Arsip

« Oktober 2011 »
M S S R K J S
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031     

Pidato Presiden

Sambutan Pada Peresmian Pembukaan Rakernas VIII Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia 2011

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN RAPAT KERJA NASIONAL VIII
ASOSIASI PEMERINTAH KABUPATEN SELURUH INDONESIA
TAHUN 2011
BALI NUSA DUA CONVENTION CENTER, BADUNG, BALI
21 OKTOBER 2011




Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,
Om Swasti Astu,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, Saudara Gubernur Bali dan para Gubernur serta Wakil Gubernur, Saudara Ketua Umum Dewan Pengurus APKASI beserta jajaran Dewan Pengurus, para Pejabat Negara dan Pemerintah yang bertugas di Bali, baik dari unsur eksekutif, legislatif, dan yudikatif maupun TNI dan Polri, para Bupati dan para Walikota,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Kita bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, pada hari ini dapat kembali mengikuti pembukaan Rakernas APKASI yang VIII. Atas nama pemerintah, saya mengucapkan selamat melaksanakan Rakernas dan semoga Rakernas VIII kali ini membawa manfaat dan kebaikan yang nyata, baik bagi APKASI bagi jajaran pemerintahan di daerah dan utamanya bagi rakyat yang sama-sama kita cintai.


Saudara-saudara,
Mengawali sambutan dan arahan saya ini, saya ingin terlebih dahulu dengan tulus mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada APKASI dan kepada para Bupati di seluruh Indonesia atas kerja keras dan pengabdiannya selama ini untuk memimpin dan memajukan masyarakat, serta daerah Saudara semua. Saya tahu persoalan tidak selalu mudah. Saya tahu banyak tantangan dan hambatan.

Saya juga tahu dalam era demokrasi seperti ini, Saudara berbuat baik pun, ingin berbuat baik pun, ada yang terus mengkritik, menyalahkan dan bahkan menghujat. Tapi saya berharap the show must go on. Teruslah berbuat yang terbaik, teruslah bekerja dengan tulus untuk masyarakat yang Saudara semua cintai.

Presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota, semua dipilih secara langsung oleh rakyat kita. Kita mendapatkan dan memiliki mandat yang jelas dan sah. Demikianlah sistem politik dan tatanan demokrasi yang kita anut. Mandat ini kuat, tetapi sekaligus mandat ini pula memberikan tugas dan kewajiban bagi kita semua untuk berbuat yang terbaik.

Oleh karena itu, marilah Saudara-saudara, kita lanjutkan tugas, pengabdian dan kerja keras kita semua, untuk membangun negeri ini, terutama untuk memajukan masyarakat dan daerah Saudara masing-masing, sebagaimana mandat yang Saudara terima, yang saya terima, yang para gubernur terima dari rakyat kita.

Kita sebagai seorang yang mengemban amanah memang harus mengutamakan tugas dan kewajiban dan harus menomorduakan hak dan kewenangan kita. Jangan kita balik, kita lebih mengutamakan hak dan kewenangan dibandingkan tugas dan kewajiban kita.

Dalam era politik dewasa ini, setelah negara kita mengalami proses transformasi, reformasi, dan demokratisasi, sebagai contoh, kewenangan Presiden Republik Indonesia itu sudah jauh berkurang atas 4 kali amandemen atau perubahan yang terjadi atas Undang-Undang Dasar 1945. Terhadap itu semua, selaku Presiden, saya tidak pernah mempersoalkan bahwa hak dan kewenangan itu demikian berkurang setelah dilaksanakannya 4 kali perubahan terhadap konstitusi kita.

Tetapi justru apa yang masih menjadi apa yang masih menjadi kewenangan atau otoritas seorang Presiden itulah yang harus saya jalankan sepenuh hati dan tentu saja dengan pemahaman dari semua pihak bahwa presiden memiliki wewenang, tugas, dan tanggung jawab. Salah satu diantaranya adalah, tadi yang disampaikan oleh Mendagri, Undang-Undang Dasar 1945 mengamanahkan kepada presiden di situ bahwa Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan.

Oleh karena itu, kita berada dalam satu perahu, we are sailing in one boat. Saya dengan wakil presiden, para gubernur dengan para wakil gubernur, para bupati dan para wakil bupati, para walikota dengan para wakil walikota dan jajarannya. Kita harus bersama-sama, bekerja sama, bersinergi. Ibarat mengarungi samudera yang luas menghadapi badai, taufan, ombak, karang dan sebagainya harus bekerja sama, supaya layar tidak sobek, perahu tidak pecah dan tenggelam, tapi terus maju sampai di pantai tujuan. Saya ingin mari kita bangun kebersamaan ini, semua.

Tadi pagi saya meresmikan sebuah kawasan wisata di Lombok Tengah bagian Selatan. Kemarin Saya meresmikan Bandar Udara Internasional di Lombok. Sesuatu yang sudah diimpikan dan direncanakan sejak tahun 1990, 21 tahun yang lalu. Alhamdulilah, setelah tahun 2005 dimulai pembangunannya, memang agak terlambat, kemarin telah kita resmikan penggunaannya.

Yang ingin saya sampaikan adalah, ini adalah contoh dari cita-cita kita, harapan kita, dan rencana kita bahwa di seluruh Indonesia, di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota ke depan mesti lebih banyak lagi yang bisa kita bangun, termasuk infrastruktur, sebagaimana yang saya resmikan kemarin dan hari ini.

Saya ingin sebagaimana yang saya lihat di Lombok Tengah bagian Selatan, daerah yang relatif tertinggal tahun demi tahun dengan fasilitas dan infrastruktur yang kita bangun, mereka bisa meningkatkan ekonominya dan dengan demikian bisa meningkat kesejahteraannya. Saya ingin di seluruh Indonesia dengan kerja keras kita, dengan landasan MP3EI, kita juga melakukan hal yang sama, sebagaimana yang dilaksanakan contohnya di Lombok Tengah sekarang ini.

Saya dilahirkan di sebuah kota kecil, namanya Pacitan, kabupaten yang terbelakang, tanahnya tidak begitu subur, kemudian dulu sangat terisolasi. Saya tentu punya obsesi, punya mimpi indah dan punya harapan. Kabupaten seperti itu, suatu saat haruslah menjadi kabupaten yang makin maju. Saya tahu di seluruh Indonesia banyak mimpi, harapan, dan obsesi seperti itu dari rakyat kita.

Oleh karena itulah, Saudara semua sampai saya memiliki kewajiban moral dan tugas mulia, untuk memajukan daerah-daerah terbelakang seperti itu dan sejatinya seluruh wilayah Indonesia agar di masa depan makin maju dan makin sejahtera.

Para Pimpinan dan Anggota APKASI yang saya cintai,
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Sebelum saya secara khusus mengajak untuk menyukseskan upaya percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi dalam kerangka MP3EI, yang tentunya akan bermanfaat bagi kita semua nanti, saya ingin menggarisbawahi lagi, sebagaimana yang sering saya sampaikan sejak tahun 2004 yang lalu agar pemerintah mulai dari presiden, gubernur, bupati, dan walikota sungguh memprioritaskan dan mengagendakan sejumlah, boleh disebut sektor, boleh disebut bidang, yang memang menjadi harapan masyarakat kita, rakyat kita untuk terus kita tingkatkan.

Saya tidak ingin menggunakan bahasa yang muluk-muluk, tetapi saya justru ingin menyampaikannya sekali lagi, secara langsung dengan bahasa yang terang bahwa di atas semua tugas dan kewajiban kita, di tengah-tengah banyak sekali yang Saudara ingin laksanakan di daerah Saudara, sebagaimana sebagai seorang presiden ingin saya lakukan di neegeri tercinta ini, tapi saya menggarisbawahi dan tolong tidak pernah terlupakan oleh Saudara untuk dijadikan prioritas.

Kalau saya berkunjung ke provinsi, kabupaten atau kota, saya berpesan, kalau ada waktu satu jam, boleh, pak gubernur, ibu gubernur, pak bupati, ibu bupati, pak walikota, ibu walikota melaporkan kepada Saya hasil pembangunan yang dilaksanakan secara lengkap. Tetapi kalau waktunya hanya seperempat jam atau 10 menit, maka saya hanya ingin dilaporkan hal-hal khusus yang akan saya sampaikan sekali lagi, sekarang ini, yaitu dengan kerja keras Saudara, pertama, berapa pertumbuhan ekonominya.

Di negara mana pun, di provinsi, kabupaten, kota mana pun, kalau ekonomi tidak tumbuh, hampir pasti kesejahteraan rakyat tidak bisa ditingkatkan. Oleh karena itu, saya ingin dilapori berapa pertumbuhannya, apakah 5 persen, apakah 6 persen, apakah 7 persen, apakah 8 persen, tidak usah khawatir. Kalau misalkan, “Pak, kami baru tumbuh 5 persen.” Asalkan dari tahun ke tahun ada kemajuan. Jadi pertama-tama nanti yang ingin saya dengar nanti adalah berapa pertumbuhan ekonomi.

Yang kedua adalah, angka kemiskinan seperti apa, penurunannya tiap tahunnya seperti apa, dan usaha Saudara apa saja untuk menurunkan kemiskinan itu. Itu yang kedua.

Yang ketiga, juga berapa yang sudah Saudara lakukan untuk menurunkan pengangguran atau menciptakan lapangan pekerjaan. Itu yang ketiga.

Yang keempat, bagaimana keadaan pangan, energi, dan air. Saya ulangi lagi, pangan, energi, dan air yang ada di kabupaten Saudara, cukupkah, memiliki ketahanan yang tinggikah sehingga saya tahu sejauh mana rakyat mendapatkan kecukupan pada komoditas yang paling azasi, yang paling mendasar itu, yaitu pangan, energi, dan air.

Yang kelima, tolong dilapori bagaimana keadaan pendidikan, SD, SMP, SMA barangkali ada perguruan tinggi, umum maupun agama. Digunakan untuk apa anggaran pendidikan yang begitu besar, dan saya akan lihat gedung-gedung SD-nya, SMP-nya, dan semua karena rakyat ingin tahu secara nasional ada 289 triliun yang dialirkan untuk pendidikan nasional. Kewajiban saya mengecek sampai daerah untuk apa anggaran sebesar itu sebagai pertanggungjawaban kita kepada rakyat.

Yang keenam adalah, tolong dilapori kepada saya juga, kondisi dan situasi kesehatan apa yang mengemuka, polikliniknya, Posyandu-nya, Pos KB-nya, semua, kesehatan. Rakyat kita tidak boleh sakit tidak mendapatkan pelayanan kesehatan. Jamkesmas seperti apa, Jamkesmasda seperti apa, sebagaimana tadi BOS seperti apa, BOSDA juga seperti apa.

Yang ketujuh adalah saya sering menengok kiri kanan infrastruktur dasar. Saya tidak suka kalau di daerah maupun di pusat, ada gedung-gedung, wisma pejabat, fasilitas kantor yang berlebih-lebihan, mewah, mahal, besar-besaran, sementara di sekelilingnya, infrastruktur dasarnya hampir tidak ada. Apa tega, kita punya fasilitas megah, mewah seperti itu, 5-10 kilo dari situ kondisinya sudah kurang baik. Saya ingin infrastruktur dasar bisa jalan, bisa listrik, bisa sarana air, bisa tempat-tempat publik dan sebagainya.

Yang kedelapan, laporkan kepada saya bagaimana Saudara memberikan pelayanan kepada masyarakat, pelayanan kepada publik. Saya sering mengecek kantor desa, kantor kecamatan seperti apa melayani masyarakatnya, melayani rakyatnya. Kalau semua dipermudah, dipercepat, dipermurah, baru dia tauladan sebagai abdi negara. Tapi kalau dipersulit, semuanya dibikin apa namanya, mahal sehingga masyarakat seperti tidak mendapatkan pelayanan yang baik, saya kira itu contoh pejabat yang tidak bertanggung jawab.

Yang kesembilan, harapan saya janganlah ada kasus-kasus penyimpangan, seperti korupsi dan lain-lain. Saya sudah meminta kepada para penegak hukum, apakah Kejaksaan, Kepolisian, BPK, PPATK, BPKP, KPK, semua yang paling baik adalah mencegah korupsi. Jangan suka menjebak seseorang, jangan enggan untuk memberikan penyuluhan, bantuan, dan pengingatan. Banyak pejabat pemerintah yang barangkali tidak paham betul, melakukan kesalahan, akhirnya terpaksa berhubungan dengan hukum. Oleh karena itu, saya berharap semua penegak hukum di negeri ini, mari kita utamakan pencegahan, pencegahan, dan pencegahan. Kalau sudah kita ingatkan berkali-kali, kita cegah sana-sini, tetap ada yang nekat, ya tentu hukum harus ditegakkan, itu untuk keadilan, itu untuk kepentingan rakyat kita.

Saudara-saudara,
Sembilan hal itu saja dan ini akan terus saya ulangi. Kalau Saudara jalankan dengan baik, percayalah masyarakat tidak akan pernah berhenti berterima kasih kepada para bupati dan wakil bupati yang memilih Saudara dalam pemilihan kepala daerah yang lalu.

Saudara-saudara,
Selanjutnya saya ingin mengajak Saudara semua untuk betul-betul menyukseskan upaya percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi di seluruh tanah air, sebagaimana yang menjadi tema besar Rakernas APKASI VIII kali ini. Begini Saudara-saudara, MP3EI ini bukan Rencana Bangun Tidur, RBT. Bukan sesuatu yang jatuh dari langit, bukan. Itu atas ikhtiar kita semua, kesadaran, semangat dan tekad kita semua dan dengan proses yang akuntabel, kredibel dan cerdas untuk kita susun.

Tahun 2009 ketika saya memulai periode kedua, periode terakhir saya memimpin negeri ini, saya melakukan satu kontemplasi, perenungan atas apa yang terjadi di negeri ini pada tahun 2004-2009, masa bakti saya yang pertama, apa yang sudah baik, apa yang belum baik. Di situlah saya akhirnya bisa menarik satu kesimpulan besar, yang masih menjadi tantangan, persoalan, dan pekerjaan rumah, bagaimana perekonomian Indonesia ini makin ke depan berkembang di seluruh wilayah Indonesia secara seimbang, secara adil, dan secara merata. Itu yang menjadi pikiran saya.

Ingat masa kecil saya di Pacitan. Ingat saya kira banyak daerah-daerah yang kondisinya seperti itu. Ingat dunia sering mengalami krisis karena ketidakseimbangan yang disebut dengan global imbalances. Kita tidak ingin negara kita juga mengalami musibah di suatu saat karena pembangunan ekonomi ini tidak seimbang, tidak merata, dan tidak adil. Idenya akhirnya mari kita ciptakan satu rencana induk dan kita jalankan bersama-sama agar di seluruh tanah air secara bertahap kemajuan itu terjadi di mana-mana. Ini tugas besar. Tantangannya tidak ringan, tapi mulia, dan hampir pasti ini akan gagal kalau kita melaksanakan tugas yang sering Saudara dengar business as usual, biasa-biasa saja, “Ah, gini saja bisa kok. Nunggu Pilkada lagi nanti.” Tidak akan sampai. Jadi kalau business as usual, yang dilakukan tidak akan pernah sampai.

Tadi Ketua APKASI, Saudara Isran Noor telah menjelaskan tadi, ada lima penyakit, lima hal yang bisa menggagalkan master plan ini. Saya senang disampaikan oleh beliau, pimpinan apkasi, marilah kita cegah, jangan sampai penyakit itu datang, kita buang jauh-jauh. Dengan demikian, akan sampai apa yang akan kita wujudkan ini.

Begini Saudara-saudara, dunia kita ini makin tidak aman, betapa tidak, 3 tahun yang lalu, dunia mengalami krisis perekonomian, kita sebenarnya termasuk negara yang tidak bersalah dan tidak berdosa. Ekonomi kita baik-baik saja, tiba-tiba ada kejadian di Amerika Serikat dan kemudian di Eropa menyebar ke seluruh dunia, semua terpukul, kita kena dampaknya. Ibarat ada tsunami, pusat gempanya atau episentrumnya di Amerika, itu semua kena hempasan tsunami itu. Alhamdulillah, Tuhan Maha Besar, atas kerja keras kita, kebersamaan kita, Indonesia dinilai sebagai sedikit, contoh dari sedikit negara yang selamat, yang bisa mengatasi krisis global itu. Itu terjadi 3 tahun yang lalu.

Ketika kita sedang menata dan memulihkan perekonomian di seluruh dunia, sekarang ini, ada goncangan lagi, ada new crisis. Pemicunya kali ini, pertama adalah Eropa kemudian Amerika juga, dan juga akhirnya merembet ke negara-negara lain. Ekonomi kita sebenarnya dalam keadaan baik, tumbuh di atas 6 persen tidak mudah sekarang melihat negara menengah dan besar yang ekonominya timbuh di atas 6 persen. Tetapi lagi-lagi, kita kena dampak, meskipun insya Allah karena kita pernah berhasil 3 tahun yang lalu mengatasi krisis, mudah-mudahan kali ini pun kita juga bisa mengatasinya.

Tetapi satu hal, dunia telah berubah dan akan terus berubah, negara-negara yang dulu dianggap ekonominya menjadi pilar, sentral menjadi tumpuan, karena di sana, sini mengalami masalah, berguguran, collapse, krisis, maka dunia seolah-olah mencari wilayah baru yang ekonominya masih tumbuh dan memiliki prospek yang baik, new frontiers of the global economy.

Disebut-sebut negara yang sedang emerging, India, Tiongkok, Brazil, Afrika Selatan, konon mulai disebut Indonesia dan lain-lain. Sekarang ini 3 tahun terakhir ini ternyata banyak evaluasi pengamatan dan penilaian, di mana di antara negara-negara yang emerging tadi yang memiliki potensi yang besar untuk ekonominya tumbuh agar mereka juga bisa bekerja sama menanamkan modalnya di negara-negara yang dianggap punya prospek yang baik itu. Tanpa melebih-lebihkan, silakan baca sendiri, silakan diketahui sendiri, tahun tahun terakhir ini dunia melihat negara kita sebagai sebuah negara yang memiliki potensi perekonomian yang akan tumbuh dengan baik.

Hampir tiap minggu saya menerima kelompok usahawan besar pada tingkat dunia. Sebagian besar telah bekerja sama dengan negeri kita sejak puluhan tahun yang lalu, belasan tahun yang lalu, sebagian belum melaksanakan investasi di negeri ini, baik datang ke saya langsung ataupun datang ke menteri-menteri terkait. Satu kata mereka, kami ingin bekerja sama dengan Indonesia, kami ingin juga melakukan investasi di negeri ini dan seterusnya. Sekali lagi, saya tidak akan melebih-lebihkan, silakan dibaca sendiri, silakan didengar sendiri, silakan diketahui sendiri bahwa ini membuktikan ada peluang untuk negara kita di seluruh tanah air. Lima, sepuluh, lima belas tahun lagi, kita bangun lebih pesat lagi.

Berarti MP3EI yang kita susun ini benar. Negara harus punya arah, tidak bisa melihat hanya hari esok atau minggu depan atau bulan depan. Ini 250 juta, tanahnya 8 juta km persegi, memiliki 3 time zones dengan potensi sumber daya alam yang begini besar, tidak mungkin tidak kita pikirkan strateginya seperti apa, kebijakannya seperti apa, dan rencana induk atau master plan-nya seperti apa. Ini negara. Saya akan jatuh tempo insya Allah 3 tahun lagi, tapi Presiden-presiden setelah saya nanti, pemerintah setelah saya nanti berkewajiban dan bertugas terus menjalankan MP3EI ini agar negara kita terus meningkat maju dan rakyat Indonesia akan mendapatkan manfaatnya yang riil.

Itu adalah MP3EI. MP3EI idenya adalah investasi hendak kita lakukan di mana-mana. Indonesia dibagi habis menjadi berapa koridor? Enam koridor, semuanya termasuk, termaktub. Masing-masing koridor ada zona-zona ekonomi, ada cluster-cluster industri, ada produk unggulan, semua punya. Sekarang permasalahannya adalah investor global sedang mencari partner, mencari sahabat, merekalah yang memilih dan menentukan, apakah lebih senang berinvestasi di India, di Tiongkok, di Brazil, di Afrika Selatan, di Vietnam atau di Indonesia. Mereka yang memilih, mereka yang menentukan. Kita tidak bisa memaksa mereka datang ke Indonesia. Tetapi mereka akan memilih dan datang ke negeri kita, kalau ke seluruh tanah air ini, kita bikin iklim investasi yang baik. Itu investor asing.

Saya ingin sebenarnya investor dalam negeri sendiri, BUMN kita, BUMD kita, swasta kita, putra-putri Indonesia itu lebih dahulu cerdas menangkap peluang dan kemudian menjalankan investasinya. Sudah kami hitung, kalau itu berjalan dengan baik bisa mencapai sekitar 50 sampai 60 persen, yang 40 persen karena kita ingin lebih cepat, lebih maju, lebih tinggi pertumbuhan ekonomi kita, kita bisa ber-partner dengan investor dari negara sahabat, sebagaimana yang berlaku di seluruh dunia.

Investor dalam negeri sendiri akan memilih, apakah provinsi A, provinsi B, provinsi C, apakah kabupaten 1, kabupaten 2, kabupaten 3. Mereka juga tidak bisa dipaksa. Presiden tidak bisa melakukan Keppres, investasi di kabupaten ini atau investasi di provinsi ini, tidak bisa. Mereka sendiri akan memilih mana ini, Bali-kah, NTB-kah, Gorontalo-kah, Sumatera Barat-kah, Kalimantan Timur-kah, NTT-kah, Papua-kah, mereka akan mencari.

Apa yang dicari. Adalah daerah yang tentu ada peluang untuk investasi. Saudara ciptakan peluang itu, kemudian iklimnya baik, birokrasinya baik, perda-nya baik, semuanya terang, tidak ada yang remang-remang, kemudian mereka menghitung kalau begitu bisa ini investasi di sini. Begitu investasi itu berkembang, hampir pasti pengangguran berkurang, hampir pasti kemiskinan berkurang. Ada downstream business namanya, usaha ikutan yang muncul akibat investasi itu.

Jadi sebetulnya MP3EI yang sekarang sudah dilihat oleh dunia banyak negara, bertemu dan berbicara dengan saya lansgung, antara lain, Presiden Korea Selatan, Perdana Menteri Jepang, Presiden Tiongkok, Perdana Menteri Tiongkok. Perdana Menteri Kuala Lumpur, baru ketemu saya di Lombok kemarin. Perdana Menteri Singapura, negara-negara Eropa sudah dengar MP3EI, sudah ingin bersahabat dengan Indonesia, tentu sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat kita, kerja sama yang adil. Di masa lalu, ada yang tidak adil, sekarang harus adil untuk sebesar-besar kepentingan dan kemakmuran rakyat kita. Mereka sudah seperti itu. Ketika terjadi kerja sama itu sudah kembali, memilih provinsi mana, memilih kabupaten dan kota mana dari kesiapan kita, kesiapan Saudara semua untuk menciptakan peluang dan menciptakan iklim investasi yang baik.

Dari saya itu yang paling utama, selebihnya silakan. Dokumen MP3EI lengkap-kap-kap di situ, ada semua, sudah dipotret. Tetapi Saya mempermudah dan menyederhanakan apa yang mesti kita lakukan.

Saudara-saudara,
Saya termasuk orang yang senantiasa optimis, saya percaya kebesaran Tuhan, pada pertolongan Allah SWT. Kalau kita benar-benar ingin memajukan negeri kita, Saudara ingin memajukan kabupaten Saudara, bekerja keras, siang dan malam, Allah akan kasih jalan, Tuhan akan kasih jalan. Oleh karena itu, tidak perlu menunggu apa pun, bismillah, mulailah untuk meningkatkan segalanya. MP3EI ini adalah sarana, tapi sepenuhnya ada pada hati dan pikiran kita bersama masyarakat, bersama DPRD, semua bersatu padu untuk menyukseskan program besar ini.

Sekali lagi, dalam alam demokrasi dan politik sekarang ini, saya menganjurkan Saudara-saudara harus tetap tegar, kuat, dan tabah. Kalau SBY tetap tegar, kuat, dan tabah, Saudara semua juga harus sama tetap tegar, kuat, dan tabah. Selamat bekerja dan selamat berjuang para Bupati yang saya cintai. Sampaikan salam Saya kepada Saudara-saudara kita di seluruh tanah air. Saya mendoakan mereka semua dalam keadaan baik-baik dan dapat menjalani kehidupan yang insya Allah makin maju di masa depan.

Dengan pesan dan harapan itu, maka dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan mengucapkan bismilahirrahmanirrahim, Rapat Kerja Nasional VIII APKASI dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Om Shanti Shanti Shanti Oom.


*****

Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden