istana Merdeka ini. Sejak sebulan yang lalu, atas saran dan pikiran dari banyak teman, hari Jumat, saya mengundang para tokoh pada tingkat Pusat maupun dari Daerah untuk bisa bertemu dan bersilaturahim dengan saya dan para Menteri terkait.

Ini yang keempat kali, yang pertama, yang saya undang adalah Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah, DPD. Setelah itu saya mengundang para Pimpinan Bank, dunia perbankan, baik Bank Usaha Milik Negara, Bank-bank Milik Negara maupun swasta. Setelah itu minggu lalu, saya mengundang para Asosiasi Profesi di sektor pertanian yang berprestasi yang sekarang juga sedang menjalankan tugas untuk meningkatkan produksi pangan, utamanya beliau-beliau yang bergerak di usaha padi atau beras, usaha kedelai dan usaha jagung. Kemudian ini yang keempat kalinya, Ibu-ibu sekalian.

Rangkaiannya biasanya kita sholat berjamaah, sholat Jumat di Masjid Baiturrahim di sebelah sana. Kemudian kita lanjutkan di ruangan ini dan kemudian ada acara ramah tamah, termasuk santap siang bersama dalam suasana yang saya harapkan lebih akrab, lebih rileks dengan penuh persaudaraan.

Bagi yang jarang berkunjung ke Istana, ini adalah Istana Merdeka, yang di sebelah sana adalah Istana Negara. Istana Merdeka dibangun kemudian 70 tahun setelah itu, setelah Istana Negara dibangun. Presiden pertama kita, Bung karno tinggal di Istana Merdeka, Gus Dur pernah tinggal di Istana Merdeka. Kemudian Pak Harto tidak tinggal di sini, Pak Habibie tidak tinggal di sini, dan juga Gus Dur juga tidak, Ibu Mega juga tidak. Oh Gus Dur sini. Saya ulangi Gus Dur sini, yang tidak Pak Harto, Pak Habibie dan Ibu Megawati. Tahun pertama saya tinggal di sini. Tetapi karena Istana ini sudah lama tidak direnovasi, kurang aman, sehingga kita perlukan waktu 1 tahun lebih untuk memperbaiki Istana, terutama pada plafon, atap dan beberapa dinding, kemudian saya hijrah ke Istana negara sampai sekarang.

Di Istana Merdeka inilah kita menerima kunjungan tamu negara, di ruangan ini kita melaksanakan pertemuan bilateral, dan juga saya menerima credential dari para Duta Besar, termasuk yang di depan sana, disamping kita gunakan untuk Peringatan Detik-detik Proklamasi setiap tanggal 17 Agustus, juga kita gunakan untuk upacara penyambutan kunjungan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.

Ibu-ibu, Bapak-bapak, Hadirin yang saya muliakan,
Ini kesempatan yang baik, saya bisa menyampaikan pandangan, ajakan, dan harapan saya kepada Ibu-ibu sekalian selaku tokoh nasional, tokoh perempuan. Namun sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas apa yang telah dikontribusikan oleh Ibu-ibu dalam rangka memecahkan permasalahan yang kita hadapi, dalam rangka mengembangkan berbagai sektor kehidupan di negeri ini, dalam rangka ikut menyukseskan pembangunan di berbagai sektor dan kontribusi yang lain. Kontribusi Ibu-ibu melewati asosiasi, profesi dan peran apapun itu menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa kita dari sejarah yang diukir oleh kita semua. Oleh karena itu, atas nama negara dan Pemerintah, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Saya akan memulai sambutan saya ini dengan mengajak Ibu-ibu, Bapak-bapak, kita semua untuk saya mengutip istilah yang digunakan oleh Gde Prama yaitu evolusi jiwa, dari jiwa yang gelap menjadi jiwa yang terang. Kalau kita hidup dalam kegelapan, jiwa-jiwa yang gelap, maka kita tidak akan kemana-mana dan kita juga tidak menjadi siapa-siapa, karena yang terpikir, ya karena kegelapan itu, putus asa, mengeluh, menyerah, menyalahkan yang lain, menganggap negara lain itu bagus, negara kita kok jelek benar, saling menghujat, memfitnah, dan tidak ada habis-habisnya yang tidak satu pun yang membawa manfaat. Berpikir pun, berpikir yang negatif, sikap pun, sikap yang pesimis. Jiwa yang terang disamping kebalikan dari jiwa yang gelap tadi juga meniscayakan kita untuk berpikir positif dan bersikap optimis. Saya yakin Ibu-ibu sekalian, insya Allah bersama kita-kita semua, Bapak-bapaknya ini berjiwa terang, tidak berjiwa gelap, dan mari kita terangi yang lain-lain pula, kita ajak saudara-saudara kita yang lain untuk berjiwa terang, berpikir positif dan bersikap optimis.

Persoalan akan selalu ada, negara manapun, bangsa manapun menghadapi tantangan, persoalan, dan ujiannya sendiri-sendiri. Dalam sejarah perjuangan bangsa kita, tidak ada satu pun masalah yang tidak bisa kita selesaikan, seberat apapun. Kadang-kadang mission impossible pun bisa kita laksanakan menjadi sesuatu yang possible. Oleh karena itu, sebagai tokoh, saya sungguh berharap Ibu-ibu bisa mengajak yang lain untuk terus bersifat, bersikap optimis, berpikir positif dan mengajak melakukan apa saja yang bisa kita lakukan.

Yang kedua, saya punya harapan yang sangat tinggi kepada kaum ibu, kaum perempuan, bukan hanya jumlahnya yang separuh dari penduduk di Indonesia ini, tapi banyak cerita, apalagi abad 21 ini peran dan kontribusi yang luar biasa dari kaum perempuan. baik pada tingkat global, tingkat nasional maupun tingkat lokal, berbagai cabang profesi, berbagai cabang atau bidang kehidupan.

Tiga hal yang harus saya angkat menyangkut karakter kaum perempuan, karakter ibu, yang karakter ini sangat dahsyat, sangat penting untuk mengatasi masalah yang dihadapi bangsa kita. Saya ingin meminta tolong, saya memohon kepada Ibu-ibu dengan karakter yang ada pada ibu-ibu itu, kita bisa melakukan banyak hal.

Karakter pertama, kaum perempuan itu adalah atau sebutlah budaya, culture. Budaya positif yang pertama dari kaum perempuan adalah budaya menanam, tandur kalau bahasa jawanya itu. Menanam kebajikan, menanam apapun yang membawa manfaat bagi anak cucu, bagi keluarga, bagi masyarakat dan bagi masa depan. Oleh karena itu, saya dukung dan terus disukseskan gerakan kaum perempuan untuk menanam, menghijaukan negeri ini, memelihara, melestarikan lingkungan kita.

Banyak kredit yang diberikan pada kaum perempuan Indonesia. Saya dengar langsung dari berbagai pemimpin dunia, bahkan bisik-bisik mereka pun ingin kaum perempuan di negaranya masing-masing melakukan sesuatu sebagaimana yang Ibu-ibu lakukan, memelopori, mengajaklah untuk menanam, menyelamatkan bumi dari perubahan iklim dan pemanasan global yang sering membawa bencana dan malapetaka. Oleh karena itu, budaya menanam dalam arti yang luas sebagai karakter yang melekat pada Ibu-ibu, saya berharap bisa dipertahankan, dikembangkan dan diaplikasikan.

Yang kedua, budaya hemat. Jarang sekali ibu-ibu yang boros, ibu rumah tangga yang boros, bahaya kalau gaji suami pas-pasan, ibunya boros begitu. Saya mencatat budaya hemat, bukan pelit bukan. Budaya hemat ini salah satu karakter dari ibu-ibu. Saya titip nanti, ketika kita punya persoalan dengan energi, BBM, listrik, gas, saya masih melihat bangsa kita ini tidak hemat energi, sudah susah karena persoalan global, tambah susah lagi karena kita pandai memboroskan, tidak pandai menghemat. Saya ingin dengan segala kreativitas Ibu-ibu, sekarang dan ke depan mari kita bangun, peloporilah untuk membangun budaya hemat sebagai pengamalan karakter ibu-ibu yang memang hemat dalam menggunakan sumber daya.

Yang ketiga, ada budaya, saya tanya Pak Sudi Silalahi tadi, bahasa Indonesianya apa, jawabannya agak panjang, bagi orang Jawa kenal istilah ubed, budaya ubed. Ubed itu begini, misalkan suami gajinya satu setengah juta, punya anak dua, ya cukup itu, cukup ubed, bahkan di daerah daerah nitip jualan kue di warung A di tempat sana, ada penghasilan kecil-kecil, ubed. Oleh karena itu, saya pilih yang lebih dekat itu kreatif sebetulnya. Kreatif, ulet, mencari solusi, tidak menyerah, tapi itu satu kata ubed, betulkan Bu Widodo ubed kan? Leres? Ubed ya? Kreatif. Budaya menanam, budaya hemat, budaya kreatif ada pada ibu-ibu. Bukan berarti kalau suami itu budaya boros, budaya memotong kemudian budaya tumpul bukan, tapi ini seperti naluri, seperti apa namanya yah ya itulah kodrat wanita, hemat, ubed kemudian serba menanam.

Dari cerita saya tadi evolusi jiwa, berfikir positif, bersikap optimis dan tiga budaya yang dimiliki Ibu-ibu, saya titip ke depan ini untuk bersama-sama kami semua masuk dalam wilayah yang sangat penting untuk mengelola, mengatasi isu-isu yang fundamental sekarang ini. Satu, berhubungan dengan climate change. Yang kedua, berhubungan dengan ketahanan pangan. Yang ketiga, berhubungan dengan keamanan energi. Yang keempat, dengan suksesnya pemberdayaan masyarakat lokal yang Pemerintah sekarang meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat PNPM pakai Mandiri, PNPM Mandiri karena harapannya di kemudian masyarakat lokal, komunitas lokal itu bisa mandiri, sehingga akan menjadi self generating community, self developing community, itu yang kita harapkan. Dan yang terakhir, isu mengemuka, saya titip untuk kesejahteraan yang paling hakiki yang suka disebut dengan the quality of life of the people, sering diukur dengan human development index. Apa itu? Ya tingkat kesehatan, tingkat pendidikan dan pendapatan atau income yang saya wujudkan dalam usaha kecil dan menengah.

Jika 3 karakter yang positif tadi dengan jiwa yang terang, optimis dan positif tadi di-klop-kan dengan 5 isu besar yang kita hadapi dengan kekuatan Ibu-ibu menjadi satu critical mass, saya yakin 3 tahun lagi, 6 tahun lagi, 10 tahun lagi, 15 tahun lagi, negara kita akan berubah for the better, yakin kita. Oleh karena itu, jangan sia-siakan peluang yang ada di negara kita ini untuk sama-sama kita bangun.

Ijinkan saya yang terakhir untuk mengelaborasi secara ringkas 5 hal tadi yang saya titip, saya berharap, saya mengajak Ibu ibu bukan hanya masuk dalam wilayah-wilayah, tapi juga menjadi pemimpin, memelopori, menggerakkan, mendinamisasi. Yang pertama, tentang climate change. Alhamdulillah, di Bali kemarin sejarah mencatat di negeri kita telah lahir satu konsensus yang belum pernah dicapai dalam pertemuan-pertemuan serupa sebelumnya. Ada peristiwa yang mengembirakan, Australia join the club. Amerika yang selama ini angel betul dan berseberangan dengan kita semua, mengatakan join the consensus. Ini awal dari sebuah kebersamaan pada tingkat global yang tahun ini akan dilanjutkan di Warsawa, Polandia dan tahun depan akan dilanjutkan di kopenhagen, Denmark.

Saya sudah bertemu dengan Sekjen PBB, Ban Ki Moon, bahkan bulan lalu disamping telepon-telepon beliau yang ingin betul sukses. Oleh karena itulah, kita sekarang membangun namanya 3 plus 2, jadi Presiden Indonesia, Presiden Polandia, Perdana Menteri Denmark, Sekjen PBB dan namanya Chief Executive of UNFCCC yaitu Yvo de Boer yang pada saat Konferensi di Denpasar sebelah-menyebelah dengan Pak Rachmat Witoelar. Kami berlima sepakat untuk menyukseskan proses dari Bali ke Warsawa ke Copenhagen untuk menggantiak Kyoto Protokol yang akan jatuh tempo pada tahun 2012. Tetapi saya akan lebih nyaman sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, Ibu-ibu, ketika Indonesia diletakan secara terhormat seperti itu kita pun bisa menjalankan di negeri sendiri upaya untuk menyelamatkan bumi kita, to deal with climate change, to carve global warning.

Alasannya? Nyata. Kalau kita tidak hijaukan kembali negeri kita, kalau tidak kita fungsikan hutan-hutan kita supaya ada carbon capture dan bukan carbon emissions, maka yang pertama-tama kali kena dampaknya ya negeri kita, bumi kita. Hutan-hutan yang gundul, illegal logging dan lain-lain, yang banjir bandang, gagal panen, rumah hilang, jiwa melayang, ya bangsa kita. Oleh karena itu, for the sake of our own interest, kita harus melakukan mulai sekarang. Memang buahnya tidak mungkin tahun depan, tidak juga 2 tahun lagi, tapi 5 tahun lagi mesti berubah, 10 tahun lagi, 15, 20 tahun untuk anak cucu kita.

Saya mohon kepeloporan Ibu-ibu terus dilanjutkan, ditunjukan. Saya pun kemanapun mesti menanam pohon. Kemarin di Purworejo, kita menghadiri panen bersama-sama rakyat juga menanam. Sekali tanam di wilayah itu 1.000 misalnya. Jadi kalau Ibu dengan semua profesinya, inikan banyak tokoh, banyak pimpinan mengajak untuk menanam 1.000, 2.000, 5.000 tidak perlu menunggu Desember, Desember memang akan habis-habisan. Dan saya mengajak untuk menanam pohon bakau disampingnya yang hutan-hutan, itu untuk menahan gelombang tsunami, memang bisa ditahan dengan namanya the break water, tapi mahal. Boleh yang perlu ada break water, pemecah ombak gelombang, tapi juga dengan pohon bakau yang sejajar dengan garis pantai, itu bisa kita lakukan disamping penanaman untuk penghijauan kembali hutan-hutan kita. Please, dilanjutkan prakarsa dan kepeloporan Ibu-ibu tahun-tahun mendatang berkaitan dengan penghijauan, menanam dan memelihara pohon.

Yang kedua, pangan. Ibu-ibu, penduduk bumi ini sekarang 6,3 miliar, berbanding lurus, berbanding langsung dengan pangan yang diperlukan. Kemudian konsumen pangan yang disebut dengan mereka yang mengkonsumsi lebih banyak lagi, itu di negara-negara berkembang juga meningkat, itulah yang disebut dengan middle class yang ternyata consume more dari pangan ini dibandingkan yang penghasilannya pas-pasan.

Tentu dari segi demand akan terus naik. Mari kita lihat dari segi supply, banyak pertanian yang berhasil selama ini sehingga cukup. Tetapi ternyata perubahan iklim ini juga mengganggu output, gagal panen, banjir, kekeringan yang ektsrim dan lain-lain. Ada juga negara-negara berkembang karena pusing kepalanya memikirkan mahalnya harga minyak bumi, crude oil mengalihkan sebagian komoditasnya yang tadinya untuk pangan seperti jagung, apa namanya tebu, kedelai, sebagian digeser menjadi fuel, bahan bakar minyak. Bahan bakar minyak, oleh karena supply berkurang.

Ini contoh betapa sudah ada ketidakseimbangan antara supply dengan demand ditambah lagi mismatch ini sendiri sudah mengantrol harga, ditambah lagi dengan minyak bumi yang mahal, BBM menjadi mahal, ongkos transportasi, baik impor pangan ataupun ekspor pangan menjadi lebih mahal. In total terjadilah inflasi pangan yang kita rasakan hari-hari sekarang ini. Kita tidak boleh menyerah.

Saya kemarin malam di Yogyakarta mengundang beberapa Menteri, dari Kadin, dari Pimpinan Bank, dari semua saya ajak bicara. Bagi Indonesia yang kaya sumber daya alam, ini rahmat, ini berkah, bukan musibah, jika dan hanya jika mulai sekarang kita sadar bahwa sumber daya alam ini harus kita kelola dengan benar, dengan sasaran yang jelas, dengan kontrol yang jelas, dengan cara-cara yang benar untuk kita tingkatkan produksi. Oleh karena itulah, menghadapi gonjang-ganjing ini, Ibu menyaksikan di televisi, di surat kabar, banyak negara yang sudah mulai mengalami krisis pangan. Filipina itu sudah SOS atau mayday yang menyimpan pangan, langsung dipenjarakan, minta Amerika untuk mendapatkan stok nasionalnya dan lain-lain. Kita sebenarnya sudah dan tengah melaksanakan stabilisasi harga dengan kebijakan khusus, yang itu juga keluar banyak sekali anggaran kita bertrilyun-trilyun, supaya meskipun kedelai naik, terigu naik, apa namanya beras naik, semua naik kita bisa menahan pada batas tertentu untuk tidak terus naik, stabil, insya Allah sebagian bisa kita turunkan. Itu yang kita lakukan.

Berbagai insentif kita berikan, eksport, import. Beberapa keringanan kita berikan untuk mengurangi harga jual kepada konsumen akhir. Ini kita jalankan, tetapi itu belum cukup, Ibu-ibu. Jangka menengah, jangka panjang tidak cukup hanya policy yang kita lakukan untuk menstabilkan harga, bagaimanapun produksi pangan kita harus meningkat. Bisakah meningkat? Bisa. Apa yang menjadi tujuan peningkatan? Beras harus berswasembada. Alhamdulillah, tahun lalu sudah aman. Tahun ini mestinya lebih aman lagi, meskipun kita atau saya belum mengijinkan untuk eksport, lebih baik kita cukupkan dulu di dalam negeri. Tahun lalu, kita bisa meningkatkan 2 juta dengan kerja bersama. Insya Allah kalau kita bisa ulangi lagi, kita bisa mempertahankan.

Tentu daging ayam sudah swasembada. Telur sudah swasemba. Gula sebetulnya kalau gula sugar itu, itu tinggal sedikit, boleh dikatakan aman. Jagung masih beberapa saat lagi, masih kurang sekitar 7-8 % lagi untuk mencapai domestic demand. Kemudian kedelai masih jauh, kita perlu sekitar 2 juta ton, kita baru mampu 600-700 ribu ton saja. Oleh karena itu, masih harus all out meningkatkan produksi kedelai. Daging sapi masih beberapa saat lagi.

Dengan riwayat 10 tahun pembangunan pertanian dengan puncak prestasi beras tahun lalu 2007 tumbuh 4,8% sementara negara Asia yang lain stagnan atau bahkan turun dan prestasi tertinggi saya punya keyakinan, kita bisa melakukan hal yang sama 5, 10 tahun ke depan untuk meningkatkan produksi pangan. Syaratnya apa? Lahan harus kita tata kembali.

Ibu-ibu, luas wilayah kita ini 2 juta daratan kilometer persegi, 6 juta lautan. Dua juta ini yang kita olah, ternyata ada 7 juta hektar tanah yang antah berantah, yang terlantar, yang tidak jelas, yang under utilized, yang tidur dan sebagainya. Dari 7 juta hektar itu, 1,7 hektar, 1,7 juta hektar itu sudah ada yang punya HGU, ini lebih nggak bagus, lebih ngga benar. HGU dipegang, HGU-nya barangkali dijadikan boreg, jaminan, di bank. Tanahnya tidak digarap. 1,7 juta hektar tersebar diseluruh Indonesia. Kami sudah melakukan inventarisasi dan sudah bekerja sejak tahun lalu, akan kita teruskan tahun ini bersama Bupati, Walikota, Gubernur. Mari kita cek dimana tanah itu, mengapa dibegitukan, siapa yang menguasai hak gunanya, mengapa tidak digunakan. Saya minta dukungan rakyat, akan kita cabut dan kita gunakan untuk meningkatkan produksi pangan, agar bisa meningkat produksi kita.

Tanah, investasi dengan harga pangan tinggi mestilah investasi dalam dan luar negeri bisa kita ajak. Infrastruktur jelas, kita bangun. Lantas kita juga memikirkan nanti penghasilan petani, insya Allah makin meningkat, tetapi harga itu harus terjangkau. Pendek kata, solusi besarnya adalah jangka sangat pendek, stabilisasi harga. Jangka menengah, jangka panjang, meningkatkan produksi pangan. Total, all out. Dalam konteks ini, karena ini kerja bersama para petani di ujung-ujung negeri ini di RT, di RW, di pedesaan, di kampung, di Kecamatan, saya mohon melalui organisasi Ibu-ibu sekalian, serukan agar kaum perempuan, kaum wanita juga berkontribusi setiap upaya untuk meningkatkan produksi pangan dalam bentuk apapun. Saya kira cocok dengan karakter kaum perempuan, karakter seorang ibu tentang budaya menanam ini.

Yang kedua, energi. Ibu-ibu, energi ini memang mencemaskan ya. Saya baru saja lihat CNBC, harganya sekarang 115 dolar per barel. Ini tidak pernah dalam sejarah dunia. Dulu tuh harganya 15-20, 15 lagi 30 dolar. Tahun 2004, saya mengemban amanah itu memang baru sekitar 40, dolar. Kita tahan, akhirnya enggak mungkin nggak kita naikan tahun 2005, karena sudah menembus 60 dolar lebih kita naikkan. Sekarang sudah hampir dua kalinya, betapa besar subsidi yang habis untuk mensubsidi minyak tanah, apa namanya premium, solar, listrik. Subsidi kita berapa Menteri Keuangan kurang-lebihnya? Rp 260 triliun. That’s a lot dibandingkan katakanlah APBN kita yang hampir mencapai Rp 1.000 triliun. Berapa? Rp 900 triliun sekian, itu seperempat lebih. Tetapi kita tidak begitu saja menaikkan BBM sekarang ini, tidak bisa begitu saja, baik menaikkan harga minyak tanah, menaikkan harga premium menaikkan harga solar. Kita cari akal yang lain untuk tidak buru-buru menaikkan.

Ibu tahu 1 liter minyak tanah, kita jual sekarang Rp 2.000. Kalau dengan harga 115 dolar per barel, kalau kita lepas harganya Rp 9,5 ribu sampai Rp 10 ribu. Paling sedikit kita subsidi Rp 7.000 per liter. Satu tahun kita gunakan 9 juta kilo liter, 9 miliar liter ketemunya untuk minyak tanah saja, Rp 63-70 triliun. That’s a lot. Belum premium, belum solar, belum untuk listrik. Tentu kita tidak diam, kita melakukan berbagai upaya untuk mengatasi ini, tetapi yang akan kita garap. Kita ini boros, minyak tanah mestinya tidak harus lebih naik, naik, naik terus, 9 juta 10 juta karena keborosan. Premium mungkin mau beli jagung aja, beli bensin 10 liter baru beli jagung. Ya mbok beli jagung minggu depan saja nggak usah ngabis-ngabisin subsidinya besar begitu. Boros sekali.

Listrik siang hari terang-benderang, nggak dimati-matikan dan lain-lain. Kalau kita bisa berhemat, semua itu tinggal dikalikan saja ketemunya triliunan. Oleh karena itulah, mari kita pelopori budaya hemat energi, hemat air, hemat telepon, hemat BBM. Tentu bukan itu Ibu, kita ingin meningkatkan produksi minyak dan gas, kita juga mengolah batubara, kita juga konversi minyak tanah ke gas, kita juga mengembangkan geothermal, hydro power kemudian solar cell, semua kita lakukan. Tetapi kalau bangsa Indonesia tetap boros, ros, ros, nggak bisa ngejar, tidak bisa ngejar. Mari melalui ke pendidikan, gerakan, hemat, hemat, kasihan kepada negara, kepada masa depan kita.

PNPM yang keempat, ini begini Ibu-ibu. Inikan isunya kemiskinan betul. Kemiskinan ini juga dihadapi oleh seluruh bangsa. Penduduk dunia 6,3 miliar, yang miskin itu 2,5 sampai 3 miliar. Ada yang absolute, ada yang poor, ada yang near poor dengan ukuran 1 dolar kurang, 2 dolar kurang ataupun ukuran BPS kita. Indonesia sendiri yang miskin berapa? 16 sekian persen setara dengan 36 juta. Kemiskinan tidak akan sirna kalau hanya didebatkan, diseminarkan, talkshow, pasang iklan, stiker dan lain-lain. Yang harus kita lakukan, ya nyata bersama-sama mengurangi kemiskinan.

Saya sampaikan kepada Ibu-ibu sekalian, setelah kita pelajari dari masa ke masa, maka cara mengurangi kemiskinan itu 3 yang kita pilih. Tiga cluster: Cluster A, Cluster B, Cluster C gitu ya. Cluster A bagi yang betul-betul tidak mampu, tidak berdaya, miskin, absolute poverty. Itu harus kita kasih ikannya, belum mungkin kita kasih kailnya. Inilah konsep bantuan langsung kepada masyarakat. Apa bentuknya? Kita bebaskan dia berobat, Askes. Dulu namanya Askeskin, “kin” tapi yang kita biayai dua kali “kin” karena kalau “kin” ya 36 juta yang dapat asuransi Bu Siti Fadillah 76 juta, makanya diubah namanya jaminan kesehatan untuk masyarakat.

Yang kedua, kita berikan BOS, membebaskan mereka dari pendidikan yang nggak mampu pendidikan. Kita beri beras, beras untuk rakyat miskin. Subsidi lain banyak sekali di bidang kelautan, perikanan, pertanian, direct subsidy, direct aid, ikan. Dan itu jumlahnya besar, bertriliun-triliun. Wilayah yang kedua, lokalitas Kecamatan, Desa yang sesungguhnya juga punya kemampuan untuk diberdayakan. Disamping yang tadi itu, kita keluarkan dana anggaran program namanya PNPM, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri. Yang dikasih siapa? Tahun 2007, ada sekitar 3.000 Kecamatan. Tahun 2008 yang kita kasih 4.000 Kecamatan. Tahun depan semua Kecamatan kita kasih 5.700. Jadi bagi Kecamatan yang miskin selama tiga tahun mendapat terus dengan desa-desanya. Besarnya tahun depan rata-rata Rp 3 miliar. Tahun ini Rp 2 sampai Rp 3 miliar perkecamatan. Dana itu digunakan oleh local community, yang fisik yang mana, ekonomi yang sosial yang mana ada juga berkontribusi, pikiran mereka, inisiatif mereka, dengan demikian lebih cocok dengan apa yang diperlukan. Di situlah petani, nelayan, koperasinya, usaha kecil, air bersih dan lain-lain. Kita lanjutkan program ini dan saya berharap siapapun nanti yang memimpin negeri ini, Pemerintah manapun program ini bagus untuk dilanjutkan karena sangat dirasakan oleh rakyat. Saya sudah datang ke Bogor, saya datang ke Pekalongan, saya datang ke Purwokerto kemarin, nyata, nyata sekali. Itu Cluster B, ini sudah termasuk kail. Tadi ikan, ini kail.


Masih ada satu lagi. Cluster C adalah yang paling sahih, paling cepat mengurangi kemiskinan itu memberikan tambahan income. Kalau penghasilannya tambah dulunya keluarga satu bulan penghasilannya Rp 900 ribu, “Alhamdulillah sekarang kami sudah tambah Rp 400 ribu, jadi satu keluarga kami Rp 1,3 juta.” “Putranya berapa?” “Dua, Pak.” “Sekolah?” “Sekolah, Pak.” “Dimana rumahnya ini?” Jadi makin baik, Pak karena kalau dulu Rp 900 ribu sekarang Rp 1,3 juta. Income-nya naik. Income naik itu biasanya kalau dia tidak menganggur, dia bergerak. Pekerjaannya lebih baik, kalau usaha usahanya bekerja. Itulah scheme yang ketiga, yang kita namakan pemberian Kredit Usaha Rakyat untuk usaha mikro, usaha kecil dan koperasi dalam tingkat mikro dan kecil. Kita berikan kredit tanpa agunan sebetulnya yang menjaminkan Pemerintah, kami keluarkan Rp 1,4 triliun dengan nilai 20 kali perputaran, sejumlah itulah agunan sehingga bank itu bisa meminjamkan kredit itu yang dijaminkan Pemerintah kepada usaha-usaha rakyat.

Alhamdulilah, November tahun lalu baru kita luncurkan. Sekarang bulan April, Desember, Januari, Februari, Maret, April, 5 bulan yang sudah mengalir untuk kredit menengah, usaha menengah gitu, kecil dan menengah, itu ada Rp 3,5 triliun oleh bank-bank yang sudah menyalurkan kepada mereka sekitar 200 ribu nasabah, membantu. Kemarin juga saya saksikan dari Direktur Bank Mandiri, Direktur Utama Bank BNI, Direktur Utama BRI dan Direktur Utama Bukopin menyerahkan langsung. Tapi saya katakan kalau hanya begitu belum cukup yang banyak butuh itu yang pinjaman Rp 1 juta sampai Rp 5 juta. Pedagang bakso, nasi pecel, warung tegal yang di ujung sana, kaki lima itulah yang Rp 1 juta sampai Rp 5 juta. Saya ingin dialirkan lebih banyak lagi, baik langsung pinjaman dari bank unit desa atau two step loans dari lembaga keuangan non bank yang bisa mengalirkan. Sampai hari ini Ibu-ibu, saya laporkan yang sudah dibagikan Rp 700 miliar untuk sekitar 170 ribu nasabah pinjaman Rp 5 juta ke bawah. We need more. Jadi kalau kita alirkan terus seluruh Indonesia ini, harapan saya ini para Menteri ada di sini, ada Pak Boediono meskipun beliau akan segera berhijrah. Ada evolusi juga dari Pemerintah ke Bank Indonesia, Bapak apalagi jadi Gubernur Bank Indonesia, tolong di-oprak-oprak bank-bank kita ini mengalirkan betul kreditnya di seluruh tanah air. Bapak ikut merencanakan di sini, di sana juga harus bisa membantu untuk mengimplementasikan. Rp 1,4 triliun 20 kali dari itu berapa 20 x Rp 1,4 triliun berapa? Harapan saya ya sekitar itulah yang mengalir nanti ke Kredit Usaha Rakyat se-Indonesia Bapak, Ibu, kalau hidup semua pedagang-pedagang kecil, koperasi lele, koperasi tahu, apa namanya kerajinan apapun. Income mesti naik. Naiknya income hampir pasti kemiskinan turun disamping yang PNPM, disamping yang bantuan langsung tadi.

Saya ingin kaum perempuan di Kecamatan, di Desa, Ibu dorong masuklah di situ. Ibu kenal namanya Muhammad Yunus yang mendapatkan hadiah nobel kemarin. Saya undang ke sini, di belakang sana, mengapa Grameen Bank sukses? itukan sama saja pinjaman apa malah bunganya tinggi itu, pinjaman kecil tanpa agunan tersebar yang bisa menyukseskan pelibatan kaum perempuan. Muhammad Yunus mengatakan because of the role of women. Artinya nyampe semua dan sukses sesuai dengan yang diharapkan. Kita mesti bisa. Kalau Bangladesh bisa apa susahnya Indonesia, mesti bisa. Oleh karena, itu dorong, Ibu dorong. Dan saya senang setiap saya datang ke PNPM, itu Ibu-ibunya tampil. Malah yang lebih memuaskannya karena ubed itu, kreatif, cek, cek itu, wah boleh juga ini. Jadi hidup jadinya, hidup.

Yang terakhir, tadi saya sudah bicara climate change, ketahanan pangan, kecukupan energi, pemberdayaan masyarakat. Kelima adalah saya sebut the quality of life, pendidikan, kesehatan, usaha kecil dan menengah. Tolong mari kita hidupkan di semua Desa, Kecamatan di negeri kita melalui cabang organisasi yang Ibu-ibu bina, melalui komunitas yang Ibu-ibu asuh. Ini Ibu Menteri Kesehatan tahu sikap saya, ketika saya diminta, “Pak SBY, mbok kita bangun modern hospital.” Untuk apa? “Ya supaya orang-orang yang berduit, ini bolak-balik berobatnya ke Singapura, berobatnya ke Perth, berobatnya ke Tokyo, berobatnya ke apa namanya yang di Jerman itu yang ahli brain itu Hanouver, ada ke Pitsburg, kalau yang syarafnya segala macam.” Masa kita nggak bisa. Bisa dan saya dukung, saya setuju, tapi jangan tahun ini. Bilangnya tahun 2005, 2005, 2006, 2007 kita beresin dulu yang Puskesmas, yang Posyandu, yang kesehatan keliling, yang bidan, yang paramedis yang dokter yang asuransinya dan sudah mengalir. Saatnya tiba untuk kita membangun modern hospital. Bisa.

Putra-putri Indonesia Bapak, Ibu, begini, cuma belum pede, belum merasa wah ini saatnya sekarang, nggak bisa kalah kita sama Malaysia, Singapur Thailand ndak bisa, kita bisa menang, paling tidak sama. Oleh karena itulah, kita menuju ke situ. Pendidikan juga, Pak Menteri Pendidikan enggak ada nih? Ya pendidikan ini kalau dari Muhammadiyah pendidikan itu salah satu andalannya pendidikan kesehatan. Pak Bambang Sudibyo bicaranya gagah, bolak-balik world class, world class university. World class. Sudah tujuh Universitas Indonesia yang termasuk rangking dunia. Ya meskipun masih handap rankingnya, belum nomer satu sampai 50 belum, tapi lumayanlah sudah masuk ranking, ranking berapa itu. Tetapi saya katakan, ”Pak Bambang, boleh sekarang kita bicara ranking, tapi tahun 2005, 2006, 2007 dulu kita bicara dululah yang SD, yang bukunya yang apa namanya kuriculumnya, gurunya, biaya operasionalnya dan lain-lain.” Karena sudah mengalir dengan anggaran yang besar, pantas kalau kita berangan-angan makin banyak pendidikan kita menjadi world class university.

Less but not least adalah usaha kecil dan menengah. Ekonomi kreatif, Ibu-ibu sudah bekerja banyak, terus dihidupkan. Entrepreneurship tolong. Ini tadi malam saya menelpon Pak Hidayat. Tolong sampaikan kepada Ketua Kadin, Pak Hidayat cobalah saya kasih waktu seminggu, bantu negara, bantu Pemerintah apa yang tadi kita lakukan meningkatkan produksi pangan, energi, dari krisis harus menjadi opportunity, dari musibah harus menjadi berkah. Dengan harga minyak, harga pangan setinggi begini, meroket, negara-negara yang miskin sumber daya alam, itu kiamat, nightmare. Tetapi tidak bagi negara-negara yang punya apalagi kaya dengan sumber daya alam. Saya katakan, ini berkah, ini rahmat, mari tidak kita sia-siakan mulai sekarang. Ya tidak mungkin sekarang kita bangun, tahun depan sudah swasembada semua. Tapi kalau kita fokus, kita mobilisasi kekuatan nyampe juga. Kadin itu punya naluri, naluri bagaimana perusahaan, banyak sekali cabang-cabang, tadi ada IWAPI di sini, saya kira diajak semua, Pemerintah memberikan fasilitas no KKN, yang bikin krisis antara lain KKN, harus terang-benderang, jangan ada pungli, lewat sana, lewat sini, terang semuanya. Kalau terang semuanya, usaha akan tumbuh, rules-nya jelas certain, bukan karena family, bukan karena kenal Menteri ini, bukan karena kenal itu, karena no. Sudah enough is enough. Kita bikin lembaran baru, terang-benderang, pengusaha happy karena tumbuh, pekerja happy, rakyat happy apalagi kita yang sedang mengemban amanah. Jadi ini pekerjaan bersama kita, mari kita laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Saya kira itu. Sudah menyita waktu, tapi masih ada satu jam lagi. Saya persilakan siapa yang akan mewakili Ibu-ibu dan nanti kita bertukar pikiran lagi kalau santap siang sih setengah jam cukup ya. Demikian saya persilakan. Silakan diatur Mensesneg biasanya yang mengatur mungkin sudah koordinasi sama Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan.

Terima kasih.
Wassalamu’aikum warahmatullahi wabarakatuh.



*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan