Silaturahmi Dengan Peserta Program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) Binaan Permodalan Nasional Madani (PNM)

Jumat, 23 Februari 2024
Sport Hall & Convention, Kota Bitung, Sulawesi Utara

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom.

Saya senang sekali, saya senang sekali kalau ke Sulawesi Utara, apalagi ke Bitung.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju, Bapak Gubernur, Bapak Wali Kota, Direktur Utama PNM Mekaar serta Pimpinan BUMN yag hadir;
Ibu-ibu yang saya hormati, yang saya cintai, yang saya banggakan. Sekali lagi selamat pagi. Para AO (Account Officer) yang selalu mendampingi.

Saya itu ya, kalau bertemu dengan para nasabah PNM Mekaar, begitu masuk itu kelihatan semangatnya semangat banget, semangat banget.

Memang ada dua kunci besar, ada dua kunci besar usaha kita ini akan sukses dan terus maju. Yang pertama, yang pertama semangat kerja, semangat kerja. Dan tadi kita lihat waktu saya masuk, semangatnya sudah kelihatan semuanya. Senang saya semangatnya kelihatan karena yang namanya semangat kerja itu menjadi kunci.

Yang kedua yang berkaitan dengan disiplin. Itu juga penting. Disiplin itu juga penting.

Pertama, semangat kerja, saya ingat waktu saya memulai usaha tahun 1988 saya hanya berjualan di Kota Solo. Teman saya—saya lihat—bekerja jam 8 sampai jam 16.00. Kalau saya ikut-ikutan dia, berarti saya akan sama dengan dia. Saya bekerja dari subuh sampai tengah malam.

Apa yang terjadi? Hasilnya kelihatan. Hasilnya pasti akan kelihatan kalau kita bekerja keras (atau) kita biasa-biasa saja. Tahun kedua, saya sudah bisa masuk ke pasar di Jakarta, berjualan bisa masuk ke Jakarta. Tahun ketiga, barang saya sudah bisa ekspor ke seluruh dunia berkat kerja keras.

Saya ingin menggarisbawahi lagi bahwa yang namanya bekerja keras, semangat bekerja keras itu menjadi kunci kita sukses atau tidak sukses dalam berusaha. Setuju? Setuju? Yang enggak setuju, angkat tangan, saya beri sepeda. (Presiden bergurau)

Yang kedua disiplin. Disiplin ini penting sekali, disiplin. Kalau kita sudah ngambil dari PNM Mekaar misalnya Rp 5 juta, hari Senin kita harus mencicil, hari Senin harus mengangsur, hari Senin harus kita siapkan ya. Kalau kita janji hari Jumat, hari ini Jumat berjanji harus mengangsur, hari ini harus mengangsur. Itu yang namanya disiplin. Setuju?  

Kalau karakter kita terbentuk, kalau karakter kita terbentuk, semangat kerja kita terbentuk, karakter disiplin kita terbentuk, itu akan naik-naik terus.

Sekarang mungkin ngambil Rp5 juta, nanti bisa ngambil Rp10 juta. Naik kelas masuk ke perbankan, mau ngambil Rp1miliar, mau ngambil Rp10 miliar, mau ngambil Rp100 miliar, sudah tertanam disiplin. Yang mau memberikan pinjaman juga enggak mikir karena karakter-karakternya adalah karakter disiplin. Inilah yang ingin kita bangun, inilah yang ingin kita bentuk.

Dan yang saya senang, saat PNM Mekaar ini dimulai tahun 2015, anggota kita 400 ribu nasabah. Sekarang, sampai hari ini, 15.200.000 nasabah.

Dulu, uang yang diberikan, beredar itu Rp800 miliar 2015-2016. Sekarang sudah Rp244 triliun. Besar sekali itu. Yang di Sulut, yang beredar berapa? Di sini ada 125.000 nasabah PNM, kemudian uang beredarnya Rp2,1 triliun beredar di Ibu-ibu semuanya.

Rp2,1 triliun itu duit gede lo. Itu kalau dimiliarkan, berarti Rp2.000 miliar. Rp2.000 miliar beredar di Ibu-ibu di Sulawesi Utara.

Hati-hati, hati-hati, saya hanya titip, hati-hati. Kalau ngambil Rp5 juta, dapat Rp5 juta, hati-hati. 100 persen dari Rp5 juta itu harus dipakai untuk modal kerja, harus 100 persen, semuanya dipakai untuk modal usaha. Setuju?

Jangan sampai (setelah) dapat Rp5 juta, pulang, tetangganya beli TV baru, kita kan pegang Rp5 juta, pengen TV yang lebih gede dari tetangga. Itu tidak boleh. Harus bisa ngerem bahwa ini bukan uang kita, ini adalah uang kita bersama yang kita pakai untuk berusaha ya. Setuju ya? Jangan sampai tertarik untuk membeli barang-barang konsumsi yang itu berasal dari uang pokok yang kita terima dari PNM.

Kalau mau beli, enggak apa-apa, tapi dari tabungan. Ada sebulan untung Rp1 juta, tabung. Untung Rp1,5 juta, tabung. Untung Rp2 juta, tabung. Dari tabungan ini, enggak apa-apa mau beli sepeda motor agar bisa lincah memasarkan barang, atau beli mobil pickup untuk memasarkan barang enggak apa-apa. Tapi jangan beli barang-barang konsumsi yang tidak perlu.

Yang kedua, saya senang, tadi masuk ke sini saya beli di depan ini produk-produk dari nasabah Mekaar, keripik talas. Yang saya senang, di-packaging, dikemas dengan sangat bagus sekali. Ini produk dari Sulawesi Utara, bagus sekali. Saya beli di depan tadi. Ada branding-nya, mereknya. Namanya Sangkakala, bagus, ini bagus.

Ini juga kacang bawang saya beli juga di depan tadi, yang dipamerkan di depan. Ini packaging-nya bagus. Kalau produk-produk kita dikemas dengan cara seperti ini, ini akan gampang menjualnya. Dijual di supermarket, mudah. Dijual di pasar, gampang. Dijual di hypermarket, mudah. Dijual di toko-toko, gampang. Benar tidak?

Dan jangan lupa, diberi merek. Mereknya Genzi. Ini saya tanya, “Genzi itu siapa?” “Ini nama anak saya, Pak.” Enggak apa-apa, nama anak dipakai enggak apa-apa, untuk merek dagang enggak apa-apa. Benar? Ini bagus sekali.

Kemudian ini brownies, ada mereknya Quincy Pukis, Quincy, juga nama anaknya ini. Ini packaging-nya bagus, kemasannya bagus, rotinya juga bagus ya.

Alangkah baiknya kalau di sini ini ada nama mereknya ya, tidak putih kayak gini. Ini diberi kemasan seperti ini.

Hal-hal seperti ini yang harus kita perhatikan jualan apa pun kita. Jualan handicraft, jualan makanan, jualan baju, semuanya diberi merek, penting sekali, jangan polosan seperti ini.

Ini harganya bagus juga, Rp35.000, bagus.

Inilah yang terus perlu kita perbaiki dan terus perlu kita tingkatkan kualitas produk yang kita miliki.

Kalau kualitasnya bagus, harganya kompetitif, bisa bersaing dengan barang-barang yang lain, itu kedua.

Yang ketiga, kalau ngirim, tepat waktu. Hati-hati, kalau kita janji ngirim ini ke pelanggan, “Nanti jam 16.00 saya akan kirim ke rumahnya Ibu,” jam 16.00 harus sampai ke sana. Jangan sampai mundur sampai tengah malam, apalagi mundur ganti hari. Enggak akan dipercaya kita.

Kualitas barang harus baik; harga harus kompetitif, harga bersaing; yang ketiga, kalau ngirim apa-apa itu tepat waktu.

(Acara dilanjutkan dengan dialog)

Saya rasa itu yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini.

Saya sekali lagi mengingatkan pentingnya semangat kerja, pentingnya disiplin dalam kita membangun sebuah usaha.

Saya rasa Ibu-ibu semuanya setuju ya.

Saya tutup.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.