Arsip Sudut Istana

« Juni 2007 »
M S S R K J S
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Serba-Serbi

"Merdeka!" Dan Istana Gambir pun Menjadi Istana Merdeka

Istana Merdeka yang dulu bernama Istana Gambir. Gambar menunjukkan Istana Merdeka yang masih asli, ketika menjadi tempat tinggal Gubernur Jenderal Belanda. (foto: istimewa)
Istana Merdeka yang dulu bernama Istana Gambir. Gambar menunjukkan Istana Merdeka yang masih asli, ketika menjadi tempat tinggal Gubernur Jenderal Belanda. (foto: istimewa)
Renovasi Istana Merdeka yang dilakukan setahun belakangan ini sudah selesai. Dulu, begitu dilantik sebagai Presiden, SBY dan keluarga tinggal di sni, sebelum akhirnya pindah ke Istana Negara, yang menghadap jalan Veteran, pada 8 Juni 2006. Maklum, saat itu kondisi Istana yang menghadap Monas itu mengkhawatirkan dan tidak aman untuk ditinggali.

Boleh jadi, Istana Merdeka adalah Istana yang paling diingat masyarakat di antara enam Istana Kepresidenan yang lain. Meskipun bukan Istana yang paling tua, paling megah, atau paling indah, Istana Merdeka mendapat tempat khusus di hati rakyat. Mungkin karena bernama "Merdeka", perlambang kemenangan perjuangan bangsa. Nama "Merdeka" itu sendiri menandai berakhirnya penjajah Belanda di Indonesia dan mulainya pemerintahan baru oleh bangsa Indonesia. Bekas tempat tinggal Gubernur Jenderal Belanda ini semula bernama Istana Gambir karena terletak di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Pemberian nama itu mempunyai latar sejarah tersendiri. Pada 27 Desember 1949, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Acaranya berlangsung di dua tempat, yaitu di Istana Gambir, Jakarta, dan Istana Dam, Amsterdam Belanda. Di Istana Gambir, Wakil Tertinggi Mahkota Belanda A.H.J. Lovink melakukan upacara itu di hadapan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia dalam upacara pengakuan kedaulatan Indonesia tersebut.

Karena perbedaan waktu antara Amsterdam dan Jakarta, upacara di Istana Gambir dimulai menjelang senja. Matahari sudah hampir terbenam ketika lagu kebangsaan Belanda,Wilhelmus, berkumandang mengiringi bendera Merah–Putih–Biru untuk terakhir kalinya merayap turun dari puncak tiangnya. Masyarakat yang berkumpul di luar halaman Istana Gambir bersorak menyaksikan turunnya bendera tiga warna itu. Sorak-sorai kian gemuruh setelah kemudian lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan mengantar bendera Merah-Putih ke puncak tiang. ”Merdeka! Merdeka! Hidup Indonesia!" begitu pekik massa yang memadati acara tersebut.

Sementara di Troonzaal (Bangsal Singgasana) Istana Dam, Amsterdam, Ratu Juliana menandatangani naskah pengakuan kedaulatan itu dan menyerahkannya kepada Perdana Menteri Republik Indonesia Mohammad Hatta yang memimpin Delegasi RI dalam perundingan itu. Untuk pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan di Istana Dam. Kobaran pekik ”merdeka” pada senja bersejarah itulah yang kemudian menggerakkan Bung Karno untuk mengubah nama Istana Gambir menjadi Istana Merdeka.

Soekarno menjadi Presiden pertama yang tinggal di Istana Merdeka bersama keluarganya setelah kedaulatan Indonesia diakui Belanda pada akhir 1949. Setelah itu, Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menempati Istana Merdeka sebagai kediaman resmi mereka bersama keluarganya. Sedangkan mantan Soeharto, BJ Habibie, dan Megawati Soekarnoputri memilih tinggal di luar istana. (osa)