Pidato Presiden

Sambutan pada Silaturahmi Buka Puasa Bersama dengan Para Pimpinan Lembaga Negara, Menteri KIB II, Duta Besar Negara Islam, Kepala Pemerintahan Non Kementerian, Pejabat Eselon 1 Kementerian dan Perwira Tinggi TNI dan Polri

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHIM BUKA PUASA BERSAMA DENGAN PARA PIMPINAN LEMBAGA NEGARA, MENTERI KABINET INDONESIA BERSATU II, DUTA BESAR NEGARA ISLAM, KEPALA PEMERINTAHAN NON KEMENTERIAN, PEJABAT ESELON I KEMENTERIAN DAN PERWIRA TINGGI TNI DAN POLRI
HALAMAN TENGAH ISTANA JAKARTA
20 AGUSTUS 2010



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati saudara Wakil Presiden beserta ibu,
Hadirin sekalian yang saya muliakan
Marilah kita sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara, bahkan bagi kepentingan umat sedunia dan bagi yang beragama Islam masih dapat menjalankan ibadah puasa. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Yang kedua, selaku sohibul bait, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada bapak, ibu, saudara sekalian yang berkenan hadir di tempat ini, memenuhi undangan saya untuk melaksanakan buka puasa bersama, sholat Maghrib bersama dan tadi telah mendengarkan hikmah Ramadhan yang disampaikan oleh Bapak KH. Munahar Muchtar.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Kebetulan bulan ini disamping kita menjalankan ibadah puasa juga memperingati Hari Kemerdekaan negara kita. Tepat pada saat seperti ini kita melaksanakan refleksi, kontemplasi, dan juga tafakur. Tadi dalam hikmah Ramadhan, Saudara Munahar telah menyegarkan sebenarnya kepada kita semua pesan-pesan moral dan spiritual untuk kita terus menyempurnakan kepribadian kita. Tema yang diangkat sungguh kena, menjaga kebersihan hati. Semoga kita semua juga terus diberikan bimbingan, petunjuk dan tuntunan dari Allah SWT untuk terus menjaga hati kita, ucapan kita, perilaku kita sehingga kita bisa membangun kehidupan yang baik di negeri tercinta ini.

Saudara-saudara,
Saya tidak ingin berpanjang lebar, tetapi kalau sebagai umarah apa yang disampaikan oleh Kyai Munahar tadi, itu juga dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita semua, kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Satu yang saya garis bawahi tadi adalah tabiat yang baik untuk kita tidak terlalu mudah menyalahkan orang lain atau kalau kita bisa lihat dari sisi yang lain adalah kita harus justru sering untuk melakukan introspeksi, mawas diri, melihat kekurangan kita masing-masing agar kita bisa memperbaikinya.

Saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk melihat keadaan negeri kita sekarang ini. Sebutlah setelah 10 tahun kita melakukan reformasi, maka kalau kita jujur dan terbuka dari apa yang kita lakukan bersama 10 tahun terakhir ini, tentu ada yang kita capai, sekaligus ada yang belum kita capai. Ada yang sudah baik. Ada yang belum baik. Ada kisah sukses kita meskipun secara jujur harus kita akui masih ada pula kegagalan-kegagalan kita.

Dengan demikian, kalau kita mendengar berbagai pandangan, baik dari dalam maupun luar negeri terhadap semuanya itu, maka sikap yang paling baik, sikap yang paling mulia adalah bersama-sama melakukan introspeksi. Yang sudah baik, tentu kita jaga dan kalau bisa kita tingkatkan lagi. Yang belum baik, yang masih gagal, yang masih menjadi pekerjaan rumah kita, mari bersama-sama kita perbaiki. Saya punya catatan kecil dari apa yang saya dengar, baca, dan sering rasakan sendiri, bagaimana dunia melihat negeri kita, seperti juga bangsa kita melihat dirinya sendiri.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Kalau saya ikuti apa yang disampaikan oleh banyak pihak di luar negeri dari berbagai macam sumber tahun-tahun terakhir ini, maka mereka mengatakan ada yang sudah dicapai oleh Indonesia dalam satu perubahan maha besar 10 tahun terakhir ini. Namun mereka juga dengan gamblang menjelaskan mana-mana yang dianggap belum baik, bahkan belum berubah secara signifikan.

Kalau saya menyampaikan apa yang dilihat oleh mereka semua sebagai kemajuan, maka tentu kita bersyukur dan kita pun sadar bahwa yang dilihat sebagai kemajuan itu di sana-sini, kita pun merasakan masih ada kekurangan-kekurangannya. Barangkali dilihatnya adalah dari keadaan 5 tahun sebelumnya, 10 tahun sebelumnya, utamanya pada saat negara kita mengalami krisis yang luar biasa.

Dunia melihat bahwa demokrasi dan kebebasan telah hadir. Kita sendiri barangkali belum puas terhadap demokrasi yang berkembang di negeri kita ini, tapi dilihat oleh dunia telah tumbuh demokrasi dan kebebasan.

Hak azasi manusia, mereka lihat makin dihormati. Keamanan dalam negeri kita dibandingkan masa-masa yang sangat sulit dulu itu dianggap relatif pulih. Politik meskipun banyak dinamika, riak-riak di sana-sini, dianggap makin stabil. Ekonomi ketika dulu kita porak-poranda karena krisis 11 tahun yang lalu, dianggap makin tumbuh. Kerukunan sosial dianggap makin baik. Ingat dulu tejadi konflik horizontal di mana-mana, dan kemudian dunia juga melihat bahwa peran internasional kita tahun-tahun terakhir ini makin menguat.

Alhamdulillah, tetapi mari dengan lapang dada juga kita terima kritik, penilaian, komentar dari apa yang ada di negeri kita ini yang dianggap belum baik atau belum berhasil benar. Dilihat bahwa kepastian hukum belum sepenuhnya terwujud. Mari kita introspeksi. Korupsi masih terjadi. Birokrasi kita dianggap belum sungguh mencerminkan good gavernance. Kerusakan lingkungan masih dijumpai di tempat-tempat tertentu. Infrastruktur masih kurang memadai dan ini berkaitan dengan ekonomi dan investasi kita. Biaya politik dilihatnya masih tinggi, khususnya justru pada pemilihan-pemilihan kepala daerah. Gangguan terhadap kerukunan dan toleransi di antara kita dilihat masih ada. Demikian juga sejumlah aksi-aksi kekerasan yang mengganggu keamanan dan ketertiban publik juga masih dijumpai.

Marilah apa yang dilihat oleh dunia dan kita pun juga merasakan ini, kita terima lapang dada sebagai satu pekerjaan rumah, sebagai sebuah misi bagi kita semua untuk kita lakukan di tahun-tahun mendatang. Siapa yang bertanggung jawab dan bertugas harus membenahi masalah-masalah ini, kalau itu kekurangan dan kebelum-berhasilan, dan siapa pula yang harus menjaga bahkan meningkatkannya, apabila itu merupakan hasil ataupun prestasi yang telah kita raih.

Pertama-tama, tentu saya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, mulai dari diri saya sendiri dan jajaran pemerintah. Mari kita terima apa yang dikritikkan kepada kita untuk kita lakukan perbaikan dengan sungguh-sungguh. Tentu harapan saya lembaga-lembaga negara yang lain juga melihat apa kekurangan dan apa yang bisa dikontribusikan untuk memperbaiki raport yang belum biru di negara kita ini. Demikian juga organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, para penegak hukum, pers dan media massa, para elit dan tokoh nasional, semua komponen bangsa, semua warga negara.

Kalau semua dengan lapang dada menerima bahwa masih ada kekurangan dan kebelum-berhasilan di negeri ini dan kita bersedia untuk memperbaikinya dan berhenti untuk saling menyalahkan, saling menuding atau menganggap diri kita sudah serba baik dan orang lain serba tidak baik, maka dengan sikap mental, cara pandang dan perilaku yang tepat seperti itu, saya punya keyakinan insya Allah dengan ridho Allah SWT, maka pekerjaan rumah-pekerjaan rumah itu akan dapat kita selesaikan di waktu yang akan datang dan kita terus bisa menjaga apa yang kita telah raih hingga hari ini.

Itulah saudara-saudara pandangan, harapan, dan ajakan saya sebagai umarah yang sedang mengemban amanah. Saya kaitkan apa yang disampaikan oleh penceramah tadi untuk marilah kita benar-benar lebih mengambil tanggung jawab masing-masing dan kemudian secara bersama dan untuk tidak saling menyalahkan melihat orang lain, karena barangkali itu tidak ada gunanya. Tetapi kalau kita introspeksi dan berbuat bersama, maka akan nyata manfaatnya dan insya Allah, hari esok lebih baik dari hari ini.

Itulah yang dapat saya sampaikan. Sekali lagi, terima kasih atas kehadirannya dan mudah-mudahan sekali lagi, ibadah kita diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Sekian, terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan