Dalam sebuah kesempatan Presiden Jokowi pernah berucap: “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang yang tidak jelas, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan.”

Kini hampir lima tahun pemerintahannya berbagai agenda pembangunan skala besar berhasil dibereskan. Sebut saja puluhan bendungan, embung, dan saluran irigasi. Puluhan juta sertifikasi tanah diterbitkan. Bahkan di Provinsi Bali, semua bidang tanah bakal mendapatkan sertipikat tahun 2019 ini.

Tak kalah menakjubkan adalah tersambungnya jalan yang menautkan Merak di ujung Barat sampai Pasuruan di Timur Pulau Jawa yang dikenal dengan jalan Tol Trans Jawa setelah 74 tahun merdeka.  Untuk kali perdana tol Trans Jawa menjadi tulang punggung arus transportasi, logistik, dan mudik Lebaran 2019.

Masih banyak hal-hal lain yang sudah dikerjakan, namun dengan melihat tiga hal itu, boleh dikata Presiden ke-7 RI ini adalah pembuat sejarah. Visinya adalah bekerja untuk menuntaskan beragam urusan yang masih menyelimuti bangsa ini.

Dengan lebih dari separo penduduk Indonesia tinggal di Jawa dan sumbangan pada produk domestik bruto sebesar 58,49 persen sudah sepantasnya Jawa punya jalan tol untuk mendukung keterhubungan yang bermuara pada percepatan perputaran roda  ekonomi.

Menurut Presiden, keberadaan jalan tol mesti dileburkan dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Seperti kawasan industri, pelabuhan laut, bandar udara, kawasan wisata, dan pemukiman.

“Dengan begitu keberadaanya berguna untuk kemajuan industri, pariwisata, dan bisnis,” tegasnya.

Imbas langsung pengoperasian Tol Trans Jawa dirasakan oleh pengemudi bus jarak jauh Priyanto. Menurutnya, bus jarak jauh  kembali menjadi pilihan masyarakat, karena waktu tempuh yang lebih pasti. Kini Jakarta – Semarang hanya 6 jam. Jakarta – Solo 8 jam, dan Jakarta – Surabaya 9-10 jam. “Penumpang juga cukup banyak dan bisa menutupi biaya bahan bakar dan tol. Apalagi selama perjalanan selalu lewat tol membuat penumpang nyaman dan bisa tidur nyenyak.”

Bus juga lebih berani menambah jarak lantaran terpangkasnya waktu tempuh. Jika sebelumnya hanya menjalani trayek Surabaya – Yogya. Maka bus yang sama menambah trayek hingga Purwokerto, bahkan Bandung. “Muncul beberapa perusahaan bus baru yang sebelumnya tidak dikenal, menandakan tumbuhnya sektor ini,” kata Aji Fajar W, pengelola Terminal Giwangan Yogyakarta.

Sementara di berbagai rest area, keberadaan pedagang tradisional dan oleh-oleh khas daerah sudah jamak. Para penjaja yang sebelumnya berada di jalur arteri mengambil kesempatan berpindah ke area peristirahatan. Telur asin Brebes menjadi primadona, pun lonpia Semarang, dan beragam penganan kecil lainnya.

Batik Trusmi, empal gentong, dan nasi jamblang khas Cirebon  menjamur di seputaran exit tol Plumbon, Cirebon. Mereka diuntungkan lantaran hanya berjarak beberapa kilometer dari pintu keluar tol.

Bisa dibilang jalan tol Trans Jawa ibarat karpet merah yang mengantarkan konsumen potensial ke pusat-pusat ekonomi, kuliner, wisata di sepanjang tol. Saatnya pemerintah daerah mempromosikan keunggulan daerahnya.

Dalam skala makro, kerja nyata membuat peringkat daya saing Indonesia pun membaik. International Institute for Management Development World Competitiveness Ranking 2019 melejitkan negeri kita ke posisi 32 dunia atau naik 11 peringkat dibandingkan tahun 2018 yang berada di posisi ke-43 dunia.

IMD menggunakan empat indikator utama dalam penilaiannya, yakni kinerja ekonomi, efisiensi pemerintahan, efisiensi bisnis, dan infrastruktur. Indonesia menunjukkan perbaikan daya saing yang paling menggembirakan di kawasan Asia Pasifik. Hal ini berkat perbaikan efisiensi di sektor pemerintahan, pembangunan infrastruktur, dan iklim bisnis.

Di sisi lain, berbagai kemajuan tersebut meningkatkan kepercayaan investor. Yang ditunjukkan oleh naiknya peringkat utang Indonesia menjadi BBB/Outlook Stabil dari sebelumnya BBB-/Outlook Stabil. Hal ini disampaikan oleh lembaga pemeringkat global, Standard and Poor’s (S&P) pada pertengahan Juni 2019.

Terkereknya rating utang Indonesia adalah berkah untuk Indonesia. Ini akan memberikan pengaruh positif untuk investor asing yang akan menanamkan modalnya ke sini.

Benar apa yang dikatakan Presiden Jokowi, “Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan.”