Pidato Presiden

Sambutan Buka Puasa Bersama Kadin

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
BUKA BERSAMA BERSAMA DENGAN JAJARAN KAMAR DAGANG INDONESIA (KADIN)
J C C, 10 SEPTEMBER 2009



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Prof. Boediono,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat,
Saudara Ketua Umum Kadin beserta para Pimpinan dan Pengurus Kadin, baik tingkat pusat maupun daerah,
Prof. Dr. Quraish Shihab,

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak Saudara-saudara untuk sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberikan kesempatan dan kekuatan untuk melanjutkan pengabdian kita kepada negara. Dan bagi kaum muslimin dan muslimat masih diberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah pada bulan suci Ramadhan ini dan semoga ibadah kita mendapatkan ridho Allah SWT.

Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan Pak Hidayat, atas undangan dari teman-teman Kadin, untuk hadir pada acara yang penting ini, ibadah bersama, silaturrahim, dan bertukar pikiran antara saya yang insya Allah akan mengemban tugas kembali, tugas terakhir saya di pemerintahan 5 tahun mendatang dengan Kadin sebagai penggerak perekonomian kita, sebagai pilar penting dalam kehidupan di negeri ini, untuk akhirnya bisa bersama-sama meningkatkan kesejahteraan rakyat seluruh Indonesia.

Ini kesempatan yang baik pula bagi saya, dalam rangka mengakhiri masa bakti saya pada tahun 2004-2009, sebelum melanjutkan pengabdian di periode berikutnya lagi untuk sungguh mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Kadin dengan jajarannya. Yang terus terang saya rasakan selama 5 tahun ini, melakukan partisipasi dan kontribusi yang sangat penting bagi pembangunan perekonomian dan pengembangan dunia usaha.

Ada tititk-titik penting yang sama-sama kita ingat, pertama, ketika kita menghadapi krisis minyak tahun 2005, pemerintah dan Kadin melakukan satu rangkaian interaksi untuk mencari solusi yang paling baik. Dan tentunya pemerintah menetapkan keputusan dan kebijakan perekonomian waktu itu. Kebersamaan juga terwujud kembali, ketika akhir 2007 dan awal 2008, kita mengalami krisis pangan dan juga sesungguhnya krisis harga minyak yang semuanya berasal dari lingkungan global. Kita bersatu mencari solusi bagaimana ketahanan pangan dan ketahanan energi dapat kita bangun di negeri ini untuk masa kini dan masa depan.

Dan yang paling segar dalam ingatan kita, pada akhir tahun lalu, ketika puncak krisis global dan resesi perekonomian dunia terjadi, kita bertemu bermalam-malam, berhari-hari untuk bersama-sama mencari solusi sekali lagi, dan atas partisipasi, kontribusi dari Kadin, alhamdulillah pemerintah telah dapat mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat. Dan alhamdulillah pula, perekonomian kita pada prinsipnya dapat kita kelola dan dampak dari krisis global dapat kita minimalkan.

Ini bukti sejarah, bahwa sinergi antara dunia usaha dengan pemerintah sangat-sangat penting. Dan tentunya disamping saya berterima kasih, saya mengajak agar sinergi dan kebersamaan ini dapat kita lanjutkan untuk 5 tahun mendatang, bahkan saya kira selamanya, karena itu menjadi pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Bapak, Ibu, Hadirin yang saya hormati,
Kita memiliki pengalaman yang sangat berharga selama 5 tahun ini, dalam bersama-sama meningkatkan perekonomian dan dunia usaha kita. Tentu Saudara-saudara bersepakat yang baik-baik, yang positif mesti kita lanjutkan. Tetapi yang tidak baik, yang menghambat, yang bikin macet, yang menjadi bottle-neck harus kita perbaiki. Dengan cara itu, maka 5 tahun mendatang dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, perekonomian dan dunia usaha kita akan tumbuh lebih baik lagi. Saya termasuk yang optimis, yang punya keyakinan bahwa 5 tahun mendatang dari sisi perekonomian dan dunia usaha akan lebih baik, dengan asumsi dunia tidak lagi menghadiahkan krisis-krisis baru yang di luar kemampuan kita untuk apa namanya menepisnya.

Saudara-saudara,
Ini bulan suci, bulan Ramadhan, bagus pula kita melaksanakan refleksi. Para ulama sering mengingatkan kita pada firman Allah yang ada dalam Al Qur’an dalam surat Al Insyiroh, yang bisa menterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Pak Quraish Shihab nanti, yang intinya adalah dibalik kesukaran atau beserta kesukaran atau sesudah kesukaran, ahlinya beliau nanti mana yang paling tepat, ada kemudahan "Inna maal usri yusra”.

Dalam dunia usaha juga demikian, dalam dunia ekonomi juga demikian, bagi pemerintah juga demikian. Saya ingin menunjuk dua konteks. Konteks pertama adalah, krisis yang tengah terjadi di dunia ini dan yang dampaknya kita rasakan. Menteri Keuangan baru saja kembali dari London, menghadiri pertemuan Menteri-menteri Keuangan G-20 dan insya Allah nanti, segera setelah Idul Fitri, saya akan berangkat ke Pittsburgh untuk menghadiri G-20 Summit, yang juga akan membahas bagaimana langkah-langkah global dan regional untuk betul-betul segera bisa mengakhiri krisis perekonomian yang berlangsung dewasa ini.

Yang ingin saya sampaikan adalah dengan harapan dan upaya bersama, resesi perekonomian global bisa kita akhiri insya Allah tahun 2010 nanti dan 2011 saatnya ekonomi dunia tumbuh kembali. Maka yang mesti kita lakukan adalah memastikan bahwa kerjasama dan langkah global serta regional untuk melaksanakan counter cyclical economy itu berhasil, memulihkan perdagangan dan investasi global itu berhasil, menstabilkan pasar keuangan itu berhasil dan kemudian krisis di masing-masing negara juga bisa diakhiri. Kita harus memastikan to terminate yang disebut dengan global effort in conducting counter cyclical economy. Kalau itu bisa kita akhiri, maka tugas besar berikutnya lagi adalah untuk men-generate kembali perekonomian global, membuka lagi perdagangan, investasi, dan kerjasama-kerjasama yang lain, dilanjutkan dengan restructuring arsitektur keuangan global, tatanan perekonomian global, yang menjadi tugas bersama masyarakat global, termasuk Indonesia.

Dalam rangkaian itu, dalam konteks itu, bahasa yang kita kenali, dunia dalam keadaan krisis perekonomian. Nah kalau kita cerdas, di tengah-tengah krisis ini, kita bisa mendapatkan opportunity. Bisnis menurut saya, is about opportunity, apakah founding the opportunity maupun creating the opportunity. Tapi tentang opportunity, makin sadar bahwa ada krisis dimana-mana ada kesulitan, maka terbuka, tersedia perbaikan, peningkatan, penciptaan opportunity. Oleh karena itu, langkah-langkah yang kreatif, yang inovatif, thinking outside the box harus menjadi cara berpikir paradigma kita, dalam menyikapi perkembangan global maupun perkembangan nasional kita.

Jadi saya mengajak Saudara-saudara, kalangan dunia usaha melihat krisis tidak terlalu gamang sambil mengelolanya, sambil mencegah dampaknya sangat dalam di negeri kita, tapi let’s find the opportunity, from the crisis within the crisis after the crisis sangat bisa kita menemukan peluang-peluang baru di perdagangan, di investasi, di energi, di keuangan, dan jasa-jasa yang lain, terbuka. Itu yang pertama.

Yang kedua, yang ingin saya sampaikan, ajakan saya, harapan saya tentang kekurangan di dalam negeri sendiri, apa yang menyebabkan ekonomi 5 tahun terakhir, atau bahkan tahun-tahun sebelumnya, karena kita dalam keadaan krisis yang luar biasa dulu. Yang bikin macet apa? Yang belum terbuka apa? Yang belum mengalir apa? Pertambangan seperti apa? Pertanian seperti apa? Perkebunan seperti apa? Energi seperti apa? Perhubungan atau transportasi seperti apa? Kalau kita tahu ada yang macet-macet, ada yang tidak benar dan kita tahu, kalau kita lakukan sesuatu, bakal terbuka, mengalir semuanya, those are opportunities. Contoh penyakit kita adalah bottle-necking, sumbatan, kemacetan entah tata ruang, entah perijinan, entah komplikasi antara pusat dengan daerah dan banyak list-nya itu. Itu masalah, menganggu, menghambat, perekonomian dan dunia usaha kita 5 tahun mendatang. Nah, kalau 5 tahun mendatang itu bisa kita hilangkan, maka akan mengalir dunia usaha dan perekonomian kita. Itu sebagai contoh yang ada.

Yang kedua, karena komplikasi pemilikan tanah, tata ruang yang tidak terselesaikan dengan baik di banyak tempat, karena rujukan undang-undang yang berbeda, mekanisme yang belum well-established, maka banyak yang belum terolah dengan baik, banyak yang idle, banyak yang belum optimal, apakah HTI, apakah perkebunan, apakah pertambangan, infrastruktur dan sebagainya. Andaikata 5 tahun nanti ke depan dan pemerintah akan melaksanakan program reformasi birokrasi, the bottle-necking action secara serius menyeluruh di tanah air kita, terbayang bagi kita. There are so many opportunities dibalik itu semua untuk menghidupkan dunia usaha kita.

Saudara-saudara,
Saya tetap optimis dan justru kalau ada yang masih bisa kita perbaiki, berarti masih ada ruang, potensi untuk meningkatkan capaian kita. Oleh karena itu, meskipun nanti akan saya pidatokan dalam kesempatan menyampaikan program 100 hari dan action plans untuk 5 tahun mendatang. Tapi saya dengan Pak Budiono dan teman-teman yang sedang menggarap bersepakat, bahwa judul besar, 5 tahun mendatang adalah ”The bottle-necking, Acceleration and Enhancement”.

The bottle-necking, sumbatan yang ada di pusat, di daerah kita hilangkan semuanya, yang bikin menyumbat terus out. Ini demokrasi, era keterbukaan, sudah cukup consensus building, consensus making. Yang menghambat peningkatan kesejahteraan rakyat, yang menghambat pentumbuhan ekonomi, yang menghambat dunia usaha, harus ada hitung-hitungannya, karena rakyat akan melihat. Ini the bottle-necking ini penyakit pertama. Kalau itu kita alirkan semuanya, luar biasa, apa yang dapat dilakukan dunia usaha? You create jobs, you pay thanks, you provide revenue the business communities. Negara berterima kasih, pemerintah berterima kasih, karena itu semua membuka lapangan pekerjaan untuk rakyat kita, pajak untuk pembangunan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya, sehingga kalau the bottle-necking bisa kita lakukan, terbuka opportunity lagi, yang paling diuntungkan oleh rakyat kita. Dengan cara pandang dan cara berpikir itu, maka the bottle-necking menjadi sangat-sangat penting. That’s number one.

Yang kedua, adalah acceleration. Ada good news kecil, naik tujuh peringkat dari aspek doing business in Indonesia, tapi disebutkan we are the greater reformist dalam 5 tahun terakhir ini, masih dalam konteks doing business in Indonesia. Kita belum puas, saya belum puas, sama-sama belum puas. Tapi ini ada indikasi, kita bisa, apalagi lebih bersungguh-sungguh lagi 5 tahun mendatang, lebih tough akan lebih banyak lagi yang bisa kita capai. Itu baru urusan perijinan, easiness of doing business in Indonesia, pelayanan publik dan sebagainya, belum opportunity yang lain.

Saya tidak bisa menerima argumentasi apapun untuk jangka menengah, jangka panjang Indonesia kekuarangan pangan. Saya tidak bisa menerima argumentasi apapun Indonesia kekurangan energi untuk jangka menengah dan jangka panjang. Lima tahun ini, kita melaksanakan revitalisasi pertanian, alhamdulillah sudah tiga yang kita berswasembada, beras, jagung, gula konsumsi. Lima tahun mendatang harus kita kejar daging sapi, gula untuk semuanya dan juga kedelai seperti itu. Industri sudah saatnya revitalisasi industri, 5 tahun gelombang pertama, 5 tahun berikutnya lagi nanti, Presiden baru, pemerintah baru, melanjutkan revitalisasi industri gelombang kedua, agar terbuka manufaktur kita, pengolahan kita, downstream business kita. Infrastructure, banyak sekali yang karena the bottle-necking tadi, merugi kita, public private partnership harus kita hidupkan 5 tahun mendatang. Yang punya nilai komersial welcome, dengan birokrasi yang makin bagus tidak akan dipersulit, justru dipermudah, yang kewajiban negara, kewajiban negara dengan anggaran yang kami miliki.

Saudara-saudara,
Kesimpulannya saya melihat opportunity, dari kebersamaan dalam globalisasi, dari pembangunan yang terus kita lakukan di negeri tercinta ini. Oleh karena itu, kalau nanti teman-teman Kadin ingin menyampaikan rekomendasi pemikiran, welcome, bahkan saya merancang nanti setelah kabinet tersusun, setelah merampungkan dulu di internal kabinet, merampungkan dulu jajaran pemerintah, termasuk eselon 1 supaya paham, 5 tahun mendatang mau apa kita, 100 hari pertama mau apa kita, kontrak kinerjanya seperti apa antara saya dengan menteri, pakta integritasnya seperti apa. Gubernur kita ajak sekaligus, kita lebarkan dengan para ekonom, dengan para usahawan, dengan para teknolog, dengan para industrialis dan sebagainya.

Era Pak Harto dulu sayup-sayup terdengar, wah ini aliran ekonom, aliran dunia usaha, nah ini aliran teknolog, aliran industrialis. Kita kenal dulu ada Habibinomic, ada Widjojonomic, ada lagi kelompok yang tidak boleh berkembang di negeri kita yang disebut dengan the crone. Ke depan our dream, harapan kita, yang tergolong kroni itu out, yang dua kelompok besar ini industrialis, teknolog, ekonom dunia usaha kita satukan, nggak perlu didikotomikan, bersatu, karena itu akan saling memperkuat. Usaha dengan teknologi yang dihadirkan akan menambah added value, akan meningkatkan competitive advantage and not only comperative advantage. Tetapi yang mengerti ekonomi, yang lebih dunia usaha ekonomi, dan para usahawan, mereka ahlinya. Mari kita satukan kekuatan kita, dengan komitmen yang sama, dengan tempat yang sama-sama terhormat, dan tidak perlu mana yang dipilih, apakah aliran yang ekonom, atau aliran yang teknolog, dua-duanya diperlukan. Itu pekerjaan-pekerjaan besar saudara-saudara. Tetapi saya yakin, kalau kita mau bisa. Dan saya akan mendedikasikan pikiran, waktu dan tenaga saya 5 tahun mendatang untuk itu. Saya manusia biasa. Saya ulangi lagi, saya manusia biasa, banyak kekurangan, banyak kelemahan, rasanya teman-teman Kadin dan semua bisa mengisi kekurangan dan kelemahan saya, sehingga kita bisa betul-betul melakukan yang lebih baik lagi untuk negeri kita 5 tahun mendatang.

Demikianlah yang saya sampaikan. Sekali lagi, terima kasih undangannya, barokah untuk kita semua. Salam saya untuk keluarga besar Kadin di seluruh di tanah air. Dan marilah kita tetap optimis melihat masa depan kita.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan