Pidato Presiden

Sambutan Upacara Pemakaman KH Abdurrahman Wahid

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
UPACARA PEMAKAMAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID
MANTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA KE-4,
DI PEMAKAMAN KELUARGA PESANTREN TEBU IRENG
JOMBANG, JAWA TIMUR, 31 DESEMBER 2009



Dengan penuh rasa duka yang amat dalam, pada hari ini kita semua seluruh rakyat Indonesia berkabung atas wafatnya Bapak K.H. Abdurrahman Wahid atau yang secara akrab kita panggil Gus Dur, Presiden Republik Indonesia ke-4. Almarhum telah berpulang ke rahmatullah dengan tenang pada hari Rabu, tanggal 30 Desember 2009, pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Kita telah kehilangan salah seorang putra terbaik bangsa, seorang guru dan bapak bangsa, dan seorang negarawan terhormat. Kita hadir di sini, di pemakaman keluarga di Jombang, Jawa Timur untuk memberikan penghormatan terakhir melalui upacara kenegaraan. Upacara ini kita selenggarakan, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan dari negara dan pemerintah atas jasa, dharmabakti serta pengabdian almarhum kepada negara dan bangsa.

Kita sama-sama mengetahui, Almarhum yang dilahirkan di Kota Jombang, 69 tahun lalu, sepanjang hayat beliau mengabdikan diri untuk masyarakat bangsa dan negara. Sejarah mencatat, bahwa sepanjang hidup beliau, Almarhum telah memberikan pengabdian terbaik untuk kemajuan agama di Indonesia, utamanya melalui pengabdian tanpa pamrih kepada organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama yang didirikan oleh kakek beliau, K.H Hasyim Ashari. Selama 15 tahun sejak 1984 hingga 1999, beliau menjadi Ketua Umum PBNU selama tiga periode berturut-turut.

Pada tahun 1998, beliau bersama pemimpin dan ulama NU lainnya mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa, sebuah partai yang hingga hari ini ikut memperjuangkan kemajuan bangsa atas dasar Islam dan kebangsaan. Almarhum juga dikenal sebagai salah satu pemimpin dan pemikir Islam yang sangat dihormati di Indonesia maupun di dunia. Beliau dikenal secara luas sebagai tokoh yang sangat berpengaruh, karena senantiasa mendorong perkembangan Islam di lingkungan warga Nahdiyin pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Kepercayaan kepada agama yang beliau peluk, yaitu Islam sebagai sumber universal kemanusiaan dan peradaban mulia, sungguh memberikan inspirasi bagi kita semua. Keyakinan beliau kepada Islam sebagai sumber keselamatan, perdamaian, keadilan dan toleransi menginspirasi banyak kalangan dan pemimpin agama di negeri ini maupun di dunia internasional.

Almarhum juga tercatat, sebagai salah satu peletak dasar perkembangan awal dalam pemikiran dan praktik demokrasi di Indonesia. Pada awal 1990-an bersama-sama dengan beberapa tokoh lainnya, Gus Dur mendirikan Forum Demokrasi atau Fordem, sebuah forum yang menyemaikan gagasan-gagasan strategis tentang demokrasi dan pembangunan.

Selama masa sebelum dan sepanjang reformasi, Gus Dur menjadi salah satu tokoh kunci, yang mendorong transisi demokrasi secara lebih terlembaga dan terkonsolidasi. Beliau menjadi Presiden pertama sejak pemilu demokratis diselenggarakan pada tahun 1999. Beliau pulalah yang menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar dan ajaran hidup yang menguatkan penghormatan kita kepada kemajemukan di negeri ini.

Sebagai pejuang reformasi, Almarhum senantiasa mengingatkan kita kepada gagasan-gagasan universal mengenai pentingnya kita sebagai bangsa yang beragam ini menghormati dan menghargai kemajemukan. Melalui ucapan, sikap dan perbuatan beliau, Gus Dur menyadarkan sekaligus melembagakan kehormatan kita kepada kemajemukan ide dan identitas, yang bersumber dari perbedaan agama, kepercayaan, etnik dan kedaerahan.

Disadari atau tidak oleh kita, sesungguhnya beliau adalah Bapak Prularisme dan Multikulturalisme di Indonesia. Selama masa pemerintahannya sepanjang 1999–2001, Gus Dur menetapkan berbagai kebijakan yang tidak saja berkehendak secara tetap untuk mengakhiri diskriminasi, namun juga untuk menegaskan bahwa negara memuliakan berbagai bentuk kemajemukan yang terdapat di negeri ini. Jasa-jasa beliau terhadap perkembangan masyarakat dan bangsa, yang dilandaskan pada demokrasi dan semangat persatuan atas dasar kemajemukan, sungguh sangat berarti dalam sejarah Republik Indonesia.

Hadirin yang saya muliakan,
Dengan jujur dan hati yang bersih, kita patut mengakui begitu banyak jasa yang telah Almarhum berikan pada bangsa dan negara. Namun kita juga menyadari, bahwa sebagai manusia biasa dan juga layaknya seorang pemimpin, Almarhum tentulah tidak luput dari kekhilafan dan kekurangan. Tidak ada manusia, umat hamba Allah yang sempurna di dunia ini, untuk itu, marilah kita sebagai bangsa yang berjiwa besar dengan tulus mengucapkan, terima kasih, serta memberikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi atas dharmabakti dan pengabdian Almarhum, kepada bangsa dan negara.

Pada kesempatan yang penting ini, saya juga mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mendoakan Almarhum, semoga ditempatkan di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, sesuai dengan perjuangan, pengorbanan dan amal ibadah beliau.

Kepada keluarga Almarhum yang ditinggalkan, kita mendoakan semoga Allah SWT senantiasa memberikan ketabahan dan kesabaran, serta dapat menerima kepergian Almarhum dengan ikhlas dan tawakal.

Akhirnya dengan memohon ridho Allah SWT, marilah kita lepas kepergian Almarhum menghadap sang khalik dengan tenang. Marilah pula kita panjatkan doa, semoga Allah SWT menerima amal, ibadah beliau dan mengampuni segala dosa-dosa Almarhum. Selamat jalan Bapak Pluralisme kita, semoga berada dengan tenang di sisi Allah SWT.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan