Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Sidang Terbatas Bidang Ekonomi

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUKAAN SIDANG TERBATAS KABINET BIDANG EKONOMI
ISTANA BOGOR, 21 JANUARI 2010



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara Wakil Presiden, para Menteri dan segenap Peserta Sidang Kabinet Terbatas bidang ekonomi yang saya hormati,
Dengan terlebih dahulu memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Sidang Kabinet Terbatas sore hari ini kita mulai.

Agenda dari sidang kita kali ini adalah satu, antisipasi untuk menghadapi kenaikan harga pokok, utamanya komoditas pangan, agar ketika kita melakukan stabilisasi harga-harga itu, dampaknya positif dan bisa mencegah beban kepada rakyat yang tidak semestinya dipikul. Kita punya pengalaman di waktu yang lalu, ketika harga pangan dunia naik tajam, kita terkena dampaknya dan kemudian kita menetapkan sejumlah kebijakan yang juga kita komunikasikan kepada dunia usaha dan para kepala daerah utamanya para gubernur dan waktu itu upaya kita berhasil dan kita mendapatkan penghargaan dari FAO sebagai negara yang mampu mengatasi dampak krisis pangan waktu itu.

Oleh karena itu, sepatutnya kita melakukan langkah-langkah antisipatif, sebagaimana tahun lalu, ulangi tahun 2008, ketika tahu dunia sedang mengalami krisis yang dampaknya bisa kemana-mana, kitapun melakukan langkah-langkah yang proaktif dan antisipatif dan akhirnya krisis dapat kita minimalkan dampaknya kepada Indonesia. Saya ingin menghadapi kemungkinan kenaikan harga pangan itu, kita juga melakukan hal yang sama.

Yang kedua, mengemuka sekarang ini tentang Free Trade Area, ASEAN dengan Cina. Tadi dalam jumpa pers saya, setelah saya melaksanakan pertemuan dengan para Pimpinan Lembaga-lembaga Negara juga kita angkat isu ini untuk saya letakan dalam konteksnya yang benar, agar dipahami duduk perkaranya dan langkah-langkah kedepan seperti apa yang patut kita lakukan. Saya katakan di Istana Bogor inilah, tahun 1994 dilaksanakan pertemuan puncak APEC yang menghasilkan Bogor Goals yang intinya tiada lain adalah perdagangan bebas dan investasi terbuka yang akhirnya dianut oleh negara-negara anggota APEC.

Dalam perkembangannya, pada tahun 2003, dilaksanakan pertemuan ASEAN Summit dilanjutkan dengan ASEAN +3 Summit di Denpasar, Bali yang juga melahirkan Bali Accord dengan sejumlah kerangka kerjasama, yang itu juga berkaitan dengan perdagangan dan investasi terbuka, pasar bebas antar ASEAN, maupun ASEAN dengan partner-partner-nya di Asia ini. Itu satu proses yang mesti kita pahami.

Dan kemudian ketika kerjasama itu akan diberlakukan, dalam evaluasi memang ada sejumlah ketidaksiapan atau kebelumsiapan dari sejumlah elemen di negeri kita ini yang harus kita carikan jalan keluarnya. Kita tentu harus tepat di dalam mengelola ini, jangan sampai dianggap oleh sahabat-sahabat kita, 9 negara ASEAN yang lain. Indonesia begitu saja ingkar kesepakatan, menjadi tidak baik, karena ini pikiran bersama. Apalagi Indonesia dianggap ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. Kita juga harus tepat dalam bernegosiasi atau berkomunikasi dengan Republik Rakyat Cina. Dengan demikian kita juga tidak mendapatkan salah pengertian. Akan kita carikan solusi yang terbaik, disatu sisi melindungi rakyat kita kepentingan kita, disisi lain kita juga tidak semudah itu meninggalkan kesepakata-kesepakatan yang prosesnya mengalir begitu panjang. Kalau kita urai sesungguhnya sejak pertemuan puncak APEC di Istana Bogor ini.

Saya akan mendengarkan nanti laporan dari Menko Perekonomian disusul oleh Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan tentang kedua isu ini dan langkah-langkah seperti apa yang harus kita lakukan. Dan nanti akan saya berikan directions kepada Saudara untuk ditindaklanjuti dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Demikianlah pengantar saya dalam Sidang Kabinet Terbatas pada sore hari ini.

*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan