Pidato Presiden

Sambutan Perayaan Natal Bersama Umat Kristiani 2009

 

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA
PERAYAAN NATAL BERSAMA UMAT KRISTIANI
TINGKAT NASIONAL TAHUN 2009

JAKARTA, 27 DESEMBER 2009



Para tamu undangan dan hadirin sekalian yang saya muliakan,
Segenap umat Kristiani di seluruh penjuru tanah air yang saya cintai, dan yang berbahagia,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Syaloom,

Malam ini, dengan penuh rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan karunia-Nya, umat Kristiani dapat kembali menyelenggarakan Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional, Tahun 2009.

Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini, untuk menyampaikan selamat dan salam bahagia kepada Umat Kristiani di seluruh wilayah Indonesia. Semoga, damai menyertai Saudara-saudara. Saya juga berharap, semoga perayaan Natal tahun ini membawa semangat dan harapan baru, untuk membangun hari esok yang lebih baik bagi kita, bagi seluruh rakyat Indonesia, dan bagi seluruh umat manusia di dunia.

Saudara-saudara,
Perayaan Natal ini mengangkat tema; “Tuhan itu baik kepada semua orang”. Tema yang sangat tepat dan inspiratif. Tema ini menunjukkan kasih Tuhan kepada seluruh umat manusia, agar kita dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera. Tema ini juga memberikan inspirasi kepada kita, untuk selalu memperkuat semangat persaudaraan, solidaritas, dan kemitraan di antara umat manusia.

Melalui tema itu, saya mengajak segenap umat Kristiani, untuk menghayati sekaligus menerapkan nilai-nilai universal kemanusiaan, pada perayaan Natal yang penuh suka cita dan hikmat ini. Jadikan perayaan Natal tahun ini untuk menguatkan kembali komitmen kemanusiaan kita, dan sekaligus ikatan kebangsaan kita, berdasarkan semangat yang terkandung dalam ”Bhinneka Tunggal Ika”, ”Berbeda-beda namun satu jua”. Sungguh ini sebuah karunia besar dari Tuhan Yang Maha Kuasa, kepada bangsa kita.

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Pada Tahun 2008 yang lalu, Natal kita rayakan di tengah krisis keuangan global. Menghadapi krisis tersebut, waktu itu saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk lebih bersatu, melangkah bersama dan bekerja lebih keras, dengan kepercayaan diri yang kuat, bahwa kita akan mampu mengatasi persoalan yang kita hadapi.

Syukur alhamdulillah, berkat kebijakan dan tindakan kita yang cepat, tepat dan terpadu, kita dapat meminimalkan dampak krisis perekonomian global itu terhadap negeri kita. Indonesia selamat, dan tidak terjatuh seperti sepuluh tahun yang lalu. Dunia pun memberikan apresiasi atas prestasi bangsa kita dalam mengatasi krisis ini. Tahun ini, meskipun krisis dunia belum sepenuhnya usai, kita kembali bersyukur karena situasinya jauh lebih baik.

Hadirin yang saya muliakan,
Sebentar lagi kita akan memasuki Tahun baru 2010. Oleh karena itu, bertepatan dengan perayaan Natal malam ini, patut kiranya jika kita melakukan refleksi dan perenungan. Pertanyaannya adalah refleksi atau renungan seperti apa yang hendak kita lakukan ? Hikmah dan pelajaran apa saja yang hendak kita petik dari perjalanan kita sebagai bangsa?

Jawabannya, sesungguhnya banyak yang dapat kita petik. Namun, dikaitkan dengan suasana batin perayaan Natal malam ini, ijinkan saya mengedepankan hal yang penting dan mendasar; yaitu tentang etika, akhlak, dan budi pekerti kita sebagai manusia; tentang karakter dan moral kita sebagai masyarakat; dan sejatinya, juga tentang peradaban kita sebagai bangsa.

Di berbagai kesempatan dan forum telah sering saya sampaikan, pentingnya kita membangun tata-kehidupan masyarakat yang baik (good society), dan peradaban bangsa yang unggul dan mulia (great civilization). Kedua kondisi ini perlu kita miliki agar Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang maju, bermartabat, dan sejahtera di Abad XXI. Berulang kali pula saya sampaikan, agar bangsa kita terus membangun karakter, nilai dan perilaku kehidupan yang mencerminkan peradaban bangsa yang maju, unggul dan mulia. Saya juga terus mengajak, agar dalam menjalani kehidupan ini kita terus membangun jiwa yang terang dan bukan yang gelap, pikiran yang positif dan bukan yang negatif, sikap yang optimis dan bukan yang pesimis, serta percaya diri, terus bekerja keras dan bukan lemah atau malas.

Yang ingin saya sampaikan pada forum yang mulia ini, terkait dengan semua itu adalah, keprihatinan saya yang mendalam, atas sejumlah fenomena sosial dan politik yang muncul akhir-akhir ini, yang saya nilai tidak sehat dan dapat merusak sendi-sendi kehidupan kita. Apa itu? Tiada lain, adalah munculnya sejumlah tabiat dan perilaku baru yang didasarkan pada fitnah, kebohongan dan fiksi, daripada fakta dan kebenaran. Di sejumlah tempat di tanah air, juga muncul perilaku kasar dan bernuansa kekerasan, yang dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat di dalam mengekspresikan hak dan kebebasannya.

Apa yang saya prihatinkan adalah, semua tabiat itu telah melampaui batas kepatutan yang dapat diterima oleh dasar-dasar moral, etika dan budi pekerti, yang semuanya menjadi ajaran utama semua agama. Jika hal demikian kita biarkan, tentu akan mengganggu dan melemahkan pilar-pilar penting dari tata-kehidupan masyarakat yang baik (good society), dan peradaban bangsa yang unggul, dan mulia (great civilization).

Sebaliknya, kehidupan sosial dan politik kita akan digantikan oleh nilai dan tabiat buruk yang penuh prasangka, kebencian, dan permusuhan. Lebih lanjut, jika hal-hal negatif begini terus berkembang, kehidupan masyarakat kita akan menjadi tidak tenteram, kehidupan bangsa akan penuh dengan konflik dan kegaduhan, dan demokrasi serta politik pun akan tercoreng, karena akan tercabut dari etika dan nilai-nilai luhur bangsa kita.

Mari kita bersama-sama menghentikan tabiat tak terpuji ini, dengan menerapkan tata-krama yang mencerminkan kehidupan bermasyarakat yang baik dan peradaban unggul, yang sekaligus selaras dengan anjuran dan ajaran mulia semua agama di dunia.

Mari kita jauhkan sikap dan perilaku yang bertentangan dengan ajaran universal agama-agama, yang pada hakekatnya menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kebertanggung-jawaban. Bersama-sama, mari kita serukan penolakan terhadap fitnah, kebohongan, dan perilaku kasar yang melampaui kepatutannya.

Dalam kaitan ini semua, selaku Kepala Negara saya sungguh mendorong agar para Pemuka Agama senantiasa mengambil peran yang konstruktif. Para Pemuka Agama juga sungguh diharapkan tetap dekat dengan ummat, seraya terus membimbing dan mengarahkan agar nilai-nilai luhur agama dan moral tetap dipedomani dan dijalankan. Pemuka agama adalah sosok yang tepat untuk memberikan tauladan kemuliaan dan keagungan dalam berpikir, bertutur, bersikap, dan bertindak.

Hadirin yang saya muliakan,
Umat Kristiani yang berbahagia,
Kita patut bersyukur, sebagaimana tahun-tahun yang lalu, perayaaan Natal tahun ini berlangsung dalam suasana yang sangat tenang, tenteram, aman, dan damai. Adalah jelas bahwa suasana ini adalah hasil kerja keras kita bersama selama ini. Suasana ini harus dapat kita pertahankan. Ke depan, kegiatan dan perayaan keagamaan apapun harus berlangsung dalam suasana seperti ini. Marilah kita tunjukkan kepada masyarakat dunia, bahwa bangsa Indonesia yang sangat majemuk ini dapat menjadi contoh, bagi kehidupan yang penuh toleransi.

Sudah saatnya kita makin memperkuat kehidupan masyarakat yang penuh kerukunan, toleransi, saling menghargai, dan saling menghormati. Dengan cara itu, kita dapat membangun sebuah bangsa yang besar, bangsa yang mulia dan dihormati oleh bangsa–bangsa lain di dunia. Bangsa yang sungguh bersatu, berdaulat, maju, adil dan sejahtera.

Kuncinya, adalah persatuan, kebersamaan dan kerja keras di antara kita semua. Mari kita letakkan kepentingan bangsa kita di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. Mari kita hormati konstitusi dan tatanan kehidupan bernegara yang demokratis, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada segenap komponen bangsa, yang semakin peduli pada kelestarian lingkungan, termasuk dalam mencegah berlangsungnya pemanasan global dan perubahan iklim. Saya harus mengatakan bahwa krisis lingkungan inilah yang sesungguhnya menjadi krisis global yang paling mencemaskan. Gerakan kemasyarakatan seperti Tanam dan Pelihara Pohon, efisiensi dalam penggunaan bahan bakar dan energi, pengelolaan limbah yang makin baik, dan penyelamatan hutan dan air sungguh saya hargai, karena semua itu dapat menyelamatkan bumi dan tanah air kita.

Indonesia juga terus aktif berperan dan berkontribusi, dalam membangun kerja sama global menghadapi perubahan iklim (climate change). Setelah kita sukses menjadi tuan rumah Konferensi PBB di Bali tahun 2007 dengan menghasilkan Bali Roadmap, kita pun aktif menyukseskan Konferensi Kopenhagen yang akhirnya menghasilkan Copenhagen Accord. Alhamdulillah, pikiran dan usulan Indonesia banyak yang diterima dan diwadahi dalam Copenhagen Accord, yang disyahkan beberapa hari yang lalu.

Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini, saya kembali menyerukan kepada segenap warga bangsa di seluruh tanah air, untuk terus berkontribusi dalam upaya mencegah dan mengatasi dampak pemanasan global dan perubahan iklim. Salah satu caranya, sebagaimana yang saya katakan tadi adalah, dengan terus membudayakan gerakan menanam dan memelihara pohon. Saya berkeinginan, di masa mendatang, setiap tahun kita bisa menanam satu milyar pohon di seluruh tanah air. Jika ini dapat kita laksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh, negeri kita akan menjadi negeri yang hijau, teduh, dan rindang, serta dapat berkontribusi secara signifikan terhadap upaya pengurangan emisi global.

Hadirin yang saya muliakan,
Akhirnya, melalui Perayaan Natal ini, semoga Saudara-saudara Umat Kristiani mampu memperbaharui semangat pengharapan di hati masing-masing. Mampu merefleksikan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu membangun semangat kebersamaan dan toleransi di antara pemeluk agama dan kepercayaan yang berbeda. Natal juga penting disikapi sebagai upaya memotivasi pembaharuan iman, cinta kasih, kesederhanaan dan solidaritas, sebagai cerminan keimanan dan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kasih sayangnya kepada kita semua, dalam membangun hari esok yang lebih cerah, dan lebih baik. Dan, semoga perayaan Natal Bersama malam ini benar-benar membawa suasana damai, kepada siapa saja yang merayakannya.

Selamat Natal dan Selamat menyongsong Tahun Baru 2010.
Terimakasih,
Syaloom


Jakarta, 27 Desember 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO