Arsip

« September 2009 »
M S S R K J S
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   

Wawancara

Dialog Ramadhan Bersama SBY di Trans 7

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
BERSAMA
BUYA BAGINDO LETTER DAN HABIB LUTHFI BIN YAHYA
PADA ACARA
“DIALOG RAMADHAN BESAMA SBY”
YANG DISIARKAN OLEH TRANS 7
GAZEBO HALAMAN TENGAH ISTANA kEPRESIDENAN
1 SEPTEMBER 2009



Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Gimana kabar Anda pemirsa? Mudah-mudahan dalam keadaan baik di bulan yang penuh rahmat ini, di bulan suci Ramadhan, di bulan yang penuh dengan ampunan, di bulan yang penuh dengan barokah dan juga hidayah dari Allah SWT. Kali ini kami hadir dari sebuah program spesial, yaitu ”Ramadhan Bersama dengan SBY”. Kali ini kita mengangkat topik yang sangat menarik sekali, ”Peran Indonesia dalam memperjuangkan tegaknya keadilan dunia”.

Telah hadir bersama kami, hadir bersama kami Presiden Republik Indonesia. Assalamu’alaikum.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumussalam.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Apa kabar Pak SBY?

Presiden Republik Indonesia
Baik-baik, Alhamdulillah.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Sehat, Pak?

Presiden Republik Indonesia
Sehat, alhamdulillah.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Gimana dengan puasa Ramadhannya, Pak?

Presiden Republik Indonesia
Tambah khusuk beribadah, Insya Allah membawa kebaikan untuk kita semua.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Amin. Insya Allah kita pun diberikan kekuatan dan juga kesehatannya untuk menjalankan puasa di bulan suci Ramadhan ini.

Beserta telah hadir juga bersama kami 2 ulama yang akan berbagi pengalamannya bersama kami telah hadir sini untuk tentunya menjabarkan bagaimana peran Indonesia dalam menegakkan keadilan dunia. Dan di kesempatan ini juga, sudah hadir Buya Tuanku Bagindo H. Mohammad Letter dari Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Barat yang akan mengelaborasi pemahaman tentang keadilan dan sejarah bangsa dan keislaman. Assalamu’alaikum, Buya.

Buya Tuanku Bagindo H. Mohammad Letter, MUI Prov. Sumbar
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Terima kasih sudah hadir di kesempatan malam hari ini untuk berbagi bersama kami di sini.

Disamping Buya juga telah hadir Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Ketua Umum Thariqah Mu’tabarah Annahdhiyah Indonesia dari Pekalongan, Ketua Umum Thariqah Mu’tabarah Annahdhiyah Indonesia dari Pekalongan yang akan menjelaskan tentang keadilan dalam konteks Al Qur’an dan Sunnah. Assalamu’alaikum, Habib.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Ketua Umum Thariqah Mu’tabarah Annahdhiyah Indonesia dari Pekalongan
Wa’alaikumsalam.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Terima kasih juga telah hadir bersama kami di sini. Dan pada malam yang indah ini, segera kami akan memulai perbincangan kita, kita menuju terlebih dahulu kepada Buya. Mungkin Buya bisa ceritakan sekaligus juga gambarkan kepada kita bagaimana penjabaran, tentunya perjuangan Rasulullah dalam menegakkan keadilan.

Buya Tuanku Bagindo H. Mohammad Letter, MUI Prov. Sumbar
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumussalam.

Buya Tuanku Bagindo H. Mohammad Letter, MUI Prov. Sumbar
Bapak Presiden Republik Indonesia yang saya hormati, para kaum muslimin dan muslimat, para pemirsa,

Ini pertanyaan ini memang sangat spesifik sekali, bagaimana Rasulullah menegakkan keadilan. Rasulullah dalam menegakkan keadilan, beliau mulai daripada diri beliau sendiri, dimulai daripada keluarga beliau sendiri, baru beliau menegakkan keadilan itu di tengah-tengah masyarakat. Sebagai contoh umpamanya beliau mengatakan, ”Sekali pun Fatimah, anak kandungku, kalau dia melakukan kesalahan akan aku hukum. Kalau dia mencuri, aku potong tangannya.”

Dengan dasar itulah dia memberikan contoh keteladanan kepada masyarakat dan masyarakat juga oleh beliau dibangun. Apanya dibangun dulu? Sikap rohaniah. Dengan dibangunnya sikap rohaniah, makanya tindak jasmaniahnya akan terarah. Barangkali kalau kita hubungkan, Pak Presiden dengan lagu kebangsaan kita ini, ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”. Karena kita sebagai negara Pancasila, kita membangun keseimbangan, sebagaimana yang diinginkan oleh Rasulullah SAW, keseimbangan antara individu dan masyarakat di situ letaknya keadilan, keseimbangan antara dunia dan akhirat, keseimbangan antara hak dan kewajiban sebab banyak sekarang ini orang menuntut hak tanpa tahu kewajibannya. Itu namanya tidak keadilan.

Adil itu ditegakkan sesuai dengan hak dan kewajiban. Sekarang orang banyak hanya menuntut hak, dia tidak tahu kewajibannya padahal dia mempunyai kewajiban, sebab manusia itu dijadikan Allah 2 fungsi, sebagai hamba Allah, mengabdi kepada Allah. Sebagai khalifah Allah, dia harus mampu menciptakan sesuatu untuk mensejahterakan dirinya dan masyarakat. Dua itulah, makanya manusia diberi hak untuk menciptakan kebudayaan.

Kemudian itukan ada 7, yang pertama, sistem kemasyarakatan. Diserahkan ke manusia bagaimana membangun sistem kemasyarakatan yang seimbang, sehingga bisa menegakkan keadilan di dalam masyarakat.

Yang kedua adalah sistem politik. Darimana ada sistem politik, supaya ada keadilan politik, apa contohnya? Kata Rasulullah, ”Apabila sudah terjadi sesuatu perbedaan pendapat, tunduk kepada suara terbanyak,” kata Rasulullah. Kalau engkau sudah tunduk kepada suara terbanyak, engkau telah menegakkan keadilan. Karena kata Rasulullah, ”Umatku tidak akan sepakat untuk kepada kesesatan.” Kalau terjadi perbedaan pendapat di antara mereka, tunduk kepada yang terbanyak.

Oleh sebab itulah, makanya kita melihat dalam sisi ini, sehingga dengan demikian bisa keadilan tadi tegak dengan itulah Rasulullah membangun keadilan di permukaan bumi ini, baik secara individu, secara masyarakat, modal kelompok bangsa maupun antar bangsa, sehingga dengan keadaan demikian timbullah ketenangan dan kedamaian. Sebab keadilan bukan membagi sama banyak, tapi memberikan sesuatu sesuai dengan porsi, kondisi dan keadaan. Sebab kalau membagi sama banyak, contoh-contoh umpamanya Pak Presiden. Anak kecil itu makannya cuma setengah piring, kalau dibuat sama makan makannya dengan kita yang dewasa ini, malah tidak baik. Jadi kita adil makanya. Harus disesuaikan dengan porsinya. Begitu juga kan tidak perlu semua orang punya mobil, tapi kita berusaha bagaimana semua orang bisa menikmati mobil. Itu namanya keadilan.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Tambah repot nanti kalau di Jakarta makin banyak mobil, tambah persoalan.

Buya Tuanku Bagindo H. Mohammad Letter, MUI Prov. Sumbar
Tapi semua orang bisa naik mobil. Untuk itulah, makanya ada bidang kegiatan di ekonomi. Bagaimana itu terdapat, orang harus tahu hak dan kewajiban. Dia kerjanya nongkrong-nongkrong, ndak ada kerja apa-apa segala macam, nah kemudian dia minta pula tuh haknya ini, itu, ini, itu, nah itu ndak cocok. Tunaikan kewajibannya.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Jadi semuanya sudah ada porsinya masing-masing.

Buya Tuanku Bagindo H. Mohammad Letter, MUI Prov. Sumbar
Sudah adanya porsinya masing-masing.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Sekarang saya mau menuju ke Habib mungkin. Habib mungkin bisa dijabarkan juga. Terima kasih Buya, maaf saya potong, saya lanjutkan ke Habib terlebih dahulu penjabaran konsep Al Qur’an dan juga Hadist mengenai keadilan.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Ketua Umum Thariqah Mu’tabarah Annahdhiyah Indonesia dari Pekalongan
Terima kasih. Selamat Malam. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumussalam.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Ketua Umum Thariqah Mu’tabarah Annahdhiyah Indonesia dari Pekalongan
Dan para Saudara-saudara kita se-Indonesia, saya turut bahagia yang luar biasa, bahwa di dalam Al Qur’an Nurkarim maupun Hadist Nabi, banyak sekali tentang masalah menerangkan keadilan-keadilan konsep bagaimana keadilan itu sendiri dan bagaimana Rasulullah telah memberikan contoh pada waktu perpecahan di dalam dunia Arab khususnya, beberapa kelompok-kelompok, bagaimana Rasulullah memberikan contoh sebagai generasi muda pada waktu itu yang sedang bertikai, yang ego saling muncul pada waktu itu juga. Hanya sekedar untuk bisa menaikkan satu Hajar Aswad yang di dalam Ka’bah dengan bijaksananya dan lemah lembuh Baginda Nabi menghadapi para mereka-mereka itu, lalu shorban yang bisa digelar oleh Baginda dan Hajar Aswad ditaruh di tengah, nah lalu diangkat bersama. Dengan kebersamaan yang luar biasa ini, tapi merata, Alhamdulillah, Baginda Nabi SAW mendapat gelar pada waktu itu Al Amin. Itu sebagai tanda bukti daripada bagaimana Rasulullah menerangkan keadilan-keadilan.

Mungkin keadilan ini bisa kita gapai bersama-sama bagaimana bisa menuangkan Al Amin ini kepada kita-kita ini semua, membawa misi Al Amin, sehingga menjadi pengayom, peneduh dan penyejuk dengan keadilan, sebagaimana Allah SWT telah menciptakan lelaki dan perempuan, lithaarofu, untuk saling mengenal. Bukan sekedar saling mengenal sebetulnya, bisa mengetahui haknya masing-masing di antara bangsa itu sendiri untuk saling mengisi dengan dasar ”Inna okromatul indallahi akrokum” , dengan ketaqwaan kami ini untuk bisa men-support dan membentengi, mem-back up, mengisi daripada warna keadilan itu sendiri.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Baik. Terima kasih banyak Habib untuk penjelasannya. Saya menuju ke Pak SBY. Dari sudut pandang Pak SBY, penjabaran keadilan dalam kehidupan berbangsa dan juga bernegara, mungkin bisa dijelaskan untuk pemirsa di kesempatan malam hari ini.

Presiden Republik Indonesia
Ya, topik malam ini sangat penting, konsep keadilan menurut Islam dan juga keadilan dalam konteks kehidupan nasional kita maupun juga dalam kehidupan antar bangsa. Sebagai pengantar, saya setuju sekali dengan apa yang disampaikan oleh 2 ulama terkenal kita, Buya Letter dan Habib Luthfi. Saya ingin melihat dari sisi yang lain, meskipun selaras dengan apa yang disampaikan oleh kedua beliau tadi. Keadilan dari segi makna dan hakikat sesungguhnya adalah bagaimana kita menjunjung tinggi, menghormati harkat kemanusiaan, tanpa membeda-bedakan dalam arti tidak boleh diskriminatif, karena suku, karena agama, karena etnis dan sebagainya.

Yang kedua, konsep keadilan juga sesungguhnya menegakkan kebenaran. Ini penting sekali dalam praktik kehidupan kita sehari-hari. Adil juga tentunya kita peduli, kita membantu bagi yang memerlukan bantuan, wajib hukumnya dan lantas menjadi adil, yang kuat, yang berlebihan, yang beruntung membantu yang lemah, membantu yang susah, dan membantu yang belum beruntung. Dari makna dan hakikat itu yang kita tahu, Islam sendiri sangat mengedepankan nilai keadilan sebagaimana nilai-nilai Islam yang mengedepakan kedamaian, kesejahteraan, persaudaraan, hak dan kewajiban, dan lain-lain, maka rasanya tepat pada bulan Ramadhan ini, kita melakukan perenungan terhadap hakikat dari keadilan.

Nah pertanyaan sekarang, tadi Bung Ferdi menanyakan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita dan juga bagaimana sesungguhnya, kita bisa menerapkan dalam kehidupan internasional?

Secara umum, nanti khusus kita bisa berbincang lebih lanjut lagi, secara umum tentu dalam kehidupan bernegara, apakah undang-undang tentu mulai dari Undang-Undang Dasar, kebijakan itu harus adil. Kemudian hukum ditegakkan, tanpa pandang bulu. Lantas tentu ada kebijakan yang berpihak pada kaum yang lemah, membantu kaum miskin, misalnya program-program pro rakyat yang sedang kita jalankan. Hal-hal seperti itu dalam konsep bernegara, bermasyarakat, sesungguhnya mengaplikasikan nilai-nilai keadilan, sebagaimana Islam sangat menggarisbawahi.

Nah kalau sedikit kita bawa ke tingkat internasional, tentunya dunia akan adil, jika tidak ada lagi penjajahan dan penindasan. Ingat, kita dulu merdeka karena menegakkan keadilan melawan penjajah. Yang kedua, tidak boleh dibiarkan dunia timpang, negara yang kaya, kaya sekali, yang miskin, miskin sekali dan tidak ada kepedulian, harus ada kepedulian global, ada gerakan kemanusian global, gerakan untuk membikin negara yang lain yang belum maju, bergegas maju, sehingga nanti semua bisa menikmati kehidupan dari segala sumber daya alam yang disediakan oleh Allah SWT. Kurang lebihnya, sesungguhnya aplikasinya seperti itu.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Baik. Kalau begitu terima kasih banyak Pak SBY untuk pemaparannya. Dan masih banyak yang akan dibagikan oleh Pak SBY, di-share untuk kami juga pemirsa selama beliau memimpin negara kita dan terus bersama kami. Kita akan break dulu sebentar, ”Ramadhan Bersama SBY” akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini.

--break iklan--

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Terima kasih, Anda masih bersama kami di acara spesial ”Ramadhan Bersama SBY” di malam yang begitu indah dari Halaman Istana. Kali ini kita masih mengangkat topik kita, ”Peran Indonesia dalam memperjuangkan tegaknya keadilan dunia”. Dan malam hari ini, tentunya masih bersama dengan Presiden Republik Indonesia, bersama Buya dan juga Habib yang malam hari ini akan terus membagikan pengalamannya untuk kita semua di malam yang indah ini.

Kita akan kembali menuju ke Buya lagi dan kali ini, saya akan bertanya mengenai upaya Rasulullah dalam mengaktualisasikan keadilan, khususnya dalam mewujudkan peradaban Islam yang begitu luhur dan juga agung di Madinah dan juga di Makkah pada jaman itu.

Buya Tuanku Bagindo H. Mohammad Letter, MUI Prov. Sumbar
Bapak Presiden yang saya hormati,
Para Pemirsa Kaum Muslimin dan Muslimat,
Ini memang sangat mendasar sekali. Rasulullah itu, beliau itu dalam membangun keadilan berada dari dua tempat, Madinah dan Makkah. Di Madinah beliau menegakkan dasar-dasar rohaniah, karena itulah rukun Islam turun di Makkah itu dua, yaitu syahadat, pengakuan agama Yang Maha Kuasa dengan seluruh kekuasaan-kekuasaan. Yang kedua adalah sholat. Pengakuan tadi tidak bisa kalau enggak diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan. Untuk itulah, makanya sholat ditegakkan.

Setelah dua ini, dengan adanya kepatuhan dan ketaatan, Rasulullah hijrah ke Madinah. Setelah beliau sampai di Madinah, beliau ke situ membangun kemasyarakatan. Dengan membangun kemasyarakatan pertama, harus membangun perasaan yang sama dengan perintah puasa. Apabila sudah timbul kebersamaan akan timbul satu kekuatan. Kalau kekuatan sudah timbul, itu akan timbul penghargaan darimana pun di dunia ini. Hilangnya penghargaan dimana di saat kita tidak punya kekuatan. Oleh sebab itu makanya, sesudah ada rasa kebersamaan, rasa kedekatan dengan Allah, rasa ingin membangun masyarakat yang lebih baik, makanya keluarlah perintah zakat. Dengan keluarnya perintah zakat, terjadinya pemerataan, bukan dibagi sama rata, tapi pemerataan antara yang punya dengan tidak yang punya, antara yang kaya dengan miskin. Di situlah kunci keadilan, sehingga orang kaya mempunyai tugas kepada orang miskin, orang miskin juga mempunyai tugas, bukan hanya sekedar mendoa, juga bagaimana dia mengendalikan dirinya untuk bekerja lebih keras sehingga bisa memanfaatkan alam semesta ini sebagai khalifah Allah.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Baik, terima kasih banyak Buya untuk penjelasannya. Jadi memang saling membantu, habluminnanas ya, antara yang mampu, ada juga yang tidak mampu, begitu juga sebaliknya saling mendukung.

Sekarang saya akan menuju ke Habib. Di jaman seperti sekarang ini Habib, bagaimana kita mengimplementasikan keadilan.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Ketua Umum Thariqah Mu’tabarah Annahdhiyah Indonesia dari Pekalongan
Di antara saya ingin mengambil dari Surat Al Baqarah: “Bismillahirrahmanirrahim dzalikal kitabula rosbafihudalil mutaqim”. Ciri-ciri Al Muttaqim yang menerima hudan dari zalikalkitab ada 3 hal. Satu, pembangunan secara ideologi dengan perkuat setelah “Hamantubillah wa malaikaithi” dan kita beriman sebagaimana yang diwajibkan beriman yang terangkum dari ”Aladzina yu’minunna biqhoibi”sehingga ideologi itu kuat dahulu.

Yang kedua, mengaplikasikan, mensosialisasikan bagaimana ideologi itu hidup, sehingga perwujudan “Wa yuqimuna shola” untuk menempatkan diri selaku hamba sejauh mana dirinya mengerti seorang hamba dan sadar sebagai hamba, apa kewajiban kepada Tuhannya, kepada Rasulnya, kepada pemerintahnya, kepada negaranya. Ini dibentuk dalam thayubimunassallah.

Yang ketiga, kita kembali kepada Buya, tadi yang ketiga dalam Surat Al Baqarah “Wa mimma rozaqna yunfiqun” kita bisa membuat satu daerah-daerah yang gersang, yang perlu kita dari mulai agrobisnis dan lain sebagainya, sehingga kita ini bisa ”Waminarozaknahumyulfikun”, bukan ”Waminarozaknahumyunfikun”, tapi kesana waminarozaknahum.

Inilah yang kita harapkan untuk bisa kita sangat mendukung sekali, dalam hal ini, bagaimana keadilan hingga kita bisa mengenal litharofu untuk sesama kita secara nasional maupun secara internasional yang saling mengerti, pengertian apa kekurangan di antara sesama yang lain mestinya akan bisa saling mengisi di sinilah letaknya.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Jadi saling mengisi dan juga saling membantu dalam mewujudkan dan juga mengupayakan keadilan kepada kita semua.

Sekarang saya menuju ke Pak SBY. Terima kasih Habib. Pak SBY dalam masa awal kepemimpinan Bapak, Bapak sempat menyampaikan visi dan misi dari Bapak untuk menciptakan Indonesia yang lebih aman, damai, sejahtera dan juga adil. Dan insya Allah, misi ini akan dibawa terus, akan dilanjutkan ke periode berikutnya.

Presiden Republik Indonesia
Insya Allah tetap.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Dalam tentunya memujudkan Indonesia yang lebih maju, demokratis, dan juga berkeadilan. Bagaimana aplikasi keadilan Pak SBY untuk kehidupan berpolitik, bersosial budaya, pertahanan, keamana dan ekonomi?

Presiden Republik Indonesia
Ya apa yang disampaikan oleh Buya Letter dan Habib Luthfi, bagaimana Rasulullah menegakkan keadilan ketika beliau membangun negara dan membangun peradaban yang mulia, yang tercatat dalam sejarah yang luar biasa waktu itu, sesungguhnya bisa kita aplikasikan dalam kehidupan dewasa ini.

Memang keadilan itu mudah diucapkan, tetapi sesunggunya sulit untuk betul-betul menegakkan keadilan. Tetapi teruslah kita berikhtiar dengan niat yang baik, untuk betul-betul kehidupan di negeri ini makin adil, kehidupan di dunia juga makin adil. Sebagai contoh, ini untuk selingan saja. Sering SMS masuk ke saya ribuan, misalnya ketika gaji guru dinaikkan, saudara kita para bidan, petugas di daerah yang terpencil, pedalaman juga meminta, ”Pak SBY, tolong kami juga diperhatikan.” Sesunggunya kita memperhatikan semua dengan tahapan, dengan konsep yang betul-betul adil. Ini saya mengerti bahwa semuanya ingin negaranya adil, pemerintahnya adil.

Kembali kepada pertanyaan tadi, bagaimana aplikasi dalam kehidupan di negeri ini, apakah di bidang politik, di bidang hukum, bidang ekonomi dan sebagainya. Saya ingin mengangkat tiga aspek saja yang sangat-sangat penting. Pertama di bidang politik. Alhamdulillah dengan reformasi yang kita jalankan, politik kita sesungguhnya lebih menegakkan persamaan dan keadilan. Sistem Pemilu telah kita buat dengan cara Pemilu langsung yang tentunya lebih baik, lebih adil dibandingkan dengan yang lampau. Kemudian kita jalankan pemerintahan yang desentralistik, otonomi daerah, dengan demikian pembangunan menjadi lebih adil dan lebih merata. Demikian juga penegakan hukum, saya kira tanpa pandang bulu, siapa pun, termasuk pemberantasan korupsi yang sangat serius kita lakukan. Ini menunjukkan, bahwa dalam aspek politik pun, kita ingin betul-betul menegakkan keadilan. Hukum juga demikian. Saya ulangi secara umum hukum ditegakkan, termasuk anti korupsi tadi.

Lantas, dulu barangkali, ah jangan-jangan ada ketidak benaran, entah polisinya, entah jaksanya, entah hakimnya. Sekarang kita bentuk komisi, Komisi Kepolisian, Komisi Kejaksaan, Komisi Yudisial untuk memastikan para penegak hukum pun juga harus benar dan adil. Lantas yang lain, misalnya rakyat sekarang ini bisa menggugat, bisa menggugat Presiden, menggugat DPR, menggugat siapa pun, bisa mengajukan ke MK, ke MA, pengadilan dan sebagainya, tentu akan diputus seadil-adilnya. Membuktikan dalam hukum pun makin kita tegakkan keadilan bagi semua.

Yang terakhir ekonomi. Ekonomi ini, ada yang lebih senang ekonomi tumbuh setinggi-tingginya begitu. Memang kalau ekonomi tumbuh, sepanjang secara adil didistribusikan akan membawa manfaat, tetapi banyak cerita di dunia ini, setelah tumbuh nampaknya tidak mudah untuk dibagi secara adil. Oleh karena itu, sejak awal, sejak tahun 2004, pemerintahan yang saya pimpin ini memilih kebijakan dasar pertumbuhan harus sejak awal disertai pemerataan, growth with equity. Artinya, bagi mereka yang lemah, yang tidak berdaya, tentu ada kebijakan-kebijakan khusus.

Lantas misalkan para pengusaha mikro dan kecil, saudara-saudara kita di seluruh tanah air, yang tadinya sulit untuk berusaha, kita berikan program khusus, kita berikan kredit khusus untuk mereka, sehingga hidup usahanya. Lantas juga yang mengalami kesulitan, ada bantuan sosial bagi anak-anak kita yang tidak mampu bersekolah, karena orang tuanya tidak mampu, ada program beasiswa, ada bantuan operasional sekolah, kemudian juga di bidang kesehatan, juga kita gratiskan.

Program itu tiada lain untuk betul-betul menegakkan keadilan. Sesungguhnya apa yang telah kita lakukan, arahnya sudah ke situ. Bahwa belum seluruhnya sempurna, bahwa harus ada perbaikan-perbaikan, iya. Nah di sinilah, saya mengajak kepada semua pihak, terutama para penyelenggara negara, para pejabat pemerintahan dari pusat, dari saya sampai kepala desa benar-benar menjalankan tugasnya dengan penuh amanah apa yang sudah kita tetapkan dalam undang-undang, dalam kebijakan, mari kita jalankan dengan benar. Dengan demikian, Insya Allah negara kita akan makin maju, makin sejahtera, bagi kemajuan dan kesejahteraan itu bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Begitu kira-kira.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Terima kasih, Pak SBY. Dan tentunya Insya Allah, kita dapat menuju ke arah yang lebih baik, menuju ke arah yang lebih maju dan sepertinya banyak hal yang telah dilakukan dalam 5 tahun terakhir oleh pemerintah dan tentunya upaya-upaya itu tadi telah di-highlight juga oleh Bapak SBY, diantaranya aplikasi keadilan dalam politik, tentunya hukum, dan juga tentunya ekonomi yang telah dilakukan untuk masyarakat Indonesia demi mewujudkan keadilan untuk kita semua.

Baik, kita akan break dulu sebentar, sesaat lagi kita akan kembali lagi, kita akan menghadirkan tentunya persembahan istimewa untuk Anda. Tetaplah bersama kami di sini, di ”Ramadhan Bersama SBY”.

-- break iklan --

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Terima kasih Anda masih setia bersama kami di Program Spesial ”Ramadhan Bersama SBY” dan masih dalam dari Halaman Istana yang begitu indah, malam hari ini. Kembali kami akan meneruskan atau melanjutkan perbincangan kita dengan topik ”Peran Indonesia dalam memperjuangkan tegaknya keadilan dunia”, masih bersama dengan Presiden Republik Indonesia dan juga para ulama yang akan berbagi bersama dengan kita.

Kalau tadi saya memberikan kesempatan untuk Buya dan juga Habib terlebih dahulu, sekarang saya akan memberikan kesempatan kepada Pak SBY terlebih dahulu.

Presiden Republik Indonesia
Silakan.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Baik, Pak SBY, dunia internasional meminta peran aktif Indonesia untuk lebih terlibat dalam mewujudkan keadilan dan juga perdamaian di dunia dan bahkan ulama dunia sempat menyampaikan yaitu Sheikh Yusuf Qardhawi meminta secara khusus kepada Indonesia untuk menyelesaikan konflik di dunia Islam. Apakah kira-kira langkah dan juga upaya Pak SBY persiapkan untuk mewujudkan harapan tersebut?

Presiden Republik Indonesia
Kebetulan tadi Bung Ferdi menyebut Sheikh Qardhawi, saya bertemu dengan beliau pertama kali di Doha, Qatar. Kemudian beliau berkunjung ke Indonesia, beliau banyak sekali memberikan pandangan-pandangan tentang Islam dalam perannya di forum internasional dan banyak yang menurut saya klop dengan pemikiran kita di Indonesia ini, sehingga kalau ditanyakan kira-kira apa yang mesti dikontribusikan oleh Indonesia untuk betul-betul dunia menjadi lebih adil di masa depan. Memang keadilan, kedamaian dan kesejahteraan pada tingkat dunia itu kait-mengait dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Kalau dunia makin adil, Insya Allah dunia juga akan makin damai, makin aman. Kalau dunianya makin aman, maka bangsa-bangsa di dunia akan bisa membangun lebih baik dan akhirnya kemakmuran akan datang secara adil kembali.

Begini menurut saya dikaitkan dengan perkembangan situasi global dewasa ini, dua hal yang menjadi agenda dan prioritas Indonesia dalam ikut menciptakan tatanan dunia yang adil tadi. Pertama, upaya Indonesia dengan politik yang bebas aktif, tetapi betul-betul kontributif, kita ingin agar dunia makin damai. Yang kedua, yang tidak kalah pentingnya, karena terasa sekarang ini, ada benturanlah antar peradaban, benturan antara barat dengan Islam dan juga antar pihak-pihak lain yang terkait. Oleh karena itu, tepat kalau arah dari politik luar negeri kita, dewasa ini diarahkan pada dua hal itu.

Perdamaian kita tidak kurang-kurangnya melalui Dewan Keamanan PBB dan forum-forum yang lain ikut berjuang agar konflik di Timur Tengah misalnya segera dapat diselesaikan secara baik. Indonesia, saya sendiri mengambil prakarsa untuk misalnya menyelenggarakan konferensi di Indonesia, bagaimana negara-negara GNB misalnya bisa membantu Palestina dalam yang namanya capacity building. Aspek lain agar Palestina segera bisa berdaya untuk menjalankan roda pemerintahannya.

Kita juga aktif ketika perang berkecamuk di Libanon dulu, saya mengambil inisiatif, meminta PBB, mengirim surat, bertelepon, meminta Pak Abdullah Badawi, Perdana Menteri Malaysia sebagai Ketua OKI waktu itu, kita segera bertemu dan Alhamdulillah, kita bertemu di Kuala Lumpur dan akhirnya Indonesia mengajukan usulan-usulan, usulan itu diterima dan kemudian terjadi gencatan senjata dan Indonesia mengirim kontingen militer 1 batalyon lebih. Ini bukti konkret, bahwa ketika kita ingin dunia kita makin damai, kita aktif dan kita konsekuen untuk ikut bagian dalam penegakan kedamaian. Banyak contoh yan lain.

Yang kedua tentang ya dialog antar peradaban, ini sangat penting. Oleh karena itu, 5 tahun terakhir ini, Indonesia sangat sering, apakah sendiri atau bersama-sama negara yang lain menyelenggarakan dialog antar agama, dialog antar keyakinan, dialog antar peradaban, baik di Indonesia maupun di tempat-tempat yang lain. Ulama kita juga hadir di banyak forum untuk itu.

Lantas ketika ada krisis kartun Nabi Muhammad SAW di sebuah media di luar negeri, saya menulis artikel dan kemudian saya mengajak, mari media internasional melaksankan dialog. Alhamdulillah, pertama kita laksanakan di Bali. Dialog kita bangun, akhirnya makin mengerti satu sama lain, sehingga mengerti sensitivitas, kalau memberitakan sesuatu. Kemudian yang lain juga tentunya kita menggalang gerakan-gerakan yang penting mengurangi sensitivitas pertama, keyakinan dan juga peradaban.

Yang penting begini menurut pendapat saya, Buya, Habib. Masing-masing pihak, negara manapun, bangsa manapun harus saling memahami sensitivitas di antara kita semua, saling mengerti, dengan demikian, tidak keliru di dalam melakukan sesuatu. Itu yang pertama kuncinya. Kuncinya yang kedua, mari kita gunakan yang disebut soft power. Jangan buru-buru dikit-dikit perang, jangan dikit-dikit menggunakan kekuatan militer, makin gaduh dunia ini. Mari kita carikan solusi yang damai, yang saya sebut soft power. Dua kunci itulah yang relevan. Kalau semua melakukan yang sama, dunia Islam begitu, dunia Barat begitu, insya Allah dunia akan makin adil dan makin aman.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Amin. Itulah harapan kita. Boleh kita berikan tepuk tangan oleh Pak SBY. Nah di segmen, sedikit berbeda dengan berikutnya, sebelumnya maksud saya. Jadi dimana segmen ini boleh memberikan pendapat atau juga mengukuhkan pendapat masing-masing. Dan kali ini saya akan bertanya ke Buya dan juga Habib mungkin ini ingin memberikan pendapat apa yang baru saja disampaikan oleh Pak SBY mengenai peran aktif Indonesia dan juga tentunya bagaimana untuk mewujudkan keadilan dan juga kedamaian.

Buya Tuanku Bagindo H. Mohammad Letter, MUI Prov. Sumbar
Saya melihatnya begini, dengan adanya filosofi bangsa kita, Pancasila, itu praktek dunia akan terarah kepada itu, bukan saja karena falsafah kita tadi adalah falsafah yang berkesimbangan juga karena dunia Islam juga melihat kepada kita dan Barat pun yang sekuler melihat kepada kita. Oleh sebab itu, makanya kalau ini kita perhatikan benar-benar, bagaimana membangun, membangun, kalau kita lihat sekarang ini kita lihat falsafah bangsa kita ini, berke-Tuhan-an Yang Maha Esa, kenapa tidak ber-Tuhan. Ke-Tuhan-an itu membangkitkan rasa ber-Tuhan. Kalau rasa ber-Tuhan sudah merata, hidup kita akan terkendali. Kalau hidup sudah terkendali, keadilan akan tegak, baik secara nasional maupun secara internasional.

Makanya realisasi itu kita lihat yang kedua, kemanusian yang adil dan beradab. Sebab kemanusian itu akan melahirkan keadilan, keadilan itu akan membangun adab, kesopanan, kesantunan, saling kebersamaan, kedamaian. Selanjutnya apa? Persatuan. Persatuan itu apa? Tidak mungkin sesuatu bangsa kuat tanpa persatuan, tidak mungkin sesuatu itu akan dihargai tanpa persatuan. Makanya saya melihat tadi arah yang diceritakan oleh Bapak Presiden, inilah satu kekuatan yang perlu kita bina.

Yang ketiga, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah, kebijaksaan dan permusyawaratan perwakilan. Oleh sebab itu makanya, permusyawaratan perwakilan itu harus diarahkan oleh orang-orang profesional, sehingga dia memberikan kontribusi kepada kehidupan negara ini, karena dia profesional. Sebab amanah, artinya profesional. Sebab berikanlah amanah itu kepada ahlinya, makanya saya mengharapkan nanti, wakil-wakil rakyat umpamanya kan harus mempunyai keahlian profesionalismenya tinggi, dengan demikian dia bisa memberikan sumbangan yang wajar dan bisa memberikan contoh kepada masyarakat dunia. Di sini keadilan.

Terakhir coba bayangkan, keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia. Keadilan sosial itu apa? Terbangunnya kembali rasa menikmati oleh rakyat ini dalam kehidupan ini, bukan pemerataan tapi rasa bersama. Mungkin barang kali tukang becak bisa naik mobil, bisa naik pesawat terbang karena kemampuan ekonominya ada, bukan harus berat tukang becak diberi orang, ditabung, naik kapal terbang. Saya ndak bisa menjalankan kapal terbang, tapi saya mampu menikmati naik pesawat terbang, itu namanya keadilan. Banyak orang yang tidak mengerti itu, keadilan itu sama rata, sama rasa, itu faham sekuler yang komunistis atau faham yang duniawi yaitu liberalistik. Indonesia fahamnya adalah keseimbangan.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Jadi menegakkan keadilan itu adalah merupakan salah satu ajaran agama, selain itu adalah amanah konstitusi dan juga Pancasila.

Buya Tuanku Bagindo H. Mohammad Letter, MUI Prov. Sumbar
Dan di atas keseimbangan.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Dan di atas keseimbangan. Baik, terima kasih Buya. Sekarang kita menuju ke Habib untuk menyampaikan pendapatnya. Silakan Habib.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Ketua Umum Thariqah Mu’tabarah Annahdhiyah Indonesia dari Pekalongan
Saya sudah menjadi kewajiban kalau Indonesia berperan untuk di tengah-tengah sudah waktunya untuk di dunia internasional, seperti sekarang ini, karena Indonesia cukup pengalaman, cukup mempunyai wawasan-wawasan dan peninggalan-peninggalan sejarah yang ikut membangkitkan kepada kita semuanya. Kalau kita melihat sedikit saja, di antaranya Sunan Ampel, makamnya Sunan Ampel sudah sekian ratus tahun masih sampai sekarang, masih bisa ngayomi umat, bisa memberi makan yang hidup, bisa membangkitkan lingkungannya yang luar biasa dari ekonomi yang paling menengah ke bawah sampai ke elit. Coba kalau di daerah lokasi Ampel itu sendiri, kalau tidak ada Sunan Ampel, yang mau datang ke daerah Ampel itu siapa. Ini satu contoh.

Kedua, di Gunung Jati bagaimana setelah untuk non muslim, yang satu untuk dunia Islam, yang satu dengan keyakinan dan faham kepercayaan masing-masing. Begitu indahnya Maulana Syarif Hidayatullah sudah 400 tahun yang lalu, kebebasan dan haknya diberikan, padahal ziarah kepada beliau semuanya, yang sebelah punya dunia Islam, punya dunia kita, kita berjalan. Dinamika ini semakin indah dan menunjukkan orang mati Indonesia sudah bisa memberikan kesatuan kepada bangsa ini, mempersatukan kepada, apalagi yang hidup. Saya kira demikian. Terima kasih.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Baik Habib. Terima kasih banyak, kita berikan tepuk tangan. Terima kasih banyak. Dan tentunya Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Setelah ini, kita akan tanyakan kepada Pak SBY, kira-kira bagaimana peran Indonesia dalam mewujudkan atau menegakkan keadilan bagi dunia. Jangan kemana-mana tetaplah bersama kami, tentunya di “Ramadhan Bersama SBY”. Kita kembali saat lagi.

-- break iklan --

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Terima kasih Anda masih bersama kami di Program Spesial ”Ramadhan Bersama dengan SBY”. Suasana hujan di Halaman Istana, Insya Allah barokah yah.

Presiden Republik Indonesia
Hujan barokah.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Dan kesempatan ini memang kesempatan yang langka pemirsa, karena dimana Presiden dapat berdiskusi secara langsung dengan ulama yang hadir di sini dan juga tentunya bersama dengan Anda pemirsa dimana pun Anda menyaksikan program yang saat ini yang kami siapkan untuk Anda.

Kita akan lanjutkan perbincangan kita sesuai dengan topik kita pada malam hari, yaitu peran Indonesia dalam memperjuangkan tegaknya keadilan dunia. Kembali saya akan menuju ke Buya, kali untuk pertanyaan berikut ini, bagaimana pandangan Buya mengenai kesepakatan dunia Islam untuk menegakkan keadilan?

Buya Tuanku Bagindo H. Mohammad Letter, MUI Prov. Sumbar
Sebetulnya tadi kan sudah kita singgung. Selagi dunia ini melakukan keseimbangan, dunia Islam itu harus juga menegakkan keseimbangan dan itu dasar agama Islam. Sebab sekarang ini kan ada 3 ideologi di dunia ini. Ideologi yang bersifat sekuler, ideologi yang bersifat proletar, yang satu tujuannya adalah kapitalis akan mengundang bentrokan dunia, yang satu matrealistik, yang non ke-Tuhan-an yaitu faham komunis juga akan mengundang pergolakan dunia, dimana Indonesia menemukan antara lahir dan batin, dunia dan akhirat. Itu falsafah bangsa Indonesia. Dengan adanya falsafah yang demikian itu, Insya Allah akan terjadi keseimbangan. Keseimbangan ini akan memberikan peranan di dalam kedudukan, tentu kita harus memperkuat diri.

Bagaimana kita memperkuat diri? Seperti apa yang dikatakan Bapak Presiden, meningkatkan kebersamaan, meningkatkan persatuan. Boleh kita bersaing, tapi setelah terjadi persaingan, kita saling memaafkan dan kita saling memikirkan, sebab itu ajaran agama. Kalau sudah ada suatu keputusan, yang lain wajib taat. Setuju atau tidak setuju, wajib taat --kata Rasulullah-- selama tidak mengajak kepada maksiat. Ini kunci apabila sudah terjadi, Indonesia akan berperan di tengah kehidupan dunia, karena kita mempertemukan. Sebab manusia itukan harus adanya keseimbangan. Kita disuruh bekerja untuk duniawi, tapi juga ingat, masa dibalik dunia ini ada lagi dunia yaitu akhirat. Dengan demikian, ada keseimbangan tadi, orang tidak berani melakukan apa saja kalau keseimbangan tadi ada. Inilah yang diharapkan kepada bangsa Indonesia, bukan saja karena mayoritas Islam, juga karena falsafah bangsa ini juga membentuk keseimbangan dunianya.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Terima kasih banyak untuk pendapatnya. Sekarang saya akan menuju ke Habib. Setelah mendengar pendapat Buya tadi, di jaman seperti sekarang ini Habib di jaman dimana ketidakpastian, persaingan global dan juga tentunya krisis masih menghantui di dunia Islam juga begitu halnya dengan konflik, apakah keadilan ini bisa menjadi solusi untuk kita semua?

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Ketua Umum Thariqah Mu’tabarah Annahdhiyah Indonesia dari Pekalongan
Bisa saja, tapi yang penting tidak kalah pentingnya juga bagaimana meningkatkan kesadaran kita yang pertama kalinya. Sadar bahwa kita memerlukan sekali petunjuk Allah, pendekatan kita kepada Allah. Dan kedua, sadar untuk kita meningkatkan selaku bangsa, kewajiban bangsa ini untuk memajukan bangsa ini ke depan ini apa. Ini yang pertama, eh yang kedua.

Dan yang ketiga, bagaimana kita bisa mengikuti Rasulullah pada waktu itu hijrah, kita lihat hijrah, tidak dihijrahkan di negara-negara semenanjung Arabia pada waktu itu yang sudah maju, tapi mengapa dihijrahkan ke Yasrib. Ternyata Yasrib mempunyai pandangan yang jauh 3.000 tahun yang lalu sebelum masehi sudah berhubungan secara ekonomi sampai ke Timur jauh. Maka begitu Rasulullah hijrah, tidak alah pedang yang diangkat, bukanlah kekerasan, tapi pedang ekonomi ditegakkan hingga sarana-sarana apa yang di Madinah betul-betul diangkat.

Yang kedua, mengangkat kesadaran publik ..., rakyat itu sendiri sangat memerlukan hal yang demikian. Maka kedua-duanya diangkat, keadilan, yang lainnya juga diangkat, maka majulah. Jadi kumpulkan setelah membangun ekonomi kuat, baginda Nabi tidak cukup, menarik bagaimana non Muslim pada waktu itu yang ada di Yasrib, di Madinah dikumpulkan untuk mengumpulkan sarana modal, bagaimana untuk membangun bangsa ini, satu sisi untuk agama, maka satu untuk agama Rasulullah mendapat predikat Bapak Agama, Yang kedua, sarana ekonomi menjadi Bapak Bangsa. Itulah yang bisa diberikan contoh oleh baginda Nabi SAW untuk kita semuanya. Nah dari itulah, kita sangat mendukung dan sangat men-support sekali atas untuk Indonesia ini terutama, sehingga kita bisa akan menjawab terutama tantangan-tantangan bangsa ini dan tantangan umat ini yang khususnya di Indonesia dan untuk dunia internasional.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Baik terima kasih banyak Habib. Dan sekarang saya akan menuju ke Pak SBY. Ini kuncinya sebenarnya. Bagaimana peran Indonesia, Pak SBY dalam mewujudkan keadilan bagi umat dunia? Pak SBY telah menyerukan berbagai hal dalam tentunya keadilan, entah itu di KTT OKI dan juga kelompok G-8 waktu itu dan sekarang bagaimana peran Indonesia untuk mewujudkan hal tersebut?

Presiden Republik Indonesia
Ya sebenarnya banyak yang bisa diperankan oleh Indonesia dalam ikut membangun dunia yang adil, damai dan sejahtera. Sekarang pun kita sudah berperan, tentu ke depan akan kita tingkatkan peran itu. Namun sebelum ke situ, saya ingin menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Buya Letter dan Habib Luthfi tadi, yang intinya begini. Kalau umat Islam berkontribusi, ingin menyumbang untuk dunia yang lebih baik, maka nilai-nilai luhur Islam yang luar biasa itu dipraktekkan dahulu oleh umat Islam dan kemudian dari itu, kita sebarkan, kita kontribusikan sebagaimana prinsip Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Wajib.

Yang kedua, demikian juga bangsa Indonesia, kalau kita memiliki nilai yang baik, dasar negara yang baik, kemudian cara hidup atau way of life yang baik, yang juga diangkat oleh Buya Letter tadi, maka wajib kita jalankan di negeri kita ini dengan sebaik-baiknya, sebelum itu juga kita sumbangkan kepada dunia, sebelum Indonesia memiliki otoritas moral untuk ikut mengajak dunianya menjadi lebih adil, lebih aman dan lebih damai.

Dalam konteks yang ditanyakan tadi, saya ingin menjawab dengan tiga contoh peran yang sekarang, kita mainkan dan akan terus kita tingkatkan. Pertama, Indonesia sangat aktif dalam organisasi atau forum, baik multilateral maupun regional, misalkan G-20 sekarang ini, untuk ikut menyelesaikan krisis perekonomian dunia. Yang kedua, kita juga aktif dalam forum OKI, Organisasi Konferensi Islam, saya juga hadir dalam pertemuan puncak di Dakkar, Senegal untuk ikut menyelesaikan masalah-masalah di dunia Islam dan Islam bisa berkontribusi di situ. Kemudian di Perserikatan Bangsa-Bangsa, banyak yang kita lakukan, belum forum ASEAN, belum forum APEC, belum forum gerakan non blok. Semua itu, Indonesia sangat aktif berperan dan kita juga memperjuangkan aspirasi negara berkembang, aspirasi negara-negara Islam. Dengan demikian, pada forum itu, kita bisa berperan cukup banyak.

Yang kedua, yang berkaitan dengan keadilan. Perdagangan dunia ini harus lebih adil. Saya lebih suka fair trade setelah open trade. Perdagangan terbuka, tapi juga perdagangan yang adil. Oleh karena itulah, Indonesia juga memiliki kepemimpinan, saya juga aktif di situ misalnya ada kelompok G-33, dimana Indonesia sebagai koordinator ikut memperjuangan tatanan perdagangan dunia yang adil.

Lantas sekarang yang menjadi isu penting adalah tentang perubahan iklim. Dunia makin panas, kalau tidak bisa kita hentikan, mengancam keselamatan bumi kita dan kalau bumi terancam, tentu kehidupan makhluk diatasnya ciptaan Allah SWT juga akan terancam. Oleh karena itu, dunia tengah meningkatkan kerjasamanya untuk mengatasi perubahan iklim, Indonesia sangat aktif. Ingat di Bali, kita menoreh sejarah yang luar biasa, ada Bali Road Map, setelah sebelumnya macet. Ini kontribusi Indonesia yang sekarang juga mendorong negara-negara lain, apa negara maju, negara berkembang, semua ikut bertanggung jawab. Agar adil, diplomasi Indonesia dalam kerangka kerjasama mengatasi perubahan iklim, negara maju harus memegang kendali keteladanan, take lead, teknologinya maju, berbagi dong dengan yang lain, mereka secara finansial lebih kuat, berkontribusi dong kepada negara-negara yang belum kuat. Tapi sebaliknya negara berkembang juga memiliki kesadaran untuk menyelamatkan buminya, karena kalau bumi tidak selamat, negaranya juga tidak selamat.

Ini adalah contoh saja yang ingin saya sampaikan pada forum yang mulia ini. Bahwa Indonesia dalam kancah internasional akan terus akftif dan bahkan semakin aktif, agar dunia yang kita huni ini satu-satunya planet ke depan makin damai, makin adil, dan makin sejahtera. Itulah yang ingin saya sampaikan dan semoga butir-butir, nilai-nilai yang baik tadi, baik nilai Islam maupun nilai Indonesia, itu lebih menguatkan komitmen kita, perjuangan kita dan semangat kita untuk betul-betul menegakkan keadilan, baik di negeri sendiri maupun pada tingkat dunia.

Sdr. Ferdi Hasan, Pemandu Acara
Amin. Itulah harapannya. Terima kasih Pak SBY. Boleh kita berikan tepuk tangan sekali lagi untuk Pak SBY. Dan rasa-rasanya kita sudah mendengarkan secara langsung pemaparan dari tiga narasumber dan kita Insya Allah telah mendapatkan arti atau makna secara utuh mengenai pemahaman keadilan. Dan Insya Allah, kita juga telah berperan aktif dalam tentunya mewujudkan memperjuangkan keadilan di dunia dan Insya Allah sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, Insya Allah kita juga bisa turut berperan aktif dalam terus menggalakkan dan juga memperjuangkan keadilan untuk seluruh umat di dunia secara arif, bijaksana dan diplomatis.

Dan sampai di sini dulu perjumpaan kita di kesempatan kali ini. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk Pak SBY. Terima kasih banyak Buya. Terima kasih banyak Habib. Selamat melanjutkan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini, Insya Allah kita kita diberikan kesehatan dan juga kekuatan untuk menuju sampai dengan hari kemenangan. Dan terima kasih juga untuk atensi dan perhatian Anda pemirsa, Insya Allah kita bisa berjumpa lagi di lain kesempatan.

Wabillahitaufik walhidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kerpesidenan