Pidato Presiden
Pengantar Rapat Terbatas Mengenai PLN
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
RAPAT TERBATAS MENGENAI PLN
KANTOR PRESIDEN, 17 NOVEMBER 2009
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara-saudara,
Pagi ini, saya minta untuk datang di kantor saya untuk merumuskan langkah-langkah cepat dan tepat terhadap permasalahan yang kita hadapi, yaitu kelistrikan di tanah air dan lebih khusus lagi di DKI Jakarta. Sebelum saya mendengar laporan dari Saudara, utamanya Direktur Utama PLN dan Menteri terkait, serta nanti juga saya mintakan penjelasan dari Gubernur DKI Jakarta, saya ingin menyampaikan pengantar sebagai berikut:
Sebagaimana yang sangat sering saya sampaikan, listrik memiliki peran yang sangat penting bagi perekonomian kita, juga bagi kehidupan masyarakat kita. Kita sudah tahu, memang karena krisis 11 tahun lalu, kita terlambat untuk menambah daya listrik kita, membangun pembangkit-pembangkit listrik serta sistem distribusinya. Memang bisa dijelaskan kesulitan finansial pada masa krisis dulu.
Ketika ekonomi pulih kembali, utamanya 5 tahun, sejak 5 tahun yang lalu, makin terasa listrik ini sangat kurang. Dan oleh karena itulah, sebenarnya pemerintah melakukan crash program untuk menambah lagi 10.000 Megawatt. Dalam pelaksanaannya, ada yang berjalan baik, ada yang berjalan kurang baik. Sementara itu keperluan di daerah-daerah akan listrik juga tumbuh dengan pesat. Beberapa kali saya minta Menteri terkait, PLN, para Gubernur, bekerja bersama-sama secara sungguh-sungguh untuk melakukan langkah-langkah yang tepat menambah pembangkit tenaga listrik kita, sebagian berjalan dengan baik, sebagian tidak, akhirnya makin menumpuk.
Oleh karena itulah, saya sudah menetapkan, bahwa listrik menjadi prioritas utama untuk pembangunan 5 tahun mendatang, termasuk prioritas utama yang harus kita bereskan segala perencanaan, koordinasi, sinergi antara PLN dengan yang lain, segi-segi financing dan sebagainya, agar ke depan ini lebih efektif lagi upaya kita untuk menambah listrik ini.
Saya masih melihat banyak hal yang tidak pas menyangkut sinergi, sinkronisasi dan koordinasi. Saya sering mendengar respon yang kurang cepat dari keinginan berbagai daerah. Untuk apa yang bisa dilakukan oleh PLN maupun non PLN dalam mengatasi kekurangan listrik ini. Sampai kalau Saudara masih ingat saya fasilitasi untuk bertemu langsung antara PLN dengan para gubernur. Sementara saya juga melihat beberapa daerah juga kurang cekatan di dalam melakukan langkah-langkah yang serius untuk mengatasi listrik ini. Berdasarkan pengalaman itu, mari kita petik pelajarannya, supaya tidak lagi ke depan di seluruh tanah air tidak dilakukan langkah-langkah yang tepat di dalam pembangunan listrik kita.
Sebagai contoh saya ingin mengajak Saudara berpikir sederhana, berapa sih kekurangan listrik kita dari daerah per daerah, propinsi per propinsi, tolong dijumlah berapa ribu megawatt, hingga hari ini shortage-nya berapa. Itu yang pertama-pertama harus kita tutup dalam waktu dekat mendatang. Setelah itu baru 5 tahun mendatang dengan pertumbuhan ekonomi menuju ke 7%, berapa lagi yang kita perlukan untuk industri, untuk pabrik-pabrik, untuk rumah tangga, untuk komersial, dan sebagainya. Jumlahkan kekurangan yang ada itu dengan keperluan 5 tahun mendatang. Jangan hanya melihat gross sekian, ekonomi gross sekian untuk listrik sekian, seperti bussines as usual, kenyataannya kurang di daerah-daerah. Itu yang saya maksudkan.
Dalam hal ini tentu ada kemampuan PLN dan ada batas kemampuan PLN. Kalau tidak mampu dikerjakan PLN, jangan lantas semua ingin dilakukan PLN sendiri, keliru, berikan peluang kepada yang lain dengan regulasi, dengan kebijakan yang tepat. Inilah yang saya maksudkan agar betul-betul cespleng, dan kemudian efektif apa yang ada di lapangan yang kita lakukan.
Saya juga ingin bisnis PLN adalah bisnis besar, melibatkan trilyunan rupiah, bisnisnya harus menunjukkan governance yang baik, tidak boleh ada yang aneh-aneh. Kalau aneh-aneh yang korban rakyat. Delivery-nya barangkali, urusannya barangkali, financing-nya barangkali. Semangat itulah yang beberapa kali saya ingatkan jangan sampai keliru di dalam kita melakukan tugas yang maha besar itu.
Saya kemudian prihatin lagi, ketika mendengar Jakarta juga mengalami masalah. Sesuatu yang mestinya bisa diantisipasi. Memang Brazil juga begitu, negara lain juga begitu, tetapi tidak usah kita melihat negara lain, negara kita sendiri apa yang mesti kita lakukan. Saya ingin mendengar laporan nanti mengapa, dan langkah-langkah apa yang kita lakukan untuk itu. Dan yang penting kecepatan gerakan, ketepatan tindakan, praktek pengelolaan dan bisnis yang benar, yang harus kita tegakkan secara bersama. Tidak ada artinya kita ingin membangun segalanya, pertanian, industri, jasa, kalau listrik kita tidak bisa mendukung semuanya itu. Dan ini menjadi tugas bersama pusat dan daerah.
Setelah rapat ini, saya minta Menko Perekonomian, sampaikan ke seluruh gubernur untuk bersama-sama. Nanti di Palangkaraya, kita bahas khusus masalah listrik ini, supaya ada sinergi, karena PLN punya batas kemampuan juga tidak mungkin mengerjakan semuanya. Bagaimana sekarang? Semua itu kita lakukan secara bersama.
Saudara-saudara,
Saya kira itu pengantar saya. Dan saya ingin setelah pertemuan ini, ada langkah-langkah yang sungguh-sungguh dengan terobosan-terobosan, jangan business as usual, jangan seperti biasanya. Saya persilakan Menko Perekonomian untuk memberikan pengantar dan kemudian nanti dilanjutkan oleh Pimpinan PLN, Gubernur DKI dan yang lainnya.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



