Pidato Presiden

Sambutan pada Silaturahmi dengan Paguyuban Pawitandirogo

 

TRANSKRIP
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SILATURAHIM DENGAN PAGUYUBAN PAWITANDIROGO
TAMAN MINI INDONESIA INDAH
6 OKTOBER 2012




Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang sama-sama kita cintai para Sesepuh hadir pada hari ini, Ibu Sulasikin Murpraptomo dan Bapak Haryono Suyono beserta Ibu,
Yang Saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, hadir Bapak Djoko Suyanto, Menko Polhukam beserta Ibu, hadir Menko Kesra, Bapak Agung Laksono beserta Ibu,

Pak Agung ini juga Pawitandirogo, artinya beliau dari daerah yang dekat dengan Pacitan. Beliau dari Cirebon, Cirebon dekat sama Jawa Tengah. Jawa Tengah dekat Jawa Timur, kurang lebih begitu. Kemudian Bapak Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beserta Ibu, beliau juga dari Jawa Timur. Saya tidak melihat Pak Dahlan Iskan di sini. Itu juga keluarga Jawa Timur.

Yang Saya cintai Pakde Karwo, Gubernur Jawa Timur beserta Ibu,
Yang Saya cintai para Bupati dan Walikota se-Eks Karesidenan Madiun dan juga Pimpinan Koordinasi Wilayah Madiun beserta Ibu, Pimpinan Paguyuban, Bung Parni Hadi beserta Ibu,

Kemudian yang paling sibuk, paling deg-degan, Pak Dibyo selaku Ketua Panitia dan segenap warga Paguyuban Pawitandirogo yang saya cintai dan saya banggakan,

Marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita semua masih diberikan kekuatan, insya Allah kesehatan, dan kesempatan untuk terus melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara yang sama-sama kita cintai.

Sama dengan lagu yang dikumandangkan tadi, Rinduku Padamu, saya pun dan istri, dan keluarga, Pak Dibyo juga rindu kepada keluarga besar Pawitandirogo. Meskipun sebagai Presiden, saya menyayangi seluruh rakyat Indonesia dan itu sumpah jabatan, serta etika saya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, tentunya Pawitandirogo punya tempat tersendiri di hati saya sebagai putra Pacitan dan bagian dari keluarga besar Pawitandirogo.

Kalau Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara melihat rumah ini, itu adalah Pendopo Desa Ploso Pacitan. Saya pernah tinggal lama di tempat ini, di sebuah kamar yang ukurannya barangkali 1,5 meter kali 3 meter. Di situlah saya memiliki idealisme di tengah-tengah situasi yang tidak mudah, Pacitan waktu itu. Dan alhamdulillah, saya mendapatkan amanah dan mandat dari rakyat Indonesia untuk memimpin negeri tercinta ini.

Meskipun karena ayah saya dulu seorang prajurit militer dan selama bertugas di Pacitan pindah dari satu kecamatan ke kecamatan yang lain. Ingat saya, pernah bertugas di Kecamatan Pacitan, Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Nawangan, Kecamatan Bandar, dan Kecamatan Punung, tetapi lebih sering saya berada di tempat ini.

Saya pernah mendengar cerita. Dulu, dulu sekali saudara-saudara kita yang tinggal di Tegalombo, perbatasan Pacitan dengan Ponorogo, kalau ditanya, ”Darimana?” Dia nggak ngaku dari Pacitan, Ponorogo. Saudara kita yang tinggal di Punung berbatasan dengan Wonosari, Yogyakarta. ”Darimana asalnya?” ”Yogja.” Yang di Donorojo mengaku Wonogiri, Solo. Kemudian yang di Sudimoro mengaku, ya Trenggalek, Tulungagung. Sekarang yang di perbatasan, itu bilangnya Pacitan semua. Alhamdulillah.

Sesuai dengan hajat ini, seraya saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, baik kepada Ketua Panitia, Mas Dibyo dan juga Edhie Baskoro Yudhoyono yang menjadi pemrakarsa dari pertemuan ini, tentu saya harus menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk juga mengucapkan, meskipun sudah lewat, Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1433 H, Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Saya sering berkeliling ke seluruh wilayah Indonesia, di mana pun, utamanya di Sumatera dan bahkan di ujung Utara dan Timur Indonesia selalu bertemu dengan masyarakat Pacitan khususnya dan juga masyarakat Pawitandirogo. Jadi sebenarnya ada Diaspora Pacitan, Diaspora Pawitandirogo di seluruh wilayah tanah air. Saya kira ini merupakan kekuatan bagi persatuan bangsa Indonesia, karena sebenarnya di antara kita juga hadir di banyak tempat di negeri tercinta ini.

Hadirin sekalian yang saya cintai,
Orang sering bertanya, ”Apakah paguyuban kedaerahan itu masih relevan? Masih cocok? Dan apakah justru tidak membahayakan persatuan dan kesatuan nasional?” Ada yang bertanya begitu. Saya jawab secara langsung, kalau ada orang yang mengatakan seperti itu, ”Tidak. Sama sekali tidak.”

Begini logikanya. Sekarang ini, kita hidup dalam era globalisasi, hidup dalam perkampungan global, karena teknologi informasi kejadian di Eropa, di Amerika, di Australia, di Afrika maupun di Asia selama kurun waktu 24 jam, itu bisa diketahui oleh bangsa mana pun. Itulah hakikat kita hidup dalam perkampungan global, tidak ada yang tidak diketahui. Orang sebagian menganut paham atau pandangan. Oleh karena itu, fungsi atau peran negara nasional, bahasa Inggris-nya nation state, itu sudah tidak seperti dulu. Dikatakan dunia sekarang ini tanpa tapal batas, borderless world. Bahkan ada yang mengatakan nasionalisme, kebangsaan itu menjadi kurang penting. Dalam hal ini, saya tidak sependapat.

Meskipun kita hidup dalam sebuah perkampungan, tadi disebut perkampungan global, toh masing-masing keluarga harus punya rumah. Ada rumah masing-masing. Rumah inilah nasionalisme, rumah nilah kebangsaan, rumah inilah identitas formal yang tidak bisa ditinggalkan, meskipun dunia sudah menyatu, saling berinteraksi, saling tergantung dalam sebuah perkampungan dunia.

Analog dengan itu, sama saja, meskipun bangsa Indonesia kini satu, Bhinneka Tunggal Ika, dalam Pancasila juga ada sila yang berbunyi Persatuan Indonesia. Kita punya paham, rasa dan semangat kebangsaan, tetapi tidak berarti identitas yang ada, bahkan sebelum Republik ini merdeka lantas dianggap tidak perlu. Tetap saja ada daerah, ada keragaman dari segi agama, etnis, suku, dan identitas yang lain.

Selama itu kita posisikan sebagai kekayaan, sebagai kekuatan, tentu tidak akan menimbulkan masalah bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Tetapi memang, ikatan primordialisme yang disalahgunakan justru merong-rong persatuan dan kebersamaan kita sebagai bangsa. Itulah yang saya sebut dengan primordialisme yang negatif.

Tentunya kita membentuk paguyuban ini, Pawitandirogo, bukanlah ikatan yang seperti itu. Justru ikatan yang bisa berkontribusi, baik bagi keseluruhan keluarga besar Pawitandirogo maupun bagi bangsa dan negara. Oleh karena itulah, saya pada kesempatan yang baik ini, ingin menyampaikan harapan dan ajakan kepada Saudara sekalian, apa yang bisa dilakukan oleh Pawitandirogo ini. Saya kira Bung Parni dan lain-lain nanti bisa mengembangkan lagi di masa depan, setelah saya sampaikan harapan dan ajakan ini.

Pertama-tama, tentu Pawitandirogo ini adalah sebuah ikatan emosional, emotion, rasa satu identitas berasal dari Pacitan, Ngawi, Madiun, Magetan, Ponorogo. Madiun-nya ada kabupaten, ada kota. Ikatan emosional kami semua berasal dari Kabupaten atau Kota itu. Ikatan emosional ini pun harus digunakan untuk tujuan-tujuan yang baik, yaitu tanggung jawab.

Alangkah tidak baiknya, kalau misalkan ada musibah di salah satu Pawitandirogo ini, apalagi lebih, masyarakat lain dari luar Jawa, dari Jawa Barat membantu, kemudian keluarga besar Pawitandirogo tidak tergerak hatinya untuk membantu. Kalau melihat masih ada kekurangan di Kabupaten dan Kota Pawitandirogo, sementara di antara kita ada yang bisa ikut mengatasi, lantas kita tidak melakukan, maka saya katakan contoh seperti itu kurangnya tanggung jawab.

Oleh karena itu, ikatan emosional disertai tanggung jawab untuk memikirkan, untuk membantu dan untuk peduli. Sekaligus ikatan emosional ini juga kita gunakan saling mengingatkan, “Eh, jangan bikin malu lho. Malu semua kalau tiba-tiba ada penjahat ternyata dari Pawitandirogo.” Sampai di situ. Istilahnya Pawitandirogo can do no wrong, jangan berbuat salah. Jangan sampai jadi penjahat. Jangan sampai melakukan sesuatu yang mencemarkan nama baik Pawitandirogo. Jadi ikatan emosional harus dimaknai seperti itu dan harus sungguh dijalankan.

Yang kedua, makna dari paguyuban kita ini, saya berharap aktiflah bergerak di bidang sosial, di bidang kemanusiaan, apa pun yang bisa dilakukan, sesuai dengan kemampuannya masing-masing, sesuai dengan apa yang bisa dilaksanakan oleh Pawitandirogo ini. Yang lain saya kira juga bisa berkontribusi untuk pengembangan ekonomi di jajaran Pawitandirogo, apa pun, ikut mempromosikan batik misalnya, mempromosikan handicraft, kerajinan, mengundang investor, membuka bisnis atau ekonomi di Pawitandirogo dan sebagainya.

Baju yang saya pakai ini, saya beli di Pendopo Kabupaten Pacitan dan kebetulan banyak Menteri mendampingi saya, saya bilang borong semuanya. Sekali-sekali kasih rejeki. Saya ingin juga terjadi di Kabupaten dan Kota yang lain di jajaran Pawitandirogo. Ini salah satu juga membantu ekonomi rakyat, membantu ekonomi usaha mikro kecil dan menengah, ikut mempromosikan produk-produk unggulan yang ada di jajaran Pawitandirogo.

Kemudian fungsi yang lain juga fungsi budaya. Banyak sekali yang bisa ditampilkan, bahkan saya mengatakan, kalau memang ada yang patut ditampilkan di Istana Negara. Ingat, pada tanggal setiap tanggal 17 Agustus sore hari sebelum acara Penurunan Sang Saka Merah Putih, ada pagelaran seni budaya yang datang dari seluruh Indonesia. Saya menunggu hadirnya acara budaya dari Pawitandirogo, mudah-mudahan insya Allah pada 17 Agustus tahun depan, muncul seni budaya yang ditampilkan di hadapan ribuan tamu, baik dari dalam maupun luar negeri nantinya.

Saudara-saudara,
Itulah yang harus dibangun, diperkuat, dan dikembangkan dalam paguyuban ini. Saya tidak menganjurkan masuk ke politik praktis. Politik praktis itu bisa membikin jarak di antara kita, itu wahananya lain. Tapi paguyuban lebih banyak pada fungsi, ikatan emosional yang positif, fungsi sosial, fungsi budaya, fungsi ekonomi, dan fungsi-fungsi yang menyatukan kita semua untuk berbuat kebaikan, baik bagi Pawitandirogo maupun kepada bangsa dan negara yang tercinta.

Dan yang terakhir, saya titip para Bupati dan Wali Kota, dan Bakorwil, saya titip kepada Pak Gubernur untuk berbuatlah yang terbaik untuk rakyat kita, sebagaimana saya berikhtiar siang dan malam untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai.

Saya kira itu saja. Dan saya bertanya kemarin, kebetulan saya ketemu Pak Azis. ”Masakannya apa kira-kira?” Kalau dari Pacitan, itu kesukaan saya soto Pacitan, kopat tahu Pacitan, mungkin ada yang suka nasi tiwul, mungkin ada yang suka ikan layur atau ikan kelong begitu. Saya kira yang di Madiun, Ngawi, Ponorogo, Magetan juga ada.

Kalau di Madiun, Pak Wali Kota selalu mengajak saya, Pak Djoko Suyanto, Pecel 99 itu. Kalau di Ponorogo itu ada sate. Siapa? Saya selalu mampir di situ, Pak Bupati juga rawuh. Jadi saya belum sempat ke Magetan. Mudah-mudahan dalam waktu dua tahun ini bisa ke Magetan. Ngawi sampun, Ponorogo sampun, Madiun sampun, Pacitan sampun. Tinggal Magetan, mudah-mudahan saya bisa berkunjung ke sana. Siapkan makanan khas saja. Yang penting kita bisa saling menyapa, bisa saling melepas rindu di antara kita.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Sekali lagi, terima kasih. Selamat. Dan mari kita lanjutkan ibadah kita, serta bakti kita kepada masyarakat jajaran Pawitandirogo dan seluruh rakyat Indonesia.

Sekian.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



*****




Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden