Arsip

« Juli 2009 »
M S S R K J S
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Pidato Presiden

Sambutan Penyerahan Panser Oleh PT Pindad

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PENYERAHAN PANSER OLEH PT PINDAD
PT DIRGANTARA INDONESIA, BANDUNG
10 JULI 2009



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Panglima TNI, beserta Kepala Staf Angkatan dan para Pejabat Teras Jajaran TNI, Kapolri, beserta Pejabat Utama di jajaran Polri, Saudara Gubernur Jawa Barat dan para Pimpinan dan Pejabat Negara yang bertugas di Jawa Barat, baik unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, maupun TNI dan POLRI, Saudara Direktur Utama PT. DI dan Pindad, antara Pimpinan BUMN yang lain, para Industriawan, para Cendekiawan, para Usahawan,

Hadirin sekalian yang saya cintai,
Alhamdulillah, hari ini kita dapat bersama-sama menghadiri acara penyerahan panser buatan PT Pindad hasil karya gemilang dari putra-putri bangsa kepada TNI untuk segera digunakan dalam menjalankan tugas. Tadi kita saksikan penyerahan secara simbolis dari pimpinan Pindad kepada Menhan, Menhan kepada Panglima TNI, Panglima TNI kepada Kasad. Tadi kalau diteruskan ke Pangkostrad, ke Pangdid, ke Danbrik, ke Danyon, ke Danki, Danton, Danru sampai lohor nanti. Selesai penyerahan kita langsung sholat Jum’at. Tapi berhenti di Kasad sebagai Pembina. Dan insya Allah panzer yang membanggakan di depan kita ini hasil penelitian dan pengembangan yang cukup panjang, inovasi putra-putri bangsa, tidak kalah dengan produk negara-negara lain, semoga membawa berkah dan meningkatkan kekuatan pertahanan negara kita.

Hadirin yang saya hormati,
Ada dua kegiatan saya hari ini beserta rombongan dari Jakarta. Pertama, tadi saya beserta jajaran TNI, utamanya dihadiri oleh Kapolri dan pejabat yang terkait dengan upaya pertahanan dan keamanan, melaksanakan rapat koordinasi untuk merumuskan berkaitan dengan peningkatan anggaran negara 5 tahun mendatang, utamanya dimulai dari peningkatan anggaran tahun depan, agar modernisasi sistem persenjataan kita dan pembangunan kekuatan, termasuk alutsista kita juga, itu betul-betul bisa terarah, sehingga bisa meningkatkan postur pertahanan kita 5 tahun mendatang. Karena transisi parlemen dari DPR RI hasil pemilu 2004 dengan DPR RI hasil pemilu 2009, maka akan ada percepatan proses pembahasan RAPBN 2010. Dan direncanakan saya akan menyampaikan pidato di depan parlemen kita, 2 minggu lebih awal dari biasanya. Dengan demikian, RAPBN yang akan pemerintah serahkan untuk dibahas bersama harus siap lebih cepat lagi. Dalam kaitan itulah, sejalan dengan komitmen dan niat kita untuk meningkatkan anggaran pertahanan negara 5 tahun mendatang secara signifikan.

Saya sudah mengeluarkan intruksi kepada Pimpinan TNI dan dikoordinasikan oleh Menteri Pertahanan dan lebih lanjut oleh Menko Polhukam, agar usulan anggaran pertahanan khususnya oleh Dephan dan TNI betul-betul tepat adanya. Dengan demikian, dengan multi years budgeting system, maka yang akan kita adakan betul-betul sesuai dengan rencana strategis yang telah disiapkan oleh TNI dengan jajarannya membangun postur pertahanan yang lebih handal, yang lebih unggul di waktu yang akan datang.

Agenda saya yang kedua, sebagaimana yang kita ikuti hari ini, pagi ini, sekarang ini adalah untuk menyaksikan penyerahan panzer tadi dari produsen kepada penentu kebijakan dalam hal ini Menhan dan kemudian kepada pengguna Panglima TNI dengan jajarannya.

Saudara-saudara,
Saya ingin menyampaikan dua hal. Yang pertama, bagaimana kita terus melakukan pembangunan kekuatan, serta modernisasi sistem persenjataan kita secara tepat dan terarah. Saya telah mengatakan berkali-kali, bahwa pertahanan dan keamanan negara sebuah bidang atau sektor yang sangat-sangat penting. Biaya untuk sektor pertahanan, keamanan juga tidak sedikit. Oleh karena itu, segala sesuatunya harus dilakukan secara sistemik, berdasarkan sistem, dan dengan manajemen yang benar. Kalau tidak, kalau hanya situasional, parsial, maka berpuluh-puluh triliun yang kita keluarkan, 5 tahun mendatang tidak akan betul-betul mencapai sasaran yang kita kehendaki. Di situlah pentingnya sekali lagi, perencanaan strategis membuat blueprint, membuat roadmap selama 5 tahun, sehingga insya Allah 2014 postur TNI, kekuatan pertahanan dan keamanan kita jauh lebih meningkat dibandingkan dengan keadaan sekarang ini.

Bicara tentang cetak biru dan roadmap tadi, maka sekali lagi, kita harus betul-betul kembali kepada peran dan tugas pokok TNI sebagai kekuatan pertahanan yang diamanahkan oleh Undang-Undang Dasar. TNI bertugas untuk sesungguhnya menegakkan kedaulatan dan keutuhan NKRI, begitu singkatnya. Oleh karena itu, untuk mengemban tugas yang sangat strategis dan fundamental itu, Departemen Pertahanan dan TNI harus melakukan assessment, pembuatan perkiraan yang dimutakhirkan terus-menerus untuk mengenali ancaman, ancaman apa saja yang bisa datang ke negeri kita yang mengganggu kedaulatan dan keutuhan NKRI kita.

Untuk mengenali ancaman tentu kita juga paham, harus memahami lingkungan strategis, strategic environment, peluang dan tantangan. Dengan demikian, postur pertahanan, defense posture akan dapat dirumuskan dengan tepat dan akan dapat dibangun secara bertahap dengan tepat pula. Berkaitan dengan postur pertahanan, maka sekali lagi, sistem persenjataan, alat-peralatan dan perlengkapan atau lebih kita kenal dengan logistik pertahanan, logistik militer juga harus berangkat dari assesment seperti itu. Dan di atas segalanya, setelah semuanya benar, valid, realistic, sesuai dengan perkembangan lingkungan dan sifat ancaman, maka harus diklopkan dengan kemampuan negara, dengan kemampuan anggaran yang kita miliki, tentu ada mismatch, sebagaimana negara lain juga mengalami seperti ini, antara strategic objectives dengan defense capabilities, dengan budget yang tersedia. Kalau sudah seperti itu, maka kita bicara prioritas, kita bicara mana yang dulu dan mana yang kemudian. Kita bicara mana yang bisa kita efisienkan, mana yang bisa kita lakukan optimasi terhadap penggunaan anggaran itu dan seterusnya sampai 5 tahun mendatang, tujuan untuk membangun postur pertahanan, postur TNI dapat kita capai.

Proses berpikir seperti itu, proses manajemen seperti itu penting. Dan oleh karena itu, saya senang tadi Pimpinan Departemen Pertahanan, Pimpinan TNI dengan jajarannya telah memiliki konsep dan cetak biru ini, tinggal dimutakhirkan, dipastikan betul sesuai dengan perkembangan lingkungan yang dinamis dan juga dengan kemanpuan negara yang tentunya selalu ada kendala dan keterbatasannya.

Saudara-saudara,
Tahun 2004, satu bulan setelah saya mengemban tugas sebagai Presiden dulu, di Jakarta dilaksanakan Defence Expo, saya masih ingat dilaksanakan di Kemayoran. Dan saya katakan di waktu itu, bahwa pembangunan kekuatan, modernisasi sistem persenjataan itu mesti dilaksanakan secara konseptual dan bertahap, begitu memang. Yang kedua, disesuaikan dengan kemampuan negara, baca anggaran yang tersedia. Dan yang ketiga diklopkan, disesuaikan dengan prioritas untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Itulah tiga variabel utama dalam kita memilih, mengambil keputusan dan menetapkan kebijakan untuk itu.

Saudara-saudara,
Dari apa yang saya sampaikan tahun 2004 itu, saya dorong. 2006 kita melaksanakan Defence Expo lagi, kita melaksanakan pertemuan di Dephan antara pemerintah, industri, lembaga penelitian pengembangan dan universitas. Dan kemudian ada tiga pihak waktu itu, ada tiga yah, bagaimana kita bersinergi, bagaimana secara terpadu mengembangkan semuanya itu.

Saudara-saudara,
Berkaitan dengan itu, saya ingin masuk masalah budgeting, penganggaran. Begini banyak orang melihat kebijakan anggaran fiscal policy dari luar akan berbeda sekali kalau Saudara berada di dalam, melihat ada satu struktur anggaran yang harus dialokasikan dan distribusikan secara tepat, secara adil, dan secara berimbang kepada semua kepentingan, semua tujuan dalam pembangunan dan tugas-tugas pemerintahan umum, pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, pembangunan infrastruktur dan sebagainya. Ketika kita bicara seperti itu, maka selalu ada mismatch, yang ingin kita capai apa, yang mampu dibiayai baru berapa. Dalam teori militer, sering kita kenal dengan kita ini, yang kita pilih bread atau bullet, roti atau peluru begitu. Kadang-kadang harus ada kompromi. Mismatch itu ada, oleh karena, kita harus cerdas dari yang ada itu, bagaimana dengan prioritas yang tepat kita gunakan secara tepat, secara efisien dan efektif.

Sekarang apalagi dunia mengalami krisis perekonomian global. Saya membaca, mengikuti dinamika penganggaran negara-negara sahabat, termasuk negara-negara yang maju, termasuk Amerika Serikat, negara yang paling kaya, dan memelihara defense posture yang sangat canggih, sangat kuat, sangat tinggi. Mereka juga mengalami persoalan, ada pengurangan anggaran, ada pembatalan proyek-proyek untuk menambah sistem persenjataan dan sebagainya. Ini juga dialami negara-negara lain. Alhamdulillah, meskipun kita juga kena dampak dari krisis perekonomian global, tetapi justru mulai tahun 2010 mendatang, anggaran pertahanan akan kita tingkatkan secara signifikan.
Sekarang tahun 2009 sebesar Rp 33,6 triliun. Kita merencanakan yang akan masuk dalam RAPBN nanti, rencana akan kita matangkan 2 minggu ini, mudah-mudahan klop semuanya untuk menambah Rp 7 triliun, sehingga akan mencapai Rp 40,6 triliun. Itu kenaikan lebih dari 20%. Dan secara sistimetik, tahun demi tahun kita menuju 1 angka yang dekat dengan yang saya sebut anggaran bagi minimum essential force, kekuatan minimum yang diperlukan, itu setara antara Rp 100 sampai Rp 120 triliun. Dengan asumsi ekonomi terus tumbuh pasca krisis ini, kalau tahun ini insya Allah kita bisa mencapai 4 sampai 4,5% dan itu tertinggi di dunia, dalam arti konstraksinya, kalau yang paling tinggi diperkirakan Tiongkok 6%, India 5%, kita nomor 3. Tapi dari segi konstraksi dibandingkan anggaran kita tahun lalu yang 6 koma sekian persen tergolong rendah. Justru dengan pertumbuhan itu, justru dengan APBN kita yang sudah mencapai Rp 1.000 triliun, maka kita bisa menambah lagi anggaran untuk pertahanan kita. Dengan demikian, gap-nya tidak terlalu jauh antara anggaran untuk minimum essential force dengan yang bisa kita sediakan tahun demi tahun.

Saudara-saudara,
Persoalan pertahanan, keamanan, Saudara tahu ada hard power, ada soft power. Hard power itu yah kekuatan militer, soft power itu diplomasi, dialog, upaya pencegahan perang, dan sebagainya, yang tidak bersifat hard power. Dua-duanya memerlukan anggaran, sehingga ingat, atau baca kalau bicara pertahanan dan keamanan utuh, itu bukan hanya alokasi anggaran untuk Departemen Pertahanan semata, tapi juga pada departemen-departemen lain yang pada prinsipnya menjaga kedaulatan negara kita, keutuhan wilayah kita, atau masuk domain pertahanan dan keamanan negara.

Kita masih ingat tahun 70-an, tahun 80-an, ada konsep namanya KEE, masih ingat, postur TNI kita kecil, efektif, efisien. Mantan Panglima TNI, Pak Tarto masih ingat KEE. Sebenarnya minimum essential force, itu juga sama dengan KEE, kecil, cukup, tetapi dalam keadaan darurat bisa dibesarkan, kecil, cukup, bisa menangkal dan siap diproyeksikan kemana saja di negeri kita ini. Kecil dan cukup, dan itu menjadikan kekuatan yang bisa menjalankan tugas-tugas operasional. Itulah pengertian minimum essential force. Faktanya Saudara-saudara, realitasnya memang sekarang ini masih di bawah itu, masih under funded, tetapi bukan tanpa alasan, semuanya bisa dijelaskan mengapa. Memang tahun-tahun terakhir ini prioritas kita adalah pada peningkatan kesejahteraan rakyat, pada revitalisasi dan pemulihan ekonomi pasca krisis 11 tahun yag lalu, penanggulangan kemiskinan, pendidikan 20%, kesehatan dan sebagainya. Oleh karena itu, bisa dimengerti mengapa anggaran pertahanan masih relatif rendah. Justru sudah makin membaiknya perekonomian kita, kesejahteraan secara bertahap bisa kita tingkatkan, maka saatnya telah tiba, anggaran pertahanan mesti dinaikan secara signifikan menuju ke kekuatan yang diharapkan.

Saudara-saudara,
Saya ingin menggarisbawahi, utamanya jajaran Dephan dan TNI, agar anggaran yang akan kita tingkatkan secara signifikan mulai tahun depan betul-betul digunakan dengan tepat, konseptual, sesuai dengan rencana strategis, sesuai dengan blueprint dan roadmap, jangan tiba-tiba ingin beli ini, jangan-jangan tiba-tiba ingin bikin ini, nanti kalau kita cocokan bisa tidak klop satu sama lain. Yang kedua, tetap harus ada skala prioritas. Yang ketiga, audit dilakukan.

Saya tidak ingin, karena ada bisnisnya di lingkungan Departemen Pertahanan, di lingkungan TNI, lantas sistem persenjataan, perlengkapan dan perlengkapan tidak sesuai dengan standar yang ada. Itu nyawa, itu prajurit, jangan sampai kesalahan kita, membahayakan bagi prajurit kita, menggunakan semuanya untuk tugas-tugas pertempuran. Kemudian user oriented, ajak bicara pengguna, libatkan pusat penelitian dan pengembangan, sebelum keputusan diambil, sebelum kebijakan ditetapkan, sebelum anggaran dialirkan. Itulah manajemen yang benar, itulah sistem yang benar.

Hadirin sekalian,
Saya sudah menyampaikan, hal ihwal yang berkaitan dengan pembangunan kekuatan, modernisasi sistem persenjataan dan menuju postur TNI 5 tahun mendatang. Bagian yang kedua atau bagi yang terakhir, sebagaimana hajat kita pada acara di ruangan ini adalah berkaitan dengan produksi panzer oleh PT Pindad. Saudara masih ingat, sejak tahun 2005 kita bertekad agar yang bisa kita produksi di dalam negeri, wajib hukumnya kita produksi di dalam negeri. Yang belum bisa, yang belum bisa terpaksa kita adakan misalnya kapal selam, misalnya pesawat-pesawat tempur yang canggih dan satu, dua sistem persenjataan seperti itu. Itupun tidak boleh ada kondisionalitas persyaratan politik, itupun harus ada satu nantinya technology transfer, itupun harus ada kerjasama di bidang research and development, bahkan kalau perlu joint investment, joint production, itu basic policy. Malu tidak boleh terjadi, kita mengimpor senapan, kita mengimpor amunisi, kita dan mengimpor perlengkapan, kita mengimpor sepatu dan sebagainya, malu dan ini tidak boleh terjadi, yang betul kita mengekspor, yang betul kita mengekspor.

Oleh karena itu, kita mendukung industri pertahanan. Saya tahu karena krisis ada masalah-masalah. Itulah yang terus-menerus kita perbaiki. Saya kok melihat Bapak bertiga itu berbicara terus dari tadi ya. Coba dengarkan supaya, baik. Industri pertahanan harus sustainable, harus kompetitif. Kalau tidak kompetitif akan mati. Pemerintah bisa injeksi capital, pemerintah bisa melakukan sesuatu, sebagaimana yang sering di jajaran BUMN kita lakukan, tetapi harus kompetitif, harus efisien, harus inovatif, harus produktif. Kalau kompetitif akan sustainable. Dengan pertumbuhan ekonomi yang bagus, kita ingin 5 tahun mendatang lebih banyak memberikan fasilitasi, kebijakan-kebijakan yang klop, yang tepat kepada industri petahanan, termasuk PT Pindad, termasuk PT DI, dan lain-lain, agar lebih berkembang lagi di waktu yang akan datang.

Jadi yah, itu menjadi agenda dan prioritas kita, sustainability dari industri pertahanan penting, competitiveness juga penting. Oleh karena itu, management yang benar, leadership yang benar, semua. Organisasi manapun, company manapun, BUMN manapun, kalau manajemen dan leadership tidak benar tidak akan sustainable. Kalau pekerjanya tidak produktif, tidak efisien, kalau para arsiteknya tidak inovatif, ya tidak sustainable, dua-duanya penting. Oleh karena itu, terus lakukan berbagai inovasi, research and development, technology segera dikembangkan, ditambah dengan investment. Investment ini tentu pemerintah tidak akan diam, kami akan bersama-sama membantu, mencari peluang untuk investasi, baik dari dalam maupun luar negeri.

Saya ingatkan sekali lagi, kepada Departemen Pertahanan, TNI, POLRI, Kepolisian, agar yang mesti kita beli dari dalam negeri jangan, saya larang membeli dari luar negeri. Tetapi dengan syarat, ini bukan proteksi, syaratnya adalah Saudara kompetitif. Tidak adil kalau misalkan ada produk dari negara lain harganya jauh lebih murah, kita bikin jauh lebih mahal, ya rakyat dirugikan, padahal kita bisa kompetitif. Kita bisa membikin sama dengan luar negeri. Kita tidak mengenal protectionism tidak, karena akan dibalas oleh negara lain. Tetapi kalau kita betul-betul bisa memproduksi barang yang sama kualitasnya, harganya juga bersaing ya tentu untuk masalah pertahanan, kita akan utamakan produk dalam negeri, itupun kita masih membeli sistem senjata yang lain.

Saudara-saudara,
Yang terakhir masalah panzer. Saya masih ingat 3 tahun yang lalu, ketika perang Libanon pecah, kemudian situasinya sangat kalut, Indonesia proaktif. Saya sendiri menelpon dan bersurat kepada Sekjen PBB, masih agak lambat PBB, Dewan Keamanan juga demikian, akhirnya saya mengusulkan agar ada Forum OIC berkumpul di Kuala Lumpur dan berkumpul. Dan di situlah, saya menawarkan untuk mengirim peace keeping forces dari Indonesia, satu batalyon plus yang mekanis. Singkat kata, kita sudah siap prajuritnya, perwiranya, pemimpinnya, tapi sedikit kurang siap alutsistanya, sedikit kurang siap pansernya. Karena itu penting sekali tugas kesana, saya menelepon Presiden Perancis, Jacques Chirac untuk kerjasama pengadaan VAB, datang tepat dan digunakan. Pengalaman itulah ada kalanya kita harus bergerak cepat untuk tugas-tugas pemeliharaan perdamaian dunia. Kalau kita tidak lengkap, maka tentu tidak baik. Oleh karena itulah, ini suatu jalan keluar yang baik, Insya Allah setelah ini, kita akan memiliki standby force yang siap digerakkan kemana saja, untuk tugas-tugas perdamaian dengan panzer buatan sendiri yang tidak kalah kualitasnya dengan buatan negara-negara lain.

TNI, Dephan juga sedang mempersiapkan peace keeping center di sekitar Sentul, sedang kita cari tempat yang tepat begitu, sekaligus dengan markas dari standby force ini, sehingga dalam waktu 5 tahun mendatang sudah bisa diwujudkan Indonesia yang terkenal terus berkontribusi dalam perdamaian dunia. Indonesia yang dinilai memiliki performance yang bagus dalam peace keeping missions akan kita jaga, akan kita pertahankan, dan akan kita kembangkan. Dengan demikian, apa yang kita saksikan hari ini menuju ke situ,

Saudara-saudara.
Atas semuanya itu, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada PT Pindad, kepada semua yang telah menyumbang anak bangsa. Saya tahu ini bukan produksi setahun, dua tahun, research-nya pengembangannya dilakukan bertahun-tahun. Barangkali dulu belum ada yang percaya, barangkali apa iya, buatan Indonesia hebat seperti ini. Tapi sejalan dengan prestasi anak-anak bangsa, scientist kita, teknolog kita, industriawan kita, peneliti kita, alhamdulillah, telah hadir di depan kita ini pesawat apa namanya, kendaraan tempur panzer maksud saya yang siap kita gunakan untuk tugas-tugas pertahanan dan keamanan, serta tugas-tugas perdamaian dunia. Selamat, terima kasih dan mari kita syukuri dan kita gunakan dengan sebaik-baiknya.

Demikian Saudara-saudara.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan