Pidato Presiden
Sambutan Pelantikan Pengurus Kwarnas Gerakan Pramuka
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PELANTIKAN PENGURUS KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
HALAMAN ISTANA JAKARTA, 20 NOVEMBER 2009
Sebelum kita mulai Bapak, Ibu, halaman ini, 5 tahun terakhir kita aktifkan untuk berbagai acara, baik pada tingkat nasional maupun tingkat internasional, antara lain resepsi kenegaraan setiap tanggal 17 Agustus malam, kita laksanakan di pelataran ini. Setiap kontingen olahraga kita untuk bertanding ke luar negeri, kita lepas di pelataran ini. Kemudian waktu kita menyelenggarakan Konfrensi Asia-Afrika yang ke-2, yang pertama tahun 1955, ketika Presiden Soekarno memimpin kemudian 50 tahun kemudian, kita selenggarakan tahun 2005 di Jakarta dan di Bandung. Tempat ini juga kita gunakan untuk acara kesenian bagi tamu-tamu negara kita.
Dan sesungguhnya Alhamdulillah, kompleks Istana ini makin diakrabi oleh rakyat kita, ada wisata istana yang telah kita mulai sejak beberapa tahun yang lalu dan semua kita fungsikan. Ini Istana Merdeka, di belakang sana, sering atau pasti kita gunakan untuk Peringatan Proklamasi Kemerdekaan. Sebelah atau belakang Bapak, Ibu itu Istana Negara, kita gunakan dengan, apa namanya, dengan seksama. Sebelah kiri Bapak, Ibu itu adalah kantor saya, kecil, sederhana, kalau masuk ke dalam barangkali kalah hebat, mungkin dibandingkan Kantor Gubernur barangkali, tapi tidak apa-apa yang penting kami bekerja di sana.
Kemudian di sebelah kanan ini adalah Wisma Negara. Waktu presiden Soeharto memimpin, tempat ini sering digunakan sebagai tempat menginapnya tamu-tamu negara, para Presiden, para Perdana Menteri, para Raja. Ingat tahun 70-an, tentu Jakarta belum seperti ini sehingga itu digunakan dengan baik dulu.
Di sebelah sana adalah Kantor Bina Graha, Presiden Soeharto dulu menjalankan kegiatan sehari-harinya di sana. Di sebelah sana, ada Dewan Pertimbangan Agung yang sekarang digunakan oleh Dewan Pertimbangan Presiden. Dan semua kita fungsikan, dengan demikian tentu karena ini salah satu heritage kita, warisan kita dan kita rawat, dengan demikian bisa berfungsi penuh.
Baiklah kita mulai acara kita.
Bismilahirahmanirrahiim,
Assalamu’allaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Ketua Mahkamah Agung, Ketua Mahkamah Konstitusi, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, dan para Menteri serta para Pimpinan TNI dan POLRI,
Yang saya hormati Saudara Pimpinan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka beserta segenap unsur Pimpinan dan Pengurus Kwarnas yang saya cintai dan saya banggakan,
Alhamdulillah, baru saja kita melaksanakan acara Pengukuhan Kepemimpinan dan Kepengurusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka untuk mengemban tugas sampai tahun 2013 mendatang. Oleh karena itu, saya ucapkan selamat atas kepercayaan dan kehormatan untuk memimpin Gerakan Pramuka kita dan saya berharap serta berdoa kepada Allah dan sekaligus memberikan dorongan, fasilitas dan bantuan agar tugas-tugas yang Bapak, Ibu emban dapat dilaksanakan dengan baik. Kepada yang bertugas pada periode sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas pengabdian yang telah dilakukan pada kurun waktu 5 tahun sebelum Kwarnas yang sekarang ini.
Saudara-saudara,
Saya ingin menggunakan kesempatan yang baik ini untuk bersama-sama memahami betapa pentingnya gerakan Pramuka, betapa mulianya tugas Saudara semua. Tugas yangs sangat tidak ringan, penuh dengan tantangan, apalagi dalam era globalisasi dimana nilai-nilai kehidupan masyarakat kita telah berubah dan terus berkembang, maka tentu tidak sama memimpin, membina, melatih Pramuka sekarang ini dibandingkan dengan 30, 20 bahkan barangkali 10 tahun yang lalu. Sebagian dari kita barangkali ikut berdiri ketika gerakan Pramuka diresmikan pada kepemimpinan Presiden Soekarno dulu tahun 1961. Meskipun implementasi di seluruh tanah air berbeda-beda, ada yang bisa segera bisa dibentuk, ada yang sekian bulan barangkali, ada sekian saat sampai semuanya bisa berjalan secara efektif, kemudian juga transformasi dari berbagai gerakan kepanduan waktu itu, tapi Alhamdulillah itulah tonggak sejarah yang penting.
Saya berdiri di sebuah lapangan kecil di kota Pacitan waktu itu masih kalau tidak kelas 5, kelas 6 SD saya, dengan bangga menggunakan seragam Pramuka dan sejak itulah saya terus terang saya sangat tertarik untuk sebuah gerakan yang membentuk kepemimipinan, membentuk karakter, membentuk persahabatan satu sama lain. Titik itu juga berpengaruh dalam kehidupan saya, dalam karier saya, karena saya lebih menyenangi berorganisasi, lebih menyenangi gerakan lapangan. Pertama, tertarik oleh seragamnya dulu, kemudian yang kedua melihat gerakannya, gagah, kemudian latihan-latihannya sungguh menarik waktu itu, maka saya dan teman-teman bergabung. Ternyata tidak hanya seperti itu, ternyata dalam perjalanan hidup sangat banyak perannya dalam membentuk kepribadian, watak, semangat, cita-cita dan banyak hal. Saya kira Bapak, Ibu sekalian juga merasakan ketika pertama-tama kita bergabung dengan gerakan Pramuka hampir 50 tahun yang lalu itu, hampir.
Saudara-saudara,
Dengan pengantar itu, mari kita sekarang melihat ke depan. Kita hidup di abad 21, abad yang penuh dengan tantangan. Konon hanya akan ada 2 kelompok bangsa di dunia di abad 21 ini, bangsa yang berhasil dan bangsa yang tidak berhasil. Bangsa yang menang dalam globalisasi, the winners dan bangsa yang kalah dalam globalisasi, the losers. Tentu saja kita semua yang ada di pelataran Istana ini, tentu tidak ingin menjadi bangsa yang gagal, failed state, failed nation dan juga tidak ingin menjadi the losers. Kita ingin menjadi yang berhasil dan yang menang. Tetapi kemenangan dan keberhasilan tidak datang dari langit, tidak akan dan bahkan kalau kita tidak yakin kita akan berhasil, kita selalu berjiwa gelap, berpikir negatif, bersikap pesimis sejak sekarang kita sudah kalah, sejak sekarang kita sudah mendeklarasikan kita akan menjadi bangsa yang gagal, dan bangsa yang tidak berhasil.
Mari kita semua, terutama para pembina, para pelatih, para pemimpin gerakan Pramuka ini, mari kita patrikan dalam hati dan pikiran kita, we want to be a winner. Jangan mau menjadi yang kalah. Tantangannya berat, tingkat global juga kita rasakan, banyak sekali permasalahan dunia, regional kawasan Asia-Pasifik juga tidak sepi dengan tantangan, apakah di bidang keamanan, di bidang perdamaian dunia, di bidang perubahan iklim, di bidang perekonomian, di bidang harmoni antar peradaban dan sebagainya. Sepuluh, duapuluh, tigapuluh tahun mendatang tantangan itu belum pergi, permasalahan itu masih ada. Demikian juga di tingkat nasional kita, masih banyak pekerjaan rumah kita untuk terus meningkatkan kesejahteraan rakyat kita, untuk terus mengurangi kemiskinan dan pengangguran, untuk terus melaksanakan pembangunan yang lebih adil dan merata, untuk terus membikin demokrasi kita makin matang, untuk terus menghadirkan kebebasan yang bermartabat, untuk terus menghadirkan tertibnya hukum dan membangun good governance atau tata pemerintahan yang baik, untuk terus menciptakan suasana nasional yang penuh dengan kerukunan dan harmoni. Itu juga tidak akan pergi, 5, 10, 15, 20 tahun mendatang. Dalam konteks itulah, dalam berbagai tantangan dan permasalahan itulah, kita bekerja keras, berpikir cerdas, bersatu untuk melangkah ke depan menuju bangsa yang berhasil di abad 21 ini. Saya ingin mengingatkan kembali itulah agenda besar kita, itulah our great missions sebagai sebuah bangsa.
Saudara-saudara,
Saya telah menyampaikan pada peringatan hari Kebangkitan Nasional 20 Mei tahun 2008 dulu, Saudara tentu sudah mendengar. Agar kita berhasil, agar bangsa Indonesia tidak keok, tetapi menjadi pemenang, maka ada 3 pilar, ada 3 persyaratan dasar yang juga ini tidak datang dengan sendirinya, harus kita bangun bersama-sama, kita perkuat, kita perkokoh. Apa itu? Pertama, daya saing. Kalau kita tidak punya daya saing, ya kita tidak akan menang dalam persaingan, mudah. Kita harus menjadi bangsa yang mandiri, tidak tergantung begitu saja kepada dunia, kepada bangsa lain, meskipun dalam hubungan antarabangsa selalu ada kerjasama dan kemitraan, ada inter-connectedness, ada cooperation, ada partnership, tapi patut kita membangun segalanya dengan kemampuan sendiri dan dengan apa yang kita miliki, kemandirian, resilience.
Kemudian yang ketiga adalah peradaban bangsa, our civilization. Saya mengatakan peradaban seperti apa? Peradaban yang unggul dan peradaban yang mulia. Saya ingin menggarisbawahi yang ketiga ini, karena inilah medan perjuangan Pramuka menjadi sangat penting. Peran Bapak Ibu, peran kita semua juga menjadi sangat penting oleh karenanya.
Bangsa memiliki peradaban yang unggul dan mulia, apabila dalam kehidupannya itu memiliki berbagai keunggulan, kelebihan dan kebaikan, goodness. Pertama, bangsa itu memiliki watak atau karakter yang baik, good character. Kedua, masyarakatnya baik, good society. Ekonominya adil, tumbuh dan memang baik, good economy. Kehidupan politik, kehidupan demokrasi, hak azasi manusia, freedom of the press, semuanya berjalan dengan baik, good political process. Dan lingkungannya baik, terutama ketika dunia menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim, good environment. Kalau kita punya 5 goodness itu setidak-tidaknya, maka bangsa kita sesungguhnya memiliki peradaban yang baik, peradaban yang unggul dan peradaban yang mulia.
Saya menukik lagi dari unsur itu, satu yang saya ingin garis bawahi tentang good character, watak yang baik. Pertama-tama, marilah kita terus bangun akhlak anak bangsa yang baik, yang taat menjalankan ajaran agama, yang memiliki nilai akhlak yang baik dan menjalankannya.
Yang kedua, budi pekerti, pandai, santun, tepat di dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Itu ciri-ciri bangsa yang civilized, santun.
Yang ketiga berpikir positif. Saya sudah menyatakan kalau jiwa kita gelap, melihat sesuatu serba, “Ah itu jelek, ah itu enggak baik, ah itu gitu-gitu saja.” Negatif terus. “Ah enggak mungkin kemana-mana, kita nasib kita begini.” Pesimis terus. “Ah yang salah dia, yang salah itu, saya benar terus.” Tidak kemana-mana kita, mari kita berpikir positif.
Yang keempat, tough. Menghadapi tantangan cobaan, ujian apapun, dia tidak cengeng, ulet, tabah, tegar. Itu karakter yang harus kita bangun.
Yang kelima, yakin diri, confidence. Tidak sombong, tidak takabur, tapi insya Allah dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, kita bisa. Kalau Tiongkok bisa, India bisa, Indonesia mesti bisa. Negara lain bisa, kita mesti bisa, bahasa dalam arti insya Allah dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa.
Yang keenam, disiplin. Bangsa yang tidak punya disiplin nasional, tidak mungkin menjadi bangsa yang berhasil membangun, karena membangun bangsa perlu disiplin, tidak semaunya, easy going, hidup segan mati tak hendak dan sebagainya.
Yang ketujuh, inovatif. Saya baru kembali dari Singapura, dari Malaysia, tentu selama 5 tahun saya berkunjung ke banyak negara di dunia ini. Saya belajar, saya lihat, saya timba pengalaman-pengalaman bangsa itu, ternyata bangsa yang maju adalah bangsa yang inovatif, kreatif, inovatif. Oleh karena itu, metodologi pendidikan harus diubah. Jangan hanya membikin siswa kita menghapal dengan kurikulum yang itu-itu saja, tapi bikin anak didik kita kreatif, imajinatif, dan inovatif.
Yang berikutnya lagi, rukun, toleran, harmonis. Bayangkan bangsa kita yang majemuk ini, kalau tiap hari bertengkar, bermusuhan, hantam-menghantam, yang terjadi adalah konflik horisontal, konflik komunal, darah dan air mata dan kerusakan harta benda. Karakter bangsa yang baik yang rukun, bersatu, harmonis.
Dan yang kesembilan atau yang terakhir adalah yang miliki solidaritas kesetiakawanan yang tinggi. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Begitu, ini para pendahulu kita, para senior kita, leluhur kita telah mewariskan berbagai wise saying, pepatah yang baik.
Dari semuanya itu, yang penting yang ingin saya sampaikan di hadapan Saudara semua, Pramuka sungguh dapat berperan dan berkontribusi. Maknai, pahami seperti ini, sehingga ketika asyik melaksanakan Jambore, kegiatan latihan, pembinaan, jangan lupa tujuan besarnya adalah, afterall adalah character building. Dan karakter ini dahsyat, tidak ada artinya bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi bangsa itu cengeng, mudah menyerah, tidak tough, tidak ulet, tidak ada artinya. Oleh karena itu, mari watak bangsa ini kita bangun, kita bentuk sejak dini.
Saudara-saudara,
Tiga tahun yang lalu telah kita laksanakan revitalisasi gerakan Pramuka. Saya melihat sudah nampak perubahan-perubahan, gairah, energi, semangat, tetapi belum cukup, belum cukup. Ini baru langkah awal. Justru 5 tahun mendatang sampai 2013, mandat dari Kwarnas ini, saya minta revitalisasi gerakan Pramuka dilanjutkan dan ditingkatkan. Saya akan sering datang untuk melihat langsung bagaimana Saudara-saudara melanjutkan dan meningkatkan revitalisasi gerakan Pramuka. Yang direvitalisasi apa? Sudah saya sampaikan pada Hari Pramuka 2006 yang lalu, mari kita jalankan bersama-sama.
Yang direvitalisasi banyak, tapi tolong ini pesan saya, metodologi, metode pembinaan dan pelatihan terus dikembangkan. Jaman saya dulu barangkali cukup seperti itu, tetapi sekarang sudah banyak perubahan, sudah banyak pilihan bagi anak-anak kita, dan pilihan itu bebas. Ada yang senang, mendalami IT, ada yang senang berkomunikasi dengan sesama mereka dengan ikatan-ikatan yang lain. Tetapi juga ada yang masih ingin berada di gerakan Pramuka. Pilihan itu banyak sekarang dan mereka punya freedom to choose. Tidak bisa kita memaksakan harus masuk gerakan pramuka. Oleh karena itu, harus ada daya tarik baru, daya saing baru, sehingga mereka anak-anak kita sejak SD, SMP, SMA, itu masih senang menjadi anggota gerakan Pramuka dan masih senang melaksanakan berbagai kegiatan Pramuka, bukan hanya Jambore saja.
Juga revitalisasi para pembinanya, kita semua, leaders di-upgrade. Pelatih, trainers di-upgrade. Tolong mari revitalisasi berlaku bagi diri kita bersama-sama. Saya meskipun sudah tahun ke-6 memimpin negara kita, ini periode terakhir saya, saya terus belajar tiap harinya, bukankan hidup itu adalah universitas yang abadi. Terlalu sombong kalau seseorang, “Ah saya sudah menguasai segalanya, tidak perlu saya belajar,” sombong dia. Mari kita terus meningkatkan diri kita, kepribadian kita, kemampuan kita dan lain-lain dengan cara terus belajar.
Oleh karena itu, revitalisasi, disamping metodologi, pelatihan, pembinaan, dan kepemimpinan juga upgrading untuk kita semua. Dan nanti saya ingin ada leadership training, ada training for the trainers dimulai dari itu dulu. Silakan, Menpora ada di sini, dengan Pimpinan Kwarnas dirancang seperti apa training for the trainers itu. Berikan ijazah, berikan kualifikasi bahwa dia telah siap untuk melatih, memimpin 5 tahun mendatang. Pada gilirannya nanti, the trainers yang telah dilatih itu, di-upgrade itu, ditingkatkan kemampuannya itu, kembali melatih yang lain-lain, sehingga dalam waktu 2 tahun, 2010-2011, saya harapkan semua pembina, pembimbing, pelatih itu sudah terdaftar, sudah mendapatkan semacam sertifikasi dengan kualifikasi yang kita tentukan. Dengan demikian, itu adalah modal yang penting untuk menyukseskan revitalisasi ini.
Saudara-saudara,
Saya ingin dipikirkan barangkali sudah semuanya ini, kalau sudah bagus, tapi kalau belum tolong ditingkatkan. Nanti dalam pelatihan-pelatihan untuk gerakan Pramuka kita, pertama, ini modul, modul yang saya sarankan untuk dipertajam, diperkuat, diefektifkan. Modul pertama adalah latihan kepemimpinan, leadership training. Yang ingin kita cetak adalah pemimpin, pemimpin itu mulai dari pemimpin tingkat depan seperti di daerah-daerah sampai pusat, pemimpin di segenap cabang profesi, pemimpin di berbagai sektor kehidupan dan sebagainya. They are all leaders, paling tidak pemimpin untuk dirinya sendiri, pemimpin rumah tangga. Jadi kepemimpinan letakkan sebagai modul utama, modul yang sangat penting.
Yang kedua, ini menjadi daya tarik bagi anak-anak kita yang mengikuti gerakan Pramuka adalah kemampuan atau keterampilan melintasi rintangan alam. Sekarang banyak berkembang outbound training, betul untuk CEO, GM, padahal dulu itu yang melakukan Pramuka. Kalau yang lebih keras itu militer, tapi tidak perlu sekeras militer, tapi bagian dari character building, bagian dari leadreship training. Silakan dibikin modul yang bagus tentang keterampilan mengatasi rintangan alam, bisa menyeberangi sungai kecil, bisa naik bukit, turun lembah, tracking, mengesan jejak, tanda-tanda komunikasi dan sebagainya.
Yang ketiga, tentu generasi muda Indonesia harus tough, baik juga kalau dikenalkan untuk self defence, bela diri dasar agar punya keyakinan. Bukan menyiapkan Pramuka sebagai petarung, bukan, tapi yang dibangun confidence. Kembali unsur-unsur dari karakter, unsur-unsur dari kepemimpinan. Mungkin itu sudah dilatihkan seperti upacara yang tertib, upacara yang khidmat, baris yang bagus.
Kemudian pertolongan pertama pada kecelakaan tentu di-upgrade lagi metodologinya, sehingga kapan pun kalau ada accident, itu Pramuka kita siap untuk melakukan sesuatu sebelum tenaga medis datang.
Survival dan dilatih masak-memasak. Tapi bukan hanya itu, kalau Indonesia itu medannya luar biasa, ada penjelajah alam, ada pendaki gunung, Pramuka itu ikut dimana-mana tiba-tiba tersesat misalnya. Maka dia harus bisa tidak panik, mengenali, sambil mencari jalan untuk kembali ke tempatnya, bagaimana tetap hidup, mempertahankan kelangsungan hidup, survival. Mengenali pohon-pohon, daun-daun mana yang bisa dimakan, mengenali binatang-binatang mana yang bisa dikonsumsi, caranya bagaimana menangkap binatang, mana pohon-pohon beracun dan sebagainya. Tapi harus inovtif, lantas langkah tanggap darurat terhadap bencana. Sering terjadi bencana tentu untuk gerakan Pramuka yang sudah cukup dewasa itu dilatihkan bagaimana tanggap darurat dalam keadaan bencana.
Kemudian yang kedelapan adalah IT, Information and Technology, komputer. Tidak semuanya anak-anak kita memiiliki komputer, tidak semuanya mendapatkan kemewahan untuk masuk di dunia maya itu, ajarkan, kenalkan kepada mereka. Kalau semua ini diajarkan, saya kira yang akan terbentuk adalah manusia Indonesia, generasi muda kita yang menguasai pengetahuan dan teknologi, yang memiliki karakter yang baik, yang rukun, yang confidence dan sebagainya sehingga itu menjadi modal penting, kelak ketika mereka memikul tanggung jawab dan peran yang lebih besar lagi.
Barangkali juga nanti ketika kegiatan di lapangan mengatasi rintangan alam itu seragamnya apakah masih seperti PDH yang sekarang ini, yang kantongnya kurang, terlalu ketat, sehingga bagaimana naik gunung, robek celananya, turun dan sebagainya. Dipikirkan, dengan catatan jangan membebani saudara-saudara kita yang tidak mampu, jangan. Kita pikirkan bagaimana kalau harus latihan di mengatasi rintangan alam atau outbound seperti itu, yang penting pakaian itu pas, tetapi tentu sekali lagi tidak membebani siapapun. Kita pikirkan nanti secara bersama.
Terakhir ke depan, bagaimana kita melangkah ke depan paling tidak 5 tahun mendatang. Rancangan Undang-Undang Pramuka tentu akan kita usahakan untuk terbit pada periode ini. Harus pas undang-undang itu, berorientasi pada tujuan tadi, realistik, achievable, tidak mengada-ada dan kemudia dinilai sebagai keperluan, sebagai bagian penting dalam pembangunan ini. Kalau itu insya Allah, DPR nanti bersama pemerintah akan bisa meluluskan pada kesempatan pertama.
Yang kedua, anggaran. Anggaran ini sebagaimana yang telah kita lakukan, telah kita tingkatkan dari waktu-ke waktu, saya berharap makin ke depan makin besar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara kita, insya Allah makin tumbuh kembali perekonomian kita setelah krisis ini, maka anggaran makin tersedia yang akan tentu menjadi kewajiban pemerintah. Kalau itu belum cukup, mari kita pikirkan satu funding mechanism yang halal, dengan demikian bisa betul-betul bisa membiayai gerakan Pramuka.
Yang ketiga atau yang terakhir, saya dulu sering lari, jogging atau jalan kaki di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur sama istri saya, itu ada rute 5 km, biasa jalan di situ sangat sering. Boleh dikatakan dulu hampir tiap bulan saya, tahun 1998-1999, awal-awal dulu sampai saya Presiden tahun pertama tahun kedua saya masih suka jalan di situ. Saya pikir luas, tapi agak kurang terawat. Saya waktu masih suka melihat bau-bau yang tidak sedap, masih melihat sampah-sampah yang tidak pada tempatnya dan sebagainya. Tidak boleh, itu adalah center dimana siapapun yang datang, Pramuka kita baik dari Jakarta maupun dari seluruh tanah air maupun dari luar negeri, harus mengatakan ini bagus sekali, tertata dengan bagus, rapi, bersih, indah dan itulah menggambarkan sebuah training center. Tentu memerlukan anggaran, memerlukan logistik. Tolong nanti Menteri terkait bersama Pimpinan Pramuka dipikirkan, sarankan kepada saya dalam batas kemampuan anggaran negara tentu akan kita tingkatkan, kita upgrade, dengan demikian tentu akan betul-betul makin menyukseskan apa yang akan kita lakukan 5 tahun mendatang.
Saudara-saudara,
Itulah yang ingin saya sampaikan. Marilah kita jalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab, ikhlas, tulus untuk generasi muda kita, untuk anak-anak kita, untuk masa depan bangsa dan negara kita. Selamat berjuang, selamat bertugas, Tuhan bersama kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



