Pidato Presiden
Sambutan saat Kunjungan ke SMP Negeri 2 Labuan
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DI HADAPAN PARA SISWA DAN GURU DI SMP NEGERI 2 LABUAN
LABUAN, BANTEN
28 JANUARI 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Pendidik, para Orangtua, para Siswa dan tentunya Anak-anak semua yang saya banggakan,
Alhamdulillah, hari ini saya didampingi oleh dua Menteri yang bertugas untuk memajukan pendidikan di negeri kita, yaitu Menteri Pendidikan Nasional, Bapak Muhammad Nuh, dan Menteri Agama Bapak Suryadharma Ali, juga didampingi oleh Gubernur Banten Ibu Atut, juga Bupati Pandeglang dan rombongan, tiada lain untuk melihat langsung keadaan dan kegiatan di SMP 2 Labuan ini. Sekaligus untuk mengetahui keadaan pendidikan di Kabupaten Pandeglang dan juga di Provinsi Banten.
Oleh karena itu, disamping saya melihat gedung, fasilitas, halaman yang ada di sekolah ini, saya juga melihat sarana belajar mengajar, termasuk perpusatakaan. Dan bahkan tadi saya mendengarkan langsung Bapak, Ibu guru di dalam membimbing muridnya untuk menghadapi ujian nasional. Serta saya ikut membaca soal-soal, yang kira-kira akan diujikan dalam ujian nasional, Insya Allah bulan Maret mendatang.
Mengapa? Saya ingin memastikan bahwa kebijakan program kegiatan-kegiatan dalam bidang pendidikan ini berjalan dengan baik. Kalau ada yang tidak baik, tugas pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memperbaikinya. Kalau sudah baik, dilanjutkan dan tingkatkan. Kalau belum baik, diperbaiki dan disempurnakan. Itu tujuan saya dan rombongan datang hari ini.
Khusus untuk ujian nasional, saya ingin melihat langsung seperti apa soal-soal itu. Contohnya, karena di luar ada pro dan kontra, banyak yang setuju ujian nasional itu dilaksanakan, sedikit yang saya ketahui, yang tidak setuju dengan ujian nasional, alasannya macam-macam. Tetapi pemerintah berketetapan, bahwa karena tujuannya sangat baik dengan ujian nasional itu, sambil juga mendengarkan pendapat rakyat, mendengarkan putusan Mahkamah Agung, mendengarkan pendapat Dewan Perwakilan Rakyat, baik pusat maupun daerah, pemerintah melakukan perbaikan-perbaikan, kesiapan agar ketika ujian nasional itu dilaksanakan. Insya Allah anak-anak kita bisa mengerjakan dengan baik dan banyak yang lulus.
Ujian nasional itu bukan hantu, bukan momok, bukan apa-apa, tetapi karena kita ingin mengukur, apakah setelah bersekolah 3 tahun di SMP ini menguasai materi yang diajarkan, agar bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Kalau tidak ada ukuran, tidak mungkin, semua juga yang pernah bersekolah pernah mengikuti ujian nasional. Kalau dari 10 orang, 1 mungkin tidak lulus, itu bisa terjadi, dari dulu juga begitu, mungkin ada masalah, mungkin kurang siap, mungkin ada materi-materi yang tidak dikuasai. Dalam kaitan itu, tidak berarti, karena 1 orang tidak lulus, lantas ujian nasional itu ditiadakan. Ini khusus ujian nasional.
Bapak Ibu, Saudara-saudara, anak-anak,
Yang menentukan baik tidak baiknya, maju tidak majunya sebuah bangsa itu, sekarang dinilai paling tidak dari 4 hal. Pertama, tingkat pendidikan masyarakatnya. Dua, tingkat kesehatan masyarakatnya. Ketiga, penghasilan rumah tangga-rumah tangga. Yang keempat, lingkungan hidupnya, apakah baik atau tidak. Mengapa 4 itu penting?
Begini, kalau seseorang anak-anak kita SD, SMP, SMA, dengan program wajib belajar, dia bersekolah dengan baik, sekolahnya baik, pendidikannya baik, maka dia memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk bekerja. Ditambah dengan jasmaninya baik, kesehatannya baik, maka dia bisa bekerja. Kalau dia punya pengetahuan dan keterampilan, jasmaninya baik, dia bekerja mendapatkan penghasilan.
Penghasilan itu bisa digunakan untuk kehidupan sehari-sehari dalam lingkungan yang baik. Tidak mudah sakit, tidak mudah bencana, tidak mudah ada kejahatan, tidak mudah ada gangguan narkoba dan lain-lain, itu lingkungan. Jadi tidak keliru, kalau Pak Bupati, Ibu Gubernur, kita semua sangat mencurahkan perhatian pada pendidikan, kesehatan, pendapatan rakyat kita, termasuk lingkungan.
Saya 5 tahun yang lalu, sudah menjelajahi seluruh wilayah Indonesia, mengecek langsung, pendidikan, kesehatan, pendapatan rakyat kita, termasuk usaha mikro, usaha kecil dan lingkungannya. Pendidikan ini bukan hanya pendidikan umum, tapi juga pendidikan agama, bukan hanya negeri, tapi juga swasta. Bukan hanya pendidikan biasa, tapi juga luar biasa. Bukan hanya pendidikan yang ada di kota, tapi juga ada yang di desa. Bukan yang umum, tapi juga kejuruan. Dengan demikian, semua kita perbaiki, kita tingkatkan.
Anggaran yang kita keluarkan besar sekali. Dari anggaran negara untuk pembangunan yang paling besar pendidikan, sudah mendapatkan porsi seperlima. Jadi kalau sekarang APBN 1.000 trilyun, 200 trilyun untuk pendidikan, sisanya dibagi-bagi untuk semua. Jadi jangan kita sia-siakan kebijakan negara ini, Undang-Undang Dasar, dan upaya pemerintah untuk meningkatkan pendidikan, harus kita sukseskan.
Pak Nuh dan Pak Suryadarma Ali, kedua Menteri yang menangani ini sering mengatakan bahwa, agar pendidikan itu baik, pertama-tama yang harus baik gurunya dulu. Guru yang baik itu, guru yang kesejahteraannya baik. Makanya pemerintah terus meningkatkan. Setelah kesejahteraannya baik, punya kemampuan, punya profesionalisme untuk mengajar dengan baik. Yang kedua, setelah gurunya baik, maka bahan ajar atau bahan ajaran itu juga tersedia dengan cukup. Sarananya, kelasnya, gedung sekolahnya juga baik, metodologinya, cara mengajar juga baik.
Kemudian kalau harus mengevaluasi, mengukur juga baik. Kalau semuanya baik, hampir pasti anak didiknya baik. Tujuannya adalah si anak didik ini, si murid siswa ini, makanya pendidikan kita student centered education, berorientasi pada siswa. Mereka yang harus jadi, agar siswanya baik, mutunya, semua pasti jadi baik. Program pemerintah menyentuh semua itu. Kita tidak boleh kalah dengan bangsa lain. Setuju. Indonesia, Insya Allah bisa karena kita bangsa yang besar.
Kemudian khusus saudara-saudara kita yang belum sejahtera, pemerintah memiliki program pro rakyat dalam pendidikan. Kita tahu ada BOS ya, ada BOS buku, ada Bantuan Operasional Manajemen Mutu, ada beasiswa, banyak sekali. Itu membantu yang belum sejahtera, karena pendidikan sebagaimana yang saya sampaikan tadi pagi, yang penting mutunya baik, mudah diikuti, murah biayanya, yang miskin kita gratiskan, itu yang menjadi tujuan kita.
Oleh karena itu, saya akan terus Insya Allah melihat secara dekat memastikan semua program pendidikan, program kesehatan, program meningkatkan penghasilan rakyat, kemampuan mereka memberi bahan pokok, termasuk lingkungan yang baik, karena itulah yang menjadi human development index, indeks pembangunan manusia. Kriteria bahwa pembangunan manusia itu berhasil.
Itu yang ingin saya sampaikan. Dan tadi setelah saya melihat sana-sini, Pak Nuh akan juga memberikan bantuan-bantuan bukan hanya untuk SMP 2, tapi juga yang lain, karena kita harus adil tidak boleh pilih kasih. Semua akan kita bantu secara bertahap, tidak mungkin membantu sekaligus. Tapi dengan prioritas. Yang kita prioritaskan yang memang sangat memerlukan bantuan. Yang sudah baik, ya biarkan dulu, nanti rezeki kita lebih, penerimaan negara makin besar, yang sudah baik pun kita bantu, tetapi kita utamakan membantu yang belum baik dulu.
Dan ingat pendidikan agama sangat penting. Anak-anak Indonesia tidak hanya anak atau pemuda, atau generasi yang kuat mentalnya, ulet, tidak mudah menyerah, pintar dalam arti tahu pengetahuan, keterampilan, rukun satu sama lain, tapi jangan lupa dia harus berakhlak baik dan budi pekerti yang baik pula.
Bangsa ini menangis kalau ada putra-putri Indonesia, generasi muda kita, tidak punya budi pekerti yang baik, perilaku yang baik, tutur kata yang baik. Orangtua akan menangis, mengapa anak-anak kita jadi begini. Oleh karena itu, yang kita didik semuanya. Ya pengetahuannya, ya jasmaninya, ya keterampilannya, ya kerukunannya, ya optimismenya, dan akhlak, moral, perilaku, kesantunan dan tutur kata yang baik.
Ini tugas semua. Tugas para guru, tugas orangtua, untuk menyiapkan anak didik kita seperti itu. Selebihnya kita harus mempersiapkan mereka semua. Suatu saat yang namanya Presiden, Menteri, Gubernur juga akan berganti. Diganti yang lebih muda, lebih muda lagi. Demikian juga kepala sekolah, guru dan segala macam. Anak-anak kita, kita persiapkan untuk itu. Ini tanggung jawab, ini amanah untuk kita jalankan dengan sebaik-baiknya.
Saya kira itu yang saya sampaikan pada kesempatan ini. Dan paling tidak pada tingkat saya, pada tingkat Menteri, kembali ke Jakarta akan bisa mengembangkan lagi kebijakannya, program-programnya, rencana-rencana aksinya, agar pendidikan ini lebih baik lagi. Demikian juga Ibu Gubernur, demikian juga Bapak Bupati melakukan hal yang sama. Demikian yang dapat saya sampaikan.
Dan saya beri kesempatan sekarang, barangkali satu mewakili kaum terdidik, satu mewakili orangtua, satu mewakili siswa barang kali yang ingin menyampaikan pandangan atau saran, atau pertanyaan kepada saya. Saya persilakan.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



