Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Sidang Tanwir Ke-2 Muhammadiyah

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN SIDANG TANWIR KE-2 MUHAMMADIYAH
BANDAR LAMPUNG
5 MARET 2009

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Saudara Gubernur Lampung dan para Pejabat Negara yang bertugas di Lampung, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan POLRI, Saudara Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bapak Prof. Dr. Din Syamsudin, Ibu Ketua Umum Aisyiah, para Sesepuh Muhammadiyah, hadir kedua kakak saya, Bapak Yahya Muhaimin dan Bapak Malik Fadjar,
Yang saya hormati para Pimpinan Muhammadiyah, baik pusat maupun daerah, Peserta Sidang Tanwir yang berbahagia,

Marilah sekali lagi, pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita masih diberikan nikmat, kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada umat, kepada masyarakat, dan kepada bangsa dan negara tercinta.

Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT hari ini, di tempat ini dapat bersama-sama mengikuti acara Pembukaan Sidang Tanwir Muhammadiyah yang dilaksanakan pada tahun 2009 ini.

Sebelum saya menyampaikan sambutan saya, Pak Din menginginkan berupa ajakan dan harapan, dalam rangka melanjutkan pembangunan bangsa ke depan. Saya ingin memberikan respon terlebih dahulu, apa yang disampaikan oleh Prof. Din Syamsudin tadi. Pertama, berkaitan dengan demokrasi seperti apa yang hendak kita tuju, kebebasan seperti apa yang ingin kita hadirkan di negeri tercinta ini. What kind of freedom yang cocok bagi bangsa Indonesia, yang cocok dengan nilai-nilai yang islami. Di waktu yang lalu, barangkali kita memiliki persoalan lack of freedom, tidak cukup kebebasan, tentu tidak baik dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demokrasi kita sekarang mekar, kebebasan tumbuh, hak asasi manusia mendapatkan tempatnya yang layak, kebebasan pers telah hadir dimana-mana. Saya setuju dengan Pak Din, marilah kita jaga kebebasan yang tengah mekar ini, agar tetap membawa manfaat bagi kehidupan kita, kebebasan yang berakhlak, dan bukan kebebasan yang justru sama permasalahnya dengan dulu, ketika kita mengalami kekurangan kebebasan, lack of freedom. Too much freedom, apalagi mengganggu freedom yang lain, tentu bukanlah tujuan kita, dalam mengembangkan demokrasi ini. Oleh karena itu, saya cocok dengan rumusan itu.

Dua hari yang lalu, saya berbincang-bincang dengan sahabat saya, Sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam, Prof. Ihsanoglu dari Turki . Saya sudah sering berbicara dengan beliau, banyak pikiran yang cocok, sama. Tidak benar kalau islam itu tidak compatible dengan demokrasi, tidak benar kalau Islam itu mengharamkan kebebasan, singkatnya begitu. Justru saya menyampaikan kemarin dan beliau setuju, demokrasi yang tumbuh bergandengan dengan nilai-nilai yang islami membuat kebebasan itu sungguh berakhlak dan membawa manfaat, bukan kebebasan yang super bebas, sehingga menganggu ketentraman dan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan umat manusia.

Saya menggarisbahwahi pula, bahwa kebebasan yang mutlak itulah akar dari liberalisme yang absolut, mengalir kepada jiwa kapitalisme yang fundamental, yang ternyata banyak menimbulkan malapetaka dalam kehidupan manusia sedunia. Oleh karena itu, mari kita jalankan kebebasan sebagai anugerah Allah SWT ini dengan sebaik-baiknya, dengan moral, dengan etika, dan sekali lagi dengan akhlak.

Yang kedua, Pak Din juga mengingatkan kita semua, mari kita terus membangun moralitas dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk etika dalam kehidupan politik dan demokrasi. Saya tentu setuju 100%, banyak godaan di dalam kita berdemokrasi. Godaan yang paling mencemaskan adalah apabila untuk mencapai tujuan, lantas kita menghalalkan segala cara. Marilah kita pilih, kita cari, kita ikhtiarkan cara-cara yang baik untuk mencapai sebuah tujuan, termasuk tujuan politik. Disitulah yang membedakan, apakah politik kita ini sungguh beretika dan bermoral atau sebaliknya. Cara-cara, seperti black campaign karena ini musim Pemilu, money politics yang tadi disebutkan oleh Prof. Din Syamsudin, tentulah bukan pilihan kita, mari kita cegah bersama-sama, agar tujuan kita capai dengan baik.

Kalau kita mencapai tujuan dengan baik, maka rakyat akan ikhlas menerimanya. Tuhan akan berikan hidayah kepada yang sedang mengemban amanah, siapapun mereka-mereka itu, apakah anggota DPR, DPRD, DPD, Gubernur, Bupati, Walikota, termasuk Presiden dan Wakil Presiden yang menurut sistem demokrasi kita, sekarang ini dipilih langsung oleh rakyat.

Saudara-saudara,
Pesan yang ketiga atau yang terakhir dari Pak Din Syamsudin, yang justru mengantar pandangan-padangan saya dalam forum yang sangat penting hari ini, adalah bagaimana sebenarnya kita membangun perekonomian di negeri tercinta ini. Jalan seperti apa yang kita pilih untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Saatnya memang tepat, ketika kita telah memasuki dasawarsa kedua dalam reformasi kita, ketika dunia kembali mengalami krisis perekonomian yang hebat. Dan kita sebagai bangsa yang besar ingin melihat masa yang jauh ke depan, visi, dengan karakter bangsa yang hendak kita bangun, agar yang kita cita-citakan dapat kita wujudkan. Maka saatnya telah tiba, kita melakukan refleksi, pencerahan, enlightenment. Oleh karena itu, saya memang begitu mendengar tema Tanwir Muhammadiyah kali ini adalah “Muhammadiyah Membangun Visi dan Karakter Bangsa”, saya niati, saya ingin menyumbangkan pula pikiran-pikiran sederhana saya, untuk dapat dijadikan bahan pemikiran bersama, untuk bersama-sama mengelola kehidupan di negeri tercinta ini.

Pak Din, menggarisbawahi kita harus memilih pilihan yang tepat bagi negeri kita tentang jalan, sistem dan paradigma pembangunan ekonomi. Saya setuju, janganlah ekonomi yang dibangun oleh hutang dan ketergantungan yang tidak sepatutnya. Tahun demi tahun kita terus mengurangi hutang kita, agar anak cucu kita tidak terbebani. Kita ke depan lebih berhati-hati di dalam melaksanakan kerjasama dengan dunia. Banyak kontrak-kontrak di waktu yang lalu, yang tidak baik, yang harus tidak boleh terjadi lagi, sekarang dan ke depan, sambil melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan. Saya setuju pertumbuhan bukan untuk pertumbuhan itu sendiri, tapi pertumbuhan itu sesungguhnya adalah sarana, means untuk bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, semboyannya menjadi pertumbuhan disertai pemerataan, growth with equity. Semuanya cocok, saya dukung Pak Din.

Yang ingin saya sampaikan dari idealisme, dari cita-cita, dari cara pandang yang baik dalam dunia praktek, bagaimana kita memperjuangkan dan mengimplementasikannya. Pikiran-pikiran itu cerdas, menjangkau dan tepat. Yang ingin saya sampaikan adalah pandangan saya, setelah kurang lebih 10 tahun mengelola kehidupan di negeri ini, kurang lebih 5 tahun sebagai Menteri dulu, juga berkaitan dengan masalah-masalah perekonomian, dan sekarang 4,5 tahun kurang lebih memimpin pemerintahan dan negara dewasa ini. Akan saya sumbangkan apa yang kami lihat, kami rasakan dan bagaimana kita semua melakukan pembaharuan-pembaharuan ke depan, seterusnya, agar yang kita lakukan benar-benar tepat adanya. Itulah yang ingin saya sampaikan, pengantarnya agak panjang. Sepuluh watak merdeka cocok saya kira, yang penting mari kita jalankan. Ketika menjalankan memang tidak semudah sebagaimana yang sama-sama kita inginkan. Tapi jangan menyerah, sesuatu yang baik kalau kita tegar, berikhtiar, terus maju, insya Allah satu demi satu akan dapat kita raih.

Saudara-saudara,
Tentu saya tidak ingin mengulangi lagi, terima kasih saya, penghargaan saya kepada Muhammadiyah, pada Aisyiah dan semua keluarga besarnya sejak berdiri hingga hari ini. Apa yang dilakukan oleh Keluarga Besar Muhammadiyah tercatat abadi dalam sejarah bangsa kita. Justru yang saya sungguh tertarik dan memberikan dukungan pada tema Tanwir kali ini, adalah terpampang di sini “Muhammadiyah Membangun Visi dan Karakter Bangsa”.

Biasanya dalam sebuah seminar, tanwir, kongres, munas, muktamar, temanya bagus, karena dipikirkan berhari-hari, dirembukkan, tapi sering sekali begitu berjalan muktamar itu tidak ngait sama sekali pada tema. Saya ingin kali ini kita lebih mengait kepada tema yang luar biasa bagusnya. Mari pertama kita bedah tema ini, visi. Apa itu visi? Banyak definisi visi. Kalau ada sepuluh profesor mungkin ada 15 definisi visi, sampai akhirnya bingung sendiri.
Gampangnya Indonesia 30 tahun ke depan ini seperti apa, kira-kira begitulah. Indonesia di abad 21 ini seperti apa? Visi, penglihatan jangka jauh, long term vision, strategic vision. Bayangkan kalau kita bicara visi, Indonesia yang kita cintai, 20, 30 tahun dari sekarang seperti apa. Tentu kita sepakat, sebagaimana yang saya sampaikan pada pidato 100 tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei tahun lalu, adalah kita ingin di abad ini Saudara-saudara, Indonesia menjadi negara maju, negara bermartabat dan negara sejahtera. Ini visi kita. Tolong kalau kita bicara visi kurang lebihnya seperti yang ada dalam pikiran kita, dalam hati kita.

Karakter, apa itu karakter? Watak, kepribadian. Orang mengatakan nation and character building, itu agenda yang tidak pernah rampung akan terus kita jalankan. Belum usai yang namanya character building. Kembali kepada karakter, kalau kita klopkan dengan visi tadi, Indonesia 30 tahun dari sekarang, adalah watak bangsa yang memiliki kemandirian yang makin baik, jiwa merdeka, jiwa mandiri, daya saing, keunggulan tidak mau kalah dengan bangsa lain, dan peradaban, civilization. Mari kita bayangkan karakter itu lebih dari sekedar bangsa yang rajin, bangsa yang tidak menyerah, bangsa yang ingin memajukan kondisinya, bangsa yang inovatif. More than that. Betul-betul culture of excellence, yang unggul, yang mandiri, yang berdaya saing, dan yang ingin betul-betul membangun peradaban yang baik.

Kita punya visi, punya objective, punya goals, kita membayangkan karakternya bangsa seperti apa untuk mencapai itu. Ada satu hal lagi, potensi yang tersedia, sumber daya yang kita miliki. Ketika kita melihat ini, makin optimis kita, insya Allah dengan ridho Allah SWT, dengan persatuan kerja keras kita semua, sampai yang diharapkan oleh kita semua untuk anak cucu, mengapa? Kita punya nilai-nilai yang baik, basic values. Bangsa Indonesia sangat majemuk, kita bisa bersatu meskipun gonjang-ganjing sering, tapi tetap akhirnya bersatu, ini modalitas yang bagus.

Nilai yang kedua adalah kepejuangan. Menghadapi siapapun kaum penjajah di waktu yang lalu yang maha kuat, kita bisa mengalahkannya, kepejuangan yang tidak pernah pudar. Dan yang berikutnya lagi ke-Indonesia-an, meskipun ada nilai-nilai global, nilai universal, global style, karena globalisasi, kita punya nilai ke-Indonesia-an. Ini adalah modal, modal yang lain adalah nilai-nilai keislaman, nilai-nilai Islam kita. Kalau kita sungguh memahami, tentu para ulama sangat memahami, lebih memahami dibandingkan saya, Islam sangat mengutamakan kebenaran, truth, Islam sangat mengedepankan keadilan, justice, dan Islam menekankan kemajuan, ilmu, maju. Ini nilai yang luar biasa yang bisa benar-benar mencapai visi dan tujuan pembangunan kita.

Dan sumber daya yang lain, yang tidak kalah pentingnya, yang juga membedakan dengan bangsa-bangsa lain, geografi kita, dengan segala kekayaan alam yang terkandungnya. Demografi kita, sumber daya manusia yang besar yang makin cerdas, makin berkualitas dan makin berdaya saing.

Dan kemudian economic resources. Saya ingin lebih fokus pada ekonomi sekarang ini, sebagai kelanjutan dari apa yang saya sampaikan dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Yogyakarta tahun 2007 yang lalu, termasuk ada gempa bumi di Selatan Yogyakarta. Saudara masih ingat? Pak Din Syamsudin menyambut ada gempa waktu itu, ini ada tandanya. Oleh karena itu, ini kelanjutan dari apa yang saya sampaikan di Yogyakarta.

Saudara-saudara,
Sekarang, negara kita berada dalam proses transformasi, bukan hanya reformasi, bukan hanya demokratisasi, bukan hanya membangun perekonomian setelah krisis 11 tahun yang lalu. We are in a great transformation, perubahan besar. Sebagaimana Rasulullah dulu melakukan perubahan besar, ketika beliau memimpin pada zamannya. Seperti itulah 23 tahun peradapan berubah dari zaman kegelapan menjadi zaman yang dipenuhi cahaya, yang menjanjikan harapan-harapan baru, kehidupan baru. Transformasi adalah seperti itu, bertahap, balance, mengajak semuanya, tidak ada yang radikal, tapi jalan terus, koreksi-koreksi dan seterusnya. Itulah transformasi yang sedang kita lakukan. Transformasi tidak boleh dibiarkan kemana arah angin, we need a grand strategy, strategi besar. Apapun judulnya, we need strategy, silakan nanti dibahas oleh Tanwir ini, oleh Keluarga Besar Muhammadiyah, grand strategy seperti apa, menuju Indonesia 20, 30 tahun dari sekarang, sebagaimana yang saya sampaikan tadi.

Kita punya visi, tujuan besar, kita punya strategy, ada policy di situ tentunya, diperlukan manajemen, pengelolaan sumber dayanya, pengelolaan pembangunannya, pengelolaan kehidupan politiknya dan sebagainya dan sebagainya, dan diperlukan leadership. Leadership at all levels, bukan hanya Presiden, semua pemimpin di negeri ini harus menjadi satu bagian besar, bersinergi untuk mencapai tujuan yang ingin kita capai.

Dalam transformasi itu, sekali lagi, saya bersetuju, bahwa karakter penting. Bangsa yang tough, apapun persoalan, rintangan, ujian, harus terus maju. Bangsa yang inovatif, sekali-kali, berpikir melampaui zamannya, thinking outside the box, dan juga bangsa yang mau bekerja keras dan bekerja cerdas. Tidak ada satu pun negara yang berhasil yang bangsanya malas, pastilah mereka yang memiliki can do spirit yang tinggi, mau bekerja keras, sehingga tercapailah tujuan semuanya itu.

Ketika bangsa kita, negara kita sedang melaksanakan transformasi, dunia tidak vakum, dunia tidak statis. Bayangkan kita melaksanakan transformasi dalam lingkungan global yang juga changing, berubah dan terus berubah. Tatanan yang lama ditinggalkan, masuk pada tatanan baru. Kita melakukan transformasi dalam dunia seperti itu, sehingga variabelnya menjadi banyak. Oleh karena itu, kita harus mengenali semuanya ini, berpikir kontekstual. tetap pada tujuan yang hendak kita capai atas dasar prinsip-prinsip, strategi, manajemen dan kepemimpinan yang diharapkan dilaksanakan di seluruh tanah air.

Saudara-saudara,
Mengapa saya katakan dunia tidak statis, dunia berubah? Contoh, sekarang ini, dunia berada dalam keadaan krisis perekonomian yang besar. Saya harus berterus terang, dunia sedang berduka, meskipun tidak perlu cemas, saya jelaskan nanti alhamdulillah, kita behasil mengurangi, tidak bisa mengenolkan, meminimalisasi dampaknya terhadap perekonomian kita. Dunia sedang kusut sekarang ini, terutama perekonomian. Globalisasi dan tatanan dunia, world order, world architecture kembali di gugat. Saya pun ikut menggugat sebenarnya, karena contoh Indonesia tidak tahu apa-apa sedang membangun, sedang mencapai sasaran, ada krisis di Amerika, sebagai pusat gempa katakanlah, episentrumnya, dengan cepat menjalar ke seluruh dunia, kita susah, kita terpukul, perekonomian kita oleh tatanan seperti itu. Kita harus mengkritisi, we have to challenge, menggugat ada apa dengan world order sekarang ini. Dengan world economic order sekarang ini, dengan global financial architecture sekarang ini.

Oleh karena itu, bagi yang mengikuti pikiran-pikiran besar di dunia, kurang lebih 7 tahun yang lalu, ada pemikiran besar judulnya begini “Another world is possible”. Kalau begini terus globalisasi, kalau begini terus hukum-hukum kapitalisme, mari kita cari dunia yang lain, muncullah tulisan yang berjudul “Another world is possible”. Yang kemudian saya baca 7 tahun yang lalu, beberapa saat yang lalu saya baca lagi, tulisan yang serupa judulnya lebih bagus “Better world is possible”, begitu katanya.

Apanya yang salah, what went wrong dengan perekonomian dunia, kok kita kembali kepada krisis yang dalam sekarang ini? Harus ketemu, kalau tidak ketemu, akan terjadi lagi, terjadi lagi. Tahun lalu krisis harga pangan, krisis harga minyak, sekarang dunia dalam resesi. Pertumbuhan dunia akan minus tahun ini. Tahun depan barangkali masih agak berat, ekspor drop secara dramatis, pasar global menciut dengan cepat, likuiditas terganggu, belum nilai tukar, pasar modal, transaksi yang lain dan sebagainya.

Minggu lalu, saya bersama teman-teman saya, 9 Pemimpin ASEAN bertemu di Thailand dua hari. Kita berbagi rasa, tapi juga berbagi semangat bagaimana mengatasi ekonomi kami masing-masing. Kami mengganggas bagaimana ASEAN dengan kerjasamanya bisa mengurangi beban yang dirasakan oleh negara masing-masing.

Sebelumnya saya hadir tahun lalu, di berbagai summit atau pertemuan puncak pertama, G-8 Plus 8, pertama kali Indonesia diundang bersama-sama dengan Brazil, Cina, India, Afrika Selatan. Suasananya juga suasana yang tidak cerah. Setelah itu saya juga hadir di pertemuan puncak namanya ASEM, Asia European Summit di Beijing sama kelabu. Setelah itu G-20 Summit di Washington, Indonesia sekarang masuk G-20, alhamdulillah dalam kaitan ini.

Kemarin juga kami cukup, apa namanya bukan resah, cukup-cukup worry, kalau kita tidak bisa segera menemukan cara-cara yang baik untuk mengatasi masalah ini. Berlanjut di APEC Summit yang saya hadiri di Peru, sama. Insya Allah bulan depan ini, Indonesia akan kembali hadir di G-20, di London untuk mencari solusi bersama, termasuk apa yang bisa meringankan beban ekonomi Indonesia, sebagaimana usaha Kepala Negara, Presiden, Perdana Menteri yang lain yang juga dilakukan mengurangi tekanan perekonomian pada negaranya masing-masing. Dan setelah itu ASEAN Plus 3 akan bertemu kembali.

Mengapa saya ceritakan serangkaian summit? Terus terang kalau mereka jujur, para pemimpin dunia, sama seperti saya, mereka questioning, what happen dengan tata perekonomian global sekarang ini? What went wrong, apa yang salah? Why? Paling tidak saya senang. Kalau tidak nanti akan terjadi lagi-terjadi lagi. Oleh karena itu, sambil kita mengatasi perekonomian kita masing-masing, nasional, regional, dan global memang saatnya telah tiba untuk melihat kembali arsitektur perekonomian global untuk dilakukan perubahan-perubahan. Dan hanya dengan cara itu kita bisa selamat, kita dalam arti dunia.

Saudara-saudara,
Saya ingin melaporkan ke hadapan Sidang Tanwir ini, betul dan Pak Din mengatakan bersama kita bisa, kita bisa bersama. Kalau bersama horizontal, saya ingin melaporkan kepada Sidang Tanwir sekalian. Untuk diketahui, 6 bulan yang lalu, masih bulan Ramadhan, kita sudah bekerja sebenarnya. Karena kita punya pengalaman 1997, 1998 telat, karena telat terjadi krisis kepercayaan, capital outflow cepet runtuhnya. Kita tidak ingin terjadi lagi, maka dengan cepat kemarin, kita berkumpul Pemerintah, perbankan, para ekonom, dunia usaha untuk mencari solusi. Saudara mengikuti Perpu demi Perppu kita keluarkan, kebijakan kita sesuaikan, kita keluarkan ini keluarkan itu untuk mencegah pemburukan perekonomian kita yang berlebihan.

Alhamdulillah, dampak bisa kita kurangi, saya tidak mengatakan kita nol kan, sampai sekarang pun kita masih bekerja, cricis action management masih berlaku. Beberapa Menteri ada bersama saya, beliau-beliau bekerja siang dan malam, untuk bagaimana mengurangi dampak krisis yang sekarang belum usai. Resesi perekonomian dunia belum berhenti, masih berjalan. Meskipun alhamdulillah kita bisa mengelola, tapi saya harus jujur kepada Saudara-saudara, kepada rakyat Indonesia, resesi global masih memberikan tekanan yang berat. Oleh karena itu, marilah dengan tanpa harus putus asa, tanpa harus cemas, mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan, agar permasalahan ini bisa diatasi.

Kalau saya bicara seperti itu, tidak berarti lantas tidak masuk kepada yang digagas Muhammadiyah, bagaimana ke depan sebenarnya. Kalau sekarang bagian akhir dari sambutan saya, saya mengajak bagaimana sebaiknya perekonomian nasional kita bangun ke depan. Tidak berarti pekerjaan rumah sekarang ini kita tinggalkan, kami akan bekerja dan terus bekerja sampai melewati batas aman. Tetapi ini saat yang baik dan nanti setelah Sidang Tanwir selesai, saya ingin tahu bagaimana pikiran-pikiran besar Muhammadiyah, saya ingin baca supaya makin kita satukan semuanya. Ini negara-negara kita sendiri, bangsa-bangsa kita sendiri, milik kita semua, makin banyak yang berpikir makin bagus, makin bagus, saya yakin.

Saudara-saudara,
Bagian terakhir, bagaimana kita menyikapi krisis perekonomian dunia sekarang ini, dan bagaimana sebaiknya ekonomi Indonesia ke depan, sambil tadi saya katakan, kita mengelola permasalahan yang ada. Tapi analisis kritis perlu dilakukan. Kita harus memetik pelajaran, mengapa sejak berakhirnya Perang Dunia II, sudah 6 kali krisis terjadi di dunia. Indonesia sendiri bagaimana dan seterusnya.

Saudara-saudara,
Kalau ada yang bertanya, mengapa ekonomi dunia jadi berantakan seperti ini? Mungkin sebagian telah memiliki jawabannya, tapi saya ingin menyumbangkan, saya mendalami what’s going on sekarang ini? Semua pandangan saya dalami, saya pelajari, para ekonom, para pemimpin dunia, NGO, semua.

Pertama, ekonomi dunia sekarang ini tidak riil, tidak mencerminkan nilai aslinya, banyak digelembungkan, banyak spekulasi yang melebihi kepatutan dalam hukum-hukum ekonomi. Ekonominya menjadi bubble, mengejar pertumbuhan berlebihan, serakah, greed, not need, hyper growth namanya. Perusahaan-perusahaan multinasional bergentayangan di seluruh dunia, mengejar pertumbuhan dan mereka itu sesungguhnya profit seekers, kadang-kadang melupakan keberlanjutan, melupakan keadilan, melupakan segi-segi humanity dari sebuah perekonomian.

Dan saya lengkapi, arsitektur perekonomian dunia sekarang ini masih menggunakan mindset yang lama. Global governance juga tidak bisa menjawab persoalan masa kini. Lengkaplah sudah deretan yang mengakibatkan sistem perekonomian dunia rapuh. Dan akhirnya ketika ada pemicu di Amerika, entah kapan lagi pemicu di negara lain, jadilah seperti ini dan hidup kita tidak aman, perekonomian dunia terancam. Tentu ini tidak bisa dibiarkan, kita harus menyelamatkan negeri kita sendiri pertama-tama. Yang kedua, ikut andil dalam membangun tatanan perekonomian dunia yang benar.

Saya memberikan orasi ilmiah di Institur Pertanian Bogor, beberapa bulan yang lalu. Sebagai pandangan yang saya kemukakan berasal dari 10 tahun bersama-sama yang lain, mengelola perekonomian di negeri ini. Saya kedepankan singkatnya begini. Kalau mau selamat ekonomi kita ke depan ini, kalau kita memetik pelajaran yang berharga dari jatuh bangunnya perekonomian dunia, termasuk krisis di negara kita ini, maka saya sampaikan pertama-tama, nomor satu, pembangunan ekonomi Indonesia mesti memadukan pendekatan resource based, knowledge based, dan culture based. Meskipun sepertinya cukup, ada knowledged ada sumber saya alam jadi satu, maju, kurang satu culture based, nilai-nilai, norma-norma kehidupan bangsa yang berlaku jangan diabaikan. Maka saya berpikir, pembangunan ke depan, paradigmanya, pendekatannya mesti resource based, knowledge based dan culture based, itu yang pertama.

Yang kedua, sejalan dengan pikiran Pak Din, ekonomi kita masih sustainable green economy. Dengan menjaga keseimbangan, penghematan, dan optimasi sumber daya alam. Saya katakan jangan greed, bukan untuk ketamakan dan keserakahan, benar-benar yang diperlukan kebutuhan, need. Production dengan consumption harus seimbang, renewable energy harus makin dikedepankan, dibandingkan kita menguras sumber-sumber yang tidak terbarukan. Sehingga sustainabilitas ini penting untuk anak cucu kita. Itu nomor dua.

Yang ketiga, yang kita pilih dan anut adalah benar growth with equity. Sejak Pak Harto ada trilogi, pertumbuhan, pemerataan, stabilitas, semua bicara, pertumbuhan disertai pemerataan, but what and how. Tahun-tahun terakhir tolong disimak, ini berusaha untuk kita wujudkan, kalau hanya mengejar growth, dulu namanya trickle down effect teoriya. Pertumbuhan terjadi digunakan untuk meningkatkan kesejateraan rakyat, akhirnya makmur semua, wrong, tidak terjadi.

Sejak awal ketika ekonomi tumbuh, pastikan sudah ada pemerataan, maka growth masih inklusif, masih broad based, masih mengajak semua dalam arena pertumbuhan. Kebijakan fiskal, liat APBN kita, Bapak Bambang Sudibyo ada di sini. APBN kita ini, satu, untuk membiayai pemerintahan umum, tugas-tugas umumnya biasa di negara manapun. Porsi yang kedua, untuk growth, infrastruktur, energi, transportasi, growth. Yang ketiga, yang kita pastikan porsinya tidak kurang sekarang ini, biaya untuk social safety nett, untuk penanggulangan kemiskinan, untuk sektor-sektor tambahan pendidikan kesehatan, usaha mikro, kecil, dan menengah, dan sebagainya.

Kita ingin membumikan sesuatu yang semua setuju dalam real economy, dalam practical budgeting system, silakan dilihat bahwa masih ada kekurangan, ya kita perbaiki bersama-sama. Tetapi we try untuk betul-betul sesuatu yang global equity, seperti apa? Itulah yang kita terapkan sekarang ini dan saya kira karena Muhammadiyah punya pikiran yang sama, growth, bukan for the sake of growth, tetapi untuk prosperity, untuk equty, untuk semuanya, ya Itulah yang harus kita lanjutkan.

Yang keempat, Saudara-saudara banyak negara-negara yang menangis. Singapura, tahun 2007 pertumbuhannya 7%, tahun lalu drop menjadi 2%, tahun ini akan minus. Banyak negara seperti itu, mengapa? Ekonominya disokong oleh ekspor, begitu pasar dunia menciut, balik kanan itu barang dan jasa, parkir. Indonesia tahun 2007, ekonomi tumbuh 6,3%, tahun lalu berkurang hanya 0,2%, kita tumbuh 6,1%. Tahun ini, mudah-mudahan kita bisa tumbuh antara 4,5 sampai 5%, itu sudah baik kalau bisa dicapai. Pelajarannya apa? Kalau kita ikut-ikutan Taiwan, Hongkong, Singapura, mana lagi? Korea Selatan, export oriented economy, terjadi gonjang-ganjing di dunia nasib kita merana. Oleh karena itu, mari mulai sekarang disamping ekspor tetap perlu, kita perkuat pasar domestik, pasar domestik. Manusianya 230 juta, sumber daya alamnya ada, daerahnya luas, mesti bisa kita bangun ekonomi domestik. Oleh karena itu, kita harus betul-betul ke depan memperkuat ekonomi domestik, agar tidak merana dan tidak jatuh seperti negara-negara lain. Itu yang keempat.

Yang kelima, dulu sangat sentralistik yang menentukan segalanya Jakarta. Nggak mungkin lagi, tidak sesuai dengan semangat otonomi daerah. Mulai sekarang, masing-masing Kabupaten, Kota dan Provinsi, sumber-sumber perekonomian di seluruh Indonesia. Itulah sebabnya, minggu lalu, ketika saya dengan Pak Abdullah Badawi dan Perdana Menteri Abhisit dari Thailand masalah kerjasama IMT GT, Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle, saya minta para Gubernur, Bupati, Walikota di depan. Saya minta pengusaha-pengusaha daerah di depan, silakan cari opportunity bersama Malaysia dan Thailand untuk tumbuh di tempatnya masing-masing.

Satu jam setelah itu, saya memimpin dua pertemuan puncak itu, setelah itu saya pimpin pertemuan Hasanal Bolkiah, Abdullah Badawi Malaysia, Presiden Arroyo, kerjasama kita di bagian Timur namanya BIMP-EAGA, Brunei, Indonesia, Malaysia, Phillipine East Asian Growth. Lagi-lagi silakan Pak Gubernur, Bupati, Walikota, bersama-sama akan cari partner-nya dan opportunity seperti itu. Sekarang harus go local, back to nature, kapitalisme global inginnya ditarik ke global, berbahaya, yang menang mereka-mereka yang sudah punya bendera besar. Kita justru sebaliknya, harus memperkuat ekonomi-ekonomi lokal, back to nature, go local. Dan ingat, pada saat krisis mereka sebagai satu pengaman. Itu yang kelima.

Yang keenam, investasi kalau hanya memerlukan pembiayaan luar negeri, dunia krisis, mati kita. Oleh karena itu, saya mengajak, mulai sekarang mari kita lebih banyak menabung, national waving, national savings. Kalau tabungan besar, investasi dalam negeri besar tidak perlu merengek-rengek mencari kesana kemari investasi asing. Kalau investasi asing asing ada apa-apa terbang, itu capital. Kalau investasi dalam negeri apapun terjadi di dunia kita akan stay, uang kita, rakyat kita, ekonomi kita. Itu yang keenam.

Yang ketujuh, boleh dalam teori ekonomi, kalau kita lebih baik beli nggak usah buat, buy or make. Begitu hukum-hukum globalisasi, begitu teori neoliberalisme, itu juga berbahaya kalau kita tidak cerdas. Saya mengatakan, khusus pangan, energi, industri, pertahanan, tidak boleh kita bergantung kepada luar negeri. Pangan harus cukup, nggak ada cerita, Indonesia kurang pangan. Tahun 2005, kita menetapkan revitalisasi pertanian. Alhamdulillah, beras sudah, jagung sudah, sebentar lagi gula, sebentar lagi daging sapi, sebentar itu dua, tiga tahun lagi. Kedelai, tiga, empat tahun lagi. Tapi poinnya adalah mari kita cukupkan. Kalau kentang, cabai, bawang sudah cukup. Telor, ayam, sudah cukup tapi yang lima belum. Energi harus dari dalam negeri, industri pertahanan harus.

Kalau kita beli semua alat perlengkapan militer, ada apa-apa dikunci kita, diembargo kita, mati. Kita kena embargo sejak tahun 1991 sampai 2005 dicabut. Saya katakan, kalau saudara-saudara ingin membangun kemitraan strategis, apakah logis saudara-saudara masih mengenakan embargo pada Indonesia, dicabut 2005, Alhamdulillah. Tapi kita punya pengalaman, kita punya Hawk, kita punya Scorpion, kita punya F-16 tidak bisa operasi, spare part nggak ada, dilarang, mari kita bangun dan perkuat industri pertahanan. Ini saya katakan kemandirian dalam itu penting.

Nomor delapan, dulu ada debat antara Pak Habibie yang betul competitive advantage, daya saing yang tinggi, added value yang tinggi, high tech. Adalagi yang konon Pak Wijoyo Nitisasto, “Oh, nggak yang kita pentingkan comparative advantage, apa yang lebih Indonesia dengan negara tetangga”. Jangan dipertentangkan, dua-duanya diperlukan. Keunggulan competitive yes dan comparative yes. Meskipun akhirnya yang bisa mengangkat bangsa adalah keunggulan kompetitif, sebagaimana yang dinasehatkan oleh Pak Habibie. Tapi poin saya adalah mari semuanya kita bangun, baik yang komparatif maupun kompetitif.

Dan yang terakhir, nomor sembilan, ada yang apa perlu sih ekonomi pasar itu, apa yang lebih baik ekonomi komando. Begini Saudara-saudara, jaman dulu ada ekonomi komando, ekonomi rencana, ekonomi komunis, diatur oleh negara, ternyata fail, berantakan. Yang dianggap betul adalah ekonomi neoliberalis, kelanjutan dari kapitalis. Pemerintah nggak usah ikut-ikutan, serahkan ke pasar, gagal. Sekarang ini, karena menerapkan neoliberalisme, Indonesia berpendapat kita perlukan pasar, agar efisien. Pasar biasa ini, sudah ada sejak Indonesia merdeka sudah ada pasar itu, tetapi negara tidak boleh membiarkan ketika terjadi ketimpangan, ketika ada kegagalan pasar. Maka kita menolak ekonomi neoliberalisme.

Inilah yang bisa kita gunakan membantu Saudara-saudara kita di Somalia, di Sudan, di Palestina dan sebagainya. Alhamdulillah, apa yang kita sampaikan kemarin dalam sambutan saya diterima. Dan sekarang nampaknya Insya Allah akan terbangun Islamic Fund yang betul-betul bisa digunakan untuk kepentingan Islam sedunia.

Hanya saya mohon Saudara-saudara, apabila dengan ridho Allah nanti telah ada cetak biru, perekonomian kita ke depan, ada blueprint, ada roadmap, melaksanakannya tidak mungkin sebulan, dua bulan selesai. Tidak ada resep ajaib, tidak ada yang instan, mungkin sampai tiga, empat, lima Presiden pun masih berlanjut ini, jangan khawatir tidak kebagian tugas nanti, masih panjang perjalanan, masih panjang.

Dengan harapan dan ajakan itu Saudara-saudara, saya ulangi dengan ajakan dan harapan itu. Dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, seraya mengucapkan "Bismillahirrahmanirrahim", Sidang Tanwir Muhammadiyah Tahun 2009 ini dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan