Pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia

Selasa, 14 September 2021
Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Provinsi Jawa Tengah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati, Menteri Koordinator Bidang Pembangungan Manusia dan Kebudayaan;
Yang saya hormati, Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo;
Yang saya hormati, Ketua Umum Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri, Bapak Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S. H., M. Hum. beserta para Wakil Ketua, Dewan Pengurus, dan seluruh Anggota Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia;
Bapak/Ibu Rektor dan Pimpinan Universitas yang saya hormati;
Hadirin dan Undangan yang berbahagia.

Kita tahu, Bapak/Ibu Rektor, bahwa revolusi industri 4.0, disrupsi teknologi, pandemi, ini mempercepat gelombang besar perubahan dunia. Sehingga yang terjadi adalah ketidakpastian itu sangat tinggi sekali. Sekali lagi, ketidakpastian itu menjadi tinggi sekali.

Oleh sebab itu, pendidikan tinggi harus memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan talentanya. Dan merubah pola-pola lama yang itu sudah saatnya untuk kita tinggal. Jangan mahasiswa itu dipagari oleh terlalu banyak program-program studi di fakultas. Ini saya kira sudah berkali-kali saya sampaikan, tapi akan saya ulang untuk…sekali lagi, fasilitasi mahasiswa sebesar-besarnya untuk mengembangkan talentanya yang belum tentu sesuai dengan pilihan program studi, jurusan, maupun fakultas.

Karena kita ingat, pilihan studi jurusan, dan fakultas tidak selalu berdasarkan pada talenta. Dan ketidakcocokan itu kadang-kadang terasa saat kuliah, karena yang kita tahu, orang bisa berkarier jauh dari ilmu di ijazahnya. Ini yang saya berikan untuk contoh itu Pak Budi Gunadi Sadikin. Itu fakultasnya di ITB Fakultas Teknik Fisika Nuklir. Kemudian, kerjanya di bank, bankir. Tapi nyatanya juga bisa melesat sampai menduduki tangga paling puncak (sebagai) Direktur Utama Bank Mandiri, melompat lagi jadi Menteri Kesehatan

Sehingga, menurut saya, sejak S1 itu mestinya bakat-bakat itu difasilitasi. Kenapa itu penting untuk difasilitasi? Karena semua nantinya ini akan hybrid, semua nantinya akan hybrid, karena tadi, ketidakpastian global dan karena perubahan dunia yang begitu sangat cepatnya. Sehingga, menurut saya, sekarang ini mahasiswa harus paham semuanya, paham matematik, paham statistik, paham komputer, paham ilmu komputer, paham bahasa dan bahasa itu bukan bahasa Inggris saja, ke depan bahasa coding. Hati-hati mengenai ini.

Perubahan ini akan cepat sekali karena pandemi, lebih cepat lagi karena pandemi. Artinya apa? Solusinya apa? Bahwa seorang mahasiswa itu tidak perlu pindah prodi, pindah jurusan atau pindah fakultas untuk mengejar yang tadi saya sampaikan, yang tidak pas tadi. Tapi berilah kesempatan mahasiswa untuk mengambil kuliah sesuai talentanya. Ini yang harus kita fasilitasi. Artinya apa? Perbanyak mata kuliah pilihan, baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Sekali lagi, kita ini berada pada transisi perubahan besar dunia yang harus kita antisipasi.

Berikan mahasiswa kemerdekaan untuk belajar, belajar kepada siapa saja, belajar kepada praktisi, pada industri, karena sebagian besar mahasiswa nanti akan menjadi praktisi, sebagian besar. Artinya, ada juga yang akan menjadi dosen, menjadi peneliti. Itulah esensi merdeka belajar, di mana mahasiswa merdeka untuk belajar, dan juga kampus juga memperoleh kemerdekaan untuk berinovasi.

Sekali lagi, karena semuanya nanti akan hybrid, hybrid knowledge, hybrid skill, dan ke depan…bukan ke depan, sekarang sudah terjadi, banyak job yang hilang, banyak pekerjaan-pekerjaan lama hilang, tapi juga muncul banyak pekerjaan-pekerjaan baru. ini yang harus diantisipasi oleh perguruan tinggi. Inilah kecepatan perubahan yang betul-betul kita tidak duga, dan dipercepat lagi oleh karena ada pandemi. Ini yang semua secepatnya kita harus masuk ke transisi dan mulai harus beradaptasi dengan hal-hal seperti ini. Sekali lagi, oleh sebab itu mahasiswa harus disiapkan untuk siap belajar. Kembali lagi, siap belajar bahasa, siap belajar bahasa Inggris, siap belajar bahasa coding, disiakan untuk ke sana.

Hybrid skill, dokter misalnya. Tidak usah ke depan lah, sekarang ini harus mengerti mengenai robotic, karena surgery itu bisa dengan advance robotic dan jarak jauh, sudah terjadi bukan akan. Hanya kita saja yang harus segera mengejar ini. Artinya apa? Fakultas kedokteran mau tidak mau harus ada mata pelajaran, mata kuliah tentang robotic. Kalau kita tidak cepat mengubah hal-hal seperti ini, ditinggal kita.

Pertanian, IPB misalnya. Ya masuk ke agritech. Semuanya teknologi. Saya sampai enggak hafal. Satu baru melihat, yang lain sudah keluar, besoknya sudah keluar lagi yang lain-lain. Dan Bapak/Ibu semuanya sebagai pimpinan, sebagai rektor, yang paling cepat bisa mengadaptasi perubahan-perubahan seperti ini, siapa? Perguruan tinggi. Yang cepat membawa negara ini masuk ke transisi untuk masuk ke gelombang perubahan besar ini, perguruan tinggi. Artinya memang perlu skill untuk hal-hal yang baru, yang sebelumnya tidak kita kenal. Dan kita semuanya harus selalu update terhadap teknologi, selalu.

Agriculture technology, Ada pemupukan pakai drone. Ada pengairan, panen, pengolahan tanah, semuanya melihat teknologi begitu sangat cepatnya berubah. Sekali lagi, karena ilmu sekarang ini cepat berubah. Sekarang mungkin Bapak/Ibu sekalian memberi mata kuliah mengenai A, semester depan mungkin sudah enggak relevan lagi ilmu A ini. Apalagi yang diajarkan masih ilmu-ilmu 20 tahun yang lalu, ya sudah. Dan ini terjadi, kita harus ngomong apa adanya. Harian saja berubah kok. Semester ini diajarkan A, nanti semester berikut kita ajarkan A, mungkin sudah usang. Hati-hati mengenai ini.

Oleh sebab itu, kemampuan untuk adaptasi belajar terhadap disrupsi, terhadap ketidakpastian, ini harus. Ini wajib untuk kita semuanya, baik para rektor, para dosen, dan juga tentu saja para mahasiswa. Jangan sampai mahasiswa masih kita ajari, dan ini jangan dibiarkan, kita untuk belajar hal-hal yang rutinitas, hati-hati mengenai ini. Hal-hal yang monoton, hati-hati mengenai ini. Dan tidak berani mencoba hal-hal yang baru, karena kita sekarang ini bisa belajar sekarang ini di mana saja.

Oleh sebab itu, tugas universitas adalah mencetak, adalah melahirkan mahasiswa yang unggul dan utuh. Sehat jasmani, sehat rohani, budi pekertinya baik, visi kebangsaannya baik. ini bukan tugas yang ringan. Karena kalau enggak, kebawa ke mana-mana anak-anak kita nantinya. Sekali lagi, sehat jasmani, sehat rohani, budi pekertinya baik, kebangsaannya baik.

Dan tugas rektor dan seluruh jajarannya bukan hanya mendidik mahasiswa di kampus saja. Apalagi hanya di kelas. Hati-hati mengenai ini. Juga menjadi tugas para rektor dan jajarannya, yang berkaitan dengan yang di luar kampus. Artinya, di luar kampus pun menjadi tugas rektor dan seluruh jajarannya, hati-hati. Di dalam kampus dididik mengenai budi pekerti, di luar kampus enggak ada yang mendidik, jadi pecandu narkoba. Nah, untuk apa kita kalau enggak bisa menjangkau ke sana? Di dalam kampus dididik mengenai Pancasila, kebangsaan, di luar kampus ada yang mendidik mahasiswa kita jadi ekstremis garis keras, jadi radikalis garis keras, lha untuk apa?

Jadi, terakhir, tanggung jawab rektor itu ya di dalam kampus dan juga di luar kampus. Urusan hal-hal yang kecil-kecil saja memang harus kita perhatikan. Urusan makan mahasiswa itu harus dicek betul. Mohon maaf, saya ingat di UGM di Yogya, dulu sering sekali mahasiswa itu terkena penyakit bareng-bareng…apa Pak Rektor? Hepatitis. Saya ingat. Kemudian typus, karena apa, warung-warung makan mahasiswa yang saya dulu juga mengalami kalau mencuci piringnya di ember, airnya satu ember, dipakai pagi sampai tengah malam. Berikan mereka air mengalir. Mahasiswa kita jadi membawa penyakit semuanya. Hal-hal kecil-kecil, tetapi ya percuma kalau orang sepintar apapun kalau tidak sehat, untuk apa? Itu yang tadi saya sampaikan, unggul dan utuh.

Sekali lagi, tanggung jawab rektor, ya di dalam kampus, ya di luar kampus.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan.

Terima kasih.

Saya tutup.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.