Pidato Presiden
Sambutan pada Acara Silaturahmi dengan Prajurit dan Keluarga Divisi I Kostrad Cilodong
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN PRAJURIT DAN KELUARGA DIVISI I KOSTRAD CILODONG
CILODONG, JAWA BARAT
31 JANUARI 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Pemuda dan Olahraga,
Saudara Kepala Staf Angkatan Darat.
Tadi hadir Panglima TNI, tetapi beliau berangkat ke Nusa Tenggara Timur untuk melaksanakan tugas terutama meninjau daerah perbatasan Republik Indonesia dengan Timor Leste dan bersama menteri yang lain ikut memastikan bahwa pembangunan di daerah itu terlaksana dengan baik.
Panglima Divisi Infanteri I Kostrad
Para Pejabat Utama dan para Komandan Kesatuan Jajaran Divisi I Kostrad
Para Perwira, para Bintara, para Tamtama, para Pegawai Negeri Sipil dan Keluarga Besar Divisi Infanteri I Kostrad yang saya cintai dan saya banggakan,
Alhamdulillah, kita dapat mengikuti kegiatan bersama hari ini di Markas Divisi I Kostrad Cilodong. Hari ini adalah hari Minggu, tetapi saya merasakan bahwa suasananya sama saja dengan bukan hari Minggu. Ini menunjukkan bahwa kehidupan prajurit tidak mengenal hari, semua dilaksanakan dengan semangat dan tujuan yang baik untuk menjaga motivasi saudara semua setiap saat mengemban tugas negara.
Dan memang negara itu tidak boleh istirahat dan tidak boleh tidur. Warga negaranya bisa istirahat, tetapi negaranya harus tetap bekerja. Dalam bahasa inggris disebut the state never sleeps, tidak pernah tidur. Rumah sakit buka terus, kehidupan perekonomian jalan terus, pengaturan jalan lalu lintas juga demikian, dan sebenarnya abdi negara dan abdi rakyat juga terus bekerja, tidak mengenal waktu. Oleh karena itu, bagi saya hari libur pun saya gunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang konstruktif selama ini, baik di Jakarta maupun di luar Jakarta, di seluruh Indonesia bertemu dengan berbagai kalangan masyarakat. Dan hari ini Alhamdulillah, saya bertemu dengan para prajurit dan keluarga sekalian.
Sebenarnya tujuan semula saya beserta Ibu Negara dan rombongan berkunjung ke Cilodong ini ingin mengunjungi Rumah Pintar Cakra Cendekia. Saya mendengarkan dari Ibu Negara, ketika meresmikan rumah pintar ini situasinya baik, kemudian akhir-akhir ini saya juga mendapatkan laporan ternyata pengunjung dari Rumah Pintar ini luar biasa. Rumah Pintarnya dikelola dengan baik dan membawa manfaat langsung, bagi anak-anak kita terutama. Oleh karena itu, saya menyampaikan kepada KASAD dan Panglima Divisi, Insya Allah saya akan berkunjung dan melihat langsung.
Ketika saya bertanya kepada, baik Panglima Divisi I maupun Kepala Staf Divisi I, apa yang menarik, yang khas di Cilodong ini, kepada saya dilaporkan bahwa ada balong atau tempat untuk perikanan. Oleh karena itu, saya tadi memberikan bantuan benih ikan, agar bisa berkembang dengan baik. Insya Allah kalau dipelihara dengan baik tentu bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga prajurit. Kemudian disamping itu, saya selalu menyempatkan waktu untuk menanam pohon dalam hampir setiap kunjungan saya di negeri ini. Tujuannya, agar negara kita menjadi hijau kembali, supaya lingkungannya baik. Kalau lingkungannya baik, tidak mudah terkena bencana. Tadi saya telah menanam pohon.
Kemudian di ruangan ini, tadi kita sempat menyaksikan kegiatan olahraga bersama. Kebetulan pingpong. Tetapi hakekatnya, apalagi prajurit harus menyenangi olahraga. Disamping olahraga militer juga olahraga umum. Tentu sepak bola, ada bola voli, ada tenis meja, ada tenis, bulu tangkis, ada cross country, ada halang rintang, ada semua. Prajurit harus menyenangi dan harus menjalankan kegiatan olahraga itu. Kalau kalian, para prajurit aktif berolahraga, pertama, badan sehat, jiwa sportif, jiwanya jiwa kesatria.
Penting bagi seorang warga negara, Warga Negara Indonesia untuk memiliki jiwa kesatria, sportivitas yang tinggi. Dalam kompetisi, ada kalanya menang, ada kalanya kalah, dan itu biasa. Oleh karena itu, kalau kita biasa berolahraga, kita selalu siap mental kita dalam berkompetisi. Tetapi yang tidak kalah pentingnya, olahraga di kalangan prajurit juga bisa membangun jiwa korsa, persatuan, kebersamaan di antara kalian semua. Itu sangat penting untuk dibangun dan diperkokoh.
Para Prajurit dan Keluarga yang saya cintai,
Sesungguhnya saya tidak ingin memberikan pengarahan secara teknis, karena saya yakin Panglima TNI, KASAD, Pangkostrad, Panglima Divisi tentu telah memberikan pengarahan kepada kalian semua. Saya datang sesungguhnya untuk bertemu dengan prajurit, dengan keluarganya dan tadi kita telah menjalani sejumlah kegiatan.
Saya senang tadi ketika diajak untuk berjalan di sepanjang track atau lorong. Yang saya lihat lingkungannya baik, pohon-pohonnya rindang dan tolong dijaga keaslian lingkungan seperti itu. Kemudian saya lihat tadi ada track untuk meningkatkan kekuatan jasmani. Tentu para prajurit sudah merasakan semua. Itu yang sering digunakan karena tidak mudah mencari track seperti itu.
Sedikit bernostalgia, dulu saya sering ke Markas Divisi Cilodong ini pada tahun 1993-1994, ketika saya menjadi Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kujang I, yang bermarkaskan di Cijantung. Tetapi Divisi waktu itu belum semaju ini. Oleh karena itu, kalian harus berbangga, karena markas divisi sekarang menurut saya menjadi markas yang patut dibanggakan dan bisa menjadi wahana untuk berlatih, untuk pembinaan satuan, dan sejumlah kegiatan untuk menghadapi tugas. Tugas itu kapan pun harus kalian laksanakan untuk bangsa dan negara tercinta.
Itulah yang ingin saya sampaikan dan saya mempersilakan, sesuai dengan permintaan Panglima Divisi tadi, kalau di antara Saudara ada yang ingin mengajukan pertanyaan atau pandangan kepada saya. Saya persilakan. Pangdiv silakan diatur siapa yang ingin bicara.
Letnan Dua Armed Drajat Santoso
Saya Letnan Dua Armed Drajat Santoso dari Yon Armed X Kostrad Brajamusti. Iijin menyampaikan dua hal kepada yang terhormat Bapak Presiden. Yang pertama, kami sebagai prajurit memohon kepada Bapak Presiden untuk pengadaan peningkatan alutsista TNI, agar dapat menunjang tugas pokok kami sebagai prajurit yang profesional. Kemudian yang kedua, kami sebagai prajurit TNI mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Presiden, karena selama pemerintahan Bapak Presiden telah mengurangi banyak konflik yang terjadi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, dapat lebih melatih kami untuk menjadi prajurit TNI yang lebih profesional. Selesai.
Presiden Republik Indonesia
Ya, siapa namanya tadi, Letnan Dua?
Letnan Dua Armed Drajat Santoso
Letnan Dua Armed Drajat Santoso.
Presiden Republik Indonesia
Depannya Drajat Santoso, baik. Terima kasih, Drajat. Ya, pertama kami pun senang. Saya sebagai Panglima Tertinggi TNI, tentu lega. Senang karena gangguan-gangguan keamanan, konflik-konflik bersenjata, termasuk konflik horizontal yang ada di negara ini telah jauh menurun dan boleh dikatakan sudah kembali normal atau bahkan lebih baik dibandingkan keadaan keamanan sebelum krisis 1998 yang lalu.
Kalian para prajurit masih ingat, pernah ibaratnya TNI itu tidak sempat berkonsolidasi. Berangkat ke daerah operasi, kembali satu, dua bulan, berangkat lagi kembali ke daerah operasi yang lain. Betul? Misalnya ada yang ke Aceh, pulang dari Aceh berangkat lagi ke Poso. Pulang dari Poso, berangkat lagi ke Maluku. Pulang dari Maluku, berangkat lagi ke Maluku Utara. Pulang dari Maluku Utara, berangkat lagi ke Papua misalnya.
Alhamdulillah, situasi keamanan di seluruh Indonesia telah jauh membaik, dan ini harus kita jaga dan kita pertahankan. Dengan itu benar yang disampaikan Drajat tadi, Saudara bisa melakukan banyak hal. Pelatihan-pelatihan, pendidikan-pendidikan, pembinaan satuan dan semua hal. Yang kalau frekuensi tugas itu sangat tinggi, sering kali satuan, apakah batalyon, apakah brigade, apakah divisi tidak cukup untuk melaksanakan pembinaan, pelatihan, maupun pendidikan.
Oleh karena itu, kepada Pangdiv gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk melatih, untuk membina satuan di Divisi I Kostrad ini. Tetapi saya tentu ingin prajurit Indonesia, perwira-perwira Indonesia juga memiliki daya tempur yang tinggi, kesiagaan yang tinggi, pengalaman yang juga bertambah. Oleh karena itu, disamping latihan-latihan yang mendekati realisme seperti pertempuran sesungguhnya, kebijakan pemerintah dewasa ini, Indonesia aktif untuk mengirimkan kontingen-kontingennya mengikuti tugas perdamaian dunia, di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa atau PBB. Ini juga salah satu bagaimana prajurit satuan-satuan kita, benar-benar bisa senantiasa mengasah ilmu ketrampilan dan meningkatkan pengalaman militernya.
Yang kedua, tadi penambahan alutsista. Ya benar. Negara ingin pemerintah yang memiliki tugas untuk terus meningkatkan kemampuan dan profesionalitas TNI, termasuk modernisasi dan regenerasi persenjataan, perlengkapan dan peralatan militer. Tentu ingin terus meningkatkan kemampuan TNI kita. Yang perlu diketahui oleh prajurit adalah anggaran negara itu tidak tak terbatas. Selalu ada batasnya. Kalian tahu, menurut Undang-Undang Dasar dari APBN itu, 20% kita gunakan untuk pendidikan nasional. Sisanya 80% kita bagi dengan berbagai kepentingan dalam sektor pembangunan, baik di pusat maupun daerah, termasuk TNI.
Yang jelas anggaran pertahanan terus kita tingkatkan. Mulai tahun 2010 peningkatannya cukup nyata, dan akan terus kita tingkatkan. Dengan anggaran yang makin meningkat ini, baik Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, harapan saya memiliki kemampuan yang makin diandalkan dan tidak boleh kalah dengan tentara-tentara tetangga-tetangga kita. Indonesia negara yang besar, wilayah tanah air kita luas, penduduknya banyak, sumber daya alam kita juga banyak. Oleh karena itu, negara ini harus kita jaga dan kita pertahankan.
Oleh karena itu, percayalah dalam batas kemampuan anggaran negara, anggaran untuk TNI akan terus ditingkatkan. Dengan demikian, alutsista terus bisa untuk dimodernisasi serta dilengkapi. Yang penting prajurit teruslah berlatih, teruslah siap bertempur. Jangan ragu, meskipun alutsista kita masih terus kita tingkatkan, tetapi yang memenangkan peperangan, yang memenangkan pertempuran itu adalah mental dari prajuritnya. Kalau prajuritnya mentalnya jelek, meskipun persenjataan dan perlengkapnnya tidak baik, tentara sebuah negara tidak akan menang. Ya begitu Drajat, masih ada.
Istri Kopral Kepala Suradi
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumussalam.
Istri Kopral Kepala Suradi
Yang terhormat Bapak Presiden. Saya istri dari Kopral Kepala Suradi, Kesatuan Denma Brigif Linud 17 Divisi I Kostrad. Yang pertama, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Presiden, karena selama masa kepemimpinan Bapak Presiden, kesejahteraan prajurit walaupun sedikit-sediki, tapi meningkat. Itu sangat meringankan beban kehidupan kami.
Yang kedua, kami mohon selama masa kepemimpinan Bapak, kehidupan kami, kesejahteraan keluarga prajurit akan meningkat lebih banyak. Mungkin persenannya begitu Pak. Lebih banyak. Demikian Pak, dari kami. Mohon petunjuk agar dikabulkan permintaan kami, Pak. Terima kasih.
Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumusalam. Ya kasih tepuk tangan. Ada dua tugas komandan. Ini para komandan tahu. Tugas komandan itu satu, melaksanakan tugas pokok. Benar? Jadi kalau Pangdiv, tugas pertama melaksanakan tugas pokok yang diberikan kepada divisi. Dalam keadaan damai, divisinya harus berlatih, melakukan pendidikan, melaksanakan pembinaan teritorial, tugas-tugas menghadapi bencana, tugas-tugas pemeliharaan perdamaian di dunia. Itu harus bisa dilaksanakan dengan baik.
Yang kedua, tugas seorang komandan dalam arti luas, termasuk panglima adalah meningkatkan atau memperhatikan kesejahteraan anggotanya. Itu berlaku mulai dari Komandan Pleton, katakanlah Kepala Staf Angkatan Darat sampai Panglima TNI, bahkan sampai Presiden. Jadi tanpa diminta oleh Ibu pun, tugas seorang Presiden adalah menjalankan tugas negara. Apakah di bidang ekonomi, di bidang politik, di bidang diplomasi, hubungan internasional, pertahanan, keamanan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.
Yang kedua, terus memikirkan dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, termasuk keluarga dari Divisi I Kostrad. Tentu saja saya harus adil, disamping meningkatkan gaji prajurit TNI, gaji anggota Polri, gaji PNS yang tidak sedikit jumlahnya seluruh Indonesia. Saya juga harus memperhatikan misalnya para guru, para bidan, para perawat, para penjaga mercusuar, penjaga palang kereta api, dan sebagainya. Saya juga harus memperhatikan bahwa kehidupan petani, kehidupan nelayan, kehidupan buruh, semua juga makin ke depan makin baik, makin meningkat.
Oleh karena itu, kalau ada anggaran APBN sekian ratus triliun untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, itu meningkatkan semua, karena harus adil. Negara itu, negara kita semua, jangan maju sendiri-sendiri, makmur sendiri-sendiri, tetapi maju bersama dan makmur bersama.
Sebenarnya kalau Ibu-ibu ingat, 2004 dulu gaji PNS golongan I atau yang paling rendah, itu hanya sekitar 700 ribu. Tahun 2009, hampir mencapai 2 juta. Karena saya punya cita-cita, gaji terendah itu supaya hidupnya layak, 2 juta. Sebagian sudah terlampaui. Guru misalnya dan sejumlah pegawai negeri kita. Tentara ULP juga naik, betul? Disamping gaji, ULP. Kita akan terus tingkatkan sesuai dengan kemampuan anggaran dan kemampuan negara kita. Dan bukan hanya itu, tadi dikatakan oleh Letnan Dua Drajat, persenjataan itu harganya tidak sedikit. Kemudian perlengkapan, peralatan, markas-markas kesatuan, semua itu memerlukan biaya.
Oleh karena itu, jawabannya ya. Insya Allah akan terus kita tingkatkan kesejahteraan prajurit dan keluarganya, sama saja dengan kesejahteraan rakyat Indonesia ke depan, sesuai dengan kemampuan negara dan anggaran pemerintah. Tolong doakan, doakan ekonomi kita tumbuh terus, penerimaan negara meningkat terus, sehingga banyak yang bisa kita gunakan untuk semua. Termasuk kesejahteraan prajurit dan keluarganya. Baik, masih ada lagi?
Sdri. Intan Afanti Rahayu
Selamat pagi Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya Intan Afanti Rahayu, putri dari Pelda Hartono. Ingin mengucapkan terima kasih, karena pada pagi hari ini saya dapat bertatap muka dengan Bapak Presiden yang saya banggakan. Di sini juga saya ingin berterima kasih, bahwa saya telah merasakan adanya Bantuan Operasional Sekolah yang sangat bermanfaat sekali buat kami. Dan kami memohon agar bantuan itu ebih ditingkatkan lagi, sehingga kami dapat mendapat pendidikan yang lebih tinggi lagi, dapat mencapai cita-cita yang kami impikan. Ya baik itu saja. Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Baik. Sekolahnya dimana?
Sdri. Intan Afanti Rahayu
SMA 4 Depok.
Presiden Republik Indonesia
Depok. Kelas berapa?
Sdri. Intan Afanti Rahayu
Kelas 2 SMA
Presiden Republik Indonesia
Setelah SMA mau kemana nanti,
Sdri. Intan Afanti
Insya Allah mau ngambil Hubungan Internasional UI
Presiden Republik Indonesia
Hubungan Internasional UI, mudah-mudahan. Saya tanggapi yang terakhir. Kalau ingin menjadi diplomat, saya senang sekali. Dunia itu sekarang berada dalam era globalisasi. Hubungan antar bangsa menjadi sangat intense, menjadi meningkat, baik sesama negara ASEAN atau negara Asia Pasifik, bahkan dengan bangsa-bangsa lain sedunia. Yang memperjuangkan kepentingan nasional kita di luar negeri, di forum-forum internasional, itu lazim kita namakan diplomat. Apakah ambassador, duta besar, apakah konsulat jenderal, semua yang memperjuangkan kepentingan kita di forum antar bangsa, itu adalah diplomat.
Saya ingin Indonesia memiliki diplomat-diplomat yang ulung dan unggul. Dan diplomat bukan hanya wilayah kaum laki-laki, tapi dewasa ini banyak sekali diplomat dari kaum perempuan yang juga menonjol. Banyak saya lantik para dubes, duta besar dari kalangan kaum perempuan. Oleh karena itu, kalau nanti insya Allah bisa masuk Universitas Indonesia Hubungan Internasional, saya senang. Akan menambah diplomat-diplomat Indonesia untuk berjaya di forum internasional.
Yang kedua, masalah pendidikan. Pendidikan ini sangat-sangat penting bagi semua, termasuk militer, termasuk TNI. Oleh karena itu, negara, pemerintah, terus disamping meningkatkan anggaran pendidikan, juga meningkatkan mutu pendidikan. Berapa persen anggaran kita dari APBN untuk pendidikan? 20%. Kalau sekarang APBN itu 1.000 trilyun, anggaran untuk pendidikan nasional berapa? 200 triliun. Besar sekali, jauh di atas anggaran pertahanan, karena itu amanah Undang-Undang Dasar, amanah konstitusi. Pendidikan itu ya pendidikan umum, pendidikan agama, pendidikan negeri, pendidikan swasta, kemudian formal maupun tidak formal, biasa, luar biasa, termasuk pendidikan yang ada di kota maupun di desa-desa. Semua mesti kita tingkatkan.
Bukan hanya BOS. Ada BOS, ada BOS buku, ada Bantuan Operasional Manajemen Mutu, ya ada bantuan untuk infrastruktur, laboratorium, semua, dengan jumlah tidak yang sedikit. Tujuannya adalah bagi saudara-saudara kita yang tidak mampu, yang belum mampu, kita bantu. Yang betul-betul miskin, kita gratiskan. Yang tidak mampu kita bantu. Itulah apa namanya konsep pendidikan kita, termasuk beasiswa.
Beasiswa ini ada dua macam beasiswa yang jumlahnya sangat besar dan saya minta ditingkatkan lagi. Saya sudah memanggil Mendiknas dan Menteri Agama, 2 minggu yang lalu untuk menambah lagi beasiswa. Beasiswa ini, satu ditujukan kepada anak-anak, para siswa, para murid, para pelajar, mahasiswa dari kalangan keluarga yang belum sejahtera. Kasihan kalau dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena permasalahan biaya, kita bantu dengan beasiswa.
Beasiswa yang kedua, adalah anak yang sangat berprestasi. Misalnya kita sekolahkan di luar negeri untuk menjadi doktor atau menjadi pakar ilmu-ilmu tertentu. Tidak memungkinkan dia sekolah di luar negeri, ataupun di dalam negeri sendiri, di universitas-universitas, pemerintah bisa memberikan beasiswa. Semua itu kita berikan dengan catatan atau dengan tujuan makin ke depan mutu pendidikan kita makin baik. Saya kira itu. Silakan.
Sdri. Hersawati Binawati
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumussalam.
Sdri. Hersawati Binawati
Selamat pagi kepada Bapak Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Ani Bambang Yudhoyono. Terima kasih atas kedatangannya ke asrama Divisi I Kostrad ini. Ijin memperkenalkan diri, nama saya Hersawati Binawati, putri dari Bapak Serma Suwarno Kesatuan Ajen Divisi I Kostrad. Ijin bertanya Bapak, bagaimana kiat-kiat Bapak agar saya bisa menjadi anggota Korps Wanita Angkatan Darat. Terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Presiden Republik Indonesia
Ya, saya harus dibantu ini. Tapi begini, saya hargai dulu. Saya senang kalau minat untuk menjadi militer masih tinggi. Minat untuk menjadi wanita TNI masih tinggi, apakah Kowad, Kowal, atau Wara, karena itu penting ya. Kalau persyaratannya, bagaimana caranya, persyaratan mesti ada yang bisa menjelaskan. Tapi sepengetahuan saya, tentu harus mempersiapkan mulai sekarang untuk menghadapi ujian. Ujian itu diperlukan agar yang masuk Kowad, atau masuk anggota TNI itu badannya sehat, badannya kuat secara jasmaniah. Secara rohaniah juga baik. Kemudian memiliki bakat yang pas, pengetahuan yang cukup, dan juga mentalitas yang baik. Oleh karena itu, ada ujian kesehatan. Ada ujian jasmani atau kesamaptaan. Ada psikotes, ujian psikologi. Kemudian kalau dulu ada ujian mental ideologi, menguji mentalnya, pandangan-pandangannya dan sejumlah ujian untuk memastikan, bahwa calon anggota wanita TNI ataupun anggota TNI memiliki kualifikasi, memiliki kemampuan seperti itu.
Oleh karena itu, kalau memang serius untuk ingin menjadi Kowad, persiapkan mulai sekarang. Kemudian bisa dijelaskan oleh Asisten Personil mestinya. Mana Aspers? Ya Aspers bisa menjelaskan apa saja syarat-syarat ujian apa untuk Korps Wanita Angkatan Darat. Semuanya itu dipersiapkan.
Saya pernah punya cerita. Tahun 1996-1997, saya menjadi Panglima di Sumatera bagian Selatan, Pangdam. Terus ada seleksi untuk masuk Taruna Akmil waktu itu. Pantohir itu pada tingkat Panglima, betul? Saya yang menyeleksi. Pada saat menyeleksi, saya dapat telepon dari kawan saya, sama-sama satu almamater waktu di akademi. Telepon kepada saya, intinya, “Pak Pangdam bisa nggak dibantu anak saya, supaya lulus.” Saya bilang, “Putranya siapa namanya?” “Namanya X begitu.” “Darimana?” “Lulusan dari sekolah tertentu.”
Saya cari nama itu, ketemu, tetapi ternyata tidak memenuhi syarat, karena badannya besar, gemuk, pull up tidak kuat, lari tidak kuat, push up juga demikian, pokoknya tidak lulus. Terus akhirnya saya minta, staf saya coba komunikasi lagi, sampaikan kepada yang bersangkutan tidak lulus. Tidak mungkin saya menolong yang tidak lulus, nanti menyalahi dan tidak adil. Setelah ditelepon kembali, jawabannya mungkin saking ingin putranya masuk Akmil, masuk taruna waktu itu, “Ya justru itu karena anak saya sepertinya tidak lulus, saya minta bantuan Panglima untuk meluluskan.”
Akhirnya saya bicara langsung,”Eh begini, jangan, kita kan pernah jadi taruna dulu. Bayangkan kalau fisik kita tidak sehat, tidak kuat, bisa celaka, latihan bisa jatuh. Sekarang usianya kan baru sekian, persiapkan. Saya tidak mungkin menolong orang yang tidak lulus. Sekarang kalau memang ingin betul masuk, persiapkan dengan baik.” Mungkin agak kecewa sedikit. Tapi dengarkan juga sama saya. “Baik.” Disiapkan dengan baik, lulus tahun berikutnya lagi, lulus betul, karena memang lebih sehat jasmani, rohani.
Kepada anak saya saja dulu, yang sekarang Kapten, waktu memasuki Akmil, saya persiapkan satu tahun, lari, push up, pull up, sit up, renang. Kita semua latihan-latihan soal dan sebagainya. Saya tidak ingin karena ayahnya seorang Jenderal, lantas dia menggunakan fasilitas itu. Karena saya yakin dengan persiapan, dengan latihan itu bisa lulus. Ini penting bagi semua, jangan menyerah sebelum bertanding. Jangan menggantungkan fasilitas, jangan membiasakan lunak dan tidak berusaha dengan sekuat tenaga. Oleh karena itu, saya doakan lulus. Ikuti pengarahan-pengarahan, persiapkan dengan baik. Dan mudah-mudahan nanti kalau menjadi Kowad, Kowad yang baik, Kowad yang berprestasi.
Baik. Saya kira Panglima, saya sudah mendengarkan tadi pandangan-pandangan. Untuk Ibu-ibu, dampingi suami dengan baik, asuh putra putrinya dengan baik. Kemudian untuk para prajurit, baik Perwira, Bintara, dan Tamtama laksanakan tugas keprajuritan dengan baik-baik. Dan kalian semua harus siap mengemban tugas negara, kapan saja, dimana saja, di wilayah Indonesia maupun di wilayah dunia untuk tugas-tugas peace keeping operation. Selamat bertugas, sekali lagi.
Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



