Sudut Istana
Selasa, 30 Maret 2010
Lukisan "Persiapan Gerilya"
Lukisan "Persiapan Gerilya" karya Dullah. (foto: istimewa)
Untaian sejarah ini, tidak hanya bisa didapat dari pelajaran-pelajaran disekolah, tapi juga dari berbagai jenis karya seni. Bisa itu berupa cerita rakyat ataupun lukisan-lukisan yang mengguratkan nilai sejarah perjuangan masa lalu. Karya-karya seni ini biasanya tersusun apik di museum-museum ataupun di galeri-galeri seni.
Salah satu tokoh negara yang sangat mengagumi berbagai benda seni yang berbau sejarah adalah Bung Karno, mantan Presiden RI pertama sekaligus seorang pencinta seni yang memiliki kepekaan selera seni yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari berbagai benda seni yang beliau koleksi. Benda-benda seni itu kini terpampang indah di Sanggar Seni Istana. Koleksi-koleksi benda seni Istana Kepresidenan ini diperoleh melalui 2 sumber. Pertama melalui penerimaan cinderamata baik nasional maupun internasional yang diterima pada saat kunjungan kenegaraan. Dan, kedua melalui pembelian.
Salah satu koleksinya adalah lukisan karya Dullah yang berjudul “Persiapan Gerilya.” Lukisan yang menggetarkan rasa ini berukuran 178 x 197 cm dan termasuk dalam kategori seni lukis berukuran besar. Lukisan ini tergolong kedalam lukisan dokumentasi karena menurut yang dikisahkan sang pelukis, Dullah, lukisan ini terinspirasi dari peristiwa faktual yang dia alami dan ia rasakan.
Lukisan ini menceritakan tentang belasan orang yang bersembunyi di balik bukit batu sembari sibuk mempersiapkan penyerangan mendadak ke pos-pos tentara penjajah. Ditambah dengan komposisi warna yang tepat, lukisan ini tampak lebih hidup. Diantara mereka, terlihat ada yang menggotong kotak mesiu, ada yang sedang menghitung peluru untuk senjatanya, dan ada juga yang sedang meneguk air dari kendi. Wajah-wajah mereka kelihatan bimbang dan ragu. Namun gurat kelelahan tidak tampak di wajah mereka. Semangat dan jiwa patriotik yang gagah beranilah yang tampak sangat dominan.
Tentu, ketika kita melihat lukisan ini, jiwa patriotik kita akan tergetar dan kembali pada masa perang kemerdekaan khususnya yang dipimpin Jenderal Soedirman dengan taktik gerilyanya. Beliau yang kala itu terserang TBC akut dan paru-paru yang hanya tinggal sebelah, dengan para tentara berjuang dengan penuh jiwa raga untuk merebut kemerdekaan dari tangan Belanda karena saat itu Presiden dan Perdana Menteri telah ditangkap Belanda dalam Agresi Militer. Itu semua dilakukan demi kita anak cucu mereka. Mungkin inilah peristiwa faktual yang menjadi inspirasi sang pelukis untuk menciptakan lukisan ini. (yun)



