Penyerahan Bantuan Modal Kerja (BMK)

Jumat, 18 Desember 2020
Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat

Sesi 1

Bismillahirahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,
Selamat sore
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati, Bapak Kepala Staf Kepresidenan, Bapak Jenderal  Moeldoko;
Bapak/Ibu sekalian.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kehadiran Bapak/Ibu semuanya. Saya tahu situasi kondisi keadaan sekarang ini tidak mudah, sangat sulit, terutama yang bergerak di usaha. Entah itu yang berjualan warung di rumah, entah yang berjualan di pasar, atau yang peagang kaki lima, semuanya. Dan sulitnya itu tidak hanya yang kecil, yang tengah…usaha yang sudah di tengah juga sulit, usaha yang gede pun juga banyak yang tutup. Dan itu pun tidak dialami oleh Indonesia saja, dialami oleh 215 negara di seluruh dunia. Negara besar, negara kecil, negara sedang, negara maju, negara miskin, negara berkembang, semuanya keadaannya sama. Ini yang kita harus tahu, ya situasinya seperti ini karena pandemi Covid-19, karena virus korona.

Oleh sebab itu, untuk sedikit membantu meringankan atau mungkin bisa menambah, memberikan suntikan modal kerja kepada Bapak/Ibu semuanya, kita memberikan bantuan modal kerja yang sudah Bapak/Ibu pegang semuanya , sudah? Isinya sudah dihitung tadi? Isinya tahu berapa? Rp2,4 juta. Oke, jadi sudah pegang semuanya.

Moga-moga ini nanti…vaksinnya kan sudah datang, tapi untuk disuntikkan kepada seluruh warga negara Indonesia ini masih menunggu, menunggu tahapan dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Kalau nanti dari BPOM sudah memberikan izin, “Suntikkan…” besok langsung disuntikkan, divaksinasikan kepada masyarakat, dan tidak dipungut biaya alias gratis. Yang hadir di sini ada yang ingin divaksin? Ada yang ingin disuntik vaksin, mau? Enggak ada yang mau? Gimana sih? Takut apa? Yang tidak mau divaksin siapa? Ada, ada enggak di sini yang enggak mau divaksin? Saya sudah menyampaikan, saya nanti yang akan divaksin pertama kali, di Indonesia ini saya yang pertama kali (divaksin) untuk menunjukkan bahwa divaksin itu tidak apa-apa. Sehingga kalau semua nanti sudah divaksin, ya artinya kita ini sudah kembali normal lagi, gitu lho. Tapi Bapak/Ibu bisa bayangin, yang akan divaksin itu minimal 67 persen, atau 70 persen penduduk Indonesia, sudah kita hitung kemarin, 182 juta itu harus satu persatu divaksin semuanya, kayak anak kecil kalau pas vaksinasi itu. Kayak digigit semut lah, tik…gitu aja, 182 juta (orang). Bayangkan, banyak sekali, memerlukan waktu. Sehingga, sekali lagi, begitu besok misalnya divaksin…sudah divaksin, itu belum keadaan bisa langsung normal itu enggak karena baru berapa yang divaksin. Butuh waktu untuk nyuntik satu-satu itu.

Ini yang harus kita ngerti. Kenapa harus minimal paling tidak 70 persen disuntik, supaya terdapat yang namanya kekebalan komunal, yang namanya herd immunity. Jadi kalau 70 persen dari Bapak/Ibu ini, misalnya kumpul di sini ini satu RT (rukun tetangga), ya kan, sudah divaksin 70 persen. Yang 30 persen yang enggak divaksin itu sudah aman, karena sudah dipagari oleh yang divaksin. Itu yang namanya kekebalan komunal/herd immunity.

Sehingga, saya tanya sekali lagi. Siapa yang hadir di sini nanti ingin divaksin? Tadi kok enggak mau gini. Saya harapkan semuanya mau, tidak ada yang menolak. Karena apa, vaksin itu juga sudah diikuti oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia), sudah oleh Kementerian Agama, sampai di pabrik diikuti. Dan nanti dari MUI juga akan mengeluarkan mengenai kehalalan dari vaksin itu. Jadi, sudah.

Sekali lagi, siapa yang hadir di sini yang ingin divaksin? Tunjuk jari. Ada yang tidak tunjuk (jari) berarti enggak mau? Mau semua. Oke, ya sudah.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan. Saya ingin ada satu-dua yang cerita mengenai usahanya. Sampaikan nama, kemudian usahanya apa, sekarang omzetnya seperti apa, dulu (omzetnya) seperti apa.

Silakan Pak. Oke, ini Bapak dari mana? Ya, itu.

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Nama saya Mulyadi dari Citeureup.

Presiden RI:
Pak Mulyadi dari Citeureup. Ya, usahanya apa Pak?

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Jualan sayuran di rumah, Pak.

Presiden RI:
Jualan sayuran di rumah?

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Sayuran mentah.

Presiden RI:
Iya, (jualan) sayuran mentah di rumah.
Berapa itu modalnya kalau jualan sayuran di rumah, itu semua?

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Kadang-kadang kalau lagi ramai Rp200 (ribu) – Rp300 (ribu), kalau enggak pekgo (Rp150 ribu)…cepek (Rp100 ribu). Kalau lagi laku….

Presiden RI:
Modalnya semua berapa untuk beli sayur-sayur itu?

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Ya kadang-kadang, kalau ini mah, Rp500 (ribu) – Rp700 (ribu)…

Presiden RI:
Rp500 (ribu). Itu (BMK) sisa banyak, Rp2,4 (juta). Benar? Nah, bisa untuk menambah modal lebih besar lagi.

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Iya, ditambahin lagi Pak.

Presiden RI:
Ya. Terus, sehari sekarang bisa (mendapatkan) omzet berapa?

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Ya semenjak ada (virus) korona, sedikit.

Presiden RI:
Sedikit itu berapa?

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Ya kadang-kadang ada yang belanja…kadang sampai Rp150 (ribu), sehari dapatnya Rp100 (ribu), kadang Rp70 (ribu), Rp80 (ribu).

Presiden RI:
Hmm, begitu ya.

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Kalau lagi ramai yang beli, ya ramai. Enggak ada (yang beli), yang enggak ada.

Presiden RI:
Kalau biasanya, waktu normal berapa?

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Kadang Rp400 (ribu), Rp500 (ribu)…

Presiden RI:
Hmm, oke. Sepertiga-seperempat ya omzetnya.

Ya, semua mengalami seperti itu. Yang gede-gede juga sama, lho. Jangan dipikir yang kecil (saja yang terdampak), yang gede juga sama. Yang tengah juga sama. Saya sudah cek semua.

Jadi memang nanti, insyaallah, semoga nanti setelah ada vaksinasi keadaan normal kembali, itu yang kita harapkan. Doa seluruh Bapak/Ibu semuanya. Ya, terima kasih.

Bapak Mulyadi, Pedagang Sayur:
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Presiden RI:
Wa’alaikumsalaam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ada…Ibu, coba? Ada yang ingin bicara? Nggih. Coba. Ya.

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,

Presiden RI:
Wa’alaikumsalaam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Nama saya Ibu Juju, dari Pandansari 1.

Presiden RI:
Pandansari, Bu? Oh, ya.

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Saya jualan gorengan sama sayur, sama nasi…

Presiden RI:
Oh, banyak?

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Kalau siang nasi.

Presiden RI:
Kalau siang nasi. Kalau sore, gorengan?

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Kalau siang, nasi. Kalau sore mah, sudah, enggak ada, paling kopi.

Presiden RI:
Oh. Gorengan, nasi, kopi. Di rumah itu?

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Di warung, di depan Pak.

Presiden RI:
Di depan rumah?

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Di depan kantor itu, BPKP. Di gang ojek.

Presiden RI:
Sehari bisa jualan berapa sekarang?

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Sekarang menurun. Enggak ada yang mampir kadang-kadang.

Presiden RI:
Berapa?

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Paling dari kantor juga dianterin ke…

Presiden RI:
Berapa itu, bisa berapa jualan sehari, sekarang?

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Sekarang, paling…

Presiden RI:
Omzetnya, sehari bisa jualan berapa?

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Rp700 (ribu) yang modalnya. Kalau yang mengatur itu kan anak-anak. Jadi cuma bantu anak-anak saja.

Presiden RI:
Oh, Rp700 ribu sehari, omzet?

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Modalnya, gitu kalau belanja. Ya.

Presiden RI:
Kalau untungnya berapa bisa sehari?

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Kalau untungnya, enggak tahu itu. Anak yang mengaturnya.

Presiden RI:
Oh, anak yang menghitung.

Ibu Juju, Pedagang Rumahan:
Iya. Iya Pak.
Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Presiden RI:
Wa’alaikumsalaam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ya, saya kira sama. Semuanya memang tidak semudah, segampang waktu keadan normal. Tapi insyaallah tahun depan kita semuanya sudah berada pada posisi yang  normal kembali.

Sudah, kita hitung-hitung, mungkin pertumbuhan ekonomi juga sudah berada pada posisi normal kembali dan moga-moga enggak ada kayak yang di eropa ya. Jerman, Perancis, di Italia, ada gelombang kedua. Moga-moga kita semuanya disiplin, memakai masker semuanya, sehingga yang namanya enggak ada. Jaga jarak, pakai masker dan jaga jarak, tidak masuk ke tempat kerumunan, habis kegiatan cuci tangan. Saya kira kalau ini semuanya disiplin, rakyat saya kira…semoga kita enggak ada gelombang kedua.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu semuanya. Jangan sampai usaha kita ada yang tutup. Dengan cara apapun pertahankan, meskipun keuntungannya kecil, sedikit, terus sampai keadaannya normal. Begitu keadaan normal, nanti akan…keuntungan, omzet juga akan normal kembali. Saya tutup.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



Sesi 2

Bismillahirahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,
Selamat sore
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati, Bapak Kepala Staf Kepresidenan, Bapak Jenderal  Moeldoko;
Yang saya hormati, Bapak/Ibu sekalian.

Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu semuanya sore hari ini.

Saya tahu situasi sekarang bukan situasi yang mudah, bukan situasi yang gampang, terutama Bapak/Ibu yang bergerak di usaha, entah itu dagang di rumah, entah itu berjualan di pinggir jalan, atau berjualan di pasar, atau menjadi pedagang kaki lima. Ya memang situasinya baru pandemi Covid-19, sulit semuanya. Yang kecil, berdagang sulit. Yang di tengah juga sulit. Yang gede pun juga sulit. Dan juga bukan hanya negara kita Indonesia saja, 215 negara di dunia semuanya kena yang namanya virus korona. Negara miskin kena, negara berkembang kena, negara maju, semuanya juga kena. Kita alhamdulillah tidak separah mereka. Sekarang ini di eropa ada gelombang kedua, gelombang pertama saja kita sudah seperti ini, apalagi ada gelobang kedua ynag besar di eropa.

Oleh sebab itu, saya mengajak Bapak/Ibu semuanya untuk kita tetap berdisiplin: memakai masker, menjaga jarak, tidak ke tempat berkerumun, selalu cuci tangan setelah kegiatan. Ya itu yang harus terus kita ingatkan kepada rekan kita, kawan kita, tetangga kita, lingkungan kita, karena itu satu-satunya jalan untuk menghindari meluasnya wabah Covid-19 ini.

Dan itu betul-betul sangat dirasakan dalam kita berdagang, berusaha. Yang dulu omzetnya, misalnya bisa Rp1 juta, sekarang hanya Rp300 (ribu). Yang dulu omzetnya Rp500 (ribu), sekarang mungkin hanya Rp200 (ribu). Yang dulu omzetnya Rp600 (ribu), sekarang juga hanya Rp200 (ribu), misalnya. Semuanya mengalami seperti itu, karena saya mengumpulkan seperti ini kan tidak sekali-dua kali-sepuluh kali, dan di kabupaten/kota juga, mendengarnya sama, keluhannya sama. Tapi kita harus tetap bertahan agar usaha kita jangan sampai tutup karena pandemi. Entah untung nya kecil, untungnya sedikit, tetapi harus bertahan agar usaha kita tetap bergerak terus.

Kemudian yang kedua, keadaan ini akan kembali normal kalau kita nanti sudah mulai vaksinasi. Seluruh rakyat diberi vaksin, kira-kira 70 persen rakyat kita akan kita vaksin. Jumlahnya 182 juta (orang yang akan divaksin). Bapak/Ibu bisa bayangin, 182 juta (orang) disuntik satu-satu. Dan juga perlu saya ingatkan, saya sampaikan, bahwa pemberian vaksin nanti tidak dipungut biaya, alias gratis. Mungkin nanti akan ada pemberitahuan dari puskesmas atau dari kelurahan mengenai kapan kita harus vaksinasi, karena vaksinnya sudah ada di negara kita, tinggal mulai kapan.

Jadi, vaksinasi itu untuk semua rakyat tidak terkecuali, semuanya, supaya kita bisa kembali hidup normal. Dan juga tidak ada kaitannya dengan anggota BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Kan ada isu, “Ini yang divaksin hanya yang memiliki kartu BPJS”, enggak. Semuanya, seluruh warga bisa mengikuti vaksinasi. Tapi memang nanti diatur oleh kelurahan atau oleh puskesmas di dekat kita.

Yang hadir di sini, mau semuanya divaksin? Tunjuk jari yang mau divaksin. Ada yang enggak tunjuk jari, berarti enggak mau (divaksin)? Oh, mau semuanya, oke, syukur. Karena vaksin ini sudah sejak awal, 6 bulan yang lalu juga diikuti dari MUI/Majelis Ulama Indonesia, juga dari Kementerian Agama. Jadi, jangan sampai ada kekhawatiran mengenai halal atau tidak halal-nya vaksin ini. Ini dalam keadaan darurat kita., karena pandemi Covid-19 ini.

Say rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan saya minta mungkin ada satu-dua dari Bapak/Ibu semuanya untuk bercerita mengenai situasi ekonomi kecil, sekarang ini seperti apa sih?

Nama, dari mana, dan jualannya apa. Silakan, Pak. Oke, nanti siapa lagi, yang satu Ibu-Ibu yang cerita.

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,

Presiden RI:
Wa’alaikumsalaam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Nama?

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Saya Pak Hasan, Pak. Saya enggak menyangka mau bertemu sama Bapak. Seumur saya di sini, puluhan tahun Pak, di Bogor, saya juga jualan di Kebun Raya lah namanya, apa lah…

Presiden RI:
Oh, jualannya sering di Kebun Raya.

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Waktu sebelum sekarang ini lah, gitu…jadi kan saya Sabtu-Minggu sudah mulai (dagang) di depan, Pak. Kalau hari raya gitu, kan saya di sini Pak, gitu. Jadi selama ini suka nanya-nanya sama teman, “Ini Kebun Raya belum buka lagi?” begitu. Jadi suka ingat, gitu.

Sekarang saya jualan pisang di itu, Pak, di Madu Raya, Pak. Jadi kemarin ketemu sama Bapak Sendi, itu, ngobrol-ngobrol…

Presiden RI:
Jualan apa?

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Ya, jualan sih apa saja, Pak. Kalau lagi musim buah durian, ya durian gitu. Kalau enggak ada, pisang apa lah gitu.

Presiden RI:
Oh, gonta-ganti.

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Gonta-ganti. Kalau buah kan musiman, Pak.

Presiden RI:
Hmm. Musim durian, jualan durian.

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Jualan durian, kalau lagi ada. Sekarang…

Presiden RI:
Musim singkong, jualan singkong?

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Enggak bisa kalau singkong, Pak. Cuma buah-buah.

Presiden RI:
Oh, buah-buahan.

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Seperti pisang lah, gitu.

Jadi, terima kasih banyak, Bapak. Sekarang saya bisa, apa namanya…diberikan keluangan waktu di sini, gitu. Ini baru pertama lah ketemu bapak-bapak, gitu. Suka kalau di TV suka lihat Bapak. Apa lagi…

Nah, jadi terima kasih banyak. Saya dengar-dengarnya begini dari Bapak Sendi. Saya semangat, Pak. Bahkan nanya-nanya, “Kalau sudah terlaksana mau dipakai apa?” katanya, gitu. “Pak, saya mah suka begini di jalan, umur-umuran lah” gitu kata saya.

Presiden RI:
Biasanya modalnya berapa, Pak?

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Ah, enggak sih.

Presiden RI:
Modalnya kalau jualan itu berapa, berapa rupiah biasanya?

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Ya, Pak. Kalau modal bisa di…kecil ya kecil, gitu. Kalau besar, ya besar, Pak. Kalau besar, Pak, sampai ada Rp4 (juta) – Rp5 juta mah, itu di waktu hari raya, gitu.

Presiden RI:
Ooh.

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Tapi kalau sekarang ini enggak berani modal gede-gede, Bapak. Enggak. Masalahnya kan laku dagangannya kurang. Kan bilang Bapak, gitu…

Presiden RI:
Sekarang sehari untung…kalau jualan sekarang, untungnya berapa sih, sehari?

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Jadi, ya makanya Pak, kalau ditanya per hari saya juga susah, susah ngejawab. Kenapa, sekarang kan kalau jualan, adanya modal Rp1 juta, kadang-kadang modalnya juga belum pulang gitu. Jadi beberapa hari lah, sampai 3-4 hari, gitu. Jadi kalau dibilang per hari, agak susah Pak, sekarang gitu.

Kalau sekali belanja habis, modal Rp500 (ribu), nah itu baru bisa diaku ada untung sehari berapa, gitu.

Presiden RI:
Nggih. Bapak sudah tahu? Semua sudah tahu yang diberikan ini, isinya berapa sudah tahu? Sudah tahu? Sudah diberi tahu? Belum? Jadi ini bantuan modal kerja ini isinya Rp2,4 juta. Rp2,4 juta untuk tambahan modal kerja Bapak/Ibu semuanya.

Nggih, terima kasih Pak.

Bapak Hasan, Pedagang Buah:
Sama-sama, Pak.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Presiden RI:
Wa’alaikumsalaam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Siapa, Ibu? Ya.

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Presiden RI:
Wa’alaikumsalaam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Terima kasih atas undangan Bapak Jokowi dan Bapak yang lainnya. Saya terima kasih untuk semuanya, untuk penambahan modal kerja, untuk tambah modal usaha di rumah. Terima kasih.

Untuk keluhannya…

Presiden RI:
Ibu jualannya apa sih, di kampung mana?

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Saya di belakang Rumah Sakit Azra tinggalnya, Pak. Ya, saya dagang pulsa…

Presiden RI:
Pulsa?

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Saya dagang pulsa, dagang alat tulis kantor di rumah.

Presiden RI:
Alat tulis kantor, ya. Di rumah?

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Iya di rumah saya. Saya rumahan. Tadinya suami saya bekerja, terus selama pandemi ini jadi dirumahkan, jadi membantu…ya sama-sama di rumah gitu, jadinya.

Presiden RI:
Ooh. Sekarang berapa omzet sehari bisa jualan?

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Kalau dihitung omzet, saya sekarang jualan pulsa banyakannya di hutang, Pak. Jadinya kalau dihitung baliknya (modal) susah, Pak.

Presiden RI:
Gimana, pulsa kok dihutang, gimana  itu?

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Ya, jadi ya ambil dulu, Pak, gitu. Minta dulu, nanti dibayarnya kalau sudah ada uang, gitu.

Presiden RI:
Tapi itu hanya untuk tetangga kanan-kiri, gitu?

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Tetangga saja sih. Tapi untuk…tadinya kan yang sleewat-selewat gitui banyak, Pak, gitu.  Sekarang sudah jarang. Jadi cuma memang hanya tetangga saja jadinya menurut…

Presiden RI:
Jarang sekarang ya.

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Iya, Pak.

Presiden RI:
Ya memang kondisinya seperti itu semuanya, usaha. Tapi nanti ini kan vaksinnya sudah datang, nanti insyaallah, nanti (bulan) Januari sudah mulai disuntik (vaksin). Kalau nanti posisinya sudah normal kembali, perkiraan kita tahun depan itu sudah normal kayak dulu lagi.

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Amiin, amiin.

Presiden RI:
Kita berdoa bersama-sama, semoga segera kita kembali ke normal, ya.

Ibu Pedagang Pulsa dan Alat Tulis Kantor:
Amiin. Terima kasih, Pak.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Presiden RI:
Wa’alaikumsalaam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ya, itulah kondisi. Dan saya mengundang seperti ini kan tidak hanya sekali-dua kali, sudah puluhan kali di Jakarta, di sini, sudah puluhan kali di kota yang lain juga keadaannya, ceritanya seperti tadi keadaannya.

Jadi, sekali lagi, Bapak/Ibu semuanya harus tahan banting, jangan sampai usaha tutup. Untung kecil enggak apa-apa, untung sedikit enggak apa-apa, tapi usahanya harus hidup dan harus bertahan. Sehingga nanti pada posisi keadaan normal kita sudah…usahanya, ekonominya di seluruh negara ini, ekonomi Bapak/Ibu semuanya juga kembali normal lagi. Kita berharap seperti itu, ya.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, dan saya tutup.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.