Pidato Presiden

Pengarahan pada Pembukaan Konsultasi Nasional untuk Membahas Agenda Pembangunan Pasca 2015

 

TRANSKRIP
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK
PEMBUKAAN KONSULTASI NASIONAL UNTUK MEMBAHAS
AGENDA PEMBANGUNAN PASCA 2015
ISTANA NEGARA
20 FEBRUARI 2013




Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu''''''''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Yang Saya hormati Saudara Dr. Kuntoro Mangkusubroto, Ketua Komite Nasional untuk Agenda Pembangunan Pasca 2015,
Hadirin dan Peserta Konsultasi Nasional yang saya cintai,

Alhamdulilah hari ini, kita dapat bersama-sama menyatukan tekad, pikiran, dan langkah-langkah kita untuk meningkatkan pembangunan di negeri ini dan sekaligus untuk meningkatkan kerja sama yang lebih efektif dalam konteks pembangunan manusia sedunia.

Saya akan mengawali sambutan saya ini dengan mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Komite Nasional, saya sebut saja Komnas APP 2015 (Agenda Pembangunan Pasca 2015) terjemahan dari Post-2015 Development Agenda.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak-Ibu sekalian, para Peserta Konsultasi Nasional atas partisipasi dan kontribusinya, baik bagi kerja Komnas APP 2015 maupun kepada Pemerintah Republik Indonesia secara keseluruhan.

Saya telah menyiapkan satu naskah pidato, meskipun singkat, relatif komprehensif, silakan dibaca nanti. Sekaligus saya sertakan yang sampaikan Pak Kuntoro tadi, pandangan kita, pandangan Indoensia mengenai pidato Saya yang berjudul Manifesto 2015 Sustainable Growth with Equity yang kita sumbangkan pula dalam pertemuan Rio+20 di Rio de Janeiro, Brazil, yang diselengarakan juga oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Saudara-saudara,
Pada kesempatan ini, saya mengajak Saudara semua, baik para pakar pembangunan maupun para pelaku pembangunan pusat maupun daerah dengan segala pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya untuk mengintegrasikan—saya tidak menggunakan kata-kata menyamakan—mengintegrasikan, mendialogkan pengetahuan, pikiran, dan pandangan kita tentang pembangunan dan nanti tentang agenda pembangunan dunia seperti apa yang hendak kita terapkan nanti setelah tahun 2015, yang menjadi hajat Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang hajat itu diberikan kepada panel yang dibentuk untuk mempersiapkannya.

Saudara-saudara,
Mari kita mulai untuk mediskusikan hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan atau development. Saya kira Saudara setuju dengan saya, banyak sekali teori dan konsep tentang pembangunan. Ada ratusan ribu buku yang bertemakan pembangunan atau development yang marak atau tumbuh dengan baik sejak tahun ’60-an. Kemudian strategi, kebijakan, dan cara-cara pembangunan yang ditawarkan, itu juga terus berkembang. Demikian juga evaluasi, serta koreksi terhadap pembangunan, baik evaluasi dan koreksi terhadap strategi, kebijakan, dan implementasinya juga tidak terhitung banyaknya.

Hakikatnya—saya kira Saudara juga sependapat dengan saya—bahwa semua bangsa mengalami dan menjalankan pembangunannya masing-masing. Tentu negara maju, isu pembangunannya itu, isu 100-200 tahun yang lalu. Bagi negara-negara berkembang barangkali isu setelah Perang Dunia II dulu. Bagi the least developed countries, bahkan itu keseharian mereka sekarang ini, membangun dan mengurangi kemiskinan warganya.

Meskipun seolah dewasa ini istilah pembangunan lebih diletakkan pada negara berkembang, sebagaimana yang saya katakan tadi, baik yang tergolong developing countries, least developed countries maupun emerging economies. Semua itu dikelompokkan dalam kelompok negara berkembang.

Dengan pengantar awal ini, apa yang hendak saya pesankan kepada Saudara, apa makna dari semuanya ini, paling tidak ada tiga hal. Yang pertama, jangan kita ini, orang-seorang memonopoli pengetahuan dan medeklarasikan diri sebagai yang paling mengetahui tentang pembangunan, jangan, bisa keliru nanti kita. Jika Saya bagikan kertas sekarang ini masing-masing dari Bapak-Ibu memegang kertas, terus saya minta untuk menulis sepuluh kalimat atau lima kalimat tentang pengertian pembangunan hampir pasti tidak ada yang sama. Rumusan Pak Dilon dengan Ibu Nila Moeloek hampir pasti berbeda. Demikian juga pengertian kemiskinan, itu juga berbeda-beda cara memandangnya. Saya yakin para gubernur, termasuk saya, kalau bangun pagi ditanya, “Eh, apa yang semalam Engkau pikirkan?” Pasti kalau hanya satu kata, kemiskinan. “Lantas apa yang Anda pikirkan untuk dilakukan?” Pasti mengurangi kemiskinan.

Poin saya adalah memang banyak sekali pandangan dan teori tentang pembangunan, tentang kemiskinan, meskipun bagi para pelaku dan bahkan para pakar pembangunan, saya kira setuju bahwa bagi negara berkembang, ideologi kita dalam pembangunan ini, ya mengurangi kemiskinan.

Saudara-saudara,
Saya sendiri, saya kira para rektor di sini banyak yang hadir, para pakar juga telah membaca ratusan buku tentang pembangunan dan kemiskinan. Saya masih ingat waktu belajar di Institut Pertanian Bogor, disertasi saya juga tentang upaya mengurangi kemiskinan. Selama delapan tahun bersama para gubernur, bupati, wali kota, DPRD, menteri, semua, sekarang ini yang kami lakukan tiada lain adalah memimpin dan mengelola pelaksanaan pembangunan, juga pengurangan kemiskinan. Tetapi sekali lagi, tidak berarti saya, tidak berarti para gubernur, tidak berarti Saudara, itu lebih banyak tahu dibandingkan yang lain soal pembangunan ini. Itu yang pertama. Oleh karena itu, sharing atau berbagi pengetahuan dan pengalaman, itu menjadi penting, agar kita makin sukses ke depan ini.

Hal yang kedua dengan pemahaman itu, saya juga meminta, janganlah kita ini mudah menyalahkan pihak lain dan mudah menghakimi bahwa pembangunan telah gagal. Pembangunan di Indonesia, pembangunan di negara A, pembangunan di provinsi B, pembangunan di mana itu, seolah-olah telah gagal total. Saya berharap hati-hati. Memang banyak sekali perspektif atau cara pandang. Ada yang mengatakan teorinya begini, pembangunan itu. Tapi yang mengatakan praktiknya berbeda tidak seperti itu. Ada kekhasan, ada uniqueness, baik itu berkaitan dengan tempat maupun waktu. Negara atau daerah dan saya kira bagi yang mengetahui sekaligus teori-teori pembangunan dan kemudian menjalankannya, mempraktikkannya akan lebih hemat lagi berbicara, tidak mudah untuk menyalahkan, tidak mudah untuk mengkritik secara membabi buta. Kritik yang penting itu perlu sekali, tapi kalau semuanya dianggap jelek, semuanya dianggap gagal. Tentu para gubernur juga kurang nyaman, karena memang itu, saya kira kurang objektif.

Sedangkan yang ketiga, dengan banyaknya cara pandang terhadap apa itu pembangunan, apa itu kemiskinan, sekaligus bagaimana kita meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan kemudian bagaimana mengurangi kemiskinan juga akan banyak sekali dan membangun konsensus untuk itu sangat tidak mudah. Jadi, kalau, jangankan dua hari Pak kuntoro, saya kira seminggu pun untuk bersetuju bahwa pembangunan itu ini, kemiskinan itu ini, belum tentu bisa dicapai.

Nah, saya hanya ingin menyampaikan syukur alhamdulilah, panel yang beranggotakan 27 orang dan yang kami pimpin bertiga, itu telah bersepakat bahwa jiwa atau semangat dan inti dari Agenda Pembangunan Pasca 2015, Post-2015 Development Agenda, tiada lain mengakhiri atau menghapus kemiskinan di dunia, ending poverty in our time. Jadi, tidak ada yang berani mengakhiri kemiskinan 2040 atau 2050, meskipun harapan kita pertengahan abad 21, itu kita bisa mencapai zero global poverty, kurang lebihnya seperti itu, tetapi saya sendiri memilih in our time. Ya insya Allah, di abad ke-21 ini the sooner the better. Kalau medio abad 21 bisa kita beresi akan bagus dunia kita ini.

Saudara-saudara,
Lantas apa yang diharapkan oleh kami dari Saudara-saudara, para Peserta Konsultasi Nasional ini. Pertama, saya harap Saudara memberikan kontribusi, kontribusi pemikiran untuk kepentingan kita sendiri, untuk Indonesia, dalam upaya lebih efektif dan lebih berhasilnya pembangunan kita, lebih efektif dan lebih berhasilnya upaya pengurangan kemiskinan. Saya sungguh bisa mendapatkan kontribusi pemikiran Saudara.

Yang kedua, Saudara diharapkan juga bisa memberikan kontribusi kepada Komite Nasional APP 2015, karena komite inilah yang akan menyuarakan posisi dan suara Indonesia dalam High-Level Panel itu. Di samping saya sebagai Ketua Bersama, toh negara kita harus punya posisi dan suara. Dan tidak mungkin, saya, Pak Kuntoro bicara begitu saja, tanpa memahami persoalan yang kita miliki, tanpa berangkat dari kebijakan dan strategi yang kita jalankan, tanpa mendengarkan pandangan dari semua pemangku kepentingan di negeri ini. Forum hari ini menjadi bagian dari semuanya itu.

Dan yang ketiga, tentu saya berharap Saudara juga berkontribusi kepada saya selaku Co-Chair, nanti akan saya pilih dari yang menjadi hasil akhir Konsultasi Nasional ini, mana yang masuk pada posisi Indonesia, dan mana yang menjadi bagian dari yang harus saya sampaikan nanti sebagai Ketua Bersama.

Saudara-saudara,
Karena banyak sekali isu yang menyangkut pembangunan dan kemiskinan dan dua bulan pun enggak akan rampung itu, apalagi dua hari. Oleh karena itu, saya boleh berharap paling tidak ada tiga hal yang Saudara bisa diskusikan, bisa kontribusikan kepada pemerintah, kepada Komnas APP 2015 maupun kepada saya pribadi.

Tiga hal besar itu, pertama adalah kembali menyangkut pembangunan dan kemiskinan. Dua, aspek global dan kerja sama internasional dari APP 2015. Sedangkan yang ketiga, format APP 2015. Maksud saya, kita sudah punya MDGs, sudah punya dan sedang dilaksanakan. Nah penganti MDGs ini nanti seperti apa. Itu yang saya maksudkan. Saya meminta pandangan dan kontribusi dari Saudara.

Saya ingin dengan sangat singkat dan secara sederhana akan menyampaikan pandangan saya sendiri terhadap tiga hal tadi untuk dapat didiskusikan lebih lanjut dalam forum konsultasi ini. Pertama, menyangkut pembangunan dan kemiskinan. Pembangunan atau development ini sekian ratus definisi, sebenarnya kalau mau disederhanakan adalah tiada lain untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, rakyat kita, orang-seorang, dan tempelkan sekaligus untuk mengurangi kemiskinan. Saya membanding-bandingkan dari satu definisi ke definisi yang lain, sekaligus sebagai top decision maker dan top policy maker di Indonesia saat ini, saya harus menyederhanakan pengertian pembangunan itu, ya bagaimana meningkatkan taraf hidup masyarakat kita dan kemudian kemiskinan semakin berkurang.

Memang di abad 21 ini, ada tekanan-tekanan baru, over development. Yang pertama, pentingnya pemilihan cara-cara membangun yang tidak merusak lingkungan. Ini new strategic global issue. Jadi, saya kira sudah tahu semua. Bapak-Ibu bukan hanya sudah tahu, sudah menjalankan, saya tahu para gubernur di daerah juga telah mengarusutamakan persoalan ini.

Yang kedua, yang juga menjadi tekanan dari aspek pembangunan, setelah dijalankan puluhan tahun di negara-negara berkembang, maka ditekankan pentingnya menjamin aspek keadilan, social justice. Karena ternyata ekonomi tumbuh, tetapi kesenjangan juga melebar. Oleh karena itulah, ada dua tekanan baru yang dulu secara universal, secara generik, pembangunan itu akhirnya bagaimana meningkatkan taraf hidup masyarakat dan mengurangi kemiskinan di antara mereka, maka sekarang dipersyaratkan untuk tidak merusak lingkungan dan juga peduli kepada kelompok-kelompok yang kurang beruntung atau yang saya sebut tadi social justice. Itulah, maka yang saya sampaikan tadi manifesto 2015 sebenarnya adalah mewadahi pikiran dan keinginan baru dari masyarakt sedunia ini. Itu tentang pembangunan.

Sesederhana itu, tetapi implementasinya saya kira sangat-sangat tidak mudah. Banyak negara yang gagal. Negara kita sendiri, kita sama-sama rasakan, banyak yang sudah kita capai, tapi banyak juga yang belum kita capai, memang tidak mudah melakukan pembangunan. Kita membangun sejak mendiang Bung Karno sampai sekarang. Tapi sekian puluh tahun tetap saja kita merasakan ini belum, itu belum dan seterusnya.

Sekarang masalah kemiskinan. Kemiskinan ini menarik dan sekali lagi, juga banyak teori, punya pandangan, banyak anjuran bagaimana mengurangi kemiskinan. Tapi kalau kita coba dekati dari pendekatan ekonomi, mengapa orang miskin? Kita datang ke kampung, ada satu-dua-tiga rumah yang sangat tidak layak, kita datang dan ternyata miskin, betul-betul miskin maksud saya, termasuk extreme poverty, kemiskinan yang ekstrim. Setelah saya dialog 10 menit-15 menit, ternyata ya tidak punya penghasilan. Kalau enggak punya penghasilan, bagaimana membeli kebutuhan hidupnya, beras, tidak ada. Mengapa enggak punya penghasilan? Ya enggak punya pekerjaan. Kalau ada pekerjaan sekedarnya sehingga penghasilannya sangat-sangat rendah. Mengapa tidak punya pekerjaan? Ya tidak tersedia lapangan pekerjaan untuk itu atau skill yang dipersyaratkan tidak dimiliki.

Jadi, itulah konsep ekonomi sebetulnya. Oleh karena itu, di banyak negara, langsung dijemput hulunya, bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya, bagaimana orang-seorang, itu dipersiapkan dirinya, baik melalui pendidikan ataupun kesehatannya agar bisa bekerja sesuai dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Maka job creation, itu jalan yang paling efektif untuk mengurangi kemiskinan.

Doktrin universal mengurangi kemiskinan, Saudara sudah berpidato berkali-kali, yaitu pemberdayaan. Janganlah dibikin tidak mandiri. Janganlah hanya disuapi. Janganlah dibikin dia tergantung dan tidak punya kreativitas atau semangat untuk memberdayakan dirinya sendiri. Teorinya banyak sekali. Banyak sekali dan saya setuju bahwa akhirnya memang pemberdayaan. Tetapi jangan latah dan jangan tidak dilihat dalam konteks waktu, konteks tempat, dan konteks the real situation, keadaannya seperti apa.

Misalnya, kemiskinan ekstrim, extreme poverty, the poorest of the poor, yang betul-betul miskin secara absolut. Kalau kita kuliahi ‘kan sudah tahu yang penting pemberdayaan. Saudara harus memberdayakan dirinya sendiri, misalnya. Saya pikir seminggu-dua minggu-tiga minggu, sebulan-dua bulan-tiga bulan, tidak akan ada perubahan. Tetapi yang kita jalankan, yang Saudara jalankan terhadap extreme poverty ini, kembalikan pada rumusan bank dunia. Orang yang miskin itu, karena dia tidak punya makanan. Kalau anaknya sakit tidak bisa berobat, tidak bisa menyekolahkan anaknya, karena enggak punya uang, tidak punya tempat tinggal, hidupnya hari ke hari, takut akan masa depannya, dan sebagainya. Itu extreme poverty.

Oleh karena itu, policy kita yang kita jalankan, yang Saudara jalankan, kita kurangi bebannya itu. Kita gratiskan sekolahnya bagi yang sangat miskin itu. Kita gratiskan berobatnya bagi yang sangat miskin itu. Kita kasih beras dengan harga yang lebih murah. Kita berikan bantuan sosial. Kalau mengalami musibah, kita berikan bantuan bagi yang terkena musibah bencana. Ada program-program klaster 1-2-3-4, yang intinya dia tidak punya apa-apa, sementara kita begitukan, seraya semua komunitas itu kita angkat dan kemudian mereka pada saatnya juga akan terangkat. Itu bagaimana kita menangani extreme poverty.

Jadi, dalam teori ekonomi, ada income, ada disposable income. Orang yang pas-pasan sekali, ya kita hemat uangnya itu hanya berapa ribu begitu, yang lainnya dibantu dulu oleh pemerintah agar bisa hidup. Jangan pakai layak dulu bisa hidup, setelah itu, hidup layak dan seterusnya. Ini pandangan sederhana saya tentang kemiskinan dan konsep pengurangan kemiskinan.

Menyangkut aspek global dan kerja sama internasional dalam Agenda Pembangunan Pasca 2015, ini penting Saudara-saudara. Dan nanti di Bali, kita tuan rumah, topiknya adalah aspek global dan kerja sama internasional dalam Post-2015 Development Agenda. Di Monrovia kemarin, topiknya adalah National Building Blocks, apa saja secara nasional. Di London, topiknya adalah permasalahan kemiskinan individual dan rumah tangga. Jadi, The Individual and The Household, itu kita bahas di London. Di Monrovia, itu National Building Blocks. Di Bali, insya Allah tanggal 25 sampai dengan 27 bulan depan, itu adalah International Cooperation atau Global Aspect of the Post-2015 Development Agenda.

Saya punya pandangan tolong didiskusikan, dilengkapi oleh Saudara-saudara. Doktrin negara maju ini, kalau sudah bicara pembangunan, sudah bicara negara berkembang atau apalagi the least developed countries, itu begini. “Saya akan bantu anda, dengan syarat. Syaratnya begini-begini-begini. Konsepnya helping and giving aid, saya bantu, ini saya kasih bantuan ini, konsepnya begitu. Ini berlaku hingga sekarang.” Kalau saya sebagai pemimpin negara berkembang meskipun saya juga aktif dalam forum G20 dan itu juga semua pemimpin negara maju ada di situ, mestinya harus diubah dari sekedar giving aids and helping, menjadi sharing and bringing fairness. Ini dunia ini harus aman, harus adil, harus damai, harus ya sejahtera bersama, lingkungannya harus aman. Kalau paru-paru dunia di Indonesia, di Amazon, di Kongo rusak, maka masyarakat dunia susah bernafas, kalau sadar seperti itu. Bukan, “Eh Indonesia, Brazil, Kongo bikin bagus hutan kalian, ganggu kita nanti kalau enggak.” misalnya begitu. Maka konsep ini sekali lagi, harus diubah menjadi sharing, berbagi, ini kepentingan bersama dunia ini. Kemudian bringing fairness, yang adilah, adil. Misalnya, apakah sudah adil tatanan perekonomian global sekarang ini. Kalau belum adil mau dibantu aid tadi itu enggak akan jalan, bukan itu yang diminta oleh negara-negara yang miskin, negara-negara berkembang.

Contoh, kalau saya bisa meneruskan yang harus diperbaiki pada tingkat dunia, trade, banyak yang ideologinya free trade. Kalau saya tambahkan free and fair trade. Bagaimana petani kita siang dan malam bekerja, kehujanan, kepanasan, begitu dijual hasilnya, harga jualnya rendah, penghasilannya kurang. Begitu diolah dalam trading system, dalam international economic order, justru yang menikmati hasil yang sananya, demikian juga tekstil kita, handicraft kita, semua. Oleh karena itu, free trade itu something, tapi fair trade itu yang menurut saya yang harus ada pada tingkat dunia.

Climate change, ya negara-negara yang dulu membabati hutan sekian ratus tahun lalu dan sekarang hanya menuding negara yang ekonomi kita masih pas-pasan. Hutan kita, hutan dunia sebetulnya, harus kita rawat. Oleh karena itulah, berbagilah, sharing.

Lantas teknologi. Kalau teknologi itu hanya dimonopoli dan dimiliki dan secara kaku, negara lain dihukum karena kita memang tidak punya kemampuan teknologi, maka akan pincang terus.

Financing, kalau yang dikasih finance itu adalah perusahaan-perusahaan besar, multinational corporations yang sudah luar biasa asetnya, kekayaannya dialirkan terus sumber-sumber keuangan global, tapi ekonomi mikro kecil, termasuk financial inclusions itu tidak dijalankan, ya bagaimana mungkin upaya pengurangan kemiskinan sejagat ini akan berhasil. Tolong didiskusikan sehingga nanti di Bali, kita bisa mendiskusikan lebih dalam lagi. Itu yang kedua.

Sedangkan yang ketiga atau yang terakhir, masalah format. Sejak saya menjadi Ketua Bersama Panel PBB ini, setiap kali saya bertemu dengan teman-teman, para presiden, perdana menteri di berbagai kesempatan selalu bilang begini. ”Eh, itu MDGs jangan diobrak-abrik loh, nanti bingung. Kita sudah 15 tahun menjalankan MDGs, tiap tahun kita ukur. Semua daerah menjalankan sasarannya, tujuannya. Tiba-tiba nanti 2012 ada yang sama sekali baru, itu akan kacau balau.” Saya dengarkan memang benar. Bayangkan tiba-tiba 2015 nanti itu ditinggalkan dikenalkan yang baru, yang completely new, saya pikir kita pun juga akan tidak siap.

Oleh karena itu, kemarin di Monrovia, saya sampaikan tiga opsi ke hadapan seluruh anggota panel. Opsi pertama ini adalah ya sudah delapan goals dalam MDGs itu saja kita jaga, goal number 1-2-3-4-5-6-7-8, itu saja. Masing-masing goal, kalau memang belum bagus atau ada yang harus kita tajamkan, kita tajamkan. Dengan demikian, tidak ada kebingungan karena memang sudah kita jalankan. Jadi, the existing goals itu kita pertahankan, delapan goals. Kalau dirasa isu lingkungan kurang, ya dibikin lebih tajam goal nomor 7. Kalau global cooperation atau global collaboration-nya kurang bagus, bikin tajam, bikin baik goal nomor 8, begitu. Itu opsi nomor 1.

Opsi nomor 2, saya pikirkan, ok delapan goal itu tetap, tambah, tambah satu, tambah dua terserah. Sembilan goals, sepuluh goals terserah, karena kemarin muncul juga, ini enggak diatur negara-negara di Afrika misalnya. Itu dari satu konflik ke konflik, dari satu peperangan ke peperangan, akibatnya tidak pernah berhenti menderita dan kemiskinan akan terus hidup selamanya. Oleh karena itu, tolong dunia harus addressing yang disebut dengan peace and security. Ada yang berpendapat seperti itu. Jadi, itu saya golongkan options number 2, delapan goals yang sudah ada ditambah.

Opsi nomor 3, ya format baru. Tapi saya di pertemuan Monrovia sudah menyampaikan. Saya pribadi selaku Co-Chair menyarankan untuk tidak memilih opsi nomor 3 ini. Lebih bagus kita pertimbangkan opsi nomor 1 atau opsi nomor 2. Tapi sekali lagi, saya ’kan hanya salah satu, nanti masih ada anggota panel yang lain. Kita ingin dengar pendapatnya seperti apa. Dan ingat, Saudara-saudara, pertemuan bulan depan di Bali adalah pertemuan yang terakhir, sebelum kita wrap-up, susun, kemudian kita serahkan pada Perserikatan Bangsa-Bangsa pada bulan Mei tahun ini. Dengan demikian, harus tuntas di Bali nanti. Dan setelah Bali, saya sudah mengusulkan ada tim kecil, tim perumus, bukan tim penjerumus, tim perumus ini yang bekerja kasih waktu sebulan, setelah itu bulan Mei baru kita serahkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sebab begini, pengalaman, nanti kalau semua merumuskan nanti enggak jadi-jadi lagi. Ya sudah, tim kecil saja, kasih mandat. Mungkin saya menugasi satu-dua orang, David Cameron satu-dua orang, Johnson Sirleaf satu-dua orang, Ban Ki-moon satu-dua orang, duduk. Itu. Itu, saya kira lebih cepat dibandingkan semua ikut mengeroyok, begitu.

Saudara-saudara,
Hanya itu yang ingin saya sampaikan, karena sebetulnya itulah konsultasi ini diadakan. Saya sungguh berharap, para pelaku, para gubernur, bupati, wali kota, pimpinan DPRD yang bergelut dengan urusan ini berbagilah pengalaman dan pengetahuan, demikian juga para pakar, pimpinan universitas berbagi pula pengetahuan, landasan teori, pengamatan atau studi atas perluasan pembangunan di banyak negara, di banyak daerah. Para pimpinan organisasi nonpemerintah, lembaga swadaya masyarakat berkontribusilah dari segi civil society. Karena saya kira sering bersentuhan dengan rakyat, tentu ada gunanya untuk dikontribusikan dan ya kita semua.

Ada dua special envoy saya, Ibu Nila Moeloek, special envoy tentang MDGs. Pak Dillon special envoy tentang poverty reduction. Saya kira domain beliau berdua. Silakan juga bicara. Dua hari memang tidak terlalu lama, tetapi kalau bicaranya to the point yang semua orang sudah tahu enggak usah diomongkan, langsung saja ini pandangannya ini, pandangannya itu. Saya kira itu lebih cepat nanti.

Saya kira begitu, Saudara-Saudara. Sekali lagi, terima kasih. Karena ada gong, saya akan memukul lima kali mengingatkan jangan lupa pada Pancasila. Itu jiwa kita, ruh kita, ideologi kita. Bangsa ini ada karena Pancasila dan harus ada selamanya karena kita ingin negara kita juga hidup selamanya.

Dengan semuanya itu, sambil memohon ridho Allah SWT dan mengucapkan Bismilahirahmanirrahiim, Konsultasin Nasional untuk Membahas Agenda Pembangunan Pasca-2015 dengan resmi saya buka.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden