Peresmian Pembukaan Rakernas XVI Apkasi, Apkasi Otonomi Expo, dan Apkasi Procurement Network Tahun 2024

Rabu, 10 Juli 2024
Ruang Cendrawasih, JCC, Jakarta

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om swastiastu,
Namo buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju. Hadir bersama saya Pak Mendagri, Bu Menteri Keuangan, Pak Sekretaris Kabinet, Pak Menteri Koperasi dan UKM;
Yang saya hormati Ketua Umum Apkasi beserta seluruh jajaran pengurus;
Yang saya hormati Bapak-Ibu Bupati;
Hadirin dan Undangan yang berbahagia.

Saya kira kita merasakan semuanya bahwa dalam lima tahun ke belakang ini adalah sebuah periode yang tidak mudah, sangat sulit, penuh tantangan. Dari sisi kesehatan kita tahu ada pandemi Covid.

Kemudian geopolitik, perang yang menyebabkan harga minyak naik dan turun, harga pangan naik dan turun, (perang) di Ukraina, di Palestina.

Kemudian dari sisi lingkungan juga kita rasakan sekarang ini semakin nyata gelombang panas El Nino, El Nina, semuanya. Ini menyebabkan banyak sekali (krisis), baik krisis kesehatan, krisis ekonomi, krisis pangan, krisis keuangan, dan (krisis) kemanusiaan.

Tapi kita patut bersyukur bahwa negara kita mampu bertahan dari hambatan-hambatan, tantangan-tantangan yang ada, dan ekonomi kita masih tumbuh 5,11 persen di kuartal pertama tahun 2024. Sangat sulit sekarang ini negara-negara bertahan dengan growth di atas 5 persen. Coba nanti Bapak-Ibu cek negara-negara lain angkanya seperti apa.

Dan juga inflasi bisa kita kendalikan. Terakhir di bulan Juni 2,5 persen inflasi kita. Ini berkat Bapak-Ibu sekalian yang selalu rapat dengan Mendagri setiap hari Senin, rutin setiap minggu, tapi hasilnya ada.

Coba lihat sekarang Argentina inflasinya berapa, Bapak-Ibu cek saja. Turki inflasinya berapa, Bapak-Ibu cek. Mengerikan sekali angkanya.

Dan bahkan di masa yang sangat sulit ini, daya saing kita, World Competitiveness Rankings kita naik di angka 27 di antara negara-negara yang lain, dan ini menjadi kenaikan yang tertinggi dibandingkan negara-negara yang lain.

Ini saya lihat terus karena ke depan, dalam kompetisi antarnegara, bukan negara besar (yang akan) mengalahkan negara kecil, sekali lagi ini saya ulang-ulang, melainkan negara cepat yang akan mengalahkan negara lambat, dan kita ingin menjadi negara yang cepat itu dalam pelayanan publik, dalam mobilitas barang dan orang. Kita inginkan itu.

Dan setelah kita mengarungi lima tahun ini, ini menjadi pengalaman kita bersama-sama, betapa kita semakin matang, betapa kita semakin dewasa, betapa semakin pintar kita mengelola daerah, mengelola kabupaten, mengelola provinsi, mengelola negara, mengelola keuangannya, dalam mengambil kebijakannya, mengelola anggaran karena masa-masa lima tahun ke belakang memang betul-betul sebuah pengalaman yang tidak mudah.

Dan ke depan, tantangan tidak semakin gampang, (tapi) semakin rumit dan semakin kompleks. Oleh sebab itu, kita perlu seadaptif mungkin dan terus melakukan inovasi-inovasi, utamanya memang di daerah.

Sekarang kalau saya ke daerah, pasti masuk pasar, bupatinya pasti saya tanya inflasinya berapa bulan kemarin. (Bupati) yang saya tanya enggak bisa jawab, mohon maaf, ada, masih ada satu-dua. Tolong, sebelum saya masuk ke kabupaten, bertanya dulu ke BI inflasinya berapa, ke TPID inflasinya berapa karena pasti saya tanya.

Harga-harga pasti juga saya tanyakan, entah beras, bawang merah, bawang putih, cabai. Yang sering naik kan barang-barang itu. Yang lain-lainnya relatif stabil.

Dan sekali lagi persaingan antarnegara sekarang ini semakin ketat.

Saya hanya ingin titip bahwa potensi-potensi yang ada di daerah itu harus dikembangkan, harus dikembangkan, baik dari sisi finance, dari sisi pangan, dari sisi energi, dari sisi industrinya, dari sisi teknologinya, daerah-daerah yang pemandangannya bagus, dari sisi turismenya. Semuanya harus dikembangkan.

Kita lihat ya, saya berikan contoh, ini Bhutan, negara Bhutan, tidak punya minyak, tidak punya gas, dan lingkungannya sangat alami, tradisi dan budayanya sangat terjaga, tapi dia tidak buka negaranya untuk turis sebanyak-banyaknya. Dia mengambil hanya volume tertentu, dikuota, dan mengambil turis yang pasar atas, high value dan low volume. Ini bisa kita tiru seperti ini.

Banyak alam kita yang lebih bagus dari negara yang tadi saya sebut. Banyak kabupaten yang unique, yang bupatinya tidak tahu bagaimana ini mengemasnya, mempromosikannya.

Dan turisnya (di Bhutan) kena iuran lagi. Sudah datang, bayarnya mahal, masih kena iuran untuk melindungi alam. Saya cek berapa sih ini setahun dia dapat dari iuran yang untuk perlindungan alamnya ini. Hampir setengah triliun (rupiah) dia dapat, bukan dari ekonominya, melainkan iurannya saja, setengah triliun.

Contoh yang lain: Maldives/Maladewa. Ini terkenal keindahan pantainya, tapi saya melihat, karena sudah 85 persen kota dan kabupaten saya kunjungi, pantai-pantai kita juga tidak kalah dengan yang namanya Maldives tadi. Dan 30 persen pendapatan negaranya berasal dari turisme.

Tapi dia menciptakan segmen pariwisata baru misalnya, ini misalnya—saya membaca saja—dan ini bisa ditiru, misalnya konferensi di tepi pantai. Ini rapatnya di tepi pantai. Yang wild life tourism, ngantri itu orang yang ingin datang ke sana, menawarkan pengalaman safari yang autentik, melihat satwa di habitat aslinya.

Kita ini punya semuanya, punya komodo, di Banyuwangi ada melihat banteng, ada badak, ada orangutan, (tinggal) bagaimana mengemas ini, daerah bisa mengemas ini menjadi sebuah pendapatan, penerimaan bagi daerah. Di Afrika, ini bisa menghasilkan (Rp)196 triliun per tahun, mengurus masalah itu.

Saya melihat kita ini punya yang unik-unik. Saya berikan contoh di Sulawesi Selatan, di Maros. Ini ada tempat yang saya belum pernah ke sana, yang kupu-kupunya sangat banyak sekali. Pak Bupati Maros ada? Ini sangat unik sekali.

Tapi tolong pembangunannya yang benar gitu, sentuhannya yang benar. Jangan sampai barangnya bagus, justru disentuh dengan semen-semen-semen-semen, tembok-tembok-tembok. Bukan, bukan itu, (melainkan) harusnya yang banyak itu ditanami pohon-pohon yang menarik kupu-kupu lebih banyak lagi.

Ini bisa dijual mahal sekali menurut saya kalau promosinya benar, kalau branding-nya benar. Spesifik, bagus sekali. Kalau sudah promosinya bagus, Bapak-Ibu mau kenakan tiket berapa pun semuanya akan mau hanya untuk lihat kupu-kupu, untuk melihat kupu-kupu yang ada.

Jangan justru di tempat-tempat yang seperti ini, temboknya yang dibanyakin, semennya yang dibanyakin, bukan itu. Tolong dicarikan arsitek landscape yang pintar. Kalau daerah enggak siap, surati Bappenas untuk merencanakan agar barang yang bagus itu menjadi sebuah berlian yang baik bagi kita semuanya.

Kemudian yang terakhir, yang berkaitan dengan inflasi, saya kira tadi sudah saya singgung, sudah bagus, pertahankan. Cek terus harga-harga dan segera intervensi bila ada kenaikan.

Kemudian juga masalah serapan anggaran dan utamanya penggunaan produk-produk dalam negeri, ini yang saya cek, ini masih di angka 41 persen. Penggunaan produk dalam negerinya masih 41 persen untuk kabupaten dan kota, 41 persen, masih kecil. Artinya, selain itu, berarti produk-produk impor.

Hati-hati, kita mengumpulkan uang dari penerimaan negara itu sangat sulit sekali, baik itu yang namanya pajak, yang namanya PNPB, yang namanya royalti, yang namanya dividen. Itu serupiah, serupiah, serupiah, semuanya dikumpulin oleh Ibu Menteri Keuangan. Terkumpul jadi penerimaan negara, ditransfer ke daerah, (malah) dibelikan produk impor. Yang dapat manfaat adalah negara lain.

Ini perlu saya ingatkan. Beli produk-produk kita sendiri, saya ingatkan. Mengumpulkan anggarannya itu sangat sulit sekali. Jadi, gunakan 100 persen untuk pengadaan barang dan jasa itu produk-produk dalam negeri.

Saya rasa itu yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini secara resmi saya buka Rapat Kerja Nasional XVI Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia, Apkasi Otonomi Expo, dan Apkasi Procurement Network Tahun 2024.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.