Pidato Presiden

Sambutan pada Acara Jamuan Santap Malam Kenegaraan untuk Menghormati Raja Carl XVI Gustaf

 

TRANSKRIP
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA JAMUAN SANTAP MALAM KENEGARAAN
UNTUK MENGHORMATI RAJA CARL XVI GUSTAF
DI ISTANA NEGARA, JAKARTA
TANGGAL 31 JANUARI 2012




Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya muliakan, Sri Baginda Raja Carl XVI Gustaf beserta delegasi,
Yang saya hormati, segenap Perwakilan World Scout Foundation,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Sungguh merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagi saya, pada malam ini, dapat menjamu Sri Baginda Raja Carl XVI Gustaf beserta rombongan, pada jamuan santap malam kenegaraan yang penuh suasana persahabatan.

Atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, sekali lagi saya mengucapkan selamat datang di tanah air kami kepada Sri Baginda beserta seluruh delegasi. Dan atas nama Ketua Majelis Pembimbing Nasional beserta jajaran Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, saya ingin sekali lagi mengucapkan selamat atas penganugerahan Lencana Tunas Kencana kepada Sri Baginda pada sore hari tadi.

Saya berharap, di samping sebagai tanda kehormatan, penganugerahan Lencana Tunas Kencana menjadi tanda persahabatan antara kedua bangsa kita. Karena itulah, kunjungan Sri Baginda yang bersejarah ini tidak hanya demi kemajuan Gerakan Kepramukaan melalui World Scout Foundation, tetapi juga semakin menguatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Swedia.

Sri Baginda,
Tanpa terasa, tahun ini hubungan bilateral kedua negara kita telah menginjak 62 tahun. Hubungan bilateral selama lebih dari setengah abad itu mencakup berbagai bidang, dan terus menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Saya mencatat, volume perdagangan bilateral meningkat 19,42 persen atau mencapai 851 juta dollar AS pada periode Januari-Oktober 2011, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, yang baru mencapai 712, 6 juta dollar AS.

Kedekatan hubungan bilateral kedua negara juga diperkuat oleh komitmen masing-masing terhadap nilai-nilai utama yang bersifat universal. Kita sama-sama menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dunia, demokrasi, dan hak-hak asasi manusia. Kita juga sama-sama mengembangkan pembangunan yang berkelanjutan, pelestarian lingkungan, menjalankan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), dan penegakan hukum (rule of law). Saya yakin dan percaya, kita dapat mengembangkan kerja sama yang lebih erat dan saling mengisi dalam mengembangkan nilai-nilai yang saya kemukakan tadi.

Di bidang demokrasi misalnya, dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa, Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Amerika Serikat. Sebagai negara yang telah cukup mapan dalam berdemokrasi, Swedia tentu dapat berbagi pengalaman dengan Indonesia dalam proses konsolidasi demokrasi yang sedang tumbuh mekar di tanah air kami.

Sri Baginda serta Hadirin yang saya muliakan,
Sungguh saya amat bergembira karena, dalam banyak kesempatan di berbagai forum internasional, kedua negara kita telah bekerja sama dengan erat dalam menangani isu-isu perdamaian dunia. Kedekatan Swedia dengan tradisi perdamaian adalah suatu keniscayaan, mengingat Alfred Nobel, pencetus penghargaan Nobel Perdamaian, lahir dan besar di Swedia.

Kami juga kagum dengan penguasaan teknologi tinggi yang ramah lingkungan oleh Swedia. Bagi rakyat Indonesia, banyak produk teknologi Swedia, yang sangat familier dan dikenal luas. Sri Baginda akan banyak menyaksikan kami menggenggam peralatan komunikasi buatan Sony Ericsson, menggunakan peralatan rumah tangga Electrolux, dan mengendarai kendaraan yang nyaman dari Volvo. Kami berharap, Swedia dapat bekerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan.

Hubungan antarmasyarakat kedua negara (people-to-people contact) juga menunjukkan peningkatan. Lebih dari 25 ribu wisatawan asal Swedia datang ke Indonesia setiap tahunnya. Sebaliknya, banyak pula rakyat Indonesia yang berlibur ke Swedia, bahkan mengenal Swedia lebih dekat melalui grup musik ternamanya, ABBA, yang tadi salah satu lagunya dibawakan oleh penyanyi Indonesia. Tentunya, saya berharap kedua negara dan bangsa kita, Sri Baginda, dapat lebih saling mengenal dan menjalin hubungan yang lebih akrab. Saya juga berharap kunjungan Sri Baginda ke Yogyakarta dan Jawa Tengah akan meninggalkan kesan yang mendalam dan menjadi dorongan bagi masyarakat Swedia untuk mengunjungi berbagai objek wisata dan peninggalan sejarah peradaban di Indonesia, yang tidak akan ditemukan di belahan dunia yang lain.

Sri Baginda,
Saat ini, Indonesia tengah membangun diri untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat kami. Tahun 2011 lalu, kami meluncurkan sebuah Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Masterplan itu didukung oleh tiga pilar utama, yaitu pengembangan potensi ekonomi, peningkatan konektivitas nasional, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia tentu tidak lepas dari sektor pendidikan. Melalui pendidikan, kami terus menumbuhsuburkan nilai-nilai jati diri bangsa, akhlak yang mulia, kesadaran akan keragaman atau kemajemukan, yang dilandasi penghormatan pada hak asasi manusia, dan mengembangkan nilai-nilai universal demokrasi.

Pembentukan nilai-nilai pendidikan yang luhur itu kami selenggarakan, baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Gerakan Pramuka menjadi salah satu sarana pendidikan nonformal, yang banyak diminati oleh anak-anak dan kaum muda Indonesia.

Sri Baginda yang saya muliakan,
Gerakan Pramuka atau Gerakan Kepanduan merupakan salah satu gerakan kaum muda terbesar dan tertua di dunia, sebagaimana yang Sri Baginda maklumi. Tidak mengherankan jika banyak negara di dunia, yang memfasilitasi tumbuh kembangnya Gerakan Pramuka dengan jejaring yang erat di antara para anggotanya. Salah satu bentuk jaringan yang kuat itu adalah terselenggaranya jambore internasional tahun lalu.

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan ucapan selamat kepada Swedia atas suksesnya penyelenggaraan 22nd Jamboree of The World Scout Movement di Rinkaby, Kristianstad tanggal 27 Juli hingga 8 Agustus 2011 yang lalu. Jambore itu merupakan kesempatan berharga bagi anggota Pramuka dari berbagai penjuru dunia untuk bertemu dan menjalin persahabatan. Lebih dari 200 anggota Pramuka asal Indonesia, yang juga ikut berpartisipasi dalam jambore internasional yang mengesankan itu.

Saya meyakini, kunjungan Sri Baginda ke Indonesia juga merupakan bagian penting bagi terbangunnya jejaring antara Gerakan Pramuka di berbagai negara. Saya juga menilai penting dukungan Sri Baginda beserta World Scout Foundation bagi kegiatan kepramukaan di Indonesia, utamanya dalam pelaksanaan proyek Messenger of Peace.

Kita menyadari bahwa terciptanya jejaring pemuda yang bersifat global akan berkontribusi besar bagi pengembangan harmoni antara bangsa-bangsa di dunia, sebab para pemuda masa kini adalah calon-calon pemimpin bangsa di masa depan. Oleh karena itu, saya optimis semangat kepramukaan di dalam diri mereka akan dapat membentuk dunia yang lebih beradab dan bersahabat. Saya teringat akan kata-kata bijak Bapak Pandu se-Dunia, Sir Robert Baden-Powell, kepada seluruh pemuda-pemuda di dunia: “Try to leave this world a little better than you found it.”

Di Indonesia sendiri, dengan Gerakan Pramuka, kami ingin membentuk dan mengembangkan karakter generasi muda kami, termasuk pelatihan kepemimpinan bagi mereka, agar mereka siap menghadapi tantangan kehidupan di abad ke-21 ini. Kami percaya, manusia dan juga bangsa akan unggul dan berjaya jika mereka memiliki daya saing yang tinggi, yang antara lain ditandai dengan karakter yang kuat, penguasaan teknologi, serta kemampuan untuk menghadapi tantangan hidup. Saya yakin, Sri Baginda bersetuju dengan saya bahwa Gerakan Kepanduan dapat membekali generasi muda kita agar mereka menang dan berhasil menghadapi tantangan dan permasalahan pada jamannya.

Sri Baginda serta Hadirin yang saya muliakan,
Akhirnya, sekali lagi saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas kunjungan Sri Baginda ke Indonesia. Saya yakin dan percaya, melalui kunjungan Sri Baginda, persahabatan kedua negara kita akan terus terjalin erat dan hangat di masa mendatang.

Kami turut berdoa semoga Sri Baginda senantiasa dikaruniai kesehatan dan kebahagiaan. Dan, rakyat Indonesia dan Swedia dapat menikmati kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera. Untuk itulah, perkenankanlah saya mengundang Sri Baginda dan Hadirin sekalian untuk bersama-sama mengangkat gelas dan bersulang bagi kesehatan dan kebahagiaan Yang Mulia, serta bagi kemajuan dan kesejahteraan rakyat kedua negara kita.

*****

Biro Pers, Media dan Informasi
Sekretariat Presiden