Arsip

« Agustus 2009 »
M S S R K J S
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031     

Pidato Presiden

Sambutan Acara Buka Bersama Pimpinan Lembaga Tinggi Negara, Menteri Kabinet, dan Dubes Negara Islam

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHIM DAN BUKA BERSAMA DENGAN PARA PIMPINAN LEMBAGA NEGARA, MENTERI KABINET INDONESIA BERSATU, DUTA BESAR NEGARA ISLAM, KEPALA LEMBAGA PEMERINTAH NON DEPARTEMEN, PEJABAT ESELON I DEPARTEMEN, DIREKTUR UTAMA BUMN, TOKOH PERS DAN ALIM ULAMA
SERTA KELUARGA BESAR PRESIDEN RI
ISTANA NEGARA, 27 AGUSTUS 2009



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,


Yang saya hormati Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Muhammad Jusuf Kalla beserta Ibu, Bapak Boediono beserta Ibu,
Yang saya hormati para Pimpinan Lembaga-lembaga Negara, para Menteri dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat, para Pimpinan Lembaga-lembaga Pemerintah Non Departemen dan Pimpinan Badan-badan Usaha Milik Negara,
Yang saya cintai dan saya muliakan para Ulama yang datang dari berbagai provinsi di tanah air,

Hadirin-hadirat sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena kepada kita masih diberikan nikmat kesempatan untuk menjalankan ibadah puasa, di bulan suci Ramadhan pada tahun 1430 H ini, dan kepada kita juga masih diberikan kesempatan, kekuatan dan kesehatan, untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta.

Atas nama shohibul bait, saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak, Ibu, dan hadirin sekalian yang berkenan memenuhi undangan saya untuk berbuka puasa bersama di Istana Negara. Semoga ibadah kita, diterima oleh Allah SWT dan iman serta ketaqwaan kita, dapat sama-sama kita tingkatkan dengan ibadah yang kita jalani bersama ini, dan semoga pula silaturrahim kita pada sore hari ini membawa berkah bagi kita semua.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Disamping kita akan bersholat Maghrib berjamaah dan berbuka puasa bersama, kita juga akan mendengarkan renungan Ramadhan, yang tentu amat penting untuk kita simak dan kita dengarkan bersama nanti, yang akan disampaikan oleh Saudara Prof. Dr. H. Muhammad Atho Mudzhar dengan tema “Islam sebagai rahmatan lil’alamin”. Memang tema besar kita, tema yang kita usung dan gemakan di dalam Ramadhan 1430 Hijriah ini adalah ”Islam sebagai rahmat bagi semesta alam”. Kita akan mendengarkan secara rinci hakekat, makna, dan bagaimana kita mengimplimentasikan ajaran Islam yang luhur itu, sekali lagi, Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Sebagai seorang umaro’ dan sebagai yang sedang mengemban dewasa ini, saya ingin menyampaikan beberapa pandangan berkaitan dengan tema besar ini, “Islam sebagai rahmatan lil’alamin” yang akan disampaikan oleh penceramah kita. Saya akan mengajak Saudara-saudara untuk sama-sama menyegarkan pemahaman kita, bahwa seseungguhnya ajaran Islam, apakah itu yang bersumber dari firman Allah SWT maupun sabda Rasulullah, itu benar-benar, pertama-tama merupakan karunia dan jalan untuk menuju ke keselamatan dan kesejahteraan kehidupan umat manusia, baik, di dunia maupun akhirat.

Yang kedua, ajaran kita, ajaran Islam juga menjadi jalan untuk menuju ke keselamatan dan kelestarian alam semesta ciptaan Allah SWT dengan segala kehidupan-Nya. Dan yang ketiga, dan titik tiga ini, yang ingin saya singgung secara lebih luas sedikit, karena yang pertama dan kedua, kita ingin mendengarkan nanti dari ulama kita, sebagai tema dari renungan Ramadhan sore hari ini, yaitu bahwa nilai-nilai Islam ternyata juga bersifat universal yang dapat dikontribusikan bagi pembangunan tatanan dunia yang makin adil, makin aman dan makin sejahtera di tingkat masyarakat global.

Oleh karena itu, dengan tiga pengertian sangat sederhana itu, maka kita sangat menyakini bahwa Islam benar-benar adalah pembawa rahmat bagi semesta alam. Berkaitan dengan itu, yang ingin saya sampaikan adalah khusus bagaiamana ajaran Islam, nilai-nilai Islam itu bisa compatable, bisa kontributif terhadap kehidupan pada masyarakat dunia. Di berbagai forum di dalam dan dan di luar negeri, kita sering mendengarkan debat, diskursus yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan kritis, critical question, saya ingin mengangkat beberapa.

Pertama, benarkah nilai-nilai Islam itu bisa bersifat universal, itu yang pertama. Yang kedua juga ditanyakan, apakah Islam bisa bergandengan dengan demokrasi. Yang ketiga, apakah Islam bisa menerima kehidupan yang modern atau modernitas. Yang keempat juga ditanyakan karena situasi dunia sekarang memang belum boleh dikatakan aman dan damai, banyak konflik dimana-mana. Pertanyaannya kemudian menjadi apakah Islam betul-betul bisa berkontribusi secara riil bagi penciptaan perdamaian dan keamanan dunia itu. Dan yang terakhir, yang kelima, masih critical question, apakah peradaban Islam itu juga menyumbang bagi pembangunan peradaban dunia dan bisa hidup secara damai, atau berdampingan secara damai dengan peradaban-peradaban yang lain.

Masih banyak lagi tentu pertanyaan semacam itu. Tapi dari lima itu saja, kita bisa meletakan secara benar, letak dari ajaran Islam. Saya punya pandangan dan pendapat yang kokoh, bahwa jawaban terhadap lima pertanyaan itu ya, benar, bisa. Jawaban ini ya, benar dan bisa, pastilah muncul bagi saudara-saudara kita kaum muslimin yang sungguh memahami ajaran agama Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadist, Sunah Rasulullah dan yang menjalankan ajaran itu dengan benar. Demikian juga bagi saudara-saudara kita yang non Islam, akan membenarkan jawaban itu, manakala mereka juga memahami ajaran Islam dan juga memahami pikiran dan perilaku sebagian sangat besar. Saya ulangi sebagian sangat besar dari umat Islam sedunia. Umat Islam berjumlah 1,3 miliar, 90% lebih mainstream, pemikiran dan perilaku Islam, kalau dipahami betul akan menunjukkan bahwa jawaban tadi adalah benar adanya.

Saudara-saudara,
Mengapa saya mengemukakan pandangan yang firm dan kokoh itu? Ada dua studi yang menarik. Saudara mendengar namanya Gallup World, lembaga survey yang terkenal di dunia, lembaga ini melaksanakan survei atau polling selama kurang lebih 7 tahun. Yang dijadikan sampel kurang lebih puluhan ribu dari 35 negara yang mayoritas penduduknya Islam atau negara-negara yang ada kantong-kantong umat Islam, sehingga 90% merepresentasikan sampelnya, dari 1,3 miliar umat Islam sedunia.

Nah, kesimpulan dari jawaban dan jawaban dari survei itu, ternyata betul-betul mengatakan bahwa nilai-nilai Islam tidak bertentangan dan bahkan bisa berdampingan secara baik, dengan yang saya katakan tadi, nilai universal, demokrasi, rule of law, human right, modernitas, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perdamaian dan keamanan dunia, bahkan peradaban dunia world civilization. Bagi yang ingin mendalami latar belakang jawaban saya, ada buku yang menarik silakan dibaca, judulnya adalah Who Speaks for Islam? dengan judul kecil, ”What a billion Muslims think clearly? What a billion Muslims really think?” Tipis, hanya 200 halaman sehingga dibaca satu-dua jam selesai. Dan artinya apa, Saudara-saudara? Tesis atau konsep Islam sebagai rahmatan lil’alamin benar. Dari saya membaca kesimpulan dari survei yang maha besar itu.

Yang kedua atau yang terakhir, mengapa saya memiliki argumentasi seperti tadi, ada deklarasi Makkah Al Mukaromah yang diteken tahun 2005. Saya kira ada pertemuan puncak dulu di Makkah, Pak Alwi Shihab ingat saya mewakili pemerintah dulu. Dan kemudian deklarasi Makkah itu diadopsi menjadi Piagam OKI yang baru--OKI adalah Organisasi Konferensi Islam-- pada tahun 2008 yang saya juga hadir, dalam pertemuan puncak di Dakar, Senegal. Itu new charter of OIC. Dan ternyata, kalau dibaca utuh Deklarasi Makkah Al Mukaromah dengan piagam baru OIC itu, maka tercermin, silakan baca sendiri. Negara-negara anggota OKI memiliki komitmen dan tekad yang tinggi untuk betul-betul bersama-sama dengan bangsa-bangsa lain non Islam, membangun tantanan dunia yang adil, yang aman dan damai. Sehingga apa yang terurai tadi dalam survei dialog itu, semua tercantum dalam piagam OIC yang baru, piagam OKI yang baru, silakan dilihat. Tidak asing bagi nilai-nilai Islam, bagi peradaban Islam.

Sehingga hakekatnya adalah benar, Islam sungguh merupakan rahmat bagi semesta alam, kita yakini dan yang lebih penting kita jalankan bersama. Tentu bukan hanya untuk bangsa kita, bukan hanya umat Islam, tapi tentu mesti membawa kebajikan bagi alam semesta, bagi peradaban dunia yang terus berubah dan, berkembang. Rincian dari itu semua kita sama-sama mendengarkan nanti dari penceramah kita, Prof. Atho, dan mudah-mudahan menjadi lengkap ibadah kita pada sore hari ini. Demikianlah yang dapat saya sampaikan.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI