Pidato Presiden

Sambutan pada Acara Buka Puasa Bersama Pimpinan MPR RI

 

TRANSKRIP
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
BUKA PUASA BERSAMA PIMPINAN MPR RI
RUMAH DINAS KETUA MPR RI, JAKARTA
2 AGUSTUS 2012




Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Bapak Boediono,
Bapak Taufik Kiemas selaku shohibul bait,
Bapak-Ibu, Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Saya juga mengajak Hadirin sekali lagi, untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena kita dapat kembali menjalankan ibadah puasa tahun ini, dan semoga ibadah puasa kita mendapatkan rahmat dan ridho Allah.

Yang kedua, Bapak Taufik, saya barangkali juga mewakili undangan yang hadir pada sore hari ini, untuk mengucapkan terima kasih atas undangan Bapak untuk berbuka puasa bersama dan beribadah bersama dalam acara yang penuh dengan kekeluargaan ini.

Mewakili Pemerintah, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada segenap Pimpinan dan Jajaran Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia atas kerja samanya selama ini, kerja sama sesuai dengan amanah yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar kepada kita semua, tentu untuk kebaikan rakyat, bangsa, dan negara yang sama-sama kita cintai.

Kalau saya bisa menyampaikan satu-dua hal, Bapak Taufik. Saya selama tiga tahun ini, meskipun di antara Pak Taufik Kiemas dengan saya barangkali melihat satu-dua isu politik bisa berbeda, tetapi kami bersatu dalam komitmen, dalam pandangan, dan bahkan keyakinan menyangkut kerangka kehidupan bernegara. Kerangka kehidupan bernegara yang berlandaskan pada Pancasila, yang memiliki tiga pilar penting yang lain, yaitu kita telah memiliki Undang-Undang Dasar 1945 yang dijiwai, yang secara jelas dicantumkan prinsip-prinsip dasar bernegara kita dalam pembukaannya; kita telah memiliki bangun negara ini, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan kita bersepakat dalam kehidupan yang majemuk ini untuk terus menggelorakan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Di situ, kesamaan komitmen, pandangan, dan bahkan perjuangan kita, Bapak Taufik Kiemas.

Oleh karena itu, kalau dalam pidato beliau tadi, mengajak kita bersama-sama untuk bergandengan tangan, saya sambut dengan baik agar siapapun yang mengelola negara ini, bukan hanya Presiden, tapi juga pemimpin-pemimpin lembaga negara sekarang ini dan seterusnya, itu juga saling berkontribusi untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara kita.

Dunia tengah berubah dan terus akan berubah. Banyak sekali pergeseran, termasuk munculnya anatomi dan arsitektur baru dalam tatanan global. Banyak negara yang dulu negara berkembang menjadi emerging countries, emerging economies. Timur Tengah mengalami perubahan yang besar. Eropa yang seolah-olah sudah menjadi negara atau kawasan matang sekarang juga menghadapi kesulitan yang fundamental. Juga Amerika, dan juga negara-negara lain.

Nah, dalam konteks ini, mestinya kita bangsa Indonesia tetap bersyukur, meskipun reformasi dan transformasi yang kita lakukan juga belum rampung. Tetapi satu hal, reformasi, perubahan, dan transformasi adalah keniscayaan, dan itu tuntunan, serta tuntutan zaman. Tapi satu hal, yang tidak boleh berubah adalah fundamental consensus: dasar negara kita, pilar-pilar kehidupan bernegara kita.

Oleh karena itu, bagi rakyat Indonesia, melihat dunia yang penuh dengan dinamika dan perubahan ini, tidak perlu gamang, tidak perlu disorientasi, tidak perlu mencari-cari. Bung Karno, Bung Hatta, dan para founding fathers telah menetapkan dengan bijaknya, meskipun tidak mudah, yang saya sebut dengan dasar negara, serta pilar-pilar kerangka kehidupan bernegara di negeri ini

Sedangkan yang kedua atau yang terakhir, menyangkut Bhinneka Tunggal Ika. Bagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia, yang banyak sekali identitasnya: suku, agama, ras, kedaerahan, dan sebagainya; serta perjalanan sejarah bangsa kita yang sering menghadirkan konflik, benturan, dan pertentangan, maka marilah, di era baru ini, di era reformasi ini, kita kembali kepada sesanti Bhinneka Tunggal Ika ini. Tidak ada alasan apa pun bagi bangsa yang majemuk ini tidak bisa bersatu, bersama-sama membangun negeri ini dengan saling hormat-menghormati, menjaga toleransi dan harmoni di antara kita semua.

Kita pernah mengalami masa-masa yang tidak baik, yang tidak cerah di awal krisis dan reformasi sekitar 13-14 tahun yang lalu, ketika negara ini koyak dan terguncang oleh berbagai konflik horizontal atau konflik komunal. Korbannya sangat besar, lukanya menganga, dan rehabilitasi, rekonsiliasi, dan trust building-nya pun memerlukan waktu yang panjang. Alhamdulillah, negara kita selamat. Kita lewati masa-masa sulit seperti itu. Oleh karena itu, mari kita rawat, kita jaga baik-baik. Jangan ada tindakan apa pun yang mencederai kebersamaan, perdamaian, dan kasih sayang di antara sesama warga bangsa ini.

Inilah yang ingin saya serukan, saya ajak sebagai Kepala Negara. Dan semoga Pak Taufik, Hadirin sekalian, kita selalu ingat atas komitmen, pandangan, serta tugas besar kita bersama untuk membangun negeri ini ke arah yang lebih baik. Insya Allah, Pemerintahan yang saya pimpin, dengan kerja sama lembaga negara yang lain, akan berbuat sebaik mungkin yang dapat kami capai, sehingga kami bisa menyerahkan nanti kepada Presiden baru, Pemerintahan yang baru situasi yang lebih baik. Dengan harapan, Presiden-presiden baru nanti, pemimpin-pemimpin baru, Pemerintahan yang baru lebih berhasil lagi, lebih sukses lagi, sehingga rakyat kita bisa mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya.

Itulah yang dapat saya sampaikan.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden