Arsip

« Juli 2005 »
M S S R K J S
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      

Wawancara

Dialog Presiden RI dengan Masyarakat Indonesia di RRC

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN MASYARAKAT INDONESIA DI RRC
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA
DIAOYUTAI STATE GUEST HOUSE, BEIJING
TANGGAL 27 JULI 2005



Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera,

Marilah pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kita dapat bertemu di ruangan ini untuk bertatap muka dan berdialog, dan semoga kita semua berada dalam keadaan sehat wal’afiat.

Ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, adalah tujuan dan agenda kunjungan kenegaraan saya ke Republik Rakyat Tiongkok. Yang kedua, adalah hal-hal yang menonjol, perkembangan atau dinamika yang terjadi di tanah air kita Indonesia, dan yang ketiga, nanti tentu saya akan memberikan kesempatan bagi Saudara yang akan menyampaikan sesuatu kepada saya atau kepada para menteri dan pejabat yang datang dari Jakarta.

Namun demikian, ada pepatah, “datang tampak muka, pergi tampak punggung”, karena itu saya akan memperkenalkan, banyak sekali yang hadir dari Jakarta juga dan semua adalah tokoh-tokoh penting yang bisa memajukan negara kita, yang bisa meningkatkan persahabatan dan kerjasama Indonesia dengan Tiongkok di waktu yang akan datang. Tapi saya akan mengenalkan semua yang ada di sini.

Paling kiri adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Saudara Aburizal Bakrie. Sebelah kanan beliau adalah Menteri Keuangan, Saudara Yusuf Anwar. Sebelah kanan Pak Yusuf Anwar adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara, Saudara Subianto, Sekretaris Kabinet, Saudara Sudi Silalahi, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah, Saudara Erman Gusman, di Indonesia sekarang ada semacam dua kamar, satu DPR, yang kedua DPD, kedua-duanya atau anggota DPR dan DPD, make up atau menjadi satu yang kita sebut dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Ini amandemen dari konstitusi kita, ini pembaharuan dari tata kenegaraan yang berlangsung di Indonesia sekarang ini. Sebelah kanan beliau adalah Saudara Hapy Bone Zulkarnaen dari DPR RI, Saudara Barsah Zarnubi dari DPR RI, Saudara Apri Iskandar dari DPR RI, ada tiga anggota parlemen kita dan satu anggota DPD. Kalau di luar negeri satu senator dan tiga congress man, begitu. Sebelah kanan beliau Saudara Muhammad Lutfi, Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal, penting.

Dari sana, langsung saja Komandan Pasukan Pengamanan Presiden, Mayor Jendral Marinir Agung Widjayadi, berikutnya Direktur Utama Garuda, ini penting, Saudara Erwinsyah, kita doakan Garuda tumbuh, jangan rugi terus. Saya tahu Pak Erwin bekerja keras dan kepada saya memiliki komitmen untuk tahun demi tahun bangkit kembali dan insya Allah menjadi maskapai penerbangan yang dapat kita andalkan. Sebelah kiri beliau adalah salah satu pimpinan KNPI, Saudara Nicholas Uskono, setiap saya berkunjung ke luar negeri selalu bersama-sama dengan anggota DPR, DPD dan unsur generasi muda dan KADIN, ini penting sekali, sebab tidak ada kemajuan ekonomi, kemakmuran suatu bangsa tanpa paduan yang baik, antara pemerintah dengan dunia usaha.

Sebelah kiri beliau Rektor Institut Surabaya, Bapak Muhammad Nuh, sebelah kiri beliau Rektor Institut Teknologi Bandung, Bapak Saudara Djoko Santoso. Mengapa kedua Beliau saya ajak, kita insya Allah akan membangun research centre di Indonesia, IT, Information Technologi Research Centre yang pada bulan yang lalu saya datang langsung ke Seattle, head quarter dari Microsoft dan saya bertemu langsung dengan Bill Gate dan alhamdulilah, Bill Gate memiliki komitmen untuk ikut mengembangkan IT dan ICP di tanah air. Sedang kita persiapkan, sehingga generasi adik-adik dan anak-anak ini, twenty years from now, Indonesia akan berubah, kita punya competitive advantage. Kami yang tua-tua menanam, yang muda-muda memetik buahnya dan pertanggungjawabkan buah itu untuk memakmurkan rakyat Indonesia kelak dikemudian hari.

Sebelah kiri beliau adalah Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, KADIN, Saudara Muhammad Hidayat. Sebelah kiri adalah Dirjen Protokol atau Kepala Protokol Negara, Bapak Djoko Hardono, calon dubes kita di Kanada. Sebelah kiri Sekretaris Militer Presiden, Bapak Bambang Sutedjo, sebelah kiri yang sangat penting di Indonesia, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Saudara Taufiqurrahman. Kalau Indonesia mau bangkit, mau maju, mau makmur, berhentilah praktek korupsi di Indonesia, kita melihat ke depan.

Direction saya kepada jajaran pemerintah, beliau bukan pemerintah, tetapi kami punya forum koordinasi dan konsultasi, direction saya melihat ke depan, yang harus ditindak tegas itu fighting corruption, sekarang masih korupsi, kebangetan, tindak dengan tegas. Yang kedua adalah yang saya minta ditangani KPK dan Tipikor dan lain-lain adalah koruptor kelas kakap, yang tidak punya beban apa-apa mengkorupsi uang rakyat ratusan m, triliun, dan sebagainya. Yang ketiga adalah mereka dijatuhi hukuman, dinyatakan bersalah tidak mau mengembalikan itu harus mengembalikan. Tapi yang lebih penting mari kita cegah Indonesia ke depan ini untuk tidak menjadi lautan korupsi. Kita mulai dari keras putih. Saya mengatakan kalau ada orang businessman atau bahkan seorang menteri atau seorang jendral, bagi saya ini kertas putih saya kasihkan, saya minta ini kertas-kertas putih, saya tidak peduli masa lalu Saudara, tapi kertas-kertas putih ini ada corengan-corengan, disamping saya tindak corengan-corengan itu, saya tidak lihat siapa Saudara sebelumnya, ini fair. Karena kalau kita melihat ke belakang terus kita tidak bisa maju dengan baik, tetapi dengan catatan from now on sejak sekarang ini kita hidup baik, kita pegang etika dan kita bekerjasama untuk membangun negeri ini.

Kemudian di belakang ada dua ajudan saya, Kolonel Polisi Didit, Kolonel Munir dan Komisaris Polisi Apri. Banyak yang ada di sini, ada pimpinan redaksi media massa, direktur utama, pengusaha-pengusaha terkenal, cendekiawan-cendekiawan, tetapi kalau saya kenalkan semua, saya kira habis nanti. Beliau-beliau adalah bukan sekedar rombongan biasa, beliau adalah duta-duta kita yang insya Allah akan meningkatkan kerjasama kita dengan Republik Rakyat Tiongkok.

Bapak Duta Besar dan Hadirin sekalian yang saya hormati,
Saya katakan dua hal tadi, yang pertama, disamping kunjungan balasan Presiden Hu Jin Tao pada bulan April yang lalu ke Indonesia, juga untuk mengimplementasikan apa yang telah kami deklarasikan secara bersama antara Indonesia dengan Cina, yang kita sebut dengan Deklarasi Bersama untuk Membentuk Kemitraan Strategis, Strategic Partnership, tonggak baru dalam hubungan kita, hubungan Indonesia dengan Tiongkok. Dengan tonggak baru ini, dengan umbrella kemitraan strategis, kita berharap hubungan kita makin erat, makin luas dan makin dalam. Kalau itu terjadi maka kita menjadi bangsa yang cerdas, semua orang tahu bahwa Tiongkok tumbuh menjadi bukan hanya raksasa, someday will come be real super power, konon setelah nanti melampui Jerman GDPnya, melampaui Jepang, dan katanya nih, prediksi, ya 2050 bisa melampaui Amerika Serikat.

GDP China sekarang satu triliun US dollar, lima kali lipat GDP kita. Sekarang 200 triliun GDP kita. Sepersepuluh GDP Amerika Serikat, karena Amerika Serikat sepuluh triliun. Dengan market seperti ini, dengan kapital seperti ini, dengan teknologi seperti ini, paling baik mari bersahabat dengan Cina, persahabatan seperti ini pasti menguntungkan kedua negara. Bangsa yang cerdas dalam era globalisasi sekarang ini, adalah bangsa termasuk Indonesia, policy kita, strategi kita untuk ikut mengalirkan sumber-sumber kemakmuran dari negara lain. Capital, capital dalam arti luas financial, tecnologi, knowledge, management, apapun. Kalau itu terjadi, maka negara kita akan tumbuh, tapi pertumbuhan itu di atas jati diri kita, nilai-nilai kita, konstitusi kita dan hak politik kita yang tetap bebas dan aktif.

Jadi tidak ada yang kita korbankan dari segi kehormatan dan kedaulatan kita. Tapi dalam era globalisasi, kita cerdas untuk bersahabat. Bangsa yang merugi adalah yang melihat semuanya sebagai lawan. Kalau kita melihat negara lain lawan, ya lawan betul, karena pikirannya 24 jam, siang dan malam, bagaimana memusuhi, bagaimana tidak mau bersahabat dengan negara itu. Jika kita dan Cina sahabat, partner strategis dan juga negara-negara lain begitu, pikiran kita bagaimana persahabatan ini membuahkan hasil untuk kepentingan negara kita sendiri, dan untuk kepentingan sahabat-sahabat kita. Dalam konteks itulah, maka kunjungan tiga hari kami di sini. Sudah menetapkan sejumlah agenda konkret, jelas yang kira-kira akan diimplementasikan dalam satu, dua, tiga, empat tahun ke depan. Kalau itu terimplementasi semua Cina ke Indonesia, di bidang infrastruktur misalnya, di bidang energi, di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, disamping perdagangan, akan menguntungkan Indonesia dan tentunya Cina sendiri. Belum kerjasama lain-lain yang juga kita galakkan ke depan, dimulai dari Presiden Hu Jin Tao.

Saya bertemu Beliau dua kali, pertama kali, di Chili, yang kedua di Konferensi Asia Afrika. Prime Minister Wen Jia Bao, dua kali, pertama kali di Laos, kedua di Jakarta. Kami sudah berbicara dengan kedua pemimpin ini, bagaimana ke depan kemitraan strategis bisa kita wujudkan dengan baik. Kemudian perdagangan, perdagangan dengan Cina tumbuh luar biasa. Tahun lalu itu nilainya delapan miliar dollar, Indonesia mengekspor kurang lebih 4,6 miliar, kita mengimpor kurang lebih 4,1 miliar. Bulan Januari-Februari tahun ini, this year, volume perdagangan kita naik 47% dalam waktu hanya dua bulan.

Jika kita pandai menggunakan opportunity ini, momentum ini, saya yakin komitmen Presiden Hu Jin Tao dan komitmen saya ketika kita ketemu di Jakarta, agar 2008 nilai perdagangan kita mencapai 20 miliar US dollar bisa kita capai. Kalau itu tercapai, kita akan meningkatkan lapangan kerja, job creation. Kita akan bisa menggerakkan sektor riil, untuk job creation juga. Pajak akan masuk lebih banyak, pertumbuhan investasi, pertumbuhan ekonomi, economic growth. Kalau terjadi, maka kita bisa memiliki kekuatan baru, meningkatkan pendidikan, kesehatan, daya beli rakyat, meningkatkan kemiskinan, dan lain-lain. Itulah konteks utuh hubungan kita dengan Cina yang strategis sifatnya, for the benefit of both, China dan Indonesia, dan demikian juga dengan negara-negara.

Saya sudah berkunjung ke Amerika Serikat, ke Jepang, ke Vietnam, ke Singapura, ke Malaysia, ke Australia, Selandia Baru, Timor Leste, Filipina dan tentu akan berkunjung lagi, saya ingin konkret memelihara persahabatan, tetapi more than that harus ada achievement, harus ada hasil yang bisa kita nikmati untuk kemakmuran kita, pembangunan kita, kesejahteraan kita.
Oleh karena itu, di pesawat tadi, sepanjang perjalanan, saya ngobrol-ngobrol sama beliau-beliau, kita harus membentuk yang kita sebut dengan Indonesia in corporated, semua bersatu, pemerintahnya, eksekutifnya, legislatifnya, yudikatifnya, businessman, semua bersatu, untuk kepentingan bangsa dan negara. Jangan kita menjadi bangsa yang merugi, hanya ribut ke dalam, tapi tidak kita gunakan bagaimana kita melangkah bersama untuk kepentingan negara kita. Dan tentunya nanti akan saya jelaskan pada tanggal 29, saya kira di Shenzhen, saya akan berikan kepada pers Indonesia semua hasil yang kita capai dalam kunjungan ini. Tapi saya optimis bahwa ini tonggak penting. Kita bukan hanya bicara komitmen, bukan hanya bicara agenda, tapi action plan. Sebagai contoh, akan ada kerjasama membangun batubara untuk listrik dialirkan ke Jawa dari Sumatera Selatan. Ada kerjasama membangun double track dari Tanjung Enim ke Tanjung Api-api, ke Pelabuhan. Ada kerjasama di Tanjung Jati dan lain-lain. Itu jelas investment-nya berapa, berapa bilyun. Time frame-nya berapa lama, tiga tahunkah? Empat tahunkah? Financing-nya, pembiayaannya siapa? Kontrol kita seperti apa dan sebagainya? Jadi satu action plan yang konkret, tinggal kita yakinkan bahwa action plan itu menjadi real action yang bisa kita ukur kemajuannya, yang bisa kita nikmati hasilnya.

Itulah saudara-saudara yang bagian pertama. Bagian kedua laporan saya kepada rakyat Indonesia, termasuk yang ada di ruangan ini, tahun 2005, tahun yang berat bagi bangsa kita, tsunami tidak pernah terjadi sepanjang sejarah negara kita. Dunia juga mengatakan sangat besar korban tsunami, alhamdulilah bangsa kita bersatu, apapun sukunya, agamanya, rasnya, semua bersatu membantu daerah bencana baik itu di Aceh, di Nias, di Nabire dan di Alor, dunia juga membantu tsunami. Yang kedua, yang kita hadapi BBM, luar biasa, tidak pernah dalam sejarah dunia perminyakkan, termasuk secara nasional, harga minyak mentah, cruel oil itu segitu dollar per barel, memukul ekonomi kita, memukul APBN kita. Yang ketiga, ada wabah susulan yang kita sebut dengan avian flu atau flu burung.

Kemudian ada lagi muncul, bukan muncul, adanya kembali kekurangan gizi dan busung lapar. Itu semua datang, disamping masalah-masalah yang dulu juga belum kita pecahkan secara tuntas. Inilah yang datang di negara kita, anggaplah ini ujian, cobaan, tantangan. Kita tidak boleh menyerah, kita tidak boleh putus asa, kita tidak boleh berhenti mencari akal bagaimana memecahkan masalah-masalah itu. Alhamdulilah, meskipun kompleks, banyak, berat tantangan yang kita hadapi, tapi tanda-tanda untuk kita mulai bangkit kembali nyata, artinya apa? Dengan begitu banyak persoalan saja, pertumbuhan ekonomi, kuartal kemarin 6,4%, sama dengan pertumbuhan krisis 1998, waktu krisis turun minus, mulai dari Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, dibawa pelan-pelan, tahun lalu itu mencapai 5,1%. Harapan kita tahun ini, 5,5%, kemarin mencapai 6,4%, alhamdulilah.

Kalau tidak ada musibah, BBM, sebenarnya tren ini bagus, more opportunity. Luar negeri mulai melihat kembali ke Indonesia, tentu masih di tunggu apakah reformasi jalan terus, berjalan betul, efisien, dan lain-lain. Tapi yang ingin saya katakan adalah, meskipun kompleks persoalan kita, ternyata satu persatu dapat kita atasi. Yang pertama, tsunami, sekarang tinggal masuk tahap rekonstruksi dan rehabilitasi membangun kembali Aceh dan daerah bencana lainnya Nias, Nabire dan Alor. Yang kedua, BBM, BBM ini, berapa harganya sekarang di dunia, ya, sekitar 60, 62 dolar. Dulu jaman Orde Baru, jaman Pak Harto, itu produksi minyak kita besar 1,4 juta barel perhari. Tahun-tahun belakangan susut, susut, susut, susut, tahun ini kira-kira hanya 1,1 juta.

Dulu kita mengekspor betul. Sekarang tahun-tahun belakang ini, ya kita mengimpor, yang kita impor ya minyak mentah, termasuk BBM. Ketika harganya naik luar biasa, impor kita juga berat sekali, baik minyak mentah ataupun BBM. Ketika produksinya menurun harganya naik, tiba-tiba produksi dalam negeri melonjak dengan cepat, mengapa? Industri tumbuh bagus karena hasil pembangunan, kendaraan tiap tahun, kendaraan roda empat 30%-an, kemudian roda dua itu bisa mencapai 40%-an, data terakhir itu. Artinya kebutuhan konsumsi BBM besar sekali, tapi harganya begitu, kilang kita belum cukup akibatnya memukul banyak hal.

Pertama, karena kita masih mensubsidi sebagian besar, terutama minyak tanah, premium, solar dan minyak disel, maka yang kita keluarkan tahun ini saja bisa mencapai 120 triliun. Tidak pernah dalam sejarah kita mensubsidi dalam APBN kita menjadi sekitar 25%, bahkan bisa mencapai 30% dari total APBN kita, 500 triliun. Artinya apa, kalau habis untuk mensubsidi, maka alokasi anggaran untuk pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan lain-lain itu menjadi kurang. Jadi kesimpulannya tidak boleh terlalu besar subsidi kita kelola. Kemudian juga, dengan harga yang kita subsidi, terjadi disparitas dengan luar negeri, penyelundup ke luar masih ada, ada disparitas antar komoditas, dioplos, minyak tanah dioplos untuk diambil yang lain begitu, dan lain-lain. Inilah yang kita hadapi, ada shortage, kelangkaan kemarin.

Oleh karena itu Pak Duta Besar, mengapa kunjungan saya, saya tunda, harusnya kan tanggal 13, baru hari ini, saya tidak ingin meninggalkan tanah air ketika masih ada kelangkaan. Saya turun ke banyak daerah di luar Jawa, dan saya tantang Pertamina dan Menteri SDM, saya ingin akhir Juli sudah selesai, dan satu saat saya berkunjung ke Cina. Alhamdulilah sejak tanggal 25 sudah bisa teratasi. Kalau ada antrian satu, dua tempat, tidak ada krisis BBM pun antrian, karena distribusi dulu begitu.

Yang kita kembangkan sekarang, kalau dengar-dengar di koran dengan banyak tanggapan yang macam-macam, tapi nggak apa-apa itu demokrasi, begitu, yang akan kita kembangkan jangka pendek, yang penting kelangkaan diatasi. Alhamdulilah sudah teratasi, tapi jangka menengah dan jangka panjang kita harus memiliki kebijakan subsidi dan kebijakan harga yang tepat, kita pikirkan bersama nanti. Yang kedua, bangsa Indonesia tidak boleh boros energi, dibandingkan negara-negara lain, Indonesia termasuk yang boros, nggak baik hidup boros itu, kurang hemat, kurang menabung. Oleh karena itu , saya serukan untuk penghematan sekarang, penghematan itu bukan untuk menggangu ekonomi, tidak, siang hari yang listrik nggak harus menyala, mengapa nyala? AC harus dimatikan, orangnya nggak ada, kenapa masih nyala? Dan lain-lain, tanpa mengganggu aktifitas ekonomi. Dengan penghematan itu, BBM dan listrik kita menyelamatkan PLN saja dua puluh dua milyar seminggu, belum yang lain-lain. Penghematan harus menjadi way of live, budaya kita.

Yang keempat, adalah diversifikasi, nantinya nggak boleh hanya fosil, hanya harus kita kembangkan batubara, gas, geothermal, soria, briket, batubara, dan lain-lain. Sekarang tidak bisa berkembang, karena harga BBM harus kita subsidi, satu saat kalau sudah mulai lunak policy-nya itu, entah kapan, berapa itu, akan berkembang semuanya sehingga tidak habis. Minyak kita itu tinggal 15 tahun kalau tidak ada penemuan baru, gas kita tinggal 60 tahun kalau tidak ada penemuan baru, batubara kita masih 150 tahun. Kalau saya atau kami egois, yang tua-tua, sudah habis-habisan, tapi anak-anak dapat apa, adik-adik dapat apa? Kita tidak boleh egois, kita berpikir lima, 10, 15 tahun, 100 tahun ke depan, untuk anak cucu kita. Inilah policy, diversifikasi, policy konservasi.

Kemudian yang terakhir, kita lakukan pemberantasan kejahatan dengan tegas, saya sudah panggil Jaksa Agung, Kapolri, Kasal, yang mengurusi penyelundupan. Kalau ada menyelundup lagi ratusan ribu ton, angkat. Kalau ada kongkalikong dengan siapa petugas di situ, angkat semua. Menyakitkan, memprihatinkan, kita sedang menghadapi seperti ini, pemerintah tidak tidur, bukan solusi, rakyat menghadapi kelangkaan, kok ada yang tega seperti itu, untuk keuntungan pribadi. Saya minta tidak ada yang kebal terhadap kejahatan penyelundupan BBM siapa saja.

Nah, dengan paduan dari itu semua kebijakan harga, kebijakan subsidi, penghematan, diversifikasi, pemberantasan kejahatan, mudahan-mudahan nanti kita memiliki kebijakan yang tepat, yang mendasar, sehingga jangka panjang semuanya menjadi baik, baik ekonomi kita baik untuk rakyat kita. Yang ketiga, masalah busung lapar dan kekurangan gizi, tiap tahun terjadi. Tahun 2000, 2001, 2002, 2003, 2004, 2005, daerah klasiknya NTB dan NTT, dan beberapa tempat. Sebenarnya dari tahun ke tahun itu angkanya menurun. Jadi mulai Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, pemerintahan-pemerintahan beliau itu sudah bekerja, karena mulai turun, turun, turun, turun, tapi saya ingin turun lebih cepat. Kalau tadinya, misalkan gubernur, bupati, walikota dianggap biasa-biasa saja, penyuluh lapangannya biasa, orangtuanya diarahkan supaya anaknya memiliki gizi yang baik.

Sekarang saya anggap ini tidak biasa. Saya minta semua bekerja lebih serius, sehingga penurunan angka kekurangan gizi dan gizi buruk dan busung lapar, semua bisa kita kurangi. Jadi jangan menganggap busung lapar dan gizi buruk hanya muncul tahun 2005 saja, tidak, itu membingungkan dan menyesatkan rakyat, kita berikan penjelasan yang konkret. Kita akan melakukan segala hal, menghidupkan Posyandu, kemudian PKK, kemudian Pos KB, kemudian Puskesmas, penyuluhan-penyuluhan di seluruh tanah air harus mengerti bagaimana memelihara gizi yang baik.

Kemudian masalah flu burung, sebenarnya waktu pertama kali wabah menyerang Indonesia yang agak besar-besaran itu September tahun 2003, waktu itu terkontaminasi 17 provinsi, 108 kota dan kabupaten, dan nilai kematian itu tinggi sekali, 90%. Pemerintah telah bekerja keras waktu itu, masih pimpinan Ibu Megawati, saya juga di situ, sehingga dengan segala cara akhirnya mulai kita selesaikan pada bulan September tahun 2004, pemerintahan yang lalu. Tiba-tiba pada pertengahan atau awal 2005, ada second round of wabah ini, meskipun tidak sebesar dulu, tapi kalau tidak segera kita kelola dengan baik, bisa mengganggu lagi peternakan kita, dan dampaknya bisa kemana-mana.

Meskipun identifikasi babi, unggas yang terinfeksi oleh avian flu ini ada di beberapa kantong, tapi karena bertepatan dengan tiga orang yang meninggal dan diidentifikasi sebagai korban avian flu, ini menimbulkan gelombang kepanikan, seolah-olah di mana-mana avian flu, seolah-olah rakyat kita terancam. Oleh karena itulah Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian dan pejabat terkait sekarang sedang bekerja. Saya minta kerjakan semuanya, 24 jam. Jelaskan semuanya kepada rakyat duduk persoalannya, supaya tidak panik, dengan jelas. Tapi yang penting adalah harus makin susut, makin susut dan bisa kita atasi, itu yang terjadi. Sama saja sekarang di Cina, di Sichuan, saya kira itu ada musibah seperti itu, yang juga kemana-mana. Jadi memang, dengan globalisasi sekarang ini, dengan migrasi, baik manusia, ternak, tanaman, segala macam, terjadilah seperti itu. Oleh karena itu, their must be global cooperation, global partnership untuk mengatasi semuanya ini. Itu yang terjadi.

Kemudian yang terakhir, tentang pemberantasan korupsi dan membangunan good governance. Tidak ada negara, bangsa yang akan tumbuh kalau negaranya korup, pemerintahnya korup, tidak efisien, dan lain-lain. Kita mulai membangun pemerintahan yang baik di negeri ini, iklim yang baik, agar semua tenang berusaha di negara kita. Pemerintahannya tidak main pungli, tidak menghambat di sana-sini dan lain-lain. Kalau dipermudah bukan dipersulit, kita tentu akan makin tumbuh dunia usaha, baik pengusaha domestik maupun pengusaha dari luar negeri. Tapi kalau dihambat, dipersulit, ditarik biaya yang tidak wajar, dipungli, ya bagaimana kita bisa bersaing dengan Vietnam, bisa bersaing dengan Cina sendiri, bisa bersaing dengan negara-negara lain. Oleh karena good governance, pemerintahan yang baik harus kita bangun. Saya ingin efisien, ingin efektif, ingin transparan, ingin akuntabel, ingin responsive. Satu persatu ada kemajuan, mungkin masih jauh. Hongkong memerlukan waktu 12 tahun untuk menjadi good governance, free of corruption, seperti itu. Mulai dari sekarang, mudah-mudahan 10 tahun ke depan, makin baik negara kita.

Saudara juga kenal, saya membuka PO BOX 9949 dan juga SMS. PO BOX ini sampai tanggal 12 Juli kemarin sudah masuk ke 2500 surat, sudah kita selesaikan 1000. Nah, di situ jelas sekali, ada dukungan pada pemerintah, dukungan pada Presiden, ada masalah korupsi, ada guru honor, guru bantu, masalah kesehatan, pelayanan publik, dan lain-lain. SMS sudah kami terima, 140 ribu SMS, kita pisah-pisahkan, ada kategorinya, sebagian sudah kita salurkan ke departemen terkait untuk ditindaklanjuti, sebagian karena tidak jelas, tidak menyebut siapa namanya, misalkan begini, Pak Presiden, tolong berantas korupsi di Jawa Timur. Ya, di mana, yang mana ini, seperti itu. Tapi ada juga, Pak, itu pejabat korup, saya tahu menggelapkan uang negara 10 milyar, saya pelapornya Pak, nama saya ini, alamat saya ini, jadi bisa diproses, belum tentu juga benar. Negara kita negara hukum, praduga tidak bersalah, tidak boleh kita dzalim, setiap orang dianggap korupsi, koruptor, koruptor, itu berdosa. Tentu ada proses yang baik, diteliti, ditelaah, kalau mengandung kebenaran baru ada proses. Itupun pengadilan yang membuktikan, belum tentu juga dinyatakan bersalah oleh pengadilan.

Jadi, ini juga kita lakukan terus di negeri kita untuk membangun seperti itu, dan saya minta mulai minggu depan ini, PO BOX 9949 itu menerima pengaduan, mungkin dikasih tanda X gitu suratnya, atas X, yaitu rakyat yang merasa dipungli, merasa ditarik biaya yang tidak wajar ketika mengurus sesuatu. Ini untuk KADIN juga, saya minta sampaikan saja kepada Presiden, kalau mau membuka usaha dipersulit, dimintai biaya yang berlebihan, dipungli sana, laporkan. Tunjuk departemen apa, kantor apa, siapa namanya, kalau bisa direktur apapun namanya? Demikian juga pengusaha asing, supaya tidak dipermainkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab, terbuka saja.

Dengan demikian, saya bisa mengontrol nanti, apakah semua bisa berjalan dengan baik. Ini juga bagian dari membangun good governance dalam memberantas korupsi, dan lain-lain. Tidak perlu resah karena hukum tidak boleh sewenang-wenang kita terapkan. Hukum adalah untuk keadilan, jadi kalau tidak terlibat, tidak bersalah, jalan terus, itu yang saya harapkan.

Itulah perkembangan yang perlu Saudara ketahui. Saya kira banyak diikuti di surat kabar, di media massa, tapi seperti itu percayalah, bahwa negara kita kelola sesuai dengan Undang-Undang Dasar, sesuai dengan Undang-Undang, sistem dan peraturan yang berlaku, meskipun banyak sekali permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia, tapi saya yakin, mesti ada jalan keluar dan kita lihat sama-sama negara kita akan terus bangkit menuju masa kejayaannya, dan sebelum saya serahkan kepada Pak Dubes untuk kemungkinan tanya jawab, saya melihat berapa ya mahasiswa? Angkat tangan? Mahasiswa dan siswa, rata-rata belajar apa? Apa? Bahasa? Saya senang sekali. Salah satu kerjasama kita dengan Cina, dalam MoU, saya kira Diknas juga ada, kita akan menghidupkan penguasaan bahasa Mandarin. Di Jakarta kita harapkan ada center dari language. Jadi diplomat kita, pengusaha kita, semua harus mendalami bahasa Mandarin. Dengan demikian, akan baik persahabatan kita nanti. Tolong kalau sudah berhasil kembali ke tanah air, toh? Kembalilah, kembalilah.

Kemajuan sebuah bangsa artinya human capital, intellectual capital, utamanya dalam bahasa asing, penguasaan komputer, penguasaan ICP. Dalamilah itu, karena anda akan mengantarkan Indonesia meninggalkan masa-masa yang rendah teknologi menjadi masa yang tinggi teknologi, dan akhirnya take off. Saya bangga, teruslah belajar, kuasai dan pada saatnya kembalilah ke tanah air. Mari kita bangun secara bersama bangsa dan negara kita.

Saya diprotes oleh Pak Aburizal Bakrie, saya belum mengenalkan mantan pacar saya, ini Ibu Negara, Ibu Ani Bambang Yudhoyono, kegiatannya lebih banyak di sosial, kemudian kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan membantu mereka-mereka yang memerlukan bantuan. Daerah bencana alam, di daerah yang pasca konflik, dan lain-lain, pendidikan, apalagi? Itu, yang jelas, paling tepat untuk Ibu Negara itu. Tidak boleh masuk bisnis, nggak boleh masuk, businessman itu sudah banyak, pengusaha sudah banyak, kita serahkan kepada beliau-beliau semua memajukan negara kita, dan politik juga tidak boleh. Jadi biarlah urusan sosial saja, urusan budaya, pendidikan.

Saya kira itu, Saudara-saudara semuanya dan setelah ini kita bertanya jawab barangkali. Kemudian besok, saya masih di sini, acara kenegaraan, bertemu dengan Presiden Hu Jin Tao, Prime Minister Wen Jia Bao, ada penyambutan lain-lain. Lusanya itu ada business gathering, one on one meeting, kemudian saya terbang ke Shenzhen pada tanggal 29 siang, sore sampai di sana. Malam ada acara dengan Walikota Shenzhen, lusanya tanggal 30 itu, ada meninjau farmasi, kemudian meninjau industri teknologi IT, apa namanya? Huawai Telekomunikasi. Apa yang betul bacanya, apa itu? Jaman di Indonesia seperti judi, itu, huahuwei, bukan itu ya? Kita masih ingat dulu. Nah, terus tanggal 30, tanggal 30 siang saya kembali ke tanah air, karena pekerjaan di rumah banyak sekali, saya tidak bisa lama-lama, karena tiga hari ini pun kita kerja keras. Saya mohon doa restu dari semuanya untuk bisa bekerja dengan yang lain untuk meningkatkan kehidupan bangsa kita.

Sekian, terima kasih.


Hadi

Selamat malam Bapak Presiden, nama saya Hadi.
Indonesia kaya akan sumber daya alam, akan tetapi harta kekayaan negara kita dicolong secara jelas-jelas di depan mata kita oleh perusahaan asing. Apa kiat dan solusi Bapak Presiden dalam mengatasi masalah ini? Terima kasih.


Presiden Republik Indonesia

Pengertian mencuri itu kalau mengambil sesuatu dari Indonesia secara tidak legal, itu mencuri. Ada elemen dari negara luar itu mencuri ikan, ada elemen dari negara luar kongkalikong dengan orang Indonesia, mencuri kayu, menyelundupkan bahan bakar, menguras sumber daya tertentu secara tidak legal dan di bawa keluar. Jelas itu pelanggaran hukum, itu yang kita sebut dengan kejahatan trans nasional. Jawabannya, tindak, berantas, adili, hukum. Tetapi kalau keberadaan perusahaan-perusahaan asing itu dalam rangka kerjasama dengan kita sendiri, dengan MoU yang jelas, kontrak yang jelas, itu menguntungkan negara kita. Sebagian memberikan keuntungan pada mereka, itu tidak boleh kita katakan mereka mencuri sumber daya alam kita.

Jadi kita bedakan mana yang sifatnya illegal, mana yang sifatnya legal. Itu untuk kepentingan kita. Kerjasama itu, dengan negara sahabat, dunia juga begitu, negara manapun juga begitu. Tapi kita tegas terhadap hal-hal yang illegal, illegal fishing, illegal mining, illegal logging, smuggling, people smuggling, segala macam. Dan sekarang akan semakin keras penindakan semacam itu, karena negara dirugikan berpuluh-puluh trilyun tiap tahun.

Bayangkan Saudara, untuk memberikan gaji 13 kemarin, tahun ini ya, itu kita hanya memerlukan uang 6 trilyun, kalau nanti kita menaikkan gaji misalnya, suatu saat, 20% saja dari pegawai negeri kita, perlengkapan negara kita, tentu naiknya tidak boleh sama, orang seperti saya kecil saja, tapi yang bawah harus tinggi naiknya. Itu dihitung-hitung plus gaji ke-13 hanya sekitar berapa kemarin totalnya Pak Yusuf? Sembilan tambah enam, sekitar itu, sekitar 14 trilyun. Nah, yang dicolong, ikan misalnya, itu bisa 30 trilyun, bayangkan. Kita bisa menaikkan gaji, meningkatkan hidupnya petani, nelayan, guru, guru honor, buruh, berlipat-lipat.

Oleh karena itu, kita harus keras, tapi bagaimana caranya kita harus memiliki armada yang kuat. Angkatan Laut harus kuat, Angkatan Udara harus kuat, Polisi harus kuat, dan lain-lain. Terus terang kita belum sekuat itu, kenapa? Karena krisis, kenapa? Karena dulu memang pembangunan militer, pembangunan Polisi kita nomor sekian, kita mengutamakan pembangunan ekonomi, disadari sekarang. Oleh karena itu, ke depan harus seimbang, untuk petani, nelayan, buruh. Menuntaskan kemiskinan, untuk pendidikan, kesehatan, tapi jangan dilupakan membangun kekuatan pertahanan yang cukup, nggak usah besar-besaran. Itu untuk memerangi kejahatan-kejahatan trans nasional tadi yang akhirnya menyelamatkan potensi dan aset kita. Demikian ya.




Misahardi

Yang terhormat Bapak Presiden beserta Ibu,
Yang terhormat Bapak Dubes beserta Ibu,
Yang terhormat Bapak Mennteri Keuangan, para Menteri serta rombongan Bapak Presiden,

Nama saya Misahardi, saya di sini yang paling tua, saya adalah muridnya Bapak Yusuf Anwar, sebelum Pak Yusuf jadi menteri, jadi saya dari Universitas Padjajaran Fakultas Hukum. Kali ini saya bekerja sebagai peneliti di …, padahal yang ingin saya sampaikan di sini sebenarnya tidak mengenai investasi, tapi mengenai masalah pendidikan. Pada suatu saat saya menjelaskan di … University, Fakultas Hukum, professor meminta saya untuk memberikan kuliah, mengenai masalah hukum di Indonesia, hukum investasi, sehingga dalam dua jam itu kurang lebih bisa diterima oleh mahasiswa-mahasiswa … karena … kita harapkan bahwa era yang sudah maju ini nanti pada saatnya melalui mahasiswa-mahasiswinya atau kepada orangtuanya, pemerintahnya untuk melakukan berinvestasi di Indonesia, karena sistem hukum kita adalah sama dengan sistem hukum di RRC.

Kebetulan saya sebagai mahasiswa, Pak, di Jakarta saya adalah notaris PPAT di Jakarta yang pula diminta sekarang ini menjadi kepala sekolah. Saya direktur dari Akademi Bahasa Asing Internasional, jurusan Bahasa Mandarin dan juga Bahasa Inggris. Kali ini ... penting untuk mencari guru-guru, untuk mendidik putra-putri kita ini untuk belajar bahasa Mandarin, sehingga turut menunjang perkembangan hubungan pemerintah Indonesia dengan RRC. Saya harapkan putra-putri kita yang tidak mampu, tidak seperti mahasiswa-mahasiswa di sini, bisa datang dengan uang yang cukup banyak, tetapi andaikata dia orang tidak mampu, datanglah ke Akademi Bahasa Asing Internasional Bandung, kita akan didik.

Saat ini saya sudah menandatangi MoU dengan Kepala Pendidikan di Jawa Barat, terletak di Kotamadya Bandung, Akademi Internasional Bahasa Asing akan mendidik pejabat tinggi dari Provinsi Jawa Barat, kalau dengan Walikota Bandung kita telah menandatangani untuk mendidik guru-guru sekolah bahasa Mandarin, sehingga nanti pada saatnya guru-guru tersebut bisa menyebar ke seluruh nusantara. Kemudian, kebetulan minggu lalu saya mengikuti simposium bahasa Mandarin seluruh dunia, di Beijing, juga ada pertandingan karangan bahasa Mandarin seluruh dunia dari mahasiswi, di mana dari Unicef pun dua orang ikut hadir. Selain itu juga, kemarin saya mendampingi Dirjen Departemen Dikti pada saat simposium bahasa Mandarin dunia, itu telah diresmikan Institut of Confusius, ada 23 negara. Pada saat itu dari Dirjen Dikti … cobalah kalau kita bisa raih, agar Indonesiapun bisa didukung oleh RRC ini, didirikan oleh Institut of Confusius, namun katanya pendiriannya harus di ibukota. Namun saya harapkan ada pengusaha yang membantu saya, di Bandung, di sana ada di Padalarang, Akademi Bahasa Asing Internasional, pembinanya adalah salah satu Duta Besar kita di sini, ada Pak Kuntara, menjadi penasehat kita, bisa diterima sebagai wadah untuk menjadikan Institut of Confisius sebagai Bapak Pendidikan di Tiongkok ini. Dan saya mohon kalau bisa Bapak merekomendasi, kalau bisa tidak di ibukota melainkan di Bandung, yaitu ibukotanya Asia-Afrika yang kita mampu untuk mendirikannya.

Terima kasih.


Presiden Republik Indonesia

Yang pertama, proposal Bapak, usulan Bapak mengenai pendidikan itu membuka lembaga pendidikan, tolong nanti dikomunikasikan dengan Menteri Pendidikan Nasional, yang pertama. Yang kedua, senang sekali, penguasaan bahasa asing, bahasa Mandarin itu makin bagus, karena baik untuk kerjasama kita di waktu yang akan datang. Nah, yang ketiga, yang terakhir, saya meminta memang semua ini, tolong kita dalami betul hukum, termasuk hukum bisnis, hukum dagang, mengapa? Karena banyak sekali kebangkrutan usaha karena kalah di bidang hukum. Di Amerika Serikat, di Eropa, biasanya kalau punya degree business administration itu, second degree-nya law, karena itu yang bisa menyelamatkan kalau ada apa-apa. Indonesia mengalami banyak hal, kita jalan ke arah ..misalnya, itu masalah hukum. Jadi mari kita cakap, kita kuasai hukum dengan kita pahami hukum di negara lain. Dengan demikian, kita transaksi itu tidak dirugikan.

Nah, Bapak-bapak usia sudah tidak muda lagi masuk kuliah, tidak ada batas usia untuk belajar, hidup ini universitas yang abadi. Saya mengambil S3 selama tiga tahun dan baru tamat tahun lalu. Jadi tidak menghalangi-halangi usia untuk menambah pengetahuan. Mari terus kita belajar untuk kita semua, untuk Bangsa kita. Terima kasih.


Charles Wiryawan

Terima kasih,

Yang terhormat Bapak Presiden, dan Tamu-tamu sekalian,
Nama saya Charles Wiriawan, saya mewakili beberapa kawan dari IPAS di Shanghai, Pak. Kami terbang ke mari untuk mendengar wejangan dari Bapak. Speech yang Bapak berikan tadi sebenarnya sangat menarik dibandingkan dengan dua Presiden yang saya ketemui di Cina sebelumnya, Gus Dur dan Ibu Mega sendiri. I have to be honest, I didn’t vote for you, tapi dari tiga pidato yang Bapak berikan di Cina, itu ada satu tren, Pak, yang saya lihat. Itu trennya adalah promise for a better Indonesia, promise for a better reformation. Eight years, saya sudah bekerja di Cina delapan tahun, Pak, sampai sekarang, eight years is the time I’ve been waiting for a better Indonesia, I’m asking for my self when can I go home? Kapan saya bisa kembali ke tanah air, Indonesia? Untuk dapat kesempatan kerja yang bagus, yang kompetitif, di era ekonomi global sekarang ini. Karena Bapak tadi berikan satu … mungkin satu tahun 2008, bilateral ekonomi Cina-Indonesia akan meningkat dan you promise a better job opportunity, itu 2008, tiga tahun dari sekarang. Tapi sebelumnya Bapak juga bilang, mungkin 20 tahun dari sekarang Indonesia akan menjadi negara yang bagus, sehingga kita sendiri bisa kerja dan hidup secara makmur di sana. Tapi sebenarnya pertanyaan saya adalah kapan Pak, saya bisa pulang? Saya ingin mengabdi Pak, Pak Kustiah kenal saya. Tapi pertanyaannya kapan? And how, gitu loh?

Yang kedua, saya delapan tahun di Cina, empat tahun di Beijing, sekolah di Peking University, seperti Bapak sebut, dan empat tahun kerja di Shanghai di tim redaksi majalah di Shanghai, anak perusahaan kecil milik Gramedia. Saya ingin pertanyakan apakah Shanghai merupakan satu tempat yang penting untuk jalur bisnis untuk Indonesia dan Cina? Kalau iya, kenapa kok sampai sekarang belum ada konsulat di sana. Kalau tidak, why not? Sekian dan terima kasih.


Presiden Republik Indonesia

Baik, terima kasih. Saya senang ini terbuka. Begini, Indonesia merdeka, insya Allah kita peringati sebentar lagi 60 tahun. Dibandingkan dengan Eropa, dibandingkan dengan Jepang, dibandingkan dengan Amerika Serikat, kita muda, tapi dalam kemudaan usia ini ada dinamika, ada up and down of our history, segala macam, tapi dalam trennya tidakkah kita merasakan kian ke depannya ada perbaikan-perbaikan, ada tren ke situ. Ada krisis yang luar biasa 1998, disamping krisis, economic crisis, becoming national crisis, juga ada pergantian kepemimpinan nasional yang dramatik, yang tidak reguler, Pak Harto lengser digantikan yang lain-lain. Itu tujuh tahun, membikin bangsa kita mengalami disorientasi, dislokasi, kemudian harus menghadapi sejumlah masalah, bukan hanya ekonomi, politik, keamanan, komunal konflik, kerusuhan-kerusahan dan lain-lain. Pada tingkat ekonomi yang di lantai bursa, karena drop, karena collapse.

Nah, kita bergulat selama tujuh tahun ini, we have to be thankfull to our old people, to God, bahwa we could survive, bahwa kita bisa dan tanda-tandanya ke depan kita mulai baik-mulai baik. Oleh karena itu, if you asking me, when you have to go back to Indonesia, I think you could think by yourself, lihatlah kemajuan di negeri kita, lihatlah trennya. Dengan demikian, adik, anda bisa mengatakan it is time for me to go home to return to Indonesia bersama our brothers to developt our own country. It’s depend on you, tapi yang jelas kami semua bekerja untuk itu dan tidak mungkin saya sebagai Presiden, siapa adik namanya yang baju merah? Mbak Yeni, Minggu depan kembali ke Indonesia, saya perintahkan dengan Inpres, kemudian nanti kerja di Ternate. Tapi pertanyaan tadi bagus, encouraging, ya ini generasi muda dengan realistis seperti ini, challange bagi kita yang mengelola negeri ini. Mari kita sungguh sangat serius menciptakan iklim yang lebih bagus, fairness, no discriminations, tapi tentu ada solidaritis, bagaimana kita sebagai bangsa, we are one, tidak boleh kita, ada beda-bedakan satu sama lain.

Nah, kalau itu tercipta, sebagai bangsa, maka akan nyaman tinggal di negeri sendiri. Apalagi kalau ada kemajuan-kemajuan, ada opportunity, ada ruang yang lebih luas. Itulah yang kita tuju. Dengan demikian, makin ke depan makin baik. Mengapa I could say twenty years from now on itu infrastructure technologi development, jadi ICT, information, communication and tecnology. Ini ada dua rektor ITB dan ITS, tentu kita harus bangun mulai sekarang, long term investment, sampai suatu saat, sampe, good governance making our government efficient and effective, itu proses jangka panjang. Demokrasi yang lebih mapan, bukan noisy, bukan ribut sana ribut sini, itu perlu waktu. Infrastructure building, seluruh Indonesia jalan, dermaga, pelabuhan, telekomunikasi, energi, irigasi, clean water, itu perlu waktu ke depan.

Jadi maksud saya, tidak harus menunggu 20 tahun dari sekarang. Kalau kita betul, mulai sekarang, investasi kita, 20 tahun dari sekarang, Indonesia will be changing, will be changing significantly yang tidak boleh diremehkan dan tidak kalah dengan negara-negara lain yang sudah maju. Jadi itu termasuk long term investment yang kita harus perjuangkan secara bersama. Mengapa? Saya tidak ingin mempermudah, ah lima tahun selesai.

Berapa jumlah orang miskin di negeri kita? Sekarang sekitar 36 sampai dengan 38 juta, apa yang disebut miskin? Ada yang mengatakan dihitung dari kalori perhari, berapa yang dikonsumsi. Ada yang dipikir satu hari 1 US dollar, itu dianggap miskin. Nah kalau dinaikkan, oke, sekarang nggak mau one US dollar, kita naikkan, dua dolar, lebih banyak lagi. Yang namanya Indonesia makmur, Indonesia sejahtera, we have to reduce the number of poverty. Itu, jadi kita dari hulu sampai hilir, Jakarta sampai Ternate, sampai Ambon, sampai Seumelue, sampai ke Nabire, sampai ke Talaut dan sebagainya. We had to think nationally.

Oleh karena itu, there must be a policy, strategy untuk mengubah bangsa Indonesia mensejahterakan bangsanya, tapi tentu ada sentral, sentral kemajuan yang lebih cepat dibandingkan dengan kemajuan seluruh Indonesia, segera datang, segera kembali, egitu ajakan. Kita bangun sama-sama, insya Allah kita akan lebih cepat berubah, dibandingkan kalau banyak expert, banyak putra-putra terbaik bangsa yang seharusnya kembali ke Indonesia, belum kembali karena harus melihat seperti apa Indonesia. dengan kerja keras, Indonesia will be better, much better dibandingkan dengan sekarang ini.

Shanghai, itu sebetulnya sudah saya putuskan untuk segera diisi dengan walikota Shanghai. Dan saya sudah setor 18 duta besar dan calon konsulat jendral, yang bersama Pak Djoko itu sudah masuk belum Shanghai? Belum. Saya kira angkatan berikutnya lagi. Shanghai sangat penting, saya sudah berkunjung ke sana dan itu new center of gold. Kalau kita lihat, Shanghai kan, nggak kalah dengan New York, kan? Apalagi 20 tahun yang akan datang, begitu. Jadi menurut saya, bisa kita jadikan line of communication, line of cooperation, Jakarta-Shanghai, termasuk juga di Guangzhou, di Shenzhen dan juga daerah-daerah lain. Kita akan ke sana, dan sebelum lupa, saya tadi ngobrol dengan Pak Duta Besar di mobil, terus terang, kerjasama Indonesia dan Cina ini, tahun-tahun terakhir ini berkembang dengan baik, dan saya berterima kasih pada Pak Duta Besar atas kerja kerasnya, atas inisiatifnya, atas semua yang dilakukan, sehingga seperti ini. Dan tugas kita semua untuk meneruskan, karena kalau kita betul-betul menjadi, kedua bangsa ini bersahabat, maka kita akan sama-sama beruntung. Kalau kita tidak sama-sama bersahabat maka kita akan sama-sama merugi.

Terima kasih. Terakhir, ini terakhir, silakan Ibu.


Natalia Subagyo

Terima kasih Bapak Presiden. Nama saya Natalia Subagyo, saya kebetulan berada di Cina untuk melakukan riset kecil selama beberapa bulan, akhir September saya kembali ke tanah air.

Tadi Bapak mengatakan, bahwa salah satu tujuan Bapak kemari adalah untuk merealisasikan suatu action plan. Kira-kira sudah dapat diperkirakan tidak, hambatan apa saja yang akan dihadapi dalam merealisasikan action plan demi meningkatkan hubungan kita dengan RRC. Saya menanyakan pertanyaan ini, karena saya melihat bahwa seringkali kekurangan kita, kelemahan kita adalah kita tidak mengetahui persis apa yang hendak kita capai sehingga persiapan juga sangat kurang, karena kita tidak tahu tujuannya apa. Alhasil pada saat berhadapan dengan lawan bicara kita kehilangan posisi tawar, bargaining kita kalah, we don’t have any bargaining chip, saya tidak ingin hal ini terjadi dalam negosiasi, dalam follow up yang akan datang.

Jadi saya ingin tanya, apakah hambatan-hambatan yang ada sudah diantisipasi dan langkah-langkah sudah disiapkan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Terima kasih.


Presiden Republik Indonesia

Terima kasih, Ibu.
Saya sudah menerima kemarin malam, pagi sampai malam menerima kunjungan Perdana Menteri Hongaria. Saya sudah pernah berkunjung ke sana, Budhapest, Itu salah satu center di Eropa Tengah. Jadi kalau kita pandai memanfaatkan Budhapest untuk pemasaran kita, marketing kita, termasuk usaha kecil dan menengah, kerajinan segala macam itu, itu peluang pasarnya besar. Saya dari Budhapest itu bisa dibawa kemana-mana. Kemarin juga mengatakan, mereka beli produk Indonesia dari Jerman. Nah, kalau kita punya direct trade dengan Hongaria, karena kalau lebih murah, lebih baik. Dan setuju kita, bahwa we need a kind of trade and promotion centre, di situ informasi bisa di-share.

Ibu benar. Kita terus terang tidak memiliki informasi yang cukup dari negara-negara lain. International market, low-nya tingkat kompetisinya, hambatan-hambatannya dan lain-lain. Makin menguasai informasi itu, tentu kita akan menang dalam negosiasi dan tidak selalu mentah tidak selalu kembali. Oleh karena, itu pada tingkat Kadin, pimpinannya ada, tolong juga terus di-share informasi itu, disebarkan pada tingkat pemerintahan tentunya, Departemen Perdagangan dan departemen terkait juga harus mengeluarkan banyak informasi.

Dan Kemudian kalau memang ada fokus, entah ke Cina, entah ke Jepang atau ASEAN yang lainnya, tentu harus ada fasilitas yang telah disiapkan oleh Kedutaan Besar, bagaimana memberikan informasi sebanyak mungkin. Saya berpendapat, bahwa itu salah satu hambatan kita dan tentunya kita harapkan bisa kita perbaiki di waktu yang akan datang. Dengan Cina ini ada sejumlah MoU. Saya tahu, misalkan cocoa itu yang dihambat itu tarifnya atau kuotanya itu. Ya, tarifnya, dia akan masuk nanti. Kita ingin jangan terlalu besarlah tarifnya, supaya kita bisa bersaing nanti. Atau mengapa ada hambatan tarif? Mengapa ada hambatan kuota? Mengapa harus quality control? Supaya tidak nanti kirim jauh-jauh, dipulangkan ke Indonesia. Kalau produk pertanian kan busuk, kalau produk perikanan kan busuk, pertambakan juga busuk. Ini juga penting sekali. Oleh karena itu, saya berharap, semua dunia usaha di negeri kita ini, kuasai informasi, pahami betul, apakah negara itu alot atau tidak, pintu masuknya bagaimana dan sebagainya. Tentu pemerintah dengan senang hati membantu semuanya itu, asalkan juga ada kejelasan, tujuannya ke mana, apa ini dipasarkan, negosiasinya seperti apa. Saya kira yang disampaikan itu benar dan itulah PR kita ke depan. Saya kira itu saja. Pak Duta Besar terima kasih, semuanya terima kasih. Kemudian kita masih akan bertemu lagi kelak kemudian hari, apakah di Jakarta, di sini, selamat berjuang, selamat belajar, bawa citra baik negara kita,

Sekian,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* * * * *



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan