Akhirnya, Pemerintah membubarkan Pertamina Energy Trading Ltd (Petral). Rencana PT Pertamina (Persero) untuk membubarkan Petral disebut sebagai upaya untuk memperbaiki lagi tata kelola migas negeri ini. Semula, tujuan pendirian Petral adalah untuk menjual minyak hasil produksi Indonesia yang saat itu melimpah. Namun, seiring perkembangan produksi minyak Indonesia yang terus menurun, maka fungsi Petral berubah menjadi pembeli minyak dari luar negeri untuk kebutuhan dalam negeri.

Sebelumnya, banyak pihak berpandangan betapa sulitnya membubarkan Petral. Menurut Faisal Basri, pengamat ekonom sekaligus Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas, ada kekuatan besar yang menghalangi pembubaran Petral ini. Sehingga, bertahun-tahun Petral sulit dibubarkan.

Pembubaran itu sendiri melebihi ekpektasi tim anti migas karena bukan hanya Petral saja yang dibubarkan. PT Pertamina (Persero) mengumumkan pembubaran Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) beserta anak usahanya, Pertamina Energy Services Pte Ltd (PES) dan Zambesi Investments Limited (ZIL) pertengahan Mei lalu (13/5/2015). Langkah pembubaran Petral Grup akan didahului dengan uji tuntas keuangan dan legal serta audit investigasi yang akan segera dilakukan.

Dengan pembubaran Petral, maka kegiatan bisnis Petral Group terutama yang menyangkut ekspor-impor minyak mentah dan produk kilang akan sepenuhnya dijalankan Pertamina melalui Integrated Supply Chain (ISC). Pada saat yang sama Pertamina akan merampungkan perbaikan tata kelola dan proses bisnis yang akan dijalankan oleh ISC. ISC sejak Januari 2015 lalu sudah mulai menggantikan peran Petral. Oleh karena itu, bersamaan dengan progam efisiensi lainnya, Pertamina berhasil melakukan efisiensi hingga mencapai 22 juta dollar AS.

Tidak hanya pembubaran Petral saja reformasi birokrasi yang dilakukan. Atas arahan Presiden Jokowi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengungkapkan, akan membentuk tim investigasi dan tidak ragu melaporkan ke penegak hukum apabila menemui penyimpangan di Petral. Sejak awal, Presiden Jokowi menaruh perhatian khusus untuk Petral. Pasalnya, di masa lalu reputasinya sarat dengan praktek yang tidak transparan.

Komitmen membubarkan Petral adalah salah satu kunci terpenting dalam melakukan reformasi tata kelola Migas yang selama ini berlangsung secara kurang transparan. Dengan membubarkan Petral dan menggantikannya dengan ISC, maka mata publik akan dapat dengan lebih jelas melihat proses yang sedang berlangsung, khususnya dalam hal impor BBM. Termasuk siapa saja, yang terlibat dan diuntungkan dalam proses tersebut.

Hal ini tentu akan membawa dampak yang besar, bukan saja dalam hal efisiensi anggaran Negara – seperti sudah terbukti dengan pembubaran Petral. Lebih dari itu, kebijakan ini akan membuka kesempatan pada pemerintah dan Pertamina untuk menjalankan strategi penggunaan energi yang paling tepat untuk mendukung agenda-agenda pembangunan strategis sebagaimana diamanatkan dalam Nawacita. Termasuk di dalamnya, adalah penggunaan energi gas dan energi baru dan terbarukan (EBT) yang masih melimpah di negeri kita ini.

Kebijakan ini juga diharapkan dapat memberi dorongan bagi program reformasi birokrasi agar berjalan lebih cepat. Sebab pembubaran Petral, pada dasarnya memberi pesan penting bahwa hal-hal yang tak mungkin berubah di masa lalu, sangat mungkin berubah di masa kini.