Pidato Presiden
Sambutan Pertemuan dengan Masyarakat Indonesia di Berlin
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERTEMUAN MASYARAKAT INDONESIA DI BERLIN
HOTEL ADLON KEMPINSKI, 15 DESEMBER 2009
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, serta para Delegasi yang mendampingi saya dalam kunjungan di Eropa ini,
Yang saya hormati Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman berserta para Diplomat dan para Pejabat Senior yang bertugas di Jerman, Saudara-saudara, para Pemuka Agama, para Cendekiawan, para Mahasiswa, dan keluarga besar masyarakat Indonesia dari berbagai profesi yang saya dengar tadi juga datang dari berbagai penjuru di Jerman ini,
Hadirin sekalian yang saya cintai dan saya banggakan,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya juga mengajak Saudara semua untuk sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita masih diberikan kesempatan dan kekuatan untuk melanjutkan tugas, karya, dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur malam hari ini dapat bersilaturrahim di tempat ini dan semoga pertemuan kita ini membawa berkah untuk kebaikan kita semua bagi Saudara-saudara duta bangsa maupun rombongan saya dari Jakarta, termasuk para Gubernur yang datang dari berbagai penjuru Indonesia untuk kebaikan dan masa depan negara yang sama-sama kita cintai.
Saudara-saudara,
Ada istilah tak kenal, maka tak sayang, datang tampak muka, pergi tampak punggung. Saya ingin memperkenalkan Delegasi Resmi yang mendampingi saya dari Jakarta, agar ke depan Saudara bisa berinteraksi lebih baik lagi, karena kita membawa panji-panji Sang Merah Putih, membawa kepentingan bangsa dan negara. Dimana pun kita berada, dimana pun kita bertugas, tujuan kita satu, kita ingin memajukan kehidupan bangsa dan negara kita ke arah atau ke tingkat yang lebih baik lagi di masa depan.
Saya ingin memperkenalkan rombongan dari Jakarta. Saya kira supaya mudah saya, tempatnya berpisah-pisah, dari yang paling sini. Saudara Menteri Sekretaris Negara, Saudara Sudi Silalahi. Kemudian masih meja sini, Menteri Pertanian, Saudara Suswono. Kemudian pindah ke yang sebelah sini, saya lihat di sini ada Menteri Perdagangan, Saudari Mari Elka Pangestu. Kemudian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Saudara Darwin Sahedi Saleh. Sebelah sini Menteri Saudara, Menteri Luar Negeri kita, Saudara Marty Natalegawa berserta Ibu.
Lantas yang di sebelah sini ada, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. DR. Armida Alisjahbana. Saya mencari lagi dimana menteri yang ada ini. Di sebelah sini Menteri Pertahanan, Saudara Purnomo Yusgiantoro. Kemudian disana ada Menteri Perindustrian, Saudara MS. Hidayat. Sebelah kanannya, ada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Saudara Gita Wiryawan. Kemudian di sebelah sana, Menteri Lingkungan Hidup, Saudara Gusti Hatta. Lantas mana lagi para menteri yang belum?
Kalau sudah semua saya ingin memperkenalkan Anggota DPR RI. Pertama adalah Ketua Komisi I DPR RI, Saudara Kemal Aziz Tambul. Kemudian Saudara Rifky Harsyah, Anggota DPR RI. Ketua Komisi VII DPR RI urusan energi. Kemudian dari DPD RI, Saudara Parlindungan Purba, ada di sana.
Kemudian saya ingin memperkenalkan Gubernur. Yang di sebelah sana ada Gubenur Kalimantan Barat, Saudara Cornelis. Gubernur Kalimantan Timur, Saudara Awang Faroek. Gubernur Riau, Saudara Rusli Zainal. Gubernur, Saudara Zulkifli, Gubernur Jambi. Saudara Agustin Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah. Saudara Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh. Saudara Barnabas Suebu, Gubernur Papua. Saudara Sinyo Hari Sarundayan, Gubernur Sulawesi Utara. Saudara, sudah ya? Ada yang belum Gubernur? Saya kira sudah semua. Saudara Emirsyah Satar, Direktur Utama Garuda Indonesia. Tanpa beliau enggak bisa mendarat di sini saya. Kemudian tentu ada sejumlah pejabat pemerintahan yang mendampingi saya untuk melaksanakan kunjungan di Eropa ini.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang saya cintai,
Pertama, saya ingin menjelaskan secara singkat tujuan kunjungan saya kali ini ke Eropa dan kemudian nanti highlight ataupun hal-hal yang menonjol, yang ada di tanah air kita.
Yang pertama, saya berkunjung ke Eropa kali ini kurang lebih 6 hari untuk melaksanakan kunjungan bilateral. Pertama di Brussel, Belgia. Saya bertemu dengan President European Commission, Presiden Barroso untuk meningkatkan kerjasama bilateral Indonesia dengan Uni Eropa. Pembicaraan kami sangat substantif dan kita ingin terus meningkatkan kerjasama di bidang perekonomian dan di bidang-bidang lain untuk tahun-tahun mendatang.
Setelah itu, saya pada hari yang sama melanjutkan kunjungan ke Paris, kemarin untuk bertemu dengan Presiden Sarkozy. Dan alhamdulillah kita membicarakan sesuatu yang substantif bagi peningkatan kemitraan dan kerjasama kita di masa depan. Saya juga mengundang Presiden Sarkozy untuk berkunjung ke Indonesia, dan beliau berencana untuk tahun depan berkunjung ke Indonesia.
Di Paris, saya juga melaksanakan atau melakukan satu pertemuan dengan private sectors, business communities di sana untuk sekali lagi, meningkatkan kerjasama di bidang perekonomian, perdagangan dan investasi atau yang berkaitan dengan itu.
Hari ini, pertama-tama tadi saya setelah mendarat di Berlin disambut dengan sedikit salju di bandara, Alhamdulillah. Saya langsung melaksanakan pertemuan dengan Presiden Jerman, Horst Köhler dengan membahas masalah-masalah internasional utamanya yang sangat fundamental dan dalam banyak hal, kita memiliki cara pandang yang sama dengan beliau.
Kemudian siang hari saya bertemu dengan Kanselir Jerman, Saudari Angela Merkel, sahabat saya, saya sering bertemu dengan beliau. Demikian juga pembicaraannya sangat productive dan membuahkan satu komitmen untuk terus meningkatkan kerjasama. Dan saya mengundang Angela Merkel untuk datang ke Indonesia. Beliau ingin berkunjung pada tahun 2011, mudah-mudahan semua bisa kita laksanakan dengan baik.
Dan sore harinya, sebagian Saudara juga hadir, saya berkesempatan untuk memberikan pidato di depan sejumlah hadirin yang di organisasi oleh The Chairman Council on Foreign Relations bekerja sama dengan APA, bekerja sama dengan tentunya tuan rumah Kedutaan Besar Indonesia yang ada di Berlin ini.
Kemudian besok, saya akan melanjutkan kunjungan ke Copenhagen, Denmark dan sudah banyak teman-teman yang ingin bertemu untuk bersama-sama memastikan, bahwa Copenhagen Conference tidak gagal. Mengapa mereka ingin Indonesia menjadi bagian dari sukses di Copenhagen? Mereka ingat 2 tahun yang lalu, Indonesia sebagai tuan rumah seperti yang dilaksanakan di Denmark sekarang ini. Kalau di Denmark ini, namanya COP-15. Di Indonesia, di Denpasar, namanya COP-13. Situasinya hampir sama, hampir saja kita gagal, deadlock, sudah putus asa para negosiator waktu itu. Tapi dengan ridho Allah SWT, pada saat-saat terakhir saya sendiri, Sekjen PBB, Ban Ki-Moon melakukan intervensi. Dan Alhamdulillah, hanya sekian jam saja akhirnya kesepakatan terjadi dan kita menghasilkan Bali Road Map beserta Bali Action Plan yang sekarang juga menjadi rujukan di dalam pertemuan di Copenhagen ini.
Mereka berharap paling tidak, tidak gagal, kalau toh tidak bisa kita capai sesuatu yang legally binding, Insya Allah kita bisa mencapai politically binding dan kita teruskan pembicaraannya tahun depan, 2010 untuk menghasilkan new protocol sebagai pengganti Kyoto Protocol yang jatuh tempo pada tahun 2012 mendatang. Dengan konteks dan pengalaman seperti itu, mereka berharap, saya dan beberapa pemimpin bisa mencari solusi.
Saya sudah melaksanakan pembicaraan dengan Presiden Sarkozy, dengan Angela Merkel, dengan Presiden Barroso. Tadi dengan Jens Stoltenberg dari Norwegia sebelumnya dengan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, sebelumnya dengan Presiden Obama, dan teman-teman yang ingin betul tidak gagal pertemuan di Copenhagen.
Mengapa Indonesia juga punya komitmen untuk menyukseskan Copenhagen? Simply, kita juga ingin tanah air kita selamat. Sebab kalau climate change ini menjadi-jadi, kalau global warming terus terjadi dan kenaikan suhu lebih dari 2°C, maka bisa dibayangkan pertama, permukaan air laut bisa naik lebih dari 1½ meter setelah melewati tahun 2050 mendatang. Anak-cucu kita tidak bisa dijamin keselamatan masa depannya. Kita punya 17.000 pulau, berapa ribu pulau harus tenggelam, dan tiada, dan lenyap dari peta Indonesia.
Yang kedua, apabila pattern atau pola dari iklim ini berubah total, maka akan terjadi cuaca yang ekstrim, kemarau yang sangat panjang, yang tentu akan mengganggu pertanian Indonesia, akan mengakibatkan krisis pangan disertai dengan malapetaka sosial yang lain. Kemudian bisa terjadi satu musim penghujan yang sangat berat, sehingga terjadi banjir dimana-mana yang merusak kehidupan, termasuk pertanian kita. Belum kalau ada badai, belum ada yang lain-lain. Dan negara kita, ingat, disamping cuaca atau iklim yang bisa dipengaruhi oleh the climate change, oleh global warming, negara kita juga sangat rentan terhadap bencana yang murni karena peristiwa alam, misalnya gempa bumi disertai dengan tsunami, letusan gunung berapi dan sebagainya.
Oleh karena itu, disamping global community juga ingin menyelamatkan planetnya bersama-sama. Kita sendiri juga memiliki interst, memiliki kepentingan untuk anak-cucu kita, untuk generasi mendatang, kita harus menyelamatkan lingkungan kita. Oleh karena itu, Indonesia tanpa dipaksa oleh siapa pun berketetapan untuk menetapkan target mengurangi emisi karbondioksida sebanyak 26% pada tahun 2020 mendatang. Itu sudah kita hitung, Insya Allah kita bisa. Tentu dengan langkah-langkah yang serius, melibatkan semua elemen masyarakat, semua daerah, termasuk provinsi-provinsi yang para gubernurnya hadir pada kesempatan pertemuan ini.
Intinya adalah kalau kita bisa mengurangi 26% of our emission by 2020, maka diharapkan Indonesia disamping bisa menyelamatkan dirinya sendiri, bisa berkontribusi untuk penyelamatan planet secara umum. Mengapa kita yakin bisa 26%? Karena sebenarnya yang menjadi persoalan di negeri kita adalah hutan. Manakala hutan kita tertibkan, kita perbaiki pengelolaannya, kita lawan illegal lgoging, kita cegah kebakaran hutan, kita tata penggunaan lahan yang baik, kita laksanakan reforestation, kita laksanakan kampanye menanam pohon besar-besaran, sebagaimana yang kita lakukan sekarang tiap tahun paling tidak kita menanam 200 juta pohon misalnya. Maka kita berharap 20 tahun lagi, 30 tahun lagi, 40 tahun lagi, negara kita akan berubah menjadi green country, menjadi negara yang memiliki lingkungan yang baik.
Untuk mencapai 26% itu, kita memobilisasi our own resources, our own budget. Dan saya katakan kepada dunia, jika Indonesia dibantu oleh negara-negara maju, oleh international community, maka kita bisa menurunkan lebih banyak lagi sampai bisa mencapai 41%. Our commitment, our own plan, our action plan, ini nampaknya dihargai, diberikan apresiasi oleh dunia, contoh negara berkembang yang memiliki willingness yang tinggi to protect your own environment, tapi juga berharap adanya kerjasama dan kemitraan secara global.
Ini merupakan modal, capital yang baik bagi kita untuk berdiplomasi. Dan alhasil Saudara-saudara dengan diplomasi ini, dengan pembicaraan saya dengan beberapa pemimpin dunia, mereka juga sangat berkeinginan untuk membantu Indonesia, untuk bekerja sama dengan Indonesia, termasuk funding, termasuk membantu recources, capacity building, technology dan sebagainya yang tentu amat baik bagi Indonesia, terutama bagi generasi yang akan datang. Oleh karena itu, sepanjang pembicaraan saya mulai dari Brussel, Paris, dan Berlin, dan pasti besok di Copenhagen sangat didominasi oleh upaya kita untuk menyukseskan Konferensi Copenhagen, suatu deep cut dari emisi karbon secara global.
Tentu saja ada pembicaraan lain untuk kerjasama kita. Dan khusus Jerman, saya sangat berharap kedua bangsa dan negara bisa meningkatkan kemitraan, kerjasama, dan persahabatan kita. Tentunya kita punya hubungan emosional dengan Jerman. Banyak sekali putra-putri Indonesia yang mengikuti pendidikan di sini, dan sebagaimana yang disampaikan oleh Saudara Duta Besar tadi memiliki prestasi yang luar biasa dan mereka menjadi aset bangsa. Presiden ketiga kita, Prof. DR. Baharuddin Jusuf Habibie juga lulusan dari Jerman. Dan beliau bahkan dinilai sebagai putra terbaik yang mengenyam pendidikan, pernah bekerja di Jerman ini, dan saya yakin akan banyak tokoh-tokoh seperti itu, dan mudah-mudahan ini suatu modal bagi persahabatan di antara kedua negara.
Dengan Angela Merkel tadi, saya bersepakat untuk meningkatkan kerjasama mulai dari perdagangan, investasi, lantas climate change, pendidikan, energi, lantas inter-faith dialogue, industri pertahanan dan banyak lagi yang bisa kita kerjasamakan. Oleh karena itu, saya berharap, Saudara-saudara sebagai duta bangsa yang mengemban tugas di Jerman ini, jaga nama baik kita, citra baik kita, saya senang, saya mendengar berita, bahwa Saudara-saudara pandai menjaga nama baik bangsa kita. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan dan teruslah berbuat seperti itu, karena tentu siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang menjaga nama baik dan martabat bangsa Indonesia. Dengan harapan itu maka, dengan pesan dan ajakan itu, saya berharap di masa mendatang persahabatan, kerjasama antara Jerman dan Indonesia makin meningkat.
Saudara-saudara,
Itu kira-kira hajat, agenda, dan tujuan dari kunjungan saya beserta rombongan ke Eropa kali ini.
Saudara-saudara,
Hadirin sekalian yang saya cintai,
Keadaan di tanah air yang penting saya sampaikan adalah setelah bangsa kita mengalami krisis 11 tahun yang lalu, krisis yang luar biasa, kita melakukan reformasi berskala besar dan sekarang pun kita masih terus melaksanakan reformasi ini. Dan setelah satu dasawarsa kita melaksanakan reformasi, Alhamdulillah yang jelas, negara kita selamat karena 11 tahun yang lalu banyak yang meramalkan negara kita akan bubar seperti Balkan, dan akan tercabik-cabik menjadi negara-negara kecil dengan berbagai skenario dan teori.
Alhamdulillah, Tuhan Maha Besar, berkat determinasi dari kita sendiri, kita tidak akan pernah menyerah dan kita gigih berjuang. Akhirnya setelah 10 tahun kita merasakan reformasi, pada titik sekarang ini keadaan kita lebih baik dibandingkan 10 tahun yang lalu. Banyak yang telah kita capai, meskipun banyak pula yang menjadi pekerjaan rumah kita untuk kita lanjutkan dan kita tingkatkan di masa depan.
Terus terang banyak negara yang memberikan apresiasi terhadap perjalanan bangsa kita, utamanya setelah 10 tahun melaksanakan reformasi. Demokrasi kita oleh dunia dianggap alive, hidup. Hak-hak asasi manusia makin dihormati dan dilindungi. Kebebasan termasuk freedom of the press hadir di Indonesia. Kemudian kita berhasil membangun kembali ekonomi kita dari puing-puing kehancuran, karena kita melaksanakan reformasi di bidang perekonomian. Politik kita dianggap stabil dengan demokrasi yang makin mekar. Keamanan di seluruh tanah air jauh membaik dibandingkan kondisi 10 tahun yang lalu, bahkan 6, 7 tahun yang lalu. Rule of law makin hidup. Anti-corruption campaign mulai menghasilkan hasil yang nyata meskipun masih panjang harus kita lalui.
Kesimpulannya kerja keras kita untuk melaksanakan perubahan, reformasi di negeri kita ini mulai membuahkan hasil. Oleh karena itu, seraya kita bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, seraya saya berterima kasih kepada semua yang 10 tahun ini bersama-sama menyelamatkan bangsa kita, membangun kembali perekonomian kita, membangun tatanan baru dalam sebuah tatanan negara yang demokratis, maka kita bersepakat untuk melanjutkan reformasi gelombang kedua, 10 tahun mendatang.
Saudara-saudara,
Bicara 10 tahun mendatang, bicara agenda utama apa yang hendak kita bangun untuk 10 tahun mendatang, saya telah memberikan pidato di depan DPR RI, di depan DPD RI dan berbagai kesempatan, bahwa di antara banyak agenda dan prioritas ada 3 hal besar yang ingin kita capai 10 tahun mendatang.
Pertama, tiada lain adalah kelanjutan pembangunan, national development dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat, utamanya melalui pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, pertama adalah development, economy, and prosperity. Jadi pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Itu yang pertama.
Yang kedua, 10 tahun mendatang, kita ingin demokrasi kita akan betul-betul well-estabilished, demokrasi yang berakhlak, yang membawa martabat bagi seluruh bangsa, demokrasi dimana kebebasan dan rule of law bisa bergandengan dengan baik, sehingga dengan demokrasi itu kita bisa berbuat lebih banyak lagi untuk pembangunan bangsa.
Dan yang ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah keadilan atau justice. Pembangunan sangat penting, pertumbuhan sangat penting, tetapi kita ingin bahwa pertumbuhan ekonomi itu inklusif, bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, lebih adil dan lebih merata. Demikian juga dalam kehidupan demokrasi dengan partisipasi rakyat yang makin tinggi diperlukan justice, tidak boleh ada diskriminasi, tidak boleh tidak ada persamaan di dalam hak dan kewajiban di negeri kita. Oleh karena itu, 3 hal ini menjadi sangat penting, prosperity, democracy, and justice. Tentu saja 3 hal besar, 3 pilar dari reformasi 10 tahun mendatang, kita jabarkan lagi dengan berbagai agenda dan prioritas pembangunan 5-10 tahun yang akan datang.
Saudara-suadara,
Saya punya keyakinan bahwa dengan kerja keras kita semua, Insya Allah 10 tahun lagi, negara kita akan makin berubah menjadi negara yang lebih sejahtera, yang lebih demokratis, dan lebih berkeadilan. Saya punya pengalaman betapa kita sering menghadapi tantangan, persoalan, dan ujian yang begitu berat, seolah-olah we are accomplishing the imposible missions. Tetapi ternyata dengan ketetapan hati, dengan persatuan, dan dengan ridho Allah, kita bisa mengatasi banyak hal. Kalau 10 tahun yang lalu dengan kondisi yang lebih penuh tantangan, dengan keadaan yang sangat tidak mudah, kita bisa mencapai banyak hal, maka harapan kita 10 tahun mendatang kita bisa berbuat lebih banyak lagi.
Periode 5 tahun ini adalah periode saya yang terakhir. Dan tentu pada saatnya nanti akan ada pemimpin-pemimpin baru, presiden-presiden baru yang akan terus memimpin jalannya kehidupan bangsa, jalannya pembangunan untuk Indonesia tampil secara terhormat di forum internasional dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Saudara-saudara,
Sebagaimana yang Saudara dengar, bahwa dunia sekarang telah memandang Indonesia sebagai partner, sebagai kawan, sebagai normal democratic country, sebagai negara yang punya peran yang positif pada tingkat dunia dengan berbagai achievement di dalam negeri. Oleh karena itu, jangan sia-siakan momentum ini. Jangan kita sendiri tidak menangkap opportunity. Jangan kita tidak bisa mengutamakan mana yang menjadi prioritas dan mana yang bukan, dengan demikian, harapan kita reformasi gelombang kedua akan lebih banyak menghasilkan sesuatu.
Saudara-saudara,
Tidakkah kita bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, tidakkah saya berterima kasih kepada rakyat Indonesia, termasuk Saudara-saudara yang mengemban tugas di Jerman atau di Eropa ini. Krisis yang terjadi sekarang ini berawal dari tahun lalu, yang sekarang masih kita rasakan, banyak negara yang berjatuhan secara ekonomi. Negara-negara yang menguliahi kita dulu 11 tahun yang lalu, negara Eropa, negara Amerika mengalami persoalan yang bahkan jauh lebih berat dibandingkan yang kita lalui, yang kita alami pada waktu itu.
Mengapa Indonesia bisa mengatasi? What is the secret? Apa kunci keberhasilannya? Ternyata pertama-tama, kita sadar bahwa kita memiliki kesalahan, kelemahan, kekurangan, sebagaimana yang kita alami 10 tahun yang lalu ketika kita mengalami krisis, dari situ kita mengambil pelajaran, dari situ kita melakukan berbagai reformasi yang fundamental. Reformasi yang tidak mudah, mengalami pasang surut, up and down, tapi kita tidak pernah menyerah, terus kita lakukan upaya untuk menyukseskan reformasi itu. Itu faktor pertama.
Faktor kedua, kalau 11 tahun yang lalu ketika krisis datang kita kurang bersatu, kurang berkoordinasi, mengembangkan falsafah SDM (Selamatkan Diri Masing-masing), maka yang terjadi keporak-porandaan, krisis yang begitu dalam, 600 trilyun, cost of the crisis yang kembali tidak lebih dari 200 trilyun. Pengalaman sangat pahit, titik hitam dalam sejarah kita kemarin. Ketika krisis datang kita melakukan antisipasi, sejak awal pemerintah, dunia usaha, para gubernur, para ekonom bersama-sama untuk mengatasi krisis. Ternyata, in crucial things unity, itu adalah modal yang luar biasa, and we did it. Kita melaksanakan semua itu. Adalah faktor yang kedua.
Kemudian yang ketiga adalah dengan Indonesia dianggap kawan, partner sebagai negara-negara lain, maka berbeda dengan situasi 1998. Dulu ketika kita mengalami persoalan yang sulit, karena ada pandangan dunia yang kurang baik terhadap Indonesia waktu itu, masalah demokrasi, masalah hak asasi manusia, masalah kroni, masalah corruption dan lain-lain, ternyata tidak banyak negara yang menolong kita. Kemarin, meskipun tidak kita gunakan, tapi negara-negara sahabat banyak yang willing to assist Indonesia, if something happen. Alhamdulillah, tidak terjadi seperti itu. Tetapi itu menenangkan pasar, menenangkan banyak kalangan, baik di dalam maupun di luar negeri. Jadi ternyata partnership, friendship, itu juga bagian dari solusi yang harus kita jaga, kita pertahankan.
Tiga hal itu menurut saya adalah key the success, bahwa kita bisa meminimalkan dampak krisis global ini di negeri kita. Saya yakin banyak pelajaran yang bisa kita petik dan akan kita petik along the way, karena tidak ada perjalanan sebuah bangsa yang mulus-mulus saja. Kita tentu memiliki kekurangan, kesalahan dalam perjalanan kehidupan bangsa kita, tetapi kita harus arif, harus cerdas dan bijak dalam menyikapi semua itu, dalam mengatasi semua itu, dengan satu syarat adalah unity is everything, unity.
Saya terus menyeru kepada segenap komponen bangsa, utamanya di dalam negeri. Bisa saja kita berbeda dalam posisi politik, bisa saja kita memiliki pandangan tersendiri, bisa saja ada elemen bangsa yang mengkritisi pemerintahnya, tidak sependapat dengan barangkali kebijakan yang kita anut. Tapi satu hal ketika kita harus bersatu untuk mencapai tujuan nasional, ketika kita harus mencapai kepentingan bangsa, kita harus menomorduakan kepentingan sempit, kepentingan pribadi, kelompok dan golongan itu, dan kita bersatu untuk mencapai tujuan besar, tujuan yang mulia, tujuan bagi peningkatan kesejahteraan anak-cucu kita.
Itulah the real strength we have yang kita miliki. Itulah demokrasi. Itulah kehidupan yang sehat, dinamis, tapi bertanggung jawab. Oleh karena itu, saya juga menyeru kepada semua komponen bangsa dimana pun bertugas, termasuk yang ada di Eropa ini untuk teruslah memikirkan, teruslah memberikan sumbangan untuk kepentingan bangsa dan negara kita. Dimana pun Saudara berada, bertugas selalu bisa berkontribusi, karena kontribusi atau ingin menyumbang bagi kemajuan bangsa kita letaknya dalam hati dan dalam pikiran kita, within our heart and our minds. Kalau kita punya prakarsa, kita punya keinginan, what can we do for our country, Tuhan akan kasih jalan. Di situ sebagai yang sedang mengemban amanah, saya sungguh berharap kita semua bersatu di dalam mewujudkan dan mencapai tujuan yang mulia.
Khusus Saudara-saudara yang di Eropa dan di Jerman ini, saya hanya titip, agar setiap opportunity, setiap peluang, setiap kesempatan yang bisa diambil untuk kepentingan bangsa dan negara kita, tolong diambil, apapun begitulah kita menyikapi globalisasi. Orang kadang-kadang melihat globalisasi hanya separuh dari the reality of globalization. Globalisasi itu memang di satu sisi mendatangkan keburukan-keburukan, ancaman bagi kehidupan bangsa, tapi ingat di sisi lain juga menyediakan peluang, opportunity yang apabila kita cerdas dan arif mengambilnya, kita mendapatkan sesuatu sambil menahan, sambil menangkal, sambil membendung nilai, gaya hidup, perilaku yang tidak cocok dengan kepribadian bangsa.
Yang akan menang, will be the winner in globalization adalah mereka yang cerdas, yang arif untuk mendapatkan peluang, mengalirkan sumber-sumber kemakmuran dari globalisasi untuk kepentingan bangsa, seraya membendung, menahan hal-hal yang tidak baik itu. Itu adalah mindset, itu adalah cara pandang yang tepat. Dengan demikian, kita tidak perlu takut, tidak perlu gamang, tidak perlu silau dengan globalisasi. Globalisasi telah datang dan menjadi bagian dari kehidupan global. Dalam konteks itu, peliharalah komunikasi dengan saudara-saudara yang di dalam negeri. Kemudian setiap inisiatif tolong dikembangkan untuk sebesar-besar kepentingan bangsa dan negara kita.
Ini saya diingatkan oleh Mensesneg, ada yang belum saya kenalkan tadi. Saya ingin memperkenalkan pendamping setia saya. Ibu Negara atau istri saya, Ibu Kristiani Herawati atau Ani Bambang Yudhoyono. Ada satu lagi, putra kedua saya, Edhie Baskoro Yudhoyono, yang sekarang menjadi anggota DPR RI, dan anak saya dua. Dua-duanya laki-laki, satu sudah menikah, mengikuti jejak saya juga dulu sebagai prajurit, sekarang berpangkat Kapten, sedang mengikuti pendidikan di Harvard University di Boston, Amerika Serikat. Dan kemudian yang nomor dua, Edhie Baskoro Yudhoyono, masih single, dan kemudian sedang belajar untuk menjadi anggota parlemen yang baik.
Saya memiliki doktrin, biarlah belajar dari bawah, terus mendapatkan pengalaman, mendapatkan tantangan, cobaan, dan ujian, suatu saat akan memiliki ketangguhan untuk siap mengabdi kepada bangsa dan negara. Saya kira falsafah itulah yang bisa kita kembangkan, tidak ada jalan pintas untuk mencapai tujuan yang mulia, semua mesti melewati ujian, cobaan dan tantangan. Dan makin besar tantangan itu, manakala bisa diatasi, makin tough seseorang.
Saya berpesan kepada para mahasiswa, para pelajar, do your best, timbalah pengalaman sebaik-baiknya, sebanyak-banyaknya, jangan berubah dari kepribadian kita, dari jati diri kita, dari nilai-nilai kita. Orang mengatakan eastern values dengan western mind. Indonesian values dengan modern mind, dengan western mind. Saya kira itulah the true putra Indonesia, putra-putri Indonesia. Dan kepada yang berprestasi, saya mengucapkan selamat dan teruslah berprestasi untuk kepentingan bangsa dan negara kita.
Saudara-saudara,
Kalau terlalu lama saya akan diprotes, karena ada yang sudah sejak sore mungkin barangkali menunggu acara makan malam ini dan acara makan malam ini acara yang tidak bisa diwakilkan. Kalau rapat, saya bisa mendelegasikan Menteri A, Menteri B, tapi kalau santap malam saya tidak pernah mendelegasikan itu. Dokter tidak mengijinkan untuk mendelegasikan makan malam.
Itulah Saudara-saudara. Dan sampaikan salam saya kepada keluarga, sahabat, handaitaulan yang tidak bisa datang pada malam hari ini. Saya ingin menyapa semuanya, tetapi tentu secara teknis tidak mungkin. Sampaikan salam hangat saya, salam sayang saya, we love you all, sebagaimana kita mencintai bangsa dan Negara kita.
Selamat berjuang.
Tuhan beserta kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



