Rapat Terbatas Mengenai Penanganan Pandemi Covid-19 (Evaluasi PPKM Darurat), 16 Juli 2021

Sabtu, 17 Juli 2021
Istana Merdeka, Jakarta

Bismillahirahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Bapak Wakil Presiden;
Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati.

Pertama, langsung saja, saya akan menuju ke vaksinasi. Program vaksinasi. Tolong dilihat betul angka-angkanya, karena yang saya lihat, data yang masuk baik itu berupa vaksin jadi maupun bulk. (Vaksin) Yang sudah masuk ke negara kita sudah 137 juta, padahal yang sudah disuntikkan dalam vaksinasi itu kurang lebih 54 juta. Artinya, stok yang ada, baik mungkin yang di Bio Farma maupun di Kementerian Kesehatan, atau mungkin di provinsi, di kabupaten, di kota, di rumah sakit, di puskesmas-puskesmas terlalu besar.

Oleh sebab itu, saya minta kepada Menteri Kesehatan untuk disampaikan sampai organisasi terbawah (bahwa) tidak ada stok untuk vaksin. Artinya, dikirim langsung habiskan, kirim habiskan, kirim habiskan, karena kita ingin mengejar vaksinasi ini secepat-cepatnya. Dan terbukti dua atau tiga hari yang lalu, kita (dalam) sehari bisa menyuntikkan 2,3 juta. Saya yakin lima juta (suntikan vaksinasi) itu bisa.

Sekali lagi, tidak usah ada stok. Stoknya itu yang ada hanya di Bio Farma. Yang lain-lain cepat habiskan, cepat habiskan, sehingga ada kecepatan. Karena kunci, salah satu kunci kita menyelesaikan masalah ini adalah kecepatan vaksinasi, ini sesuai yang juga disampaikan oleh Dirjen WHO.

Mengenai vaksinasi juga, seperti yang saya lihat kemarin yang dilakukan oleh BIN, vaksinasi door-to-door itu, ini saya kira (harus) diteruskan.

Kemudian yang ketiga, yang berkaitan (dengan) provinsi mana, wilayah mana yang didahulukan? Saya melihat angka-angka, Jakarta dan Bali. Kemarin memang ingin kita dahulukan. Bali sudah 81 persen dosis (vaksinasi) yang sudah disuntikkan. DKI Jakarta sudah 72 persen. Ini saya kira mulai harus kita tinggal, karena kita tinggal pun, ini saya kira (bulan) Agustus sudah selesai, masuk ke herd immunity.

Kemudian provinsi mana yang harus kita fokuskan? Menurut saya tiga, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, karena ini baru 12 persen. Jawa Barat baru 12 persen, Jateng 14 persen, Banten 14 persen, sehingga Jawa segera masuk ke herd immunity. Jadi, kita harapkan di bulan Agustus akhir atau paling lambat pertengahan September. Tapi kalau kita program tanpa stok tadi berjalan, saya kira ini Agustus bisa selesai. Yang pertama, yang berkaitan dengan vaksinasi.

Yang kedua, yang berkaitan dengan oksigen. Tadi pagi saya ke pabrik, ke industri, PT Aneka Industri, saya banyak mendapatkan informasi dari sana, bahwa sebetulnya masih banyak pabrik-pabrik yang masih bisa ditambah kapasitasnya. Ada juga pabrik yang off, yang itu bisa di-on-kan, tetapi membutuhkan pembiayaan. Ini tolong juga dicarikan solusinya, karena apapun kita memang harus menyiapkan diri apabila betul-betul ada lonjakan dan kebutuhan oksigen bisa terpenuhi.

Dari sini, dari dalam negeri sebetulnya kalau kita gerakkan semuanya, cukup. Saya kira juga, tolong dilihat ini yang berkaitan dengan industri-industri BUMN, ini saya kira bisa membantu karena dari situ bisa juga keluar oksigen, Krakatau Steel misalnya, pabrik-pabrik pupuk kita, industri petrokimia kita, semua bisa ikut membantu.

Kemudian yang ketiga, yang berkaitan dengan mobility index, mobilitas manusia. Kita telah melakukan penyekatan-penyekatan, tapi kalau saya lihat malam, juga pagi tadi…saya ke Pulo Gadung tadi, saya lihat masih cukup ramai. Tadi malam saya ke kampung juga ramai banget. Artinya, penyekatan ini mungkin perlu kita evaluasi, apakah efektif juga menurunkan kasus? karena yang terkena sekarang ini banyak di keluarga-keluarga. Atau ada strategi lain yang mungkin bisa kita intervensikan ke sana.

Sekali lagi tolong ada kajian yang lebih detail mengenai penyekatan ini, karena menurut saya kuncinya itu sekarang memang justru…karena klasternya sudah masuk ke keluarga, kuncinya itu justru adalah urusan memakai masker. Kedisiplinan protokol kesehatan, memakai masker terutama. Tinggal, seperti yang saya minta sejak awal, BNPB bekerja keras betul urusan yang berkaitan memberi masker, kampanye masker yang saya lihat sampai saat ini belum.

Kemudian hati-hati dalam menurunkan mobility index, mengenai penyekatan dan penanganan terhadap masyarakat, terhadap pedagang, PKL, toko. Saya minta kepada Polri dan juga nanti Mendagri kepada (pemerintah) daerah, agar jangan keras dan kasar, (tetapi harus) tegas dan santun. Sambil sosialisasi memberikan ajakan-ajakan, sambil membagi beras, itu mungkin bisa sampai pesannya. Saya kira peristiwa-peristiwa yang ada di Sulawesi Selatan, misalnya Satpol PP memukul pemilik warung, apalagi ibu-ibu, ini untuk rakyat menjadi memanaskan suasana.

Kemudian yang kelima, yang berkaitan dengan bansos. Saya minta jangan sampai terlambat, baik itu PKH, baik itu BLT Desa, baik itu bantuan sosial tunai/BST, jangan ada yang terlambat. Dan yang paling penting lagi adalah bantuan beras, bantuan sembako. Minggu ini harus keluar, percepat, betul-betul ini dipercepat. Saya minta Ka.Bulog dan utamanya Mensos jangan ragu-ragu. Karena prinsipnya adalah yang paling penting kita ini enggak mencuri, enggak mengambil, prosedurnya tolong didampingi BPKP, termasuk dalam hal ini, pemberian obat-obatan gratis. Obat, suplemen, vitamin gratis pada rakyat, ini sangat diapresiasi, tetapi jumlahnya sangat-sangat kurang. Tadi malam saya ke kampung, hampir semuanya senang dan minta obat itu.

Ini tolong, karena kemarin rencananya tahapan pertamanya 300 (ribu paket), tahap kedua 300 (ribu paket), berarti hanya 600 ribu. Saya minta ibu Menteri Keuangan ini disiapkan paling tidak di atas 2 juta paket, kan enggak mahal, 2 juta (paket) kali Rp63 ribu kalau yang paket pertama, paket keduanya Rp200 ribu, saya kira bukan anggaran yang gede lah. Tetapi rakyat merasa tenang karena memiliki barangnya. Karena sekarang ini banyak ke apotek, banyak lari ke (kawasan jalan) Pramuka saja barangnya enggak ada.

Yang keenam, yang berkaitan dengan komunikasi publik itu yang menimbulkan optimisme, yang menimbulkan ketenangan. Karena terus terang saja masyarakat ini khawatir mengenai (angka kasus aktif) Covid-19 yang naik terus, kemudian (angka) kematian tinggi. Kemudian juga yang berkaitan dengan urusan makan, urusan perut, ini hati-hati. Jangan sampai di antara kita ini (ada yang) tidak sensitif terhadap hal-hal seperti ini. Jangan sampai masyarakat frustasi gara-gara kesalahan-kesalahan kita dalam berkomunikasi, kesalahan kita dalam menjalankan sebuah policy.

Yang ketujuh, yang berkaitan dengan Iduladha, saya betul-betul minta agar dikomunikasikan dengan baik. Ini mungkin Bapak Wapres bisa membantu dalam hal ini, Pak Menteri Agama bisa mengkomunikasikan ke bawah, sehingga perayaan Hari Raya Iduladha betul-betul bisa lebih khidmat, tetapi semuanya bisa menjaga protokol kesehatan.

Kemudian yang terakhir, ini pertanyaan dari masyarakat sekarang ini adalah satu yang penting yang perlu kita jawab. PPKM darurat ini akan diperpanjang tidak? Kalau mau diperpanjang, sampai kapan? Ini betul-betul hal yang sangat sensitif, harus diputuskan dengan sebuah pemikiran yang jernih, jangan sampai keliru.

Saya rasa itu mungkin yang bisa saya sampaikan.

Terima kasih.