Pidato Presiden

Pengantar Rapat Kabinet Terbatas Bahas Situasi di Papua

 

TRANSKRIP
PENGANTAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
RAPAT KABINET TERBATAS
KANTOR PRESIDEN, JAKARTA
22 FEBRUARI 2013




Bismillahirrahmanirrahim,

Saudara Wakil Presiden dan Peserta Rapat Kabinet Terbatas yang saya cintai,

Pertama-tama, Rapat Kabinet Terbatas ini tidak kita rancang untuk kita laksanakan hari ini. Tetapi, karena ada perkembangan dan dinamika situasi di Papua, utamanya situasi keamanan di Papua, maka saya undang Saudara untuk menghadiri Rapat Kabinet Terbatas ini.

Namun sebelumnya, barangkali ada pertanyaan pers. Kunjungan dua hari saya ke Jawa Tengah saya lakukan sejumlah perubahan.

Pertama, mestinya siang dan sore hari ini, saya melakukan kunjungan dan sekaligus sidak di daerah Cikampek. Kegiatan yang telah dirancang, antara lain, adalah dialog dengan para petani sekaligus kegiatan panen padi dan tanam padi di sebuah lokasi persawahan. Kemudian, di luar yang direncanakan, saya ingin sebenarnya mengunjungi pasar lokal untuk melihat harga-harga sembako, utamanya harga daging sapi yang oleh banyak konsumen dikatakan mengalami kenaikan yang cukup signifikan, dan sejumlah bahan pangan yang lain. Saya juga berencana untuk meninjau bangunan atau fasilitas sekolah dasar di wilayah itu. Namun, kegiatan itu saya batalkan karena saya diberitahu bahwa hari ini, di Jawa Barat, adalah disebut hari tenang atau minggu tenang berkaitan dengan pemilihan gubernur dan wakil gubernur yang insya Allah akan dilaksanakan lusa, pada hari Minggu.

Saya tidak ingin kegiatan saya, meskipun tidak ada hubungannya dengan pemilu kepala daerah, pemilihan gubernur dan wakil gubernur, tapi saya menghormati KPU dan KPUD, demikian juga jajaran Bawaslu, dan kandidat gubernur dan wakil gubernur sendiri. Saya khawatir kalau kehadiran saya bisa dimanipulasi ataupun digoreng ke sana-kemari sehingga tidak membawa kebaikan. Saya patuh dan taat kepada aturan KPU dan Bawaslu, dan tidak ingin melakukan kegiatan yang bisa ditafsirkan sebagai mempengaruhi pemilihan gubernur dan wakil gubernur di Jawa Barat. Jadi, saya putuskan kemarin di Pemalang untuk membatalkan acara hari ini di Cikampek, Jawa Barat, dan akan saya lakukan nanti setelah pemilihan gubernur dan wakil gubernur selesai.

Yang kedua, sebenarnya, Saudara Wapres, saya, karena menggunakan kereta api, berencana untuk agak lebih siang berangkat dari Pemalang, yang saya tempuh selama 4,5 jam. Tetapi sekali lagi, karena ada perkembangan situasi di Papua, saya putuskan untuk berangkat lebih cepat. Dan tadi malam, saya sudah berkomunikasi tentunya baik dengan Menko Polhukam dan Panglima TNI. Saya juga sudah bicara dengan Kapolri.

Hari ini, saya ingin mendengarkan laporan perkembangan. Itu yang pertama. Yang kedua, apa yang sudah dan sedang dilakukan oleh kita, baik pusat maupun daerah. Dan yang ketiga, apa yang akan dilakukan. Saya juga ingin mendengarkan secara lebih rinci dari Panglima TNI tentang kejadian gugurnya delapan orang prajurit TNI. Saya ingin tahu persis apa yang terjadi.

Saudara-saudara,
Terus terang, kejadian seperti ini sangat tidak kita harapkan. Ini mengganggu upaya kita untuk menjaga situasi keamanan di Papua karena rakyat tahu, saudara-saudara kita di Papua juga tahu bahwa pemerintah ini memprioritaskan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan untuk saudara kita di Papua. Itu nyata, baik dengan kebijakan dan program aksi, termasuk alokasi dan distribusi anggaran, termasuk sejumlah langkah agar taraf hidup saudara-saudara kita di Papua terus dapat kita tingkatkan dari masa ke masa. Pendekatan di era dulu yang lebih banyak bersifat security approach telah kita ubah sebenarnya menjadi prosperity approach. Itu utamanya.

Tetapi tentu, kedaulatan negara harus dijaga. Keutuhan teritorial mesti dipertahankan. Demikian juga situasi sosial dan keamanan, juga perlu dijaga untuk melindungi rakyat kita dan hukum harus ditegakkan. Oleh karena itu, sungguhpun Indonesia mengutamakan pendekatan kesejahteraan, ekonomi, dan sosial untuk Papua ini, dan itu menjadi pilihan kita, tetapi tentu tidak mungkin dibiarkan gangguan keamanan seperti yang terjadi selama ini, termasuk kejadian kemarin di mana delapan prajurit TNI gugur.

Saya sudah menginstrusikan. Indonesia perlu tahu dan dunia perlu tahu bahwa prajurit TNI dan Polri di Papua menjalankan tugas, tugas negara: menjaga kedaulatan, mempertahankan keutuhan wilayah, sekaligus menjaga keamanan dan memproteksi rakyat kita. Sudah sangat jelas bahwa, di dalam menjalankan tugas, jajaran TNI dan Polri mesti sungguh menghormati hukum dan aturan yang berlaku, menghormati hak-hak asasi manusia. Dan manakala ada yang eksesif, yang melebihi kepatutannya, tentu mereka akan mendapatkan sanksi.

Namun, sekali lagi, hal begini sangat menganggu. Oleh karena itu, negara harus mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat. Saya ulangi lagi, cepat dan tepat. Itulah yang hendak kita lakukan, dan Rapat Kabinet Terbatas hari ini akan menentukan langkah berikutnya lagi setelah saya nanti mendengarkan laporan yang lebih rinci, lebih lengkap dari Menko Polhukam, Panglima TNI, dan para pejabat terkait.

Demikian, Saudara-saudara, pengantar saya. Dan nanti, di akhir Rapat Terbatas ini, akan diberikan penjelasan kepada Saudara untuk disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Terima kasih.


*****


Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden